Você está na página 1de 10

J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017.

ISSN : 2460-9226

AQUAWARMAN
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI AKUAKULTUR

Alamat : Jl. Gn. Tabur. Kampus Gn. Kelua. Jurusan Ilmu Akuakultur Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman

Asimilasi Nitrogen dengan Tanaman Azolla (Azolla


michrophylla) sebagai Biofilter dalam Budidaya Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) Sistem Resirkulasi
Nitrogen Assimilation Rate by Azolla (Azolla michrophylla) As Biofilter in Nile
Tilapia (Oreochromis niloticus) - Recirculating Aquaculture System
1) 2) 3)
Atik Wulandari , Sumoharjo , Muhammad Ma’ruf

1
Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman
2),3)
Staf Pengajar Jurusan Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman
Abstract

The aims of the experiment were to analyze the effect of different biomassa of Azolla
on Total Ammonia Nitrogen assimililation rate and water quality dinamics of Nile
Tilapia reared in a simple recirculating system. A randomized complete block design
was applied to this treatment, three different initial biomassa and one control (no
Azolla) were set up in three blocks, the treatments were 5 gram, 10 gram, and 15 gram
of Azolla michropylla.
The result of the experiment showed that Azolla of each treatment converted 1.232
gram, 1.698 gram, and 2.787 gram of TAN excreted fish. However, there was no
significant different in biofiltration efficiency among treatments (P>0.05). Although
treatment with 15 gram Azolla had the highest removal efficiency with 99.5% of TAN
from fish culture medium. In fact, the treatments were not differ to control that
achieved 98.5% of TAN production.

Keywords: Aquaculture, Biofiltration, Azolla, Filter media, Recirculation


I. Latar Belakang melalui peningkatan kepadatan.
Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah
Indonesia merupakan salah satu meningkatnya kebutuhan pakan dan diikuti
negara dengan produksi akuakultur oleh penurunan kualitas air dengan cepat,
terbesar kedua setelah China dengan hal ini terjadi karena akumulasi limbah
produksi 14,330.9 juta ton pada tahun 2014 nutrien dari sisa metabolisme ikan dan sisa
(FAO, 2016). Salah satu produknya adalah pakan yang tidak termakan.
ikan Nila yang merupakan komoditas Limbah sisa metabolisme yang utama
perikanan darat (inland aquaculture) yang berupa bahan anorganik seperti ammonia
banyak digemari oleh masyarakat, baik dan CO2, dan bahan organik seperti feses,
lokal maupun internasional. urine, serta partikel sisa pakan. Limbah
Setiap usaha budidaya ikan Nila yang masih berupa bahan organik akan
maupun jenis ikan lainnya, para mengalami perombakan oleh bakteri dan
pembudidaya selalu berupaya untuk jamur sehingga meningkatkan kandungan
memaksimalkan keuntungan produksi ammonia dalam perairan (Fujaya, 1999).

