Você está na página 1de 19

Anatomi dan Fisiologi Kulit

1. Anatomi kulit

Kulit merupakan organ tubuh yang penting dan merupakan permukaan luar organisme yang

membatasi lingkungan dalam tubuh dengan lingkungan luar. Kulit tumbuh dari dua macam

jaringan yaitu jaringan epitel yang menumbuhkan lapisan epidermis dan jaringan pengikat

(penunjang) yang menumbuhkan lapisan dermis (kulit dalam) (Ernest, 1999; Syaifuddin,
2011).

a. Lapisan Kulit

Lapisan kulit dibedakan menjadi dua lapisan utama yaitu kulit ari (epidermis) dan kulit jangat

(dermis / kutis). Kedua lapisan ini berhubungan dengan lapisan yang ada dibawahnya dengan

perantara jaringan ikat bawah kulit (hipodermis/subkutis). Dermis atau kulit mempunyai alat
tambahan atau pelengkap kulit (Syaifuddin, 2011).

· Epidermis

Kulit ari atau epidermis adalah lapisan paling luar yang terdiri dari lapisan epitel gepeng,

unsur utamanya adalah sel-sel tanduk (keratinosit) dan sel melanosit. Lapisan epidermis

tumbuh terus karena lapisan sel induk yang berada bermitosis terus, lapisan paling luar

epidermis akan terkelupas atau gugur. Epidermis tersusun oleh sel-sel epidermis terutama

serat-serat kolagen dan sedikit serat kolagen dan serat elastik. Kulit ari (epidermis) terdiri dari
beberapa lapis sel yaitu :

o Stratum korneum; Terdiri dari banyak lapisan sel tanduk (keratinasi), gepeng, kering dan

tidak berinti. Sitoplasma diisi dengan serat keratin, makin keluar letak sel, makin gepeng

seperti sisik lalu terkelupas dari tubuh, yang terkelupas diganti oleh sel lai. Zat tanduk

merupakan keratin lunak yang susunan kimianya berada dalsm sel-sel keratin. Lapisan tanduk
hampir tidak mengandung air karena adanya penguapan air, elastisnya kecil dan sangat
efektif untuk pencegahan penguapan air dari lapisan yang lebih dalam.

Gambar 1. Penampang Skematik Stratum Korneum

o Stratum lusidum ; terdiri dari beberapa lapis sel yang sangat gepeng dan bening. Sulit

melihat membran yang membatasi sel-sel itu sehingga lapisannya secara keseluruhan tampak
seperti kesatuan yang bening. Lapisn ini ditemukan pada daerah tubuh yang berkulit tebal.

o Stratum granulosum; terdiri dari 2-3 lapis sel poligonal yang agak gepeng, inti ditengah,

dan sitoplasma berisi butiran granula keratohialin atau gabungan keratin dengan hialin.
Lapisan ini menghalangi masuknya benda asing, kuman, dan bahan kimia kedalam tubuh.

o Stratum germinativum yang dapat dibagi lagi menjadi stratum spinosum (lapisan berduri)

dan stratum malfighi. Batas germinatifum dengan dermis dibawahnya berupa lapisan tipis

jaringan pengikat yang disebut lamina basalis. Pada stratum malfighi diantara sel epidermis
terdapat melanosit yaitu sel yang berisi pigmen melanin yang berwarna coklat dan sedikit
kuning.

· Dermis

Batas dermis (kulit jangat) sukar ditentukan karena menyatu dengan lapisan subkutis

(hipodermis). Ketebalannya antara 0.5-3 mm. Dermis bersifat elastis yang berguna untuk
melindungi bagian yang lebih dalam. Dermis terdiri dari jaringan kolagen 75%, elastin 4%,
retikulin 0.4% dan serat elastin yang membalut matrik polisakarida yang mengandung

pembuluh darah, limfatik, dan ujung syaraf. Dermis merupakan penghalang yang signifikan

untuk permeasi obat menuju bagian dalm karena sifat vaskularnya. Pada perbatasan

epidermis dan dermis terdapat tonjolan–tonjolan kulit kedalam kulit ari (epidermis) yang
disebut papil kulit jangat.

