Você está na página 1de 3

Permasalahan yang Terjadi di Labuan Bajo

Sebagai salah satu tempat wisata yang diunggulkan oleh Kabupaten Flores, Labuan Bajo
mengalami perkembangan yang pesat dari segi pengunjung. Terutama beberapa tahun terakhir
ini, pemerintah mulai gencar dalam mempromosikan tempat wisata di Indonesia. Dengan
keunggulan sebagai kota pesisir dengan pantai timurnya yang indah-bebas pencemaran dan hiruk
pikuk kota- Labuan Bajo menawarkan sensasi liburan yang sempurna. Namun, semakin banyak
manusia yang berkunjung di suatu kota maka makin meningkat pula resiko pencemarannya.
Seperti yang terjadi di Labuan Bajo, pencemaran akibat sampah mulai terjadi. Banyaknya
wisatawan yang tidak bertanggung jawab terhadap sampahnya membuat pesona dari Labuan
Bajo ini tercoreng. Seperti yang dilansir dalam kupang.tribunnews.com Kepala Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mabar, Rafael Arhat, saat sosialisasi tentang lingkungan
hidup di Aula Hotel Pelangi-Labuan Bajo, Kamis (27/8/2009), mengatakan, dengan adanya
pemahaman akan sampah, masyarakat diharapkan dapat merumuskan dan mengaktualisasi
berbagai tindakan untuk menjaga lingkungan hidup. Arhat menyatakan, meskipun wilayah
Labuan Bajo relatif kecil dibandingkan kota lainnya, namun permasalahan sampah sudah sangat
mengkhawatirkan. Karena itu, masyarakat perlu diberi penyadaran tentang pentingnya hidup
sehat dan bersih. "Pengolahan sampah masih menerapkan pendekatan lama, yakni kumpul,
angkat dan buang. Perlu ada upaya untuk mengatasi hal ini mengingat Labuan Bajo merupakan
salah satu daerah tujuan wisata, " katanya. Menurut dia, pengolahan sampah dengan cara
mengumpul, angkat dan buang sudah menimbulkan berbagai persoalan. Adanya pencemaran
udara, berbagai penyakit, konflik sosial, dan konfilk tata ruang karena pendekatan sistem yang
selama ini diterapkan. Labuan Bajo, demikian Arhat, perlu dibangun tempat pembuangan akhir
yang layak mengingat beberapa tahun ke depan Mabar potensial sebagai daerah tujuan wisata di
Indonesia pasca masuknya Komodo The New Seven Wonders of Nature. Arhat menjelaskan,
salah satu sampah yang paling ditakutkan wisatawan mancanegara saat ini adalah limbah plastik.
Sampah plastik akan menimbulkan gas dioxin dan furan yang dapat mengganggu pernafasan dan
menyebabkan kanker. Selain itu, plastik juga memberikan kontribusi besar terhadap
permasalahan global. Karena itu, dengan sosialisasi ini, Arhat berharap masyarakat di wilayah
Kota Labuan Bajo lebih paham terhadap dampak negatif yang timbul akibat sampah sehingga
masyarakat bisa menjaga lingkungan dengan serius. Tidak hanya permasalahan sampah saja
yang terjadi di Labuan Bajo, sengketa tanah juga tidak luput dalam konflik. Dikutip dalam
floresa.com, di sekitar kota Labuan Bajo, ada sekitar 264 pulau. Namun belakangan, pengelolaan
pulau-pulau indah itu banyak diserahkan kepada pihak asing. Sekarang, misalnya, berdasarkan
hasil penelitian tim riset Sunspirit for Justice and Peace, harga tanah berkisar Rp 400 ribu
hingga 1 juta per meter persegi. Meskipun sangat mahal, sebagian besar tanah di Labuan Bajo
sudah jatuh ke tangan orang asing. Bagi para investor, harga tanah setinggi langit tak menjadi
masalah. Yang terpenting punya aset untuk menjalankan roda bisnis. Panjang pesisir pantai yang
seluruhnya 30 km di sebelah utara, barat, dan selatan, kini hanya tersisa di sebelah barat, yaitu
Pantai Pede yang panjangnya hanya sekitar 1 km. Itu pun sekarang masih bermasalah karena
hendak diprivatisasi oleh PT Sarana Investama Manggabar (PT SIM), perusahan milik Setya
Novanto. Di pantai itu ada rencana pembangunan hotel, yang sejauh ini didukung oleh Bupati
Mabar Agustinus Ch Dula. Pada tahun 2006, masyarakat heboh karena warga asal Inggris, Ernest
Lewandowsky menguasai Pulau Bidadari. Sekarang privatisasi pulau semakin marak.Pulau
Kanawa misalnya dikelola investor Italia bernama Stefano Plaza pada 2010 dengan nilai
investasi $ 35 juta. Pulau Sebayur yang dikelola warga Italia bernama Ed sejak 2009 dengan nilai
investasi 2,5 juta. Masih banyak juga pulau yang diperjualbelikan secara online. Ada pula
investor asal Belanda yang kini membuka jasa wisata Tirta di Pulau Rinca dan Komodo.
Kemudian ada resor-resor megah yang kini sedang dalam tahap penyelesaian pembangunan,
ditambah dengan puluhan hotel melati, homestay, dan restoran yang tersebar di kota hingga
punggung bukit Waringin. Di luar itu, masih ada banyak tanah yang bersertifikat ganda. Yang
paling potensial dipersoalkan adalah tanah yang berada di sekitar wilayah Pantai Wae Cicu, Batu
Cermin, Bukit Cinta, atau Kawasan Ujung Bandara udara dan Kawasan Menjerite. Menurut
penelitian, Cypri Jean Paju Dale (2013) dalam buku Kuasa, Pembangunan, dan Pemiskinan
Sistemik, semua transaksi tersebut tidak berjalan tanpa sepengetahuan pemerintah lokal.
Sebaliknya, semua itu berjalan karena dipermudah oleh berbagai transaksi di belakang layar
dengan pemerintah lokal. ariwisata dengan demikian merupakan cerita kemenangan korporasi
dan para investor. Sementara bagi masyarakat setempat, mereka terpinggirkan dan tak mampu
bersaing. Buktinya, sampai pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin di Labuan Bajo tergolong
paling besar di NTT. Jumlah orang miskin mencapai 234.235 jiwa. Dengan kata lain, keberadaan
pariwisata tidak serta-merta mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat lokal. Potret
buram itu terlihat ketika hasil pertanian masyarakat lokal sebagai mata pencarian utama belum
benar-benar didongkrak. Cerita miris demikian sebagian sudah diangkat ke layar kaca. Fhaiz Al
Safim, siswi SMAN 2 Komodo, membuat film dokumenter berjudul, Cerita dari Lapak. Film
tersebut menampilkan fakta bahwa sebagian besar komoditi pertanian di pasar-pasar di Labuan
Bajo didatangkan dari Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Makassar, Sulawesi Selatan,
daripada dari hasil pertanian penduduk setempat. Padahal, Manggarai adalah daerah yang subur.
Bertolak dari kenyataan itu, pemerintah boleh dibilang gagal mengayomi kepentingan
masyarakat. Alih-alih membawa kesejahteraan melalui pariwisata, justru ketimpangan dan relasi
kolonial yang sedang terjadi. Harapan akan pemimpin yang mampu membela hak-hak rakyat dan
menyelesaikan persoalan tanah di Labuan Bajo merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Apakah
harapan itu bisa dipenuhi oleh pemimpin yang baru terpilih dalam Pilkada 9 Desember
mendatang? Tidak ada yang bisa menjamin. Kericuhan yang terjadi saat pendaftaran di KPUD
Mabar baru-baru ini bisa ditafsir secara luas. Apakah mereka lolos demi memihak kepada
kepentingan rakyat atau demi bekerja sebagai kaki tangan kaum investor dan kapitalis mengingat
prospek Labuan dari sisi bisnis parawisata yang kian menggiurkan? Dengan kondisi saat ini,
disukai atau tidak, konflik bakalan ada.