54
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Sementara itu, pelaku akuakultur biasanya heterotrof, tidak hanya berdasarkan atas
hanya menginginkan produk utama dari kebutuhan nutrien tetapi juga kebutuhan
akuakultur, yaitu komoditi yang akan oksigen, pH, dan CO2. Maka, konfigurasi
dipanen nantinya, tetapi tidak sistem yang dapat dilakukan adalah
menginginkan limbah nutrien yang secara mengintegrasikan produksi ikan dengan
perlahan namun pasti dapat mencapai level asimilasi nutrien dengan tumbuhan air. Di
yang beracun (toksik) bagi ikan itu sendiri sini nutrien yang dilepaskan dari sistem
(Diver, 2005 dalam Fahlefi, 2013). akuakultur akan dikonversi ke dalam
Konsentrasi ammonia yang tinggi di biomassa tumbuhan atau organisme lain
air dapat mengganggu proses pengikatan sehingga dengan mudah dapat dihilangkan
oksigen dalam darah, terganggunya proses dan bisa menjadi produk ikutan yang
metabolisme ikan, menurunkan bernilai ekonomis.
pertumbuhan dan berat ikan, bahkan Beberapa jenis tumbuhan air dan alga
menjadi penyebab kematian ikan. Ikan Nila yang digunakan sebagai biofilter untuk
yang terpapar 1.5 mg/L NH4Cl pada suhu memperbaiki kualitas air telah dikaji secara
25°C selama 72 jam menunjukkan tidak ada ilmiah seperti Spirogyra (Hadi, 2014), dan
peningkatan plasma glukosa secara Lemna minor (Margono, 2014). Jenis
signifikan dalam kurun waktu 24 jam, tetapi tumbuhan air lain seperti Azolla microphilla
secara proporsional meningkat secara (selanjutnya akan disebut Azolla) tentu
signifikan pada pemaparan jangka panjang potensial juga digunakan sebagai biofilter
(Liu dan Pan, 2008). Hal tersebut tentu dalam akuakultur.
menjadi faktor pembatas kapasitas Azolla adalah jenis tumbuhan air
produksi dari suatu unit akuakultur atau seperti halnya kiambang (Lemna minor)
kontraproduktif terhadap upaya yang hidup berkoloni dan mengapung di
peningkatan produksi oleh pembudidaya permukaan air, sehingga sangat
secara keseluruhan. memungkinkan untuk ditempatkan dalam
Secara umum, untuk menurunkan unit biofilter pada sebuah sistem
konsentrasi ammonia dalam air dapat akuakultur resirkulasi. Jenis tumbuhan air
menggunakan Biofilter (Biological ini sebenarnya sudah sering digunakan
Filtration). Biofilter adalah organisme yang dalam proses fitoremediasi limbah. Di
digunakan untuk menyerap atau beberapa negara telah
menghilangkan bahan yang tidak diinginkan mengembangkannya sebagai penyerap
dalam proses produksi akuakultur (Akbar, unsur-unsur logam berat, seperti; Pb, Cr,
2003). Oleh karena itu, biofilter merupakan dan Hg dalam kegiatan remediasi air yang
unit penting dalam sebuah sistem terkontaminasi limbah pabrik dan limbah
akuakultur yang intensif seperti sistem perkotaan.
akuakultur resirkulasi (RAS, Recirculating
Aquaculture Systems). II. Bahan dan Metode Penelitian
Organisme biofilter dapat berupa
Waktu dan Tempat
bakteri, detriforus, dan fototrof (tumbuh-
Pelaksanaan penelitian pada tanggal
tumbuhan). Menurut Neori et al. (2004)
20 Januari sampai dengan 17 Februari 2017
bahwa biofiltrasi dengan tumbuhan dapat
di Laboratorium Sistem dan Teknologi
menghasilkan sebuah ekosistem mini yang
Akuakultur, Jurusan Budidaya Perairan,
seimbang, karena level trofiknya yang
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
berbeda dengan hewan. Tumbuhan
Universitas Mulawarman.
memiliki kebutuhan yang berkebalikan
dengan ikan/udang atau mikroba

55
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Rancangan Penelitian g. Parameter kualitas air, sebagai data


Rancangan penelitian ini akan penunjang penelitian,dengan parameter
menggunakan Rancangan Acak Kelompok pH, DO, suhu, dan TDS diukur dua hari
(RAK). Dalam penelitian ini menggunakan 4 sekali menggunakan DO meter LT, TDS
buah perlakuan (P1, P2, P3, P4) dan setiap Meter dan PH Meter sedangkan untuk
perlakuan diulang dalam 3 kelompok atau Ammonia dan Pospat diukur tiga kali
blok. Sehingga unit percobaan yang sehari menggunakan spektrofotometer
dilibatkan sebanyak 4 unit pada setiap blok, dan kelimpahan plankton pada hari
sehingga pada keseluruhan dibutuhkan terakhir.
sebanyak 4 x 3= 12 unit percobaan. h. Penambahan air dilakukan apabila
Perlakuan yang dipakai : volume air pada akuarium berkurang
P1 = Kontrol lebih dari atau sama dengan setengah
P2 = Azolla 5 gram volume awal. Air yang ditambahan
P3 = Azolla 10 gram dicatat untuk melihat seberapa banyak
P4 = Azolla 15 gram air yang ditambahkan pada saat
penelitian, sehingga dapat dihitung
Prosedur Kerja
jumlah ammonia tambahan dari air
Pelaksanaan Penelitian
baru.
a. Akuarium ukuran 25cm x 25cm disusun
i. Pada minggu terakhir masing-masing
sebanyak 12 buah, tiap akuarium diberi
tanaman dikelompoknya ditimbang
label sesuai dengan ulangan dan
semua dan di analisis kandungan total
perlakuan yang telah ditentukan sesuai
nitrogennya dengan metode Total
pengacakan. Akuarium diisi dengan air
Kjedahl Nitrogen (TKN).
sebanyak 10 liter pada masing-masing
perlakuan. Pengumpulan dan Analisis Data
b. Wadah filter untuk meletakkan azola, a. Laju Pertumbuhan Azolla (Zonneveld,
untuk inlet dan outlet dengan diameter 1991)
1/8 inch yang dihubungkan dengan GR = Wt-W0/t
pompa untuk menarik air dari setiap Keterangan:
akuarium perlakuan. W0 = bobot awal (g)
c. Azolla ditimbang masing-masing sesuai Wt = bobot pada waktu t (g)
perlakuan yaitu 5 gram, 10 gram, dan 15 t = waktu penelitian
gram masing-masing diulang 3 kali. b. Jumlah Konsumsi Pakan
d. Azolla ditempatkan secara acak JKP = Jumlah pakan yang disediakan awal
berdasarkan Rancangan Acak Kelompok – Jumlah akhir pakan
(RAK) c. Produksi Total Ammonia Nitrogen (TAN)(
e. Ikan dimasukkan sebanyak 5 ekor untuk Ebeling et al. 2006)
setiap wadah percobaan, ikan PTAN = F x PC x 0,092
sebelumnya telah diukur panjang dan Keterangan :
berat ikan. Pemberian pakan 2 kali PTAN = Produksi TAN (kg
dalam sehari secara atsatiasi, pakan TAN/kg pakan)
berupa pellet dengan protein 32%. F = jumlah pakan
f. Sebagian tanaman azolla tersisa di uji PC = kandungan protein
proksimat sebagai data awal Total (konstanta 0,092)
Nitrogen sebelum dilakukan penelitan. d. Total Penyisihan Nitrogen (Nitrogen
Uji proksimat dilakukan di Laboratorium Removal Efficiency) (Datta dan Allen,
Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas 2005)
Mulawarman. TPN = x 100 %

