Você está na página 1de 17

OPERATIONAL AMPLIFIER (Op-Amp)

1. Karakteristik dan Parameter Op-Amp 741

Operational amplifier (Op-Amp) merupakan komponen IC (Integrated Circuit =


komponen terpadu) dimana rangkaian dalam komponen terpadu ini mengandung beberapa
transistor, resistor, dioda, dan capacitor yang dibuat dalam satu wadah (paket) dan hanya
terminal yang perlu saja yang dihubungkan keluar. Amplifier (penguat) adalah komponen
yang dapat merubah suatu sinyal dari suatu level tertentu ke suatu sinyal dengan level yang
berbeda, dimana sinyal tersebut bisa berupa sinyal tegangan atau sinyal arus. Pada dasarnya
op-Amp terbagi menjadi tiga bagian utama yakni bagian input penguat yang berupa penguat
differensial, bagian tengah yang terdiri dari penguat penyangga atau buffer dan bagian output
yaitu penguat driver. Komponen OpAmp yang paling dikenal adalah OpAmp 741, dan semua
OpAmp prinsip kerjanya sama seperti pada OpAmp 741. Kemasan komponen OpAmp
tersedia dalam 3 bentuk paket yaitu paket jalur ganda ( DIL package), paket bundar (TO
package), dan paket lempengan (Flat package). Gambar symbol dan bentuk fisik untuk tipe
single Op-Amp ditunjukan pada gambar 1. Op-amp 741 memiliki dua input dan satu output
dan op-amp ideal memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
Karakteristik Typicalnya 2 7
_

IC 741 6
 Gain yang tinggi 90 dB – 110 dB
 Bandwidth yang lebar 4MHz
3
 Impedansi input yang besar 2 – 10 MΩ +
Gambar 1. Simbol Op-Amp
 Impedansi output yang kecil 0 - 100Ω 4

 Stabil
 Konsumsi daya yang rendah
 Noise yang rendah
Adapun jumlah pin (terminal) pada kemasaan OpAmp 741 sebanyak 8 kaki seperti gambar 2.
berikut:
1 8
Keterangan Terminal :
2 7
1. Offset null 5. Offset Null
2. Inverting 6. Output
3 6
3. Non Inverting 7. +Vcc
4. –Vcc atau ground. 8. NC (No Connection) 4 55

Gambar 2. Bentuk Fisik Op-Amp


+Vcc dan –Vcc merupakan supply dc atau supply energi terhadap komponen IC tersebut, dan
besarnya +Vcc = +15V dan –Vcc = -15V. (untuk linier opamp). Offset Null berfungsi untuk
meminimalkan tegangan offset output dari suatu rangkaian. Inverting input adalah jika suatu
sinyal disupplykan ke terminal input ini akan menghasil kan output OpAmp yang berbeda
tanda dengan input, sedangkan Non-inverting input adalah jika suatu sinyal disupplykan ke
terminal input ini akan menghasilkan output opamp dengan tanda yang sama dengan input.

Tabel 1. Absolute Maximum Ratings.

Supply Voltage  22 V
Internal Power Dissipation 500 mW
Differential Input Voltage  30 V
Input Voltage  15 V

2. Electrical Characteristics dan Parameter operasi.


Karakteristi elektrik Operasional Amplifier (Op-Amp) diberikan dalam kombinasi
harga typikal, minimum atau maksimum ditunjukan dalam table 2.

Tabel 2. Karakteristik elektrik Op-Amp 741. Vcc =  15 V, TA = 25C


Karakteristik Min Typ Max Unit
VIO Input Offset voltage 1 6 mV
IIO Input Offset current 20 200 nA
IIB Input Bias current 80 500 nA
VICR Common mode input voltage range  12  13 V
VOM Maximum peak output voltage swing  12  14 V
AD Large signal differential voltage ampl. 20.000 200.000
rI Input resistansi 0,3 2 M
ro Output resistansi 75 
CI Input Capasitansi 1.4 pF

CMMR Common mode rejection ratio 70 90 dB


ICC Supply current 1.7 2.8 mA
PD Total power dissipation. 50 85 mW

Dan Parameter Operasi diberikan dalam harga typikal, ditunjukan dalam table 3.

