Você está na página 1de 3

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Menurut Metrotvnews.com, usia pernikahan Ahamad Zaenal Arifin (suami) dengan


Mutmainah (istri) baru enam bulan. Kronologis peristiwa suami bakar istri ini yaitu berawal dari
cekcok yang kerap mewarnai kehidupan pasangan muda yang tinggal di, Kabupaten Jepara, Jawa
Tengah. Cekcok ini terjadi karena perkara sepele, mulai dari suami yang kerap minta uang istri,
hingga istri tak mau memasak mi untuk suaminya. Saat terjadi adu mulut, Zaenal kerap
melayangkan pukulan ke tubuh istrinya. Puncaknya, 16 September 2017, Zaenal yang semula
tidur bersama istrinya namun saling membelakangi, menyiramkan pertalite ke tubuh istrinya.
Saat menyiramkan pertalite ternyata sang suami sedang merokok dan memegang korek api, dan
sang istri terbakar.

Analisis menurut saya dalam kasus yang dipublikasikan oleh Metrotvnews.com kasus ini
merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga. Menurut
Annisa (2010) KDRT adalah segala bentuk tindak kekerasan yang terjadi atas dasar perbedaan
jenis kelamin yang mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terutama terhadap perempuan
termasuk ancaman, paksaan, pembatasan kebebasan, baik yang terjadi dalam lingkup publik
maupun domestik. Jadi kasus diatas sesuai dengan pengertian KDRT menurut Annisa (2010)
bahwa, kekerasan pada kasus diatas yang terjadi merupakan diskriminasi gender, kaum
perempuan dianggap lemah dibandikan laki-laki dan dimana seorang suami telah melakukan
kekerasan baik fisik maupun non fisik kepada seorang istri. Sehingga sang istri (perempuan)
menjadi korban.

Menurut saya sang suami tersebut tidak menjalankan perannya sebagai seorang laki-laki
atau seorang imam. Jelas sekali apabila kita baca kasus tersebut bahwa sang suami pun
meminta uang kepada sang istri padahal seharusnya peran sorang laki-laki sekaligus sebagai
suami adalah memberikan nafkah dan mengayomi keluarga, namun yang dilakukan zaenal justru
sebaliknya, merendahkan perempuan dan menghilangkan hak-hak yang seharusnya dapat
diterima perempuan. Sikap Zaenal membakar istrinya. Ini merupakan kekerasan fisik yang
dialami perempuan bahwa yang Zaenal lakukan telah mengakibatkan rasa sakit dan luka berat
istrinya sendiri. Seperti menurut UU No. 23 tahun 2004 Pasal 6 Kekerasan fisik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit,
atau luka berat.

Menurut jurnal penelitian oleh Kasetchai Laeheem dan Kettawa Boonprakarn yang berjudul
Factors predicting domestic violence among Thai Muslim married couples in Pattani province
, menerangkan bahwa Faktor yang memprediksi kekerasan dalam rumah tangga yaitu karena
adanya latar belakang asuhan (asuhan yang ketat), pengalaman kekerasan (pertengkaran orang
tua dimasa kecil). Hal ini sesuai dengan kasus diatas bahwa salah satu penyebab dari KDRT
tersebut dikarenakan Budaya patriarki yang menempatkan posisi pihak yang memiliki kekuasaan
merasa lebih unggul.

Faktor penyebab dari KDRT menurut Mufidah (2008), antara lain Budaya patriarki;
Pandangan dan pelabelan negative, antara suami dan istri tidak saling memahami, dan tidak
saling mengerti, dan dorongan melakukan sesuatu (misalnya Pemaksaan hubungan seksual). Hal
ini sesuai kasus diatas bahwa faktor penyebab masalah KDRT adalah Budaya Patriarki yaitu
sang suami (Zaenal) yang semena-mena terhadap istrinya sehingga merasa lebih unggul, serta
pandangan negative bahwa sang istri adalah kaum perempuan yang lemah. Padahal sebuah
pernikahan merupakan sikap saling menjaga, saling melindungi,.

Dampak positif dari KDRT yaitu Korban KDRT bisa mengendalikan kesadarannya untuk
lebih membuka mata terhadap bentuk kekerasan yang dialaminya. Sedangkan dampak negatifnya
Bila dilihat dari kesehatan reproduksinya perempuan terganggu kesehatan reproduksinya bila
pada saat tidak hamil mengalami gangguan menstruasi bahkan wanita dapat mengalami
menopause lebih awal. Apabila perempuan pada saat hamil mengalami kekerasan maka dapat
terjadi keguguran persalinan imatur dan bayi meninggal dalam rahim. Dampak terhadap pola
fikir istri. Tindak kekerasan juga berakibat mempengaruhi cara berfikir korban, misalnya tidak
mampu berfikir secara jernih karena selalu merasa takut, cenderung curiga (paranoid), sulit
mengambil keputusan. Selain itu apabila sudah memiliki anak, dampak ini pun dapat terjadi pada
anak karena sering melihat orang tuanya bertengkar maka besar kemungkinan waktu ia dewasa
akan melakukan kekerasan.

Hari antikekerasan terhadap perempuan yang diperingati dunia setiap tanggal 25 November
disambut dengan upaya penanggulangan dari pemerintah dalam mengatasi masalah KDRT yaitu
tertera pada Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT (UU PKDRT)
Pasal 12, diatur pula mengenai kewajiban pemerintah yaitu pemerintah bertanggung jawab dalam
upaya pencegahan KDRT. Pemerintah harus menyelenggarakan komunikasi informasi, dan
edukasi tentang KDRT; Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang KDRT. Selain itu,
untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap korban, pemerintah dapat melakukan upaya
penyediaan ruang pelayanan khusus (RPK) di kantor kepolisian; Penyediaan tenaga kesehatan,
memberikan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga dan teman korban.

Peran petugas kesehatan khususnya bidan dalam menghadapi kasus KDRT yaitu dapat
memberikan penyuluhan yang tepat dan meyakinkan perempuan bahwa berbagai bentuk
kekerasan terhadap pasangan tidak dapat diterima; dapat melakukan anamnesis kepada korban
tentang kekerasan yang dialami dengan cara simpatik sehingga korban merasa mendapat
pertolongan; dapat memberikan pelayanan medis dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan
serta dapat merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai dengan cepat dan tepat, mencegah
dampak serius terhadap kesehatan reproduksi korban. Sebagai tenaga kesehatan pun kita dapat
membuat laporan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum atas permintaan penyidik
kepolisian atau surat keterangan medis yang memiliki kekuatan hukum yang sama sebagai alat
bukti.

DAFTAR PUSTAKA
Annisa, Rifka. 2010. Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Freire. 2006. Konsep dan Tehnik Penelitian Gender. Malang : Pusat Studi Wanita Universitas
Muhammadiyah.
Laeheem Kasetchai, Kettawa Boonprakarn.2017.Factors predicting domestic violence among
Thai Muslim married couples in Pattani province.Thailand-Kasestart Juornal of Social
Sciences xxx 1-7.
Mufidah. 2008. Mengapa Mereka Diperdagangkan? Membongkar Kejahatan Trafiking dalam
Perspektif Islam, Hukum dan Gender. Malang : UIN Maliki Press.
http://jateng.metrotvnews.com/peristiwa/zNAjeQ6b-marah-tak-dibuatkan-mi-suami-bakar-istri
(diakses tanggal 11 Oktober 2017 jam 21.00 WIB).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
dalam Rumah Tangga.