Kondisi infrastruktur serta fasilitas sarana dan prasarana yang belum memadai oleh
peserintah lokal menjadi salah satu permasalahan krusial di Labuan Bajo. Pantai Pede letaknya
sangat dekat dengan pusat kota Labuan Bajo, dan disekitar pantai ini terdapat hotel-hotel mewah
yang sering dijadikan tempat penginapan oleh wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah
Taman Nasional Komodo dan juga ke wilayah lain di daratan Flores. Pantai ini memiliki potensi
yang sangat besar jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, namun pada saat ini kondisi
sarana dan prasarana yang minim serta pantai yang belum terawat dengan baik menyebabkan
ketidaknyamanan pada wisatawan. Oleh karena itu perlu dilakukan studi potensi atraksi
pariwisata Pantai Pede yang ada di wilayah pesisir Labuan Bajo dan analisis kondisi sekitar
kawasan pantai, sehingga diharapakan dapat menjadi rekomendasi untuk pengembangan
selanjutnya. Wilayah pesisir Labuan Bajo memiliki potensi wisata yang menjanjikan, namun
minimnya upaya untuk meningkatkan peran serta masyarakat di dalam pembangunan melalui
program pemberdayaan masyarakat dalam proses perencanaan, pengelolaan dan distribusi hasil
wisata mengakibatkan timbulnya persoalan antara masyarakat dan pihak pemerintah. Rencana
pembangunan di sekitar wilayah Pantai Pede diharapkan tetap memperhatikan kepentingan dari
masyarakat Labuan Bajo yang pada saat ini membutuhkan tempat untuk berwisata. Komitmen
pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor andalan pembangunan daerah
juga harus diikuti dengan upaya pemberdayaan masyarakat sehingga mengurangi konflik antara
masyarakat, pihak investor dan pemerintah. Pada dasarnya konflik akan timbul akibat
pengembangan pariwisata yang tidak mengakomodir pemberdayaan dan kesejahteraan
masyarakat lokal. Aksi protes dari masyarakat kemudian dapat menghambat pengembangan dan
perkembangan dari pariwisata di daerah tersebut.