Você está na página 1de 10

1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
2. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian manusia
2.2. Pengertian nilai
2.3. macam-macam nilai
2.4. hubungan manusia dengan nilai
2.5. pentingnya nilai dalam kehidupan bermasyarakat
2.6. pengertian moral
2.7. macam-macam moral
2.8. Hubungan manusia nilai dan moral
2.9. Faktor yang mempengaruhi nilai dan moral
3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Manusia dapat dikatakan sebagai makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk
natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakekat hakekat
yang mulia. Manusia adalah makhluk Moral. Nilai yang terdiri dari ikatan yang
ada antara manusia dari setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu
motif yang lebih tinggi daripada motif manfaat yang timbul. Ikatan ini mungkin
dapat disebut dengan ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa
sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan
mereka demi ikatan ini. Makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi
uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yang
bersifat istimewa dan mulia. Memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yang
independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai adil dalam
menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberikan
suatu keterlibatan dan tanggung jawab yang tidak akan punya arti kalau tidak
dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.
. 1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan manusia?
2. Apa yang dimaksud dengan nilai?
3. Seberapa penting nilai dalam kehidupan bermasyarakat?
4. Bagaimana hubungan manusia, nilai dan moral?
5. faktor apa yang mempengaruhi nilai dan moral?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan maksud manusia
2. Menjelaskan maksud nilai
3. menjelaskan maksud moral
4. Menjelaskan hubungan manusia, nilai dan moral
5. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi nilai dan moral

2. BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Manusia
Secara harfiah manusia berasal dari kata manu (Sansekerta), mens (Latin),
yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu
menguasai makhluk lain). Sedangkan menurut istilah manusia dapat diartikan
sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah
kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dengan
lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism).
Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara
ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik
lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial),
maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu
dan kehilangan energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut agar
perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul
anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk
membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat
hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber
dari lingkungan.
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Pada masa bayi sepenuhnya manusia tergantung kepada
individu lain. Ia belajar berjalan,belajar makan,belajar berpakaian,belajar
membaca,belajar membuat sesuatu dan sebagainya,memerlukan bantuan orang
lain yang lebih dewasa.
Malinowski(1949), salah satu tokoh ilmu Antropologi dari Polandia
menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam
kelompoknya dapat terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi
kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui
perantaraan kebudayaan.
Rasa aman secara khusus tergantung kepada adanya sistem perlindungan dalam
rumah,pakaian dan peralatan. Perlindungan secara umum, dalam pengertian
gangguan/kelompok lain akan lebih mudah diwujudkan kalau manusia
berkelompok. Untuk menghasilkan keamanan dan kenyamanan hidup
berkelompok ini, diciptakan aturan-aturan dan kontrol-kontrol social tentang
apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap anggota kelompok.
Selain itu ditentukan pula siapa yang berhak mengatur kehidupan kelompok
untuk tercapainya tujuan bersama.

2.2 PENGERTIAN NILAI

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan


berguna
bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia. Menurut Cheng(1995): Nilai merupakan sesuatu yang
potensial,dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif ,sehingga
berfungsi untuk menyempurnakan manusia ,sedangkan kualitas merupakan
atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki(dalam Lasyo,1999,hlm.1).

Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan


(motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan
salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial dan karya. Nilai berperan
sebagai pedoman yang menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai manusia
berada dalam hati nurani, kata hati dan pikiran sebagai suatu keyakinan dan
kepercayaan yang bersumber pada berbagai sistem nilai

