Você está na página 1de 25

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERCULOSIS PARU

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Pengertian
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian lainnya, termasuk
meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne & Smalzher, 2001, hal 584).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycrobacterium tuberculosi yang menyerang paru-paru dan hampir seluruh
organ tubuh lainya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran pernafasan dan
saluran pencernaan (GI) dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling banyak
melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi bakteri tersebut
(Sylvia A.price).
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansoer,
1999, hal 472).
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobakterim
tuberculosis, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah, orang ke
orang, dan mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus (Elizabeth, 2000, hal. 414).

2. Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycrobacterium tuberculosis. Basil ini tidak
berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan sinar
ultraviolet. Ada dua macam mikrobakteria tuberculosis yaitu tipe human dan tipe
bovin. Tipe bovin berada dalam susu sapi yang menderita mastitis tuberkulosis
usus. Tipe human bisa berada di bercak ludah (droplet) dan di udara yang berasal
dari penderita TBC, dan orang yang berasal dari penderita TBC, dan orang yang
terkena rentan terinfeksi bila menghirupnya. (Wim de Jong)

1
Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) disebabkan oleh kuman TBC
(Mycobacterium tuberculosis) yang sebagian kuman TBC menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lain. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut
pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap
dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama
beberapa tahun.

3. Patofisiologi
Individu yang menghirup basil tuberculosis dan menjadi terinfeksi. Bakteri
dipindahkan melalui jalan napas ke alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan
memulai untuk memperbanyak diri. Basil juga dipindahkan melalui system limfe
dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri) dan area
paru-paru lainnya. System imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi
inflamasi. Fagosit menelan banyak bakteri: limfosit spesifik tuberculosis melisis
(menghancurkan) basil dan jaringan normal.
Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli,
enyebabkan bronkopneomoni. Infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu
setelah pemajanan. Masa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang
merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi
oleh makrofag yang membentuk dinding protektif.
Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa
fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan menjadi nekrotik, membentuk massa
seperti keju, massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar kolagenosa.
Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif (Suzanne &
Smeltzer, 2001, hal.2428)

2
Pathway

4. Manifestasi Klinis
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien ditemikan Tb paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Gejala tambahan yang sering dijumpai (Asril Bahar.
2001):
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang
dapat mencapai 40-41C. Serangan demam pertama dapat sembuh

3
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya
sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari demam influenza ini.
2. Batuk/Batuk Darah
Terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang
produk-produk radang keluar. Keterlibatan bronkus pada tiap penyakit
tidaklah sama, maka mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit
berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan peradangan bermula. Keadaan yang adalah berupa batuk
darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada
ulkus dinding bronkus.
3. Sesak Napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
4. Nyeri Dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan
kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
5. Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise
sering ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), badan makin
kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan keringat
pada malam hari tanpa aktivitas. Gejala malaise ini makin lama makin
berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
1. Demam 40-41C, serta ada batuk/batuk darah
2. sesak napas dan nyeri dada
3. Malaise, keringat malam
4. Suara khas pada perkusi dada, bunyi dada

4
5. Peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit
6. pada anak
Berkurangnya BB 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas
atau gagal tumbuh.
Demam tanpa sebab jelas, terutama jika berlanjut sampai 2
minggu
Batuk kronik 3minggu, dengan atau tanpa wheeze
Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa
Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul hari
setelah penyuntikan) harus dievaluasi dengan system scoring TB
anak.
Anak dengan TB jumlah skor 6 ( skor minimal 13 )
Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk kerumah sakit
untuk evaluasi lebih lanjut. (Arif, Nur dan Kusuma)

5. Komplikasi
Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes RI, 2005) :
1. Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkiektasis ( pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)

5
6. Penatalaksanaan
Obat anti tuberkulosis (OAT)
OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat
bakterisid dengan atau tanpa obat obat ketiga. Tujuan pemberian OAT, antara
lain:
Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin
melalui kegiatan bakterisid.
Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan
kegiatan strelisasi.
Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya
tahan imunologis.
Maka pengobatan tuberkulosis dilakukan melalui 2 fase:
Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan
populasi kuman yang membelah denga cepat.
Fase lanjutan, melalui kegiatan strelisasi kuman pada pengobatan jangka
pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konversional.
OAT yang biasa digunakan antara lain isoniazid (INH), rifampisin (R),
pirazinamid (Z),

Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS)


Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk suatau
strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk
mendeteksi dan menyembuhkan pasien tuberkulosis. Strategi ini terdiri dari 5
komponen, yaitu:
Dukungan politik para pimpinan wilayah disetiap jenjang sehingga program ini
menjadi salah satu prioritas dan pendanaanpun akan tersedia.
Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa tuberkulosis melalui
pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara pasif.

6
Pengawas minum obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercayai baik oleh
pasien maupun petugas kesehatan yang ikut mengawasi pasien minum seluruh
obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien betul minum obatnya dan
diharakan sembuh pada akhir masa pengobatan.
Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari sistem
surveilans penyakit ini sehingga pemamtauan pasien dapat berjalan.
Paduan obat anti tuberkulosis jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan
jangka waktu yang tepat, sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.
Termasuk terjaminnya kelangsungan persediaan paduan obat ini (Mansyor, 1999,
hal 474).

7. Pemerikasaan Diagnostik
- kultur sputum : Positif untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif
penyakit
- ziehl-neelsen ( pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan
darah): positif untuk basil asam-cepat
- tes kulit ( PPD, minatoux , potongan vollmer): reaksi positif ( area indurasi
10mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradermal
antigen) menunjukan infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi tidak
secara berarti menunjunkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien
yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau
infeksi disebabkan oleh mikrobakterium yang berbeda.
- LISA/Western blot: dapat menyatakan adanya HIV
- foto torak: Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas,
simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effuse cairan. perubahan
menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga , area fibrosa
- histology atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster, urine dan
cairan serebrospinal,biopsi kulit): positif untuk Mycobacterium tuberculosis.

7
- Biopsi jarum pada jaringan paru: positif untuk granuloma paruTB , adanya
sel raksasa menunjukan nekrosis
- Elektrosit : dapat tidak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi;
contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat
ditemukan pada TB paru kronis luas
- GDA : dapat normal tergantung lokasi , berat , dan kerusakan sisa pada paru
- Pemeriksaan fungsi paru : penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang
mati , peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total , dan
penurunan saturasi oksigen skunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis ,
kehilangan jaringan paru , dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TUBERKULOSIS PARU


1. Dasar data pengkajian pasien
Data tergantung pada tahap penyakit dan derajat yang terkena
a) Aktivitas/istirahat
Gejala :
- Kelelahan umum dan kelemahan.
- Nafas pendek karena kerja
- Kesulitan tidur pada malam hari , menggigil dan/atau berkeringat
- Mimpi buruk
Tanda :
- Takikardia , tarkipenea/dispnea pada kerja
- kelelahan otot , nyeri, dan sesak (tahap lanjut).

b) Integritas ego
Gejala :
- Adanya/ faktor strees lama
- Masalah keuangan,rumah

8
- Perasaan tak berdaya/tak ada harapan
- Populasi budaya/etnik:amerika asli atau imigran dari amerika
tengah, asia tenggara , Indian anak benua.
Tanda:
- Menyangkal ( khususnya selama tahap dini )
- Ansietas , ketakutan , mudah terangsang

c) Makanan atau cairan


Gejala:
- Kehilangan nafsu makan
- Tak dapat mencerna
- Penurunan berat badan

Tanda :
- Turgor kulit buruk,kering/kulit bersisik
- Kehilangan otot/hilang lemak subkutan

d) Nyeri/kenyamanan
Gejala :
- Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Tanda :
- Berhati-hati pada area yang sakit
- Prilaku distraksi, gelisah.

