Você está na página 1de 15

IV.2.

Pembahasan

Uji sterilitas sterilitas dilakukan untuk mengetahui apakah bahan atau sediaan yang harus steril
sudah memenuhi syarat atau tidak. Uji sterilitas dilakukan secara mikrobiologi dengan
menggunakan medium pertumbuhan tertentu. Media untuk pengujian diperlukan dalam uji ini.
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba baik yang patogen maupun
yang tidak patogen baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk spora.

Uji sterilitas merupakan suatu cara pengujian untuk mengetahui suatu sediaan atau bahan
farmasi atau alat-alat kesehatan yang dipersyaratkan harus dalam keadaan steril. Dengan
demikian sediaan dan peralatan tersebut harus bebas dari mikroorganisme. Jadi, hanya dikenal
sediaan dan peralatan tersebut steril atau tidak steril, tidak ada istilah hampir atau setengah
steril.

Pada praktilum kali ini, kami melakukan pengujian sterilitas terhadap hasil kerja senior kami
dalam pembuatan sedian injeksi dalam ampul 1 mL, pengujian sterilitas kassa sterili, dan
pengujian sterilitas terhadap sediaan salep (vaselin dan adeps lanae). Ketiga sampel ini di uji
menggunakan media Nutrient Agar (NA) dan Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Media Nutrient
Agar (NA) digunakan untuk mengidentifikasi hasilnya mikroba/bakteri. Dan media Sabouraud
DextroseAgar (SDA) digunakan untuk mengidentifikasi hasilnya kapang dan khamir.

Hasil isolat yang terdapat pada media SDA dari praktikum ini, ditemukan beberapa
mikroorganisme yang tumbuh pada isolat kassa steril dan sediaan salep (vaselin dan adeps
lanae).sehingga kassa dan sediaan salep tidak steril dari kapang dan khamir. Sedangkan pada
isolat yang mengandung injeksi, tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme, sehingga
menunjukkan bahwa sterilitas pada sediaan ini steril dari kapang dan khamir.

Mikroorganisme yang kami temukan pada isolat kassa yang menggunakan media SDA
adalah timbulnya pertumbuhan mikroorganisme yang kami duga adalah sejenis kapang. Karena
mikroorganisme ini terlihat secara visual berbentuk seperti spora yang berwarna hitam pada
daerah tengah lingkarannya dan berwarna putih pada daerah pinggir lingkaran. Sedangkan
mikroorganisme yang kami temukan pada isolat salep (vaselin dan adeps lanae) yang
menggunakan media SDA yaitu dengan menunjukkan timbulnya pertumbuhan koloni yang
berlendir, dimana kami menduga bahwa terdapat pertumbuhan seperti sejenis khamir yang
berwarna putih pada isolat salep (vaselin dan adeps lanae) ini di media SDA.

Pada isolat yang terdapat pada media NA, kami mendapati isolat injeksi dan sediaaan
salep (vaselin dan adeps lanae) masih terdapat pertumbuhan mikroorganisme. Sedangkan pada
isolat kassa steril, tidak ditemukan adanya pertumbuhan mikroorganisme, dimana hal ini
menunjukkan bahwa kassa steril terbukti steril dari adanya pertumbuhan bakteri yang dapat
mempengaruhi efektivitas penggunaan kassa steril tersebut.
Mikroorganisme yang kami temukan pada isolat injeksi di media NA dengan
menunjukkan timbulnya pertumbuhan koloni dimana kami menduga bahwa ini adalah
pertumbuhan bakteri yang berbentuk seperti cairan yang mengeras dan berwarna kecoklatan.
Sedangkan pada isolat salep (vaselin dan adeps lanae) terlihat adanya pertumbuhan
mikroorganisme yang bergerombol membentuk tumpukan yang berwarna kuning-kejinggaan
dan ada juga yang membentuk koloni bulatan yang berwarna hitam. Dimana kami menduga
bahwa masih adanya pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri pada isolat-isolat ini di
media NA.

BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagaiberikut :

Media yang digunakan dalam praktikum ini adalah Nutrient Agar (NA) dan SDA. Media NA
digunakan untuk mengidentifikasi hasilnya mikroba/bakteri. Media Sabouraud Dextrose Agar
(SDA) digunakan untuk mengidentifikasi hasilnya kapang dan khamir.

Kassa yang kami gunakan steril dari pertumbuhan bakteri tapi tidak steril dari pertumbuhan
kapang dan khamir.

