Você está na página 1de 15

BAB I

TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP
1.1. Definisi
Diabetes Mellitus merupakan suatu sindrom yang disebabkan oleh ketidakseimbangan
antara persediaan dan penggunaan insulin (Joyce M. Black, Medical Surgical Nursing,
1998, hal 1775).
Diabetes Mellitus adalah sekumpulan penyakit genetik dan gangguan heterogen yang
secara khusus ditandai dengan ketidaknormalan dalam keseimbangan kadar glukosa
yaitu hiperglikemia (Lewis, 2000, Medical Surgical Nursing, 2000, hal 1367).
Ulcus adalah kerusakan bentuk jaringan yang disebabkan karena nekrosis jaringan,
termasuk kehilangan bagian dermis (Luckmann and Sorensens, Medical Surgical
Nursing, hal 1738).

1.2. Klasifikasi
Menurut American Diabetic Association (ADA) tahun 1997.
a. DM Tipe I (IDDM/Insulin Dependent Diabetes Mellitus).
Yaitu diabetes yang tergantung insulin dimana sel-sel b pankreas yang memproduksi
insulin yang dalam keadaan normal dihancurkan oleh suatu proses autoimun, sehingga
glukosa yang harusnya ditangkap oleh sel untuk dimetabolisme tidak dapat masuk
karena tidak ada insulin.
Dapat terjadi pada semua usia, bila terjadi pada anak-anak sering disebut dengan istilah
Juvenille diabetes. DM tipe ini BB klien biasanya turun, klien telah mengalami tanda
dan gejala yang berhubungan dengan insulinopenia (kekurangan insulin) sebelum usia
30 tahun. Biasanya pada pemeriksaan urine akan didapat hasil keton positif terkandung
dalam urine, dan glukosa positif. Klien sangat tergantung pada terapi insulin untuk
dapat tetap hidup, karena bila tidak klien akan sangat beresiko untuk terjadinya
ketoasidosis.

b. DM Tipe II (NIDDM/Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)


Pankreas kurang mampu mensintesa dan melepaskan insulin jumlah sekresi insulin
mencukupi tetapi jumlah yang disekresi tidak seimbang dengan jumlah yang
dibutuhkan, situasi ini menyebabkan produksi insulin menurun. Biasanya diagnosa
ditemukan pada klien usia lebih dari 30 tahun, kadar dengan obesitas, pada kasus DM
tipe ini umumnya tidak terjadi ketoasidosis. Walaupun tidak tergantung pada tambahan
insulin dari luar, namun klien mungkin memerlukannya untuk mempertahankan kadar
gula darah yang adekuat. Pada kasus ini biasanya terjadi resistensi terhadap kerja insulin
normal, karena interaksi insulin dengan reseptor insulin pada sel kurang efektif,
sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel.

c. Gangguan toleransi glukosa


Kadar glukosa dalam darah lebih tinggi daripada normal tetapi bukan untuk
menegakkan diagnosa DM. Perubahan glukosa dalam 2 hari gula darah > 140 mg/dl dan
< 200 mg/dl.

d. Gangguan glukosa darah puasa


Glukosa darah puasa > 110 mg/dl dan < 126 mg/dl.
e. Gestational DM
Merupakan intoleransi glukosa yang mulai timbul/diketahui sewaktu pasien hamil,
karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon disertai penuh metaboliknya
terhadap toleransi glukosa. Pasien-pasien yang mempunyai predisposisi diabetes
mungkin akan memperlihatkan intoleransi glukosa atau manifestasi klinis diabetes pada
kehamilan.

1.3. Anatomi Fisiologi


Pankreas merupakan salah satu bagian dari sistem endokrin yang terletak di abdomen bagian
tengah dan di belakang lambung, di depan betgrae lumbal pertama (L1), panjangnya kira-
kira 15 cm, lebar 6 cm, mulai dari duodenum sampai limpa, beratnya 60-90 gram terdiri 3
bagian:
Kepala pankreas (kaput) terletak di sebelah kanan abdomen di dalam pada bagian
cekung duodenum.
Badan pankreas (korpus) merupakan bagian utama pankreas yang terletak di belakang
lambung di depan vertebra lumbalis pertama.
Bagian ekor (kauda) merupakan bagian runcing yang terletak di sebelah kiri abdomen
dan menyentuh limpa.
Pankreas merupakan kelenjar kompleks tubulo alveolar, secara keseluruhan pankreas
menyerupai setangkai anggur. Cabang-cabangnya merupakan saluran bermuara pada duktus
pankreaticus utama menjadi ductus koleductus yang diteruskan ke duodenum di bawah
pilorus pancreatus disebut juga sebagai organ lengkap yang mempunyai 2 fungsi yaitu:
Fungsi eksokrin yang mensekresi enzim pancreatin untuk pencernaan
Fungsi endokrin mempunyai 3 jenis sel antara lain:
Sel a (alpha) : mensekresi glukagon untuk meningkatkan glukosa darah.
Sedangkan sel a mengeluarkan glukosa yang bekerja kebalikan dengan insulin.
Glukagon berfungsi meningkatkan pemecahan glikogen menjadi glukosa
(glukogenolisis) dan meningkatkan proses glukoneogenesis.
Sel b (beta) : mensekresi insulin yakni hormon insulin untuk mengatur metabolisme
protein, lemak, karbohidrat dengan cara meningkatkan permeabilitas sel, yang
diberikan dengan suatu reseptor tertentu pada membran sel, sehingga karbohidrat,
protein, dan lemak dapat masuk ke dalam sel.
Sel b langerhans akan mengeluarkan hormon insulin yang berfungsi:
- Menghentikan pemecahan glikogen menjadi glukosa.
- Memacu glukosa masuk ke dalam sel.
- Memacu enzim yang mengubah glukosa menjadi glikoden dan lemak.
Sel D (delta) : mensekresi somastatin dan gastrin.
Pada orang dengan metabolisme normal mampu mempertahankan kadar glukosa darah
antara 70-110 mg/dl. Pada orang non diabetik glukosa dapat meningkat antara 120-140
mg/dl setelah makan. Namun hal ini akan kembali normal dengan cepat. Glukosa yang
lebih akan disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan di otoot. ( Diambil dari: Donna
Ignatavicius,Medical Surgical Nursing )

