Você está na página 1de 49

I

TEKNIK PEMBESARAN IKAN KOKI (Carassius auratus) PADA BALAI


BENIH IKAN JEPUN DI KECAMATAN TULUNGAGUNG, KABUPATEN
TULUNGAGUNG, PROVINSI JAWA TIMUR.

HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ALVIAN HANDIYANTO PUTRA
BANDUNG JAWA BARAT

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


PROGRAM STUDI DILUAR KAMPUS UTAMA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
BANYUWANGI
2017
II

TEKNIK PEMBESARAN IKAN KOKI (Carassius auratus) PADA BALAI


BENIH IKAN JEPUN DI KECAMATAN TULUNGAGUNG,
KABUPATEN TULUNGAGUNG, PROVINSI JAWA TIMUR

Praktek Kerja Lapang sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Perikanan Pada Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh :
ALVIAN HANDIYANTO PUTRA
NIM. 141411535012

Mengetahui, Menyetujui,

Koordinator Program Studi Dosen Pembimbing


Budidaya Perairan
PSDKU Universitas Airlangga
di Banyuwangi

Prayogo, S.Pi., M.P. Agustono, Ir.,M.Kes.


NIP.197505222003121002 NIP.195706301986011001
III

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh-sungguh, kami berpendapat bahwa


Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian :

Menyetujui,

Panitia Penuji,

Ketua

Agustono, Ir.,M.Kes.
NIP.195706301986011001
Sekretaris Anggota

M. Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si. Suciyono, S.St.Pi., M.P.


NIP.19881209 201504 3 101 NIP.19880722 2014093 101

Banyuwangi, 12 Juli 2017


Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga

Prof. Dr. Mirni Lamid, MP. Drh


NIP. 19620116 199203 2001
IV

RINGKASAN

ALVIAN HANDIYANTO PUTRA. Teknik Pembesaran Ikan Koki (Carassius auratus) di Balai
Benih Ikan Jepun Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Dosen Pembimbing Agustono, Ir., M.Kes.

Pembesaran ikan koki merupakan salah satu kegiatan budidaya yang paling

banyak dilakukan oleh kalangan para pembudidaya ikan hias. Para petani ikan

sering mendapatkan kendala dalam proses pembesaran ikan koki, sehingga perlu

dilakukannya penerapan teknik pembesaran ikan koki yang baik dan benar dalam

merekayasa kondisi kolam pembesaran ikan koki sesuai dengan habitat asli ikan

koki tersebut.

Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk menambah ilmu dan

mengetahui secara langsung teknik pembesaran ikan koki yang ada di Balai Benih

Ikan Jepun yang ada di Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung Jawa

Timur. Selain itu juga untuk mengetahui Hambatan apa saja yang terjadi pada

proses pembesaran ikan koki.

Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode

deskriptif dengan pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder.

Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, partisipasi aktif dan

wawancara.

Teknik pembesaran ikan koki di awali dengan : persiapan kolam, Penggunaan

sistem kolam, Penebaran, pemberian pakan, mengukur kualitas air, kontrol

pertumbuhan, pemanenan dan Pemasaran. Persiapan kolam dilakukan dengan cara

pembersihan kolam, pengisian air dan pengendapan air. Penebaran ikan dilakukan
V

dengan menebar benih ikan koki dengan kepadatan 500 ekor/kolam. pemberian

pakan ikan koki dilakukan 2x yaitu pagi dan siang hari, pakan yang diberikan

berupa Mrutu (kutu air) dan pellet ikan. Pengukuran kualitas air dilakukan setiap

hari sekali dengan hasil rata-rata DO 8,41, suhu 29,82, dan pH 8,08. Kontrol

pertumbuhan ikan koki dilakukan setiap 1 bulan dengan hasil laju pertumbuhan

berat 6,9 gram/ bulan, dan perumbuhan panjang adalah 1cm/ bulan. Pemanenan

ikan dilakukan pagi hari / sore hari. Pemasaran ikan koki sendiri dilakukan

dengan cara lewat kontak telepon dan para pembeli biasanya datang langsung,

pemasaran ikan koki sendiri hanya untuk wilayah Kabupaten Tulungagung.


VI

SUMMARY

ALVIAN HANDIYANTO PUTRA. Chef Enlargement Technique (Carassius auratus) at


Japanese Fish Meal Hall Tulungagung District, Tulungagung Regency, East Java.
Supervisor of Agustono, Ir., M. Kes.

Enlargement goldfish is one of the most widely aquaculture activities carried out

by the growers of ornamental fish. So it is necessary to do the application of

rearing techniques goldfish is good and true in the reverse condition goldfish

rearing ponds in accordance with the original habitat of the goldfish. So that the

goldfish can grow to the optimum.

The purpose of this Field Work Practice is to increase knowledge and firsthand

knowledge enlargement techniques goldfish in Jepun Fish Seed Center in

Tulungagung subdistrict, Tulungagung District, East Java. It is also to determine

any barriers happened to the enlargement process goldfish.

The working method used in this field practice is descriptive method with data

collection included primary data and secondary data. Data were collected by

observation, active participation and interviews.

goldfish enlargement techniques starting with: pond preparation, use of pond

system, stocking, feeding, measuring water quality, growth control, harvesting and

marketing. Preparation of pond is done by cleaning the pool, water filling and

water sedimentation. Fish stocking is done by sowing seeds of goldfish with a

density of 500 fish / pond. feeding goldfish do 2x ie morning and afternoon, the

feed given in the form of Mrutu (water flea) and fish pellets. Water quality

measurements performed every other day with an average yield of 8.41 DO,
VII

temperature of 29.82, and a pH of 8.08. Control the growth of goldfish performed

every 1 month with the results of the weight growth rate of 6.9 grams / month, and

perumbuhan length is 1cm / month. Harvesting fish do mornings / afternoons.

Marketing goldfish itself is done by through phone contact and buyers usually

come directly, goldfish own marketing only to the area Tulungagung District.
VIII

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

limpahan rakhmat dan hidayahnya, sehingga laporan Pratek Kerja Lapang tentang

Teknik Pembesaran Ikan Koki (Carassius auratus) Pada Balai Benih Ikan Jepun

di Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung. Laporan ini disusun

berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang telah dilaksanakan di Pusat

Pelatihan Mandiri Kelautan Dan Perikanan (P2MKP) Sumber Harapan, Blitar,

Jawa Timur, pada tanggal 18 Januari-18 Februari 2017.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,

sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan dan

kesempurnaan laporan selanjutnya. Akhirnya penulis berharap semoga laporan

Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan memberikan informasi bagi semua

pihak.

Banyuwangi, 8 April 2017

Penulis
IX

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar

besarnya kepada :

1. Dr. Mirni Lamid., drh., M.P. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan

Kelautan Universitas Airlangga.


2. Bapak Agustono, Ir.,M.Kes.. selaku Dosen Pembimbing yang telah

memberikan arahan, petunjuk dan bimbingan sejak penyusunan usulan

hingga selesainya penyusunan laporan PKL ini.