Injeksi yang kami gunakan tidak steril dari pertumbuhan bakteri tapi steril dari pertumbuhan
bakteri.

Salep yang kami gunakan tidak steril dari pertumbuhan bakteri, kapang dan khamir.

Sediaan obat dan alat kesehatan seharusnya bersifat steril, bebas dari kuman terutama sediaan
obat yang langsung kontak dengan mukosa atau langsung masuk ke aliran darah seperti injeksi,
tetes mata, cairan infuse dan salep mata. Demikian juga dengan alat-alat kesehatan seperti
kasa dan benang bedah. Standar ini dibuat dengan tujuan agar tidak terjadi infeksi pada pasien
yang menggunakan sediaan obat maupun alat kesehatan tersebut akibat kontaminasi bakteri
patogen. Pada percobaan ini kelompok kami melakukan percobaan pada cairan injeksi, sediaan
salep dan kasa yang steril dan tidak steril pada media NA dan SDA.

Pada media NA setelah 24 jam dilakukan inkubasi pada suhu 35-370C tidak terlihat adanya
pertumbuhan koloni bakteri. Namun ketika inkubasi dilakukan sampai hari ke-4 ternyata positif
terjadi pertumbuhan bakteri pada semua cawan. Hal ini disebabkan 2 kemungkinan, pertama
mungkin karena kelompok kami bekerja kurang aseptis sehingga bakteri dari luar dapat masuk.
Kemungkinan yang kedua adalah cairan injeksi, salep dan kasa yang dijadikan sampel sudah
terkontaminasi bakteri atau tidak steril.

ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril.
Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. Jika terjadi pertumbuhan kuman,
menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah
akhir yang steril.

valuasi Sediaan Steril

Evaluasi In Process Control

· Uji Kejernihan Larutan FI IV 1998

Pengamatan dilakukan di bawah cahaya yang terdifusi, tegak lurus ke arah bawah tabung.
Penetapan dilakukan dengan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm hingga 25
mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari kaca netral. Masukkan ke dalam dua tabung
reaksi masing-masing larutan zat uji dan Suspensi padanan yang sesuai secukupnya, dibuat
segar sehingga volume larutan dalam tabung reaksi terisi setinggiu tepat 40 mm. Bandingkan
kedua isi tabung setelah 5 menit pembuatan Suspensi padanan dengan latar belakang yang
hitam.

Pembuatan Baku opalesen:

Larutkan 1,0 g hidrazina sulfat P dalam air secukupnya hingga 100,0, biarkan selama 4 jam
hingga 6 jam. Pada 25,0 ml larutan ini tambahkan larutan 2,5 g heksammina P dalam 25 ml air,
campur dan biarkan selama 24 jam. Suspensi harus dicampur baik sebelum digunakan.

Pembuatan Suspensi padanan :

Buatlah Suspensi padanan I sampai Suspensi padanan IV dengan cara seperti yang tertera pada
tabel. Masing-masing suspensi harus tercampur baik dan dikocok sebelum digunakan.
Suspensi Padanan

II

III

IV

Baku opalesen (ml)

5,0

10,0

30,0

50,0

Air (ml)

95,0

90,0

70,0

50,0

Tabel 1. Pembuatan Suspensi Padanan

Pernyataan kejernihan :

Suatu cairan dinyatakan jernih bila kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan
bila diamati di bawah kondisi seperti tersebut diatas.

· Penetapan pH

pH adalah suatu bilangan yang menyatakan keasaman atau kebasaan suatu zat yang larut
dalam air. Semua larutan untuk penetapan pH menggunakan air bebas karbondioksida P.
Elektroda, larutan baku larutan uji, dan air pencuci harus disimpan pada suhu pengukuran
selama tidak kurang dari 2 jam sebelum pengukuran. Setelah alat ditera, cuci elektroda dan
wadah. Isi wadah dengan sejumlah larutan uji, tetapkan harga pendahuluan. Umumnya harga
ini tidak tepat dan dianggap sebagai harga pendekatan. Lakukan penetapan beberapa kali
hingga diperoleh pH yang tetap.

Evaluasi Post Process Control

· Uji Sterilitas

Suatu bahan dinyatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun
yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif.

Prosedur Uji:

Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan lalu diinkubasi pada suhu 2 sampai 25°C.
Volume tertentu spesimen ditambahkan volume tertentu media uji, diinkubasi selama tidak
kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual sesering mungkin sekurang-
kurangnya pada hari ke-3atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari
terakhir dari masa uji.