1.4. Etiologi
a. DM tipe I (Insulin Dependent Diabetes Mellitus/IDDM)
Pada kasus ini : faktor genetik, autoimun dan lingkungan dijadikan sebagai etiologi
utama.
Faktor genetik
Pada pemeriksaan kromosom DNA pasien dengan DM tipe I akan ditemukan
adanya HLA-DR3 dan HLA-DR4, karena HLA merupakan penanda (marker) yang
terdapat dalam tubuh apakah seseorang mempunyai penyakit keturunan yang
dibawa/tidak.
Faktor autoimun
Terjadi respon abnormal antibodi yang terjadi pada sel-sel pankreas dimana tubuh
mengeluarkan antibodi untuk menyerang sel-sel yang dianggap asing, padahal sel
yang diserang tersebut merupakan sel normal tubuh sendiri.
Faktor lingkungan
Virus yang menyerang pankreas dapat mengakibatkan pankreas tidak mampu untuk
menjalankan tugasnya.
b. DM Tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus/NIDDM)
- Usia
- Obesitas
- Kurang aktivitas
- Gaya hidup
- Stress

1.5. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel beta pada pulau langerhans di
pankreas. DM tipe I (IDDM) adalah penyakit autoimun yang ditentukan secara genetik
dengan gejala-gejala yang pada akhirnya menuju pada proses bertahap kerusakan. Gejala
kerusakan imunologik sel-sel yang memproduksi insulin yaitu kerusakan sel langerhans
sehingga terjadi penurunan sekresi/defisiensi insulin sehingga metabolisme insulin menjadi
terganggu. Dan pada DM tipe II (NIDDM) disebabkan oleh faktor genetik, obesitas, stres,
faktor lingkungan, gaya hidup dan kurang aktivitas, hal ini dapat menyebabkan resistensi
insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga terjadilah hiperglikemia.
Keadaan hiperglikemia menyebutkan tekanan ekstrasel meningkat, peningkatan
tekanan ini menyebutkan cairan dari intrasel ditarik ke dalam dan gangguan reabsorbsi pada
ginjal sehingga kemampuan reabsorbsi melebihi batas ambang ginjal (yang normalnya
adalah 125 ml/menit atau 180 liter/hari) dan akan tampak glukosuria, glukosa yang
berlebihan diekskresikan ke dalam urine yang disertai dengan pengeluaran cairan dan
elektrolit yang berlebihan, hal ini disebut diuresis osmotik oleh karena itu maka penderita
akan merasa haus (polidipsi), dan banyak kencing (poliuria). Akibat fatal dari diuresis
osmotik yaitu terjadi dehidrasi yang berlanjut dengan hipovolemik syok. Bila sudah terjadi
dehidrasi akan timbul gejala antara lain kekurangan volume cairan, peningkatan suhu tubuh
dan gangguan elektrolit. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kejang, koma dan
berakhir dengan kematian.
Karena sudah tidak menerima glukosa menyebabkan sel menjadi lapar dan terjadi
poliphagia (banyak makan). Hal ini akan tetap berlangsung sampai jumlah insulin yang
tersedia adekuat untuk membawa glukosa ke dalam sel. Saat sel tidak bisa mengambil
glukosa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi, cara lain yang dilakukan untuk
menghasilkan energi salah satunya adalah dengan glikoneogenesis dengan mengoksidasi
lemak. Dan pemecahan lemak ini sendiri pun tidak sempurna ditandai dengan mual, muntah,
BB menurun, nyeri abdomen dan nafas bau aseton. Akibat dari pemecahan tidak sempurna
maka asam lemak masuk ke dalam hati dan terjadi pembentukan badan keton yang
mengganggu keseimbangan asam. Selanjutnya terjadi ketoasidosis yang menyebabkan
koma, mengantuk, hiperventilasi yang merupakan usaha tubuh untuk mengatasi asidosis
metabolik.
Pemecahan lemak akan menyebabkan peningkatan asam lemak bebas dan dapat
menimbulkan aterosklerosis yang memvasokonstriksi pembuluh darah yang membuat
tahanan perifer meningkat, akhirnya terjadi peningkatan TD.
Aterosklerosis menyebabkan aliran darah ke seluruh tubuh terganggu, pada organ
ginjal akan terlihat adanya proteinuria, hipertensi dapat mencetuskan hilangnya fungsi nefrin
dan terjadi insufisiensi dengan akibat yang timbul berupa penyakit serebrovaskular,
hipertensi, penyakit arteri koroner dan penyakit-penyakit vaskuler perifer. Aterosklerosis ini
pun menyebabkan kerusakan pada pembuluh-pembuluh darah kapiler sehingga
mengakibatkan perubahan-perubahan: nefropati, retinodiabetik neuropati sehingga terjadi
perubahan pada ekstremitas bawah yang disebabkan oleh hilangnya fungsi saraf sensori.
Akibat lain yaitu lamanya penyembuhan luka karena kurangnya sirkulasi oksigen dan
ketidakmampuan fagositosis dari leukosit yang mengakibatkan gangren.