3. Bapak Suryono. selaku Kepala Balai Benih Ikan Jepun yang telah

memberikan ijin, bantuan fasilitas selama pelaksanaan PKL,

bimbingan dan pengarahannya baik di lapangan maupun dalam

pemberian materi..
4. Kedua orang tua terkasih Handif Abri Siswanto dan Sriyanah beserta

keluarga besar atas segala dukungannya baik berupa moril dan materil

dalam penyelesaian penyusunan usulan PKL, pelaksanaan PKL, hingga

penyusunan laporan Praktek Kerja Lapang.


X

DAFTAR ISI

RINGKASAN.......................................................................................................................IV
SUMMARY.........................................................................................................................VI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................VIII
UCAPAN TERIMAKASIH......................................................................................................IX
DAFTAR ISI..........................................................................................................................X
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................................XII
DAFTAR TABEL.................................................................................................................XIII
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................................XIV
I PENDAHULUAN................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................1
1.2 Tujuan.......................................................................................................................2
1.3 Manfaat....................................................................................................................2
II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................................3
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas Koki (Carrasius auratus)....................................3
2.2 Teknik Pembesaran Ikan Koki...................................................................................5
2.2.1 Persiapan Kolam....................................................................................................5
2.2.2 Penebaran.........................................................................................................5
2.2.3 Pakan.................................................................................................................6
2.2.4 Manajemen Kualitas Air....................................................................................7
2.2.5 Panen................................................................................................................8
2.2.6 Pengendalian Hama dan Penyakit.....................................................................9
III RENCANA KEGIATAN.....................................................................................................11
3.1 Waktu dan Tempat.................................................................................................11
3.2 Metode Kerja..........................................................................................................11
3.3 Teknik Pengambilan Data.......................................................................................11
IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................14
4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang...................................................14
4.1.1 Sejarah Berdirinya BBI Jepun...........................................................................14
4.1.2 Letak Lokasi.....................................................................................................14
4.1.3 Struktur Organisasi..........................................................................................15
XI

4.2 Sarana dan Prasarana.......................................................................................15


4.2.1 Sarana..............................................................................................................15
4.2.2 Prasarana..................................................................................................17
4.3 Kegiatan Pembesaran Ikan Koki (Carassius auratus................................................18
4.3.1 Persiapan kolam..............................................................................................18
4.3.2 Sistem Kolam.......................................................................................................19
4.3.3 Penebaran.......................................................................................................19
4.3.4 Pemberian Pakan.............................................................................................20
4.3.5 Seleksi ikan......................................................................................................22
4.3.7 Kontrol Pertumbuhan......................................................................................24
4.3.8 Pengendalian Hama dan Penyakit...................................................................25
4.3.9 Pemanenan.....................................................................................................26
4.3.10 Pemasaran.....................................................................................................26
4.4 Hambatan yang dihadapi........................................................................................27
V PENUTUP......................................................................................................................28
5.1 Kesimpulan............................................................................................................28
5.2 Saran......................................................................................................................28
Daftar Pustaka..................................................................................................................29
Lampiran..........................................................................................................................31
Lampiran 1. Peta Denah Lokasi.....................................................................................31
Lampiran 2. Pembesaran Ikan Koki...............................................................................32
Lampirn 3. Data kualitas air..........................................................................................34
XII

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Ikan Koi Jantan dan Betina........................................................................ 3
2. Struktur Organisasi Balai Benih Ikan Jepun.............................................. 15
3. Kolam Pembesaran.................................................................................... 16
4. Persiapan Kolam........................................................................................ 19
5. Penimbangan Pakan................................................................................... 22
XIII

DAFTAR TABEL

TABEL Halaman
1. Kandungan Nutrisi Breeder Pro................................................................. 24
2. Kandungan Nutrisi PAKAN IKAN KOI (PK)........................................... 24
3. Rata Rata Parameter Kualitas Air Kolam Pemijahan................................ 29
4. Rata Rata Parameter Kualitas Air Kolam sawah....................................... 30
5. Rata Rata Parameter Kualitas Air Kolam indukan resirkulasi................... 30
XIV

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Peta Denah Lokasi PKL............................................................................ 36


2. Persiapan Kolam Pemijahan..................................................................... 37
3. Persiapan Kolam Sawah............................................................................ 38
4. Pemeliharaan larva.................................................................................... 49
5. Pemeliharaan induk................................................................................... 40
6. Seleksi....................................................................................................... 41
7. Hama dan Penyakit................................................................................... 42
8. Alat Penunjang Pemeliharaan................................................................... 43
9. Data Kualitas Air....................................................................................... 44
1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia menempati posisi kesebelas pengekspor ikan hias. Devisa dari

ekspor komoditas ini mencapai US$ 10-15 juta per tahun (Dirjen Perikanan dan

Kelautan, 2003). Ketersediaan ikan hias sebagai komoditas ekspor pada tingkat

eksportir selalu lebih kecil daripada permintaan dari luar negeri sehingga

Budidaya ikan hias memiliki peluang yang luas bagi masyarakat Indonesia.

Ikan koki (Carassius auratus) merupakan ikan hias yang cukup banyak

dibudidayakandi Indonesia. Ikan mas koki merupakan jenis ikan hias yang cukup

diminati masyarakat luas. Selain karena bentuknya yang unik, siripnya yang indah

serta warna yang menarik, harga Ikan mas koki juga cukup terjangkau (Reni,

2008).

Budidaya adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik

di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).

Kegiatan budidaya yang dimaksud adalah kegiatan pemeliharaan untuk

memperbanyak (reproduksi), menumbuhkan (growth), dan meningkatkan mutu

biota akuatik sehingga diperoleh keuntungan (Effendi 2004).

Pembesaran ikan koki merupakan salah satu kegiatan budidaya yang

paling banyak dilakukan oleh kalangan para pembudidaya ikan hias. Tujuan dari

pembesaran ikan ini adalah untuk menghasilkan ikan yang memiliki ukuran siap

panen atau ukuran dewasa. Pembesaran ikan dimulai dari fase benih hingga fase

dewasa, namun terkadang ada beberapa ikan koki yang sebelum fase dewasa

sudah di panen karena permintaan pasar.


2

Teknik Pembesaran Ikan koki dilakukan di kolam yang dikondisikan

sesuai dengan keadaan pada habitat aslinya. Beberapa faktor yang harus

diperhatikan dalam usaha pembesaran ikan koki adalah persiapan kolam,

penebaran, pakan dan kebiasaan makan, pengelolaan kualitas air, penanggulangan

hama dan penyakit, panen dan pasca panen serta pemasaran dan analisis usaha

(Bachtiar. 2004).

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui teknik pembesaran ikan koki di Balai Benih Ikan Jepun.

- Untuk mengetahui hambatan pembesaran ikan koki di Balai Benih ikan Jepun.

1.3 Manfaat
- Meningkatkan pengetahuan tentang teknik pembesaran ikan koki secara

langsung.