Pada interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, semua isi wadah akan diamat
untuk menunjukkan ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan dan atau
pertumbuhan pada permukaan. Jika tidak terjadi pertumbuhan, maka bahan uji memenuhi
syarat. Penjelasan mengenai uji sterilitas akan dibahas lebih dalam pada makalah ini.

· Uji Pirogenitas

Uji pirogen dimaksudkan untuk membatasi risiko reaksi demam pada tingkat yang dapat
diterima oleh pasien pada pemberian sediaan injeksi. Pengujian meliputi pengukuran kenaikan
suhu kelinci setelah penyuntikan larutan uji secara intravena dan ditujukan untuk sediaan yang
dapat ditoleransi dengan uji kelinci pada dosis penyuntikan tidak lebih dari 10 ml per kg bobot
badan dalam waktu tidak lebih dari 10 menit.

Prosedur
Pengujian dilakukan dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan dengan kondisi
yang sama dengan ruang pemeliharaan, bebas dari keributan yang menyebabkan kegelisahan.
Suhu awal setiap kelinci tidak boleh lebih dari 39,8 °C.

Suntikkan 10 ml per kg bobot badan melalui vena tepi telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikan
dilakukan dalam waktu 10 menit. Semua larutan harutan harus bebas dari kontaminasi.
Hangatkan larutan pada suhu 37° ± 2 °C sebelum penyuntikkan. Rekam suhu berturut-turut
antara jam pertama dan jam ketiga setelah penyuntikkan dengan selang waktu 30 menit.

Penafsiran hasil

Setiap penurunan suhu dianggap nol. Sediaan memenuhi syarat apabila tak seekor kelincipun
menunjukkan kenaikan suhu 0,5° C atau lebih. Jika ada kelinci dengan kenaikan suhu 0,5 atau
lebih, lanjutkan dengan pengujian menggunakan 5 ekor kelinci.

Memenuhi syarat:

Tidak lebih dari tiga ekor kelinci dari delapan kelinci masing-masing menunjukkan kenaikan
suhu 0,5°C atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimal delapan ekor kelinci lebih dari 3,3°C

II.2. Hal-hal yang diperhatikan sebelum melakukan uji sterilitas:

II.2.1 Cara Membuka Wadah

a. Bersihkan permukaan luar ampul, tutup vial, tutup botol menggunakan bahan
dekontaminasi yang sesuai, dan ambil isi secara aseptik.

b. Jika isi vial dikemas dalam hampa udara, masukkan udara steril dengan alat steril yang
sesuai, seperti alat suntik dengan jarum yang dilengkapi bahan penyaring untuk sterilisasi.

c. Untuk kapas murni, perban, pembalut, benang bedah dan bahan farmakope sejenis,
buka kemasan atau wadah secara aseptik.

II.2.2 Pemilihan Spesimen Uji dan Masa Inkubasi


a. Untuk bahan cair, gunakan volume bahan dan media untuk setiap unit dan jumlah
wadah per media tidak kurang dari seperti yang tertera pada Tabel Jumlah untuk bahan cair
dalam bab ini.

b. Jika kuantitas isi cukup, bahan dapat dibagi dan ditambahkan pada kedua media.

c. Jika volume setiap wadah tidak cukup untuk kedua media, gunakan wadah sejumlah dua
kali.

d. Untuk bahan selain cairan, uji 20 unit bahan dengan masing-masing media.

e. Untuk bahan yang hanya lumennya harus steril, bilas lumen dengan sejumlah media
yang sesuai hingga diperoleh kembali tidak kurang dari 15 ml media.

Catatan : Jika tidak dinyatakan lain di dalam monografi atau bab ini, inkubasi campuran uji
dengan Media Tioglikolat Cair (atau Media Tioglikolat Alternatif, jika dinyatakan) selama 14 hari
pada suhu 300 hingga 350,dan dengan Soybean-Casein Digest Medium pada suhu 200 hingga
250.