Lapisan dermis terdiri dari :

a. Lapisan papilla: mengandung lekuk-lekuk papilla sehingga stratum Malfighi juga ikut

berlekuk. Lapisan ini memegang peranan penting dalam peremajaan dan dan penggandaan
unsur -unsur kulit

b. Lapisan retikulosa: mengandung jaringan pengikat rapat dan serat kolagen. Lapisan ini

terdiri dari anyaman jaringan ikat yang lebih tebal. Dalam lapisan ini ditemukan sel-sel

fibrosa, sel histiosit, pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf, kandung rambut kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, sel lemak dan otot penegak rambut.

· Hipodermis

Lapisan bawah kulit terdiri dari jaringan pengikat longgar. Komponennya serat longgar,

elastis, dan sel lemak. Pada lapisan adiposa terdapat susunan lapisan subkutan yang

menentukan motilitas diatasnya. Bila terdapat lobules lemak yang merata di hipodermis

membentuk bantalan lemak yang disebut panikulus adiposus. Pada daerah perut lapisan ini

mencapai ketebalan 3 cm. Dalam lapisan hypodermis terdapat anyaman pembuluh darah

arteri, pembuluh darah vena dan anyaman syaraf yang berjalan sejajar dengan permkaan

dibawah dermis. Jaringan lemak (panikulus adiposus ) ini berfungsi memberi perlindungan

terhadap dingin dan disamping itu dapat bermanfaat sebagai cadangan energi (Ernest, 1999;
Syaifuddin, 2011)
Gambar 2. Penampang Struktur Kulit

2. Fisiologi kulit

Jaras reseptor kulit berada didalam kulit. Jaras viskeral berhubungan dengan persepsi keadaan
intern. Pada organ sensorik kulit terdapat empat jaras yaitu rasa raba atau tekan, dingin,

panas, dan rasa sakit. Kulit mengandung berbagai ujung sensorik termasuk ujung saraf
telanjang atau tidak bermielin (selaput).

Kulit mempunyai banyak fungsi yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-
fungsi tersebut antara lain (Syaifuddin, 2011):

a. Fungsi termoregulasi

Panas tubuh dihasilkan dari aktivitas metabolik dan pergerakan otot. Panas seperti ini harus
dikeluarkan atau suhu tubuh akan naik diatas batas normal. Pada lingkungan suhu dingin paas
harus dipertahankan atau suhu tubuh akan turun dibawah batas normal.
Pengeluaran panas melalui kulit berlangsung melalui proses evaporasi air (perubahan

molekul air) yang disekresi oleh kelenjar keringat dan juga melalui proses perspirasi (sekresi

keringat), difusi molekul air melalui kulit. Dalam pengaturan suhu tubuh kulit berperan

mengeluarkan keringat dan kontraksi otot dengan pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan
pembuluh darah sehingga memungkinkan kulit mendapat nutrisi yang cukup baik.

b. Fungsi proteksi

Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis (misalnya gesekan, tarikan,

gangguan kimiawi) yang dapat menimbulkan iritasi ; gangguan panas (misalnya radiasi, sinar

ultraviolet dan infeksi dari luar [bakteri dan jamur] ). Bantalan lemak dibawah kulit berperan
sebagai pelindung terhadap gangguan fisis. Melanosit melindungi kulit dari sinar matahari.

c. Fungsi absorpsi

Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air dan larut tetapi cairan yang mudah menguap lebih

mudah diserap. Begitu juga yang larut dalam lemak. Permeabilitas kulit terhadap oksigen,

karbondioksidadan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi.

Kemampuan absorpsi kulit memengaruhi tebal atau tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan, dan

metabolism. Penyerapan terjadi melalui celah antar sel, menembus sel epidermis dan saluran
kelenjar.

d. Fungsi ekskresi

Kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna (zat sisa metabolisme) dalam tubuh

berupa Na Cl, urea, asam urat dan ammonia. Lapisan sebum berguna untuk melindungi kulit

karena lapisan sebelum mengandung minyak untuk melindungi kulit, menahan air yang

berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produksi kelenjar lemak dan keringat
menyebabkan keasaman pada kulit.

e. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung- ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis untuk merangsang

panas yang diterima oleh dermis dan subkutis. Sedangkan untuk rangsangan dingin terjadi di

dermis, sedangkan tekanan dirasakan oleh epidermis serabut saraf sensorik yang lebih banyak
jumlahnya di daerah erotik.

f. Fungsi pembentukan pigmen

Melanosirt membentuk warna kulit. Enzim melanosum dibentuk alat golgi dengan bantuan
tiroksinasi yang meningkatkan metabolism sel, ion Cu, dan oksigen.

g. Fungsi keratinasi

Sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuk menjadi sel spinosum. Makin ke atas sel

ini semakin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Selanjutnya inti sel menghilang

dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus menerus seumur
hidup.

h. Fungsi pembentukan vitamin D

Pembentukan vitamin D berlangsung dengan mengubah dihidroksi kolesterol dengan

pertolongan sinar matahari. Kebutuhan vitamin D tidak cukup hanya dari proses tersebut,
pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan.

