Você está na página 1de 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dalam dunia medis dan kimia organik, istilah alkaloid telah lama menjadi
bagian penting dan tak terpisahkan dalam penelitian yang telah dilakukan
selama ini, baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun untuk
penelusuran bioaktifitas. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik
terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan
dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-
daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung
alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar,
biji, ranting, dan kulit kayu.
Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau
alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam
molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis,
dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan
hewan.
Alkaloid juga adalah suatu golongan senyawa organic yang terbanyak
ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-
tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida
mengandung paling sedikit satu atom nitrogen.
Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan
biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna
dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah alkaloida yang
terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis. Alkaloida dapat
ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan
kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus
dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan
tumbuhan.

1
Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam
mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada
mahluk hidup. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia dari dulu
sampai sekarang selalu mencari obat-obatan dari berbagai ekstrak tumbuhan.
Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara
pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan
sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur
tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk mempertahankan keseimbangan ion

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud alkaloid ?
2. Bagamana sumber dan sejarah alkaloid ?
3. Bagaimana sifat sifat alkaloid?
4. Bagaimana peggolongan alkaloid ?
5. Bagaimana metode isolasi alkaloida ?
6. Bagaimana identifikasi alkaloid ?
7. Apa kegunaan alkaloid ?
8. Bagaimana biosintesis alkaloid tropan ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian alkaloid
2. Mengetahui sumber dan sejarah Alkaloid
3. Mengetahui sifat sifat alkaloid?
4. Mengetahui peggolongan alkaloid ?
5. Mengetahui metode isolasi alkaloida ?
6. Mengetahui Identifikasi alkaloid ?
7. Mengetahui kegunaan alkaloid ?
8. Mengetahui biosintesis alkaloid tropan ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Alkaloid


Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa,
biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid terdistribusi secara luas
pada tanaman. Diperkirakan sekitar 15 20% vascular tanaman mengandung
alkaloid. Banyak alkaloid merupakan turunan asam amino lisin, ornitin,
fenilalanin, asam nikotin, dan asam antranilat. Asam amino disintesis dalam
tanaman dengan proses dekarboksilasi menjadi amina, amina kemudian
dirubah menjadi aldehida oleh amina oksida. Alkaloid biasanya pahit dan
sangat beracun.
Alkaloid ini diklasifikasikan lagi berdasarkan tipe dasar kimia pada
nitrogen yang terkandung dalam bentuk heterosiklik. Klasifikasi alkaloid
tersebut meliputi pirrolizidine alkaloids, peperidine alkaloids, pyridine
alkaloids, indole alkaloids, quinolizidine alkaloids, steroid alkaloids, policyclic
diterpene alkaloids, indolizidine alkaloids, tryptamine alkaloids, tropane
alkaloids, fescue alkaloid dan miscellaneous alkaloid. Peranan alkaloid dalam
jaringan tanaman tidak pasti, mereka telah dikenal sebagai produk metabolik
atau substansi.

2.2 Sumber dan Sejarah Alkaloid


Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria, fungi
(jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah
dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang
dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid
Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa)
pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang
apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh
dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal,
misalnya, morfina, striknina, sertasolanina). Hingga sekarang dikenal sekitar

3
10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam,
sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.

2.3 Sifat-Sifat Alkaloid


1. Mengandung atom nitrogen yang umumnya berasal dari asam amino.
2. Umumnya berupa Kristal atau serbuk amorf.
3. Alkaloid yang berbentuk cair yaitu konini, nikotin dan spartein.
4. Dalam tumbuhan berada dalam bentuk bebas, dalam bentuk N-oksida atau
dalam bentuk garamnya.
5. Umumnya mempunyai rasa yang pahit.
6. Alkaloid dalam bentuk bebas tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
kloroform, eter dan pelarut organik lainnya yang bersifat relative non
polar.
7. Alkaloid dalam bentuk garamnya mudah larut dalam air.
8. Alkaloid bebas bersifat basa karena adanya pasangan elektron bebas pada
atom N-nya.
9. Alkaloid dapat membentuk endapan dengan bentuk iodide dari Hg, Au dan
logam berat lainnya (dasar untuk identifikasi alkaloid).

Sifat Fisika Alkaloid


Umumnya mempunyai 1 atom N meskipun ada beberapa yang
memiliki lebih dari 1 atom N seperti pada Ergotamin yang memiliki 5
atom N. Atom N ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tertier
yang semuanya bersifat basa (tingkat kebasaannya tergantung dari
struktur molekul dan gugus fungsionalnya) Kebanyakan alkaloid yang
telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang
tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang
berbentuk amorf dan beberapa seperti; nikotin dan koniin berupa cairan.
Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang
kompleks, species aromatik berwarna (contoh berberin berwarna kuning
dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid

4
hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod
dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid
quartener sangat larut dalam air.
Sifat Kimia
Kebanyakan alkaloid bersifat basa. Sifat tersebut tergantung pada
adanya pasangan elektron pada nitrogen.Jika gugus fungsional yang
berdekatan dengan nitrogen bersifat melepaskan elektron, sebagai
contoh; gugus alkil, maka ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan
senyawa lebih bersifat basa. Hingga trietilamin lebih basa daripada
dietilamin dan senyawa dietilamin lebih basa daripada etilamin.
Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik
elektron (contoh; gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron
berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral
atau bahkan sedikit asam. Contoh ; senyawa yang mengandung gugus
amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat
mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan
adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida.
Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan
berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang
lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau
anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah
dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada
dalam bentuk garamnya.

