Você está na página 1de 27

A.

PENDIDIKAN MASA KOLONIALISME


Pada masa penjajahan Portugis didirikan sekolah-sekolah misionaris. Portugis mendirikan sekolah
seminari di Ambon, Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Belanda pada awal
kedatangannya pun melakukan hal yang sama dengan Portugis. Pendidikan banyak ditangani oleh
kalangan gereja kristen dengan bendera Nederlands Zendelingen Gennootschap (NZG). Pasca
politik etis, Belanda mengucurkan dana pendidikan yang banyak dan bertambah setiap tahunnya,
tetapi tujuannya untuk melestrarikan penjajahan di Indonesia.
Pada masa penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaran yang
berkembang saat itu. Pertama, sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan
perantren. Kedua, sistem pendidikan Belanda. Sistem pendidikan Belanda diatur dengan prosedur
yang ketat dari mulai aturan siswa, pengajar, sistem pengajaran, dan kurikulum. Sistem prosedural
seperti ini sangat berbeda dengan sistem prosedural pada sistem pendidikan islam yang telah
dikenal sebelumnya. Sistem pendidikan belanda pun bersifat diskriminatif. Sekolah-sekolah
dibentuk dengan membedakan pendidikan antara anak Belanda, anak timur asing, dan anak
pribumi. Golongan pribumi ini masih dipecah lagi menjadi masyarakat kelas bawah dan priyayi.
Susunan persekolahan zaman kolinial adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2007:207):
a. Persekolahan anak-anak pribumi untuk golongan non priyayi menggunakan pengantar
bahasa daerah, namanya Sekolah Desa 3 tahun. Mereka yang berhasil menamatkannya boleh
melajutkan ke Sekolah Sambungan (Vervolg School) selama 2 tahun. Dari sini mereka bisa
melanjutkan ke Sekolah Guru atau Mulo Pribumi selama 4 tahun, inilah sekolah paling atas untuk
bangsa pribumi biasa. Untuk golongan pribumi masyarakat bangsawan bisa memasuki His
Inlandsche School selama 7 tahun, Mulo selama 3 tahun, dan Algemene Middlebare School (AMS)
selama 3 tahun.
b. Untuk orang timur asing disediakan sekolah seperti Sekolah Cina 5 tahun dengan pengantar
bahasa Cina, Hollandch Chinese School (HCS) yang berbahasa Belanda selama 7 tahun. Siswa
HCS dapat melanjutkan ke Mulo.
c. Sedangkan untuk orang Belanda disediakan sekolah rendah sampai perguruan tinggi, yaitu
Eropese Legere School 7 tahun, sekolah lanjutan HBS 3 dan 5 tahun Lyceum 6 tahun, Maddelbare
Meisjeschool 5 tahun, Recht Hoge School 5 tahun, Sekolah kedokteran tinggi 8,5 tahun, dan
kedokteran gigi 5 tahun.
Pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universitas tetapi akhirnya mereka
mendirikan universitas untuk kebutuhan mereka sendiri seperti Rechts Hogeschool (RH) dan
Geneeskundige Hogeschool di Jakarta. Di Bandung, pemerintah kolonial mendirikan Technische
Hogeschool (TH). Kebanyakan dosen TH adalah orang Belanda. Menurut Soenarta (2005) kaum
inlanders atau pribumi agak sulit untuk masuk ke sekolah-sekolah tinggi itu. Ketika almarhum
Prof Roosseno lulus TH, jumlah lulusan yang bukan orang Belanda hanya tiga orang, yaitu
Roosseno dan dua orang lagi vreemde oosterling alias keturunan Tionghoa. Bila demikian, lantas
berapa orang yang lulus bersama almarhum Ir Soekarno (presiden pertama RI) dan Ir Putuhena?
Di zaman pendudukan Jepang, pernah dicari 100 orang insinyur yang dibutuhkan. Padahal saat itu
belum ada 90 orang insinyur lulusan TH Bandung.
Agar tidak banyak bangsa Indonesia yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, maka biaya
kuliah pun dibuat sangat besar. Menurut Soenarta (2005) biaya kuliah untuk satu tahun di salah
satu sekolah tinggi itu besarnya fl (gulden) 300. Saat itu, harga satu kilogram (kg) beras sama
dengan 0,025 gulden. Maka, besar uang kuliah sama dengan 12.000 kg beras. Bila ukuran dan
perbandingan itu diterapkan sebagai biaya kuliah di universitas sekarang, sedangkan harga beras
sekarang rata-rata Rp 3.000 per kg, maka untuk kuliah di universitas biayanya sebesar Rp 36 juta
per mahasiswa per tahun. Biaya di MULO, setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, adalah
sebesar 5,60 gulden per siswa per bulan, setara dengan 224 kg beras. Bila dihitung dengan harga
beras sekarang, akan menjadi Rp 672.000 per siswa per bulan. Akibatnya banyak anak Indonesia
yang lebih memilih masuk Ambachtschool atau Technische School, karena biayanya agak murah
sedikit. Berbekal keterampilan yang diperoleh di Ambachtschool atau Technische School, siswa
bisa langsung bekerja setelah lulus.
Kurikulum pendidikan Belanda dideisain untuk melestarikan penjajahan di Indonesia, maka pada
kurikulum pun dikenalkan kebudayaan Belanda, juga penekan hanya pada menulis dengan rapi,
membaca, dan berhitung, yang keterampilan ini sangat bermanfaat untuk diperbantukan pada
Pemerintah Belanda dengan gaji yang sangat rendah. Anak-anak Indonesia pada zaman itu tidak
diperkenalkan dengan budayanya sendiri dan potensi bangsanya.
Ketiga, sekolah yang dikembangkan tokoh pendidikan nasional seperti KH Ahmad Dahlan dan Ki
Hajar Dewantara. K.H Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang menggunakan sistem
pendidikan barat dengan menambanhkan pelajaran agama islam. Ki Hajar Dewantara mendirikan
Taman Siswa dengan membuat sistem pendidikan yang berakar pada budaya dan filosofi hidup
Jawa, yang kemudian dianggap sebagai sistem pengajaran dan pendidikan nasional.
Pada masa Jepang, pendidikan diarahkan untuk menyediakan prajurit yang siap berperang di
perang Asia Timur Raya. Peggolongan sekolah berdasarkan status soaial yang dibangun Belanda
dihapuskan. Pendidikan hanya digolongkan pada pendidikan dasar 6 tahun, pendidikan menengah
pertama, dan pendidikan menegah tinggi yang masing-masing tiga tahun, serta pendidikan tinggi.