B. Proses Absorpsi Obat Melalui Kulit

Absorpsi perkutan melibatkan difusi pasif dari zat melalui kulit. Molekul dapat menggunakan

dua rute difusi untuk menembus kulit normal, rute appendageal (transapendageal) dan rute
epidermal (Kumar, Agarwal, Rana, Sharma, & Bhat, 2011).

1. Rute Appendageal
Fc

Gambar 3.Rute Permeasi Obat

2. Rute Epidermal

Rute permeasi obat secara epidermal terbagi menjadi dua rute yaitu rute transelular dan rute
intraselular
Gambar 4. Rute Epidermal

- Rute Transeluler

Pada jalur transelular pengangkutan molekul melewati membran sel epitel. Rute ini termasuk

dari transpor pasif untuk molekul yang berukuran kecil, transpor aktif untuk senyawa ionik
dan polar, serta endositosis dan transitosis makromolekul.

- Rute Interseluler

Pada jalur intersaluler pengangkutan molekul dilakukan dengan melewati ruang sempit di
sekitar atau antara sel-sel.

Terdapat tiga variabel yang mempengaruhi kecepatan permeasi obat melewati kulit yaitu

konsentrasi obat dalam pembawa, koefisien partisi obat, dan difusifitas obat dalam stratum

korneum. Partisi obat yang bersifat hidrofilik masuk ke dalam jalur rute intranseluler,

sedangkan obat dengan sifat lipofilik akan melewati stratum korneum melalui rute

interselluler. Kebanyakan obat menembus stratum korneum melalui kedua rute. Namun, jalur

intersellular yang memiliki karaketristik berliku-liku secara umum dianggap dapat

memberikan rute dan penghalang utama untuk perembesan sebagian besar obat (Allen,
Popovich, & Ansel, 2014).
Gambar 5. Urutan Permeasi Obat secara Transdermal

Proses perjalanan obat dari sediaan transdermal menuju sirkulasi sistemik dimulai dari

disolusi obat, tahapan difusi dan partisi, pembentukan depot obat, metabolisme dan

pengambilan melalui kapiler dan vasklator (gambar 6) . Namun, absorpsi perkutan suatu obat

secara umum dihasilkan dari penetrasi obat langsung melalui stratum korneum. Setelah

melalui stratum korneum, molekul obat dapat melintasi jaringan epidermal yang lebih dalam

melalui difusi pasif dan memasuki dermis. Jika obat mecapai pembuluh darah pada lapisan
dermal obat dapat masuk kedalam sirkulasi sistemik (Agoes, 2008; Allen et al., 2014)

Gambar 6. Urutan proses absorpsi obat secara sistemik dari sediaan transdermal

1. Disolusi 2,4,6. Difusi 3,5. Partisi 7. Depot jaringan, 8. Metabolisme dan 9,10. Sistem
Kapiler

C. Faktor Fisiologi yang Mempengaruhi Absorpsi Melalui Kulit


Kulit merupakan pelindung utama antara tubuh dan lingkungan dimana manusia itu tinggal.

Kulit mempunyai fungsi utama dalam mengatur senyawa yang keluar atau masuk ke dalam

tubuh. Berbeda dengan jaringan sel dalam tubuh seperti sel epitel di saluran pencernaan dan

sel yang berada pada paru-paru, jaringan sel pada kulit di desain untuk membiarkan hanya

sedikit partikel asing masuk dan mencegah hilangnya air atau konstituen yang keluar dari
tubuh (Barrier et al., 2012).

Selain sifat-sifat yang telah disebutkan di atas, kondisi fisiologis pada kulit manusia juga

dapat mempengaruhi proses absorpsi obat melewati kulit, antara lain terbagi berdasarkan
faktor-faktor brikut ini (Agoes, 2008; Kesarwani et al., 2013):

· Kondisi kulit

Pengaruh sifat asam dan basa pada pelarut yang digunakan seperti kloroform, metanol akan

merusak sel-sel kulit sehingga dapat meningkatkan penetrasi. Penyakit yang diderita

umumnya dapat mengubah kondisi kulit, kondisi ini juga mempengaruhi penetrasi obat
melewati kulit.