56
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Keterangan : statistik ini menggunakan Microsoft Excel


M TAN = TAN terukur di air 2010.
e. Retensi Nitrogen oleh Azolla III. Hasil dan Pembahasan
(Zonnenveld et al. 1991).
Jumlah Konsumsi Pakan dan Produksi TAN
RN = (Wt x TKNt) – (W0 x TKN0)
Selama 29 hari masa pemeliharaan,
Keterangan:
ikan mengkonsumsi pakan dengan
RNtanaman = Retensi nitrogen
kandungan protein 32 %. Konsumsi pakan
oleh tanaman (g/kg)
rata-rata pada masing-masing perlakuan
Nt = Nitrogen dalam
yaitu P1 14.50±0.85 gram, P2 18.95±4.55
tanaman waktu t
gram, P3 17.03±2.89 gram dan P4
N0 = Nitrogen semula
19.57±0.78 gram. Hasil ini didapat dari
dalam tanaman.
jumlah pakan yang disediakan kemudian
TKN = Total Kejhdal
dikurangi dengan sisa pakan pada akhir
Nitrogen
masa pemeliharaan ikan.
f. Efisiensi Asimilasi Azolla (Zonnenveld et
Jumlah konsumsi pakan total
al. 1991).
tertinggi secara kelompok yaitu pada
TAN = x 100%
kelompok 3, yakni 78.19 gram sedangkan
g. Penentuan Waktu Penggandaan
dari jumlah konsumsi pakan total tertinggi
(doubling time) (Mithcell, 1974 dalam
antar perlakuan terdapat pada P4 yaitu
Surdina et al. 2016).
sebanyak 58.7 gram. Jumah konsumsi
pakan pada P1 (kontrol) lebih rendah
dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Hal tersebut diduga terkait dengan
ketersedian jumlah pakan alami yang
Keterangan :
terdapat pada perlakuan kontrol.
RGR = Relative Grow
Faktor lingkungan dapat
Rate (%/hari)
mempengaruhi proses pemanfaatan pakan
Ln = Logaritma Natural.
tidak hanya pada tahap proses
DT = Doubling Time
pengambilan, pencernaan, pengangkutan
(hari)
dan metabolisme saja, bahkan sebenarnya
h. Kualitas Air
pengaruh faktor lingkungan diawali pada
Pengambilan contoh air untuk
proses pencernaan makanan. Suhu,
mengetahui parameter kualitas air berupa
cahaya, dan oksigen juga memiliki
suhu, DO, pH dan TDS dilakukan dengan
pengaruh terhadap laju konsumsi pakan
frekuensi dua hari sekali, untuk parameter
(Setiawati dan Suprayudi, 2003). Hal ini
Ammonia dan Phospat frekuensinya tiga
juga didukung oleh pendapat Brett (1971),
hari sekali dan analisis kelimpahan plankton
jumlah pakan yang mampu dikonsumsi ikan
1 kali pada hari terakhir penelitian.
setiap hari berhubungan dengan kapasitas
Analisis Data Secara Statistik dan pengosongan perut yang berhubungan
Data retensi nitrogen pada masing- dengan metabolisme tubuh. Pakan yang
masing perlakuan dan kelompok dianalisis dikonsumsi oleh ikan Nila yang dipelihara
keragamannya (ANOVA). Beda rata-rata dapat dilihat juga pada Gambar 1.
perlakuan dan kelompok dievaluasi Hasil dari penelitian ini setelah
menggunakan Uji Jarak Nyata Berganda dilakukan anova diketahui bahwa nilai
Duncan (JNBD) dengan tingkat kepercayaan produksi TAN total tidak berbeda nyata
95% (P < 0,05). Proses analisis secara pada tingkat kepercayaan 95% (P < 0,05).
Terlihat dari nilai produksi TAN pada setiap