Tabel 3. Karakteristik Kerja Op-Amp 741. Vcc =  15 V, TA = 25C


Parameter Min Typ Max Unit
SR Slew rate at unity gain 0,5 V/s
B1 Unity gain bandwidth 1 MHz
Tr Rise Time 0,3 s
2.1. Resistansi Input dan Output.
Kelebihan op-amp adalah memiliki resistansi input yang besar dan resistansi output
yang kecil. Dalam rangkaian open loop memiliki resistansi input typical sebesar 2 M, tetapi
dalam rangkaian close loop kemungkinan nilai resistansi mengecil sekitar 0,3 M atau
300K. Untuk resistansi output tertera dalam table karakteristik elektrik sebesar 75  tidak
ada maximum atau minimum, dalam rangkaian close loop kemungkinan nilai resistansi output
akan berkurang. Gambar 3. ilustrasi resistansi input dan output.
_

RI RO

Gambar 3. Input Output Resistansi


2.2. Differensial voltage gain ( Ad )
adalah gain bila perbedaan sinyal tegangan input disupplaykan pada kedua terminal input.

2.3. Common mode voltage gain + ( Ac )


Adalah gain bila suatu sinyal input yang sama disupplaykan pada kedua terminal input
opamp.

2.4.Arus Bias Inpu (Input Bias Current).


Secara teoritis resistansi input op-amp tak terhingga, artinya tidak akan ada arus
yang lewat, tetapi kenyataannya ada arus bias input yang mengalir pada kedua input op-
amp dalam orde nano-ampere sampai dengan mikro-ampere. Arus ini adalah arus bias
mundur transistor. Harga rata-rata kedua arus itu dinamakam arus bias input (IIB) dalam
table karakteristik besarnya berkisar 80 – 500 nA.Arus bias input dirumuskan sebagai:
I bias = (IB+ + IB- ) / 2.
  I IB 
I IB 
I IB
I IB
  I IB

2
I IB
  I IB 
I IO
I IB
  I IB 
I IO
......... ( 1 )
2 2

2.5. Arus offset input (Input Offset Current).


Kedua arus input bias ini seharusnya sama besar, sehingga tegangan output akan nol, tetapi
kenyataannya tidak bisa. Arus offset input merupakan perbedaan arus bias input dari kedua
terminal input. dalam table karakteristik besarnya berkisar 20 – 200 nA
I os = │ IB+ - IB-│
2.6. Tegangan offset input, Vio( Input offset voltage)
Bila V1 dan V2 berada pada tegangan yang sama, tegangan output idealnya harus nol,
karena Vo = Ad ( V2 – V1). Tetapi pada prakteknya akan ada tegangan pada output.
Tegangan offset input didefinisikan sebagai perbedaan tegangan yang harus disupplaykan
pada kedua terminal input agar tegangan output sama dengan nol. ketidak seimbangan
rangkaian input dalam op-amp mengakibatkan munculnya tegangan output. Dengan
memberikan tegangan offset pada input (VIO), tegangan keluaran dapat di nolkan kembali.

Rg  Rf
V O (offset)  V IO
Rg
2.7. Common Mode Rejection Ratio.
Kemampuan op-amp untuk memperkuat tegangan differensial dan menolak tegangan
yang tidak diharapkan disebut common mode rejection ratio (CMRR). Dari besaran AD dan
AC dapat dihitung besaran dari CMRR seperti yang ditunjukan pada rumus 4. tambah tinggi
nilai CMRR maka akan lebih baik penolakannya.
Vo Vo AD
AD  AC  CMRR (dB)  20 log ........( 4 )
VD VC AC

2.8. Slew Rate, SR.


Rangkaian close loop apabila diberi tegangan pulsa pada inputnya maka output
rangkaian kemungkinan tidak berbentuk pulsa seperti pada input tetapi memiliki sudut
kemiringan yang besarnya dalam parameter disebut slew rate (SR) contoh ilustrasi di
perlihatkan pada gambar 2.4. besarnya nilai dari SR adalah perbandingan perubahan output
(Vo) dengan perubahan waktu (t). jadi Slew rate merupakan ukuran waktu yang dibutuhkan
untuk mensaklarkan output dari minimum tegangan negatip ke maximum tegangan positip.

