Você está na página 1de 44

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI

PT NISSIN BISCUIT INDONESIA


Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Manajemen Operasi

Dosen Pembimbing : Dian Anita Sari, SE., M.M

DI SUSUN OLEH:

NAMA : Anita Nofi Kristanti

NIM : 1501084

KELAS : REGULER SORE-C

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ‘YPPI’


REMBANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

1
PENGESAHAN

Hal : Pengesahan
Kepada Yth
Dian Anita Sari, SE., M.M
Di Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Setelah membaca dan meneliti laporan individu Kunjungan Industri PT
Nissin Biscuit Indonesia, Semarang Ungaran: Jl. Raya Semarang Salatiga
Km. 23 Ungaran kab Semarang Jawa Tengah Indonesia. Nomor Telepon :
024 6921125 Fax: (024) 6922193. dilaksanakan pada tanggal 7 Desember
2016. Saya Jurusan Manajemen S1 di stie yppi Rembang, yang tertanda di
bawah ini:

Anita Nofi Kristanti ( 15010084)

Dengan ini saya mohon supaya laporan ini segera disetujui dan dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rembang, 27 Desember 2016

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

Dian Anita Sari, SE., M.M

2
DAFTAR ISI

Halaman

COVER ........................................................................................ 1

PENGESAHAN .......................................................................... 2

DAFTAR ISI ................................................................................ 3

DAFTAR TABEL ....................................................................... 6

DAFTAR GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI

PT. NISSIN BISCUIT INDONESIA ......................................... 8

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................. 11

ABSTRAKSI ................................................................................ 12

BAB I

PENDAHULUAN ....................................................................... 13

A. Analisis Situasi ............................................................ 15

1. Profil PT Nissin Biscuit Indonesia ...................... 15

2. Kekuatan usaha PT Nissin Biscuit Indonesia ...... 16

3. Kelemahan usaha PT Nissin Biscuit Indonesia .... 17

4. Uraian peluang usaha Nissin Biscuit Indonesia ... 17

5. Uraian ancaman usaha Nissin Biscuit Indonesia ... 17

A. Ancaman pendatang baru ........................ 17

B. Ancaman produk substitusi ...................... 19

C. Daya tawar pemasok ............................... 20

D. Daya tawar pembeli ................................ 22

3
E. Intensitas persaingan perusahaan

dalam industry ......................................... 22

B. Jumlah dan Kualitas Tenaga Kerja

di PT Nissin Biscuit Indonesia ....................................... 23

C. Target Pasar dan wilayah Pemasaran

PT Nissin Biscuit Indonesia .......................................... 24

D. Lain-lain ..................................................................... 25

BAB II

PELAKSANAAN MANAJEMEN OPERASIONAL .............. 26

A. Tahapan Pelaksanaan Manajemen Operasi

PT Nissin Biscuit Indonesia ......................................... 26

1. Pengadaan bahan baku ........................................ 26

2. Pemilihan bahan baku ......................................... 27

3. Proses produksi ................................................. 27

4. Perencanaan standart produksi .......................... 31

5. Pendesainan produk ........................................... 32

6. Pemilihan layout produksi .................................. 32

7. Pengendalian kualitas ........................................ 33

8. Pengembangan produk ....................................... 35

B. Hambatan yang dihadapi ............................................. 36

C. Alternatif Pemecahan .................................................. 37

4
BAB III

PENUTUP ................................................................................. 39

A. Kesimpulan .................................................................... 39

B. Saran .............................................................................. 39

C. Penutup ........................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 41

DOKUMENTASI KUNJUNGAN INDUSTRI ..................... 42

5
DAFTAR TABEL
Perbandingan Harga pada produk PT Nissin Biscuit Indonesia di

beberapa swalayan dan minimarket yang ada di kota Lasem.

Harga
Jenis Produk
Alfamart Indomart Warung/kantin Surya Baru

Walens choco soes Rp 7. 300 Rp 7. 500 Rp 6. 500 Rp 7. 000

Wafer cokelat ukuran


Rp 1.100 Rp 1.500 Rp 500 Rp 1. 000
kecil

Wafer cokelat ukuran


Rp 7. 300 Rp 7. 500 Rp 7. 000 Rp 7. 000
besar

Nissin crispy crackers


Rp 7. 000 Rp 7. 000 Rp 1. 000 Rp 7. 000
ukuran kecil

Nissin crispy crackers


Rp 6. 900 Rp 7. 000 Rp 5. 500 Rp 6. 000
ukuran besar

Butter cookies ukuran


Rp 6. 000 Rp 6. 500 Rp 4. 000 Rp 5. 000
kecil

Butter cookies ukuran


Rp 7. 500 Rp 7. 500 Rp 6. 500 Rp 7. 000
besar

Serena egg roll Rp 7. 300 Rp 7. 500 Rp 7. 000 Rp 7. 000

Khong guan merah


Rp 7. 000 Rp 7. 000 Rp 6. 000 Rp 7. 000
ukuran kecil

Khong guan ukuran


Rp 7. 000 Rp 7. 300 Rp 6. 000 Rp 6. 600
besar

6
Cream crackers Rp 7. 000 Rp 7. 300 Rp 6. 000 Rp 6. 500

Selected wafer cream Rp 7. 000 Rp 7. 000 Rp 7. 000 Rp 7. 000

Biscuits Chacker Texa Rp 7. 700 Rp 7. 500 Rp 6. 500 Rp 7. 000

Biscuits Chacker
Rp 8. 000 Rp 85.00 Rp 7. 000 Rp 7. 500
Madu

Khonggua Chocolate
Rp 8. 000 Rp 8. 500 Rp 7. 000 Rp 7. 700
Cream

Soperco ukuran kecil Rp 1.500 Rp 1.500 Rp 1000 Rp 1.300

Soperco ukuran besar Rp 7. 500 Rp 8.000 Rp 7. 000 Rp 7. 300

7
DAFTAR GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI

PT. NISSIN BISCUIT INDONESIA

General
Manager

Manager

Manager Manager Manager Manager Manager


Produksi Teknik Personalia Pembelian Pemasaran

Supervisor Supervisor

Sales

Keterangan (deskripsi kerja) :

a. General Manager

Sebagai pimpinan tertinggi dan penanggung jawab

umum. Tugasnya mengelola kegiatan yang ada di PT Nissin

Biscuit Ungaran dengan melakukan fungsi-fungsi manajemen

yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian,

pengarahan, dan pengawasan.

b. Manager

Tugasnya sama dengan general manager yaitu melakukan

fungsi-fungsi manajemen, selain itu juga menentukan kebijakan

dengan persetujuan General Manager.

c. Manager Produksi

8
Tugas manager produksi adalah hal-hal yang berkaitan

dengan proses dan hasil produksi, antara lain :

1. Merencanakan besarnya volume produksi.

2. Bertanggung jawab atas jalannya proses produksi secara

keseluruhan.

