Você está na página 1de 12

1.

1 Anatomi Fisiologi

Menurut Tarwoto (2009) anatomi darah manusia adalah sebagai berikut :


1.1.1 Darah
Darah merupakan komponen esensial mahkluk hidup yang
beradadalam ruang vaskuler, karena peranannya sebagai media
komunikasi antar sel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar
karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan
karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru untuk dikeluarkan,
membawa zat nutrein dari saluran cerna ke jaringan kemudian
menghantarkan sisa metabolisme melalui organ sekresi seperti
ginjal, menghantarkan hormon dan materi-materi pembekuan darah.
1.1.2 Karakteristik darah
Karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, Volume
dan kompisisinya; Warna, darah arteri berwarna merah muda karena
banyak oksigenyang berkaitan dengan hemoglobin dalam sel darah
merah. Viskositas, viskositas darah 3/4 lebih tinggi dari pada
viskositas air yaitu sekitar 1.048 sampai 1.066. pH, pH darah bersifat
alkaline dengan pH 7.35 sampai dengan 7.45 (netral 7.00). Volume,
pada orang dewasa volume darah sekitar 70 sampai 75 ml/kgBB,
atau sekitar 4 sampai 5 liter darah. Komposisi, darah tersusun atas
dua komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.
1.1.3 Struktur sel darah

1
Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter
sekitar7.5 mikron, tebal bagian tepi dan bagian tengahnya 1 mikron
atau kurang. tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga
sangat mudah terjadi diffusi oksigen, karbondioksida dan sitoplasma,
tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel darah merah matang
mengandung 200-300 juta hemoglobin (terdiri hem merupakan
gabungan protoporfirin dengan besi dan globin adalah bagian dari
protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta) dan enzim-
enzim seperti G6PD (glucose 6 phosphate dehydogenase).
1.1.4 Haemoglobin
Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam
sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15,5g/dl dan
pada wanita 14,0g/dl (Susan M Hinchliff,1996). Rata-rata
konsentrasi hemoglobin pada sel darah merah 32g/dl.
1.1.5 Sel darah putih
Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 5000-
10000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu yang
bergranulosit dan yang agranulosit.
1.1.6 Trombosit
Trombosit merupakan sel tak berinti, berbentuk cakram dengan
diameter 2-5 um, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak
megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada keadaan
normal jumlah trombosit sekitar 150.000-300.000/mL darah dan
mempunyai masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kira-kira 8 hari.
Trombosit tersusun atas substansi fospolifid yang penting dalam
pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh darah serta
memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak. Trombosit
diproduksi di sumsum tulang kemudian sekitar 80% beredar
disirkulasi darah hanya 20% yang disimpan dalam limpa sebagai
cadangan.

1.2 Definisi
Demam dengue/ DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue
haemorrhagic fever/ DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

2
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopeniadan
diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai
oleh hemokonsentrasi (peningka tan hematokrit) atau penumpukan cairan di
rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah
demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok. (Sudoyo Aru,
dkk, 2009 dalam Nanda NIC NOC 2013).

Demam berdarah dengue merupakan salah penyakit menular yang di


sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti,
yang ditandai dengan demam mendadak selama 2-7 hari tanpa penyebab
yang jelas disertai dengan lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati disertai tanda
perdarahan di kulit berupa bintik merah, lebam (echymosis) atau ruam
(purpura). kadang-kadang disertai dengan mimisan, berak darah, muntah
darah, kesadaran menurun atau renjatan (syok) (Depkes RI, 2010).

Demam dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri
otot, sendi dan tulang. Penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam.
Demam berdarah dengue/dengue hemorraghagic fever (DHF) adalah
demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan.
Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan pasien
jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini
disebut dengue shock syndrome (DSS) (Mardiana, 2010).

Jadi DHF adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes Aegypti.

1.3 Etiologi
Penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue dari genus
Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan
nyamuk Aedes yang terinfeksi virus dengue. Virus Dengue penyebab
Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock
Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod virus Arbovirosis

3
yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan
mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu : DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4
(Depkes RI, 2010).

Di Indonesia pengamatan virus dengue yang di lakukan sejak tahun 1975 di


beberapa rumah sakit menunjukkan ke empat serotipe di temukan dan
bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang
dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik
yang berat (Depkes RI, 2012).

