Você está na página 1de 58

PENGESAHAN DEKAN

Skripsi diajukan oleh :

Nama : Angga Ahadiyat Nugraha

NRP : 207.311.029

Program Studi : Sarjana kedokteran

Judul skripsi : Hubungan Umur, Jenis Kelamin, Obesitas dengan


Kejadian Penyakit Jantung Hipertensi di Poli Jantung
RSPAD Gatot Soebroto

Telah berhasil dipertahankan di hadapan penguji dan pembimbing serta telah diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran pada program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.

Disetujui,

dr.Marlina Dewiastuti.Mkes Prof.dr.Zainal Musthafa SpJP dr. Luh Eka


Purwani.Mkes

Penguji 1 Pembimbing 1 Pembimbing 2

Mengesahkan,

dr. Buddy HW. Utoyo, MARS

Dekan Fakultas Kedokteran UPN “Veteran”

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal ujian : 8 Maret 2012


PENGESAHAN

KETUA PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN

Skripsi diajukan oleh :

Nama : Angga Ahadiyat Nugraha

NRP : 207.311.029

Program Studi : Sarjana kedokteran

Judul skripsi : Hubungan Umur, Jenis Kelamin, Obesitas dengan


Kejadian Penyakit Jantung Hipertensi di Poli Jantung
RSPAD Gatot Soebroto

Telah berhasil dipertahankan di hadapan penguji dan pembimbing serta telah diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran pada program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.

Disetujui,

dr. Anisah, MPdKed

Ketua Program Studi Sarjana Kedokteran

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal ujian : 8 Maret 2012


PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk

Telah saya nyatakan dengan benar

Nama : Angga Ahadiyat Nugraha

NRP : 207.311.029

Tanggal : 8 Maret 2012

Tanda Tangan :
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, saya


yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Angga Ahadiyat Nugraha

NRP : 207.311.029

Fakultas : Kedokteran

Program Studi : Sarjana kedokteran

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Hak Bebas Royalti Noneksklusif
(Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“HUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN, OBESITAS DENGAN KEJADIAN


PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI DI POLI JANTUNG RSPAD GATOT
SOEBROTO

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta berhak menyimpan, mengalih
media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
mempublikasikan Skripsi saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta

Pada tanggal : Maret 2012

Yang menyatakan,

(Angga.Ahadiyat Nugraha)
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat ALLAH SWT karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelsaikan skripsi dengan
judul”HUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN, OBESITAS DENGAN KEJADIAN
PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI DI POLI JANTUNG RSPAD GATOT
SOEBROTO” Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk mencapai gelar Sarjana Kedokteran pada Fakultas Kedokteran Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini sangatlah sulit bagi
penulis untuk menyelsaikan skripsi ini. Sehingga pada kesempatan ini secara khusus
ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Prof. dr.
Zainal Musthafa, SpJP, FIHA dan dr. Luh Eka Purwani.Mkes selaku pembimbing yang
telah memberikan petunjuk, pengarahan dan nasehat yang sangat berharga didalam
penyusunan skripsi ini.

Selanjutnya tidak lupa penulis menyampaikan rasa terima kasih sedalam-


dalamnya kepada :

1. Brigjen TNI (Purn.) dr. Buddy HW Utoyo, MARS, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
2. Bu Romlah selaku Kepala Badan penelitian dan pengembangan RSPAD Gatot
Soebroto
3. Pihak Rumah Sakit yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data
khususnya Bu Rini selaku Kepala Bagian Administrasi dan Rekam Medis serta
Bu Sri yang membantu dalam pengambilan rekam medis pasien
4. Bu Alma selaku Kepala Bagian Administrasi si Poli Jantung RSPAD Gatot
Soebroto yang telah membantu dalam pengambilan nomor rekam medis pasien

5. Orangtua yakni Asmudji HW dan Sri Hidayati serta kaka – kaka saya Wahyu
Hidayat, dan Anggita Wahyudiati yang telah memberikan bantuan dan
dukungan material maupun moril
6. Eka Wulan Sari atas dukungan dan doanya
7. Teman-teman kelompok riset Riana Andardewi, Titu Prafita, Monica Ayudhia,
Randi Prtama, Andi Azwadi Rais terima kasih atas semangat, dukungan dan
kebersamaan dalam menyelsaikan skripsi ini
8. Teman-teman sejawat Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta angkatan
2008 dan semua pihak yang terkait yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Semoga semua pihak yang telah disebutkan diatas mendapat anugrah yang
berlimpah dari ALLAH SWT atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian yang dituangkan di dalam skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian penulis berharap skripsi ini dapat
menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya.