e) Pernafasan
Gejala:
- Batuk produktif atau tidak produktif
- Napas pendek

9
- Riwayat tuberculosis/terpajan pada individu terinfeksi
Tanda:
- Peningkatan frekuensi pernafasan (penyakit luas atau fibrosis
parenkim paru dan pleura)
- Pengembangan pernafasan tak simetri (effusi pleural)
- Perkusi pekak dan penurunan fremitus ( cairan pleural atau
penebalan pleural) bunyi nafas
- Menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral (effusi
pleural/penumotorak) bunyi nafas
- Tubuler dan/atau bisikan pectoral di atas lesi luas. krekles tercatat
diatas apek paru selama inspirasi cepat setelah batuk batuk pendek
(krekles posttussic)
- Karakteristik sputum:hijau/purulen , mukoid kuning , atau bercak
darah
- Deviasi trekeal ( penyebaran bronkogenik )
- Tak perhatian , mudah terangsang yang nyata , perubahan mental (
tahap lanjut )

f) Keamanan
Gejala:
- Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker
- Tes HIV positif
Tanda:
- Demam rendah atau sakit panas akut

g) Interaksi sosial
Gejala:
- Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular

10
- Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas
fisik untuk melaksanakan peran

h) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:
- Riwayat keluarga TB
- Ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk
- Gagal untuk membaik/kambuhnya TB
- Tidak berpartisipasi dalam terapi

Pertimbangan Rencana Pemulangan :DRG menunjukan rerata lama


dirawat : 6,6 Hari Memerlukan bantuan dengan/gangguan dalam terapi
obat dan bantuan perawatan diri dan pemeliharaan/perawatan rumah.

2. Tujuan Pemulangan
a. Fungsi pernafasan adekuat untuk memenuhi kebutuhan individu
b. komplikasi dicegah
c. pola hidup/prilaku berubah diadopsi untuk mencegah penyebaran infeksi
d. proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dipahami

3. Diagnosa Keperawatan
a) Diagnosa 1: Infeksi,resiko tinggi ( Penyebaran/aktivitas ulang )
Faktor resiko meliputi :
- Pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia/stasis secret
- Kerusakan jaringan/tambahan infeksi
- Penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi
- Malnutrisi
- Terpajan lingkungan

11
- Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pathogen
Kemungkinan dibuktikan oleh: [ tidak dapat diterapkan; adanya tanda-tanda
dan gejala-gejala membuat diagnose actual]
Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi-pasien akan :
- Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah /menurunkan resiko penyebaran
infeksi
- Menunjukan teknik /melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan
lingkungan yang aman
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji patologi penyakit ( aktif /fase tak Membantu pasien menyadari/menerima
aktif : diseminasi infeksi melalui bronkus perlunya mematuhi program pengobatan
untuk membatasi jaringan atau melalui untuk mencegah mengaktifkan
aliran darah/sistem limfatik) dan berulang/komplikasi. Pemahaman
potensial penyebaran infeksi melalui bagaimana penyakit disebarkan dan
droplet udara selama batuk, bersin, kesadaran kemungkinan transmisi
meludah, bicara, tertawa, menyanyi. membantu pasien/orang terdekat untuk
mengambil langkah untuk mencegah
penyebaran infeksi ke orang lain.
Identifikasi orang lain yang beresiko , orang-orang yang terpajan ini perlu program
contoh anggota rumah , sahabat terapi obat untuk mencegah penyebaran /
karib/teman terjadinya infeksi
anjurkan pasien untuk batuk/bersin dan prilaku yang diperlukan untuk mencegah
mengeluarkan pada tisu dan menghindari penyebarab infeksi
meludah. kaji pembuangan tisu sekali
pakai dan teknik mencuci tangan yang
tepat. dorong untuk mengulangi
demonstrasi