1.4 Patofisiologi
Secara umum, kelainan yang terjadi pada penyakit DBD akibat adanya
kebocoran plasma yang disebabkan oleh Virus dengue. Hal ini disebabkan
oleh Virus dengue yang dapat menyebabkan kerusakan pada kapiler
sehingga dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh
darah dan penurunan volume plasma. Akibatnya, plasma akan keluar ke
ekstravaskular (ruang interstisial dan rongga serosa). Sedangkan pada
intravaskular akan terjadi peningkatan konsentrasi plasma (hematrokrit/HT
meningkat, trombosit menurun, dan leukosit menurun. Selain itu, akibat
virus dengue menginfeksi endotel dan menyebabkan gangguan fungsi dari
endotel maka pembuluh darah tidak berfungsi dengan baik dan
mengakibatkan kebocoran darah. Apabila kebocoran ini terjadi pada
pembuluh darah kulit akan tampak bercak-cak kemerahan pada kulit yang
disebut petekiae. Sedangkan bila terjadi kebocoran pada saluran pencernaan
akan menyebabkan perdarahanyang terus menerus (Soedarmo, 2010).
Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target
yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon imun non-
spesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas
komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3a dan
C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas
kapiler celah endotel melebar lagi. Akibat kejadian ini maka terjadi
ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan
terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi,

4
Hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan
syok hipovolemik. Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada
terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya
merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD (Depkes RI,
2010).

1.5 Manifestasi Klinis


Menurut Sudjana (2010), gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3
fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.
1.5.1 Pada fase febris, biasanya demam mendadak tinggi terus menerus
berlangsung selama 2-7 hari (380C-400C), naik turun (demam
bifosik) dan tidak mempan obat antipirektik. Kadang-kadang suhu
tubuh sangat tinggi sampai 400 disertai muka kemerahan, eritema
kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada
beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan
konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah dapat terjadi kejang
demam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam
berdarah dengue. Pada saat fase tersebut sebagai awal kejadian syok,
biasanya pada hari ke 3, 4, 5 adalah fase kritis yang harus dicermati
pada hari ke 6 dapat terjadi syok kemungkinan dapat terjadi
perdarahan dan kadar trombosit sangat rendah (<20.000/ul). Pada
fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti ptekie,
perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan
pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.
1.5.2 Fase kritis, Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala
kliniks menghilang setelah demam turun sertai keluarnya keringat,
perubahan pada denyut nadi dan tekanan darah, akan teraba dingin di
sertai dengan kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan gejala
gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan plasma yang
dapat bersifat ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan
umum pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun antara 3-7
terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit teraba dingin dan lembab

5
terutama pada ujung jari kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien
menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai tidak teraba dan
ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan
permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang
biasanya berlangsung selama 2448 jam. Kebocoran plasma sering
didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung
trombosit dibawah 100.000/mm3 (trombositopeni). Pada saat akan
terjadi syok pasien mengeluh nyeri perut.
1.5.3 Fase pemulihan,bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian
cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48-
72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan
pulih kembali, hemodinamik stabil dan dieresis membaik.

1.6 Pemeriksaan Diagnostik


Untuk menegakkan diagnosa DHF, perlu dilakukan berbagai pemeriksaan
Lab, antara lain pemeriksaan darah dan urine serta pemeriksaan serologi.
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai:
1.6.1 Ig G dengue positif
1.6.2 Trombositopenia
1.6.3 Hemoglobin meningkat > 20%
1.6.4 Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat)
1.6.5 Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia. (Mansjoer, A. 2000)

1.7 Penatalaksanaan Medis


1.7.1 DHF Tanpa Renjatan
1.7.1.1 Beri banyak minum (1 1/2 2 liter)
1.7.1.2 Obat anti piretik, untuk menurunkan panas dapat juga
dilakukan kompres
1.7.1.3 Jika kejang maka dapat diberi luminal (antionvulsan) untuk
anak < 1 tahun dosis 50 mg IM dan untuk anak > 1 tahun 75
mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi, beri lagi luminal
dengan dosis 3mg/Kg BB (anak < 1 tahun)
1.7.1.4 Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat.
1.7.2 DHF dengan Renjatan
1.7.2.1 Pasang infus RL

6
1.7.2.2 Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plama
expander
1.7.2.3 Transfusi jika Hb dan Ht turun