- Hasil laporan dapat dijadikan sebagai dasar untuk menunjang penelitian lebih

lanjut bagi pengembangan usaha pembesaran ikan koki (Carassius auratus)

sehingga menghasilkan produksi yang memiliki kualitas dan kuantitas yang

baik.
3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas Koki (Carrasius auratus)

Menurut Bachtiar (2005), sistematika ikan koki berdasarkan ilmu

taksonomi dijelaskan sebagai berikut :

Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratus

(gambar 1. Ikan koki sumber;http://www.nevadagoldfish.com)

Ikan koki memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pendek dan bulat, mata lebar dan

besar, bersirip, di sisi tubuhnya terdapat gurat sisi dan mempunyai lembaran
4

insang. Insang ini berfungsi untuk pernafasan, lewat insang ikan koki memperoleh

oksigen dengan cara menghisap melalui mulutnya kemudian menyaringnya

dengan lembaran insang. Oksigen yang masuk ke dalam tubuh bersama air akan

dibawa oleh aliran darah. Karena itu, jika airnya tercemar maka kandungan

karbondioksida dan kotoran lainnya akan dibebaskan oleh bagian belakang

lembaran insang tersebut (Bachtiar, 2005).

Ikan koki memiliki panjang berkisar 2-31 cm dengan tipe mulut terminal

(Al-Noor, 2010)..Sirip ikan koki mempunyai dua fungsi pokok, yakni sebagai alat

keseimbangan dan sebagai tenaga gerak yang dibantu oleh kontraksi otot tubuh

atau otot ekor (Bachtiar, 2005). Tipe sirip ekor ikan koki yaitu homocercal. Jari-

jari sirip lemah mengeras pada sirip dorsal adalah 2-3 buah dan jari-jari sirip

lemah 7-18 buah. Jari-jari sirip lemah mengeras pada sirip anal adalah 2 buah dan

jari-jari sirip lemah 5 buah. Jari-jari sirip lemah mengeras pada pectoral 1 buah

dan jari-jari sirip lemah 13-16 buah. Jari jari sirip mengeras pada sirip ventral ada

2 buah dan jari-jari sirip lemah ada 8 buah Al-Noor (2010).

Ikan koki memiliki sisik yang berderet rapi, mengkilap dan menutupi

tubuh.Warnanya cukup menarik dan variatif, umumnya sisik ikan koki berwarna

metalik, merah, kekuning-kuningan, kuning, hijau, hitam, atau gabungan dari

warna-warna tersebut.Warna sisik ini ditentukan oleh banyak sedikitnya pigmen

quanin yang terkandung dalam sisikikan koki.Pembentukan quanin dipengaruhi

oleh faktor genetis, lingkungan, jenis makanan dan kebersihan

lingkungan(Bachtiar, 2005).
5

2.2 Teknik Pembesaran Ikan Koki

Pembesaran ikan koki dilakukan di kolam yang dikondisikan sesuai

dengan keadaan pada habitat aslinya. Beberapa faktor yang harus diperhatikan

dalam usaha pembesaran ikan koki adalah persiapan kolam, penebaran, pakan dan

kebiasaan makan, pengelolaan kualitas air, penanggulangan hama dan penyakit,

panen dan pasca panen serta pemasaran dan analisis usaha (Bachtiar, 2004).

2.2.1 Persiapan Kolam

Persiapan kolam dimulai dengan pengeringan kolam selama 3-4 hari

sampai dasar kolam mengalami retak-retak dan diikuti dengan

pembuatankemalir/parit dan perbaikan pematang. Setelah pengeringan,

pengolahandasar kolam dilakukan pengapuran pada tanah yang mempunyai pH

rendah (<6) dengan kapur Ca0 dosis 25-100 gr/m2 yang bertujuan

untukmeningkatkan pH dan membunuh bibit penyakit dan hama.

Pemupukandiperlukan untuk meningkatkan kesuburan (merangsang

pertumbuhanpakan alami) dengan menggunakan pupuk kandang (yang

sudahdiolah/steril), pupuk hijau dan lain-lain. Pemupukan dilakukan dengan

caraditebar merata ke permukaan kolam dengan dosis 250-500 gr/m2.

Setelahselesai pengolahan kolam, dilanjutkan pengisian air dan dibiarkan selama

7hari untuk memberikan kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan

alami (Parlaunan, 2012).

2.2.2 Penebaran

Penebaran juvenil dilakukan setelah air dalam kolam siap, ditandai dengan

warna hijau cerah/cokelat muda. Pada umumnya juvenil yang akan ditebar pada

kolam pembesaran berumur 30 hari. Padat tebar pembesaran ikan koki secara
6

umum adalah 2 ekor/liter (Andrius, 2014). Penebaran diawali dengan proses

aklimatisasi suhu media juvenil dengan cara mengapungkan kantong plastik ke

perairan kolam selama 10-30 menit. Aklimatisasi dilakukan dengan cara merubah

lingkungan secara perlahan-lahan sehingga ikan akan mampu menyesuaikan

dirinya dengan lingkungannya yang baru (Tania, 2012). Proses aklimatisasi

juvenil ini dimaksudkan untuk mencegah tingginya tingkat kematian (mortalitas)

benur pada saat dan setelah penebaran.aklimatisasi sebagai penanganan

pascapengangkutan dilakukan dalam keramba selama1 hari (Elkajuli, 2005).

2.2.3 Pakan

Pakan ikan merupakan salah satu faktor terpenting dalam suatu usaha

budidaya perikanan. Ketersediaan pakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan

dan kelangsungan hidup serta memberikan warna pigmen ikan yang

dibudidayakan. Dalam proses budidaya ikan khususnya pada kegiatan

pembesaran, faktor terpenting adalah ketersediaan pakan dalam jumlah yang

cukup. Syarat pakan yang baik adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi, mudah

diperoleh, mudah diolah, mudah dicerna, harga relatif murah, tidak mengandung

racun. Jenis pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, dimana semakin kecil

bukaan mulut ikan maka semakin kecil ukuran pakan yang diberikan, dan juga

disesuaikan dengan umur ikan (Arief., dkk. 2009).

Berdasarkan sumbernya, makanan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu

makanan alami dan makanan buatan.Makanan alami adalah makanan yang

terbentuk secara alamiah, baik di alam maupun di lingkungan tertentu yang

sengaja disiapkan oleh manusia. Sedangkan makanan buatan adalah makanan


7

yang dibuat oleh manusia dengan bahan yang komposisi tertentu sesuai dengan

kebutuhan.(Rika, 2008)

Ikan mas koki merupakan ikan pemakan segala atau omnivora. Pakan

yang biasa diberikan untuk pembesaran ikan mas koki yaitu pellet (Lingga dan

Susanto, 1999 dalam Syaifudin, 2004). Kualitas pakan sangat menentukan

keindahan warna sebagai daya tarik, sehingga banyak upaya yang dilakukan

dengan menambahkan zat pigmen yang mengandung karoten dalam pakan

buatan.Pemberian pakan berdasarkan jumlah ikan (bobot biomassa) dengan

kisaran 3-5% per hari, dan frekuensi pemberiannya 2-3 kali per hari disesuaikan

dengan kondisi ikan dan media air pemeliharaannya.

