Você está na página 1de 15

SALMAN AL-FARISI

Asal Usul Salman Al-Farisi

Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena
itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah
desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu beliau
dikenal dengan nama aslinya Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu
Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam. Ayah
beliau adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman
membuat sang Ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan.
Salman menjalani hari-harinya sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama
Majusi.

Awal Mula Salman Al-Farisi Meninggalkan Agama Majusi

Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan
oleh bangunan miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan,
Salman melewati sebuah gereja Nasrani. Salman kemudian masuk dan mendapati
orang-orang Nasrani yang sedang beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari
mereka Salman mengetahui bahwa Agama Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina
dan Sekitarnya). Salman mengisahkan peristiwa itu dan mengungkapkan
kekagumannya kepada Ayahnya. Kekhawatiran menghinggapi diri sang Ayah.
Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan
menahannya di rumah. Inilah Salman, sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya.
Saatnya mencari kebenaran yang selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun
rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri. Hari-hari telah berlalu, tersiar
kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan yang dinanti-nanti.
Ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke Syam, Salman melepaskan
belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.

Salman dan Agama Nasrani

Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama
di antara pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang
ada di gereja. Salman tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam
gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang jelek perangainya. Dia memerintahkan
orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah tersebut disimpannya untuk
dirinya sendiri. Tak lama uskup itu pun mati. Salman memberitahukan perbuatan
uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan menunjukkan kepada mereka
simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Mereka
pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya. Kemudian mereka
menjadikan orang lain sebagai pengganti. Dia adalah seorang yang tekun beribadah
dan zuhud terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun
sebelumnya. Salman tinggal bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik
tersebut didatangi tanda-tanda kematian.

Masuk Islamnya Salman Al-Farisi

Suatu hari di Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman
meminta mereka untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi
dan kambing-kambing milikya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil
Qura, mereka justru menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak.
Tinggallah Salman bersama Yahudi tersebut. Allah Maha Mengetahui kesungguhan
hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi datang dan membeli Salman
darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa mengetahuinya
dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salman tinggal di
Madinah. Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak
mengetahui hal ini sampai ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pada suatu
hari, Salman berada di atas pohon kurma, sementara tuannya sedang duduk.
Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang datangnya seorang dari Mekkah
di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang Nabi. Mendengar cerita tersebut
Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru membuat marah
tuannya hingga meninjunya dengan keras.

Tak putus harapan, Salman berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira
Nabi tersebut. Berbekal cirri-ciri yang dia ketahui dari sahabatnya, Salman beberapa
kali mendatangi Rasulullah SAW. Kali pertama, Salman mendatangi beliau SAW
dengan membawa sesuatu sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat
memakannya, sementara beliau sendiri menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman.
Kedatangan kedua, Salman kembali membawa sesuatu. Kali ini dia
menghadiahkannya kepada Rasulullah SAW. Beliau SAW lalu memakannya dan
memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman.
Ketiga kalinya, Salman mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang mengiringi
jenazah seorang sahabat di pekuburan Baqi. Beliau SAW mengenakan dua pakaian
sejenis jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap
kenabian di bagian punggung Rasul SAW. Beliau SAW menyadari hal ini, lalu
melepaskan selendang dari punggung beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian
itu. Inilah Salman, seketika itu dia tertelungkup di hadapan Rasul SAW, lalu
mencium beliau dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam. Kesungguhannya
dalam mencari kebenaran, mengantarkannya kepada hidayah yang selama ini dia cari.

Kehidupan Salman Al-Farisi dalam Islam

Hari-hari setelahnya, Salman masih tersibukkan dalam perbudakan, sehingga tidak


mengikuti perang Badar dan Perang Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah SAW,
Salman berhasil membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak
pernah terluput dari mengikuti peperangan bersama Rasul SAW, serta peperangan di
masa Khulafa Rasyidin. Pada peristiwa perang Khandaq tahun 5 H, Salman
menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit besar sebagai strategi
pertahanan kaum Muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari upaya
penyerangan pasukan gabungan Musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu. Sautu ketika
Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Abu Darda dengan Salman al-Farisi ra.
Mereka menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga
mereka berdua terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing. Abu Darda
menjadi seorang Qadhi (hakim) di Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi
Gubernur di Madain, Irak . suatu hari Abu Darda mengirim surat untuk Salman, yang
isinya, Marilah menuju bumi yang suci (Syam). Maka Salman membalas surat
tersebut, Sesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri seseorang. Hanyalah
amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.