1.6. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang khas dari Diabetes Mellitus antara lain:
a. Polidipsi: cenderung merasa haus.
b. Poliuria: frekuensi dan jumlah kencing berlebihan terutama pada malam hari.
c. Poliphagia: makan yang sering dan banyak
Tanda gejala yang lain adalah:
a. Kelelahan, kelemahan
b. Kesemutan, baal
c. Penurunan BB, mual, muntah
d. Kelainan kulit, gatal-gatal
e. Luka sukar sembuh
f. Pandangan kabur
g. Infeksi kulit.

1.7. Test Diagnostik


Pemeriksaan laboratorium :
a. Darah
Jenis-jenis pemeriksaan gula darah, yaitu:
- GDS (Gula darah sewaktu)
- NPP (Nuchter Post Prandial), gula darah diperiksa 2 kali yaitu: sebelum dan
sesudah dua jam setelah makan dengan tujuan menegakkan diagnosa dan dilakukan
pada klien yang sama sekali belum diketahui adanya penyakit DM.
- KH (Kurve harian), gula darah diperiksa sebanyak 3 kali yaitu sebelum makan jam
11.00 dan jam 16.00 yang dilakukan secara periodik.
- GTT (Glukosa Toleransi Test), sebelum pemeriksaan dilakukan klien
melaksanakan diet 150 gram karbohidrat perhari selama 3 hari. Jika GDS rendah,
kemudian klien diberi minuman yang mengandung glukosa sebanyak 75 gram dan
2 jam kemudian darah diambil. Seseorang didiagnosa DM bila hasilnya > 200
mg/ul.
- Serum glukosa, bisa meningkat
- Keton plasma, biasanya (+)
- Elektrolit: sodium bisa naik atau normal, potasium normal/turun, phospor biasanya
turun.
- AGD: terdapat asidosis metabolik yang dikompensasikan dengan nafas cepat
(asidosis respiratori).
- Hb dan HT meningkat karena diuresis dan dehidrasi.
b. Pemeriksaan urine
- Ketonurine: adanya keton dalam urine merupakan indikasi adanya ketoasidosis.
- Test fungsi ginjal: adanya protein dalam urine merupakan indikasi terjadi
perubahan mikrovaskuler pada ginjal.
- Natrium dan kalium menurun karena diuresis.

1.8. Komplikasi
a. Komplikasi akut
Ketoasidosis diabetika
- Pernafasan kusmaul (cepat dan dalam)
- Penurunan tingkat kesadaran
- Pernafasan bau aseton
Hipoglikemi : berkeringat, gemetar, sakit kepala, palpitasi
Hiperglikemia

