Você está na página 1de 4

Perdamaian Concord

Benefit Dibatalkan
Mahkamah Agung
Praktek selama ini, baik di tingkat
Kasasi maupun Peninjauan Kembali
(PK), Mahkamah Agung (MA) selalu
menolak permohonan pembatalan
perdamaian apabila Pengadilan Niaga
telah mengesahkan perdamaian. Untuk
perkara PT Concord Benefit, Tbk, yang
terjadi justru sebaliknya. Apa
pertimbangan MA?
Leo/Zae
Dibaca: 6 Tanggapan: 0
Berdasarkan rapat permusyawaratan MA pada 26
Juni 2001 lalu, Majelis Peninjauan Kembali yang
memeriksa perkara kepailitan PT Concord Benefit
Enterprises Tbk (Concord Benefit) memutuskan
untuk menolak pengesahan perjanjian perdamaian
yang dibuat dan ditandatangani oleh Concord
Benefit bersama kreditur-krediturnya. Pasalnya,
Majelis Peninjauan Kembali berpendapat bahwa
pemungutan suara yang dilakukan pada 30 Januari
2001 tidak sah.
Menurut Majelis Peninjauan Kembali yang dipimpin
oleh Ketua MA Bagir Manan, sesuai dengan
ketentuan Pasal 265 ayat (1) Undang-Undang
Kepailitan (UUK) rencana perdamaian dapat
diterima apabila disetujui oleh lebih dari � kreditur
konkuren yang haknya diakui atau sementara
diakui yang hadir pada rapat permusyawaratan.
Berdasarkan laporan Pengurus dan Hakim
Pengawas pada sidang 2 Pebruari 2001, bahwa
jumlah kreditur yang hadir dalam pemungutan
suara terhadap rencana perdamaian pada rapat
kreditur 30 Januari 2001 adalah sebanyak 13
kreditur. Komposisi suaranya, 6 kreditur menerima,
4 menolak dan 3 abstain.
Kreditur abstain harus dihitung
Apabila memperhatikan ketentuan pasal 265
ayat(1) UUK, seharusnya rencana perdamaian
baru dapat diterima jika disetujui oleh lebih dari �
dari 13 kreditur yang hadir yaitu sekurang-
kurangnya 7 kreditur, bukan � dari 10 kreditur
yang hadir (karena 3 kreditur yang abstain tidak
ikut dihitung, red), yaitu 6 kreditur sebagaimana
bunyi putusan Pengadilan Niaga.
Majelis Peninjauan Kembali berpendapat bahwa
kreditur yang abstain tetap harus diperhitungkan
karena mereka telah hadir pada pemungutan
suara. Permasalahannya adalah mereka tidak
memberikan suara atau mereka tidak berpihak.
Tapi abstainnya 3 kreditur tetap harus dihitung
sebagai seluruh suara yang hadir.
Seharusnya Majelis Pengadilan Niaga menolak
untuk mengesahkan rencana perdamaian pada 30
Januari 2001 karena hanya disetujui oleh 6
kreditur. Berdasarkan ketentuan Pasal 265 ayat
(1), rencana perdamaian tersebut baru dapat
disahkan apabila disetujui oleh 7 kreditur.
Dengan demikian Majelis Peninjauan Kembali
berpendapat bahwa Pengadilan Niaga telah
melakukan kesalahan berat dalam melakukan
perhitungan jumlah suara untuk menentukan
rencana perdamaian.
Dalam putusannya, MA mengabulkan permohonan
PK yang diajukan oleh Sejahtera Bank Umum
(dalam likuidasi) selaku salah satu kreditur
Concord Benefit, dengan membatalkan putusan
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
No.07/PKPU/200/PN.Niaga Jkt.Pst jo.
No.24/Pailit/2000 tanggal 12 Pebruari 2001dan
sekaligus menyatakan Concord Benefit pailit.
Membuka cakrawala baru
Putusan MA di tingkat PK untuk perkara Concord
Benefit ini telah membuka cakrawala baru dalam
implementasi UUK di Indonesia. Sejauh ini,
berdasarkan data yang dimiliki hukumonline, pada
seluruh proses PKPU yang berakhir dengan
pengesahan perdamaian atau kepailitan MA selalu
menolak permohonan kasasi ataupun PK-nya.
Sebagai perbandingan, PKPU pengusaha Fadel
Muhammad yang berakhir dengan kepailitan,
Majelis Peninjauan Kembali pada 27 Juni 2001
menolak permohonan PK dengan mengacu pada
ketentuan pasal 275 UUK dan penjelasannya. Dari
ketentuan tersebut, MA menafsirkan bahwa
terhadap pengesahan atau penolakan pengesahan
terhadap rencana perdamaian tidak dapat diajukan
kasasi atau PK.
Ketentuan pasal 275 tersebut, selain pasal 278
UUK, juga dipakai sebagai referensi bagi MA
untuk perkara-perkara PKPU, diantaranya PT
Davomas Abadi, PT Dharmala Sakti Sejahtera,
Tbk, PT Panca Overseas Finance, Tbk.