Jakarta, Maret 2012

Angga Ahadiyat Nugraha


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama : Angga Ahadiyat Nugraha

Alamat : BSD blok Uk no 16 sek 1.2

HP : 085718327097

Email : skripsiangga@yahoo.com

Agama : Islam

Tempat/Tgl. Lahir : Pandeglang, 16 september 1989

KELUARGA

Orang tua

Ibu : Sri Hidayati

Bapak : Asmudji HW

Saudara

Kaka : Wahyu Hidayat dan Anggita Wahyudiati

PENDIDIKAN FORMAL

2004 – 2007 Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cisauk

2001 – 2004 Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pandeglang

1995 – 2001 Sekolah Dasar Negri 4 Pandeglang


ABSTRAK

ANGGA.Hubungan umur, jenis kelamin, obesitas dengan Kejadian Penyakit


Jantung Hipertensi di Poli Jantung RSPAD Gatot Soebroto periode 1 Januari 2011
– 28 Februari 2011. Dibimbing oleh prof dr. Zainal Musthafa, SpJp, FIHA dan
dr.Luh Eka Purwani.Mkes

Penyakit jantung hipertensi telah menjadi masalah kesehatan diseluruh


dunia dimana merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat
insiden dan prevalensinya. Hipertensi yang lama merupakan penyebab terjadinya
penyakit ini. Bertambahnya umur, jenis kelamin, dan status gizi yang berlebih
seperti pada obesitas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap
kejadian penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur,
jenis kelamin, obesitas dengan kejadian penyakit jantung hipertensi di Poli
Jantung RSPAD Gatot Soebroto periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Sampel
berjumlah 152 orang yang didapatkan dari rekam medis. Hasil penelitian diuji
dengan uji statistik chi square dengan kemaknaan (a=0,05). Terdapat hubungan
bermakna antara umur dengan kejadian penyakit jantung hipertensi (P<0,05) .
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi (P>0,05) . Tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara obesitas dengan kejadian penyakit jantung hipertensi (P>0,05) . Dari hasil
penelitian diharapkan pencegahan terhadap penyakit jantung hipertensi dapat
dilakukan sedini mungkin.

Kata kunci : Penyakit jantung hipertensi, umur, jenis kelamin, obesitas

Kepustakaan : 22 (1998-2010)
ABSTRACT

ANGGA. the relationship of age,gender,obesity with hypertensive heart disease at


cardiac poly of gatot subroto hospital period 1 January 2011 – 28 February 2011.
Guided by prof dr. ZainaL Musthafa, SpJp,FIHA and dr. Luh Eka Purwani. Mkes

Hypertensive heart disease has become a world wide health problem. Which is
one of the cardiovascular disease that it’s incidence and prevalence is growing.
The long hypertension is cause for this disease. Age,sex, and nutrisional status of
such excess in obesity are factors that influence the incidence of this disease. The
research to determine the relationship of age,gender,obesity with hypertensive
heart disease at cardiac poly of gatot subroto hospital period 1 January 2011 – 28
February 2011. This research is a descriptive analytical study with cross sectional
approach. The sampling methode is purposive sampling. Sample of 152 people
obtained from medical records,. Results were tested by chi square stasistical test
with significant (a=0,05). There was a significant relationship between age with
hypertensive heart disease (P<0,05). There was no significant relationship
between the genders with hypertensive heart disease (P>0,05). There was no
sighficant relationship between obesity and hypertensive heart disease (P>0,05).
From the result of the research expected to take more control of hypertensive
heart disease prevention can be done as early is possible.

Key world : Hypertensive heart disease,age, sex,obesity

Bibliography :22 (1998-2010)


BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Pada tahun 1978 proporsi penyakit jantung hipertensi sekitar
14,3% dan meningkat menjadi sekitar 39% pada tahun 1985 sebagai
penyebab penyakit jantung di Indonesia. Sebanyak 85-90% hipertensi tidak
dapat diketahui penyababnya dan hanya sebagian kecil yang dapat
ditetapkan penyebabnya. (Riaz K, Ahmed A. 2010)
Penyebab penyakit jantung hipertensi adalah tekanan darah tinggi
yang berlangsung kronis, tetapi penyebab tekanan darah tinggi dapat
beragam. Esensial hipertensi menyumbang 90% dari kasus hipertensi pada
orang dewasa, hipertensi sekunder berjumlah 10% dari sisa kasus kronis
hipertensi. Hipertensi tak terkontrol dan berkepanjangan dapat
menyebabkan berbagai perubahan dalam struktur miokard, pembuluh darah
koroner, dan sistem konduksi jantung. Perubahan ini pada gilirannya dapat
menyebabkan perkembangan hipertrofi ventrikel kiri (LVH), penyakit arteri
koroner (CAD), berbagai penyakit sistem konduksi, serta disfungsi sistolik
dan diastolik dari miokardium, yang bermanifestasi klinis sebagai angina
atau infark miokard, aritmia jantung ( terutama fibrilasi atrium), dan gagal
jantung kongestif (CHF). Dengan demikian, penyakit jantung hipertensi
adalah istilah yang diterapkan secara umum untuk penyakit jantung, seperti
LVH, penyakit arteri koroner, aritmia jantung, dan CHF, yang disebabkan
oleh efek langsung atau tidak langsung dari hipertensi. (Diamond JA,
Phillips RA. 2005)
Menurut studi Framingham hampir 1/5 penduduk kulit putih di AS
yang berumur > 18 tahun mempunyai tekanan darah diatas 160/95 mmHg
dan hampir 1/2 dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Insiden
hipertensi pada wanita meningkat diatas umur 50 tahun dan peningkatan ini
berhubungan dengan perubahan pola hormon setelah menopause. Hipertrofi
ventrikel kiri ( Left Ventricle Hypertrophy = LVH) akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas melalui, penyakit jantung koroner, aritmia dan
gagal jantung. Tanpa terapi yang adekuat hipertensi dapat menimbulkan
kematian 50% karena penyakit jantung koroner, 30 – 35% karena stroke dan
10 – 15% karena gagal ginjal. Hipertrofi ventrikel kiri (LVH) ditemukan
pada 50% hipertensi tanpa diterapi yang dideteksi dengan ekokardiografi.
Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan kematian jantung mendadak
hingga lima kali dibandingkan dengan penderita hipertensi tanpa LVH,
sehingga dalam penatalaksanaan hipertensi, program pencegahan LVH
merupakan tujuan utama selain penurunan tekanan darah. LVH
memperburuk sirkulasi koroner karena menurunkan cadangan koroner dan
gangguan perfusi miokard. ( Horrower A. Mc Farlane G. 1998 )
Oleh karena itu masalah penyakit jantung hipertensi ini
mendapatkan perhatian yang sangat serius dari pemerintah yang berusaha
menekan prevalensi penyakit ini dengan berbagai cara, seperti
mengendalikan faktor risiko terhadap penyakit tidak menular yang salah
satunya termasuk hipertensi (DEPKES, 2007). Faktor risiko yang paling
sering menyebabkan penyakit jantung hipertensi antara lain, obesitas,
asupan Na, stress, faktor endotel, dan faktor umur, jenis kelamin yang
merupakan faktor internal yang sulit untuk dicegah (Depkes. 2007).
Penyakit jantung hipertensi dapat menyebabkan penyakit jantung dengan
berbagai macam mekanisme, salah satunya dapat menyebabkan kepayahan
jantung yang berakhir dengan kematian (Carol T. Brown. 2006)
Sebelumnya sudah banyak penelitian tentang penyakit jantung
hipertensi yang dihubungkan dengan berbagai macam faktor risiko. Dadang
Hendrawan, Asmika, Darwatik, 2004. Hubungan Antara Umur dan Jenis
Kelamin dengan Tekanan Darah, Indeks massa tubuh (IMT) dan Kadar
Kolesterol Total pada Penderita Penyakit Jantung Hipertensi Yang Dirawat
di Bagian Ilmu Penyakit Jantung RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode
Januari 2000-Desember 2003. Dengan hasil penelitian bahwa tekanan darah,
indeks massa tubuh (IMT) dan kadar kolesterol total merupakan faktor
risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit jantung hipertensi,
yang nilainya diduga dipengaruhi oleh berbagai karakteristik penderita.
Maka oleh karena itu saya sangat ingin melakukuan penelitian ini
untuk membuktikan apakah ada hubungan yang bermakna atau tidak. Pada
penelitian ini faktor yang ingin diteliti adalah mengetahui ada atau tidaknya
hubungan antara umur, jenis kelamin, obesitas dengan terjadinya penyakit
jantung hipertensi. Peneliti tertarik melakukan penelitian di poli jantung
RSPAD Gatot Subroto dikarenakan rumah sakit tersebut merupakan salah
satu rumah sakit rujukan nasional dan bertipe A.Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya edukasi pasien
hipertensi di layanan kesehatan rujukan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, rumusan masalah pada penelitian ini
adalah :
Apakah terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, obesitas dengan
kejadian penyakit jantung hipertensi di poli jantung RSPAD Gatot Subroto
periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011 ?