2.2.4 Manajemen Kualitas Air

Kualitas air didefinisikan sebagai faktor kelayakan suatu perairan untuk

menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik yang nilainya

ditentukan dalam kisaran tertentu (Safitri, 2007). Menurut Gustav (1998) dalam

Rukmana (2003), kualitas air memegang peranan penting terutama dalam kegiatan

budidaya. Penurunan mutu air dapat mengakibatkan kematian, pertumbuhan

terhambat dan timbulnya hama penyakit. Faktor yang berhubungan dengan air

perlu diperhatikan antara lain : oksigen terlarut, suhu, pH, amoniak, dan lain-lain

pH adalah derajat keasaman yang menggambarkan tingkat keasaman suatu

perairan.Ikan koki dapat hidup dalam perairan yang memiliki pH kisaran antara

6,0 dan 8,3 (Latha and Lipton, 2007). pH yang lebih tinggi dapat meningkatkan

pembentukan amonia dalam air sedangkan pH rendah dapat mempengaruhi fungsi

dari insang ikan dan dapat merugikan pertumbuhan bakteri denitrifikasi (Cooper,

2006).
8

DO (dissolved oxygen) adalah kandungan oksigen yang terlarut dalam air.

Pada umumnya ikan koki dapat hidup pada DO 4 ppm (Latha and Lipton, 2007).

Apabila DO perairan berada di bibawah 20% dari kebutuhan normal, maka ikan

koki akan menjadi lemas bahkan menyebabkan kematian.

Amoniak merupakan hasil akhir metabolisme protein dan dalam

bentuknya yang tidak terionisasi dan merupakan racun bagi ikan sekalipun pada

konsentrasi yang sangat rendah.Konsentrasi amoniak terlarut itu sendiri di dalam

air bergantung pada pH dan suhu (Masser dkk., 1999dalam Andrius, 2014). Ikan

koki memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk amonia (12.75mg selama 24-48

jam), dibandingkan dengan ikan trout (Olson dan Fromm, 1971 dalam Latha and

Lipton, 2007).

Secara umum kriteria air yang baik untuk budidaya koki adalah yang

bersuhu 22-32 C (tropis) optimalnya pada 28-30 C(Andrius 2014). Toleransi

suhu siang dan malam yang terbaik adalah 30 C (Gusti, dkk. 2016). Suhu sangat

berpengaruh dalam proses metabolisme ikan sehingga suhu dapat mempengaruhi

proses pertumbuhan ikan.

2.2.5 Panen

Pemanenan pada pembesaran ikan koki berbeda dengan pemanenan pada

ikan konsumsi. Karena jika ada ikan yang mati pada saat tahap pemanenan maka

akan mengurangi hasil produksi ikan koki. Panen dapat dilakukan dengan panen

selektif dan panen total. Panenselektif dilakukan untuk memilih ikan ukuran

tertentu (seragam) denganmenggunakan lambit dan hapa. Panen total dilakukan

dengan caramenguras air kolam, di depan pintu pengeluaran dipasang


9

waring/hapa untuk memudahkan penangkapan. Sebaiknya gunakan alat yang

terbuatdari jaring berbahan halus agar tidak melukai ikan. Panen dilakukan

padapagi atau sore hari saat suhu air di kolam rendah, sehingga ikan tidak

stresspada waktu pemanenan (Parlaungan, 2012).

2.2.6 Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit yang dapat menyerang ikan budidaya dapat berasal

dari jamur, parasit, bakteri maupun virus. Manusia memegang peranan penting

clalam upaya mencegah terjadinya serangan penyakit pada ikan di kolam

budidaya, yaitu dengan cara memeliharakeserasian interaksi antara tiga

komponen yaitu lingkungan, parasit dan inang. Parasit yang menyerang ikan koki

antara lain adalah argulus sp., lernaena sp. Aeromonas hydrophilla, Pseudomona

flourescent, Flexibacter columnaris (Wahid, 2009).

2.2.7 Kontrol Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah proses bertambahnya ukuran volume dan berat

suatu organisme yang dapat dilihat dari perubahan ukuran panjang dan berat

dalam satuan 2 waktu. Pertumbuhan terjadi bila ada kelebihan masukan

energy dan asam amino dari pakan (Susanti, 2003 dalam Dian, 2014).

Kontrol Pertumbuhan dilakukan dengan cara mengukur mengukur

biomassa awal dan biomassa akhir ikan. Manfaat dari kontrol biomassa ini untuk

mengetahui laju pertumbuhan ikan baik berat, volume dan panjang.

Untuk menghitung data laju pertumbuhan dapat menggunakan rumus

sebagai berikut (Effendi, 1997 dalam Narti 2013) :


10

Laju pertumbuhan spesifik harian (bobot) =

Keterangan :
Wo = bobot awal rata-rata ikan
Wt =bobot akhir rata-rata ikan

Laju Pertumbuhan Spesifik harian (panjang) =

Keterangan :
Po =panjang awal rata-rata ikan
Pt =panjang akhir rata-rata ikan
11

III RENCANA KEGIATAN

3.1 Waktu dan Tempat

Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Benih Ikan Jepun

Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pelaksanaan

Praktek Kerja Lapang telah dilaksanakan pada tanggal 23 Januari - 23 Februari

2017.

3.2 Metode Kerja

`Metode yang digunakan pada kegiatan Praktek Kerja Lapang adalah

metode deskriptif. Menurut Azwar (2012), penelitian deskriptif bertujuan

menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai

populasi atau mengenai bidang tertentu. Penelitian ini berusaha menggambarkan

situasi atau suatu kejadian.

3.3 Teknik Pengambilan Data

Teknik pengambilan data pada kegiatan Praktek Kerja Lapang ini

dilakukan dengan dua macam data, yaitu pengambilan data primer dan data

sekunder. Data primer didapatkan dengan cara mencatat hasil observasi,

wawancara serta pertisipasi aktif, sedangkan data sekunder yaitu data atau

informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan oleh seseorang untuk tujuan tertentu

maupun sebagai pengetahuan ilmiah.


12

Data Primer

Proses pelaksanaannya dapat dibantu dengan menggunakan teknologi

seperti handphone atau dengan alat pengukuran untuk mempermudah

pelaksanaannya (Churchill dan Gilbert, 2005).

Observasi

Menurut Raco (2013), observasi adalah bagian dalam pengumpulan data.

Observasi berarti mengumpulkan data langsung dari lapangan.Data yang

diobservasi dapat berupa gambaran tentang sikap, kelakuan, perilaku, tindakan,

keseluruhan interaksi dalam suatu organisasi atau pengalaman para anggota dalam

berorganisasi.Pelaksanaan observasi peneliti berada bersama partisipan, hal itu

dapat membantu peneliti memperoleh banyak data atau informasi yang

tersembunyi dan tidak terungkap selama wawancara. Kegiatan Praktek Kerja

Lapang meliputi observasi yang dilakukan dalam Pembesaran Ikan Koki

(Carassius auratus) Pada Balai Benih Ikan Jepun di Kecamatan Boyolangu

Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.

Wawancara

Dalam memperoleh informasi dari pihakpihak yang terkait tidaklah

cukup dengan cara observasi, karena dapat dilakukan dengan wawancara.