12
kaji tindakan control infeksi sementara, dapat membantu menurunkan rasa terisolasi
contoh masker atau isolasi pernafasan pasien dan membuang stigma sosial
sehubungan dengan penyakit menular
awasi suhu sesuai indikasi reaksi demam indicator adanya infeksi
lanjut
identifikasi faktor resiko individu pengetahuan tentang faktor ini membantu
terhadap pengaktifan berulang pasien untuk mengubah pola hidup dan
tubekulosis, contoh tahanan bawah ( menghindari/menurunkan inseiden
alkoholisme,malnutrisi/bedah hypass eksaserbasi.
intestinal);gunakan obat penekan
imun/kortikosteroid; adanya diabetes
mellitus , kanker , kalium.
tekankan pentingnya tidak menghentikan periode singkat berakhir 2-3hari setelah
terapi obat kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga
atau penyakit luas sedang , resiko
penyebaran infeksi dapat berlanjut samai 3
bulan
kaji pentingnya mengikuti dan kultur alat dalam pengawasan efek dan keefektifan
ulang secara periodic terhadap sputum obat dan respon pasien terhadap terapi
untuk lamanya terapi.
dorong memilih/mencerna makanan adanya anoreksia dan/atau malnutrisi
seimbang. berikan makan sering kecil sebelumnya merendahkan tahanan terhadap
pada jumlah makanan besar yang tepat. proses infeksi dan mengganggu
penyembuhan. makanan kecil dapat
meningkatkan pemasukan semua.
Kolaborasi
berikan agen antiinfeksi sesuai Lombinasi agen antiinfeksi digunakan,
tindakan,contoh : obat utama : contoh 2 obat primer dan obat sekunder.

13
isoniazid (INH ) etambutal INH biasanya obat pilihan untuk pasien
(Myambutol), rifampin infeksi dan pada risiko terjadi TB.
(RMP/rifadin) Kemoterapi INH dan refampin jangan
pernah (selama 9 bulan) dengan entambul
(selama 2 bulan pertama) pengobatan cukup
untuk TB paru. Etambul harus diberikan
bila system saraf pusat atau tak
terkomplikasi, penyakit diseminata terjadi
atau bila dicurigai resisten INH. Terapi luas
(sampai 24 bulan) diindikasikan untuk
kasus resktivasi, reaksi TB ekstrapulmonal,
atau adanya masalah medic lain, contoh
diabetes mellitus atau silikosis. Profilaksis
dengan INH selama 12 bulan harus
dipertimbangkan pada pasien dengan HIV
positif dengan PPD positif.
Pirazinada (PZA/Aldinamide); para- Ini obat sekunder dipelukan bila infeksi
amino salisik (PAS); sikloserin resistensi terhadap atau tidak toleran obat
(Seromycin); streptomisin (Strycin). primer.
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh Pasien yang mengalami 3 usapan negatif
hasil usap sputum. (memerlukan 3-5 bulan), perlu mentaati
program obat, dan asimtomatik akan
diklasifikasikan tak-menyebar
AST/ALT Efek merugikan terapi obat termasuk
hepatitis.
Laporkan ke departemen kesehatan lokal Membantu mengidentifikasi lembaga yang
dapat dihubungi untuk menurunkan
penyebaran infeksi

14
b) Diagnosa 2 : Bersihan Jalan Nafas, Takefektif
Dihubungkan dengan:
Sekret Kental, atau sekret darah
Kelemahan, Upaya Batuk Buruk.
Edema Trakea/Faringeal.
Kemungkinan Dibuktikan Oleh:
Frekuensi Pernapasan, Irama, Kedelaman Tak Normal.
Bunyi Napas Tak Normal (Ronki,Mengi), Stridor.
Dispenia
Hasil Yang Diharapkan /Kriteria Evaluasi Pasien Akan :
Mempertahankan Jalan Napas.
Mengeluarkan Sekret Tanpa Bantuan.
Menunjukan Perilaku Untuk Memperbaiki/Mempertahankan Bersihan
Jalan Napas
Berpartisispasi Dalam Program Pengobatan, Dalam Tingkat
Kemampuan/Situasi
Mengidentifikasi Potensial Komplikasi Dan Melakukan Tindakan Cepat.