b. Komplikasi kronik
Mikroangiopati/mikrovaskuler
- Neuropati
Sering terjadi sebagai komplikasi dari diabetes, terjadi karena jaringan sudah
tidak mendapat suplai darah yang memadai, jaringan sudah tidak mendapat
difusi nutrisi dan oksigen. Ketika akson dan dendrit tidak mendapatkan
makanan, maka transmisi dari rangsang melambat. Pada penderita Diabetes
Mellitus dapat mengalami neuropati yang mempengaruhi sistem saraf otonom
dan perifer.
Pada keadaan ini terjadi gastroparesis yaitu motilitas pencernaan yang lambat
sehingga klien merasa penuh pada perut, kembung, diare, inkontinensia dan
impotensi pada laki-laki.
- Nefropati
Salah satu akibat dari mikroangiopati ini adalah terjadinya kerusakan dari
glomerulus ginjal. Kerusakan dari glomerulus ini mengakibatkan perubahan
patologis yang kompleks. Adanya protein dalam urine merupakan indikasi
awal adanya penyakit pada ginjal.
- Retinopati
Retina adalah salah satu struktur esensial dalam mata, mempunyai kebutuhan
oksigen yang tinggi dari jaringan lain dalam tubuh, jika retina mengalami
gangguan aliran darah dan oksigen maka dapat menyebabkan kerusakan pada
retina. Katarak juga dapat terjadi yang disebabkan oleh adanya hiperglikemi
yang berkepanjangan yang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan
lensa.
Makrovaskuler
- Penyakit arteri koroner
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh arteri koroner menyebabkan
peningkatan insiden infark miokard pada penderita diabetes. Pada penyakit
diabetes terdapat peningkatan kecenderungan untuk mengalami komplikasi
akibat infark miokard dan kecenderungan untuk mendapatkan serangan infark
yang kedua. Salah satu ciri unik pada penyakit arteri koroner yang diderita oleh
pasien-pasien diabetes adalah tidak terdapatnya gejala iskemik yang khas.
- Penyakit serebrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah serebral atau pembentukan
embolus di tempat lain dalam sistem pembuluh darah sehingga terjepit dalam
pembuluh darah serebral dapat menimbulkan iskemia sepintas (TIA =
Transient Ischemic Attack) dan stroke. Penyakit serebrovaskuler pada pasien
diabetes.
- Penyakit vaskuler perifer
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar pada ekstremitas bawah
merupakan penyebab meningkatnya insiden (dua atau tiga kali lebih tinggi
dibandingkan pada pasien-pasien non diabetes) penyakit oklusif arteri perifer
pada pasien-pasien diabetes. Tanda-tanda dan gejala penyakit vaskuler perifer
dapat mencakup berkurangnya denyut nadi perifer dan klandikasio (nyeri pada
pantat atau betis ketika berjalan).
- Perubahan ekstremitas bawah
Perubahan-perubahan makrovaskuler dan neuropati semuanya menyebabkan
perubahan-perubahan pada ekstremitas bawah. Perubahan yang terjadi karena
hilangnya fungsi saraf-saraf sensorik. Keadaan ini berperan dalam terjadinya
trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang dapat menyebabkan
gangren.

1.9. Penatalaksanaan Medik


a. Aktivitas dan latihan yang berfungsi
- Menurunkan kadar gula dalam darah akibat metabolisme yang meningkat.
- Menurunkan B dan mempertahankan BB dalam keadaan normal.
- Mempermudah transportasi glukosa untuk masuk ke dalam sel.
Yang perlu diperhatikan saat melakukan aktivitas latihan yaitu:
- Jangan berolah raga bila kadar gula darah rendah.
- Jangan menggunakan sepatu yang sempit
b. Diit
- Ditujukan untuk pengaturan jumlah kalori dan karbohidrat yang dimakan setiap
hari, jumlah kalori yang dianjurkan tergantung pada kebutuhan tubuh untuk
mempertahankan, mengurangi atau mencegah obesitas atau menambah glukosa.
- Menjaga BB yang wajar/stabil
c. Obat
- Insulin: pemberian dosis insulin bervariasi sesuai dengan tinggi rendahnya gula
darah, kebutuhan insulin biasanya meningkat pada klien yang mengalami penyakit
serius, mendapat injeksi.
- Obat antidiabetik oral: tablet diabetikum (obat golongan sulfonilerea, biquonid)
tidak dapat dipakai pada klien dengan IDDM.
II. Konsep Asuhan Keperawatan
1.1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.
Tipe I :
- Riwayat keluarga penderita DM
- BB menurun
- Gejala pertama kali muncul
- Biasanya terjadi pada usia < 30 tahun
Tipe II:
- Riwayat keluarga penderita DM
- Kemungkinan obesitas
- Gejala yang muncul secara bertahap
- Terjadi pada usia > 30 tahun

b. Pola nutrisi metabolik


Tipe I :
- Polidipsi, polipagia, nausea
- Perut tegang, bising usus berkurang
- BB menurun
Tipe II:
- Polidipsi, polipagia
- Riwayat diet TKTP
- Luka sulit sembuh, infeksi kulit

c. Pola eliminasi
Tipe I :
- Poliuria
- Dapat terjadi konstipasi/diare
- Iritasi perineum
Tipe II:
- Poliuria
- Konstipasi/diare
- Riwayat penggunaan obat diuretik
- Infeksi vagina, infeksi kulit

d. Pola aktivitas dan latihan


Tipe I :
- Keluhan lemas, cepat lelah
- Riwayat latihan fisik tidak teratur
- Tachicardia, pingsan
Tipe II:
- Keluhan lemas bertahap dan cepat lelah
- Riwayat latihan fisik tidak teratur

e. Pola tidur dan istirahat


Tipe I dan tipe II: Gangguan tidur karena nocturia.

f. Pola persepsi dan kognitif


Tipe I :
Pusing, hipotensi
Tipe II:
- Mengeluh gatal, akut UTI berulang, vaginitis berulang
- Penglihatan kabur
- Kram otot, kesemutan, nyeri abdomen

g. Pola persepsi dan konsep diri


Tipe I dan II:
- Gangguan harga diri
- Gangguan peran

h. Pola persen dan hubungan dengan sesama


- Menjalin hubungan dengan sesama di lignkungan.