Menurut Wisadirana (2005), wawancara disebut juga kuesioner lisan tidak lain

adalah kegiatan bertanya kepada responden untuk memperoleh jawaban yang

bertolak pada masalah penelitian. Dalam wawancara, diperlukan komunikasi yang


13

baik dan lancar agar bisa mendapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan

secara keseluruhan. Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab dengan

pegawai yang ada di Balai Benih Ikan Jepun.

Partisipasi Aktif

Menurut Sugiyono (2010), dalam observasi partisipasif, peneliti mengikuti

apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan

berpartisipasi dalam aktifitas mereka. Seperti telah dikemukakan bahwa observasi

ini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu partisipasi pasif, partisipasi moderat,

observasi yang terus terang dan tersamar, dan observasi yang lengkap. Kegiatan

partisipasi aktif ini, yaitu turut serta dan berperan dalam kegiatan Pembesaran

Ikan Koki (Carassius auratus).

Data Sekunder

Data ini biasanya diperoleh dari pustaka-pustaka atau dari laporan-laporan

peneliti terdahulu. Menurut Umar (2004), data sekunder merupakan data primer

yang telah diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk grafik, tabel, diagram,

gambar dan sebagainya, sehingga lebih informatif untuk digunakan oleh pihak

lain dan digunakan oleh periset untuk diproses lebih lanjut. Pada Praktek Kerja

Lagang, data sekunder diperoleh melalui telaah pustaka serta data yang diperoleh

dari pihak lembaga pemerintah maupun masyarakat yang terkait dengan

Pembesaran ikan koki (Carassius auratus).


14

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang

4.1.1 Sejarah Berdirinya BBI Jepun

Balai benih ikan ini dibentuk sebagai bentuk respon dari masyarakat

Kabupaten Tulungagung atas kebutuhan benih ikan Sehingga berdirilah tempat

pembenihan dan budidaya ikan. Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP)

memberi kepercayan tempat tersebut sebagai Balai Benih Ikan yang memasok

benih ikan kepada masyarakat Tulungagung dan memberikan nama Balai Benih

Ikan Jepun.

Tujuan utama dari berdirinya Balai Benih Ikan Jepun adalah untuk

membantu para masyarakat terutama masyarakat Tulungagung terhadap

kebutuhan benih ikan. Baik berupa ikan konsumsi ataupun ikan hias.

Perkembangan Usaha Pembesaran ikan Koki di Balai Benih Ikan Jepun sangat

baik karena kondisi air dan kondisi suhu yang mendukung untuk pembesaran ikan

koki.

4.1.2 Letak Lokasi

Lokasi praktek kerja lapang, Balai Benih Ikan Jepun Terletak di Kelurahan

Jepun Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur.

Secara geografis Balai Benih Ikan Jepun berada pada ketinggian 82,30 m diatas

permukaan laut.
15

Peta lokasi alon-alon Tulungagung keselatan, perempatan tamanan

keselatan 2 km. Barat jalan dibelakang kantor Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Tulungagung.

4.1.3 Struktur Organisasi

Balai Benih Ikan Jepun (BBI Jepun) merupakan suatu binaan dari Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung. Struktur organisasi yang ada di

Balai Benih Ikan jepun sebagai berikut:

Gambar. Struktur organisasi balai benih ikan jepun

4.2 Sarana dan Prasarana

4.2.1 Sarana

Sarana merupakan peralatan yang harus tersedia saat berlangsungnya suatu

kegiatan penelitian atau budidaya. Sarana-sarana yang tersedia antara lain :Pagar.
16

Pagar berfungsi untuk melindungi kolam dari serangan predator pemangsa

ikan. Selain itu untuk membatasi orang lain supaya tidak sembarangan bisa masuk

di wilayah budidaya ikan di Balai Benih Ikan Jepun.

a. Kolam Pembesaran.

Kolam pembesaran memiliki fungsi untuk proses pembesaran ikan dari

tahap benih hingga tahap dewasa. Kolam ini terbuat dari beton yang memiliki

ukuran 7x6m dengan jumlah 16 kolam.

Gambar. Kolam pembesarn

b. Kolam Pemeliharaan Induk

Kolam ini memiliki fungsi untuk memelihara calon induk yang akan di

pijahkan. Pemeliharaan induk terdapat 6 kolam, 1 petak memiliki ukuran 3 x 5 m 2

dan 5 petak dengan ukuran 9 x 10 m2 dengan ketinggian 1 m. Kolam ini terbuat

dari beton.

c. Kolam pembenihan

Kolam ini memliki fungsi untuk memelihara ikan dari tahap larva hingga

benih. Kolam pembenihan terdiri dari 12 kolam, setiap kolam pembenihan

memiliki ukuran 4 x 6 m2 dengan ketinggian 1m. Kolam ini terbuat dari beton.
17

d. Aerasi

Aerasi digunakan untuk menstabilkan oksigen terlarut. Pemberian aerasi

ini memiliki peranan sangat penting karena telur dan larva ikan membutuhkan

oksigen cukup tinggi agar bisa tumbuh dengan baik. Pada pemeliharaan larva,

selang aerasi dipasang di dalam kolam, sumber aerasi untuk penetasan telur dan

pemeliharaan larva berasal dari mesin aerator listrik yang dihubungkan dengan

pipa paralon kemudian dilakukan pencabangan dengan selang aerasi.

e. Sumber Air

Sumber air yang digunakan dalam budidaya ikan koki berasal dari sungai

dan sumur bor yang dialirkan menggunakan pompa air.

4.2.2 Prasarana

Prasarana merupakan fasilitas yang menunjang dan melengkapi sarana.

Prasarana yang terdapat di Balai Benih Ikan Jepun antara lain :

a. Kantor

Balai Benih Ikan Jepun memiliki kantor yang dipergunakan sebagai

kegiatan administrasi. Kantor ini terdiri dari 4 kamar tidur yang digunakan

sebagai tempat penginapan bagi mahasiswa atau siswa yang melakukan kegiatan

PKL dan magang.

b. Alat transportasi

Alat transportasi yang terdapat di Balai Benih Ikan Jepun adalah sebuah

sepeda montor beroda 3 untuk mengangkut memindahkan ikan dari kolam satu ke

kolam lainnya.
18

c. Alat komunikasi

Alat komunikasi yang digunakan di Balai Benih Ikan Jepun digunakan

untuk mempermudah kegiatan atau aktivitas yang ada di balai tersebut seperti

penjualan ikan, pemesanan ikan, dan lain-lain. Alat komunikasi berupa HP

(Handphone).

f. Laboratorium

Laboratorium di Balai Benih Ikan Jepun memiliki fungsi sebagai tempat

menguji kualitas air serta untuk menindaklanjuti penyakit ikan budidaya yang ada

di lingkungan Balai Benih Ikan Jepun.

4.3 Kegiatan Pembesaran Ikan Koki (Carassius auratus)

Teknik pembesaran ikan koki yang ada di Balai Benih Ikan Jepun

Tulungagung meliputi : persiapan kolam, Penggunaan sistem kolam, Penebaran,

pemberian pakan mengukur kualitas air, kontrol pertumbuhan, pemanenan dan

Pemasaran.