1.8 Pengkajian Keperawatan


Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk
memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai
dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien.
1.8.1 Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, pendidikan, pekeraan,
status perkawinan, agama, suku atau bangsa, tanggal masuk RS,
diagnose medis, No. RM.
1.8.2 Keadaan Umum
1.8.2.1 Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan,
tingkat kesadaran kualitatif atau GCS dan respon verbal
klien.
1.8.2.2 Tanda-tanda Vital
1.8.2.3 Riwayat penyakit sekarang
Perjalanan penyakit klien, dari pertama kali keluhan yang
dirasakan saat di rumah, usaha untuk mengurangi keluhan
(diobati dengan apa, dibawa kelahan atau pelayanan
kesehatan lain), sampai dibawa kerumah sakit dan menjalani
perawatan di ruangan.
1.8.2.4 Riwayat penyakit sebelumnya
Ditanyakan apakah sebelumnya klien pernah menderita
penyakit paru yang dapat menjadi predisposisi GERD.
1.8.2.5 Riwayat Penyakit keluarga
Berisi tentang riwayat kesehatan keluarga, anggota keluarga
yang pernah atau sedang mengalami sakit seperti yang
dialami klien saat ini, anggota keluarga yang mengalami
penyakitnya berhubungan dengan sakit yang diderita klien,
atau anggota keluarga yang menderita penyakit menular atau
penyakit keturunan
1.8.2.6 Pemeriksaan fisik
1.8.2.7 Pemeriksaan terdiri dari :
a. Keadaan umum
b. Kulit
c. Kepala dan leher

7
d. Penglihatan dan mata
e. Penciuman dan hidung
f. Pendengaran dan telinga
g. Mulut dan gigi
h. Dada
- Jantung
- Paru
i. Abdomen
- Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi
- Auskultasi
j. Genetalia dan reproduksi
k. Ekstermitas atas dan bawah

1.9 Diagnosa Keperawatan


1.9.1 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
1.9.2 Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan mekanisme
patologis (proses penyakit).
1.9.3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual
dan nafsu makan yang menurun
1.9.4 Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan
dan obat-obatan pasien selama sakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.

1.10 Intervensi Keperawatan


1.10.1 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan temperats suhu
dalam batas normal.
- Klien tidak menunjukan kenaikan suhu tubuh
- Suhu tubuh dalam batas normal (36-37)
Rencana tindakan :
- Kaji saat timbulnya demam
Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien
- Observasi TTV
Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien
- Tingkatkan intake cairan
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan
- Catat asupan dan keluaran
Rasional : Untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan tubuh

8
- Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai dengan
program dokter
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan
suhu tinggi.
1.10.2 Gangguan Rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses patologis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri
berkurang/hilang
- Rasa nyaman pasien terpenuhi
- Nyeri berkurang/hilang
Rencana tindakan :
- Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien dengan skala nyeri (0-10).
Tetapkan tipe nyeri yang dialami pasien, respon pasien terhadap
nyeri
Rasional : Untuk mengetahui berat nyeri pasien
- Kaji faktor-faktor yang memengaruhi reaksi pasien terhadap
nyeri
Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka
perawat dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan masalah
klien
- Berikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien
dari nyeri
Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat sedikit
melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami
- Berikan obat anlgetik (kolaborasi dengan dokter)
Rasional : Obat analgetik menekan/mengurangi nyeri
1.10.3 Intake nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual, muntah, anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi kebutuhan nutrisi pasien
terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan
porsi yang dibutuhkan
Rencana tindakan :
- Kaji keluhan mual dan muntah yang dialami oleh pasien
Rasional: Untuk menetapkan cara mengatasinya
- Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional: Untuk menghindari mual muntah
- Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur dan
dihidangkan saat masih hangat

9
Rasional: Membantu mengurangi kelelahan pasien dan
meningkatkan asupan makanan
1.10.4 Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan
dan obat-obatan pasien selama sakit berhubungan dengan kurangnya
informasi.
Tujuan : Pengetahuan Pasien/ keluarga meningkat, setelah dilakukan
tindakan keperawatan
- Pengetahuan pasien/ keluarga tentang proses penyakit, diat,
perawatan dan obat-obatan bagi penderita DHF meningkat dan
pasien / keluarga mampu menceritakan kembali.
Rencana tindakan:
- Kaji tingkat pengetahuan pasien / keluarga tentang penyakit
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/ keluarga,
perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi/ pengetahuan
tentang penyakit yang diketahui pasien serta kebenaran informasi
yang telah didapatkan sebelumnya.
- Kaji latar belakang pendidikan pasien / keluarga
Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai
dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat
dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai.
- Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-
obatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah
dimengerti (dipahami).
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan
tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
- Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya
bagi pasien.
Rasional : Dengan mengetahui semua prosedur / tindakan yang
akan dialami, pasien akan lebih kooperatif dan mengurangi
kecemasan.

10
11
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, Available from :


http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/57015/Chapter
%20II.pdf?sequence=4 (diakses tanggal 8 Juni 2017).

Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV. Jakarta : EGC.

Nurarif, A.H & Kusuma, H. (2013). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1. Jogjakarta:
MediAction.

Tarwoto, dkk ( 2009 ). Anatomi Dan Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Jakarta : Trans Info Media.

12