2.4 Penggolongan Alkaloida


Alkaloida tidak mempunyai tatanan sistematik, oleh karena itu, suatu
alkaloida dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin dan
strikhnin. Hampir semua nama trivial ini berakhiran in yang mencirikan
alkaloida.
Klasifikasi alkaloida dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara, yaitu :

5
1. Berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian
dari struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat
dibedakan atas beberapa jenis sperti alkaloida pirolidin, alkaloida
piperidin, alkaloida isokuinolin, alkaloida kuinolin, dan alkaloida
indol.
2. Berdasarkan jenis tumbuhan darimana alkaloida ditemukan. Cara ini
digunakan untuk menyatakan jenis alkaloida yang pertama-tama
ditemukan pada suatu jenis tumbuhan. Berdasarkan cara ini, alkaloida
dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu aklakoida tembakau,
alkaloida amaryllidaceae, alkaloida erythrine dan sebagainya. Cara ini
mempunyai kelemahan, yaitu : beberapa alkaloida yang berasal dari
tumbuhan tertentu dapat mempunyai struktur yang berbeda-beda.
3. Berdasarkan asal-usul biogenetik. Cara ini sangat berguna untuk
menjelaskan hubungan antara berbagai alkaloida yang diklasifikasikan
berdasarkan berbagai jenis cincin heterosiklik. Dari biosintesa
alkaloida, menunjukkan bahwa alkaloida berasal hanya dari beberapa
asam amino tertentu saja. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida
dapat dibedakan atas tiga jenis utama, yaitu :
a. Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan
lisin.
b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin,
tirosin dan 3,4 dihidrofenilalanin.
c. Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptofan.
4. Sistem klasifikasi berdasarkan Hegnauer yang paling banyak diterima,
dimana alkaloida dikelompokkan atas :
a. Alkaloida sesungguhnya
Alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut
menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hamper tanpa
terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen dalam
cincin heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat
dalam tanaman sebagai garam asam organik. Beberapa

6
pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam
aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin
heterosiklik dan alkaloida quartener yang bersifat agak asam
daripada bersifat basa.
b. Protoalkaloida
Protoalkaloida merupakan amin yang relative sederhana
dimana nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cincin
heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesa dari
asam amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering
digunakan untuk kelompok ini.
c. Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloida tidak diturunkan dari prekusor asam amino. Ini
biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang penting dalam
kelompok ini yaitu steroidal dan purin.
Berikut ini adalah pengelompokan alkaloid berdasarkan struktur
cincin atau struktur intinya yang khas, dimana pengelompokkan
dengan cara ini juga secara luas digunakan :
1. Inti Piridin-Piperidin, misalnya lobelin, nikotin, konini dan
trigonelin
2. Inti Tropan, misalnya hiosiamin, atropine, kokain.
3. Inti Kuinolin, misalnya kinin, kinidin
4. Inti Isokuinolin, misalnya papaverin, narsein
5. Inti Indol, misalnya ergometrin dan viblastin.
6. Inti Imidazol, misalnya pilokarpin.
7. Inti Steroid, misalnya solanidin dan konesin.
8. Inti Purin, misalnya kofein.
9. Amin Alkaloid, misalnya efedrin dan kolsikin

2.5 Metode Isolasi Alkaloida


Satu-satunya sifat kimia alkaloid yang paling penting adalah kebasaannya.
Metode pemurnian dan pencirian ialah umumnya mengandalkan sifat ini, dan

7
pendekatan khusus harus dikembangkan untuk beberapa alkaloid misalnya
rutaekarpina, kolkhisina, risinina) yang tidak bersifat basa.
Umumnya isolasi bahan bakal sediaan galenik yang mengandung alkaloid
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Dengan menarik menggunakan pelarut-pelarut organik berdasarkan azas
Keller. Yaitu alkaloida disekat pada pH tertentu dengan pelarut organik.
Prinsip pengerjaan dengan azas Keller yaitu alkaloida yang terdapat dalam
suatu bakal sebagai bentuk garam, dibebaskan dari ikatan garam tersebut
menjadi alkaloida yang bebas. Untuk itu ditambahkan basa lain yang lebih
kuat daripada basa alkaloida tadi. Alkaloida yang bebas tadi diekstraksi
dengan menggunakan pelarut pelarut organic misalnya Kloroform. Tidak
dilakukan ekstraksi dengan air karena dengan air maka yang masuk
kedalam air yakni garamgaram alkaoida dan zat-zat pengotor yang larut
dalam air, misalnya glikosida-glikosida, zat warna, zat penyamak dan
sebagainya. Yang masuk kedalam kloroform disamping alkaloida juga
lemaklemak, harsa dan minyak atsiri. Maka setelai alkaloida diekstraksi
dengan kloroform maka harus dimurnikan lagi dengan pereaksi tertentu.
Diekstraksi lagi dengan kloroform. Diuapkan, lalu didapatkan sisa alkaloid
baik dalam bentuk hablur maupun amorf. Ini tidak berate bahwa alkaloida
yang diperoleh dalam bentuk murni, alkaloida yang telah diekstaksi
ditentukan legi lebih lanjut. Penentuan untuk tiap alkaloida berbeda untuk
tiap jenisnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada ekstraksi dengan azas Keller, adalah:
a. Basa yang ditambahkan harus lebih kuat daripada alkaloida yang akan
dibebaskan dari ikatan garamnya, berdasarkan reaksi pendesakan.
b. Basa yang dipakai tidak boleh terlalu kuat karena alkaloida pada
umumnya kurang stabil. Pada pH tinggi ada kemungkinan akan
terurai, terutama dalam keadaan bebas, terlebih bila alkaloida tersebut
dalam bentuk ester, misalnya : Alkaloid Secale, Hyoscyamin dan
Atropin.

8
c. Setelah bebas, alkaloida ditarik dengan pelarut organik tertentu,
tergantung kelarutannya dalam pelarut organik tersebut.