2.3 MACAM-MACAM NILAI


Prof. Dr. Notonegoro, membagi nilai menjadi tiga macam sebagai berikut.
1) Nilai material
Nilai material adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani/ unsur fisik
manusia. Sebagai contoh, batu kali. Secara materi batu kali mempunyai nilai
tertentu. Hal ini disebabkan batu kali dapat digunakan untuk membangun
sebuah rumah tinggal. Nilai yang yang terkandung dalam batu kali ini
dinamakan nilai material.
2) Nilai vital
Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan
suatu kegiatan dan aktivitas. Contoh payung. Payung mempunyai kegunaan
untuk menaungi tubuh dari air hujan. Apabila payung ini bocor maka nilai
kegunaan payung menjadi berkurang. Nilai payung oleh karena kegunaannya
dinamakan nilai vital.
3) Nilai kerohanian
Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi batin (rohani)
manusia.
Nilai kerohanian manusia dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a) nilai kebenaran adalah nilai yang bersumber pada unsur akal manusia;
b) nilai keindahan adalah nilai yang bersumber pada perasaan manusia (nilai
estetika);
c) nilai moral (kebaikan) adalah nilai yang bersumber pada unsur kehendak
atau kemauan (karsa dan etika);
d) nilai religius adalah nilai ketuhanan yang tertinggi, yang sifatnya mutlak
dan abadi.
Berdasarkan proses terbentuknya,nilai dapat diklasifikasikan menjadi enam
macam:
a.Nilai teori
Kegiatan untuk mengetahui identitas benda serta kejadian yang ada
disekitarnya akan melahirkan nilai teori.teori ini muncul dengan diawali
fenomena yang terjadi,kemudian dilakukan sebuah pengamatan.untuk
mengetahui identitas mahkluk hidup maka hasilnya adalah pengetahuan tentang
mahkluk hidup,seperti kehidupan flora dan fauna
b.Nilai Ekonomi
Kegiatan untuk menilai kegunaan benda-benda untuk memenuhi kebutuhan
akan melahirkan nilai ekonomi.nilai ekonomi berkaitan dengan
ketersediaan,kecukupan sarana pemenuhan kebutuhan hidup.
c.Nilai Religi
Kepercayaan yang manusia anut atau agama
d.Nilai Estetis
Nilai estetis terbentuk bila manusia memahami yang indah melalui intuisi
dan imajinasinya.
e.Nilai Sosial
Nilai sosial terbentuk bila orientasi(arah)penilaian tertuju pada hubungan
antarmanusia,yang menekankan pada segi-segi kemanusiaan yang luhur.
f.Nilai Politik
apabila tujuan penilaian berpusat pada kekuasaan dan pengaruh yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat,akan terbentuk nilai politik.
2.4 Hubungan Manusia dengan Nilai
Menurut Lasyo(1999,hlm.9) sebagai berikut: Nilai bagi manusia merupakan
landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa nilai yaitu sesuatu yang menjadi etika atau estetika yang
menjadi pedoman dalam berperilaku.
Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua
konteks:
pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia
memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya,bahkan
memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia sebagai penilai.Baik dan
buruk,benar dan salah bukan hadir karena hasil persepsi dan penafsiran
manusia,tetapi ada sebagai sesuatu yang ada dan menuntun manusia dalam
kehidupannya.
Pandangan kedua memandang nilai itu subjektif,artinya nilai sangat tergantung
pada subjek yang menilainya.Jadi nilai memang tidak akan ada dan tidak akan
hadir tanpa hadirnya penilai.Oleh karena itu nilai melekat dengan subjek
penilai.

2.4 Pentingnya Nilai dalam Kehidupan Bermasyarakat


Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan
berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau
berguna bagi kehidupan manusia. Adapun sifat-sifat nilai adalah antara lain
sebagai berikut. Nilai itu suatu relitas abstrak dan ada dalam kehidupan
manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati
hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya orang yang memiliki kejujuran.
Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa menindra kejujuran itu.
Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita dan
suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal das sollen. Nilai diwujudkan
dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya nilai
keadilan. Semua orang berharap manusia dan mendapatkan dan berperilaku
yang mencerminkan nilai keadilan.
Nilai berfungsi sebagai daya dorong dan manusia adalah pendukung nilai.
Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya
nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa
mencapai derajat ketakwaan.
Peranan nilai dalam kehidupan manusia sangat penting dan di dalam filsafat,
kajian tentang nilai erat kaitannya dengan persoalan etika (moral) dan estetika.
Nilai yang berkaitan dengan etika lebih kepada apa yang dianggap baik dan
buruk untuk dilakukan manusia dalam perilakunya.