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Penurunan Bunyi Napas Dapat Menunjukan
Kaji Fungsi Pernapasan, Contoh Bunyi Eteletasis, Ronki, Mengi, Meneunjukan
Napas ,Kecepatan , Irama Dan Akumulasi Sekret/Ketidakmampuan Untuk
Kedalaman Dan Penggunaan Otot Membesihkan Jalan Napas Yang
aksesori Menimbulkan Penggunaan Otot Aksesori
Pernapasan Dan Peningkatan Kerja
Pernapasan.
Catat Kemampuan Untuk Menegluarkan Pengeluaran Sulit Bila Sekret Sangat Tebal
Mukosa/Batuk Efektif ; Catat (Mis,Efek Infeksi Dan/Atau Tidak Adekuat

15
Karakter,Jumlah Sputum, Adanya Hidrasi). Sputum Berdarah Kental Cerah
Hemoptisis. Diakibatkan Oleh Kerusakan (Kavitasi)Paru
Atau Luka Bronchial Dan Dapat
Memerlukan Evaluasi/Intervensi Lanjut.
Berikan Pasien Posisisi Semi Atau Posisi Membantu Memaksimalkan Ekspansi
Fowler Tinggi, Bantu Pasien Untuk Paru Dan Menurunkan Upaya Pernapasan.
Batuk Untuk Latihan Napas Dalam Ventilasi Maksimal Membuka Area
Atelektasisi Dan Meningkatkan Gerakan
Sekret Kedalam Jalan Napas Besar Untuk
Dikeluarkan.
Bersihkan Sekret Dari Mulut Dan Mencegah Obsruksi/Aspirasi.Penghisapan
Trakea; Penghisapan Sesuai Keperluan Dapat Diperluksn Bisls Pasien Tak Mampu
Mengeluarkan Sekret
Pertahankan masukan cairan sedikitnya Pemasukan tinggi cairan membantu untuk
2500 ml/hari kecuali kontraindikasi mengencerkan sekret, membutnya mudah
dikeluarkan.
Kolaborasi Mencegah Pengeringan Membrane Mukosa;
Lembabkan Udara/Oksisgen Inpirasi Membantu Pengenceran Sekret
Beri Obat-Obatan Sesuai Indikasi :
Agen Mukolitik, Contoh Agen Mukolitik Menurunkan
Asetisisten (Micomyst) Kekentalan Dan Perlengketan Sekret
Paru Untuk Memudahkan
Pembersihan
Bronkodiator, Contoh Okstrifilin Bronkodilator Meningkatakan
(Choledyl); Toefilin (Theo-Dur) Ukuran Lumen Percabangan
Trakeobrobnkial, Sehingga
Menurunkan Tahanan Terhadap
Aliran Udara

16
Kostikosteroid (Predninson) Berguna Pada Adanya Keterlibatan
Luas Dengan Hipoksemia Dan Biala
Respons Inflamasi Mengancam
Hidup.
Bersiap Untuk/Membantu Intubasi Diperlukan Pada Kasus
Intubasi Darurat Jarang Bronkogenik Tb Dengan
Edema Laring Atau Perdarahan Paru
Akut.

c) Diagnosa 3: Pertukaran Gas, Kerukasan ,Risiko Tinggi Terhadap


Faktor Risiko Meliputi :
Penurunan Pemukaan Efektif Paru-Paru, Etelektasis
Kerusakan Membrane Alveolar-Kapiler
Sekret Kental, Tebal.
Edema Bronkial
Kemungkinan Dibuktikan Oleh : [Dapat Diterapkan: Adanya Tanda-Tanda
Dan Gejala Membuat Diagnose Aktual]
Hasil Yang Diharapkan/ Kriteria Evaluasi Pasien Akan :
Melaporkan Adanya /Peneurunan Dispnea
Menunjukan Perbaikan Ventilasi Dan Oksigenasi Jaringan Adekuat
Dengan Gda Dalam Rentang Normal
Bebas dari gejala distress pernafasan