Alkaloid biasanya diperoleh dengan cara mengekstraksi bahan


tumbuhan memakai air yang diasamkan yang melarutkan alkaloid sebagai
garam, atau bahan tumbuhan dapat dibasakan dengan natrium karbonat
dan sebagainya dan basa bebas diekstaksi dengan pelarut organik seperti
kloroform, eter dan sebagainya. Radas untuk ekstraksi sinabung dan
pemekatan khusunya digunakan untuk alkaloid yang tidak tahan panas.
Beberapa alkaloid menguap seperti nikotina dapat dimurnikan dengan cara
penyulingan uap dari larutan yang diabasakan. Larutan dalam air yang
bersifat asam dan mengandung alkaloid dapat dibasakan dan alkaloid
diekstaksi dengan pelarut organik , sehingga senyawa netral dan asam
yang mudah larut dalam air tertinggal dalam air. Cara lain yang berguna
untuk memperoleh alkaloid dari larutan asam adalah dengan penjerapan
menggunakan pereaksi Lloyd. Kemudian alkaloid dielusi dengan dammar
XAD- 2 lalu diendapkan dengan pereaksi Mayer atau Garam Reinecke dan
kemudian endapan dapat dipisahkan dengan cara kromatografi pertukaran
ion. Masalah yang timbul pada beberapa kasus adalah bahwa alkaloid
berada dalam bentuk terikat yang tidak dapat dibebaskan pada kondisi
ekstraksi biasa. Senyawa pengkompleksnya barangkali polisakarida atau
glikoprotein yang dapat melepaskan alkaloid jika diperlakukan dengan
asam.
1. Pemurnian alkaloida dapat dilakukan dengan cara modern yaitu
dengan pertukaran ion.
2. Menyekat melalui kolom kromatografi dengan kromatografi partisi.
Cara kedua dan ketiga merupakan cara yang paling umum dan cocok untuk
memisahkan campuran alkaloid. Tata kerja untuk mengisolasi dan
mengidentifikasi alkaloid yang terdapat dalam bahan tumbuhan yang
jumlahnya dalam skala milligram menggunakan gabungan kromatografi
kolom memakai alumina dan kromatografi kertas.

9
2.5 Identifikasi Alkaloida
1. Berdasarkan sifat spesifik.
Alkaloid dalam larutan HCl dengan pereaksi Mayer dan Bouchardhat
membentuk endapan yang larut dalam alkohol berlebih. Protein juga
memberikan endapan, tetapi tidak larut dalam alcohol berlebih.
2. Berdasarkan bentuk basa dan garam-nya / Pengocokan
Alkaloid sebagai basanya tidak larut dalam air, sebagai garamnya larut
baik dalam air. Sebaiknya pelarut yang digunakan adalah pelarut organik :
eter dan kloroform. Pengocokan dilakukan pada pH: 2, 7, 10 dan 14.
Sebelum pengocokan, larutan harus dibasakan dulu, biasanya
menggunakan natrium hidroksida, amonia pekat, kadang-kadang
digunakan natrium karbonat dan kalsium hidroksida.
3. Reaksi Gugus Fungsionil
a. Gugus Amin Sekunder
Reaksi SIMON : larutan alkaloida + 1% asetaldehid + larutan na.
nitroprussida = biru-ungu.
Hasil cepat ditunjukkan oleh Conilin, Pelletierin dan Cystisin.
Hasil lambat ditunjukkan oleh Efedrin, Beta eucain, Emetin,
Colchisin dan Physostigmin.
b. Gugus Metoksi
Larutan dalam Asam Sulfat + Kalium Permanganat = terjadi
formaldehid, dinyatakan dengan reaksi SCHIFF. Kelebihan
Kalium Permanganat dihilangkan dengan Asam Oksalat.
Hasil positif untuk Brucin, Narkotin, koden, Chiksin, Kotarnin,
Papaverin, Kinidin, Emetin, Tebain, dan lain-lain.
c. Gugus Alkohol Sekunder
Reaksi SANCHES : Alkaloida + Larutan 0,3% Vanilin dalam
HCl pekat, dipanaskan diatas tangas air = merah-ungu.
Hasil positif untuk Morfin, Heroin, Veratrin, Kodein, Pronin,
Dionin, dan Parakonidin.

10
d. Gugus Formilen
Reaksi WEBER & TOLLENS :
Alkaloida + larutan Floroglusin 1% dalam Asam Sulfat (1:1),
panaskan = merah.
Reaksi LABAT :
Alkaloida + Asam Gallat + asam Sulfat pekat, dipanaskan
diatas tangas air = hijau-biru.
Hasil positif untuk Berberin, Hidrastin, Kotarnin, Narsein,
Hidrastinin, narkotin, dan Piperin.
e. Gugus Benzoil
Reaksi bau : Esterifikasi dengan alcohol + Asam Sulfat pekat =
bau ester.
Hasil positif untuk Kokain, Tropakain, Alipin, Stivakain, Beta
eukain, dan lain-lain.
f. Reaksi GUERRT
Alkaloida didiazotasikan lalu + Beta Naftol = merah-ungu.
Hasil positif untuk kokain, Atropin, Alipin, Efedrin, tropakain,
Stovakain, Beta eukain, dan lain-lain.
g. Reduksi Semu
Alkaloida klorida + kalomel + sedikit air = hitam
Tereduksi menjadi logam raksa. Raksa (II) klorida yang terbentuk
terikat dengan alkaloid sebagai kompleks.
Hasil positif untuk kokain, Tropakain, Pilokarpin,
Novokain,Pantokain, alipin, dan lain-lain.
h. Gugus Kromofor
Reaksi KING :
Alkaloida + 4 volume Diazo A + 1 volume Diazo B + natrium
Hidroksida = merah intensif.
Hasil positif untuk Morfin, Kodein, Tebain dan lain-lain.
Reaksi SANCHEZ :

11
Alkaloida + p-nitrodiazobenzol (p-nitroanilin + Natrium Nitrit
+ Natrium Hidrolsida) = ungu kemudian jingga.
Hasil positif untuk alkaloida opium kecuali Tebain, Emetin,
Kinin, kinidin setelah dimasak dengan Asam Sulfat 75%.