3. Bertanggung jawab atas hasil produksi yang dihasilkan,

baik kualitas maupun kuantitas.

4. Mempelajari kemungkinan-kemungkinan pengembangan

produk baru.

5. Mengkoordinir dan memimpin bagian produksi untuk

membuat rencana produk dan pelaksanaan serta

pengadaan bahan baku dan bahan penolong.

6. Melakukan fungsi-fungsi perencanaan dan pengendalian

kualitas produk.

d. Manager Teknik

Tugasnya mengawasi penggunaan mesin-mesin dalam

proses produksi supaya selalu dalam keadaan baik dan siap untuk

digunakan.

e. Manager Personalia

Tugasnya adalah hal-hal yang berhubungan dengan

karyawan antara lain mengkoordinir, mengawasi, dan

mengarahkan, serta memimpin tenaga kerja, mengadakan

pelatihan untuk karyawan, melaksanakan program pengupahan

dan kesejahteraan karyawan, merencanakan promosi yang tepat

9
untuk perusahaan, dan melakukan pengadaan/penarikan

karyawan.

f. Manager Pembelian

Tugasnya adalah menentukan kualitas bahan baku yang

digunakan perusahaan, merencanakan kebutuhan bahan yang

akan datang, serta melaksanakan pembelian bahan-bahan yang

dibutuhkan perusahaan.

g. Manager Pemasaran

1. Mempelajari potensi dan situasi daerah pemasaran.

2. Mengadakan hubungan dengan pembeli/calon pembeli.

3. Menentukan target penjualan dan merealisasikannya.

4. Menentukan target penjualan dan pemasaran.

5. Melaporkan kegiatan pada General Manager.

h. Supervisor

Bertugas mengawasi jalannya proses produksi yang

dilakukan oleh buruh pabrik.

i. Sales

1. Menawarkan produk kepada pembeli.

2. Bertugas meminta barang di gudang.

3. Membuat laporan stock dan laporan penjualan.

4. Mengirimkan barang yang sudah dipesan.

10
DAFTAR LAMPIRAN

11
ABSTRAKSI
‫الر حيم‬
ٌ ‫الر حمن‬
ٌ ‫بسم هللا‬
Alhamdulillahirobbil’alamiin, segala puji bagi Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah serta inayah-Nya sehingga saya
dapat melaksanakan Kunjungan Industri PT Nissin Biscuit Indonesia dan
menyelesaikan laporan dengan tepat waktu tanpa adanya halangan suatu
apapun. Shalawat serta salam saya sampaikan kepada baginda agung Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju
jaman kemenangan yang penuh berkah ini sehingga kita semua bisa
berkesempatan belajar menuntut ilmu dengan leluasa.
Laporan Kunjungan Industri ini disusun berdasarkan apa yang telah
saya observasi pada saat di PT Nissin Biscuit Indonesia dilaksanakan pada
tanggal 7 Desember 2016. Laporan Kunjungan Industri ini ternyata banyak
memberikan manfaat dan pengetahuan kepada saya baik dari segi akademik
maupun pengalaman yang tidak dapat saya temukan di bangku kuliah.
Saya yakin, laporan ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa
kerjasama saya dan pertolongan dari Allah SWT. Terselesaikannya laporan
ini juga tidak lepas dari dukungan, bimbingan, serta motivasi dari berbagai
pihak. Suatu keharusan bagi saya untuk menyampaikan terimakasih yang
sedalam-dalamnya kepada semua pihak, khususnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. H. Mudzakir MZ., MM. selaku pemilik walkultas STIE
YPPI Rembang, Ibu Dian Anita Sari, SE., MM, Maslichan, SE, S.Pd,
M.M, dan Ibu Anik Nurhidayati, SE, MM selaku dosen pembimbing
pelakanaan kunjungan industri.
2. Seluruh karyawan dan karyawati PT Nissin Biscuit Indonesia yang
banyak membantu dan mendukung saya.
3. Rekan-rekan serta semua pihak terkait yang telah banyak membantu
dan memberikan dorongan serta dukungan, baik untuk pelaksanaan
kunjungan industri maupun dalam penyusunan dan penyelesaian
laporan ini.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusuna laporan ini


masih ada kesalahan dan kekurangan. Untuk saya mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk mencapai kesempurnaan dalam
pembuatan laporan dimasa mendatang. Semoga Allah SWT senantiasa
membalas amal baik yang telah Bapak/Ibu/Saudara/i berikan, dan harapan
saya semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan pelajaran kepada
saya khususnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.
Rembang, 27 Desember 2016
Penyusun,

Anita Nofi Kristanti

12
BAB I

PENDAHULUAN

Diadakanya kunjungan industri ini agar mahasiswa mengenal

dunia kerja. Selain itu mahasiswa dapat mengetahui lebih jauh tentang

cara kerja, kedisiplinan, tata tertib kerja , mesin – mesin industri yang

lebih memadai, dll.

Mahasiswa juga diharapkan tidak menganggap kunjungan industri

sebagi rekreasi, tapi menganggap kunjungan industri sebagai sarana

belajar dengan cara mendatangi industri secara langsung, dan melihat

urutan – urutan proses kerja di industri tersebut.