VIN VO

VO

T(s) T(s)
t
Gambar 2.4. Slew Rate, Perubahan Input menjadi Output

ΔVo
SR  ( V/ μs )
Δt

2.9. Full power bandwidth ( f FPBW )


f FPBW merupakan frekwensi terbesar dari tegangan sinus penuh yang dapat di
outputkan opamp tanpa terjadinya efek slew rate.
Jika output,Vo = Vom sin (2πft), maka gradinnya: dVo/ dt = 2πf Vom cos (2πft).
Gradien akan max bila cos (2πft) = 1. Maka │ dVo/ dt │= 2πf Vom, dimana f adalah f
FPBW. Jadi SR = 2π f FPBW Vom. Dan f FPBW = SR / (2π Vom).
2.10. Gain-Bandwidth.
Penguatan tegangan akan berkurang apabila frekuensi bertambah besar dikarenakan
adanya rangkaian kompensasi internal didalam op-amp. Gambar 2.3. menunjukan plot gain
fungsi frekuensi dalam skala logaritma untuk typical op-amp, dari frekuensi rendah gain akan
mulai turun dikarenakan efek capacitif dari Opamp. penguatan adalah Penguatan tegangan
differensial (AD) umumnya 106 dB pada frek nol, lalu turun setelah kira kira 7 Hz, dan
apabila frekuensi diperbesar mengakibatkan penguatan berkurang sampai 2.3. (unit),
frekuensi pada gain 1 disebut unity gain frekuensi (f1) dan lebar band pada frekuensi ini
disebut unity gain bandwidth ( B1).

AD

0,707 AD f1 = B1

f1 = AD fc ………..( 5 )

0,707 = -3dB
0 fc f1
B1
Gambar 2.3. Gain Versus Frekuensi

3.Rangkaian linear opamp


Penguat Inverting.
Rangkaian Op-Amp dengan penguatan yang konstan dimana sinyal input diberikan ke input
inverting (-) dan input non inverting (+) dihubungkan ke ground disebut inverting amplifier,
ditunjukan pada gambar dibawah
Karena impedansi input opamp sangat
Besar sekali, maka I1 = If
I1 = (Vi – V-) / R1 dan
If = (V- - Vo) / Rf
(Vi – V-) / R1 = (V- - Vo) / Rf

Sedangakan Vo = A (V+ - V-)


Vo = A (0 - V-)
V- = - Vo / A dan karena A sangat besar sekali,maka
V- = -Vo / ∞ → V- = 0
(Vi – 0) / R1 = ( 0 – Vo) / Rf → Vi / R1 = - Vo / Rf, maka Vo/Vi = - Rf / R1.
Jadi tegangan output merupakan hasil kali tegangan input dengan penguatan yang konstan.
Pengaturan input resistor (R1) dan feedback resistor (Rf), tegangan keluaran (Vo) merupakan
kebalikan (inverted atau tanda negatif) dari tegangan input.

Penguat Non-inverting.
rangkaian Non-Inverting amplifier adalah sinyal input diberikan ke non-input inverting (+)
dan input inverting (-) dihubungkan ke grounded seperti gambar dibawah:
Karena input impedansi opamp sangat besar sekali, maka I1 = If ,
dimana If = (Vo - V- ) / Rf dan I1 = V-/R1. Sedang Vo = A (V+ - V-)
Vo/A = (V+ - V-)
Vo/ ∞ = V+ - V-
0 = V+ - V-
V+ = V-
Vi = V-

Jadi (Vo –Vi) / Rf = Vi /R1


Vo/Rf – Vi/Rf = Vi/R1
Vo/Rf = Vi/Rf + Vi/R1
Vo = Vi ( Rf/Rf + Rf/R1 )
Vo/Vi = 1 + Rf/R1.

Voltage Follower (Buffer).


Rangkaian gambar dibawah adalah rangkaian voltage follower menyediakan
penguatan (Av)=1. tidak ada perubahan bentuk sinyal.

Dari persamaan diatas. bilamana R1=~ dan Rf=0 maka persamaan voltage follower
adalah sebagai berikut:
Av = 1 Vo = Vi

Penguat Jumlah:
a.Inverting:
Iin = If dimana If = -Vo/Rf dan Iin = I1 + I 2 + I 3
= V1/R1 + V2/R2 + V3 /R3
-Vo/Rf = V1/R1 + V2/R2 + V3 /R3
Vo = -Rf (V1/R1 + V2/R2 + V3 /R3 )
Jika R1 = R2 = R3 = R, maka Vo = -Rf/R ( V1+ V2 + V3 )
Dan jika Rf = R, maka Vo = - (V1 + V2 + V3 )

b.Non-inverting:

Vo = [(Rf +Rg)/ Rg ]•[(R1 V2 ) / (R1 + R2 ) + (R2 V1 ) / (R1 + R2 )]