· Usia kulit

Kulit yang mempunyai usia muda lebih permeabel dibandingkan kulit dengan usia yang lebih

tua. Kulit Anak- anak lebih sensitif pada penyerapan racun. Dengan demikian, usia kulit
adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penetrasi obat.

· Aliran darah

Perubahan sirkulasi periferal dapat mempengaruhi absorpsi transdermal.

· Perbedaan spesies

Ketebalan kulit, kepadatan dan keratinisasi kulit bervariasi dari spesies satu dengan spesies
yang lain sehingga mempengaruhi penetrasi obat melewati kulit.
· Lokasi aplikasi

Tempat pengaplikasian sediaan transdermal pada kulit perlu memperhatikan permeabilitas

tiap bagian permukaan kulit. Hal ini dikrenakan stratum korneum yang terdapat pada

permukaan kulit bervariasi antara lain adanya perbedaan ketebalan, jumlah lapisan sel,

tuumpukan atau lapisan sel, jumlah lipid pada permukaan dan jumlah relative berbagai lipid

intraselular. Beberapa faktor tersebut perlu dipertimbangkan saat akan melakukan

pengembangan produk ditinjau dari aspek fisiologis, kosmetik atau alasan lain yang
mengharuskan pembatasan penggunaan pada lokasi yang relatif permeabel.

· Metabolisme kutanous

Satu-satunya mekanisme transportasi melalui kulit yaitu dengan difusi pasif. Bagian kulit

yang mengalami metabolisme paling aktiif yaitu pada epidermis. Proses metabolisme pada

kulit yang mengalami metabolisme meliputi reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis dan

konyugasi. Keberadaan enzim bakteri pada permukan kulit merupakan salah satu alur

inaktivasi obat yang diberikan secara topikal. Kulit akan memetabolisme steroid, hormon,

karsinogen kimia dan beberapa obat. Jadi metabolisme kulit menentukan efektifitas obat
meresap melalui kulit.

· Hidrasi kulit

Sediaan transdermal memiliki bagian penutup belakang pets yang dapat menyebabkan

peningkatan hidrasi pada kulit dan penumpukan cairan antaran sediaan transdermal dan kulit

karena terjadinya sifat oklusif. Adanya penumpukan cairan ini akan meningkatkan

pertumbuhan mikroba sehingga terjadi peningkatan biotransformasi obat pada permukaan

kulit. Hidrasi pada stratum korneum dapat meningkat, memperlambat atau bahkan sama

sekali tidak mempengaruhi efek permeasi. Namun pada obat-obat tertentu (asam salisilat,

kortikosteroid, kafein dan ibu profen) dengan peningkatan hidrasi kecepatan permeasi obat
juga mengalami peningkatan.
· Pemilihan obat

Obat yang dibuat dalam bentuk sediaan transdermal harus mempunyai kelarutan dengan air

lebih besar dari 1 mg/ml, dengan minyak lebih besar dari 1 mg/ml, bobot molekulnya kurang
dari 1000, dan dosisnya kurang dari 10 mg/ml. Kriteria pemilihan obat lainnya antara lain :

1. Waktu Paruh

Salah satu pertimbangan pemilihan obat secara transdermal didasarkan pada obat yang
mencapai kesetimbangan secara tepat dalam dosis rendah.

2. Toksisitas obat pada kulit

Obat yang diberikan secara transdermal memiliki waktu kontak yang cukup lama dengan

kulit. Oleh karena itu, sangat mungkin apabila terjadi iritasi atau reaki imunitas. Selain dari

krakteristik fisikokimia dari bahan aktif obat, bahan eksipien (tambahan) dapat menyebabkan
kulitt terkelupas dan menimbulkan iritasi

Dewasa ini hanya beberapa obat daja yang dapat dihantarkan secara transdermal, hal ini

dikarenakan permebilitas obat tidak cukup baik melewati kulit, toleransi obat tidak cukup

oleh kulit, dan kebutuhan penggunaan klinik. Kriteria penting dalam proses seleksi obat
tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

3. Permeabilitas kulit yang cukup

 § Obat dengan bobot molekul rendah

 § Obat dengan suhu lebur rendah

 § Obat dengan kelarutan moderat dalam minyak dan air


 § Obat poten

4. Penerimaan kulit yang cukup baik

 § Obat tidak mengiritasi


 § Obat tidak menimbulkan sensitisasi
 § Obat tidak dimetabolisme di kulit

5. Kebutuhan klinik yang cukup

 § Kebutuhan untuk memperlama pemberian

 § Kebutuhan untuk meningkatkan penerimaan pasien


 § Kebutuhan untuk mengurangi efek samping pada jaringan bukan sasaran.