INTERVENSI RASIONAL

17
Mandiri Tb Paru Menyebabkan Efek Luas Pada Paru
Kaji Dipnea, Tak Ipnea, Tak Dari Bagian Kecil Bronkopneumonia
Normal/Menurunnya Bunyi Apas, Samapi Inflamsi Difus Luas, Nekrosis,
Penigkatan Upaya Pernafasan, Effuse Pleural, Dan Fibrosis Luas. Efek
Terbatasnya Ekspansi Dinding Dada Dan Pernafasan Dapat Dari Ringan Sampai
Kelemahan Dispnea Berat Sampai Dispnea Berat
Dampai Distress Pernafasan
Perubhan Pada Tingkat Kesadaran. Catat Akumulaai Secret/Pengaruh Jalan Nafas
Sianosis Atau Perubah Pada Waktu Dapat Mengganggu Oksigenasi Organ Vital
Kulit, Termasuk Membrane Mukosa Dan Dan Jaringan ( Rujuk Ke Dk : Bersihan
Kuku Bibir Jalan Napas. Takefektif, hal. 244)
Tunjukan/Dorog Bernapas Selama Membuat Tahanan Melawan Udara Luar,
Ekhalasi. Khususnya Untuk Pasien Untuk Mencegah Kolaps/Penyempitan Jalan
Dengan Fibrosis Atau Kerusakan Nafas, Sehingga Membantu Menyebarkan
Parenkim Uadra Melalu Paru Dan
Menghilangkan/Menurunkan Nafas Pendek
Tingkatan Tirah Baring/Batasi Aktivitas Menurunkan Konsumsi Oksigen/Kebutuhan
Dan Bantu Aktivitas Perawatan Diri Selama Periode Penurunan Pernafasan
Sesuai Keperluan Dapat Menurunkan Beratnya Gejala
Kolaborasi Penurunan Kandungan Oksigen (Pao2)
Awasi Seri Gda/Nadi Oksimetri Dan/Atau Saturasi Atau Peningkatan Paco2
Menunjukkan Kebutahan Untuk
Intervensi/Perubahan Program Terapi
Berikan Oksigen Tambahan Yang Sesuai Alat Dalam Memperbaiki Hipoksemia
Memperbai Hipoksemia Yang Dapat
Terjadi Sekunder Terhadap Penurunan
Ventilasi/Menurunnya Permukaan Alveolar
Paru

18
d) Diagnosa 4: Nutrisi, Perubahan, Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Dapat Dihubungkan Dengan:
- Kelemahan
- Sering Batuk/Produksi Sputum; Dispnea
- Anoreksia
- Ketidakcukupan Sumber Keuangan
Kemungkinan Dibuktikan Oleh:
- Berat Badan Dibawah 10%-20% Ideal Untuk Bentuk Tubuh Dan Berat
- Melaporkn Kuang Tertarik Pada Makanan, Gangguan Sensasi Pengecap
- Tonus Otot Buruk
Hasil Yang Diharapkan/Kriteria Evaluasi Pasien Akan :
- Meunjukkan Berat Badabn Meningkat Mencapai Tujuan Dengan Nilai
Laboratorium Normal Dan Bebas Tanda Malnutrusi
- Melakukan Perilaku/Perubahan Pola Hidup Untuk Meningkatkan Danatau
Mempertahankan Berat Yang Tepat

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Berguan Dalam Mendefinisikan
Catat Status Nutrisi Pasien Pada Derajat/Luasnya Masalah Dan Pilihan
Penerimaan, Catat Turgor Kulit, Berat Intervensi Yang Tepat
Badan Dan Derajat Kekurangan Bert
Badan , Integritas Mukosa Oral.
Kemampuan/Ketidakmampuan
Menelan, Adanya Tonus Usus,
Riwayat Mual/Muntah Atau Diare
Pastikan Pola Diet Biasanya Pasien, Membantu Dalam Mengidentifikasikan
Yang Disukai/Tak Disukai Kebutuhan/Kekuatan Khusus.