1.3. Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Mengetahui distribusi faktor umur, jenis kelamin, obesitas terhadap
penyakit jantung hipertensi di poli jantung RSPAD Gatot Subroto, Jakarta
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi umur dengan angka kejadian penyakit jantung
hipertensi
b. Mengetahui distribusi jenis kelamin dengan angka kejadian penyakit
jantung hipertensi
c. Mengetahui distribusi obesitas dengan angka kejadian penyakit
jantung hipertensi
d. Mengetahui hubungan umur dengan kejadian penyakit jantung
hipertensi dan
e. Mengetahui hubungan jenis kelamin dengan kejadian penyakit
jantung hipertensi
f. Mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian penyakit jantung
hipertensi
I.4. Manfaat Penelitian

Bagi masyarakat dapat mengerti apa saja faktor risiko terjadinya penyakit
jantung hipertensi, sehingga masyarakat dapat melakukan pencegahan dini
terhadap penyakit jantung hipertensi dengan cara mengendalikan faktor-faktor
yang dapat dirubah. Sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi
hipertensi yaitu penyakit jantung hipertensi.
Bagi RSPAD Gatot Subroto diharapkan mendapat bahan tambahan dalam
upaya meningkatkan upaya promosi kesehatan yang dapat menurunkan
kejadian penyakit jantung hipertensi di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Bagi ilmu pengetahuan diharapkan dapat menambah data tentang hubungan
faktor risiko dengan terjadinya penyakit jantung hipertensi.
Bagi penulis manfaat penelitian ini sebagai sarana pembelajaran untuk
membuat karya ilmiah yang dapat digunakan sebagaimana semestinya,
sekaligus sebagai bahan untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih
tinggi lagi.
BAB II

LANDASAN TEORI

II.1. Tinjauan Pustaka


1. Penyakit jantung hipertensi

Definisi
Hypertensive heart disease (HHD) adalah penyakit komplikasi
jantung istilah yang diterapkan untuk menyebutkan penyakit jantung
secara keseluruhan, mulai dari left ventricle
hyperthrophy (LVH) atau hipertrofi ventrikel kiri (HVK), aritmia jantung,
penyakit jantung koroner, dan penyakit jantung kronis, yang disebabkan
kerana peningkatan tekanan darah, baik secara langsung maupun tidak
langsung. ( Braverman, E.R. 2009 )

Hipertrofi ventrikel kiri


Hipertrofi ventrikel kiri didefinisikan sebagai suatu penambahan
massa pada ventrikel kiri, sebagai respon miosit terhadap berbagai
rangsangan yang menyertai peningkatan tekanan darah. Hipertrofi miosit
dapat terjadi sebagai kompensasi terhadap peningkatan afterload.
Rangsangan mekanik dan neurohormonal yang menyertai hipertensi dapat
menyebabkan aktivasi pertumbuhan sel-sel otot jantung, ekspresi gen
(beberapa gen diberi ekspresi secara primer dalam perkembangan miosit
janin), dan hipertrofi ventrikel kiri. Sebagai tambahan, aktivasi sistem
renin-angiotensin melalui aksi angiotensin II pada reseptor angiotensin I
mendorong pertumbuhan sel-sel interstisial dan komponen matrik sel.
Jadi, perkembangan HVK dipengaruhi oleh hipertrofi miosit dan
ketidakseimbangan antara miosit dan struktur interstisium skeleton cordis.
( Braverman, E.R. 2009 )
Berbagai jenis pola hipertrofi ventrikel kiri telah dijelaskan,
termasuk remodelling konsentrik, hipertrofi ventrikel kiri konsentrik, dan
hipertrofi ventrikel kiri eksentrik. Hipertrofi ventrikel kiri konsentrik
adalah peningkatan pada ketebalan dan massa ventrikel kiri disertai
peningkatan tekanan dan volume diastolik ventrikel kiri, umumnya
ditemukan pada pasien dengan hipertensi. Bandingkan dengan hipertrofi
ventrikel kiri eksentrik, di mana penebalan ventrikel kiri tidak merata
namun hanya terjadi pada sisi tertentu, misalnya pada septum. Hipertrofi
ventrikel kiri konsentrik merupakan pertanda prognosis yang buruk pada
kasus hiperetensi. Pada awalnya proses hipertrofi ventrikel kiri merupakan
kompensasi perlindungan sebagai respon terhadap peningkatan tekanan
dinding ventrikel untuk mempertahankan cardiac output yang adekuat,
namun hipertrofi ventrikel kiri kemudian mendorong terjadinya disfungsi
diastolik otot jantung, dan akhirnya menyebabkan disfungsi sistolik otot
jantung.( Braverman, E.R. 2009 )