4.3.1 Persiapan kolam

Sebelum kolam beton digunakan, kolam terlebih dahulu dibersihkan dari

lumut, kotoran dan daun kering dengan menggunakan serokan. Setelah kolam

bersih kolam dikeringkan kurang lebih 1-3, hal ini dilakukan agar kolam terhindar

dari hama dan penyakit yang ada di kolam tersebut, lalu kolam diisi air sengan

tinggi 70cm dan diendapkan selalma 1 hari agar partikel-partikel yang berbahaya
19

untuk pembesaran ikan koki pada air mengendap di dasar kolam. hal ini sesuai

dengan pernyataan (sayuti, 2003) bahwa kolam dibersihkan dan dikeringkan agar

bebas dari hama dan penyakit dan air diendapkan selama 1 hari.

Gambar. Persiapan kolam Pembersihan

4.3.2 Sistem Kolam

Proses pembesaran ikan koki yang ada di Balai Benih Ikan Jepun

menggunakan sistem sirkulasi. Sistim sirkulasi adalah proses penggantian air

secara terus-menerus agar ikan tidak kekurangan oksigen dan suhu air menjadi

stabil. Sistem sirkulasi ini menggunakan sumur bor yang disedot menggunakan

pompa air (sanyo) yang dihubungkan ke kolam menggunakan pipa. Sedangkan

pengeluarannya menggunakan pipa PVC ukuran diameter 3 inc yang bagian

atasnya ditutupi jaring dan ditancapkan di bagian outlet. Tujuan dari pemberian

jaring di atas pipa supaya ikan tidak masuk ke pipa outlet.

4.3.3 Penebaran

Benih ikan koki yang ditebar berasal dari Balai Benih Ikan Jepun yang

berasal dari kolam pemijahan. Pada tahap benih ini ikan koki belum memiliki

warna yang tetap. Pada tahap benih belum dapat dilakukan penyotiran

dikarenakan benih ikan koki bewarna kuning semua.


20

Penebaran ikan koki dilakukan siang hari karena pada pagi hari para

pegawai memiliki kegiatan memanen kutu air, membersihkan kolam, memberi

makan ikan dan memanen benih ikan koki. Penebaran ikan koki ke dalam kolam

pembesaran ini dilakukan pada saat ikan koki berumur 20 hari atau pada saat ikan

berada pada tahap benih. Sebelum ikan ditebar kedalam kolam pembesaran ikan

terlebih dahulu dilakukan proses grading. Hal ini dilakukan agar ikan koki dalam

pembesaran memiliki ukuran yang sama dan mempermudah proses pemberian

pakannya.

Pada proses penebaran ikan koki ini tidak dilakukan proses aklimatisasi.

Hal ini dikarenakan pada proses pengakutan ikan koki hanya sebentar yaitu

kurang dari 5 menit sehingga tidak perlu dilakukan pengakutan hal ini sesuai

dengan pernyataan dari (Elkajuli, 2005, dalam Tania 2015) aklimatisasi sebagai

penanganan pasca pengangkutan dilakukan dalam keramba selama 1hari.

Padat tebar ikan koki di Balai Benih Ikan Jepun hanya 500 ekor/kolam.

sedangkan volume air kolam pembesaran ikan koki adalah 25200 L, dengan

volume tersebut seharusnya kolam pembesaran ikan koki mampu menampung

ikan koki sebanyak 25200 ekor. Hal ini sesuai pernyataan dari (andrius, 2014)

yang menyatakan bahwa Padat tebar optimum pemeliharaan ikan maskoki adalah

1 ekor/liter.

4.3.4 Pemberian Pakan

Pakan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pakan alami dan Pakan

buatan. Pakan alami adalah Pakan yang terbentuk secara alamiah, baik di alam

maupun di lingkungan tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia. Sedangkan


21

makanan buatan adalah makanan yang dibuat oleh manusia dengan bahan yang

komposisi tertentu sesuai dengan kebutuhan.(Rika, 2008)

Pembesaran ikan koki di Balai Benih Ikan Jepun menggunakan pakan

alami dan pakan buatan. Pada ikan koki yang berumur kurang dari satu bulan

diberi pakan alami sedangkan pada ikan koki yang berumur lebih dari satu bulan

ikan koki diberi pakan buatan. Hal ini dilakukan karena pada pakan alami lebih

mudah dicerna dibandingkan dengan pakan buatan, selain itu pula pakan alami

memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan pakan buatan salah satu contoh

pakan alami kutu air.

Pakan alami yang digunakan adalah kutu air yang terdiri dari brachionu

sp., monia sp., dan daphnia sp. Pemberian kutu air pada umur kurang dari 1 bulan

sangat efektif hal ini karena kutu air memiliki ukuran yang sangat kecil yang

sesuai dengan bukaan mulut benih ikan koki. Selain itu juga kutu air memiliki

kandungan nutrisi yang baik bagi budidaya ikan yaitu kandungan protein Daphnia

sp. berkisar 42-54%, kandungan lemak berkisar 6,5-8% dari berat keringnya, dan

asam lemak linoleat dan linolenatnya berkisar 7,5 dan 6,7% (Rahman, et. al., 2013

dalam Herawati). Monia memiliki kadar air sebesar 95,46%, protein 60,36%,

lemak 9,64%, abu 8,75% serat kasar 2,46 dan kandungan BTEN 18,78.

Pakan yang digunakan dalam pembesaran ikan koki adalah pellet merk LP

1-3 PT Matahari Sakti. Dengan kandungan protein 31-33%, lemak 5%, Abu 12%,

Serat Kasar 4%, Kadar Air 10%.

kedua pakan tersebut memiliki kandungan protein yang cocok untuk

pertumbuhan ikan pakan berprotein 30% untuk menunjang pertumbuhan ikan


22

(Priyadi, 2015). Pemberian pakan pada pembesaran ikan koki adalah 2-3% dari

biomassa ikan koki tersebut. Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari pukul

08.00 dan siang hari pukul 14.00.

Penimbangan pakan
4.3.5 Seleksi ikan

Pada umur 20 hari ikan koki dilakukan seleksi ukuran dan ekor, hal ini

dikarenakan benih ikan koki memiliki pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga

perlu dilakukan seleksi ukuran supaya memberikan kemudahan dalam pemberian

makan. Selain itu juga koki yang yang memiliki ekor yang mekar dan tidak mekar

harus dipisahkan. Ikan koki yang ekornya tidak mekar memiliki harga jual yang

rendah. Ikan koki yang ekornya tidak mekar memiliki pergerakan yang lebih

agresif dan lebih cepat dibandingkan dengan ikan koki yang ekornya mekar

sehingga persaingan dalam mengambil makan dimenangkan oleh ikan koki yang

ekornya tidak mekar (sayuti, 2003).

Pada umur 2 bulan ikan koki diseksi kembali berdasarkan ukuran bentuk

dan warna ikan. Hal ini dilakukan untuk mengelompokan ikan koki berdasarkan

jenis ikannya, Sebab setiap jenis ikan koki memiliki harga yang berbeda-beda.