· Peningkat permeasi

Impermeabilitas kulit mendorong pengembangan sejumlah strategi untuk meningkatkan


permeasi melalui dua pendekatan antara lain sebagai berikut:

1. Pendekatan dengan bahan kimia

Pendekatan kimia terbagi menjadi tiga cara antara lain :

a. Cara yang menyebabkan bahan aktif berada dalam keadaan aktivitas termodinamika

tinggi. Proses ini terjadi kehilangan pelarut karena evaporasi atau difusi kedalam kulit. Selain

itu matrik polimer dalpat mengambil air dari kulit yang dapat mengganggu sifat kelarutan
polimer.

b. Penggunaan pelarut yang berpermeasi ke dalam kulit dan berperilaku sebagai pembawa

bahan aktif. Misal, beberapa pets tipe reservoir pelaru didalamnya dapat berkodifusi dengan
bahan aktif sehingga akan memfasilitasi lewatnya obat melalui stratum korneum.

c. Komponen formulasi berpermeasi ke dalam inter seluler lipid. Hal ini akan

mennimbulkan daerah imana difusi berlangsung lebih cepat dan permeasi melalui stratum
korneum akan ditingkatkan

2. Pendekatan dengan fisika.


Pendekatan fisika contohnya adalah iontophoresis. Iontophoresis adalah pemberian obat
melalui kulit yang didorong oleh aliran listrik dan memiliki tiga komponen dasar antara lain:

a. Sumber aliran listrik yang biasanya terdiri dari sebuah baterai dan kontrol elektronik.

b. Sistem reservoir aktif yang mengandung bahan aktif dalam bentuk ionik.

c. Sistem reservoir kembalian yang mengandung suatu elektrolit dan berfungsi untuk
mengembalikan aliran listrik

Apabila sistem reservoir aktif dan reservoir kembalian diletakkan di kulit, sumber arus

menyebabkan aliran elektrolit mengalir menuju reservoir aktif dan ditransformasi menjadi
aliran ionik dan sebaliknya.

· Adhesif

Sediaan transdermal yang akan digunakan untuk jangka waktu lama memerlukan adhesi
untuk melekatkan sediaan ke kulit dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Biokompaktiilitas yang baik.

2. Menunjukkan adhesi yang baik terhadap kulit yang berminyak, basah, mengkerut dan

lembab.

3. Menunjukkan permeabilitas baik terhadap kelembaban untuk mencegah oklusi


berlebihan terhadap obat.

· Model fisik penghalang terhadap permeasi obat

Pada model fisik sebagai model transdermal, terdapat 4 macam penghalang terhadap
permeasi obat, antara lain segai berikut:

1. Matrik polimer

2. Membran polimer

3. Lapisan adhesif
4. Stratum korneum
· Drama imunologi sediaan transdermal

Permeasi obat secara transdermal berkaitan dengan eksposur obat sebagai antigen terhadap

sistem imunlogi kulit sehingga mengakibatkan asosiasi dengan antigen sel dan akhirnya

berlangungnya ekspansi klonal antara antigen dan limfosit T reaktif. Sesudah limfosit T

diaktvasi terjadi peningkatan permeabilitas lokal diikuti dengan keluaran antigen melalui

limfosit dan makrofag dari dermis dan kulit. Respon imun ini menghasilkan reaksi yang

serius misalnya terjadinya alergi kontak dermatitis dan menetralisasi aktivitas obat shingga
tidak memberikan efek terapi

D. Faktor Fisikokimia yang Mempengaruhi Absorpsi Melalui Kulit

Beberapa parameter fisikokimia obat dapat mempengaruhi permeasi obat melewati kulit.

Faktor fsikokimia yang mengontrol difusi pasif sebuah substansi dari zat pembawa dan

melewati kulit ditentukan oleh bentuk molekuler substansi, zat pembawa dan kulit.