57
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

media pemeliharaan ikan Nila memiliki nilai P3 29 0.502±0.085


rata-rata yang hampir sama pada semua P4 29 0.576±0.023
perlakuan, bahkan pada kontrol dan media
yang diberi perlakuan biofiltrasi tanaman Total Penyisihan TAN, Tingkat Retensi dan
Azolla (Azolla microphylla). Nilai produksi Efisiensi Asimilasi Nitrogen oleh Azolla
TAN secara keseluruhan hingga 29 hari Penyisihan TAN (rTAN) merupakan
percobaan dapat dilihat pada Tabel 1. jumlah TAN total dikurangi dengan TAN sisa
Nilai tertinggi produksi TAN total atau TAN yang terukur di air (media
pada penelitian ini yaitu pada P4 (1.712 g), pemeliharaan). TAN removal adalah jumlah
dan nilai terendah pada P1 (1.410 g). TAN yang hilang dimanfaatkan oleh
Jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan organisme dalam wadah pemeliharaan
berpengaruh terhadap nilai produksi Total ikan.
Ammonia Nitrogen (TAN), produksi TAN Hasil sidik ragam (ANOVA) terhadap
merupakan produk sisa metabolisme yang tingkat penyisihan TAN dari perlakuan tidak
utama dari ikan, dikeluarkan melalui insang berbeda nyata (P<0.05). Hal tersebut dapat
dan urine. Sumber utama ammonia dilihat pada lampiran Tabel 10. Namun
sebenarnya berasal dari protein pakan demikian ada kecenderungan tingkat
yang dimakan oleh ikan untuk kebutuhan penyisihan TAN pada perlakuan biofiltrasi
energi dan nutrien, deaminasi asam amino dengan Azolla lebih tinggi dibandingkan
menjadi energi menghasilkan ammonia dengan perlakuan tanpa Azolla (kontrol).
yang dikeluarkan sebagai sisa dari Dimana, TAN yang hilang pada P4 mencapai
metabolisme. Di dalam air, amonia 1.703 gram. Hal ini sesuai dengan pendapat
terdapat dalam dua bentuk, yakni; NH +4 Putra et al. (2011) bahwa pakan lebih
(amonia terionisasi, karena memiliki ion efisien pada wadah pemeliharaan yang
positif) dan NH3 (tak terionisasi, karena terdapat biofilter sehingga mempengaruhi
tidak memiliki ion), yang secara beban limbah yang dikeluarkan dan masuk
keseluruhan disebut Total Ammonia ke lingkungan perairan.
Nitrogen (TAN) (Francis-Floyd dan Watson, Berdasarkan Gambar 3 menunjukkan
2005). Setiap 1 kg pakan yang dimakan oleh bahwa P4 memiliki nilai efisiensi tertinggi
ikan akan menghasilkan kurang lebih 37 (0.995) sedangkan kontrol adalah yang
gram ammonia. paling rendah (0.984). Akan tetapi secara
statistik seluruh perlakuan tidak
menunjukkan berbedaan yang signifikan.
Efisiensi penyisihan TAN secara
empiris ditentukan oleh spesies ikan, pakan
yang diberikan, tinggi filter, tipe media
filter, hydraulic surface load, suspended
solids unit dan konsentrasi TAN di influen
filter (Edding et al. 2016).
Nutrien yang dilepaskan dari sistem
Gambar 1. Jumlah Pakan Terkonsumsi Ikan
akuakultur akan dikonversi ke dalam
Nila (Oreochromis niloticus)
biomassa tanaman atau organisme lain
Tabel 1. Nilai rata-rata produksi TAN untuk sehingga dengan mudah dapat dihilangkan
setiap perlakuan 29 hari dan bisa menjadi produk ikutan yang
Perlakuan Hari Total (g) bernilai ekonomis. Nutrien yang diasimilasi
P1 (Kontrol) 29 0.427±0.025 oleh tanaman fotoautotrof dapat
P2 29 0.558±0.134 digunakan untuk mengembalikan limbah