19
Pertimbangan Keinginan Individu Dapat
Memperbaiki Masukan Diet
Awasi Masukan/Pengeluaran Dan Beguna Dalam Mengukur Keefektifan
Berat Badan Secara Periodic Nutrisi Dan Dukungan Cairan
Selidiki Anoreksia, Mual, Dan Dapat Mempengaruhi Pilihan Diet Dan
Muntah, Dan Catat Kemungkinan Mengidentifikasi Area Pemecahan
Hubungan Dengan Obat. Awasi Maslah Untuk Meningkatkan
Frekuensi, Volume, Konsistensi Feses Pemasukkan/Penggunaan Nutrient
Dorong Dan Berikan Periode Istirahat Membantu Menghemat Energy
Sering Khususnya Bila Kebutuhan Metabolik
Meningkat Saat Demam
Berikan Perawatan Mulut Sebelum Menurunkan rasa takenak karena sisa
Dan Sesudah Tindakan Pernafasan sputum atau obat untuk pengobatan
respirasi yang merangsang pusat muntah
Dorong makan sedikit dan sering Memaksimalkan Masukan Nutrisi Tanpa
dengan makanan tinggi protein dan Kelamahan Yang Tak Perlu/Kebutuhan
karbohidrat Energy Dari Makan Makanan Banyak
Dan Menurunkan Iritasi Gaster
Dorong Orang Terdekat Untuk Membuat lingkungan social lebih normal
Membawa Makanan Dari Rumah Dan selama makan dan membantu memenuhi
Untk Membagi Dengan Pasien kebutuhan personal dan kultural.
Kecuali Kontraindikasi
Koaborasi Memberikan Bantuan Dalam
Rujuk Ke Ahli Diet Untuk Perencanaan Diet Dengan Nutrisi
Menentukan Komposisi Diet Adekuat Untuk Kebutuhan Metabolic
Dan Diet
Konsul Dengan Terapi Pernapasan Dapat Membantu Menurunkan Insiden
Untuk Jadwal Pengobatan 1-2 Jam Mula Dan Muntah Sehubungan Dengan

20
Sebelum/Setelah Makan Obat Atau Efek Pengobatan Pernapasan
Pada Perut Yang Penuh.
Awasi Pemeriksaan Laboratorium, Nilai Rendah Menunjukkan Malnutrisi
Contoh Bun, Protein Serum, Dan Dan Menunjukkan Kebutuhan
Albumin Intervensi/Perubahan Program Terapi.
Berikan Antipiretik Tepat Demam Meningkatkan Kebutuhan
Metabolic Dan Juga Konsumsi Kalori.

e) Diagnosa 5: Kurang Pengetahuan [Kebutuhan Belajar] Mengenai Kondisi,


Aturan Tindakan, Dan Pencegahan
Dapat Dihubungkan Dengan :
- Kurang Terpajan Pada/Salah Interprestasi Informasi
- Keterbatasan Kognitif
- Tak Akurat/Tak Lengkap Informasi Yang Ada
Kengkinan Dibuktikan Oleh :
- Permintaaninformasi
- Menunjukkan Kesalahan Konsep Tentang Status Kesehatan
- Kurang Atau Tak Akurat Mengikuti Instruksi/Perilaku
- Menunjukkan Atau Memperlihatkan Perasaan Terancam
Hasil Yang Diharapkan Kriteria Evaluasi Pasien Akan :
- Menyatakan Pemahaman Proses Penyakit/Prognosis Dan Kebutuhan
Pengobatan
- Melakukan Perilaku Perubahan Pola Hidup Untuk Memperbaiki
Kesehatan Umum Dan Menurunkan Pengaktifan Ulang Tb
- Mengidentifikasi Gejala Yang Memerlukan Evaluasi/Entervensi
- Menggabarkan Rencana Untuk Menerima Perawatan Kesehatan Adekuat

21
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Belajar Tergantung Pada Emosi Dan
Kaji Kemampuan Pasien Untuk Belajar, Kesiapan Fisik Dan Ditingkatkan Pada
Contoh Tingkat Takut,Masalah , Tahapan Individu
Kelemahan, Tingkat Partisipasi,
Lingkungan Terbaik Mana Pasien Dapat
Belajar, Seberapa Banyak Isi, Media
Terbaik,Siapa Yang Terlibat
Identifikasi Gejala Yang Harus Dapat Menunjukan Kemajuan Metabolic
Dilaporkan Ke Perawat Contoh Atau Mengaktifkan Ulang Penyakit Atau
Hemoptisis, Nyeri Dada, Demam, Obat Yang Memerlukan Evaluasi Lanjut.
Kesulitan Bernapas , Kehilangan
Pendengaran, Vertigo.