Kunjungan industri dipilih untuk menambah pengalaman mahasiswa

tentang dunia kerja. Mahasiswa dituntut untuk aktif menggali informasi

tentang kunjungan industri untuk memperoleh pengetahuan tentang

dunia industri. Kunjungan industri dilakukan untuk memberikan

gambaran kepada mahasiswa tentang industri dan proses produksi di

bidang bisnis dan managemen. Mahasiswa harus membandingkan

proses produksi di dunia kerja dengan ilmu yang diperoleh di kampus.

Mahasiswa diwajibkan membuat laporan atas informasi yang di peroleh

selama kunjungan industri tentang perusahaan yang bersangkutan.

Tujuan Kunjungan Industri Ada beberapa tujuan diadakannya

kunjungan industri bagi mahasiswa sebagai berikut:

1. Memperluas pengatahuan mahasiswa dalam lingkungan dunia

kerja.

13
2. Mendorong mahasiswa agar mempunyai minat bekerja di

perusahaan.

3. Memberi informasi tentang cara kerja dan tenaga kerja

perusahaan.

4. Mendorong mahasiswa agar mempunyai rasa kedisiplinan dan

tanggung jawab.

5. Membantu mahasiswa melaksanakan program diklat.

6. Melihat secara langsung proses produksi dari awal sampai

akhir.

7. Untuk Belajar (tidak hanya tau teknik tapi juga praktik dan

cara pemasarannya).

Manfaat Kunjungan Industri. Adapun Beberapa manfaat

kunjungan Industri diantaranya :

1. Bagi mahasiswa

1) Dapat mengetahui kedisiplinan dan tata tertib yang tegas pada

dunia kerja.

2) Melihat secara langsung cara kerja produksi.

3) Mendapat gambaran saat akan bekerja di industri atau ingin

membuat sebuah Industri.

2. Bagi Kampus STIE YPPI Rembang

1) Memperlakukan tata tertib yang tegas bagi mahasiswa.

2) Sekolah dapat mengajak mahasiswa belajar langsung di

lapangan.

3. Bagi Industri

14
1) Dapat berbagi ilmu dengan mahasiswa.

2) Mengajak dan memperlihatkan proses produksi bagi

mahasiswa maupun guru.

3) Memperkenalkan sejarah singkat tentang berdirinya industri.

4) Memperkenalkan hasil produksi pada masyarakat luas.

A. Analisis Situasi

1. Profil PT Nissin Biscuit Indonesia

PT Nissin Biscuit Indonesia mengawali produksi komersial

pertama pada Januari 1977. Diatas lahan seluas +- 8 Ha. Produk

pertama yang dihasilkan adalah Butter Coconut, Frychip, Madu,

Aynako, Longer Stick. Seiring dengan perjalanannya, PT Nissin

Biscuit Indonesia telah memproduksi beberapa jenis dan beragam

biscuits, cookies, crackers, snacks, wafers dalam bagian merk

terkemuka seperti nissin, Khong Guan, Monde, Walens dan Nitto.

Dalam menghadapi persaingan di industry makanan yang

semakin ketat, PT Nissin Biscuit Indonesia selalu bertekad untuk

memenangkan persaingan dengan menyajikan produk berkualitas

melalui inovasi yang selalu berkelanjutan. Inovasi yang dilakukan

oleh nissin meliputi jenis produk, mesin, system/proses dan

kemasan. PT Nissin Biscuit Indonesia memiliki lebih dari 700

karyawan yang terlatih sehingga turut mendukung kualitas produk

yang dihasilkan. Dengan dukungan inovasi, sumberdaya manusia

dan tegnologi, sampai dengan saat ini, PT Nissin Biscuit Indonesia

15
terus berkembang dan berhasil memproduksi berbagai merk biscuit

yang telah menjadi pemimpin pasar. Dalam perkembangan

persaingan perusahaan Pt Nissin Biscuit Indonesia telah memiliki 5

badan hukum yang berbeda-beda dari setiap cabangnya. Pt Nissin

Biscuit Indonesia juga telah memiliki sertifikat ISO 22000:2005. Pt

Nissin Biscuit Indonesia juga telah memiliki lisensi HALAL dari

Majelis Ulama’ Indonesi.

2. Kekuatan usaha PT Nissin Biscuit Indonesia

PT Nissin Biscuit Indonesia menyadari bahwa dengan

memproduksi produk yang berkualitas dan bergizi, maka Nissin

turut memberikan konstribusinya untuk meningkatkan kualitas

hidup bangsa. Karena itu, pengawasan mutu produk menjadi salah

satu prioritas utama. Standar mutu yang diterapkan oleh Nissin

mencakup penggunaan bahan baku pilihan dan penggunaan

tegnologi canggih dalam proses produksi serta penerapan CPMB

(Cara Produksi Makanan yang Baik), GMP (Good Manufacturing

Practice), SSOP (Sanitation Standard Opening Procedure) dan

HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point). Standar Mutu

ISO 2200:2005 untuk kualitas dan keamanan produk juga telah

ditetapka dalam proses produksi disertai dengan sertifikat halal dari

Majlis Ulama Indonesia (MUI). Sebuah bukti bahwa semua produk

Nissin memenuhi kaidah halal dan aman dikonsumsi.

16
3. Kelemahan usaha PT Nissin Biscuit Indonesia

Menghadapi persaingan ketat di industri makanan, Nissin

tidak pernah gagal menjadi yang terbaik di antara para

kompetitornya. Nissin selalu menghasilkan produk-produk

berkualitas melalui teknologi serta tim penelitian dan

pengembangan yang inovatif. Dengan dukungan yang

berkelanjutan dari teknologi termutakhir, SDM, serta tim penelitian

dan pengembangan, Nissin tumbuh dan berkembang menjadi

merek besar yang disegani di pasar Indonesia maupun manca

negara.

4. Uraian peluang usaha Nissin Biscuit Indonesia

Dalam bisnis biscuit peluangnya sangat luas, selain menjadi

salah satu prioritas dalam cemilan setiap hari, jadi tingkat

permintaan pasar masih tinggi. Apalagi biscuit bukan hanya

dikenal di Indonesia saja tapi masyarakat dunia tahu tentang

produk ini. Kini, tinggal bagaimana melebarkan ppemasaran yang

dilakukan Pt Nissin Biscuit Indonesia untk mengambil pasar-pasar

internasional.