Jika R1 = R2 = Rf = Rg = R, maka Vo = V1 + V2

Penguat Beda ( Differensial Amplifier):

Vo = [R2 / ( R1 + R 2) • (R 3 + R 4)/ R 3 ] V 1 - (R4 / R 3) V2


Jika R1= R 3 = R dan R 2 = R 4 = AR,
maka Vo = [AR/(R + AR) • (R + AR)/R ] V 1 –(AR/R) V2
= A (V 1 – V2 )
Jika R1 = R 2 = R 3 = R 4 maka Vo = V 1 - V2

Integrator dan Differensiator

Rangkaian integrator dan differensiator termasuk rangkain pengolahan sinyal dimana


rangkaian mampu merubah bentuk tegangan input, menjadi bentuk lain pada tegangan output.
Rangkaian dasar dari integrator dan diferensiator adalah rangkaian RC. Ditunjukan pada
gambar berikut.
Vin Vout

Gambar Integrator pasif


Vin Vout

Gambar Differensiator pasif

Integrator:

I1 = Ic dimana I1 = Vi /R1 dan Ic = C d (-Vo)/dt


Maka: Vi/ R1 = - C (d Vo / dt)
dVo = -[Vi / (R1 C)] dt
∫dVo = ∫ -[Vi / (R1 C)] dt
Vo = ∫ -[Vi / (R1 C)] dt
Vo = - ∫ [Vi / (R1 C)] dt
Vo = -[ 1 / (R1 C)] ∫ Vi dt
Untuk sinyal input DC:

Untuk input Gel sinus:


Vi = A sin wt → Vo = (- 1/RC) ∫ A sin wt dt
= -A/(WRC) • ( - cos wt)
= A/(WRC) • cos wt
= A/(WRC) • sin ( wt + 90 ).
│Vo/Vi│= 1/WRC

Differensiator:
Ic = I dimana Ic = C dVi/ dt I
Rf

I = -Vo/R C
Vi
CdVi/dt = -Vo/R -
Ic Vo
Vo = - RC dVi/dt +

Untuk sinyal input DC:


Untuk input gel sinus:Vi = A sin wt,
maka Vo = -RC d( A sin wt )/ dt = - WRCA cos wt; dan│Vo/Vi│= WRC

Instrument Amplifier

Input stage
– high input impedance
. buffers gain stage
– no common mode gain
– can have differential gain
Gain stage
– differential gain, low input impedance
Overall amplifier
amplifies only the differential component
high common mode rejection ratio
high input impedance suitable for biopotential electrodes with high output impedance

1.4.Feedback OpAmp.

1.4.1.Feedback pada Non-inverting amplifier:


Rf
If

Rg
Ig V-
-
Ve Vo
+
Vi
Vo = A (V – V ) dan Ve = Vi – V- dimana V- = [Rg /(Rg + Rf)] ∙ Vo
+ -

V- = tegangan feedback dari output.


Ve=Vi-Vf
Vi + Vo
A
-
Vf= Bvo Vo
B
Vf = βVo dan Vf = V- dimana V- = [Rg /(Rg + Rf)] ∙Vo
Jadi βVo = [Rg /(Rg + Rf)] ∙ Vo, dengan demikian β = Rg /(Rg + Rf).
Dari blok feedback umum adalah: Vo = A (Vi – Vf)
Vo = A (Vi – βVo) → Vo = AVi – AβVo
Vo + AβVo = AVi → Vo (1 + Aβ) = AVi
Vo/Vi = A/ (1 + Aβ) = (1/β) / [1 + 1/(Aβ)] = [(Rf +Rg)/Rg] / [ 1+ (Rf+Rg)/(ARg)].
Rin = (1+βA) rid ≈ βA rid; dimana rid = tahanan input opamp
Rin = tahanan input penguat.
Ro = ro /(1+βA) ≈ ro /(βA). dimana ro = tahanan output opamp
dan Ro = tahanan output penguat.
1.4.2.Feedback pada inverting amplifier:

If Rf

R1
Vi
-
V- Vo
I1
+

Vi /R1 – V- /R1 = V- /Rf – Vo/Rf dan Vo = A (V+ – V-) = A (0 – V-)→ V- = -Vo/A.