58
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

yang kaya nutrien ini kedalam sumber lain penyerapan pada masing-masing yaitu,
yang menguntungkan (Neori et al. 2004). kelompok 1 (2.811% N) kelompok 2
Biofiltrasi dengan tumbuhan ini (2.788%N) dan kelompok 3 (2.781% N).
menghasilkan sebuah ekosistem mini yang Azolla dengan biomassa 263 gram mampu
seimbang (Crab et al. 2007). menyerap 8.4 % TAN dari total produksi
Jumlah nitrogen yang diasimilasi ammonia, jika bobot Azolla ditambah
oleh Azolla pada masing-masing perlakuan menjadi 2630 gram maka di prediksi secara
dihitung berdasarkan bobot kering dan total tanaman akan menyerap TAN sekitar
kandungan total nitrogen yang diperoleh 84 % TAN.Sehingga dapat diprediksi jika
dari hasil analisis Total Kjehdahl Nitrogen luasan media filter dan jumlah Azolla
(TKN). Konversi nitrogen oleh setiap ditingkatkan 10 kali lipat proses
perlakuan biomassa Azolla memiliki hasil penyerapan TAN oleh Azolla akan lebih
yang berbeda-beda, meskipun tidak terlihat berbeda nyata.
berbeda nyata dalam meretensi nitrogen. Terdapat faktor lain yang dapat
Rata-rata nilai TKN masing-masing mempengaruhi penyerapan nitrogen
biomassa Azolla pada awal dan akhir seperti fiksasi nitrogen langsung dari udara
penanaman ditunjukan oleh Tabel 2. dan aktifitas mikroorganisme perairan
Dapat dilihat pada Tabel 2 bahwa seperti fitoplankton dan bakteri dalam
pada akhir penelitian (hari ke-29) nilai wadah pemeliharaan ikan yang juga
nitrogen pada masing-masing perlakuan berperan` dalam proses penyisihan TAN.
memiliki nilai yang tidak berbeda nyata, Oleh karena itu, nilai efesiensi penyisihan
antar perlakuan hanya memiliki selisih 0.03 nitrogen pada penelitian ini memiliki
± 0.04. Tetapi ada kecenderungan setiap cenderung mengalami kenaikan pada setiap
penambahan biomassa A. microphylla nilai penambahan biomassa Azolla.
TKN mengalami kenaikan. Menurut Arora,
et al. (2009) A. microphylla lebih efisien
dalam penyerapan TAN dibandingkan
tumbuhan lain, hal ini berhubungan dengan
kecepatan tumbuh Azolla yang cukup
tinggi.
Hasil dari ANOVA menunjukkan
retensi nitrogen oleh A. microphylla juga
tidak berbeda nyata. Diduga ada faktor
yang dapat mempengaruhi retensi nitrogen
Gambar 2. Jumlah TAN yang Hilang dari Air
seperti bakteri dan plankton yang hidup
pemeliharaan Ikan Nila
dalam media pemeliharaan ikan. Pendapat
tersebut sesuai dengan pernyataan
Schneider et al. (2005) bahwa dalam satu
hari alga mampu meretensi N sebanyak
30%.
Berdasarkan pada Tabel 3 maka
penyerapan rata-rata pada setiap
perbedaan biomassa Azolla adalah Azolla
5 gram (0.947% N), Azolla 10 gram (0.923%
N), dan Azolla 15 gram (0.923 % N).
Secara kelompok, penyerapan nitrogen
juga tidak berbeda secara nyata, Gambar 3. Nilai Efisiensi Penyisihan
Nitrogen