Akhir kehidupan Salman Al-Farisi

Sebagian ulama menyebutkan adanya ijima (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau
mencapai 250 tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang
pendapat (lihat Al Majmu Syarhul Muhadzdzab, Al Bidayah Wan Nihayah). Setelah
melalui perjalanan panjangnya, beliau wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada
tahun 36 H. beliau telah meninggalkan banyak pelajaran berharga bagi kaum
Muslimin. Semoga Allah meridhainya.

SALMAN PERGI KE NEGERI SYAM

Setelah suasana mengizinkan, aku terus menghantar utusan kepada Nasrani dan aku
memberitahu kepada mereka: Apabila datang kendaraan yang ingin menuju ke negeri
Syam maka beritahulah kepadaku. Setelah beberapa ketika datanglah kendaraan yang
ingin menuju ke negeri Syam, lalu Nasrani tersebut memberitahu kepadaku.

Aku terus mencoba membuka ikatan yang mengikat badanku sehinggalah berhasil,
aku pun terus keluar bersama rombongan tadi secara sembunyi sehinggalah sampai ke
negeri Syam. Apabila kami tiba di sana, aku pun bertanya: Siapakah lelaki yang
paling mulia bagi agama Nasrani ini?. Mereka berkata: Al-Asqaf penjaga gereja.

lalu aku bertemu dengan lelaki tersebut dan berkata: Sesungguhnya aku tertarik
dengan agama kamu dan suka untuk bersama kamu, berkhidmat untuk kamu, belajar
dengan kamu dan sembahyang bersama kamu. Lelaki itu berkata: Masuklah.

Aku pun masuk ke dalam gereja itu dan mula berkhidmat kepadanya. Kemudian
setelah beberapa waktu aku bersamanya, aku dapat tahu bahawa dia seorang lelaki
yang jahat. Dia memerintahkan pengikutnya supaya mengeluarkan sedekah dan
menerangkan kelebihan sedekah. Lalu apabila dia diberikan sesuatu supaya
dibelanjakan pada jalan Allah, dia menyimpan sedekah yang diberikan itu untuk
dirinya dan tidak diberikan kepada fakir miskin sedikitpun sehingga dia dapat
mengumpulkan sebanyak tujuh tempayan emas.

Setelah aku melihat sifatnya yang sedemikian, aku mula timbul perasaan sangat
marah. Kemudian setelah beberapa ketika lelaki tersebut mati dan pengikut-pengikut
agama Nasrani berkumpul untuk menanam mayatnya, lalu aku berkata kepada
mereka: Sesungguhnya tuan kamu ini seorang lelaki yang jahat. Dia menyuruh kamu
agar mengeluarkan sedekah dan menerangkan kelebihan sedekah. Tetapi apabila
kamu membawa sedekah kepadanya, dia menyimpan sedekah yang diberikan itu
untuk dirinya dan tidak diberikan kepada fakir miskin walaupun sedikit.

Mereka bertanya: Dari mana kamu tahu semua ini? Aku berkata: Aku akan tunjukkan
tempat simpanan hartanya kepada kamu. Mereka menjawab: Tunjukkanlah. Lalu aku
menunjukkan tempat harta itu dan mereka mengeluarkan dari tempat itu tujuh
tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Setelah mereka melihat harta itu,
mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan menanam mayat ini.

Kemudian lelaki itu di salib dan direjam dengan batu. Setelah berlalu beberapa ketika
tempat lelaki tersebut diganti dengan lelaki lain dan aku terus berada bersamanya.
Setelah bersamanya, aku dapati dia seorang lelaki yang paling zuhud di dunia, paling
mengejar akhirat dan suka melakukan ibadat siang dan malam. Aku terlalu suka
kepada lelaki ini, oleh sebab itu aku dapat tinggal bersamanya dengan begitu lama.