i. Pola reproduksi dan seksualitas


- Impotensi, infeksi vagina
- Libido menurun

j. Pola mekanisme
- Depresi
- Stres

k. Pola nilai dan kepercayaan


- Ketekunan dalam beragama

1.2. Diagnosa Keperawatan


a. Pre Operasi
Hiperglikemi berhubungan dengan ketidakadekuatan insulin.
Kurang volume dan cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakadekuatan insulin, penurunan intake, mual, muntah.
Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah.
Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan, adanya ulkus, prosedur
operasi dan kehilangan organ tubuh.
Risti perubahan perfusi jaringan sistemik berhubungan dengan peningkatan
tahanan pembuluh darah perifer, aterosklerosis.
Risti perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran
darah serebral yang disebabkan adanya aterosklerosis.

b. Post Operasi
Risti hipoglikemi/hiperglikemi berhubungan dengan ketidakadekuatan insulin.
Nyeri berhubungan dengan adanya ulkus.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya ulkus.
Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan badan lemas, pusing, adanya ulkus.
Risti terhadap infeksi berhubungan dengan adanya ulkus, glukosa darah yang
tinggi.
Ketidakefektifan regimen terapeutik tentang proses penyakit, pencegahan,
pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.

1.3. Rencana Keperawatan


1.3.1. Pre Operasi
a. DP.1. Hiperglikemi berhubungan dengan ketidakadekuatan insulin.
Hasil yang diharapkan :
- Tidak terjadi hipoglikemi/hiperglikemi.
- Kadar gula darah dalam batas normal (GDS < 140).
Intervensi :
Amati dan kaji tanda dan gejala hipo/hiperglikemi: pucat, keringat dingin,
sakit kepala, gemetaran.
Rasional : Reaksi insulin dapat terjadi secara tiba-tiba yaitu
hipo/hiperglikemi yang dapat berakibat fatal.
Kaji membran mukosa yang kering, turgor kulit dan nyeri abdomen.
Rasional : Hiperglikemi akan menyebabkan dehidrasi karena
hiperosmolar.
Monitor tingkat glukosa, kadar aseton dalam urine dan catat berat jenis
urine setiap hari.
Rasional : Untuk memonitor respon tubuh pasien.
Beri dan pertahankan pemberian cairan melalui IV.
Rasional : Cairan sebagai pengganti untuk mencegah peningkatan lebih
lanjut kadar glukosa darah dan mengganti sodium pada ketoasidosis.
Beri terapi medik sesuai program (insulin atau terapi oral).
Rasional : Insulin akan meningkat pada sel yang menyebabkan penurunan
glukoneogenesis.
Kolaborasi cek gula darah setiap pemberian insulin atau pada waktu sudah
ditentukan.
Rasional : Sebagai data/indikasi pemberian terapi.

b. DP.2. Kurang volume dan cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
Hasil yang diharapkan :
- Hidrasi yang memadai yang ditandai dengan TTV stabil, turgor kulit baik,
elastis, mukosa lembab.
Intervensi :
Monitor tanda-tanda vital, perhatikan perubahan tekanan darah ostostatik.
Rasional : Hipovolemik dapat diajukan dengan hipotensi dan takikardia.
Kaji membran kulit/membran mukosa dan pengisian kapiler.
Rasional : Mengetahui hidrasi dan sirkulasi tubuh yang adekuat.
Kaji riwayat yang berhubungan dengan urine yang berlebihan.
Rasional : Menilai seluruh kekurangan volume dan gejala.
Monitor dan catat intake dan output, cek keton dalam urine.
Rasional : Untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan di dalam tubuh.
Pertahankan pemasukan cairan 2,5-3 liter/hari.
Rasional : Memenuhi status cairan dalam tubuh.
Kolaborasi dengan tim medik, pemeriksaan serum elektrolit dan terapi
cairan intravena.
Rasional : Mengidentifikasi adanya kekurangan elektrolit dan sebagai
pemenuhan cairan yang keluar, mencegah terjadinya dehidrasi.

c. DP.3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakadekuatan insulin, penurunan intake, mual, muntah.
Hasil yang diharapkan :
- Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
- BB dalam batas normal, kebutuhan kalori terpenuhi, hasil gula darah
dalam batas normal.
Intervensi :
Kaji pola makan (program diet yang dijalankan).
Rasional : Menentukan tindakan selanjutnya,
Timbang BB setiap 1 minggu sekali.
Rasional : Mengetahui jumlah nutrisi yang baik.
Pantau kadar gula darah.
Rasional : Mengetahui tanda dini dan menghindari hipo/ hiperglikemi.
Kaji dan catat keluhan mual klien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat nafsu makan klien.
Kolabroasi dengan dokter untuk pemberian terapi insulin.
Rasional : Untuk menurunkan kadar gula darah.
Kolaborasi dengan ahli gizi.
Rasional : Bermanfaat dalam penghitungan dan penyesuaian diit untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi.

d. DP.4. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.