Sehingga ketika pemanenan tidak susah dalam pengelompokannya. Pada umur 3


23

bulan ikan koki dilakukan penyotiran kembali berdasarkan bentuk dan warnanya.

Pada umur 3 bulan ini dilakukan selaeksi untuk dijadikan indukan yang akan

dipindahkan ke kolam pemeliharaan indukan ikan koki.

4.3.6 Kualitas air

Sistem yang digunakan dalam pembesaran ikan koki ini adalah sistem

sirkulasi, sehingga terjadi pergantian air secara terus-menerus. Sumber air yang

digunakan sistem sirkulasi berasal dari sumur bor. Kualitas air memiliki peranan

yang penting dalam pertumbuhan dan sintasan ikan koki yang dibudidayakan di

kolam sehingga perlu dilakukan pengecekan kualitas air. Parameter kualitas air

yang diukur pada pelaksaan PKL di lokasi adalah pH, oksigen terlarut, dan suhu.

Berikut merupkan tabel hasil kualitas air

Parameter Hasil Pengukuran


Suhu 29,82
Oksigen terlarut 8,41
Ph 8,08

Suhu di kolam diukur setiap siang hari pada pukul 14.00 WIB karena pada

pagi hari petugas laboratorium belum tentu datang. Berdasarkan hasil pengukuran

suhu didapatkan bahwa suhu rata-rata dalam pembesaran ikan koki di lokasi PKL

adalah 29,82. Suhu tersebut merupakan suhu optimum untuk pembesaran ikan

koki hal ini sesuai dengan pernyataan (Andrius, 2014) yang menyatakan bahwa

Secara umum kriteria air yang baik untuk budidaya koki adalah yang bersuhu 22-

32 C (tropis) optimalnya pada 28-30 C. Jika angka melebihi suhu yang optimal,

maka ikan koki mengalami metabolisme yang cepat sehingga oksigen yang
24

dibutuhkan juga semakin tinggi. Metabolisme yang tinggi akan mempengaruhi

terhadap pertumbuhan ikan koki karena sebagian besar energi digunakan untuk

bermetabolisme.

Pada pengukuran oksigen Terlarut pada pembesaran ikan koki dilakukan

pada pukul 14.00. Hasil rata-rata pengukuran oksigen terlarut pada pembesaran

ikan koki kali ini adalah 8,41 ppm. Kandungan oksigen terlarut pada pembesaran

ikan koki dapat dikatakan baik dikarenakan Pada umumnya ikan koki dapat hidup

pada DO 4 ppm (Latha and Lipton, 2007).

Pada pengukuran pH pada pembesaran ikan koki dilakukan pada pukul

14.00. Hasil rata-rata pengukuran pH adalah 8,08. Menurut Latha and Lipton

.Ikan koki dapat hidup dalam perairan yang memiliki pH kisaran antara 6,0 dan

8,3. pH yang lebih tinggi dapat meningkatkan pembentukan amonia dalam air

sedangkan pH rendah dapat mempengaruhi fungsi dari insang ikan dan dapat

merugikan pertumbuhan bakteri denitrifikasi (Cooper, 2006).

4.3.7 Kontrol Pertumbuhan

Kontrol pertumbuhan dilakukan setiap satu bulan sekali. Kontrol

pertumbuhan ikan dilakukan dengan cara mengambil beberapa ikan secara acak

dari 3 kolam. Hal ini dilakukan karena ketika seleksi ukuran ikan koki, ikan koki

di pisahkan menjadi 3 kolam.

Rata-rata Berat Rata-rata Berat Rata-rata Panjang Rata-rata Panjang


25

Awal (g) Akhir (g) Awal (cm) Akhir (cm)


10,1 17 4 5

Pertumbuhan ikan koki selama pemeliharaan dapat dihitung dengan rumus

sebagai berikut : Laju pertumbuhan spesifik harian (bobot) =

dan Laju Pertumbuhan Spesifik harian (panjang) = (Effendi,

1997 dalam Narti 2013). Sehingga Laju pertumbuhan spesifik harian (bobot) ikan

koki adalah 0,21g dan laju pertumbuhan spesifik harian (panjang) ikan mas koki

adalah 0.03cm.

4.3.8 Pengendalian Hama dan Penyakit

Pencegahan hama dan penyakit pada ikan koki yaitu dengan cara sebelum

ditebar kolam pembesaran ikan koki dilakukan pembersihan dari lumut, keong

sisa pakan dan feses yang berada di dasar kolam Gunalan (1993) dalam Badjoeri

dan Widiyanto (2008) menyatakan, pencemaran pada perairan budidaya berasal

dari sisa pakan buatan (pelet) dan feses hewan yang dibudidayakan.

Penanganan ikan koki yang telah terkena penyakit yaitu dengan cara

melakukan penggantian air, ikan dipuasakan, meningkatkan suhu air, pemberian

obat insektisida dengan merk BASA dan lain-lain. Tergantung penyakit yang

menyerang ikan koki. Parasit ikan yang biasanya menyerang ikan koki di tempat

PKL antara lain: Argulus sp., lirnea sp., dan saprolegnia sp.
26

4.3.9 Pemanenan.

Pemanenan umur ikan koki tidak dapat ditentukan. Hal ini dikarenakan

setiap konsumen memiliki kebutuhan ukuran ikan koki yang berbeda-beda. Ada

yang baru usia 1 bulan dipanen dan ada pula yang sudah usia 8 bulan dipanen.

Para konsumen memesan ikan koki pada pagi hari dan sore hari. Panen dilakukan

pada pagi atau sore hari saat suhu air di kolam rendah, sehingga ikan tidak stress

pada waktu pemanenan (Parlaungan, 2012).

Pemanenan ikan koki ada 2 yaitu Panen persial dan panen total. panen

persial dilakukan dengan cara ikan di jaring sebagian dengan menggunakan jaring.

Lalu ikan dihitung sesuai dengan permintaan konsumen. lalu ikan dikemas dengan

menggunakan plastik dengan ditambahkan air dan oksigen. Sedangkan panen total

prosesnya yaitu menguras air hingga ketinggian air 5 cm dengan cara mengganti

pipa outlet dengan pipa outlet yang berlubang, lalu ikan koki dijaring

keseluruhannya. Setelah dijaring ikan koki dipindahkan ke plastik dan dihitung

lalu diberi oksigen dan di packing. Pemberian oksigen pada plastik packing

bertujuan agar ikan tidak mati kekurangan oksigen ketika berada di perjalanan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan (nurjanah,dkk. 2006) yaitu saat packing terjadi

proses adaptasi terhadap lingkungan yang memerlukan oksigen tinggi.

4.3.10 Pemasaran.

Balai Benih Ikan Jepun sudah memiliki nama di Kabupaten Tulungagung

sehingga proses pemasaran ikan dilakukan dari mulut-kemulut. Sehingga para

konsumen datang langsung ke Balai Benih Ikan Jepun. Selain itu juga para

konsumen memesan ikan koki melalui kontak handphone. Pemasaran ikan koki

hanya di daerah Kabupaten Tulungagung saja.