4. Pereaksi untuk analisa lainnya (7)


a. Iodium-asam hidroklorida
Merupakan pereaksi untuk golongan Xanthin. Digunakan untuk
pereaksi penyemprot pada lempeng KLT (Kromatografi Lapis Tipis)
dimana akan memberikan hasil dengan noda ungu-biru sampai coklat
merah.
b. Iodoplatinat
Pereaksi untuk alkaloid, juga sebagai pereaksi penyemprot pada
lempeng KLT dimana hasilnya alkaloid akan tampak sebagai noda
ungu sampai biru-kelabu.
c. Pereaksi Meyer (Larutan kalium Tetraiodomerkurat)
Merupakan pereaksi pengendap untuk alkaloid.

2.6 Kegunaan Alkaloida


Alkaloida telah dikenal selama bertahun-tahun dan telah menarik perhatian
terutama karena pengaruh fisiologisnya terhadap binatang menyusui dan
pemakainnya di bidang farmasi, tetapi fungsinya dalam tumbuhan hampir sama
sekali kabur. Beberapa pendapat mengenai kemungkinan perannya ialah
sebagai berikut :
1. Salah satu pendapat yang dikemukakan pertama kali, sekarang tidak dianut
lagi, ialah bahwa alkaloid berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti
urea dan asam urat hewan.
2. Beberapa alkaloid mungkin bertindak sebagai tendon penyimpanan nitrogen
meskipun banyak alkaloid ditimbun dan tidak mengalami metabolisme lebih
lanjut meskipun sangat kekurangan nitrogen.

12
3. Pada beberapa kasus, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan
parasit atau pemangsa tumbuhan. Meskipun dalam beberapa peristiwa bukti
yang mendukung fungsi ini tidak dikemukakan, ini barangkali merupakan
konsep yang direka-reka dan bersifat manusia sentries.
4. Alkaloid dapat berlaku sebagai pengatur tumbuh karena segi struktur,
beberapa alkaloid menyerupai pengatur tumbuh. Beberapa alkaloid
merangsang perkecambahan, yang lainnya menghambat.
5. Semula disarankan oleh Liebig bahwa alkaloid, karena sebagian bersifat
basa, dapat mengganti basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan
ion dalam tumbuhan. Sejalan dengan saran ini, pengamatan menunjukkan
bahwa pelolohan nikotina ke dalam biakan akar tembakau meningkatkan
ambilan nitrat. Alkaloid dapat pula berfungsi dengan cara pertukaran
dengan kation tanah.

2.7 Biosintesis Alkaloid Tropan


Karakteristik alkaloid adalah ester dari hidroksitropanes dan berbagai asam
(Tropic, Tiglic). Biosintesis alkaloid tropan melibatkan fenilalanin sebagai
prekusor pembentuk C6-C1 dan C6-C3 asam aromatic. Untuk pembentukan C5
asam alifatik serta asam tiglic atau 2-metil asam butanoat dibutuhkan isoleusin
sebagai prekusor. Untuk pembentukan cincin pirolidin yang merupakan inti
tropan dibutuhkan ornitin sebagai prekusor.
Karakter alkaloid yang mengandung inti tropan adalah jika direaksikan
dengan asam nitrat kemudian residu dilarutkan dalam aseton maka akan
muncul warna ungu gelap. Hal ini disebabkan karena munculnya larutan dalam
etanol dalam KOH. Reaksi ini dikenal sebagai reaksi fitalil morin.
a. Atropin
Atropin, Hiosiamin dan Hiosin merupakan alkaloid tropan yang
berasal dari family solanaceae. Dapat juga ditemukan pada tumbuhan
contohnya Erythroxylaceae, Convolvulaceae, Protaeceae, Orchidaceae,
Euphorbiaceae, Curciferae, Rhizophoraceae. Atropine mengandung
alkaloid tropan, yang memilki sifat antikolinergik dan spasmolitik,

13
biasanya digunakan sebagai anasthesi dan spasmolitik dan dalam operasi
mata. Atropine merupakan metabolit sekunder yang umumnya terkandung
dalam family solanaceae.
Mekanisme kerja atropine adalah dengan cara inhibisi reseptor
muskarinik pada organ perifer. Atropine menginhibisi asetilkolin berikatan
dengan reseptornya secara reversible dan menimbulkan efek
simpatomimetik.
Indikasi terapiotik atropine injeksi adalah untuk mencegah dan
mengobati blukade arterioventrikuler dan sinus bradikardia, spasmus pada
kolik ureter dan anuria. Atropine juga dapat berperan sebagai antidote
terdapat keracunan antikolinesterase, obat yang bersifat
parasimpatomimetik atau mediasi kalinergik. Dalam pre-anasthesi,
atropine berguna untuk mencegah gejala yang disebabkan stimulasi vagal.
Pada tetes mata, atropine digunakan untuk mengobati inflamasi dan
menginduksi sikloplegia pada pemeriksaan refraksi mata.
BIOSINTESIS
Biosintesis atropine mulai dari L-Fenilalanin transaminasi
membentuk asam phenylpyruvic yang kemudian direduksi menjadi asam
fenil-laktat. Koenzim A kemudian berpasangan dengan asam fenil-laktat
dengan tropin membentuk littorine, yang kemudian mengalami penataan
ulang radikal diawali dengan enzim P450 membentuk aldehida
hyosciamine dehidrogenase A kemudian aldehid direduksi menjadi sebuah
alcohol primer membentuk (-) hyosciamine, dan terbentuk atropine.
Akar dan daun tumbuhan atropa belladonna (family solanaceae)
merupakan sumber dari senyawa ini, digunakan sebagai antispamolitik,
antikolinergik, anti asma dan midriatik. Zat ini merupakan hasil dari
hiosiamin selama ekstraksi sehingga tak dapat ditemukan dalam tanaman.