59
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Tabel 2. Rata-rata Nilai TKN tanaman uji (30), P3 (60), P4 (90), dan pada hari ke-29
pada awal dan akhir penelitian jumlah pertumbuhan populasi Azolla yaitu
Azolla Azolla Azolla P2 (112), P3 (157), P4 (255). Jumlah
Waktu
(5 (10 (15 pertumbuhan ini kurang lebih 3 kali lipat
Pengukuran
gram) gram) gram) dari jumlah populasi awal Azolla. Waktu
Awal (hari penggandaan tanaman (DT) ANOVA
1.34% 1.34% 1.34%
ke-1) memiliki hasil yang tidak berbeda nyata.
Akhir (hari Dimana rata-rata DT pada setiap perlakuan
6.92% 6.95% 6.99%
ke-29) sebagai berikut, P2 (hari-16), P3 (hari-22),
P4 (hari-23).
Tabel 3. Rata-rata Retensi Nitrogen pada Pada waktu penelitian terdapat
masing-masing perlakuan A. sejumlah kematian Azolla yaitu pada P2 (13
microphylla gram), P3 (34 gram), P4 (38 gram). Dapat
Jenis Durasi Retensi dilihat nilai kematian tertinggi yaitu pada
Perlakuan (hari) Nitrogen (g) P4 sedang yang terendah pada P2. Salah
5 gram 29 1.23 ±0.28 satu faktor yang mempengaruhi hal
10 gram 29 1.70±0.53 tersebut yaitu tidak adanya ruang pada saat
15 gram 29 2.79±1.44 Azolla menggandakan diri, yang disebabkan
luasan media (wadah filter) yang
Pertumbuhan Populasi Azolla microphylla digunakan, dimana luasan yang digunakan
63 cm2 sedangkan biomassa populasi awal
yang ada hampir menutupi luasan
permukaan wadah filter. Menurut
Djojosuwito (2000), Perbanyakan vegetatif
ini sangat cepat dengan waktu ganda
(doubling time) biomassa sekitar 4-5 hari.
Tumbuhan yang memisahkan diri ini sampai
menjadi Azolla sp, memerlukan waktu 10-
Gambar 4. Bobot Azolla Akhir 15 hari. Sementara pada penelitian ini DT
Pertumbuhan Azolla pada penelitian tercepat yang dicapai oleh Azolla adalah 16
dapat dilihat pada Gambar 10, terlihat hari yaitu pada P2. Kecepatan DT
bahwa bobot Azolla tertinggi pada P4 yaitu dipengaruhi oleh jarak populasi Azolla, jika
(127.5 gram), kemudian P3 (78.7 gram) dan jarak antar populasi Azolla semakin jauh
bobot terendah pada P2 (56.1 gram). maka kemampuan Azolla untuk
Perbedaan ketersediaan bahan organik menggandakan diri akan semakin cepat dan
yang berasal dari hasil sekresi ikan Nila cepat.
yang dipelihara pada setiap media Dinamika Kualitas Air
pemeliharaan ikan membuat perbedaan 1. Suhu
bobot Azolla pada setiap perlakuan. Pengukuran suhu dilakukan pada
Pertumbuhan Azolla microphylla juga sore hari. Hasil pengukuran kualitas air
bisa ditandai dengan adanya waktu selama penelitian dari ke empat perlakuan
penggandaan tanaman (Surdina et al. hasil rata-rata pengukuran suhu selama 29
2016). Penggandaan tanaman ini hari adalah 31.73 . Pada penelitian ini dapat
berhubungan dengan jumlah populasi awal dilhat bahwa suhu juga dapat
penebaran Azolla ( hari ke-1) dan akhir mempengaruhi laju konsumsi pakan
penelitian (hari ke-29). Jumlah populasi dimana pada suhu tinggi ikan lebih banyak
total pada hari ke-1 penebaran tanaman P2 makan dibandingkan pada suhu rendah.

60
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Selain itu menurut Effendi, (2003), rata-rata pegukuran TDS pada keempat
peningkatan suhu juga mempengaruhi perlakuan 537 ppm. Nilai TDS pada
tingkat laju metabolisme dan respirasi keempat perlakuan mengalami kenaikan
organisme akuatik, dimana hal tersebut pada H-4 sampai dengan H-29. Nilai TDS P1
menyebabkan meningkatnya laju konsumsi lebih rendah dibandingkan P2, P3, dan P4
oksigen oleh organisme akuatik. yang diberi perlakuan biofilter. Nilai P1
2. Disolved Oksigen (DO) rata-rata yaitu 479 mg/l, sedangkan pada
DO merupakan salah satu parameter P2 (556 mg/l), P3 (557 mg/l), dan P4 (556
penting pada kegiatan biofiltrasi, karena mg/l).
mikroorganisne yang digunakan dalam
biofiltrasi merupakan mikroorganisme 5. Total Ammonia Nitrogen (TAN)
aerobik (Datta dan Allen, 2005). Analis TAN dilakukan 3 hari sekali
Pengukuran DO dilakukan pada sore hari. dilakukan pada pagi hari. Nilai TAN pada P1
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa (Kontrol) lebih tinggi dibandingkan dengan
jumlah DO antar perlakuan tidak memiliki wadah pemeliharaan yang diberi perlakuan
perbedaan yang signifikan. Hanya pada biofilter Azolla yaitu P2, P3, dan P4. Nilai
hari-hari tertentu DO mengalami TAN rata-rata P1( 0.623 mg/l), P2 (0.328
penurunan secara keseluruhan diantaranya mg/l), P3 (0.323 mg/l), P4 (0.258 mg/l).
yaitu pada Hari ke-1, 11, dan 25. DO Nilai ini menunjukkan bahwa adanya
terndah yaitu pada perlakuan P1 dan P2 pengaruh penyerapan TAN oleh Azolla.
yaitu (2.30 mg/l), hal tersebut sesuai Menurut Effendi (2003), Sumber nitrogen
dengan pendapat Wedemeyer (1996) yang dapat dimanfaatkan secara langsung
dalam Permatasari (2013) kisaran DO oleh tumbuhan akuatik adalah nitrat (NO3),
optimum bagi kehidupan ikan adalah 5 – 7 ammonium (NH4), dan gas nitrogen (N2).
mg/l. 6. PO4 (Ortho Phospat)
3. Derajat Keasaman (pH) Jumlah bahan organik yang melimpah
Nilai pH pada P1(kontrol) lebih tinggi dapat menurunkan nilai TKN Azolla.
dibandingkan dengan media pemeliharaan Semakin tinggi nilai fosfat akan semakin
ikan yang terdapat biofilternya yaitu pada kecil nilai TKN, sehingga dapat dikatakan
P2, P3 dan P4. Rata-rata pengukuran nilai nilai fosfat menentukan nilai TKN Azolla.
pH selama 29 hari penelitian pada P1 (8.9), Kandungan fosfat dalam air dapat
P2 (8.0), P3 (8.2) dan P4 (7.9). pH basa dimanfaatkan oleh Azolla dalam bentuk
menyebabkan NH3 tak terionisasi terbentuk bahan anorganik (Arizal, 2011). Pengukuran
sehingga dapat menghambat asimilasi. fosfat dilakukan 3 hari sekali selama 29
Terdapat kecenderungan nilai pH hari penelitian dilakukan pada pagi hari.
mendekati netral saat biomassa Azolla Dari keempat perlakuan didapatkan hasil
ditingkatkan, pada kondisi pH mendekati rata-rata pengukuran Fosfat 1.38 mg/l.
netral atau dibawah netral maka proses Pada grafik dapat dilihat bahwa nilai fosfat
asimilasi akan semakin baik. lebih stabil pada P1 (Kontrol), dengan nilai
4. Total Dissolved Solid (TDS) rata-rata 1.32 mg/l. Sedangkan nilai
TDS merupakan salah satu faktor tertinggi yaitu pada P4 1.97 mg/l. Fosfat
yang mempengaruhi efesiensi penyerapan juga mempengaruhi aktivitas fosintesis
N oleh Azolla, apabila nilai TDS semakin Azolla yang berpengaruh terhadap proses
tinggi maka kemampuan Azolla melakukan penggandaan populasi (doubling time)
penyerapan N akan semakin rendah (Utama et al. 2015).
(Schneider, et al. 2005). Pengukuran TDS
dilakukan pada sore hari. Hasil keseluruhan