Vi/R1 + Vo/R1 = -Vo/ARf – Vo/Rf.
Vo/Vi = (-Rf/R1) / [1 + (R1+Rf)/(AR1)]
Dan feedbacknya:
Rf

R1
-
V- Vo
+

V- =[ R1/(R1+Rf)] Vo; dimana Vf = βVo dan V- =Vf, maka β = R1/(R1+Rf).


Jadi Vo/Vi =(-RF/R1) / [1+(1/Aβ)].
Sedangakan blok positip feedback adalah:
Ve=Vi+Vf
Vi + Vo
-A
-
Vf= Bvo Vo
B
Vo = -Ave = -A (Vi + Vf) = -A (Vi + βVo) = -Avi – βAVo
Vo + βAVo = -AVi → Vo (1+ βA) = -AVi→ Vo/Vi = -A/(1+ βA) = (-1/ β) / ( 1+ 1/βA)
Vo/Vi = [-(Rf+R1)/R1] / (1+1/ βA).
Karena Vo/Vi dari inverting amplifier berbeda dengan Vo/Vi dari blok positif feedback, untuk
menyamakan Vo/Vi dari inverting amplifier maka Vo/Vi dari blok positif feedback harus
dikalikan dengan factor [Rf/(R1+Rf)] , yaitu:
Vo/Vi = [Rf/(R1+Rf)] ∙ [-(Rf+R1)/R1] / (1+1/ βA) = (-RF/R1) / [1+(1/Aβ)].
Jadi blok rangkaian feedback penguat inverting adalah:

Ve=Vi+Vf
Vi + Vo
Rf/(R1+Rf) -A
-
Vf= Bvo Vo
B
Rin = R1 + Rf/(1+A) ≈ R1.
Ro = ro/(1+Aβ) ≈ ro/Aβ. Dimana β = R1/(R1+Rf).

1.5.Arus offset input.


Untuk mengurangi arus bias, resistor kompensasi (pengganti) Rc dihubungkan seri
dengan non-inverting input. Pemilihan harga Rc yang tepat akan meminimalkan tegangan
offset output dikarenakan arus bias. Gambar dibawah memperlihatkan arus bias IB- dan
IB+ mengalir kedalam inverting dan non-inverting input opamp saat sinyal input diground
kan. Arus bias tersebut bisa mengalir kedalam atau keluar terminal input tergantung pada
jenis rangkaian. Dengan menganggap arah arus seperti tertera pada gambar, dan resistor
kompensasi Rc dihubungkan seri dengan non-inverting input.

Rf

R1
-
Ib Vo
Rc +
Ib
\
Rangkaian penggantinya

+
Rf

R1
-
Ib R1 _ Vo
Rc +
Ib Rc

Tegangan offset output dikarenakan masing-masing sumber input adalah:


Vo1 = -Ib- R1 (Rf/R1 ) = - Ib- Rf
Vo2 = Ib+ Rc ( Rf + R1) / R1
Total offset output adalah Vos (Ib) = Vo1 + Vo2 = Ib+ Rc ( Rf + R1) / R1 - Ib- Rf
Untuk meminimalkan besaran Vos(Ib) dengan mengassumsikan bahwa arus biasnya sama
yaitu Ib+ = Ib- = Ibb.
Jadi Vos(Ib) = Ibb [Rc ( Rf + R1)/ R1 – Rf ].
Untuk menjadikan Vos(Ib) = 0, maka [Rc ( Rf + R1)/ R1 – Rf ] harus sama dengan nol, atau
[Rc ( Rf + R1)/ R1 – Rf ] = 0 → Rc ( Rf + R1)/ R1 = Rf → Rc =( Rf • R1)/( Rf +R1 ), yang
merupakan Rc = R1 // Rf.
Jadi tegangan offset output dikarenakan arus bias input dapat diminimalkan dengan
menghubungkan resistor kompensasi Rc dengan harga Rc = R1 // Rf yang seri dengan non-
inverting input. Metode kompensasi tersebut berlaku baik untuk konfigurasi penguat inverting
maupun penguat non-inverting. Harga Vos(Ib) dengan memakai Rc = R1 // Rf
adalah Vos(Ib) = |Ib+ - Ib- | Rf, dimana |Ib+ - Ib- | disebut arus offset input.