Perubahan sifat zat pembawa dapat terjadi setelah sediaan diaplikasikan ke kulit. Hal ini

terjadi karena adanya penguapan zat yang memiliki sifat volatil (mudah menguap) sehingga

akan mempengruhi permeasi dari obat melewati kulit. Selain itu adanya lapisan stratum

korneum kulit menjadi penghalang terhadap leawatnya sebagian besar bahan kimia (obat).

Hanya sedikit obat yang dapat menembus (permeasi) lapisan tanduk ini pada jumlah dosis
yang cukup untuk memberikan efek terapi (Agoes, 2008; Nalenz, 2006).

Faktor-faktor fisiko-kimia yang mempengaruhi absorpi obat melewati kulit antara lain
sebagai berikut :

1. Berat molekul

Obat dengan berat molekul antara 100- 800, memiliki kelarutan dalam lemak dan air dapat

melintasi kulit. Berat molekul obat yang ideal untuk penghantaran transdermal yaitu 400 atau
kurang (Allen et al., 2014).
2. Kelarutan

Obat harus memiliki gaya tarik fisiko-kimia yang lebih besar terhadap kulit dibandingkan

terhadap pembawa. Sehingga obat akan terlepas dari pembawa menuju kulit. Beberapa

kelarutan obat baik dalam lipid maupun air dianggap penting untuk absorpsi perkutan. Pada

prinsipnya kelarutan dalam air menentukan konsentrasi yang ada pada daerah absorpsi.

Secara umum, obat dalam bentuk tidak terionisasi berpenetrasi ke dalam kulit lebih baik
(Allen et al., 2014).

3. Konsentrasi obat

Konsentrasi obat merupakan faktor penting, umumnya jumlah obat yang terabsorpsi secara

perkutan pada setiap unit luas permukaan tiap interval waktu meningkat seiring dengan
peningkatan konsentrasi obat dalam sistem penghantaran transdermal (Allen et al., 2014).

4. Suhu dan pH

Kecepatan penetrasi suatu bahan bisa berlipat ganda akibat variasi suhu. Ketika koefisien

difusi menurun karena turunnya suhu. Pembawa oklusif meningkatkan suhu kulit beberapa
derajat. Hanya molekul tak terion yang dapat melewati lipid.

Asam- asam lemah dan basa lemah berdisosiasi ke dalam tingkat yang bebrbeda tergantung

pada pH dan nilai pKa/pKb sehingga jumlah dari obat tak terionkan sangat menentukan
gradien membran yang efektif dan fraksi ini bergantung pada pH (Kesarwani et al., 2013).

5. Koefisien difusi

Penetrasi suatu obat tergantung koefisien difusi obat. Pada suhu konstan, koefisien difusi

suatu obat tergantung pada sifat obat, medium difusi dan interaksi antara keduanya. Difusitas

obat merupakan parameter penting untuk permeabilitas polimer. Membran yang mengontrol

difusi, disyratkan menunjukkan kecepatan transport yang cukup memadai, sedangkan polimer
dan atau gel polimer untuk adhesive hruslah sangat permeable agar akses terhadap kulit baik.
Peran difusitas dalam sistem penghantaran obat transdermal penting, karena difusifitas obat

sama dengan partisi obat diantara elemen struktural dari sistem (Agoes, 2008; Kesarwani et
al., 2013).

6. Ukuran dan bentuk molekul

Absorpsi obat berbanding terbalik dengan ukuran molekul. Molekul kecil lebih cepat
berpenetrasi dibandingkan dengan berukuran besar (Kesarwani et al., 2013).

TAMBAHAN

5. Penghantaran Obat secara Transdermal


Sistem penghantaran obat secara transdermal merupakan salah satu inovasi dalam sistem
penghantaran obat modern untu mengatasi problema bioavailabilitas obat tersebut jika
diberikan melalui jalur lain seperti oral. Obat yang diberikan secara transdermal masuk ke
tubuh melalui permukaan kulit yang kontak langsung dengannya baik secara transeluler
maupun secara inter seluler. Inovasi penghantaran obat ini memiliki keunggulan
dibandingkan jalur panghantaran obat yang lain, di antaranya:
• Meminimalisaasi ketidakteraraturan absorbsi dibandingkan dengan jalur oral yang
dipengaruhi oleh pH, makanan, kecepatan pengosongan lambung, waktu transit usus, dll
• Obat terhindar dari first passed effect,
• Terhindar dari degradasi oleh saluran gastro intestinal;
• Jika terjadi efek samping yang tidak diinginkan (missal reaksi alergi, dll) pemakaian dapat
dengan mudah dihentikan
• Absorbsi obat relatif konstan dan kontinyu
• Input obat ke sirkulasi sistemik terkontrol serta dapat menghindari lonjakan obat sistemik
• Relatif mudah digunakan dan dapat didesain sebagai sediaan lepas terkontrol yang
digunakan dalam waktu relatif lama (misalnya dalam bentuk transdermal patch atau semacam
plester)sehingga dapat meningkatkan patient compliance.