Etiologi
Tekanan darah tinggi meningkatkan beban kerja jantung, dan
seiring dengan berjalannya waktu hal ini dapat menyebabkan penebalan
otot jantung. Karena jantung memompa darah melawan tekanan yang
meningkat pada pembuluh darah yang meningkat, ventrikel kiri membesar
dan jumlah darah yang dipompa jantung setiap menitnya (cardiac output)
berkurang. Tanpa terapi, gejala gagal jantung akan makin terlihat. (
Braverman, E.R. 2009 )
Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko utama bagi penyakit
jantung dan stroke. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan penyakit
jantung iskemik ( menurunnya suplai darah untuk otot jantung sehingga
menyebabkan nyeri dada atau angina dan serangan jantung) dari
peningkatan suplai oksigen yang dibutuhkan oleh otot jantung yang
menebal.
Tekanan darah tinggi juga berpenaruh terhadap penebalan dinding
pembuluh darah yang akan mendorong terjadinya aterosklerosis
(peningkatan kolesterol yang akan terakumulasi pada dinding pembuluh
darah). Hal ini juga meningkatkan risiko seangan jantung dan stroke.
Penyakit jantung hipertensi adalah penyebab utama penyakit dan kematian
akibat hipertensi. ( Ali, W. 1996 )

Patofisiologi
Peningkatan tekanan darah secara sistemik meningkatkan resistensi
terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, sehingga beban jantung
bertambah. Sebagai akibatnya terjadi hipertrofi ventrikel kiri untuk
meningkatkan kontraksi. Hipertrofi ini ditandai dengan ketebalan dinding
yang bertambah, fungsi ruang yang memburuk, dan dilatasi ruang jantung.
Akan tetapi kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung
dengan hipertrofi kompensasi akhirnya terlampaui dan terjadi dilatasi dan
payah jantung. Jantung semakin terancam seiring parahnya aterosklerosis
koroner. Angina pectoris juga dapat terjadi kerana gabungan penyakit
arterial koroner yang cepat dan kebutuhan oksigen miokard yang
bertambah akibat penambahan massa miokard. ( Peter L. 2004 )

Gambaran radiologis
Keadaan awal batas kiri bawah jantung menjadi bulat kerana
hipertrofi konsentrik ventrikel kiri. Pada keadaan lanjut, apeks jantung
membesar ke kiri dan bawah. Aortic knob membesar dan menonjol disertai
klasifikasi. Aorta ascenden dan descenden melebar dan berkelok (
pemanjangan aorta/elongasio aorta) ( Peter L. 2004 )