Hasil yang diharapkan :
- Klien dapat beraktivitas kembali secara mandiri.
Intervensi :
Kaji tanda-tanda vital: TD, N, P, sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas.
Rasional : Mengidentifikasi tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara
fisiologis.
Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas daily living sesuai kemampuan.
Rasional : Meningkatkan harga diri positif.
Bantu klien dalam pemenuhan ADL-nya dan dekatkan alat yang
diperlukan oleh klien.
Rasional : ADL terpenuhi.
Tingkatkan partisipasi klien dalam melakukan aktivitas sesuai dengan
yang ditoleransi.
Rasional : Tingkatkan partisipasi klien dalam melakukan aktivitas sesuai
dengan yang ditoleransi.

e. DP.5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan


sirkulasi darah.
Hasil yang diharapkan :
- Tidak terjadi kerusakan integritas lebih lanjut ditandai dengan tidak ada
tanda-tanda infeksi dalam waktu 1 minggu.
- Tidak terjadi perlukaan baru.
Intervensi :
Kaji kondisi kulit setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan kulit
(kering/pecah).
Kaki dibersihkan dengan air hangat dan sabun yang bersih.
Rasional : Melancarkan sirkulasi dan mematikan kuman yang ada di kaki.
Keringkan kaki khususnya di sela jari, olesi lotion pada seluruh kaki
kecuali di sela jari.
Rasional : Mencegah terjadinya kekeringan di kulit.
Letakkan bantal di bawah betis sehingga kedua tumit dapat terangkat.
Rasional : Mencegah terjadinya penekanan pada tumit.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat luka bila ada.
Rasional : Mempercepat penyembuhan.
f. DP.6. Kecemasan berhubungan dengan kondisi kesehatan, adanya gangren,
prosedur operasi dan kehilangan anggota badan.
Hasil yang diharapkan :
- Klien tampak rileks dan dapat mengungkapkan perasaannya.
Intervensi:
Catat perilaku cenderung tidur, mudah tersinggung, menolak, kontak mata
berkurang, suka menuntut.
Rasional : Indikator tingkat kecemasan/stres.
Ciptakan suasana yang tenang dan lingkungan yang mendukung untuk
istirahat.
Rasional : Mengurangi stressor baru dan mengurangi kecemasan.
Tunjukkan sikap tenang.
Rasional : Dukungan yang adekuat membantu klien merasa lepas dari stres
sehingga menunjukkan proses pemulihan.
Kolaborasi dengan medik dengan pemberian sedative.
Rasional : Menurunkan kecemasan.

g. DP.7. Risti perubahan perfusi jaringan sistemik berhubungan dengan


peningkatan tahanan pembuluh darah perifer, aterosklerosis.
Hasil yang diharapkan :
- TD dan nadi dalam batas normal, TD: 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt.
- Akral hangat dan warna kulit normal.
- Pernafasan 12-20 x/menit.
- Waktu kapiler refill kurang dari 3 detik.
Intervensi:
Monitor TTV: TD, N, P, HR, gelisah, bingung, pucat, sianosis.
Rasional : Sebagai indikator awal terjadinya penurunan perfusi jaringan
sistematik.
Ukur intake dan output, lapor bila urin < 30 cc perjam.
Rasional : Penurunan urin menandai adanya penurunan perfusi jaringan.
Anjurkan klien untuk tirah baring dan jelaskan pada klien manfaat dan
pentingnya tirah baring.
Rasional : Mempertahankan perfusi jaringan dengan baik.
Berikan posisi semifowler.
Rasional : Pemenuhan O2 yang adekuat.
Pantau data laboratorium, contoh: AGD, BUN, kreatinin.
Rasional : Indikator perfusi/fungsi organ.
Berikan posisi semifowler.
Rasional : Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.

h. DP.8. Risti perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan


aliran darah serebral yang disebabkan adanya aterosklerosis.
Hasil yang diharapkan :
- Tekanan darah dalam batas normal 120/80 mmHg.
- Perfusi jaringan serebral adekuat.
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P).
Rasional : Hipertensi dapat menjadi faktor pencetus dan perubahan
tekanan darah.
Kaji peningkatan tekanan intrakranial dan kepatenan jalan nafas.
Rasional : Mengidentifikasi kondisi pasien dan menunjukkan perubahan.
Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap
cahaya.
Rasional : Ukuran dan kecemasan pupil ditentukan oleh keseimbangan
antara persyarafan simpatis dan parasimpatis. Respon terhadap refleks
cahaya mengkoordinasikan fungsi dan kranial optikus dan okulomatorius.
Catat perubahan dalam penglihatan seperti adanya gangguan lapang
pandang.
Rasional : Gangguan lapang pandang yang spesifik mencerminkan daerah
otak yang terkena.
Cegah adanya/terjadinya mengejan.
Rasional : Valsava manuver dapat meningkatkan TIK dan memperberat
risiko perdarahan.
Pertahankan tirah baring, ciptakan lingkungan tenang.
Rasional : Aktivitas yang kontinu dapat meningkatkan TIK.
Berikan obat/terapi sesuai program medik: antikoagulan, vasodilator,
antihipertensi.
Rasional : Meningkatkan aliran darah serebral yang selanjutnya dapat
mencegah emboli dan trombus.