b. Hyoscyamine
Hyoscyamine merupakan alkaloid tropan yang ditemukan dalam
jumlah yang berlimpah. Hyoscyamine merupakan metabolit sekunder yang

14
ditemukan pada tertentu dari family solanaceae. Hyoscyamine banyak
ditemukan pada atropa belladonna dibagian berry, datura stramonium
ditemukan pada bagian daun, akar dan bunga. Datura suaveolens
ditemukan pada bagian daun, bunga dan biji, Hyoscyamus Niger
ditemukan pada bagian daun, bunga dan biji, latua pubiflora ditemukan
pada bagian berry dan daun, madragora officinarum ditemukan pada
bagian akar dan berry, scopolia carniolica jacq ditemukan pada bagian
daun dan akar. Hyoscyamine merupakan prekusor dari scopolamine.
Hyoscyamine digunakan sebagai parasimpatolitik yang
berkompetisi dengan asetil kolin. Anti kolinergik umumnya digunakan
sebagai midriatik, mengendalikan sekresi air liur dan asam lambung.
Hyoscyamine digunakan untuk mengontrol gejala yang berhubungan
dengan saluran gasterointestinal (GI). Hyoscyamine bekerja degan
mengurangi gerakan lambung pada usus dan sekresi cairan lambung,
termasuk asam. Hyoscyamine juga digunakan dalam pengobatan kejang
kandung kemih, penyakit ulkus peptikum, devartikulitis, kolik, iritasi
syndrome usus, sistitis, dan pancreatitis. Hyoscyamine juga dapat
digunakan untuk mengobati kondisi jantung tertentu, untuk mengendalikan
gejala penyakit parkinsom dan rhinitis (pilek), dan untuk mengurangi air
liur berlebih.
BIOSINTESIS
Cincin tropan yang hadir dalam bentuk Hyoscyamine berasal dari
putresin melalui garam N-metylpyrrolinium, yang menunjukkan adanya
dua asam amino ornittine dan arginin yang terlibat dalam biosintesis
putreris dalam jalur alternative. Dekarboksilasi ornitine menghasilkan
utresin, sedangkan arginin diubah menjadi agmatine untuk menghasilkan
putresin. Selanjutnya metilasi S-adenosil-metoinin (SAM) tergantung
pada putresin dikatalis oleh putresin N-methyltransferase membentuk N-
methylputrescine.
Langkah-langkah berikutnya dalam biosintesis memerlukan
kondensasi aseta yang sesuai berasal intermediate dengan N-

15
methylpyrrolinium. Hygrine, sebuah alkaloid yang secara resmi produk
dari kondensasi aseton dengan N-methylpyrrolidine, itu selama bertahun-
tahun dianggap sebagai perantara dalam biosintesis scopolamine, tetapi
study terbaru menunjukkan hygrine yang tidak terlibat dalam biosintess
cincin tropan. Semua spesies tanaman diteliti sejauh memiliki dua
kegiatan reduktase tropinone ketat stereospesifik, satu (TRI)
memproduksi tropine dan lainnya (TRII) memproduksi pseudotropine
tropin. Tropin diesterifikasi untuk menghasilkan hyoscyamine.
Tahap berikutnya dalam biosintesis hyoscyamine, esterifikasi tropine
dan asam tropic. Asam tropic dari hyoscine dan hyoscyamine berasal dari
fenilalanin, seperti asam -hidroksi- fenilpropionat (asam phenillaktik)
dan tropane alkaloid littorine. Asam tropic dibentuk oleh penataan intra-
molekul phenillacatate. Hiosiamin disintesis dari littorine dengan proses
melibatkan penataan ulang intramolekul dari gugus phenillactate dari
alkaloid.

c. Calystegines
Calystegines adalah kelompok baru alkaloid polihidroksi dengan
kerangka nortropan. Calystegines adalah alkaloid nortorpan
terhidroksilasi dari jalur biosintesis tropan alkaloid. Calystegines adalah
inhibitor glikosidase kuat dan terdapat pada sayuran seperti kentang,
tomat, dan kubis. Akumulasi Calystegines dalam culture akar
digambarkan meningkatkan dengan ketersediaan karbohidrat.
BIOSINTESIS
Biosintesis Calystegines juga berasal dari cincin tropan. Seperti
halnya hyoscyamine, scopolamine, atropine dan golongan tropan lainnya
Calystegines juga melalui rangkaian biointesis yang sama seperti yang
telah dipaparkan sebelumnya. Namun ketika reduktase tropiono,
Calystegines terbentuk dari pseudotoropine yang merupakan salah satu
hasil reduktase tropiono selain tropine.

16
Biosintesis Calystegines ditandai dengan hilangnya kelompok
metal pada nitrogen dengan menjadi gugus hidroksil pada heterosiklik.
Tiga sampai lima gugus hidroksil dalam berbagai posisi.
Calystegines terbukti ditemukan pada convolvulaceae, solanaceae
dan moraceae. Dalam jumlah besar Calystegines diproduksi oleh family
solanaceae. Calystegines ditemukan pada tumbuhan atropa belladonna
dalam jumlah besar, selain itu juga ditemukan di datura wrightii pada
bagian akar dan datura stramonium pada bagian akar dan daun. Selain itu
dalam beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa Calystegines
ditemukan pada hyoscyamus niger bagian daun, bunga dan biji.
Calystegines spium merupakan salah satu tanaman yang memproduksi
Calystegines pada bagian daun dan akar, convolvulus arvensis pada
bagian daun dan akar, physalis alkekengi pada bagian daun.
Manfaat dari Calystegines memiliki khasiat yang hamper sama
dengan tropan lain seperti antikolinergik, antiemetic, parasimpatolitik,
anasthesi dan banyak tindakan farmakologis lain. Calystegines B2 dan
C1 yang terkandung dalam murbei bermanfaat untuk menurunkan kadar
gula darah dan memiliki aktivitas antioksidan.