Setelah dia hampir mati, aku berkata kepadanya: Wahai Polan nasihatkan kepadaku
siapakah yang boleh aku tinggal bersamanya selepas kamu ini? Lalu dia berkata:
Wahai anakku, aku tidak mengetahui pada zaman kamu ini melainkan seorang lelaki
sahaja yang berada di Al-Muassal yang bernama Si Polan. Dia tidak pernah
menyeleweng dan tidak pernah menukar kebenaran, maka ikutlah dia.

Setelah tuanku meninggal dunia, aku terus pergi ke Al-Muassal untuk mencari lelaki
tersebut. Setelah berjumpa dengannya, aku menceritakan kepadanya tentang keadaan
diriku. Aku berkata kepadanya:

Sesungguhnya lelaki tersebut telah memberi wasiat kepadaku semasa dia hampir mati
supaya mencari kamu dan dia menceritakan bahawa kamulah satu-satunya orang
yang berpegang teguh kepada kebenaran yang berada pada kamu.
KEDATANGAN SALMAN KE SEMENANJUNG ARAB

Pada suatu hari rombongan perniagaan Tanah Arab dari kabilah (Kalb) telah datang
ke Amuriah. Aku terus berkata kepada mereka: Sekiranya aku dibawa bersama kamu
ke tanah arab aku akan berikan kepada kamu lembu dan kambingku ini. Mereka
menjawab: Kami setuju.

Lalu aku memberikan kepada mereka sebagaimana yang aku janjikan dan mereka
membawa aku bersama mereka. Sehingga apabila sampai ke sebuah wadi yang
bernama Wadi Al-Qura mereka melakukan pengkhianatan terhadap diriku, mereka
menjual aku kepada salah seorang Yahudi yang menyebabkan aku terpaksa
berkhidmat untuknya.

Kemudian setelah beberapa ketika tibalah sepupu Yahudi tersebut dari Bani Quraizah
menziarahinya lalu dia membeli aku dari Yahudi tadi dan membawa aku bersamanya
ke Yathrib. Setelah tiba di Yathrib aku melihat pokok-pokok tamar sebagaimana yang
telah diceritakan oleh sahabatku di Amuriah dahulu dan aku dapat kenali Madinah
sebagaimana yang disifatkan oleh beliau. Dengan itu aku berada di Yathrib dan
tinggal bersama tuanku dari Bani Quraizah. Pada ketika ini Nabi s.a.w sedang
menyeru kaumnya di Mekah, tetapi aku tidak mendengar berita mengenainya kerana
disibukkan oleh kerja-kerja perhambaan yang diwajibkan ke atas diriku.

ISLAMNYA SALMAN AL-FARISI

Kemudian apabila Rasulullah s.a.w berhijrah ke Yathrib, demi Allah ketika itu aku
sedang menyusun daun tamar (membuat peneduh) bagi tuanku untuk melakukan
kerja di dalamnya. Ketika tuanku berada di bawah peneduh tersebut tiba-tiba datang
sepupunya dan berkata kepada tuanku: Semoga Allah memusnahkan Bani Qilah,
demi Allah mereka sekarang sedang berkumpul di Quba menyambut kedatangan
seorang lelaki dari Mekah dan mendakwa dia sebagai seorang nabi.

Setelah mendengar kata-kata tersebut, aku seolah-olah ditimpa demam. Keadaanku


itu sangat mengejutkan tuanku sehingga hampir menjatuhkan dirinya dari tempat
peneduh tersebut, lalu dia bergegas turun dari gerai tersebut kemudian aku bertanya
lelaki tadi: Coba kamu ulangi kata-kata kamu tadi, apa dia? Lalu aku dimarahi oleh
tuanku dengan pertanyaan itu dan menumbuk diriku dengan kuat kemudian dia
berkata kepadaku: Kenapa dengan kamu ini? Teruskan kerja kamu itu.

Apabila waktu petang, aku mengambil beberapa biji tamar yang telah aku kumpulkan
dan aku pergi ke tempat Rasulullah s.a.w dan aku berkata kepadanya:

Sesungguhnya aku telah diberitahu bahawa kamu merupakan seorang lelaki yang
soleh dan bersama kamu terdapat beberapa orang yang dagang dan memerlukan
bantuan. Ini ada beberapa biji tamar untuk aku sedekahkan kerana aku melihat kamu
lebih berhak daripada orang lain.