5. Uraian ancaman usaha Nissin Biscuit Indonesia

A. Ancaman pendatang baru

Ketika perusahaan dapat dengan mudah masuk ke dalam

industri, maka tingkat persaingan di dalam industri tersebut juga

otomatis meningkat. Dari segi birokrasi, proses pembuatan perizinan

untuk membuka suatu perusahaan baru di industri wafer tergolong

17
mudah. Pemerintah mempermudah akses bagi para investor serta

entrepreneur lokal dan asing dengan cara memberikan persyaratan

yang mudah.

Adapun hambatan-hambatan terhadap masuknya pesaing baru antara

lain:

a. Minimnya pengalaman perusahaan tentang industri wafer dan

bagaimana cara mengelola perusahaan produsen wafer yang

baik.

b. Persyaratan modal yang besar (minimal harus mempunyai

kepemilikan tanah, bangunan pabrik, mesin produksi, armada

pengiriman). Dikarenakan harus memproduksi secara massal,

hal ini membutuhkan investasi modal yang besar dan

berjangka panjang.

c. Membutuhkan pabrik sebagai pusat produksi, tentunya

investasi modal dan jumlah karyawan yang dibutuhkan juga

besar. (home industry tidak termasuk dalam kategori pesaing).

d. Membutuhkan jaringan distribusi yang memadai, baik dalam

kota, antar kota, dan antar propinsi.

e. Membutuhkan teknologi dan pengetahuan khusus seperti

mesin-mesin produksi khusus, laboratorium riset, pengetahuan

dalam bidang resep wafer, dan lain lain.

f. Menentukan lokasi yang strategis. Hal ini menjadi

pertimbangan karena berhubungan erat dengan kondisi pasar

dan target market yang dituju. Namun terlepas dari banyaknya

18
hambatan-hambatan yang ditemukan pada industri wafer,

ternyata banyak pula faktor-faktor lain yang mendukung para

usahawan dan investor untuk membangun perusahaan

produsen wafer. Faktor utama adalah karena pangsa pasar

wafer yang begitu besar di Indonesia (menurut SWA nilai

pasarnya bisa mencapai lebih dari Rp 5 triliun), dimana pemain

baru masih mempunyai peluang untuk mendapatkan pangsa

pasar. Ditambah lagi kemudahan meniru produk dan tingkat

diferensiasi produk yang rendah memberi banyak kesempatan

kepada pemain baru untuk berkembang. Selain itu pemerintah

juga memberi dukungan penuh bagi investor dan usahawan

untuk membuka usaha yang menyerap banyak tenaga kerja,

seperti pada industri wafer. Birokrasi dalam industri produksi

wafer juga mudah diproses dan didapat, contohnya seperti

pendaftaran ijin usaha, pendaftaran lisensi produk, pendaftaran

hak paten, dan lain lain. Oleh karena itu berdasarkan hasil

penelitian dapat disimpulkan bahwa ancaman masuknya

pendatang baru pada industri wafer terbilang sedang

(moderate).

B. Ancaman produk substitusi

Produk substitusi atau produk utama Khong Guan dapat

menjadi ancaman karena makin tingginya tingkat produk substitusi,

maka makin tinggi pula kecenderungan konsumen untuk beralih ke

produk lain apabila terjadi kenaikan harga. PT Nissin Biscuit

19
Indonesia berusaha membuat produk lain yang dapat menjadi

pengganti Khong Guan dengan harga yang mudah di jangkau bagi

anak – anak yang ingin membeli beberapa jenis produk, atara lain :

nissin crackers, walens choco soes, wafer cokelat, nissin crispy

crackers, butter cookies, serena egg roll, khong guan merah, cream

crackers, selected wafer cream dan masih banyak lagi. Nissin juga

memproduksi aneka biskuit, kue, kerupuk, makanan ringan dan

wafer dengan brand Butter Coconut, Frychip, Honey, Aynako, dan

Longer Stick.

Konsumen tidak membutuhkan biaya peralihan (switching

cost) yang tinggi untuk beralih dari produk wafer ke produk jenis

lain, sehingga tingkat peralihan konsumen sangat tinggi dan dapat

berubahubah setiap waktu. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa

tingkat ancaman produk substitusi terhadap industri wafer termasuk

tinggi.

C. Daya tawar pemasok

Pemasok PT Nissin Biscuit Indonesia terdiri dari tiga jenis,

yaitu pemasok bahan baku, pemasok barang jadi, dan pemasok

peralatan produksi.

 Pemasok bahan baku adalah pihak-pihak yang telah

mempunyai hubungan kerjasama yang erat dan telah

berlangsung cukup lama, dimana mereka menyediakan bahan

baku yang dibutuhkan untuk proses produksi perusahaan,

20
meliputi produk susu, coklat, tepung, bumbu, pewarna, zat

kimiawi, minyak, zat perasa, dan lain lain.

 Pemasok barang jadi merupakan pihak yang memasok

barang jadi yang digunakan perusahaan untuk proses packing

dan proses pendukung lain. Produk-produk tersebut meliputi

dus, plastik packing, toples, label, stiker, pak pembungkus,

dan produk promosi seperti pernak pernik topi, baju, serta

aksesoris lainnya.

 Pemasok peralatan produksi adalah pihak yang menyediakan

mesin-mesin, alat berat, dan bagian mesin (sparepart) yang

dibutuhkan oleh PT Nissin Biscuit Indonesia dalam

menjalankan proses produksinya. Bahwa daya tawar dari

pemasok cenderung lemah. Pemasok bahan jadi PT Nissin

Biscuit Indonesia dapat digantikan dengan pemasok lainnya

tanpa kesulitan dan biaya yang besar dalam penggantian,

karena pemasok-pemasok yang sama jenisnya banyak sekali

dan mempunyai kualitas dan biaya yang hampir sama.

Karena hal tersebutlah pemasok-pemasok lebih bergantung

terhadap perusahaan dan mengharapkan hubungan kerjasama

yang berkelanjutan. Hal yang sama juga terjadi pada

pemasok bahan baku PT Nissin Biscuit Indonesia, dimana

terdapat substitusi bagi bahan baku perusahaan apabila

sewaktu-waktu pemasok langganan tidak mampu

menyediakan bahan baku yang dibutuhkan.