d. Kokain
Kokain adalah alkaloid tropan yang ditemukan pada family
Erityhtroxylaceae spesies Erythroxylem coca dan E. novogranatense.
Tanaman coca merupakan tumbuhan semak, cabang-cabangnya berwarna
kemerahan, daun oval, bunga pentamer berwarna putih kekuningan.
Kokain secara tradisional dimanfaatkan untuk menahan lapar dan
lelah. Tanaman kokain telah dikultivasi, dioptimasi dan diproduksi sejak
5000 tahun yang lalu dipegunungan andes. E.coca varietas coca
merupakan tanaman liar peru, Bolivia dan andes sedangkan
E.novogranatense ditemukan tumbuhan dikolombia dan Venezuela. Pada
tanaman kering peru utara dan ekuador ditemukan tanaman coca jenis
E.novogranatense.

17
Komposisi kimia dalam tanaman coca adalah minyak esensial,
metik salisilat, tannin dan alkaloid. Alkaloid dalam tanaman coca dapat
mencapai 0,5-1,5 % tergantung spesies dan geografis. 30-50% alkaloid
yang diperlukan berupa ester polatile sebagai basa bebas yaitu kokain dan
sisanya berupa derivate kokain seperti ecgonin (sinamil kokain) dan
pirolidin.
Kokain merupakan anasthesi local sebagai anasthesi kontak,
kokain memblok kanal ion dalam membrane neuromal dan menginterupsi
propagenis dari potensial aksi yang berhubungan dengan pesan sensori.
Kokain juga merupakan parasimpatomimetik, bekerja dengan cara
memblok pengambilan kembali dopamine dan noradrenalin pada presinap
neuron dengan cara berikatan dengan transporter. Stimulasi adregenik ini
menyebabkan hipertermia, midriasis dan vasokonstriksi. Vasokonstriksi
ini menyebabkan resistensi meningkat dan meningkatkan tekanan darah
serta denyut jantung. Kokain merupakan system syaraf pusat sehingga
pemakaian merasakan halusinasi. Kokain juga digunakan dalam minuman
ringan tertentu.
Kokain ketika tercium, terhisap, tertelan, atau digunakan pada
selaput lender akan diserap dari semua situs paparan menuju intravena.
Kokain dimetabolisme oleh plasma dan hati, kolinesterase diubah
metabolit larut air dan dieskresikan apda urin. Metabolit tersebut didalam
urin berfungsi sebagai penanda penggunaan kokain yang dapat di deteksi
hingga 24-36 jam setelah penggunan pertama dari kokain, tergantung pada
rute pemberian dan aktivitas kolinesterase.
BIOSINTESIS
Atom karbon tambahan yang diperlukan untuk sintesis kokain yang
berasal dari asetil-KoA, dengan penambahan dua unit asetil-KoA untuk
kation N-metil-1-phyrolinum. Penambahan pertama adalah reaksi mannich
dengan anio enolat dari asetil-KoA yang bertindak sebangai nokliofil
terhadap kation pirolinum. Penambahan kedua terjadi melalui kondensasi
claisen. Hal ini menghasilkan campuran rasemat dari subtitusi kedua

18
pirolidin, dengan retensi tioester dari kondensasi claisen. Dalam
pembentukan tropinon dari rasemat etil [2,-13C2] 4(N-metil-2-
prilolidinil)-3-oksobutanoat tidak terdapat preverensi untuk kedua
stereoinsomer. Dalam biosintesis kokain, hanya enansionen- (S) dapat
mensiklik untuk mempbentuk system cincin kokain tropan.
Stereoselektivitas reaksi ini diteliti lebih lanjut melalui studi prokiral
distriminasi dari hydrogen metilen. Hal ini disebabkan karena pusat kiral
exstra di C=. proses ini terjadi melalui oksidasi, yang menimbulkan
kembali kation pirolinium dan pembentukan anion enolat, dan reaksi
intramokuler Mannich. System cincin tropan mengalami hidrolisis,
metilasi dependen SAM, dan reduksi melalui NADPH untuk pembentukan
methylecegonine . bagian benzoin yang diperlukan untuk pembentukan
kokain diester disintesis dari fenilalanin melalui asam sinamat. Benzoil
CoA kemudian menggabungkan dua unit molekul kokain.
Eryhtroxylon coca merupakan tanaman penghasil kokain. Daun
koka telah digunakan Amerika Selatan sebagai pengunyahan dari zaman
yang sangat awal. Mereka sebelumnya disediaakan untuk penggunaan
tunggal dari pemimpin pribumi dan Inca. Coca diperkenalkan ke Eropa
sekitar 1688 dan kokain diisolasi pada tahun 1860. Dengan menerapkan
alka-loid dalam operasi mata pada tahun 1884 Carl Koller adalah orang
perama yang memperkenalkan kedalam praktek klinis sehingga
gemborkan era anestesi modern.

e. Scopolamine
Scopolamine adalah bagian dari alkaloid tropan yang paling
penting karena memiliki aktivitas fisoliologi yang lebih tinggi dan efek
samping yang lebih sedikit. Permintaan untuk Scopolamine ini
perkiarakan sekitar 10 kali lebih besar dari pada hioscyamine dan bentuk
atropine lainnya. Dengan demikian, telah muncul ketertarikan dalam
meningkatkan jumlah, Scopolamine didalam produksi tanaman dalam