II.2.2.1 Macam-macam Media

Berdasarkan Farmakope Indonesia IV :

Media untuk pengujian dapat dibuat seperti yang tertera di bawah ini, atau dapat digunakan
campuran kering yang menghasilkan formulasi sama, asalkan jika direkonstitusi sesuai petunjuk
pabrik atau distributor, mempunyai sifat merangsang pertumbuhan yang sama atau lebih baik
dari formula dari formula yang diberikan di bawah ini:
1. Media Tioglikolat Cair

L-Sistin P 0,5 g

Natrium klorida P 2,5 g

Glukosa P (C6H12OH2O) 5,5 g

Agar P, granul (kadar air tidak lebih dari 15%) 0,75 g

Ekstrak ragi P (larut dalam air) 5,0 g

Digesti pankreas kasein P 15,0 g

Natrium tioglikolat P atau 0,5 g

Asam tioglikolat P 0,3 ml

Larutan natrium resazurin P (1 dalam 1000) dibuat segar 1,0 ml

Air 1000 ml

pH setelah disterilisasi 7,1 ± 0,2

Campur dan panaskan hingga larut. Atur pH larutan hingga setelah sterilisasi 7,1 ± 0,2
menggunakan natrium hidroksida 1 N. Jika perlu saring selagi panas menggunakan kertas
saring. Tempatkan media dalam tabung yang sesuai, yang memberikan perbandingan
permukaan dengan kedalaman media sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari setengah
bagian atas media yang mengalami perubahan warna sebagai indikasi masuknya oksigen pada
akhir masa inkubasi. Sterilisasi dalam autoklaf. Jika lebih dari sepertiga bagian bagian atas
terjadi warna merah muda, media diperbaiki satu kali dengan pemanasan di atas tangas air
atau dalam uap yang mengalir bebas hingga warna merah muda hilang. Media siap digunakan
jika tidak lebih dari sepersepuluh bagian atas media berwarna merah muda. Gunakan media
tioglikolat cair untuk inkubasi dalam kondisi aerob.
2. Media Tioglikolat Alternatif (untuk alat yang mempunyai lumen kecil)

L-Sistin P 0,5 g

Natrium klorida P 2,5 g

Glukosa P (C6H12OH2O) 5,5 g

Ekstrak ragi P (larut dalam air) 5,0 g

Digesti pankreas kasein P 15,0 g

Natrium tioglikolat P atau 0,5 ml

Asam tioglikolat P 0,5 ml

Air 1000 ml

pH setelah disterilisasi 7,1 ± 0,2

Panaskan dalam wadah yang sesuai hingga larut. Campur dan jika perlu, atur pH larutan hingga
setelah disterilisasi 7,1 ± 0,2 menggunakan natrium hidroksida 1 N. Saring jika perlu, tempatkan
dalam tabung yang sesuai dan sterilisasi dengan uap air. Media dibuat segar atau dipanaskan di
tangas uap dan didinginkan saat digunakan. Tidak boleh dipanaskan kembali. Gunakan media
tioglikolat alternatif dengan cara yang menjamin kondisi anaerob selama masa inkubasi.

3. Soybean – Casein Digest Medium

Digesti pankreas kasein P 17,0 g

Digesti peptik tepung kasein 3,0 g

Natrium klorida P 5,0 g

Kalium fosfat dibasa P 2,5 g


Glukosa P (C6H12OH2O) 2,5 g

Air 1000 ml

pH setelah disterilisasi 7,3 ± 0,2

Larutkan semua bahan padat dalam air, hangatkan hingga larut. Dinginkan larutan hingga suhu
kamar, dan jika perlu atur pH larutan hingga setelah sterilisasi 7,3 ± 0,2

Menggunakan natrium hidroksida 1 N. Saring jika perlu, dan bagikan dalam tabung yang sesuai.
Sterilisasi dengan uap air.

Gunakan Soybean – Casein Digest Medium untuk inkubasi dalam kondisi aerob.

Catatan : Jika digunakan Media Tioglikolat Cair dan Soybean – Casein Digest Medium dalam
prosedur uji inokulasi langsung ke dalam media uji untuk menetapkan spesimen yang
mengandung antibiotik golongan penisilin atau sefalosporin, secara aseptik tambahkan
sejumlah penisilinase yang diperlukan dengan menggunakan sediaan penisilinase yang
sebelumnya telah diuji daya pernginaktif penisilin atau sefalosporin. Atau tetapkan jumlah
penisilinase yang diperlukan dengan menambahkannya ke dalam tabung media Media
Tioglikolat Cair dan sejumlah antibiotik penisilin atau sefalosporin sejumlah antibiotik dalam
spesimen uji inokulasi media dengan 1 ml pengenceran (1 dalam 1000) biakan 18 jam sampai
24 jam pada suhu 300 sampai 380, pada saat ini harus teramati pertumbuhan antimikroba yang
spesifik. Lakukan uji konfirmasi di daerah yang benar-benar terpisah dari tempat uji sterilisasi.