Kemudian aku mendekatinya, lalu dia berkata kepada sahabatnya: Kamu semua
makanlah, sedangkan Rasulullah sendiri masih menggenggam tamar tersebut di
tangan baginda dan tidak makan. Aku terus terlintas di dalam hatiku: Telah jelas satu
bukti.

Kemudian aku beredar seterusnya aku mengumpulkan lagi sejumlah tamar. Apabila
baginda ingin berangkat dari Quba ke Madinah aku datang bertemu dengannya dan
aku berkata kepadanya:

Aku melihat kamu tidak memakan sedekah dan ini merupakan hadiah sebagai
penghormatan dariku.

Lalu Rasulullah memakan sebahagian dari tamar itu dan menyuruh sahabatnya agar
makan bersamanya. Lalu aku berkata di dalam diriku: Kini telah jelas dua bukti.

Kemudian aku berjumpa lagi Rasulullah, ketika itu baginda berada di Baqi Al-
Gharqad yang sedang mengebumikan mayat salah seorang sahabat baginda. Setelah
aku melihat baginda sedang duduk dan di badan baginda terdapat sehelai kain serban,
aku memberi salam kepada baginda dan berjalan di belakang baginda untuk melihat
tanda yang telah disifatkan oleh tuanku di Amuriah suatu ketika dahulu.

Setelah baginda melihat aku sedang memerhatikan belakang baginda, baginda terus
mengetahui tujuanku, lalu baginda menarik kain serban dari belakang baginda dan
aku terus dapat melihat tanda itu. Dari situ aku dapat ketahui bahawa aku memang
telah bertemu dengan lelaki yang aku cari-cari selama ini, lalu aku membuka
tanganku dan merendahkan diri serta mengucup Rasulullah s.a.w dan menangis.

Lalu Rasulullah s.a.w bertanya: Apa cerita kamu ni? Lalu aku menceritakan
keseluruhan kisahku kepada baginda dan baginda merasa kagum terhadap apa yang
aku alami selama ini, malah baginda terlalu suka jika aku dapat menceritakan ceritaku
itu kepada para sahabat baginda, lalu aku ceritakan kepada mereka kisah diriku.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk
menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan
padaku:Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan
menerima uang tebusan.

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara


Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.
Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang
bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq
dan peperangan lainnya.

PERAN SALMAN AL-FARISI DALAM PERANG KHANDAQ

Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan
golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan
dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama
baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan
Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah
(Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam yaitu dari belakang barisan Kaum
Muslimim sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan
hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan
tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan
persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka
bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka
dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala
pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah nakh sampai
kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah.
(Q.S. 33 al-Ahzab:l0)

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin
Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan
melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu
alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari
berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang
membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan
menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku
dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan
tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa
yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?
Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang
disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Itulah dia
Salman al-Farisi radhiyallahu anhu! Dari tempat ketinggian ia melayangkan
pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya
kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga
layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang,
hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng
pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu anhu telah mempunyai pengalaman luas


tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka
tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam
peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit
perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin
dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman
radhiyallahu anhu tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul


melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya
kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos
kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Taala mengirim angin topan yang
menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu
Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung
mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit

PUJIAN RASULULLAH ATAS KECERDASAN SALMAN

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya.
Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang.
Salman radhiyallahu anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu.

Pada suatu hari Salman radhiyallahu anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu
Darda untuk shaum sunnat esok hari. Dia menyalahkannya: Apakah engkau hendak
melarangku shaum dan shalat karena Allah? Maka jawab Salman radhiyallahu
anhu: Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula
keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan
di samping melakukan shalat, tidurlah!
Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman
radhiyallahu anhu telah dipenuhi dengan ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu anhu serta
ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang
luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: Salman
radhiyallahu anhu dari golongan kami. Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata
mereka: Tidak, ia dari golongan kami! Mereka pun dipanggil oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait.

PENGHORMATAN ALI DAN UMAR TERHADAP SALMAN

Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu anhu mendapat kehormatan


seperti itu ! Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menggelari Salman radhiyallahu
anhu dengan Luqmanul Hakim. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang
ketika itu telah wafat, maka jawabnya: Ia adalah seorang yang datang dari kami dan
kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat
menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu
yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir.
Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering.

Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadi Salman radhiyallahu anhu telah
mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar
radhiyallahu anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan
penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga.
Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: Marilah kita pergi
menyambut Salman radhiyallahu anhu! Lalu ia keluar bersama mereka menuju
pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya

KESEDERHANAAN KEHIDUPAN SALMAN

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh


penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat
pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya
menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan
tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara
hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun
bertumpuk dan jabatan tambah meningkat.

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat
menemukan Salman radhiyallahu anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di
saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu ?

Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk
di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di
samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk
dijadikan bakul atau keranjang.

Nah, itulah dia Salman radhiyallahu anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah
kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya.
Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan
yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua
itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya:
Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham.

Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku,
sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab
radhiyallahu anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan
kuhentikan!

Diriwayatkan eleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: Tunjangan Salman radhiyallahu
anhu sebanyak lima ribu setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato
di hadapan tigapuluh ribu orang separuh baju luarnya (abaah) dijadikan alas
duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-
bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya.

Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan
menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali
menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih.

Saad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu anhu
menangis. Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah,) tanya Saad, padahal
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?
Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu anhu, daku menangis bukanlah karena takut
mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan
suatu pesan kepada kita, sabdanya: Hendaklah bagian masing-masingmu dari
kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini
banyaknya

Kata Saad: Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring
dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu
pesan yang akan kami ingat selalu darimu! Maka ujamya: Wahai Saad!

Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita.


Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi.
Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian.

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya
tak sedikit pun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji
sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil
menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam
kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-
laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat
berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak
sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh
laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila
telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan
Salman radhiyallahu anhu menurut dengan patuh. Tolong bawakan barangku ini!,
kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu
anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman


radhiyallahu anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti:
Juga kepada amir, kami ucapkan salam Juga kepada amir? Amir mana yang
mereka maksudkan? tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah
ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul
oleh Salman radhiyallahu anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata
mereka: Berikanlah kepada kami wahai amir!

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi
radhiyallahu anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata
penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak
menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu anhu menolak, dan
berkata sambil menggelengkan kepala: Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke
rumahmu!

Suatu ketika Salman radhiyallahu anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda
tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: Karena manis waktu
memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!

Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu anhu,
didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana
pelayan? Ujarnya: Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus
melakukan dua pekerjaan sekaligus

Apa sebenarnya yang kita sebut rumah itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana
keadaan rumah itu yang sebenamya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang
berlebihan disebut sebagai rumah itu, Salman radhiyallahu anhu bertanya kepada
tukangnya: Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan? Kebetulan tukang
bangunan ini seorang arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu
anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: Jangan anda
khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu
panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda
akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan
terantuk pada dindingnya. Benar, ujar Salman radhiyallahu anhu, seperti itulah
seharusnya rumah yang akan anda bangun!

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau
diutamakan oleh Salman radhiyallahu anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang
memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada
isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

WAFATNYA SALMAN AL-FARISI

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya,
dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat
kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja
disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya
mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya,
lalu kata Salman radhiyallahu anhu kepada isterinya: Percikkanlah air ini ke
sekelilingku Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah) yang tiada dapat
makan, hanyalah gemar wangi-wangian Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya:
Tutupkanlah pintu dan turunlah! Perintah itu pun diturut oleh isterinya.

Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh
barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya Ia telah mencapai
alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk
bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan dengan
kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tolroh mulia lainnya dari
golongan syuhada dan orang-orang utama .

Salman radhiyallahu anhu . Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas,
hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya.
ABU UBAIDAH BIN JARRAH

Abu Ubaidah bin Jarrah lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy
terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah, adapun Abu
Ubaidah adalah nama laqab fiulukan) baginya. Abu Ubaidah berperawakan tinggi,
kurus, berjenggot tipis, berwajah ceria namun berwibawa, serta bersifat rendah hati,
zuhud, sangat pemalu, namun pemberani sehingga dia sangat disenangi kawan-
kawannya sekaligus disegani lawan-lawannya.