Sekolah Rendah diganti nama menjadi Sekolah Rakyat (Kokumin Gakko), Sekolah Menengah
Pertama (Shoto Chu Gakko), dan Sekolah Mengengah Tinggi (Koto Chu Gakko). Hampir semua
pendidikan tinggi yang ada pada zaman Belanda ditutup, kecuali Sekolah Tinggi Kedokteran di
Jakarta, dan Sekolah Teknik Tinggi di Bandung.
Pada masa peralihan dari Jepang ke Sekutu, ketika proklamasi dikumandangkan, dibentuklah
Panitia Penyelidik Pengajaran RI yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara. Lembaga ini
melahirkan rumusan pertama sistem pendidikan nasional, yakni pendidikan bertujuan menekankan
pada semangat dan jiwa patriotisme. Kemudian disusun punla pembaruan kurikulum pendidikan
dan pengajaran. Kurikulum sekolah dasar lebih mengutamakan pendekatan filosofis-ideologis.
Proses penyunsunan singkat dan tentu saja tanpa disertai data empiris. Penetapan isi kurikulum di
masa permulaan kemerdekaan itu berdasarkan asumsi belaka.
Setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuan kurikulum
yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum
berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasis kompetensi 2004
kurikulum tingkat satuan pemdidikan 2006 dan kurikulum 2013
B. KURIKULUM SEDERHANA (1947-1964)
Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu
penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang
istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang tidak mau
lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan
dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan
Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947,
baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut
kurikulum 1950.
Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar
mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran
1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada
pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap
kesenian, dan pendidikan jasmani.
Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan
bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu
Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan,
Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan
Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951
agama juga diajarkan sejak kelas 1.
Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dab cara murid
mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca,
dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana
mempergunakan berbagai perkakas sederhana 9pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan
menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu,
mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik.
Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal
dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang
guru mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah
khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan
keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu
sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
Struktur program Sekolah Rakyat (SD) menurut Rencana Pelajaran 1947 adalah sebagai berikut:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. B. Indonesia – – 8 8 8 8
2. B. Daerah 10 10 6 4 4 4
3. Berhitung 6 6 7 7 7 7
4. Ilmu Alam – – – – 1 1
5. Ilmu Hayat – – – 2 2 2
6. Ilmu Bumi – – 1 1 2 2
7. Sejarah – – – 1 2 2
8. Menggambar – – – – 2 2
9. Menulis 4 4 3 3 – –
10. Seni Suara 2 2 2 2 2 2
11. Pekerjaan Tangan 1 1 2 2 2 2
12. Pekerjaan kepurtian – – – 1 2 2
13. Gerak Badan 3 3 3 3 3 3
14. Kebersihan dan kesehatan 1 1 1 1 1 1
15. Didikan budi pekerti 1 1 2 2 2 3
16. Pendidikan agama – – – 2 2 2
JUMLAH 28 28 35 38 40 41
Kurikulum 1964
Pada akhir era kekuasaan Soekarno, kurikulum pendidikan yang lalu diubah menjadi Rencana
Pendidikan 1964. Isu yang berkembang pada rencana pendidikan 1964 adalah konsep
pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan
sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem
solving). Rencana Pendidikan 1964 melahirkan Kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada
pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah
Pancawardhana. Disebut Pancawardhana karena lima kelompok bidang studi, yaitu kelompok
perkembangan moral, kecerdasan, emosional/artisitk, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah.
Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Cara belajar dijalankan dengan metode
disebut gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida.
Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan,
kesenian, olah raga, dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk
membentuk manusia pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan
MPRS No II tanun 1960.
Penyelenggaraan pendidikan dengan kurikulum 1964 mengubah penilaian di rapor bagi kelas I
dan II yang asalnya berupa skor 10 – 100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas II
hingga VI tetap menggunakan skor 10 – 100.
Kurikulum 1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran
berdasarkan lima kelompok bidang studi (Pancawardhana). Struktur program berdasarkan
kurikulum ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
Pengembangan Moral
I 1. Pendidikan kemasyarakatan 1 2 3 3 3 3
2. Pendidikan agama/budi pekerti 1 2 2 2 2 2
Perkembangan kecerdasan
3. Bahasa Daerah 9 8 5 3 3 3
II 4. Bahasa Indonesia – – 6 5 8 8
5. Berhitung 6 6 6 6 6 6
6. Pengetahuan alamiah 1 1 2 2 2 2
Pengembangan emosional/artistik
III
7. Pendidikan kesenian 2 2 4 4 4 4
Pengembangan keprigelan
IV
8. Pendidikan keprigelan 2 2 4 4 4 4
Pengembangan jasmani
V
9. Pendidikan jasmani/Kesehatan 3 3 4 4 4 4
Jumlah 25 26 36 36 36 36