II.3 Uji Fertilitas

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa media yang digunakan dapat menumbuhkan
mikroba uji sampai waktu 7. Uji fertilitas dilakukan sebelum melakukan uji sterilitas terhadap
sampel. Pada saat melakukan uji sterilitas harus teramati pertumbuhan mikroba yang spesifik.
Lakukan uji konfirmasi di daerah yang benar – benar terpisah dari tembat uji sterilitas.

Prosedur :
1. Inokulasi duplo wadah tiap media secara terpisah dengan 10 hingga 100 mikroba viable
dari tiap galur pada table

2. Media uji memenuhi sayrat jika terjadi pertumbuhan yang nyata dalam semua wadah
media yang diinokulasikan dalam kurun waktu 7 hari

5 Penafsiran Uji Sterilitas

Jika tidak ada bukti nyata pertumbuhan mikroba dalam suatu media kultur uji tabung, setelah
memperlakukan sampel dan media dengan prosedur yang benar dan kondisi uji sterilitas yang
sesuai ketentuan dari USP dan EP, bisa diartikan bahwa terdapat sampel yang banyak mewakili
kontaminasi intrinsik. Interpretasi harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pelatihan
formal dalam mikrobiologi dan memiliki pengetahuan dasar yang terlibat dalam pengujian
kontrol kualitas :

1. metode sterilisasi Industri dan keterbatasan mereka

2. Pemrosesan aseptik

3. Konsep statistik yang melibatkan banyak sampling untuk perwakilan artikel

4. Prosedur pengendalian Lingkungan yang digunakan dalam fasilitas uji

Jika pertumbuhan mikroba ditemukan atau jika uji sterilitas dinilai tidak valid karena kondisi
lingkungan yang tidak memadai, uji sterilitas dapat diulang.

Berdasarkan FI 4, penafsiran uji sterilitas terdiri dari dua tahap:

1. Tahap pertama

a. Pada interval waktu tertentu dan pada akhir periode inkubasi, amati isi semua wadah
akan adanya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan dan /atau pertumbuhan pada
permukaan. Jika tidak terjadi pertumbuhan, maka bahan uji memenuhi syarat.

b. Jika ditemukan pertumbuhan mikroba, tetapi peninjauan dalam pemantauan fasilitas


pengujian steriitas, bahan yang digunakan, prosedur pengujian dan kontrol negatif
menunjukkan tidak memadai atau teknik aseptik yang salah digunakan dalam pengujian, tahap
pertama dinyatakan tidak absah dan dapat diulang.

c. Jika pertumbuhan mikroba teramati tetapi tidak terbukti, uji tahap pertama tidak absah,
lakukan tahap kedua.
2. Tahap Kedua

Jumlah spesimen uji yang diseleksi minimum dua kali jumlah dari jumlah tahap pertama.
Volume minimum tiap spesimen yang diuji dan media dan periode inkubasi sama seperti yang
tertera apada tahap pertama.

a. Jika tidak ditemukan pertumbuhan mikroba, bahan yang diuji memenuhi syarat.

b. Jika ditemukan pertumbuhan, hasil yang diperoleh membuktikan bahwa bahan uji tidak
memenuhi syarat.

c. Jika dapat dibuktikan bahwa uji pada tahap kedua tidak absah karena kesalahan atau
teknik aseptik tidak memadai, maka tahap kedua dapat diulang.

[Catatan. Jika uji sterilitas digunakan sebagai bagian penilaian terhadap produksi lot atau bets
atau serentak sebagai satu kriteria pengawasan mutu untuk melepas lot atau bets, seperti yang
tertera pada Sterilitas dan Jaminan sterilitas Bahan Kompendia

· Ringkasan Uji Sterilitas


BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

Terdapat beberapa macam evaluasi untuk sediaan steril seperti uji kejernihan larutan,
penetapan pH, uji pirogenitas, dan uji sterilitas. Suatu bahan dinyatakan steril apabila bebas
dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif
maupun dalam bentuk tidak vegetatif.

Sebelum melakukan uji sterilitas, hal-hal yang harus diperhatikan adalah cara membuka wadah,
pemilihan spesimen uji serta masa inkubasi. Media yang dapat digunakan untuk pertumbuhan
bakteri ialah Media Tioglikolat Cair, Media Tioglikolat Alternatif (untuk alat yang mempunyai
lumen kecil), dan Soybean – Casein Digest Medium.