Gambaran klinik
Pada stadium dini hipertensi, tampak tanda-tanda akibat rangsangan
simpatis yang kronis. Jantung berdenyut cepat dan kuat. Terjadi
hipersirkulasi yang mungkin sebagai akibat aktivitas neurohormonal yang
meningkat disertai dengan hipervolemia. Pada stadium selanjutnya, timbul
mekanisme kompensasi pada otot jantung berupa hipertorfi ventrikel kiri
yang difus, tahanan pembuluh darah perifer meningkat.
Gambaran klinik seperti sesak napas, salah satu dari gejala gangguan
fungsi diastolik, tekanan pengisisan ventrikel meningkat, walaupun fungsi
sistolik masih normal. Bila berkembang terus, terjadi hipertrofi yang
eksentrik dan akhirnya menjadi dilatasi ventrikel, dan timbul gejala payah
jantung. Stadium ini kadangkala disertai dengan gangguan pada factor
koroner. Adanya gangguan sirkulasi pada cadangan aliran darah koroner
akan memperburuk kelainan fungsi mekanik/ pompa jantung yang selektif.
( Peter L. 2004 )
Diagnosa
Diagnosa penyakit jantung hipertensi didasarkan pada
riwayat,pengkuran tekanan darah, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan
laboratorium. Pemeriksaan awal pasien hipertensif harus menyertakan
riwayat lengkap dan pemeriksaan fisis untuk mengkonfirmasi diagnosis
hipertensi, menyaring faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular lain,
menyaring penyebab-penyebab sekunder hipertensi, mengidentifikasi
konsekuensi kardiovaskular hipertensi dan komorbiditas lain, memeriksa
gaya hidup terkait-tekanan darah, dan menentukan potensi intervensi.
Pengukuran tekanan darah yang terpercaya tergantung pada perhatian
terhadap detail mengenai tekhnik dan kondisi pengukuran. Karena
peraturan terkini yang melarang penggunaan merkuri karena perhatian
mengenai toksisitas potensialnya, sebagian besar pengukuran dibuat
menggunakan instrumen aneroid. Akurasi instrumen pengukur tekanan
darah terotomatisasi harus dikonfirmasi. Pada pemeriksaan fisis, Habitus
tubuh, seperti tinggi dan berat badan, harus dicatat. Pada pemeriksaan
awal, tekanan harus diukur pada kedua lengan, dan lebih baik pada posisi
terlentang, duduk dan berdiri untuk mengevaluasi keberadaan hipotensi
postural. Pada pemeriksaan laboratorium meliputi Urinalisis mikroskopik,
ekskresi albumin, BUN atau kreatinin serum, Natrium, kalium, kalsium,
dan TSH serum, Hematokrit, elektrokardiogram, Glukosa darah puasa,
kolesterol total, HDL dan LDL, trigliserida. ( Peter L. 2004 )

Diagnosa Banding

Aterosklerosis Arteri Koroner

Permasalahan lain yang dapat diperkirakan:

• Kardiomiopati hipertrofi
• Jantung atlet
• CHF karena penyebab lainnya
• Fibrilasi atrium karena penyebab lainnya
• Disfungsi diastolik karena penyebab lainnya
Prognosis
Risiko komplikasi tergantung pada seberapa besar hipertrofi
ventrikel kiri. Semakin besar ventrikel kiri, semakin besar kemungkinan
kompilkasi terjadi. Pengobatan hipertensi dapat mengurangi kerusakan
pada ventrikel kiri. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa obat-
obatan tertentu seperti ACE-Inhibitor, Beta-blocker, dan diuretik
spinorolakton dapat mengatasi hipertropi ventrikel kiri dan
memperpanjang kemungkinan hidup pasien dengan gagal jantung akibat
penyakit jantung hipertensi. Bagaimanapun juga, penyakit jantung
hipertensi adalah penyakit yang serius yang memiliki risiko kematian
mendadak.( Peter L. 2004 )

Penatalaksanaan
Pengobatan pasien dengan penyakit jantung hipertensi terbagi
dalam dua kategori pengobatan dan pencegahan tekanan darah yang tinggi
dan pengobatan penyakit jantung hipertensi. Tekanan darah ideal adalah
kurang dari 140/90 pada pasien tanpa penyakit diabetes dan penyakit
ginjal kronik dan kurang dari 130/90 pada pasien dengan penyakit diatas
jantung hipertensi.

Berbagai macam strategi pengobatan penyakit jantung hipertensi:

· Pengaturan diet,

· Olahraga teratur,

· Penurunan berat badan, dan

· Obat-obatan untuk hipertensi, gagal jantung sekunder karena


disfungsi diastolik dan sistolik, coronary artery disease, dan aritmia.

• Pengaturan diet
Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan
atau dengan obat-obatan yang menurunkan tekanan darah dapat
menurunkan gejala gagal jantung dan dapat memperbaiki keadaan LVH.
Beberapa diet yang dianjurkan:
1. Rendah garam, beberapa studi mennjukkan bahwa diet rendah garam
dapat menurunkan tekanan darah pad pasien dengan hipertensi.
Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi
sistem renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti
hipertensi. Jumlah intake sodium yang dianjurkan 50-100 mmol atau
setara dengan 3-6 gram garam per hari.
2. Diet tinggi potassium, dapat menurunkan tekanan darah tapi
mekanismenya belum jelas. Pemberian potassium secara intravena
dapat menyebabkan vasodilatasi, yang dipercaya di mediasi oleh
nitric oxide pada dinding vaskular.