C. PEMBAHARUAN KURIKULUM 1968 dan 1975


Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 lahir dengan pertimbangan politik ideologis. Tujuan pendidikan pada kurikulum
1964 yang bertujuan menciptakan masyarakat sosialis Indonesia diberangus, pendidikan pada
masa ini lebih ditekankan untuk membentuk manusia pancasila sejati.
Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran pada tingkat
bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikum ini
dikelompokkan pada tiga kelompok besar: pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan
kecakapan khusus. Jumlah mata pelajarannya 9, yang memuat hanya mata pelajaran pokok saja.
Muatan materi pelajarannya sendiri hanya teoritis, tak lagi mengkaitkannya dengan permasalahan
faktual di lingkungan sekitar. Metode pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu
pendidikan dan psikologi pada akhir tahun 1960-an. Salah satunya adalah teori psikologi unsur.
Contoh penerapan metode pembelajarn ini adalah metode eja ketika pembelajaran membaca.
Begitu juga pada mata pelajaran lain, “anak belajar melalui unsur-unsurnya dulu”. Struktur
kurikulum 1968 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
Pembinaan Jiwa Pancasila
1. Pendidikan agama 2 2 3 4 4 4
2. Pendidikan kewarganegaraan 2 2 4 4 4 4
I
3. Bahasa Indonesia – – 6 6 6 6
4. Bahasa Daerah 8 8 2 2 2 2
5. Pendidikan olahraga 2 2 3 3 3 3
Pengembangan pengetahuan dasar
6. Berhitung 7 7 7 6 6 6
7. IPA 2 2 4 4 4 4
II
8. Pendidikan kesenian 2 2 2 2 2 2
9. Pendidikan kesejahteraan 1 1 2 2 2 2
keluarga
Pembinaan kecakapan khusus
III
10. Pendidikan kejuruan 2 2 5 5 5 5
Jumlah 28 28 40 40 40 40
Kurikulum 1975
Dibandingkan kurikulum sebelumnya, kurikulum ini lebih lengkap, jika dilihat dari pedoman yang
dikembangkan dalam kurikulum tersebut. Pada kurikulum SD 7 unsur pokok yang disajikan
dalam 3 buku. Tujuh unsur pokok tersebut adalah dasar, tujun, dan prinsip; struktur program
kurikulum; GBPP; sistem penyajian; sistem penilaian; sistem bimbingan dan penyuluhan;
pedoman supervisi dan administrasi. Pembuatan buku pedoman, pada kurikulum selanjutnya tetap
dipertahankan.
Pendekatan kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efesien,
yang mempengaruhinya adalah konsep di bidang manajemen, yaitu MBO (Management by
Objective). Melalui kurikulum 1968 tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran yang terkandung
pada kurikulum 1968 lebih dipertegas lagi. Metode, materi, dan tujuan pengajarannya tertuang
secara gambalang dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Melalui PPSI
kemudian lahir satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan
bahsasb memiliki unsur-unsur: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi
pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi.
Kurikulum 1975 didasari konsep SAS (Structural, analysis, sintesis). Anak menjadi pintar karena
paham dan mampu menganalisis sesuatu yang dihubungkan dengan mata pelajaran di sekolah.
Kurikulum 1975 juga dimaksudkan untuk menyerap perkembangan ilmu era 1970-an. Selain
memperkuat matematika, pelajaran teoritis IPA juga dipertajam. Jam pelajaran yang tadinya 41
jam per minggu, menjadi 43 jam. Pelajaran IPA menjadi gabungan dari Ilmu Hayat dan Ilmu Alam.
Sisi positif kurikulum ini adalah, “ilmu-ilmu dasar yang diserap siswa SD pada masa itu menjadi
semakin berkembang”. Akan tetapi dampak dari kurikulum 1975 adalah banyak guru
menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas administrasi, seperti membuat TIU, TIK, dan
lain-lain; sedangkan substansi materi uang akan diajarkan kurang didalami.
Struktur program pada kurikulum 1975 di sekolah dasar adalah sebagai berikut:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. Pendidikan agama 2 2 2 2 2 2
2. Pendidikan Moral Pancasila 2 2 3 4 4 4
3. B. Indonesia 8 8 8 8 8 8
4. IPS – – 2 2 2 2
5. Matematika 6 6 6 6 6 6
6. IPA 2 2 3 4 4 4
7. Olah raga dan kesehatan 2 2 3 3 3 3
8. Kesenian 2 2 3 4 4 4
9. Keterampilan khusus 2 2 4 4 4 4
JUMLAH 26 26 33 36 36 36