27

4.4 Hambatan yang dihadapi

Hambatan yang dihadapi adalah kurangnya SDM dalam mengoprasikan

Laboratorium serta kurangnya tenaga kerja dalam proses budidaya ikan koki

sehingga ada beberapa kolam yang kurang begitu terawat. Musim hujan membuat

ikan menjadi sakit dan mati dikarenakan ada proses up welling yang terjadi akibat

perbedaan suhu permukaan dan suhu di dasar.


28

V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
- Teknik pemeliharaan ikan koki (Carassius auratus) terdiri dari persiapan kolam,

penebaran, seleksi, pemberian pakan, kontrol pertumbuhan, pemeriksaan

parameter kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan dan

pemasaran.

- Masalah yang dihadapi di Balai Benih Ikan Jepun adalah kurangnya tenaga kerja

dan kurangnya SDM dalam pengoprasian laboratorium.

5.2 Saran
- Permasalahan yang timbul dalam keadaan musim hujan harus dilakukan

penanganan secara intensif. Selain itu juga perlu dilakukannya pelatihan terhadap

para pekerja serta perekutan tenaga kerja baru untuk pengoperasian laboratorium

kembali.
29

Daftar Pustaka

Agoes Tiana dan Ir. Murhananto, MM. 2002. Budidaya KOKI. Oentie. Agromedia
Pustaka.

Al-Noor, S. S. 2010. Population Satus of Gold Fish Carassius auratus in Restored


East Hammar Marsh, Sothern. JKAU : Sci, 21 (1) : 65-83.

Andrius. 2014. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Kelangsungan Hidup dan Laju
Pertumbuhan Ikan Mas Koki (Carassius auratus) yang Dipelihara
Dengan Sistem Resirkulasi. Universitas Sumatra Utara.

Arief, M., I. Triasih dan W. P. Lokapirnasari. 2009. Pengaruh Pemberian Pakan


Alami dan Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Betutu
(Oxyeleotris marmorata Bleeker). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Vol 1(1) : 51 57.

Bachtiar, Y. 2005. Mencegah Mas Koki Mudah Mati. Jakarta: Agromedia Pustaka

Badjoeri, M dan T.Widiyanto. 2008. Penggunaan akteri N itrifikasi Untuk


Bioremediasi dan pengaruhnya Terhadap Konsentrasi Amonia dan Ntrit
di Tambak Udang.Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia.

Churchill, Jr., And A. Gilbert. 2005. Dasar-Dasar Riset Pemasaran. Jakarta:


Erlangga.

Cooper, D.M. 2006. Basics of fish care. Fish care (Electronics), p. 1-9.

Deriva. 2014. Pemanfaatan Perasan Biji Pepaya (Carica papaya) Untuk


Mencegah Infestasi Argulus Pada Ikan Mas Koki (Carassius auratus)
Skripsi, Universitas Airlangga. Surabaya.

Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. 163 hal.

Herawati, dkk. Analisis pertumbuhan dan Kelulusan Hidup Larva Lele (Clarias
gariepenus) Yang Diberi Pakan Daphnia sp. Hasil Kultur Masal
Menggunakan Pupuk Organaik. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Diponegoro. Semarang.

Latha, Y. P and A, P Lipton. 2007. Water quality management in goldfish


(Carassius auratus) rearing tanks using different filter materials. Indian
Hydrobiology, 10 (2) : 301-306.

Lingga dkk. 2003. Biologi Umum. Gramedia : Jakarta.

Narti, dkk. 2013. Pertumbuhan dan Performansi Warna Ikan mas Koki (Carassius
sp.) Melalui Pengayaan Pakan Dengan Kepala Udang. Fakultas Sains dan
Teknologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
30

Nurjanah. 2006. Penambahan Hidrogen peroksida (H2O2) Dalam


Mempertambahkan Waktu Hidup Ikan Kerapu Lumpur (Epinephelus
suillus). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Raco, J.R. 2013.Metode Penelitian Kualitatif.Grasindo. Jakarta. Hal-112.

Rika. 2008. Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan dan kelulushidupan Ikan


Hasil Strain GIFT dengan Strain Singapura. Skripsi, Universitas
Diponegoro. Semarang.

Rukmana, Rahmat. 2003. Budi daya dan Pasca Panan. Agromedia. Jakarta.

Setiawan, B. 2009. Pengaruh Padat Penebaran 1, 2, dan 3 Ekor/L Terhadap


Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Maanvis
Pterophyllum scalare. Skripsi. Program Studi Teknologi dan Manajemen
Akuakultur. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Safitri, A. 2007. Analisis Kualitas Air.


(http://www.scribd.com/doc/39480308/Analisis Kualitas Air (Diakses
pada 8 November 2016).

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R& D.Penerbit


Alfabeta. Bandung.

Tommy. 2014. Pemijahan Ikan Mas koki (Carrasius auratus) Dengan


Menggunakan Berbagai Substrat Skripsi. Universitas Sumatra Utara.

Tania. 2012. Aklimatisasi Benih Ikan Nila (Oreochromis spp) dengan


Pencampuran Air Gambut. Fakultas Perikanan Universitas Kristen
Parangka raya.

Umar, H. 2004. Metode Riset Ilmu Administrasi.Gramedia. Jakarta. 64 Hlm.

Wahid, N.P. 2009. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif Pada Luka Ikan
Mas Koki (Carassius auratus) Akibat Infestasi Ektoparasit Argulus sp.

Wisadirana, D. 2005. Metode Penelitian Pedoman Penulisan SkripsiUntuk Ilmu


Sosial. UMM Press. Malang. 67 hlm.

Wisnantara. 2006. Analisa Kelayakan Bisnis Usaha Pembudidayaan Ikan Koki


pada Lahan Terbatas di Jakarta. Stap Pengajar IPB.
31

Lampiran

Lampiran 1. Peta Denah Lokasi

www.googlemaps.com
32

Lampiran 2. Pembesaran Ikan Koki

No GAMBAR KETERANGAN
1 DO Meter

3 Bak untuk menyeleksi ukuran ikan koki

4 pH paper

6 Kutu air

7 Ikan koki
33

8 Pengukuran suhu

9 Kandungan pakan yang diberikan

10 Pipa outlet

11 Pengukuran panjang ikan

12 Pengamatan mrutu (kutu air)


34

Lampirn 3. Data kualitas air

No Suhu DO pH
1 28
2 28
3 29
4 31
5 30 8,1 8
6 30 8,4 8
7 30 8,7 8
8 29 7,9 8,5
9 29 8 8,5
10 29 7,8 8
11 28 7,7 8
12 31 8,8 8
13 32 9,1 8
14 32 9 8
15 30 8,6 8
16 31 8,8 8
17 30 8,4 8
35

Lampiran 4 Tabel Pertumbuhan

Rata-rata Berat Rata-rata Berat Rata-rata Panjang Rata-rata Panjang


Awal (g) Akhir (g) Awal (cm) Akhir (cm)

10,1 17 4 5