3. Diet kaya buah dan sayur mayur.


4. Diet rendah kolesterol, sebagai pencegah terjadinya penyakit jantung
koroner.
5. Tidak mengkonsumsi alkohol
• Olahraga teratur
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda
bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan dapat
memperbaiki keadaan jantung. Olaharaga isotonik dapat juga dapat
meningkatkan fungsi endotel, vasodilatasi perifer, dan mengurangi
katekolamin plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-
4 kali dalam satu minggu sangat dinjurkan untuk menurunkan
tekanan darah.
• Penurunan berat badan
Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan
dengan kejadian hipertensi dan LVH. Jadi penurunan berat badan
adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah.
Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat dianjurkan.
Penrunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu
menjadi perhatian khusus arena umumnya obat penurun berat
badan yang terjual bebas mengandung simpatomimetik,sehingga
dapat memningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau
gejala gagal jantung dan terjainya eksaserbasi aritmia.
Menghindari obat-obatan seperti NSAIDs, simpatomimetik, dan
MAO yang dapat meningkatkan tekanan darah atau
menggunakannya dengan obat antihipertesni. ( Djohan T.B.A.
2004 )

• Farmakoterapi
Pengobatan hipertensi atau penyakit jantung hipertensi dapat
menggunakan berbagai kelompok obat antihipertensi: thiazide,
beta-blocker dan kombinasi alpha dan beta blocker, calcium
channel blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker dan
vasodilator seperti hydralazine. Hampir pada semua pasien
memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai
tekanan darah yang diinginkan.

• Penanganan LVH
LVH, tanda dari peningkatan risiko morbiditi dan mortalitas
kardiovaskuler dan harus ditatalaksana secara agresif. Walaupun
regeresi LVH belum secara jelas dapat menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas tapi beberapa data dapat mendukung
hipotesis ini. Obat-obatan yang digunakan untuk menatalaksana
LVH adalah sama seperti penanganan hipertensi.
• Penanganan disfungsi diastolik LV
Beberapa golongan antihipertensi ACE inhibitor, beta-
blocker, dan nondihydropyridine calcium channel blockers telah
membuktikan dapat memperbaiki parameter ekokardiographi pada
simptomatik dan asimptomatik disfungsi diastolik dan gejala gagal
jantung. ( Djohan T.B.A. 2004 )
Gambaran klinik seperti sesak nafas, salah satu dari gejala
gangguan fungsi diastolik, tekanan pengisian ventrikel meningkat ,
walaupun fungsi sistolik masih normal. Bila berkembang terus, terjadi
hipertrofi yang eksentrik dan akhirnya menjadi dilatasi ventrikel, dan
timbul gejala payah jantung. Stadium ini seringkali disertai dengan
gangguan sirkulasi pada cadangan aliran darah koroner akan
memperburuk kelainan fungsi mekanik/pompa jantung yang selektif
(Arjatmo T, Hendra U. 2004)
Pemeriksaan penunjang untuk komplikasi hipertensi yang
menyebabkan penyakit jantung dapat digunakan pemeriksaan
radiologi, laboratorium, elektrokardiogram dan ekokardiografi. Pada
pemeriksaan radiologi rontgen posisi postero-anterior terlihat
pembesaran jantung ke kiri, elongasi aorta pada hipertensi yang
kronis dan tanda-tanda bendungan pembuluh paru pada stadium
payah jantung hipertensi. Pemeriksaan laboratorium darah rutin yang
diperlukan adalah hematokrit, ureum dan kreatinin, untuk menilai
fungsi ginjal. Selain itu juga elektrolit untuk melihat kemungkinan
adanya kelainan hormonal aldosteron. Pemeriksaan penunjang
elektrokardiogram dan ekokardiografi akan memberikan gambaran
hipertrofi ventrikel kiri. ( Arjatmo T, Hendra.U. 2004 )
Penyebab hipertrofi ventrikel kiri antara lain hipertensi,
penyakit katup aorta, isufisiensi katup mitral, penyakit jantung
koroner yang lama, hipertrofi karena kelainan nutrisi, penyakit
jantung bawaan. Keadaan ini juga dapat terjadi pada orang normal
yang melakukan latihan berat, antara lain atlet dan pelari maraton.
Kriteria EKG yang menunjukan hipertrofi ventrikel kiri, sekaligus
sebagai diagnosa untuk penyakit jantung hipertensi adalah :