Abu Ubaidah termasuk orang yang pertama-tama masuk lslam. Keislamannya selang
sehari setelah Abu Bakar atau sehari sebelum Abdurrahman bin Auf memeluk lslam.
Abu Bakarlah yang membawanya menemui Rasulullah saw. untuk menyatakan
syahadat di hadapan beliau. Sejak menyatakan keislamannya, Abu Ubaidah menjadi
sahabat kesayangan dan kepercayaan Rasulullah saw. Bahkan dia termasuk satu dari
sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dalam sebuah hadis Nabi saw.

Sejak berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk membaktikan seluruh hidupnya di jalan
Allah, Abu Ubaidah tidak lagi memerhatikan dirinya dan masa depannya. Seluruh
hidupnya dia habiskan untuk mengemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya,
untuk mencapai rida-Nya. Amanat yang diembannya selalu dipenuhi dengan penuh
tanggung jawab. lnilah yang membuat Rasulullah kagum kepadanya, sehingga beliau
berkata, Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini
adalah Abu Ubaidah bin Jarrah. Sungguh predikat yang mengagumkan! Kehidupan
Abu Ubaidah tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sahabat lainnya, yakni diisi
dengan pengorbanan dan perjuangan menegakkan agama lslam. Saat kaum muslimin
mendapat tekanan, penindasan, ancaman, dan bahkan siksaan dari kaum kafir
Quraisy, Abu Ubaidah salah satu di antara mereka. Dia termasuk di antara kaum
muslimin yang berhijrah ke Habsyi pada gelombang kedua demi menyelamatkan
akidahnya.

Di Habsyi, Abu Ubaidah bersama para sahabat yang lain diterima dan dilayani
dengan baik oleh Raja Najasyi dan penduduk Habsyi. Namun demikian, penerimaan
serta pelayanan Raja Najasyi yang sangat baik dan menyenangkan itu tidak
membuatnya betah berlama-lama di sana. Nyatanya, tetap saja dia memutuskan
kembali ke Mekah untuk menyertai perjuangan Rasulullah saw. Baginya tidak
mungkin menikmati kehidupan yans enak dan menyenangkan sementara orang yang
paling dicintainya, Rasulullah saw., berada dalam penderitaan yang tak terperi.

Abu Ubaidah tetap teguh keimanannya meskipun tekanan demi tekanan dia terima
dari kaum kafir Quraisy, termasuk permusuhan yang amat nyata dari sang ayah yang
masih musyrik. Keteguhan iman itu dibawanya sampai tiba saat hijrah ke Madinah
bersama sahabat-sahabat yang lain. Bahkan mempertahankan iman itulah yang
menjadi motivasi utamanya dalam berhijrah. Sejak menginjakkan kakinya di
Madinah, Abu Ubaidah menganggap bumi Yatsrib sebagai tanah air bagi agama dan
dirinya, yang harus dipertahankan mati-matian. Dia melakukan tugas dan
kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, sebagaimana terlihat
dari kehadirannya di semua peperangan bersama Rasulullah saw. Perang pertama
antara kaum muslimin dan kaum kafir, perang Badar, menjadi ujian pertama bagi
kualitas keimanannya. Selaku tentara, tentu saja dia harus senantiasa patuh kepada
perintah panglimanya, yaitu Rasulullah saw. Sementara sebagai seorang mukmin, dia
berkeyakinan bahwa semua yang berperang di bawah panji Rasulullah adalah saudara
dan keluarganya, meskipun mereka berbeda asal-usul dan warna kulitnya.

Cerita Abu Ubaidah Sebaliknya, semua yang berperang di bawah bendera Quraisy
atau sekutu mereka adalah musuhnya, meskipun mereka adalah keluarga terdekatnya.
Maka ketika dilihatnya sang ayah yang kafir berada dalam barisan tentara Quraisy,
jiwanya bergejolak. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat ayahnya memerangi
dan membunuhi saudara-saudaranya seiman. Pergolakan batin antara dirinya
sebagaiseoranganakdan dirinya sebagaiseorang mukmin memaksanya untuk
memutuskan sikap. Maka majulah ia menghampiri ayahnya, dan menghadapinya
sebagai seorang musuh yang patut diperangi. Dengan keyakinannya, dia mengambil
sikap sebagai seorang mukmin sejati yang memandang tali persaudaraan dan
kekerabatan dari sudut pandang yang benar.