19
fitrokluktur, dalam hal produksi bioteknologi Scopolamine, dengan
meningkatkan jumlah sel tumbuhan dapat menhasilkan senyawa ini.
BIOSINTESIS
Scopolamine adalah alkaloid tropan yang paling relevan seacara
luas digunakan . jalur metabolisme mereka dimulai di putresin, poliamina
yang dibagi oleh beberapa jalur metabolic (misalnya; alkaloid piridin).
Peran eskresin metil transverase dalam menyerap nutresi dari gugus
poliamina, yang merupakan lintas-titik antara metabolisme primer dan
sekunder terhada jalur alkaloid tropan. Enzim PMT mengkatalisis reaksi
dari putresin N-metil putersin dengan N-adenosin metionin sebagai donor
metil. Bagian terakhir dari jalur biosintesis alkaloid tropan adalah reaksi
enzimetik yang dikatalis oleh enzim hyoscyamine-6-hidroksilase (H6H),
dua oksoklutarase bergantung pada dioksigenase yang mengkatalis
hidroksilasi dari hyoscyamine ke scopolamine dalam dua langkah.
Langkah pertama adalah hidroksilasi hyoscyamine sampai 6-
hydroxsihyoscyamine, reaksi yang memerlukan 2-oksoklutarate, Fe2+,
molekul oksigen dan askorbat. Langkah kedua adalah epoksidasi
intermediate hydroxsihyoscyamine memproduksi 6,7--
hyoscyaminepoksida (scopolamine).
Alkaloid ini biasanya ditemukan pada tanaman family solanaceae
sumber utama bahan baku untuk produksi alkaloid tropan diseluruh dunia
dalah daun duboisia spp. Budi daya konfisional beberapa varietas yang
dapat menumpuk hingga 6% scopolamine telah didirikan di Australia dan
brazil.
Scopolamine adalah alkaloid yang sebagian besar digunakan dalam
pengobatan aktivitas anti kolinergik. Anti kolinergik umumnya digunakan
sebagai midriatik dan untuk mengendalikan sekresi air liur dan asam
lambung. Dapat juga diguankan untuk pengobatan kejang otot asma, kram
usus dan diare.
Gejala awal penyalahgunaan scopolamine termasuk mulut kering,
melebar pupil, kemerahan pada wajah dan leher, tekana darah dan suhu

20
tubuh tinggi, jantung berdebar. Gejala ini dapat diikut oleh halusinasi
ekstrim angitasi agresi, bahkan kematian.

2.8 Biosintesis Alkaloid Amina


Amina adalah senyawa sederhana yang berasal dari ammonia (NH3) dengan
satu atau lebih atom hydrogen digantikan dengan atom karbon. Penggantian
satu, dua, atau tiga atom hydrogen masing-masing akan menghasilkan amina
primer, aminasekunder, danaminatersier. Asam amino dan alkaloid merupakan
derifat dari amina, namun alkaloid yang mengandung atom hydrogen
hanyaterdapatdalam amino yang melekat dalam cincin benzene (tidak
heterosiklik, oleh karena itu amina alkaloid yang sering dianggap sebagai
alkaloid semu).Prekursor untuk alkaloid amina adalah asam amino aromatic-
fenilalanin, tirosin, dan triptofan (Pengelly, 2004).
a. Ephedrine
Ephedrine memiliki struktur yang sederhana, kerangka aromatic
berasal dari fenilalanin, sementara kelompok metil tambahan (CH3)
berasal dari metionin.Struktur dasar terjadi dibeberapa bentuk isomer,
salah satunya (diastereoisomer) adalah pseudoefedrin (Samuelsson,1992).
Ephedrin berasal dari herbal ephedra (Ma-huang), family
ephedraceae. Digunakan sebagai sumber alkaloid efedrin dan
pseudoefedrin. Spesies ephedra diantaranya Ephedrasinica,
E.equisetinaE.gerardiana, E.intermedia and E.major (pengeliy2004).
Ephedrine mengandungsekitar 0,5-2,0% alkaloid. Dari total
seluruhnya, ephedrine (danisomernya) terbentukdari 30-90% alkaloid yang
juga ada dalam bentuk pseudoefedrin.Bagian akar tanaman juga
mengandung sejumlah alkaloid makrosiklik (ephedradines) dan
feruloyhistamine yang memiliki sifat hipotensi (Evans,2009).
BIOSINTESIS
Ephedrin terbentuk dari penyatuan unit C 6-C 1 dan unit C 2,
kemudian diubah menjadi benzadelhida atau asam benzoate (J.Am. Chem
Soc., 1993, 115,2052) digunakan 13 C-2 dan H sebagai precursor dalam

21
memberi makan dalam percobaan dengan E. gerardiana yang telah
menunjukkan bahwa gabungan asam benzoate gugus CH3CO asam
piruvat untuk membentuk efedrin dengan alkaloid 1 phenylpropan-1,2-
dion dan (S) (-)-2-amino-1-phenylpropan-1-one (cathinone) sebagai
perantara.Rute ini diilustrasikan pada gambar berikut ini . 1 phenylpropan-
1,2-dion dan canthinone adalah konstituen Catha edulis (Evans,2009)
Seluruh bagian tanaman dariEphedra sinica digunakan dalam
pengobatan.Ephedrine merupakan stimulan system saraf pusat atau
simpatomimetikum dan juga potensial menstimulasi reseptor ,1dan 2
adrenergic. Efeknya meliputi fase kontriksi, peningkatan tekanan darah
dan denyut nadi, bronkodilatasi, dan diuresis.Dalam penggunaan
berlebihan akan menyebabkan insomnia, takikardi, dan pusing. Dalam
pengobatan herbal ephreda digunakan dalam pengobatan asma dan alergi,
ephedra juga dapat menyembuhkan bronkkhitis, efisema, rhinitis serta
masuk angina dan flu (pengelly, 2004).