21
D. Daya tawar pembeli

Pihak yang merupakan pembeli dari PT Nissin Biscuit

Indonesia kebanyakan adalah toko-toko, supermarket, agen, dan

distributor yang akan menjual kembali produk wafer kepada

konsumen akhir. Karena kebanyakan dari pembeli melakukan

transaksi dengan jumlah banyak yang berarti sensitifitas harga

tinggi, maka biasanya terjadi negosiasi antara PT Nissin Biscuit

Indonesia dengan pihak pembeli yang membahas perihal pembelian

ataupun kerjasama bisnis. Dalam tahap negosiasi biasanya dibahas

tentang harga produk, layanan purnajual yang diberikan, kontrak

kerja, dan lain lain. Bahwa daya tawar dari pembeli cenderung

tinggi. Pembeli PT Nissin Biscuit Indonesia yang mayoritas adalah

distributor atau reseller telah memiliki jaringan penjualan yang kuat

sehingga setiap transaksi yang dilakukan oleh PT Nissin Biscuit

Indonesia sangat bernilai tinggi dan mempunyai pengaruh yang

cukup signifikan dalam grafik penjualan. Faktor lain yang

memperkuat alasan ini adalah karena pembeli memiliki banyak

pilihan untuk berganti ke perusahaan lain selain PT Nissin Biscuit

Indonesia untuk membeli produk yang serupa baik dalam hal model

maupun harga (switching cost rendah).

E. Intensitas persaingan perusahaan dalam industri

Pemain besar dalam industri wafer adalah perusahaan yang

sudah lama berkecimpung dalam industri makanan ringan, terdiri

dari perusahaan lokal dan perusahaan multinasional. Perusahaan

22
yang termasuk di kategori ini mempunyai modal dan omset yang

besar, didukung oleh jaringan distribusi yang luas hingga seluruh

nusantara, serta brand image yang sudah terkenal di mata

masyarakat.

B. Jumlah dan Kualitas Tenaga Kerja di PT Nissin Biscuit Indonesia

Sebuah perusahaan baik itu manufaktur maupun jasa tentu

membutuhkan Sumber Daya Manusia di dalam prosesnya. Meskipun

PT Nissin Biscuit Indonesia sudah banyak menggunakan tenaga mesin

modern didalam produksi, mereka tetap membutuhkan karyawan

sebagai operator dari mesin-mesin tersebut. Jumlah karyawan PT Nissin

sebanyak 700 karyawan, jumlah tersebut akan bertambah saat

menjelang lebaran yaitu 4 bulan sebelum lebaran sekitar 200 karyawan

per divisi dikarenakan banyaknya permintaan produk biskuit untuk

lebaran. Jam setiap karyawan berbeda-beda untuk bagiannya. Bagian

office bekerja dalam satu shift. Bagian pemasaran (outlet) maupun café

terbagi menjadi 2 shift yaitu shift satu dan shift 2. Dan untuk bagian

produksi dibagi menjadi 3 shift. Adapun rincian untuk shift pertama

adalah jam 07.00 sampai dengan 14.00. sistem istirahat yang diterapkan

adalah system istirahat di akhir jam. Jadi dari jam 07.00 sampai dengan

14.00 karyawan bekerja full time dan istirahat sampai dengan jam 15.00

kemudian ganti shift kedua dan seterusnya. Jam kerja standar yang

diterapkan di PT Nissin Biscuit Indonesia adalah 7 jam kerja dan 1 jam

istirahat.

23
Dalam rekruitme karyawan di Pt Nissin Biscuit Indonesia

minimal ijazah SMA sederajat untuk bagian proses produksi dan

menjadi karyawan inti di perusahaan. Sedang, untuk bagian office

minimal lulusan Strta satu (S1) dengan kulafikasi yang di tetapakan

perusahaan. Namun, dalam penambahan jumlah karyawan ketika

menjelang lebaran Pt Nissin Biscuit Indonesia biasanya merekrut

masyarakat lokal di sekitar perusahaan untuk di jadikan karyawan

sementara mengingat jumlah pesanan yang meningkat.

C. Target Pasar dan wilayah Pemasaran PT Nissin Biscuit Indonesia

Target dalam memasarkan produk PT Nissin Biscuit

Indonesia telah memiliki 400 jenis produk yang di tawarkan baik

dalam kemasan Nissin, Khong guan, maupun Monde. Produk Pt

Nissin Biscuit Indonesia memiliki target pasar yang menyeluruh

mulai dari anak sekolah maupun orang dewasa. Ini membuat produk

Pt Nissin Biscuit Indonesia bisa dikonsumsi oleh semua kalangan

karena produknya yang sudah terkenal, harganya tidak terlalu mahal,

berkualitas, dan yang pasti dijual dimana-mana, baik di toko

kelontong sampai di mini market dan super market. Selain di

pasarkan di Indonesian produk PT Nissin Biscuit Indonesia telah di

pasarke ke bergai negara lain seperti Malasyia,Tiongkok, Vietnam,

Singapura, dan Brunai Darus Salam.

24
D. Lain-lain

Visi PT Nissin Indonesia :

bertekad menjadi produsen biscuit terbaik di Indonesia

Misi PT Nissin Biscuit Indonesia :

Memproduksi biscuit yang bergizi tinggi, higienis, inovatif dan

berkualitas dengan cita rasa tinggi serta terjamin mutunya kepada

pelanggan dengan cara terbaik yang dikembangkan oleh SDM yang

unggul dengan tegnologi modern.