D. KURIKULUM KETERAMPILAN PROSES


Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach, yang senada dengan tuntukan GBHN 1983
bahwa pendidikan harus mampu mencetak tenaga terdidik yang kreatif, bermutu, dan efisien
bekerja. Kurikulum 1984 tidak mengubah semua hal dalam kurikulum 1974, meski mengutamakan
proses tapi faktor tujuan tetap dianggap penting. Oleh karena itu kurikulum 1984 disebut
kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi Siswa dalam kurikulum 1984 diposisikan sebagai
subyek belajar. Dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA).
CBSA didasarkan pada disertasi Conny R. Semiawan, yang didasarkan pada pandangan Sikortsky,
yang menelorkan Zone of Proximality Development. Teori yang mengatakan bahwa setiap
manusia mempunyai potensi dan potensi itu dapat teraktualisasi melalui ketuntasan belajar
tertentu. Tetapi antara potensi dan aktualisasi terdapat daerah abu-abu (grey area), guru
berkewajiban menjadikan daerah abu-abu ini dapat teraktualisasi. Caranya dengan belajar
kelompok.
Dari sisi konten tidak banyak perubahan pada kurikulum ini, kecuali ditambahkannya
pembelajaran PSPB. Struktur kurikulum pada tingkat sekolah dasar dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. Pendidikan agama 2 2 2 2 3 3
2. Pendidikan Moral Pancasila 2 2 2 2 2 2
3. PSPB 1 1 1 1 1 1
4. B. Indonesia 8 8 8 8 8 8
5. IPS – – 2 3 2 2
6. Matematika 6 6 6 6 6 6
7. IPA 2 2 3 4 4 4
8. Olah raga dan kesehatan 2 2 3 3 3 3
9. Kesenian 2 2 3 4 4 4
10. Keterampilan khusus 2 2 4 4 4 4
11. B. Daerah 2 2 2 2 2
JUMLAH 26 26 33 36 36 36
Kurikulum 1994
Lahirnya UU No 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional, merupakan pemicu lahirnya
kurikulum 1994. Menurut UU tersebut, pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdasakan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manisia beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berbudi luhur, memeliki keterampilan dan pengetahuan,
kessehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Pada kurikulum 1994, pendidikan dasar dipatok menjadi
sembilan tahun (SD dan SMP). Berdasarkan struktur kulikulum, kurikulum 1994 berusaha
menyatukan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan
kurikulum 1984 dengan tujuan pendekatan proses. Pada kurikulum ini pun dimasukan muatan
lokal, yang berfungsi mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh
daerahnya. Pada kurikulum ini beban belajar siswa dinilai terlalu berat, karena ada muatan
nasional dan lokal. Walaupun ada suplemen 1999 seiring dengan tuntutan reformasi, namun
perubahan tidak total. Struktur kurikulum 1994 adalah sebagai berikut:
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. Pendidikan agama 2 2 2 2 2 2
2. Pendidikan Moral Pancasila 2 2 2 2 2 2
3. B. Indonesia 10 10 10 8 8 8
4. IPS – – 3 5 5 5
5. Matematika 10 10 10 8 8 8
6. IPA 3 6 6 6
7. Olah raga dan kesehatan 3 5 5 5
8. Kerajinan tangan dan kesenian 2 2 2 2 2 2
9. Muatan lokal 2 2 2 2 2 2
JUMLAH 30 30 38 40 42 42

E. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI


Kurikulum 2004
Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi). Lahir
sebagai respon dari tuntutan reformasi, diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan
daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai
daerah otonom, dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan
nasional. KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses pembelajaran dipandang
merupakan wilayah otoritas guru, yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai
kompetensi yang diharapkan. Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan pengetahuan,
keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir, dan
bertindak. Seseorang telah memiliki kompetensi dalam bidang tersebut yang tercermin dalam pola
perilaku sehari-hari.
Kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge, understanding, skill, value, attitude,
dan interest. Dengan mengembangkan aspek-aspek ini diharapkan siswa memahami, mengusai,
dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari materi-materi yang telah dipelajarinya. Adapun
kompentensi sendiri diklasifikasikan menjadi: kompetensi lulusan (dimilik setelah lulus),
kompetensi standar (dimiliki setelah mempelajari satu mata pelajaran), kompetensi dasar (dimiliki
setelah menyelesaikan satu topik/konsep), kompetensi akademik (pengetahuan dan keterampilan
dalam menyelesaikan persoalan), kompetensi okupasional (kesiapan dan kemampuan beradaptasi
dengan dunia kerja), kompetensi kultural (adaptasi terhadap lingkungan dan budaya masyarakat
Indonesia), dan kompetensi temporal (memanfaatkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa. KBK
dinilai lebih unggul daripada kurikulum 1994, jika dilihat dari beberapa aspek berikut ini:
Beberapa keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994 adalah:
1994 KBK
Yang Penguasaan materi Hasil dan kompetenasi
dikedepankan
Paradigma versi UNESCO: learning to know, learning to do,
pembelajaran learning to live together, dan learning to be
Silabus Silabus ditentukan secara Peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran,
seragam silabus menjadi kewenagan guru.
Jumlah jam 40 jam per minggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum
pelajaran bissa dikurangi
Metode Keterampilan proses Lahir metode pembelajaran PAKEM dan CTL
pembelajaran
Sistem Lebih menitik beratkan Penilaian memadukan keseimbangan kognitif,
penilaian pada aspek kognitif psikomotorik, dan afektif, dengan penekanan penilaian
berbasis kelas
KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian berbasis
kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah
(PKBS). KHB berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yang perlu dicapai
secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. PBK adalah melakukan penilaian secara
seimbang di tiga ranah, dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang berupa portofolio,
produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada kegiatan aktif siswa dala membangun makna
atau pemahaman, guru tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai
motivator yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara penuh
dan optimal. PKBS memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumberdaya
lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Struktur kurikulum KBK adalah sebagai berikut
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. Pendidikan agama 3
2. Pendidikan kewarganegaraan 5
dan pengetahuan sosial
Matapelajaran 3. Bahasa Indonesia 5
4. Matematika 5
5. IPA tematik 4
6. Kerajinan tangan dan kesenian 4
7. Pendidikan jasmani 4
8. Kegiatan yang 2
pembiasaan
mendorong/mendukung pembiasaan
Mulok 9. Mata pelajaran/kegiatan
Jumlah 27 32

F. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP 2006)