Wahai ayah, seru Abu Ubaidah begitu kudanya mendekati kuda


ayahnya.Bertobatlah. Sadarilah bahwa jalan yang engkau tempuh itu adalah jalan
yang sesat. lkutlah bersamaku, dan jadilah keluargaku dalam iman. Anak kurang
ajar! Bukan untuk ini kau kubesarkan. Sungguh, jika aku tahu akan begini jadinya,
sudah sejak dulu kau kubunuh. Dasar anak durhaka! Teriak ayahnya sambil terus
menghantamkan pedangnya.
Kalau ayah tidak mau menuruti nasihatku, maka maafkan saya jika terpaksa
melawan ayah. Kata Abu Ubaidah masih dengan nada yang lembut. Apa?! Kamu
menantangku? Dasar anak tak tahu diuntung! Ayo maju, biar sekalian kupenggal
kepalamu seperti teman-temanmu!

Maka Abu Ubaidah pun menerjang bagai banteng terluka. Dihantamkannya pedang di
tangannya tanpa ragu-ragu. Ayah dan anak itu bertempur layaknya dua orang musuh
yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Keduanya saling memukul,
menangkis, dan kadang menusukkan pedang masing-masing. Pelan tapi pasti, Abu
Ubaidah dapat mendesak ayahnya. Akhirnya, setelah pertempuran itu berlangsung
beberapa saat, Abu Ubaidah berhasil merobohkan ayahnya. Maafkan saya, ayah.
Kata Abu Ubaidah Iirih sambil menatap tubuh ayahnya yang terkapar bersimbah
darah. Sedih, pasti. Sebab, bagaimanapun juga laki-laki yang baru saja
dirobohkannya itu ayahnya, orang yang pernah mengasuh dan membesarkannya.
Tetapi apa mau dikata, peperangan ini adalah Perang akidah, dan ayahnya berada di
pihak musuh yang memerangi saudara-saudaranya seiman. Tindakan Abu ubaidah
yang luar biasa itu mengundang turunnya wahyu dari langit, sebagaimana tersurat di
dalam Al-Quran:
Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Altah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya
atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan
Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang
datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan
mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan
Allah. lngatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung. (Q.S. al-
Mujadilah [58]: 22)

cerita Abu Ubaidah Pada peperangan berikutnya, perang Uhud, Abu Ubaidah
semakin menunjukkan kualitas imannya. Dialah orang yang merelakan tubuhnya
dijadikan sebagai perisai untuk melindungi Nabi saw. dari senjata musuh. Ketika
pasukan muslimin kocar-kacir dan banyak yang lari meninggalkan pertempuran, Abu
Ubaidah justru berlari menghampiri Nabi saw. karena melihat beliau dalam bahaya.
Abu Ubaidah tidak memedulikan keselamatan dirinya, dan sama sekali tidak
menunjukkan rasa takut sedikit pun terhadap banyaknya lawan dan rintangan, Nabi
saw. sendiri memang dalam bahaya. Bahkan beliau terluka parah. Di pipinya
terhunjam dua rantai besi penutup kepala beliau yang melesak terhantam senjata
lawan. Melihat itu, Abu Ubaidah segera berusaha untuk mencabut rantai tersebut dari
pipi Nabi saw. dengan menggunakan giginya. Digigitnya rantai itu sampai akhirnya
terlepas dari pipi Nabi saw. Namun, bersamaan dengan itu, satu gigi seri Abu
Ubaidah ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak jera. Diulanginya sekali lagi
untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap di pipi Rasulullah hingga
terlepas. Kali ini pun satu gigi serinya harus lepas, sehingga dua gigi seri Abu
Ubaidah ompong karenanya. Tindakannya itu membuat Rasulullah sangat terharu dan
merasa bangga kepadanya.

Sejak itu, Abu Ubaidah kerap mendapat kepercayaan Rasulullah memimpin pasukan
mulimin di beberapa peperangan. Pernah suatu ketika, Nabi saw. menugasi Abu
Ubaidah memimpin 4O tentara muslim memerangi kaum kafir di Zil Qassah yang
jaraknya 1 kilometer dari Madinah. Misi berakhir dengan kemenangan di pihak
pasukan muslimin. Juga sewaktu dia memimpin pasukan yang terdiri atas orang-
orang Muhajirin pertama, termasuk di dalamnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab,
Suna membantu Amr bin Ash pada perang Zatus Salasil.