Você está na página 1de 4

AKHLAK MULIA NABI DAN MURSYID UNTUK MEWUJUDKAN MASYARAKAT IDEAL (TAJALLI SOSIAL)

(Perspektif Sosiologi)

Pendahuluan

Masyarakat yang ideal diantaranya bisa dipahami sebagai masyarakat yang didalam dinamika
sosialnya penuh kebaikan dan tidak ada kemunkaran (Surat Al-Imron: 110). Dinamika sosial yang
penuh kebaikan disini adalah operasionalisasi unsur-unsur kebudayaan yang sesuai dengan aturan
agama dan negara (Tanbih). Adapun kemunkaran yang dimaksud adalah hal-hal yang sekiranya akan
mendatangkan kemadaratan bagi kehidupan umat manusia (dohir batin), termasuk didalamnya yaitu
penyimpangan atau patologi sosial.

Kehidupan masyarakat yang penuh kebaikan dan tidak ada kemunkaran di dalamnya tersebut,
merupakan dambaan setiap orang. Telah banyak ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu yang
menuangkan pemikiranya untuk mendefinisikan masyarakat ideal tadi dan mencari cara untuk
mewujudkannya. Hal ini terus dilakukan hingga hari ini, baik di berbagai perguruan tinggi maupun di
berbagai instansi-instansi atau lembaga-lembaga yang berkaitan. Tampaknya tidak mudah
mewujudkan hal tersebut, karena hingga kini sulit menemukan adanya masyarakat yang ideal
tersebut. Sehingga pembicaraan tentang hal tersebut masih cukup relevan dan perlu.

Kebaikan Dalam Sistem Sosial Budaya

Dinamika sosial tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Hal ini karena kebudayaan itu sendiri
merupakan hasil dari dinamika sosial. Didalam sistem budaya terdapat unsur-unsur kebudayaan yang
menurut Kluckhohn terdiri dari: bahasa, sistem pengetahuan, sistem tekhnologi, dan peralatan, sistem
kesenian, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, sistem kekerabatan, dan organisasi
kemasyarakatan.

Unsur-unsur kebudayaan tersebut didalam dinamika sosial, opersionalisasinya disebut pula tindakan
sosial. Tindakan sosial ini sangat berpengaruh bagi terwujudnya masyarakat yang ideal. Misalnya,
seluruh tindakan sosial ekonomi dan politik dalam suatu masyarakat penuh dengan nilai kebaikan
(good palnning, good organiting, good actuiting & good controlling), dan atau tidak mengandung
unsur dzalim (merugikan orang lain), maka sangat mungkin masyarakat tersebut akan hidup sesuai
harapannya (ideal). Dengan demikian sangatlah penting menjaga agar tindakan-tindakan sosial itu
selalu baik. Institusi-institusi primordial (terutama agama dan negara) merasa perlu mengatur hal
tersebut, berkaitan dengan fungsi dari agama dan negara itu sendiri.

Kebaikan dalam kehidupan masyarakat sangat bergantung dari kebaikan individu-individunya. Hal ini
seperti kebaikan sebuah bangunan bergantung pada kualitas bahan-bahan materialnya. Ketika ada
sebagian bahan material yang tidak baik, maka bangunan tersebut sangat mungkin tidak akan berdiri
kokoh dalam jangka waktu yang lama. Bahkan bangunan seperti itu bisa mendatangkan perasaan was-
was bagi orang yang mendiaminya, karena ada kekhawatiran bangunan tersebut cepat rusak (roboh).
Begitu juga kualitas masyarakat yang ideal sulit terwujud jika individu-individu pendukungnya tidak
baik. Individu-individu yang baik adalah individu yang memiliki akhlak yang baik. Dengan demikian,
sistem sosial budaya yang dibutuhkan umat manusia adalah sistem sosial budaya yang dibangun atas
dasar akhlak yang baik.
Akhlak yang baik sebagai dasar terwujudnya masyarakat ideal dalam perspektif tarekat diantaranya:

1. Aqidah yang benar dan kokoh (termasuk keyakinan terhadap Mursyid)


2. Senang beribadah
3. Tawakal
4. Suka menolong
5. Takut melanggar larangan Alloh
6. Ridho
7. Syukur
8. Lapang dada
9. Dermawan
10. Menerima apa adanya
11. Rendah hati
12. Bertobat
13. Sabar
14. Tahan menghadapi kesusahan (teguh)
15. Menunjukan
16. Menyempurnakan
17. Berkekalan kepada Alloh
18. Baik budi pekerti
19. Meninggalkan selain Alloh
20. Welas asih
21. Membawa kepada kebaikan
22. Membebaskan kesalahan orang lain
23. Menyayangi sesama makhluk hidup
24. Menyesuaikan diri
25. Inspiratif, inovatif dan kreatif

Suatu masyarakat yang dinamika sosialnya dilandasi dengan akhlak atau sifat-sifat baik seperti diatas,
tampaknya tidak akan sulit untuk menggapai kehidupan masyarakat cageur-bageur (ideal).