1.6.Slew Rate:
Slew rate merupakan rating kemungkinan maximum dimana tegangan output penguat
dapat berubah dalam Volt per second. Rating perubahan dari bentuk gelombang ramp adalah
perubahan pada tegangan dibagi dengan lamanya waktu selama perubahan terjadi. Jadi rating
perubahan = ( V2 - V1 ) / ( T 2 – T 1) = ∆V / ∆T Volt per second.
Karena harga yang dinyatakan slew rate penguat adalah rating maximum dimana output dapat
berubah, penguat tidak bisa dioperasikan dengan segala bentuk gelombang input, karena
output akan melebihi rating perubahannya.
Contoh: Jika slew rate = 106 V/s, tidak bisa mengoperasikan penguat yang mempunyai
gain = 1 dengan sinyal input berubah dari -5V ke +5V dalam 0,1 μs, karena akan
menghasilkan output dengan rating perubahan 108 V/s. Dalam hal ini rating perubahan output
melebihi slew ratenya. Sama halnya tidak bisa mengoperasikan penguat yang mempunyai
gain = 10, dengan input berubah dari 0V ke 1V dalam 1μs, karena akan menghasilkan output
dengan rating perubahan 107 V/s. Dalam hal ini rating perubahan output melebihi slew
ratenya.
Contoh lain: Pada rangkaian dibawah dengan input gelombang ramp seperti tertera
dalam gambar, tentukan maximum gain tanpa melebihi slew rate, jika opamp mempunyai
slew rate = 0,5V/ μs.
If Rf

V i(V )
R1
Vi
-
0 ,6 Vo
I1
+

20
40 t(u s )
-0 ,2

Jawab: Rating perubahan input = ∆V/∆T = ( V2 - V1 ) / ( T 2 – T 1)


= 0,6 – ( -0,2)/(40-20) μs
= 4 x 104 V/s
slew rate = 0,5V/μs = 5 x 105 V/s.
Jadi max gain = (5 x 105 ) /(4 x 104) = 12,5.
Untuk gelombang sinus atau gelombang complex tidak boleh menggunakan amplitudo
yang besar atau frekwensi yang besar, karena akan menghasilkan output yang melebihi slew
ratenya, dan jika melebihi slew ratenya maka akan terjadi distorsi pada gelombang output.
Jika outputnya gelombang sinus Vo(t) = K sin ωt, dengan menggunakan kalkulus
(differensialkan terhadap t), rating perubahan maximum sinyal output dapat dihasilkan, yaitu:
Rating perubahan max=dVo/dt=d(Ksin ωt)/dt= Kω cos ωt.
Dan harga maximum = K ω, dimana K = amplitudo gel sinus output
ω = frekwensi angular
Jadi rating perubahan berbanding lurus dengan amplitudo dan frekwensi sinyal. Supaya
output tidak terjadi distorsi harus memenuhi syarat bahwa:
K ω ≤ Slew rate atau K(2πf) ≤ Slew rate.
Dan harga f maximum, f max = Slew rate/(2πK) Hz atau ω max = (Slew rate /K) rad/s.
1.7 Rangkaian Non-Linear OpAmp
1.7.1.Comparator:
Comparator merupakan komponen yang menghasilkan output dalam keadaan tinggi atau
keadaan rendah, dimana untuk keadaan tinggi adalah jika tegangan pada non-inverting input
lebih besar dari tegangan pada inverting input, sedangkan keadaan rendah adalah jika
tegangan pada inverting input lebih besar dari tegangan pada non- inverting input. Batasan
perubahan keadaannya biasa disebut tripping point ( threshold voltage atau referensi ).
Besaran +Vcc dan –Vcc yang diberikan sesuai dengan besarnya amplitudo output yang
diinginkan.

+Vcc Vo
V+ +Vosat
Vo
V- Vi
-V c c
-V o s a t

Vo+sat = +Vcc dan Vo-sat = -Vcc.

1.7.2.Schmitt trigger:

Schmitt trigger menghasilkan output segi empat, dimana sinyal input dianggap cukup
besar untuk melewati kedua titik perpindahan. Saat tegangan input melewati VUT pada ayunan
atas dari ½ siklus positip, tegangan output menyaklarkan ke Vo-sat. Pada ½ siklus berikutnya,
tegangan input menjadi lebih negatip dari VUT, output akan menyaklarkan kembali ke Vo+sat.
Output segi-empat yang dihasilkan bersesuaian dengan bentuk sinyal input. Selama bentuk
gelombang input periodic dan mempunyai amplitude yang cukup besar untuk melewati titik
triping, akan dihasilkan output segi-empat dari Schmitt trigger yang frekwensinya sama
dengan frekwensi sinyal input.