Setelah menetapkan pemilihan media, uji fertilitas sebaiknya dilakukan. Hal ini bertujuan untuk
memastikan bahwa media yang digunakan dapat menumbuhkan mikroba uji sampai waktu
tertentu. Pada saat melakukan uji sterilitas, pertumbuhan mikroba yang spesifik harus diamati.
Uji fertilitas dilakukan di di daerah yang benar – benar terpisah dari tempat uji sterilitas.

Terdapat dua cara melakukan uji sterilitas, yakni dengan penyaringan dan inokulasi langsung.
Pada uji sterilitas, cairan yang akan digunakan sebagai pelarut, pengencer ataupun pembilas,
tidak boleh bersifat antibakteri ataupun antijamur.

Teknik penyaringan membran digunakan untuk bahan cair yang dapat diuji dengan cara
inokulasi langsung ke dalam media uji. Jika bahan uji berupa minyak, membran dapat
disterilkan terpisah, dan setelah melalui pengeringan, unit dirakit secara aseptik.

Sebelum melakukan uji sterilitas cara inokulasi langsung terhadap suatu bahan, tetapkan
tingkat aktivitas bakteriostatik dan fungistatik dengan membuat pengenceran biakan bakteri
dan jamur tidak kurang dari galur mikroba seperti yang tertera pada Uji Fertilitas. Kemudian
melakukan inkubasi wadah pada suhu dan kondisi seperti yang tertera pada tabel selama tidak
kurang dari 7 hari. Prosedur uji sterilitas dengan inokulasi langsung dapat dilakukan untuk
cairan, salep dan minyak yang tidak larut dalam isopropyl miristat, zat padat, kapas murni,
perban, pembalut, benang bedah, dan bahan sejenisnya, alat kesehatan steril, dan alat yang
mempunyai pipa atau saluran berlubang seperti alat transfus atau infus atau yang ukurannya
menyebabkan pencelupan tdak dapat dilakukan dan hanya saluran cairannya yang harus steril.

Setelah melakukan uji sterilitas, dilakukan penafsiran untuk melihat adanya pertumbuhan
mikroba atau tidak. Jika tidak ada bukti nyata pertumbuhan mikroba dalam suatu media kultur
uji tabung, setelah memperlakukan sampel dan media dengan prosedur yang benar dan
kondisi uji sterilitas yang sesuai ketentuan dari USP dan EP, bisa diartikan bahwa terdapat
sampel yang banyak mewakili kontaminasi intrinsik. Interpretasi harus dilakukan oleh orang-
orang yang memiliki pelatihan formal dalam mikrobiologi dan memiliki pengetahuan dasar
yang terlibat dalam pengujian kontrol kualitas. Jika pertumbuhan mikroba ditemukan atau jika
uji sterilitas dinilai tidak valid karena kondisi lingkungan yang tidak memadai, uji sterilitas dapat
diulang.

Kemungkinan pada sampel obat tetes mata merk lotte mengalami kontaminasi.Kontaminasi ini
dapat disebabkan oleh beberapa factor, yaitu:1.

Pada saat pengocokkan dengan melakukan vortex terjadi kontaminasiantara tabung reaksi
dengan tangan karena pada tangan mengandung bakteri floral dan mungkin juga terdapat khamir
dan kapang.2.

Pada saat mensterilkan media kemungkinan tutup tabung reaksi terbuka,sehingga kontaminan
dari alat atau media lain yang terdapat dalamautoklaf yang sama dapat masuk.3.

Incubator yang sering dibuka atau ditutup menyebabkan kapang


yang bertebangan di sekitar linkungan inkubator masuk ke dalam media,sehingga mengalami
kontaminasi.4.

Keadaan di dalam incubator. Di dalam incubator ada banyak sekali bahanatau sampel yang
sedang diinkubasi. Jika tutup tabung tidak sengajaterbuka, maka sangat memungkinkan
kontaminan dari sampel lain masukke dalam sampel uji kita.

Laporan uji sterilitas Page 10


5.

Teknik pekerjaan yang kurang aseptis. Apabila teknik pekerjaan yang kitalakukan kurang
aseptis, sangat memungkinkan masuknya kontaminan kedalam sampel.6.
Gelas ukur yang digunakan pada saat mengukur volume sampel tidaksteril