61
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

7. Kelimpahan Plankton diharapkan dapat meningkatkan laju


Pengamatan plankton dilakukan pada pertumbuhan ikan.
hari ke-29. Hasil dari pemangamatan
plankton ditemukan 2 jenis plankton secara DAFTAR PUSTAKA
garis besar yaitu, phytoplankton dan
Akbar, R. A. 2003. Efisiensi Nitrifikasi dalam
zooplankton. Pythoplankton yang
Sistem Biofilter Submerged Bed,
ditemukan yaitu dari kelas Chlorophyceae
Trickling Filter dan Fluidized Bed.
yaitu ada 8 spesies Coelastrum sp.,
Skripsi. Institut Teknologi Bandung.
Pediastrum boryanum, Pediastrum simplex,
Scenedesmus quadricauda, Scenedesmus Arizal, Adrian. 2011. Kandungan Nitrogen
dimorphus, Chlorela, dan Closterium (N) pada Azolla pinnata yang
gracile. Sedangkan dari jenis zooplankton Ditumbuhkan dalam Media Air dengan
ditemukan dari kelas Mastigophora, Kadar P yang Berbeda. Skripsi.
Euglena Oblonga dan Euglena gracilis. Manajeman Sumber Daya Perairan,
P1 memiliki nilai kelimpahan Fakuktas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
plankton paling tinggi yaitu 119,271 , Institut Pertanian Bogor. Bogor.
kemudian nilai pada perlakuan selanjutnya Brett, J.R. 1971. Satiation time, appetite
yaitu P2 (59,636), P3 (57,098), dan P4 and maximum food intake of socheye
(16,495). Hal inilah merupakan merupakan salmon (Onchorhyncus nerka). J. Fish.
salah satu faktor yang menyebabkan pada Bd. Canada. 28: 409-415.
uji Anova efesiensi biofiltrasi Azolla tidak
menunjukkan nilai berbeda nyata, karena Crab R, Y Avnimelech , T Defoirdt, P Bossier,
jumlah plankton pada media pemeliharaan and W Verstraete. 2007. Nitrogen
memiliki nilai yang tergolong tinggi, Removal Technique in Aquaculture for
sehingga dapat diperkirakan plankton sustainable production. Review article.
tersebut memiliki peranan dari proses Aquaculture Journal. 270 : 1 – 4
pemanfaatan TAN dalam wadah Datta I, Allen DG. 2005. Biofilter :
pemeliharaan ikan. Biotechnology for Odor and Air
IV. Kesimpulan dan Saran Pollution Control.. Springer-Verlag
Berlin. Germany : Shareefdeen/Singh
1. Efesiensi biofiltrasi TAN oleh Azolla tidak (eds.).
berbeda nyata dengan kontrol, dimana Djojosuwito, S. 2000. Pertanian organik dan
artinya plankton juga mampu menyerap multiguna. Kanisius,Yogyakarta.
TAN dalam wadah pemeliharaan ikan.
Ebelling JM, Timmons MB, dan Bisogni JJ.
Akan tetapi wadah pemeliharaan ikan
2006. Engineering analysis of the
harus diberi aerasi secara terus-
stoichiometry of phototrophic,
menerus.
autotrophic, and heterotropic removal
2. Tingkat asimilasi N oleh Azolla mencapai
of ammonia-nitrogen in aquaculture
95 % dengan kepadatan awal Azolla 1,5
system. Aquaculture. 257 : 346-358.
gram/liter air atau setara dengan 2.4
kg/m2 wadah filter. Sehingga tanaman Edding , EH, A Kamstra, JAJ Verreth, EA
Azolla michrophylla cocok dijadikan Huisman, dan A Klapwijk. 2006. Design
organisme biofilter dalam sistem and Operation of Trickling Filters in
akuakultur resirkulasi. Resirculating Aquaculture.
3. Frekuensi pemberian pakan seharusnya Aquacultural Engineering : A Review 34
bisa lebih sering, 3-4 kali sehari, selain : 234 -260
untuk mencegah agresifitas juga