Inverting Schmitt trigger:

VUT = [R2/(R1+R2)] Vo+sat

VLT = [R2/(R1+R2)] Vo-sat


VUT = [R2/(R1+R2)] Vo+sat + [R1/(R1+R2)] Vref

VLT = [R2/(R1+R2)] Vo-sat + [R1/(R1+R2)] Vref

Non-inverting Schmitt trigger:

VUT = (R1/R2) Vo+sat

VLT = (R1/R2) Vo-sat

VUT = (R1/R2) Vo+sat + [(R1+R2)/R2] Vref

VLT = (R1/R2) Vo-sat + [(R1+R2)/R2] Vref

1.7.3.Perubah gelombang segi empat ke segi tiga:

Gelombang segi empat merupakan input ke integrator. Karena tegangan input harga
rata-rata tegangannya sama dengan nol, maka harga rata-rata tegangan output sama dengan
nol. Gelombang ramp menurun selama ½ siklus positip tegangan input, dan gel ramp menaik
selama ½ siklus negatip. Karena itu output merupakan gelombang segi tiga dengan frekwensi
sama seperti frekwensi input. Dengan analisa perubahan gelombang ramp, maka tegangan
output diberikan oleh:

Vout = Vin/(4fRC). Dimana Vout dan Vin adalah harga dari puncak ke puncak.

1.7.4.Perubah gelombang Segi-tiga ke Pulsa:

Gambar rangkaian dibawah dapat merubah input gelombang segitiga ke output segi
empat. Dengan variasi harga R2, dapat merubah lebar pulsa output yang sebanding dengan
variasi siklus kerja. Bila W mewakili lebar pulsa dan T mewakili perioda, maka siklus kerja :
D = [W/T] x 100%.

Pada dasarnya rangkaian ini merupakan rangkaian limit detector yang menyaklarkan keadaan
output saat tegangan input melewati level tertentu. Comparator mempunyai tegangan ref pada
terminal inverting input yang bisa diatur sebesar Vref = R2/(R1+R2)] Vcc. Vref bisa
memindahkan titik triping dari nol ke level positip. Saat tegangan input segi tiga melebihi
tegangan referensi Vref, outputnya akan tinggi. Karena Vref bisa diatur, maka dapat
mengatur lebar pulsa output yang sebanding dengan perubahan siklus kerja. Dan siklus kerja
dapat diatur dari 0 hingga 50%.

1.7.5.Relaksasi Oscilator:

Pada rangkaian dibawah dapat membangkitkan output gelombang segi-empat. Bila


output = Vo+sat, capasitor akan mengisi muatan menuju Vo+sat, tetapi tegangan pada
capacitor tidak akan mencapai Vo+sat, karena tegangannya menyentuh VUT. Saat tegangan
capacitor menyentuh VUT, tegangan output menyaklarkan ke Vo-sat, dan capacitor akan
mengosongkan muatannya menuju Vo-sat. Saat tegangan capacitor menyentuh VLT, tegangan
output akan menyaklarkan kembali ke Vo+sat. Siklus akan berulang-ulang.

Relaksasi oscilator didefinisikan sebagai rangkaian yang dapat membangkitkan output


yang frekwensinya tergantung pada pengisian dan pengosongan capacitor. Jika konstanta
waktu RC diperbesar, maka makin lama waktu yang dibutuhkan teg capacitor untuk mencapai
titik triping. Dengan variasi harga R, maka frekwensi output dapat divariasikan.
Saat perpindahan dari Vo-sat ke Vo+sat, capacitor mengosongkan muatan ke[-βVo-sat]. Jadi
tegangan pada terminal inverting input adalah {[-βVo- sat] + Vo+sat}.
Dengan demikian persamaannya adalah:
β Vo+sat = Vo+sat – (Vo+sat - βVo-sat) e –T1/RC
Vo+sat (1 - β) = (Vo+sat - βVo-sat) e –T1/RC
T1 = RC ln {[(Vo+sat - βVo-sat)] / [Vo- sat (1 – β)]}
Sama halnya untuk T2 adalah:
T2 = RC ln {[(Vo-sat - βVo+sat)] / [Vo+ sat (1 – β)]}
Jika |Vo+sat| = |Vo-sat|, maka T1 = T2 = RC ln [(1+β)/(1-β)].
Maka perioda T = T1 + T2 = 2RC ln [(1+β)/(1-β)].
Dimana β=