1.3.2. Post Operasi


a. DP.1. Risti hipoglikemi/hiperglikemi berhubungan dengan ketidakadekuatan
insulin.
Hasil yang diharapkan :
- Tidak terjadi hipoglikemi/hiperglikemi.
- Kadar gula darah dalam batas normal (GDS < 140).
Intervensi :
Observasi dan kaji tanda hipo/hiperglikemia, hipoglikemi: pucat, keringat
dingin, gemetaran, palpitasi; hiperglikemi: poliuri, polidipsi, poliphagia,
penglihatan kabur, pusing.
Rasional : Reaksi insulin dapat terjadi secara tiba-tiba yaitu:
hipo/hiperglikemi yang dapat berakibat fatal.
Kaji membran mukosa yang kering, turgor kulit.
Rasional : Hiperglikemi akan menyebabkan dehidrasi karena
hiperosmolar.
Monitor tingkat glukosa, kadar aseton dalam urine dan catat berat jenis
urine setiap hari.
Rasional : Untuk memonitor respon tubuh klien.
Beri dan pertahankan pemberian cairan melalui IV.
Rasional : Cairan sebagai pengganti untuk mencegah peningkatan lebih
lanjut kadar glukosa darah dan mengganti sodium pada ketoasidosis.
Beri terapi medik sesuai program (insulin atau terapi oral).
Rasional : Insulin akan meningkat pada sel yang menyebabkan penurunan
glukoneogenesis.
Lakukan cek gula darah sesuai pesanan medik.
Rasional : Sebagai data/indikasi pemberian terapi.

b. DP.2. Nyeri berhubungan dengan adanya ulkus.


Hasil yang diharapkan :
- Klien dapat mengontrol nyeri atau nyeri berkurang ditandai dengan
menunjukan keadaan rileks dan dapat tidur serta istirahat dengan tenang,
dalam waktu 4 hari.
Intervensi :
Kaji keluhan nyeri, lokasi, frekuensi serta intensitas nyeri klien.
Rasional : Memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan.
Anjurkan klien untuk menginformasikan rasa nyeri.
Rasional : Untuk keperluan dalam pemberian analgesik.
Perhatikan kembali hal-hal yang memberatkan atau meningkatkan nyeri.
Rasional : Menentukan faktor-faktor pencetus atau meningkatkan rasa
nyeri.
Beri posisi yang nyaman bagi klien dan anjurkan klien untuk tarik nafas
dalam bila nyeri muncul.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri.
Beri obat analgesik sesuai dengan pesanan.
Rasional : Mengurangi rasa nyeri.

c. DP.3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya ulkus, sirkulasi


tidak adekuat.
Hasil yang diharapkan :
- Kerusakan integritas kulit tidak menimbulkan infeksi ditandai dengan
tidak ada tanda infeksi dalam waktu 1 minggu.
Intervensi :
Kaji keadaan luka setiap hari.
Rasional : Mengetahui adanya perbaikan pada luka gangren.
Rawat luka dengan menggunakan teknik aseptik.
Rasional : Membantu proses penyembuhan luka gangren.
Letakkan bantal di atas betis klien sehingga kedua tumit dapat terangkat.
Rasional : Mencegah terjadinya penekanan pada tumit dan membantu
melancarkan sirkulasi darah.
Anjurkan klien untuk tidak terlalu banyak menggerakkan kaki yang ada
luka.
Rasional : Mencegah terjadinya cedera pada luka.
Beri obat untuk luka sesuai dengan pesanan medik.
Rasional : Membantu proses sirkulasi ke daerah luka sehingga
mempercepat penyembuhan luka.

d. DP.4. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan badan lemas, adanya ulkus.


Hasil yang diharapkan :
Klien dapat beraktivitas secara mandiri dalam waktu 4 hari ditandai dengan:
- Klien dapat melakukan aktivitas (ADL) secara mandiri.
- Klien tidak lemah.
Intervensi :
Kaji tanda-tanda vital : TD, N, P, sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas.
Rasional : Mengetahui kondisi klien sehingga dapat mencegah terjadinya
kelelahan yang berlebihan.
Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan aktivitas dan dekatkan alat-alat
yang dibutuhkan klien.
Rasional : Membantu klien dalam mencegah terjadinya kelelahan.
Dorong klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap seperti makan
sendiri, minum sendiri.
Rasional : Mengidentifikasi tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas.
Anjurkan klien untuk berhenti melakukan aktivitas bila merasa lemas dan
anjurkan klien untuk beristirahat.
Rasional: Mencegah kelelahan yang berlebihan.
Anjurkan klien untuk menghabiskan makanan yang dihidangkan.
Rasional: Mencegah hipoglikemi dan meningkatkan kekuatan.