Menekankan Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Metabolic


Mempertahankan Protein Tinggi Dan Diet Membantu Meminimalkan Kelemahan Dan
Karbohidrat Dan Pemasukan Cairan Meningkatkan Penyembuhan.Cairan Dapat
Adekuat (Rujuk Ke DK: Nutrisi, Mengencerkan/Mengeluarkan Sekret.
Perubahan, Kurang Dari Kebutuhan
Tubuh Hal.246)
Berikan Instruksi Dan Informasi Tertulis Informasi Tertulis Menurunkan Hambatan
Khusus Pada Pasien Untuk Rujukan Pasien Untuk Mengingat Sejumlah Besar
Contoh Jadwal Obat Informasi . Pengulangan Menguatkan
Belajar
Jelaskan Dosis Obat , Frekuensi Meningkatakan Kerjasam A Dalama
Pemberian Kerja Yang Diharapkan , Dan Pengobatan Dan Mencegah Penghentian
Alas An Pengobatan Lama. Kaji Potensial Obat Sesuai Perbaiakan Kondisi Pasien.
Interaksi Dengan Obat /Subtansi

22
Kaji Potensial Efek Samping Pengobatan Mencegah/Menurunkan Ketidaknyamanan
(Contoh Mulut Kering, Konstipasi, Sehubungan Dengan Terapi Dan
Gangguan Penglihatan, Sakit Meningkatkan Kerjasama Dalam Program
Kepala,Hipertensi Ortostatik) Dan
Pemecahan Masalah
Tekankan Kebutuhan Untuk Tidak Minum Kombinasi INH Dan Alakohol Telah
Alcohol Sementara Minum INH Menunjukan Peningkatan Insiden Hepatitis
Rujuk Untuk Pemeriksaan Mata Setelah Efek Samping Utama Menurunkan
Memulai Dan Kemudian Tiap Bulsn Penglihatan : Tanda Awal Menurunnya
Bulan Selama Minum Etambutal Kemampian Untuk Melihat Warna Hijau

Dororng Pasien/Orang Terdekat Untuk Memberikan Kesempatan Untuk


Menyatakan /Masalah. Jawab Pertanyaan Memperbaiki Kesalahan
Secara Nyata. Catat Amannya Konsepsi/Peningkatan Ansietas.
Penggunaan Penyangkalan Ketidakadekuatan Keuangan/Penyangkalan
Lama Dapat Memepengaruhi Koping
Dengan /Menejemen Tugas Untuk
Meningkatkan /Mempetahankan Kesehatan
Evaluasi Kerja Pada Pengecoran Terpajan Pada Silicon Berlebihan
Logam/Tambang Gunung, Gemburan Meningkatkan Resiko Silikosis, Yang
Pasir. Dapat Secara Negative Mempengaruhi
Fungsi Pernapasan/Bronkitis
Dorong Untuk Tidak Merokok Meskipun Tidak Merokok Tidak
Meransang Tb, Tetapi Meningkatkan
Disfungsi Pernafasan/Bronchitis.
Kaji Bagaimana Tb Ditularkan (Mis, Pengetahuan Dapat Menurunkan Resiko
Khususnya Dengan Inhalasi Organism Penularan/Teraktivasi Ulang. Komplikasi
Udara Tetapi Dapat Juga Menyebar Sehubungan Dengan Reaktivasi Termasuk

23
Melalui Feses Atau Urine Bila Infeksi Kavitasi, Pembentukan Abses, Efisema
Ada System Ini ) Dan Bahaya Reaktivasi. Destruktif, Pneumotorak Spontan, Firosis
Interstisial Difus, Effuse Serosa, Empiema,
Bronkiektasis, Hemoptisis, Luka Gi,
Fistula Bronkopleural, Laryngitis
Tuberkilosis, Dan Penyebaran Miliari

24
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Nur dan Kusuma.2015. NANDA NIC-NOC Aplikasi Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis. Yogyakarta : Mediaction.
Doenges E. Marilynn, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C. 2014. Rencana
Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif ,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI Media Aescullapius.
Price, Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit ,
Edisi 6.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne. C dan Bare, Brenda. G. 2001. Buku ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth Volume 1. Jakarta: EGC

25