25
BAB II

PELAKSANAAN MANAJEMEN OPERASIONAL

A. Tahapan Pelaksanaan Manajemen Operasi PT Nissin Biscuit

Indonesia

Pada tahap pelaksanaan oprasiaonal pada produk PT Nissin

Biscuit Indonesia sebagian besar menggunakan mesin yang di

datangkan dari luar negeri namun ada pula proses pembutan produk

yang menggunakan tenaga manusia di karenakan proses pembuatan

tidak memungkinkan jika menggunakan mesin. Semua karyawan disana

sebelum memasuki ruang produksi di wajibkan untuk membersihkan

tangan dan di sterilisasi untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dari

produk tersebut. Dalam proses produksi para pengunjung tidak dapat

mendokumentasikan proses pembuatan, namun di dalam ruang cafe

terdapat miniatur dimana miniatur tersebut telah mewalikili beberapa

proses produksi yang ada di perusahaan. Proses produksi pada Nissin

Biscuit Indonesia selalu terdapat Quality Control didalamnya. Berikut

adalah proses produksi pada PT. Nissin Biscuit Indonesia

1. Pengadaan bahan baku

Untuk kelancaran suatu proses produksi tentunya PT. Nissin

Biscuit Indonesia memerlukan bahan baku utama untuk proses

produksi, pemilihan bahan baku yang berkualitas perusahaan telah

memiliki suplai bahan baku dari pihak lain yang sudah lama bekerja

sama dan adanya perjanjian kontrak dengan.

26
Menyuplai bahan baku adalah pihak-pihak yang telah mempunyai

hubungan kerjasama yang erat dan telah berlangsung cukup lama,

dengan adanya perjanjian kontrak yang digunakan maka bahan baku

Pt Nissin Biscuit Indonesia telah ada menjamin stok bahan bakunya.

dimana mereka menyediakan bahan baku yang dibutuhkan untuk

proses produksi perusahaan, meliputi produk susu, coklat, tepung,

bumbu, pewarna, zat kimiawi, minyak, zat perasa, dan lain lain.

2. Pemilihan bahan baku

Setelah proses penggandaan bahan baku selanjutnya akan

dilakukan pemilihan bahan baku yang layak di pakai dalam proses

produksi.

Jika bahan baku dikatakan layak untuk di proses, maka Pt Nissin

Biscuit Indonesia akan melakukan proses produksi. dalam memilih

bahan baku yang digunakan Pt Nissin Biscuit Indonesia harus sesuai

standart yang digunakan perusahaan. Dengan kuwalitas bahan baku

yang baik maka produk yang di hasilkanpun akan berkuwalitas.

3. Proses produksi

Keterangan :

1. Pencampuran (Mixing)

2. Penggilingan

3. Pemotongan dan Pencetakan (Cutting)

4. Inspeksi 1

5. Pematangan (Oven)

6. Packaging

27
7. Penggulungan

8. Percetakan

9. Inspeksi 2

Keterangan Inspeksi yang dilakukan :

Inspeksi 1 : dilakukan untuk pengawasan kinerja mesin yang

digunakan dalam pemotongan roti sehingga mencapai ketebalan

seperti yang diinginkan. Pengawasan ini dilakukan karena terkadang

program yang telah diatur dalam komputer mesin pemotongan

berubah dengan sendirinya. Misalkan pada mesin telah diatur

pengaturan pemotongan ketebalan adonan adalah 13,5 mm, tetapi

terkadang setelah beberapa waktu. Pengaturan ketebalan pada mesin

bisa berubah dengan sendirinya menjadi 12,5 mm. Perbedaan yang

mungkin hanya 1 mm itu memang sekilas terlihat sepele, namun

dalam produksi roti mempunyai efek yang besar antara lain dengan

perbedaan ketebalan seperti yang telah direncanakan, maka dapat

membuat roti patah sebelum dikemas. Masalah kinerja mesin ini

disebabkan karena berbagai faktor antara lain arus listrik yang naik

turun dan usia mesin itu sendiri yang sudah tua, sehingga untuk

mengatasinya setiap kurang lebih 15 menit sekali dilakukan

pengawasan /pemeriksaan ulang pada mesin untuk memastikan

program pengaturan pemotongan ketebalan roti tidak berubah.

Demikian juga halnya dengan pengawasan yang dilakukan pada mesin

pencetakan roti. Mesin pencetakan roti harus diperiksa apakah dalam

melakukan pencetakan bahan sudah sesuai dengan yang diinginkan.

28
Karena terkadang dari satu set mesin pencetak itu ada yang tidak

berfungsi sehingga ada adonan yang belum dipotong dan itu berarti

membuang adonan dan pemborosan efisiensi mesin.

Inspeksi 2 : Dilakukan untuk mengawasi dan memeriksa apakah

pembumbuan yang dilakukan telah terlaksana dengan benar sehingga

aroma dan rasa roti sesuai dengan standar produk yang ditetapkan oleh

perusahaan. Pengawasan juga mencakup quality roti crispy crackers,

yaitu memastikan bahwa roti akan dikemas dalam kondisi baik, tidak

patah, dan pembumbuan yang dilakukan telah terlaksana dengan

benar.

PT. Nissin Biscuit dalam memproduksi produk rotinya secara

keseluruhan sangat memperhatikan kualitas yang terdapat dalam

produknya seperti rasa dan aroma roti harus sesuai dengan standar

yang ditetapkan, roti yang dijual pada konsumen tidak patah atau

rusak, dan roti yang selesai diproduksi harus dalam keadaan renyah.

Pengendalian kualitas yang diterapkan PT Nissin Biscuit sekarang ini

masih menggunakan metode konvensional, artinya hanya ada

pengawas atau mandor yang tugasnya hanya mengawasi proses

produksi para pekerja agar bekerja dengan penuh kedisiplinan. Tidak

ada / belum ada metode pengendalian kualitas yang modern yang

diterapkan di perusahaan ini. Hal ini sebenarnya sangat ironi

mengingat PT. Nissin Biscuit merupakan perusahaan yang sangat

besar dan telah merambah pangsa pasar hampir di seluruh Indonesia

dan bahkan hampir merambah pangsa Internasional. Penyebab hal ini

29
mungkin saja adalah jumlah kerugian akibat adanya produk cacat

yang terjadi di perusahaan ini bila dihitung secara finansial masih

kalah dari jumlah laba yang dihasilkan dari penjualan produknya.