b. Colcichine
Merupakan alkaloid toksikdankarsinogenik yang diperoleh dari
ekstrak tumbuhan Colchicum autumnale Famili Liliaceae dan beberapa
anggota family coclchicaceaelainnya, seperti Gloriosasuperba.
Rumuskimianya C22H25NO6.
Biji cholchine adalah biji matang dan kering dari tanaman
Colchicum autumnale bijinya mengandung 0,8% colchine. Colchine
berbentuk serbuk amorf berwarna kuning pucat yang berubah warna
menjadi gelap jika terpapar sinar matahari (Leliqia, dkk, 2006).
BIOSINTESIS
Biosisntesis colchicine melibatkan precursor asam amino
fenilalanindantirosin. Pemberian Colchicum autumnale dengan radioaktif
asam amino, tirosin-2-C14, menyebabkan sebagian masuk kedalam system
cincin colchicine.Induksi penyerapan radioaktiffenilalanin -2- C14 oleh
Colchicum byzantinum (tanaman lain dari family colcicaceace),

22
mengakibatkan sfisiensi penyerapan dengan colchicine ( Leete, 1963).
Percobaan pemberian radio aktif pada colchicum autumnale
mengungkapkan bahwa colchicines dapat disintesis dari (S)-Autumnale.
Jalur boi sintesis terjadi terutama melalui para-parafenolik coupling
reaction yang melibatkan isoandrocymbine. Molekul yang dihasilkan O-
metilase diarahkan oleh S- adenosylmethionine (SAM). Proses oksidase
yaitu pembelahan cincin siklopropana mengarah pada pembentukan cincin
trupolone dikandung oleh N formyldemecolcine.
N formyldemecolcine menghidrolisis kemudian menghasilkan
molekul demecolchine, yang juga berjalan melalui demethyllation
oksidatif yang muncul akhirnya setelah penambahan asetil-koenzime
Akedeacetyl colchicines (Maier, 1997).
Cholchicine berguna sebagai antineuplasmik, stimulant system
saraf pusat, pengobatan asam urat dengan menghambat leukosit dan
mereduksi asam laktat yang dihasilkan leukosit sehingga mengurangi
deposit asam urat, dan colchicines juga digunakan sebagai pengobatan
gout (pengelly,2014). Colchicines meringankan penyakit gout dengan
menekan aksi inflamasi yang muncul akibat serangan leukosit pada
endapan kristal urat pada cairan synovial. Keefektifan colchicines
mengarah pada kemampuannya memodifikasi fungsi polymorphonu
clearneuhophhil (PHN) yang berperan untuk menurunkan respon inflamasi
yang diinduksi Kristal urat tersebut (Melmon, 1992).

c. Mescaline
Diperoleh dari sejenis tumbuhan cactus Lophophorawilliamsi (fam:
Cactaceae) dikenal dengan nama Peyote.
BIOSINTESIS
Disintesis dari tirosin atau fenilalanin terhidroksilasi. Dalam
Lophophorawilliamsi , dopamine mengkonversi menjadi mescaline dalam
jalur biosintesis yang melibatkan Mo-mettilasi dan hidroksilasi
aromatic(Dewick,2009).

23
Tirosin dan fenil alanin berfungsi sebagai precursor metabolism
untuk sintesis mescaline. Tirosin melalui proses dekarboksilasi dengan
tirosin dekarboksilase akan menghasilkan tyramine dan kemudian
menjalani oksidasi pada karbon tiga oleh hydroksilase monophenol atau
menjadi hidroksilase pertama oleh tirosin hidroksilase. Ini membuat
dopamine mengalami metilase oleh catechol-O-methyltransferase
(COMT) oleh S-adenosylmetionin (SAM). Hasil ini kemudian dioksidasi
lagi oleh enzim hidroksilase. Alkohol disubtituen alkil mengalami metilase
fenil di empat karbo oleh guaiakol-O-methyltransferase. Metilase akhir ini
hasil langkah dalam produksi mescaline (Dewick,2009).
Fenil alanin berfungsi sebagai precursor dengan terlebih dahulu
diubah menjadi L-tirosinhidroksilase oleh asam L-amino. Setelah
dikonversi, itu mengikuti jalur yang sama seperti yang dijelaskan diatas
(Dewick,2009).

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Alkaloid adalah sekelompok senyawa yang mengandung nitrogen dalam
bentuk gugus fungsi amin. Pada umunya, alkaloid mencakup senyawa yang
bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Alkaloid tidak
mempunyai tatanama sistematik dan klasifikasi alkaloid dapat berdasarkan
toksonomi, berdasarkan biosintesis, dan berdasarkan klasifikasi kimia.

3.2 Saran
Untuk menyempurnakan makalah ini penulis mengharapkan saran dan
kritiknya dari pembaca yang membangun.karena penulis menyadari bahwa
makalah ini jauh dari kesempurnaan.

25
Daftar Pustaka

Achmad, S.A. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta : Universitas Terbuka

Anonim. 1970. Galenika I-II. HMF ARS-PRAEPARANDI.Bandung.

Anonim. 1982. Card System dan Reaksi Warna. ARSPRAEPARANDI Institut


Teknologi Bandung. Bandung.

Anonim. 2009. Alkaloid. www.dieno.wordpress.com diakses 21 November 2017.

Anonim. Alkaloid : Senyawa Organik Terbanyak di Alam.

Egon Stahl. 1985. Analisis obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Penerbit
ITB. Bandung.

Lenny, Sovia. 2006. Senyawa Flavoida, Fenil Propanoida, Alkaloid. Sumatera :


Universitas Sumatera Utara

Setiawan, Delimarta. 2000. Atlas Tanaman Obat Indonesia. Yogyakarta

Sovia Lenny. 2006. Senyawa Flavonoid, Fenil Propanoida dan Alkaloida.


http://library.usu.ac.id/download/fmipa/06003489.pdf diakses 21 November 2017.

Trevor Robinson. 2000. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit


ITB. Bandung.

www.chem-is-try.org diakses 21 November 2017.

26