Kemunkaran Dalam Sistem Sosial Budaya

Kemunkaran dalam sistem sosial budaya mengandung arti hal-hal yang bisa mendatangkan
kemadaratan ketika tindakan sosial tertentu dilakukan. Dalam perpektif sosiologi, kemunkaran
tersebut bisa disebut sebagai penyimpangan sosial atau patologi sosial. Suatu perilaku disebut
penyimpangan sosial jika perilaku tersebut menyimpang dari nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik
dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian
daripada makhluk sosial. Dan perilaku tersebut termasuk kategori patologi sosial jika bertentangan
dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidariatas
kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal. Secara definitif,
tampaknya substansi penyimpangan sosial dan patologi sosial relatif mirip.

Penyimpangan atau patologi sosial yang hampir selalu ada dalam setiap masyarakat biasanya didasari
oleh sifat-sifat yang tidak baik yang ada dalam diri individu-individu anggota masyarakatnya. Sifat-sifat
yang tidak baik tersebut diantaranya:

1. Suka mencela
2. Menuruti hawa nafsu
3. Menipu
4. Membanggakan diri (ujub)
5. Suka menggunjing
6. Pamer amal (riya)
7. Menganiaya (dzalim)
8. Berbohong
9. Lupa kepada Alloh
10. Kikir
11. Serakah
12. Khianat
13. Bodoh
14. Takabur
15. Pemarah

Dinamika sosial suatu masyarakat yang didasari oleh sifat-sifat tidak baik diatas, tampaknya akan
memicu munculnya berbagai macam persoalan/permasalahan sosial. Seperti permasalahan sosial
yang sekarang banyak dihadapi oleh berbagai negara, yang telah menjadi multi krisis, diantaranya:
krisis ekonomi, krisis politik, krisis energi, krisis pangan, krisis moral, krisis lingkungan, krisis sosial
budaya, dan sebagainya.

Penutup

Ungkapan tentang akhlak yang baik mudah dikemukakan namun sulit dalam merealisasikannya.
Sebaliknya, akhlak/sifat yang tidak baik sangat mudah menjadi bagian dari perilaku keseharian kita.
Dalam konteks ini, Alloh SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan berbagai cara agar
manusia bisa memiliki akhlak yang baik dan terhindar dari akhlak yang buruk. Salah-satunya Alloh SWT
menurunkan contoh (uswatun hasanah) dalam bentuk kenabian agar umat manusia bisa meniru
perilakunya (imitasi). Dalam sosiologi, perilaku sosial mayoitas dipengaruhi oleh proses imitasi ini.
Dengan demikian contoh akhlak mulia dari Nabi sangat penting bagi umat manusia.

Mursyid adalah sosok pewaris Nabi, termasuk dalam akhlaknya. Mursyid ini adalah juga pimpinan
tarekat yang dengan kekuatan ahklak mulianya mendidik para muridnya agar memiliki akhlak yang
yang baik melalui proses takhalli, tahalli dan tajalli. Dalam proses takhalli, melalui berbagai riyadhoh
para muridnya dilatih untuk bisa menghilangkan atau menyembuhkan penyakit-penyakit hati (akhlak
buruk). Selanjutnya, dengan riyadhoh itu juga para murid itu dilatih untuk menghiasi (tahalli) atau
menetapkan ahkhlak baik (mulia) dalam hatinya yang sudah kosong dari sifat-sifat tercela tadi. Jika
kedua proses ini berjalan dengan baik, kemudian para murid akan mendapatkan tajalli yaitu hasil yang
baik dari proses sebelumnya yang berupa penampakan (hakikat) yang dirasakan oleh murid yang telah
menjalankan proses takhalli dan tahalli tadi.

Dalam konteks sosiologi sufi, kehidupan masyarakat yang didambakan oleh seluruh umat manusia,
akan terwujud bila ada Mursyid yang dengan akhlak mulianya membimbing/melatih seluruh individu
anggota masyarakat (murid) menjadi pribadi-pribadi yang berkhlak mulia. Artinya, jika manusia itu
dapat bermursyid dengan baik (mengamalkan ajaran mursyid tersebut dengan baik dan sungguh-
sungguh), maka dia akan menjadi kontributor positif bagi terwujudnya masyarakat yang ideal, yang
secara populer bisa disebut tajalli sosial. Wallohu alam....