e. DP.5. Risti infeksi berhubungan dengan tingginya glukosa darah, sirkulasi ke


perifer kurang, adanya gangren.
Hasil yang diharapkan :
- Klien tidak menunjukkan gejala infeksi yang ditandai dengan: suhu normal
(36-37oC), kultur darah negatif, leukosit < 11.000 UL.
Intervensi :
Observasi tanda-tanda infeksi: demam, nyeri dan kemerahan.
Rasional : Membantu menentukan tindakan selanjutnya.
Observasi keadaan kuli (gatal dan baal).
Rasional : Mengamati keadaan dan tindakan selanjutnya.
Rawat luka dengan menggunakan teknik aseptik.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
Lakukan perawatan kulit, massage daerah yang tertekan.
Rasional : Sirkulasi perifer yang kurang dapat mengakibatkan infeksi pada
kulit.
Beri lotion pada kulit.
Rasional : Mengurangi kekeringan pada kulit dan memberi kelembaban.
Anjurkan klien untuk membersihkan alat kelamin.
Rasional : Mencegah terjadinya UTI.

f. DP.6. Ketidakefektifan regimen terapeutik tentang proses penyakit,


pencegahan, pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.
Hasil yang diharapkan :
- Pengetahuan klien meningkat dalam waktu 2 hari dengan kriteria klien
dapat menjelaskan kembali tentang perawatan luka operasi, dan
pencegahan-pencegahan yang harus dilakukan.
Intervensi :
Beri penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Rasional : Bahasa yang mudah dimengerti membantu dalam pemahaman
klien.
Jelaskan pada klien tentang perawatan luka.
Rasional : Meningkatkan pengetahuan/pemahaman klien tentang
perawatan luka.
Jelaskan pada klien pentingnya pengobatan yang teratur.
Rasional : Mencegah terjadinya hipo/hiperglikemia.
Tekankan pentingnya aktivitas dan latihan.
Rasional : Latihan menstimulasi metabolisme karbohidrat, menstabilkan
berat badan.
Jelaskan pada klien pentingnya melakukan perawatan kaki yang baik.
Rasional : Menambah pengetahuan klien dan mencegah timbulnya luka
baru.
Jelaskan pada klien tentang diit dan pentingnya mematuhi diit ang
ditentukan.
Rasional : Mematuhi diit perlu untuk mencegah terjadinya
hipo/hiperglikemi.
Libatkan keluarga dalam perencanaan dan pengelolaan perawatan luka.
Rasional : Supaya perawatan di rumah dapat dilakukan lebih efektif dan
dilakukan secara mandiri oleh keluarga dan klien.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian informasi kepada klien dan
keluarga.
Rasional : Menambah pengetahuan klien dan keluarga.

1.4. Perencanaan Pulang


a. Motivasi pasien untuk mematuhi diit yang sudah ditetapkan yakni rendah glukosa,
rendah lemak, dan tinggi serat sebagai cara efektif untuk mengendalikan lemak darah,
gula darah dan kolesterol.
b. Menjelaskan tanda-tanda hipoglikemi (gula darah turun) seperti: mengantuk, bingung,
lemas, keringat dingin. Tanda-tanda hiperglikemi: sering BAK, merasa haus, sering
lapar, pandangan kabur.
c. Menganjurkan pasien untuk mengikuti latihan (olah raga seperti: jalan santai,
bersepeda), dapat menurunkan kadar gula darah dan mengurangi faktor resiko
kardiovaskuler.
d. Menganjurkan untuk mempertahankan BB klien.
e. Menganjurkan kontrol gula darah dan tekanan darah pasien.
f. Menjelaskan jangan menghentikan terapi obat tanpa konsultasi dengan dokter.
g. Menganjurkan untuk minum obat secara teratur.
h. Informasikan kepada klien tentang perawatan kaki :
Anjurkan klien untuk membersihkan kaki dengan sabun terutama di sela-sela jari
setiap hari.
Potong kuku jari kaki mengikuti lengkungan jari, jangan memotong kuku
berbentuk lurus pada tepinya karena dapat menyebabkan tekanan pada jari-jari
yang berdekatan.
Hati-hati saat mengikir tepi kuku yang besar untuk mencegah kerusakan kuku.
Hindari merendam kaki berlama-lama, merendam dengan air panas.
Gunakan pelembab untuk kulit yang kering.
Pakai kaos kaki yang terbuat dari bahan yang berkualitas baik.
Hindari menyilangkan kaki saat duduk.
Anjurkan klien untuk melakukan latihan kaki untuk mempertahankan sirkulasi.
i. Informasikan kepada klien mengenai alas kaki.
Hindari berjalan tanpa alas kaki.
Anjurkan klien untuk memakai sepatu yang pas, tidak sempit.
Periksa sepatu setiap hari dari benda asing, bagian yang kasar.
Hindari memakai kaos kaki yang sempit.
Ganti sepatu bila sudah rusak.
Gunakan sepatu yang terbuat dari bahan yang menyerap.