Dalam PT. Nissin Biscuit sendiri tidak / belum ada seorangpun

yang tugasnya mengurusi masalah kualitas produk (termasuk

didalamnya masalah produk cacat yang begitu banyak). Manager

produksi pun hanya mempunyai tanggungjawab untuk mengawasi

proses produksi secara keseluruhan dan memberi laporan secara

terperinci tentang hasil produksi secara harian, kuantitas (dalam

kilogram) produk yang dibuang / rusak, dan mengurusi masalah

kinerja dan perawatan mesin produksi.

Alur proses produksi crispy cracker

1 2 3 4

Keterangan : (alur proses produksi ini terjadi dalam 1 ruangan)

1. Mesin mixing section

2. Mesin cutting section

3. Mesin backing section

4. Packing section

Semua alat atau mesin di atas bekerja menurut urutan yang pasti

dan dengan tempo waktu yang konstan menurut ban convenyor yang

berjalan. Ban convenyor ini menghantarkan adonan yang sudah jadi di

30
section 1 menuju ke section 2. Setelah dicetak berupa lembaran tipis,

adonan tersebut dipotong-potong dan dihantarkan dengan convenyor

menuju ke section 3. Di section 3 ini, potongan adonan tersebut

dipanggang hingga menjadi roti yang matang kemudian diantarkan

untuk masuk ke section 4. Di section 4 ini roti-roti tersebut ditata dan

di-packing menurut ukuran spesifikasi produknya.

4. Perencanaan standart produksi

Dalam melakukan proses perencanaan standart produksi Pt Nissin

Biscuit Indonesia bukan hanya berfokus pada bahan bakunya. Namun

semua yang berhubungan dalam proses produksi seperti mesin yang

harus sesuai standart tahan karat dan aman dalam pengolahan produk.

Selanjutnya adalah karyawan yang harus memakai perlengkapan yang

dapat menjaga akan kualitas produk dan produk yang sampai ke

konsumen tidak terkontaminasi seperti memakai penutup kepala,

sarum tangan, dan masker. Dan yang terhairi adalah tempat

pengolahan sendiri yang dilakukan dengan cara memberikan sekat

agar debu dari luar yang dapat membahyakan produk seperti serangga

dan yang lainnya tidak dapat masuk guna menjaga produk. Dalam

perusahaan Pt Nissin Biscuit Indonesia menggunakan sekat kaca guna

memisahkan bagian produksi dan bagian yang lainnya.

31
5. Pendesainan produk

Pendesainan produk yang di lakukan oleh PT. Nissin Biscuit

adalah dengan cara memesan kemasan yang sudah jadi dari pihak lain

atau pemasok Hal ini dilakukan agar tidar terjadi perbedaan dalam

masing-masing produk yang diciptakan oleh berbagai cabang Pt

Nissin Biscuit Indonesia. Dalam mendesain produk biasanya

dilakukan oleh Pt Nissin Biscuit Indonesia yang berda di pusat,

sehingga untuk cabang yang lainnya hanya mengikuti kebijakan,

inovasi, atau penciptaan produk baru yang dilakukan dari pusat. Hal

ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan komunikasi dan hal-hal yang

dapat merugikan konsumen dan perusahaan

Pemasok barang jadi merupakan pihak yang memasok barang jadi

yang digunakan perusahaan untuk proses packing dan proses

pendukung lain. Produk-produk tersebut meliputi dus, plastik packing,

toples, label, stiker, pak pembungkus, dan produk promosi seperti

pernak pernik topi, baju, serta aksesoris lainnya.

6. Pemilihan layout produksi

Untuk mempermudah proses produksi layout dibuat sangat bagus.

Tempat pekerjaan masih-masing pos di buat bertingkat. Dalam Pt

Nissin Biscuit Indonesia Semarang ada 3 tingkat yang di buat guna

memepermudah proses produksi. Tingkat yang pertama adalah lantai

3 berisikan alat-alat yang digunakan untuk mengisikan bahn baku,

disini terdapat beberapa cerobong guna mengisikan bahan baku yang

nantinya akan di proses menjadi adonan. Lantai kedua adalah tempat

32
bahan baku di proses dan menjadi adonah utuh. Dari masing-masing

cerobong-cerobong tadi mengalir ke mesing-mesin pengolahan

adonan menjadi wafer yang diinginkan. Selanjutnya adalah lantai satu

atau lantai paling bawah adalah tempat pengemasan wafer yang telah

jadi dan penggudangan. Dalam hal ini saya melihat sistem tingkat

yang dilakukan Pt Nissin Biscuit Indonesia dari lantai paling atas

sebagai pendistribusian bahan baku samapi ke lantai paling bawah

yaitu pengemasan untuk memudahkan aliran rol kerja mesin yang

lebih ringan. Dengan turun kebawah sudah pasti beban penggerak dari

mesin itu berkurang, itulah yang menyebakan Pt Nissin Biscuit

Indonesia menggunakan sistem tingkat.

7. Pengendalian kualitas

Quality control adalah suatu proses digunakan untuk memastikan

tingkat kualitas tertentu dalam sebuah produk atau jasa. Ini mungkin

termasuk tindakan apa pun bisnis yang dianggap perlu untuk

menyediakan kontrol dan verifikasi karakteristik tertentu dari suatu

produk atau jasa. Tujuan dasar dari control kualitas adalah untuk

memastikan bahwa produk , jasa atau proses yang disediakan memenuhi

persyaratan tertentu dan dapat diandalkan, memuaskan dan fiscal suara.

Pada dasarnya, kontrol kualitas melibatkan pemeriksaan produk,

layanan, atau proses untuk tingkat minimum tertentu kualitas. Tujuan

dari tim pengendalian kualitas adalah untuk mengidentifikasi produk

atau jasa yang tidak memenuhi standar perusahaan tertentu kualitas. Jika

masalah diidentifikasi, tugas tim pengendalian kualitas atau professional

33
mungkin melibatkan penghentian produk sementara. Tergantung pada

layanan atau produk tertentu, serta jenis masalah yang diidentifikasi,

produksi atau pelaksanaan tidak dapat berhenti sepenuhnya.

7 Tools untuk Quality Control :

1) Flowchart

Tools yang menggambarkan suatu proses barang atau jasa secara

detail sehingga kita bisa menganalisis bagian dari proses.