2.5 Pengertian Moral

Moral berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan.Kata
mores ini mempunyai sinonim mos,moris,manner mores atau manners,morals.

Dalam bahasa Indonesia,kata moral berarti akhlak (bahasa Arab)atau kesusilaan


yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang
menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.Kata moral ini dalam
bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika. Secara etimologis ,etika
adalah ajaran tentang baik buruk, yang diterima masyarakat umum tentang
sikap,perbuatan,kewajiban,dan sebagainya.

Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi
individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral
dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang
mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral
itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai
moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan
dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur
dari kebudayaan masyarakat setempat.

Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi


dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa
yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan
lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik,
begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Jadi moral
adalah tata aturan norma-norma yang bersifat abstrak yang mengatur kehidupan
manusia untuk melakukan perbuatan tertentu dan sebagai pengendali yang
mengatur manusia untuk menjadi manusia yang baik.

2.6 Macam-macam moral

Moral juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :


Moral murni
Moral murni adalah moral yang terdapat pada setiap manusia sebagai, suatu
pengenjawatahan dari pancaran illahi, moral murni disebut juga hati nurani.
Moral terapan
Moral terapan adalah moral yang didapat dari ajaran berbagai ajaran filosofis,
agama, adat, yang menguasai putaran manusia.

2.7 Hubungan Manusia dengan Moral

Moral memiliki arti yang hampir sama dengan etika. Etika berasal daribahasa
kuno yang berarti ethos dalam bentuk tunggal ethos memiliki banyak artiyaitu
tempat tinggal biasa, padang rumput, kebiasaan, adat, watak sikap , dan
caraberfiki. Dalam bentuj jamak ethos (ta etha) yang artinya adat kebiasaan.
Moralberasal dari bahsa latin yaitu mos (jamaknya mores) yang berarti adat,
cara, dantampat tinggal. Dengan demikian secara etismologi kedua kata tersebut
bermaknasama hannya asal uasul bahasanya yang berbeda dimana etika dari
bahasa yunanisementara moral dari bahasa latin.

Moral yang pengertiaannya sama dengan etika dalam makna nilai-nilaidan


orma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok
dalammengatur tingkah lakunya. Dalam ilmu filsafat moral banyak unsur yang
dikajisecara kritis, di landasi rasionalitas manusia seperti sifat hakiki manusia,
prinsipkebaikan, pertimbangan etis dalam pengambilan keputusan terhadap
sesuatu dansebagainya. Moral lebih kepada sifat aplikatif yaitu berupa nasehat
tentang hal-halyang baik.
2.8 Hubungan antara manusia nilai dan moral
Dalam kehidupan manusia antara nilai dan moral adalah satu keterkaitan yang
tidak bisa dipisahkan. Nilai merupakan tatanan tertentu atau kriteria
didalam diri individu yang dijadikan dasar untuk mengevaluasi suatu
sistem. Pertimbangan nilai adalah penilaian individu terhadap suatu objek
atau sekumpulan objek yang lebih berdasarkan pada sistem nilai tertentu
daripada hanya sekedar karakteristik objek tersebut.
Nilai juga berkaitan dengan cita-cita, keinginan, harapan, dan segala sesuatu
pertimbangan internal (batiniah) manusia. Dengan demikian nilai itu tidak
konkret dan pada dasarnya bersifat subyektif. Nilai yang abstrak dan subyektif
ini perlu lebih dikonkretkan serta dibentuk menjadi lebih objektif.
Moral merupakan tatanan prilaku yang memuat nilai-nilai tertentu untuk
dilakukan individu dalam hubungannya dengan individu, kelompok, atau
masyarakat. Moralitas merupakan pencerminan dari nilai-nilai idealitas
seseorang (Rogers, 1985). Dalam moralitas terkandung aspek-aspek
kognitif, afektif, dan prilaku ( Saffer, 1979).

Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang
berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia moral diartikan
dengan susila. Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum
diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.
Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Derajat
kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh moralitas yang dimilikinya.
Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin
dari sikap dan tingkah lakunya. Bisa dikatakan manusia yang bermoral adalah
manusia yang sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai dan moral akan
muncul ketika berada pada orang lain dan ia akan bergabung dengan nilai
lain seperti agama, hukum, dan budaya. Nilai moral terkait dalam tanggung
jawab seseorang.

Dengan demkian, dapat ditarik benang merah bahwa nilai merupakan


dasar petimbangan bagi individu untuk melakukan sesuatu, moral
merupakan perilaku yang seharusnya dilakukan atau dihindari, Sistem
nilai mengarahkan pada pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang
selanjutnya akan menentukan sikap individu sehubungan dengan objek
nilai dan moral tersebut. Dengan sistem nilai yang dimiliki, individu akan
menentukan perilaku mana yang harus dilakukan dan yang harus
dihindarkan.
.
2.9 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
NILAI dan MORAL,
Nilai, moral, dan sikap adalah aspek-aspek yang berkembang pada diri
individu melalui interaksi antara aktifitas internal dan pengaruh stimulus
eksternal. Pada awalnya seoarang anak belum memiliki nilai-nilai dan
pengetahuan mengenai nilai moral tertentu atau tentang apa yang
dipandang baik atau tidak baik oleh kelompok sosialnya. Selanjutnya,
dalam berinteraksi dengan lingkungan, anak mulai belajar mengenai
berbagai aspek kehidupan yang berkaitan dengan nilai, moral, dan sikap.
Dalam konteks ini, lingkungan merupakan faktor yang besar pengaruhnya
bagi perkembangan nilai, moral, dan sikap individu (Harrocks, 1976 ;
Gunarsa, 1988).
Faktor lingkungan yang berpengaru terhadap perkembangan nilai, moral,
dan sikap individu mencakup aspek psikologis, sosial, budaya, dan fisik
kebendaan, baik yang terdapat dalam lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat. Kondisi psikologis, pola interaksi, pola kehidupan
beragama, berbagai sarana rekreasi yang tersedia dalam lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat akan memengaruhi perkembangan
nilai, moral, dan sikap individu yang tumbuh dan berkembang
didalamnya.
Remaja yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat yang penuh rasa aman secara psikologis, pola
interaksi yang demokratis, pola asuh bina kasih, dan religius dapat
diharapkan berkembang menjadi remaja yang memiliki budi luhur,
moralitas tinggi, serta sikap dan perilaku terpuji. Sebalinya, individu yang
tumbuh dan berkembang dengan kondisi psikologis yang penuh konflik,
pola interaksi yang tidak jelas, pola asuh yang tidak berimbang dan
kurang religius maka harapan agar anak dan remaja tumbuh dan
berkembang menjadi individu yang memiliki nilai-nilai luhur, moralitas
tinggi, dan sikap perilaku terpuji menjadi diragukan
3. BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia dapat diartikan
sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah
kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dengan
lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism).
Adapun nilai dapat didefinisikan sebagai sifat dan kualitas yang melekat pada
suatu obyeknya. Keterkaitan hubungan antara manusia dan nilai dapat
tergambar bahwa nilai hadir sebagai landasan atau motivasi dalam segala
tingkah laku atau perbuatannya. Jadi nilai yaitu sesuatu yang menjadi etika atau
estetika yang menjadi pedoman dalam berperilaku. Nilai tidak hanya
seperangkat teori tanpa solusi tindakan.
Banyak nilai-nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari
baik yang berhubungan secara ruhaniah maupun jasmaniah. Misalnya, nilai
budaya, nilai ekonomis, nilai estetis, nilai sosial, nilai moral dan sebagainya.
Peranan nilai dalam kehidupan manusia sangat penting dan di dalam filsafat,
kajian tentang nilai erat kaitannya dengan persoalan etika (moral) dan estetika.
Nilai yang berkaitan dengan etika lebih kepada apa yang dianggap baik dan
buruk untuk dilakukan manusia dalam perilakunya.