Kurikulum 2006 atau KTSP tidak mengubah KBK, bahkan sebagai penegas KBK (Jalal, 2006).
Dibandingkan kurikulum 1994, kurikulum KTSP lebih sederhana, karena ada pengurangan beban
belajar sebanyak 20%, jam pelajaran yang dikurangi antara 100-200 jam per tahun, bahan ajar
yang dianggap memberatkan siswa pun akan dikurangi, kurikulum ini lebih menekankan pada
pengembangan kompetensi siswa dari pada apa yang harus dilakukan guru. Kurikulum 2006
adalah penyempurnaan dari KBK yang telah diuji coba kelayakannya secara publik, melalui
beberapa sekolah yang menjadi pilot project. Menurut Jalal (2006) KBK tidak resmi, hanya uji
coba yang diterapkan di sekitar 3.000 sekolah se- Indonesia.
KTSP sendiri lahir sebagai respon dari UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,
terutama pasal 36 ayat 1 dan 2. KTSP bertujuan memandirikan dan memberdayakan satuan
pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan. Prinsip
pengembangan KTSP adalah:
1. Berpusat pada potensi, pengembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik, dan
lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5. Menyeluruh dan berkesinambungan
6. Belajar sepanjang hayat
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Komponen dalam KTSP adalah:
1. Tujuan pada pendidikan dasar: meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lanjut.
2. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar
No Mata Pelajaran Kelas
1 2 3 4 5 6
1. Pendidikan agama 3
2. Pendidikan kewarganegaraan 2
3. Bahasa Indonesia 5
4. Matematika 5
Matapelajaran 5. IPA 4
6. IPS tematik 3
7. Kerajinan tangan dan kesenian 4
8. Pendidikan jasmani 4
9. Seni budaya dan keterampilan 4
Mulok 2
Pengembangan diri 2
Jumlah 26 27 28 32
3. Kenaikan kelas dan kelulusan berdasarkan PP 19/2005 pasal 72 ayat 1, siswa dinyatakan
lulus apabila: menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai minimal, lulus
ujian sekolah, dan lulus ujian nasional.
PENGEMBANGAN SILABUS
Pada KTSP menuntut satuan pendidikan untuk mengembangkan silabus. Silabus adalah rencana
pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar
kompentensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan suber/alat/bahan belajar. Silabus merupakan penjabaran standar
kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus dikembangkan dengan menekankan pada prinsip ilmiah, relevan, sistematis, konsisten,
memadai, aktual dan kontekstual, fleksibel, dan menyeluruh.
Berdasarkan unit waktu:
1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk
mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, pertahun,
dan alokasi waktu untuk mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan standar
kompetensi dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur
kurikulum.
Pengembangan silabus dilakukan oleh para guru secara mandiri, atau berkelompok dalam sebuah
sekolah, atau beberapa sekolah, kelompok MGMP atau PKG, dan dinas pendidikan. Adapun
langkah-langkah pengembangan silabus adalah sebagai berikut:
1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar seperti yang ada pada standar isi
2. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang potensi peserta didik,
relevansi dengan karakteristik daerah, tingkat perkembangan, kebermanfaatan, struktur ilmu, dan
lain-lain.
3. Mengemban kegiatan pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang sesuai
dengan pencapaian kompetensi. Kegiatan pembelajaran menekankan pada proses
pengembangan mental dan fisik melalui interaksi antara semua yang terlibat, baik siswa, guru,
lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
4. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi sebagai penanda pencapaian kompetensi
dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup pengetahuan, sikap,
dan keterampilan.
5. Penentuan jenis penilaian berdasarkan indikator baik dalam bentuk tes maupun non tes,
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap penilaian hasil karya, dan lain-lain.
6. Penentuan alokasi waktu pada setiap kompentensi dasar yang didasarkan pada jumlah
minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu.
7. Memanfaatkan sumber belajar sebagai rujukan baik berupa cetak, elektronik, narasumber,
lingkungan fisik, a;am, sosial, dan budaya.
Komponen KTSP terdiri dari:
1. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
2. Struktur dan Muatan KTSP
3. Kalender Pendidikan
4. Silabus
5. RPP
Pengembangan KTSP didasarkan pada PP No.19 Tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional
Pendidikan) pasal 17, yang menyebutkan bahwa : 1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi/karakteristik daerah, sosial budaya
masyarakat, dan karakteristik peserta didik, 2) Sekolah dan komite sekolah/madrasah
mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar
kurikulum dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan yg disusun oleh BSNP
Dengan demikian kurikulum yang biasanya sudah berupa ‘buku paket’ seragam yang dibuat oleh
pemerintah pusat, tidak ada lagi. Yang ada adalah Kurikulum SMP atau SMA Anu. Masing-
masing satuan pendidikan (sebut: sekolah), membuat kurikulum sendiri dan dilaksanakan sendiri.
Pemerintah pusat hanya memberikan acuan operasional penyusunannya.
Acuan Operasional penyusunan KTSP adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia
2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan
kemampuan peserta didik
3. Keragaman potensi dan karakter daerah dan lingkungan
4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
5. Tuntutan dunia kerja
STRUKTUR DAN MUATAN KTSP

1. Struktur KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam Standar Isi,
yg dikembangkan dari kelompok mata pelajaran :
 Agama dan ahlak mulia
 Kewarganegaraan dan kepribadian
 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
 Estetika
 Jasmani, olahraga dan kesehatan

1. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya
merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu
materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum,
sebagai berikut:

1. Mata pelajaran
2. Muatan lokal
3. Kegiatan Pengembangan diri
4. Pengaturan beban belajar
5. Kenaikan Kelas, Penjurusan, dan kelulusan
6. Pendidikan kecakapan Hidup
7. Pendidikan berbasis Keunggulan Lokal dan Global
– Mata Pelajaran, beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan tertera
pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi
– Muatan lokal
 merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang
diselenggarakan.
 Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal
setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun, satuan pendidikan dapat
menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.
– Kegiatan Pengembangan Diri
 Kegiatan pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan
diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat setiap peserta didik, sesuai dengan
kondisi sekolah.

 Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru,


atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan
ekstrakurikuler.
– Pengaturan Beban Belajar (contoh)

Komponen Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX

A. Mata Pelajaran

1. Pendidikan Agama : 2 2 2

2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2

3. Bahasa Indonesia 4 4 4

4. Bahasa Inggris 4 4 4

5. Matematika 4 4 4

6. Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 4

7. Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4

8. Seni Budaya 2 2 2

9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2


10. Keterampilan/Teknologi Informasi dan 2 2 2
Komunikasi

B. Muatan Lokal 2 2 2

C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)

Jumlah 34 34 34

Setiap jam pelajaran adalah 40 Menit


– Ketuntasan Belajar
 Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam satu kompetensi
dasar berkisar antara 0 – 100%.

 Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%.


 Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan
mempertimbangan kompleksitas SK dan KD tingkat kemampuan rata-rata peserta
didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan
pembelajaran.
 Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara
terus-menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal
– Kenaikan kelas, dan Kelulusan
 Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan
kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait.
Sesuai dengan ketentuan PP No.19 tahun 2005 pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus
dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
 Menyelesaiakan seluruh program pembelajaran;

 Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran
kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia, kewarganegaraan dan
kepribadian, estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
 Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran IPTEK; dan
 Lulus Ujian Nasional.
– Penjurusan
a. Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA.
1. Kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait.
2. Penujuran pada SMK/MAK didasarkan pada spektrum pendidikan kejuruan yang
diatur oleh direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
– Pendidikan Kecakapan Hidup
a. Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB,SMK/MAK dapat
memasukan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, sosial, akademik
dan/atau kecakapan vokasional.
b. Dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran
c. Dapat diperoleh dari peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan
pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
– Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
a. Kurikulum untuk semua satuan pendidikan dapat memasukan pendidikan berbasis keunggulan
lokal dan global.
b. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata
pelajaran.
c. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan
formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
– Kalender Pendidikan
Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah,
karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender
pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.
Demikianlah pemaparan ringkas tentang kurikulum dari masa ke masa, yakni mulai dari
Kurikulum 76, hingga 2006 yang dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Seperti kita lihat, masing-masing kurikulum tersebut memiliki kelebihan dan
kekurangannya.
Namun, sebagai produk paling gres, tentu KTSP memiliki kelebihan yang tidak terdapat dalam
kurikulum-kurikulum sebelumnya. Karena, ia disusun mengacu kepada kekurangan yang terdapat
pada kurikulum terdahulu. Kelebihan ini terutama tampak pada watak desentralistiknya. Meski, di
sana sini mengundang kontroversi, toh muatan kurikulum ini tetap mencerminkan watak
kebersamaan. Terutama, kebersamaan dalam mengaplikasikan KTSP antara pihak sekolah, guru
dan komite sekolah. Ini mudah-mudahan menjadi preseden yang demokratis bagi sistem
pendidikan di negeri kita.

G. KURIKULUM 2013

Secara falsafat, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan
peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi
dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.

Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis, seperti
beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi Abad
21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas, bahwa tujuan pendidikan harus dicapai
salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program
pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan,
sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan
nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap,
pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki
seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan seterusnya.

Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu
proses pendidikan tertentu harus dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk
melanjutkan pendidikannya secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan dapat dicapai.

Perencanaan Pembelajaran

Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang baik, proses
panjang tersebut dibagi menjadi beberapa jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan
peserta didik. Setiap jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan
peserta didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas pemrosesan
dapat diminimalkan.
Sebagai konsekuensi dari penjenjangan ini, tujuan pendidikan harus dibagi-bagi menjadi tujuan
antara. Pada dasarnya kurikulum merupakan perencanaan pembelajaran yang dirancang
berdasarkan tujuan antara di atas. Proses perancangannya diawali dengan menentukan kompetensi
lulusan (standar kompetensi lulusan). Hasilnya, kurikulum jenjang satuan pendidikan.

Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang baik, kurikulum harus
mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan yang harus dicapai peserta didik (keluaran),
dan dirumuskan sebagai kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan
kepada, dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha membentuk
kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran (proses, termasuk
metodologi pembelajaran sebagai bagian dari standar proses), supaya ketiga kompetensi yang
diinginkan terbentuk pada diri peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan
ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan
keluaran tersebut sesuai dengan rencana.

Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang menyampaikan bahwa
pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan kurikulum, karena yang perlu diperbaiki
sebenarnya metodologi pembelajaran bukan kurikulum. (Mohammad Abduhzen, “Urgensi
Kurikulum 2013”, Kompas, 21/2 dan “Implementasi Pendidikan”, Kompas, 6/3). Hal ini
menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa kurikulum berbasis kompetensi termasuk
mencakup metodologi pembelajaran.

Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk kompetensi yang diharapkan.
Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013, kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD
dirumuskan sebagai “memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyaji, menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif, dalam
ranah konkret dan abstrak, sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.”
Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum diartikan sempit, tak
termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan kompetensi itu, sudah dirumuskan
dengan baik melalui kajian para peneliti, dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.

Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas dikembangkan atas dasar
taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas, kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan
Abad 21 serta penyiapan Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan
Elin Driana, “Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang mengharapkan sebelum
Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya.

Mengatakan tidak ada masalah dengan kurikulum saat ini adalah kurang tepat. Sebagai contoh,
hasil pembandingan antara materi TIMSS 2011 dan materi kurikulum saat ini, untuk mata
pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan, kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah
diajarkan sampai dengan kelas VIII SMP.
Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai dengan tuntutan UU dan praktik terbaik di
dunia, ketidaksesuaian materi matapelajaran dan tumpang tindih yang tidak diperlukan pada
beberapa materi matapelajaran, kecepatan pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran,
dangkalnya materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih
bernalar dan berfikir.

Kompetensi Inti

Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana pendidikan yang
panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori manajemen mengajarkan, untuk memudahkan
proses perencanaan dan pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi
beberapa tahap sesuai dengan jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.

Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus ditapak peserta didik untuk
sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring
meningkatnya usia peserta didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.
Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan, integrasi vertikal
antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas
dapat direncanakan. Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi
inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya, kompetensi lulusan pada
ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual terkait tujuan membentuk peserta didik yang
beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang
berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata
pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti
yang telah dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada
kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti.

Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan


dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini kompetensi inti berperan sebagai integrator
horizontal antarmata pelajaran.

Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak mewakili
mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta didik,
sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik
melalui proses pembelajaran yang tepat, menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti
telah dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum 2013 adalah salah
dengan alasan pada “Kompetensi Inti Bahasa Indonesia” tidak terdapat kompetensi yang
mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia, karena memang tidak ada yang namanya
kompetensi inti Bahasa Indonesia, sebagaimana yang dipertanyakan Acep Iwan Saidi, “Petisi
untuk Wapres” (Kompas, 2/3).

Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran diuraikan menjadi
kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini sesuai dengan
rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual,
kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.
Uraian kompetensi dasar sedetil ini adalah untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak
berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada
sikap.
Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk peserta didik, karena
kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi
pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut, ada pesan-pesan sosial dan spiritual
yang terkandung dalam materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami, dapat
mengurangi bahkan menghilangkan kegelisahan yang disampaikan L. Wiliardjo dalam “Yang
Indah dan yang Absurd” (Kompas, 22/2)

Kedudukan Bahasa

Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk dapat digunakan, terutama saat
merancang kurikulum SD (jenjang sekolah paling rendah), tempat dimana peserta didik mulai
diperkenalkan banyak kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD
masih belum terlatih berfikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka terlebih dahulu perlu
dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-sumber kompetensi, yang sebagian besarnya
abstrak, kepada peserta didik yang masih mulai belajar berfikir abstrak.

Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran mengantarkan kandungan materi dari
semua sumber kompetensi kepada peserta didik.

Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam teknologi komunikasi) dapat
dilakukan dengan menempatkan bahasa sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain.
Dengan kata lain, kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam
penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran
tematik integratif dan perumusan kompetensi inti, sebagai pengikat semua kompetensi dasar,
pemaduan ini akan dapat dengan mudah direalisasikan.
Dengan cara ini pula, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dibuat menjadi kontekstual,
sesuatu yang hilang pada model pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran
Bahasa Indonesia kurang diminati oleh pendidik maupun peserta didik.

Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta didik sekaligus dilatih
menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis dan sistematis. Mengatakan kompetensi
dasar Bahasa Indonesia SD, yang memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta
didik, terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk
Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai pembawa kandungan ilmu
pengetahuan.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena desakan untuk
segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya
berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi, sehingga sangat
dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang.
Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan
kurikulum berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap konstruksi
kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UU Sisdiknas, sebelum
mengkritik.

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang baru yang terdapat pada kurikulum 2013 mendatang
diantaranya sebagai berikut:
SD – MI (Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah)

 Kurikulum 2013 berbasis pada sains.


 Kurikulum 2013 untuk SD, bersifat tematik integratif.
 Kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi yang berimbang antara sikap,
keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan
menyenangkan.
 Proses pembelajaran menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian
berbasis tes dan portofolio saling melengkapi.
 Mata pelajara (MAPEL) SD diantaranya:
 Pendidikan Agama
 PPKn
 Bahasa Indonesia
 Matematika
 IPA
 IPS
 Seni Budaya dan Prakarya (Muatan Lokal; Mulok)
 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Muatan Lokal;Mulok)
 Alokasi waktu per jam pelajaran SD 35 menit
 Banyak jam pelajaran per minggu Kelas I = 30 jam, kelas II= 32 jam, kelas III=34 jam,
kelas IV, V,VI=36 jam
SMP – MTs (Sekolah Menengah Pertama – Madrasah Tsanawiyah)
Mata pelajaran SMP MTs kurikulum 2013 sebagai berikut:

 Mata Pelajaran:
 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
 PPKn
 Bahasa Indonesia
 Matematika
 IPA
 IPS
 Bahasa Inggris
 Seni Budaya (Muatan Lokal)
 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Muatan Lokal)
 Prakarya (Muatan Lokal)
 Alokasi waktu per jam pelajaran SMP = 40 menit
 Banyak jam pelajaran per minggu 38 jam
SMA – MA (Sekolah Menengah Atas – Madrasah Aliyah)
Mata pelajaran SMA – MA kurikulum 2013 sebagai berikut:

 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti


 PPKn
 Bahasa Indonesia
 Matematika
 Sejarah Indonesia
 Bahasa Inggris
 Seni Budaya (Muatan Lokal)
 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Muatan Lokal)
 Prakarya dan Kewirausahaan (Muatan Lokal)
 Alokasi waktu per jam pelajaran SMA = 45 menit
 Banyak jam pelajaran per minggu SMA = 39 jam