Namun sayangnya, tidak semua obat dapat diberikan scara transdermal dengan baik.
Idealnya, obat – obat yang akan diberikan secara transdermal memiliki sifat – sifat:
• Memliki bobot molekul relatif kecil (kurang dari 500 Da). Hal ini karena pada dasarnya
stratum corneum pada kulit merupakan barrier yang cukup efektif untuk menghalangi
molekul asing masuk ke tubuh sehingga hanya molekul – molekul yang berukuran sangat
kecil sajalah yang dapat menembusnya
• Memiliki koefisien partisi sedang (larut baik dalam lipid maupun air)
• Memiliki titik lebur yang relatif rendah. Hal ini karena untuk dapat berpenetrasi ke dalam
kulit, obat harus dalam bentuk cair, serta
• Memiliki effective dose yang relatif rendah.
Mengingat syarat keidealan tersebut, maka sistem penghantaran transdermal ini memiliki
keterbatasan:
• Range obat terbatas (terutama terkait ukuran molekulnya);
• Dosisnya harus kecil;
• Kemungkinan terjadinya iritasi dan sensitivitas kulit;
• Tidak semua bagian tubuh dapat menjadi tempat aplikasi obat – obat transdermal. Misalnya
telapak kaki, dll;
• Harus diwaspadai pre-systemic metabolism mengingat kulit juga memiliki banyak enzim
pemetabolisme.

Sediaan Transdermal
Sediaan transdermal yang biasa dijumpai di pasaran saat ini adalah transdermal therapeutic
system (TTS) yang biasa disebut sebagai plester. Secara sederhana, plester terdiri atas
komponen – komponen berikut (dimulai dari lapisan paling luar):
1. Impermeable backing atau lapisan penyangga, biasanya terbuat dari lapisan polyester,
ethylene vinyl alcohol (EVA), atau lapisan polyurethane. Lapisan ini berguna untuk
melindungi obat dari air dan sebagainya yang dapat merusak obat. Lapisan ini harus lebih
luas dari pada lapisan di bawahnya untuk
2. Drug Reservoir atau lapisan yang mengandung obat (zat aktif) beserta dengan
perlengkapannya seperti material pengatur kecepatan pelepasan obat, dsb. Obat terdispersi
dengan baik dalam eksipien cair yang inert dalam lapisan ini.
3. Lapisan perekat atau semacam lem untuk menempelkan impermeable back beserta drug
reservoir pada kulit.; serta
4. Lapisan pelindung yang akan dibuang ketika plester digunakan. Lapisan ini berguna untuk
mencegah melekatnya lapisan perekat pada kemasan sebelum digunakan.
Terkadang, ada pula lapisan tambahan yaitu rate-controlling membrane yang terbuat dari
polypropylene berpori mikro dan yang berfungsi sebagai membrane pengatur jumlah dan
kecepatan pelepasan obat dari sediaan menuju permukaan kulit.
Dewasa ini, terdapat dua tipe plester yaitu plester dengan sistem reservoir dan plester dengan
sistem matriks (drug in adhesive system). Inti perbedaan di antara keduanya adalah pada
sistem reservoir laju pelepasan obat dari sediaan dan laju permeasi kulit ditentukan oleh
kemampuan kulit mengabsorbsi obat sedangkan pada sistem matriks laju pelepasan obat dari
sediaan diatur oleh matriks.

Contoh obat yang diberikan secara transdermal adalah nitrogliserin (digunakan untuk
pengobatan angina). Pada umumnya patch nitrogliserin transdermal ditempelkan di dada atau
punggung. Yang harus diperhatikan adalah patch ini harus ditempatkan pada kulit yang
bersih, kering, dan sedikit ditumbuhi rambut agar patch dapat menempel dengan baik.