62
J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : 54-63. April 2017. ISSN : 2460-9226

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi modern mariculture. Aquaculture 231,
Pengelolaan Sumberdaya dan 361-391.
Lingkungan Perairan. Cetakan Kelima.
Permatasari, D.W. 2013. Kualitas Pada
Yogjakarta : Kanisius.
Pemeliharaan Ikan Nila (Oreochromis
FAO, 2016. The State of World Fisheries sp.)Intensif di Kolam Departemen
and Aquaculture-2016 (SOFIA). Budidaya Perairan Institut Pertanian
Contributing to food security and Bogor. Skripsi. Fakultas Perikanan dan
nutrition for all. Rome. 200 pp. Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Francis-Floyd, R., Watson, C., Pretty
D.Pulder, DB.2005. Ammonia in Putra, Iskandar, D.Djoko Setiyanto, dan
Aquatic Sistem1FA-16, Department of Dinamella Wahyjuningrum. 2011.
Fisheries and Aquaculture Science, Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Florida Cooperative Extension Service, Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Dalam
Institute of Food and Agricultural Sistem Resisrkulasi. Jurnal Perikanan
Science, University of Florida. dan Kelautan 16,1 (2011) : 56-63.
Fujaya, Yushinta. 1999. Fisiologi Ikan: Dasar Schneider, V. Sereti, E.H Edding, J.A.J.
Pengembangan Teknik Perikanan. Verreth. 2005. Analiysis of Nutrien
Rineka Cipta, Jakarta. Flows in Integratet Intensive
Aquaculture System. Aquaculture
Hadi,.S.W, Pertumbuhan Biomassa
engenering. 32: (379-401).
Spyrogira sp. Sebagai Organisme
Biofilter dalam Sistem Akuakultur Setiawati, M., Suprayudi M.A.,
Resirkulasi. Jurnal Ilmu Perikanan Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Ikan
Tropis. 20(1):16-24. Nila Merah (Oreochromis sp.) yang
Dipelihara Pada Media Bersalinitas.
Krebs, C.J. 1989. Ecological Metodologi.
Jurnal Akuakultur Indonesia. 2(1).27-
Columbia: University of British
30.
Liu, TL, B Sun Pan. 2008. Effect Ammonium
Surdina, Eva,Sayyid Afdhal El-Rahimi, dan
on Blood Characteristic and
Iwan Hasri. 2016. Pertumbuhan Azolla
Lypooxigenase Activities in Cultured
microphylla Dengan Kombinasi Pupuk
Tilapia. Department of Food Science.
Kotoran Ternak. Jurnal Ilmiah
National Taiwan Ocean University.
Mahasiswa Kelautan dan Perikanan
Taiwan.
Unsyiah.1:3.298-306.
Margono. E.M. 2014. Studi Potensi
Utama, Putra, Dewi Firnia, dan Ganes
Kiambang (Lemna minor) Sebagai
Natanael. 2015. Pertumbuhan dan
Organisme Biofilter Dalam Sistem
Serapan Nitrogen Azolla microphylla
Akuakultur Resirkulasi. Skripsi. Jurusan
akibat Pemberian Fosfat dan
Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan
Ketinggian Air yang Berbeda.
dan Ilmu Kelautan. Universitas
Agrologia, 4(1): 41-52 hlm.
Mulawarman, Samarinda, 41 hlm.
Zonnenveld A, Huisman, EA, dan Boon, JH.
Neori, A., Chopin, T., Troell, M., Buscmann,
1991. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan.
A.H., Kraemer, G.P., Halinng, C.,
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Shpigel, M., and Yarish, C., 2004.
Integrated aquaculture: rationale,
evolution and state of the art
emphasizing seaweed biofiltration in

63