2) Check Sheet atau Lembar pemeriksaan

Lembaran yang berisi daftar kualitas yang harus dipenuhi ketika

proses berjalan.

3) Histogram

Grafik diagram batang yang menggambarkan banyaknya faktor yang

berpengaruh terhadap produk atau jasa.

4) Scatter Plot

Diagram pola yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan

faktor faktor pada produk atau jasa.

5) Control Charts

Peta kontrol itu untuk mengtahui data tingkatan kualitas produk

terhadap kecacatan produk terhadap waktu yang ada. tujuannya

untuk mendapatkan keseragaman kualitas sehingga jika terjadi

peningkatan grafik (jumlah cacat lebih) maka perlu dilakukan

perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).

6) Fishbone Diagram (Ishikawa Diagram)

34
Analisis sebab akibat yang digunakan untuk menggambarkan

hubungan hubungan antara faktor penyebab ketidaksuaian pada

produk dan jasa.

7) Pareto Diagram

Diagram batang yang menggambarkan proporsi faktor yang

berpengaruh terhadap produk dan jasa. karena menurut pareto,

dengan menyelesaikan 20% masalah utama dapat meningkatkan

hasil 80 %.

8. Pengembangan produk

Manajemen Produksi berkembang pesat karena adanya factor:

a. Adanya perkembangan kerja (division of labour) dan spesalisasi.

Agar produksi efektif dan efisien, produsen hendaknya

menggunakan metode ilmiah dan asas-asas manajemen. Pembagian

kerja memungkinkan dicapainya tingkat dan kualitas produksi yang

lebih baik bila disertai dengan pengolahan yang baik. Dan akan

mengurangi biaya produksi sehingga dapat tercapainya tingkat

produksi yang tinggi.

b. Revolusi Industri.

Revolusi industri merupakan suatu peristiwa penggantian

tenaga manusia dengan tenaga mesin. Revolusi ini merupakan

perubahan dan pembaharuan radikal dan cepat dibidang

perdagangan, industry dan teknik eropa.

c. Perkembangan alat dan tekhnologi

35
Perkembangan alat dan tekhnologi yang mencakup

penggunaa computer sehingga pada banyak hal manajer produksi

mengintegrasikan tekhnologi canggih kedalam bisnisnya.

d. Perkembangan ilmu dan metode kerja

Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup

metode ilmiah, hubungan antar manusia, dan metode keputusan.

B. Hambatan yang dihadapi

Dalam pembuatan suatu perencanaan, sering kita temui suatu

kendala atau hambatan yang tentunya membuat kita sangat sulit

memntukan pilihan maupun rencana. Sejumlah alasan mengapa banyak

manajer yang ragu bahkan gagal dalam menetapkan tujuan dan

membuat rencana bagi organisasi ataupun kelompok kerja mereka,

berikut penyebabnya:

a. Kurangnya pengetahuan tentang organisasi.

b. Kurang memahami lingkungan (internal dan external).

c. Ketidak mampuan melakukan prediksi secara efektif.

d. Kesulitan perencanaan operasi-operasi yang sekali pakai.

e. Terkendala biaya.

f. Takut gagal atau kurang percaya diri.

g. Ketidak sediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif

(jalan pintas).

h. Kriteria Penilaian Efektifitas Rencana

36
Beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menilai efektif

atau tidaknya suatu rencana, yaitu:

 Kegunaan.

 Ketepatan.

 Ruang Lingkup.

 Efektifitas Penggunaan Biaya.

 Akuntabilitas.

 Ketepatan Waktu

C. Alternatif Pemecahan

Jika terjadi konflik yang di alami PT. Nissin Biscuit Indonesia, baik

konflik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan menggunakan

jalan alternatif pemecah masalah cara dengan cara :

 Nissin selalu berpijak pada nilai-nilai tradisional seperti kerja

tim, pembelajaran berkesinambungan, dan pelayanan. Nilai-nilai

tersebut adalah kunci yang menuntun kami untuk melayani

konsumen lebih baik lagi dan menyelesaikan suatu masalah

dengan baik.

 Jika salah satu karyawan yang mempunyai salah dalam bekerja

PT. Nissin Biscuit Indonesia menyelesaikan masalah dengan cra

rasional dan mengambil keputusan dengan cara yang bijak sana,

memberikan pelatihan tenaga kerja yang baik agar karyawan

tersebut dapat bekerja dengan fokus, dapat bekerja secara efektif

37
dan efesien jika terjadi maalah yang kemungkinan timbul dari

dalam perusahaan ini.

38
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan tentang Perancangan Sistem Informasi

Persediaan Barang Pada PT. Nissin Biscuit Indonesia maka diambil

kesimpulan :

1. Dengan adanya system informasi ini, maka pihak Perusahaan

dapat lebih muda menyajikan informasi tentang penjualan

dan pengadaan barang

2. Mempermudah informasi penjualan dan pengadaaan barang

pada PT. Nissin Biscuit Indonesia, baik dalam pencarian

data, proses pengadaan dan penjualan maupun dalam

pembuatan laporan

B. Saran

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna,

kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan

tentang makalah di atas dengan sumber – sumber yang lebih banyak

yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.

Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa

untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang

telah di jelaskan.

39
C. Penutup

Demikianlah Laporan Kunjungan Industri ini saya susun dan

sampaikan. Tentunya dalam penyusunan laporan ini masih terdapat

kesalahan dan kekurangan yang perlu dibenahi, oleh karenanya

saran dan kritik yang membangun dari para Pembimbing dan semua

pihak sangat saya harapkan guna memperbaiki karya ini. Semoga

laporan ini dapat menambah pengetahuan dan kazanah keilmuan.

Atas perhatian dan partisipasinya saya sampaikan terima kasih.

40
DAFTAR PUSTAKA

http://nissinbiscuit.com
http://seputarsemarang.com/pt-nissin-biscuit-indonesia-6582/

41
DOKUMENTASI KUNJUNGAN INDUSTRI

Situasi sebelum berangkat ke PT. Nissin Biscuit Indonesia

Situasi perjalanan menuju PT. Nissin Biscuit Indonesia

Situasi di PT. Nissin Biscuit Indonesia

42
43
44