1) Sadapan prekordial
a. Tinggi gelombang R di V5 atau V6 > 27 mm. Dalamnya
gelombang S di V1 + tinggi gelombang R di V5 atau V6 > 35
mm.
b. Depresi segmen ST dan inversi gelombang T asimetris di V5
dan V6 (Ventricular Strain)
2) Sadapan ekstremitas

a. Jantung horizontal tinggi gelombang R di aVL > 11 mm


b. Jantung ventrikal: tinggi gelombang R di aVF > 20 mm.
Keadaan ini memiliki nilai diagnostik yang rendah karena
hasil ini dapat juga terjadi pada hipertrofi ventrikel kanan. (
Dharma.S. 2009 )
Gambaran atau kriteria ECHO untuk pasien penyakit jantung
hipertensi dan dapat membedakan tipe pembesaran ventrikel kiri
konsentrik, eksentrik atau ireguler adalah : Pengukuran dimensi
internal ventrikel kiri ( Left Ventricle Internal Dimension, LVID),
tebal septum interventrikuler ( interventicular Septal Wall Thickness,
SWT) dan tebal dinding posterior ( Posterior Wall Thickness, PWT)
diperoleh dari diagram M-mode yang diambil dari posisi mid
ventricular short-axis view pada sela iga IV dan V di parasternalis
kiri. LVIDd diambil antara sisi kiri septum interventrikuler dan
endokardium posterior ventrikel kiri pada akhir diastolis. Sesuai
metode Devereux didapatkan rumus pengukuran Left Vntricle Mass
Index/ LVMI ( g/m2) sebagai Berikut:
LVMI = (1,04 [ (SWT + PWT+LVID)3 – (LVID)3] – 14)/BSA
BSA = Body surface area ( luas permukaan tubuh), didapat dengan
rumus:
BSA= (0,0001) (71,84) (Wt 0,425 xHt 0,725 ).
Wt = Berat badan dalam kg, Ht = tinggi badan dalam cm (standar
Dubois). Dikategorikan LVH kalau LVMI >108 g/m2 untuk wanita
dan LVMI >131 g/m2 untuk pria (Efendi, 2003). Sedangkan menurut
Kim et al. (2008), dikatakan HVK bila LVMI > 95 g/ m2 pada wanita
dan > 115 g/m2 pada pria. ( Efendi 2003 ), klasifikasi lebih jauh dari
HVK berdasarkan tebal relatif dinding otot jantung ( RWT = Relative
wall thickness) sesuai dengan criteria American Society
ofEchocardiography dibedakan atas hipertrofi konsentrik jika RWT
lebih dari 0,45 dan hipertrofi eksentrik jika RWT kurang dari 0,45.
RWT diperoleh dari rumus berikut :
RWT = [ (2xPWT)/LVIDd ]

2. Pengaruh Obesitas Terhadap Penyakit Jantung Hipertensi


Obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadinya kelebihan
berat badan yang sangat berlebih. Obesitas ini dapat menjadi faktor
risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular. Untuk menentukan
seseorang mengalami obesitas atau tidak dapat digunakan pengukuran
antropometri atau yang paling mudah dengan menggunakan IMT (
Indeks Massa Tubuh ).
Tabel 1. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan IMT (WHO)
Klasifikasi IMT (kg/m²)
Kurang : <18,50
- Ringan 17,00-18,49
- Sedang 16,00-16,99
- Berat
<16.00
Normal 18,50-24,99
Lebih ; ≥25,00
- Praobesitas 25,00-29,99
- Obesitas ≥30,00
 Obesitas 1 30,00-34,99
 Obesitas II 35,00-39,99
 Obesitas III ≥40,00

Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang


utama, dimana obesitas merupakan faktor risiko terhadap penyakit
jantung hipertensi. Hipertensi dijumpai pada 10-15% populasi berumur
> 18 tahun baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang.
Penelitian the National Health and Nutrition Examination Survey di
Amerika serikat mendapatkan 31% penduduk mengalami obesitas.
Sekitar 30% penderita penyakit jantung hipertensi tergolong obesitas. (
Bustan MN. 2007 )
Profil hemodinamik subjek obesitas ditandai dengan
peningkatan volume intravascular, peningkatan curah jantung dengan
resistensi perifer yang relatif normal. Pada penderita hipertensi non-
obesitas perubahan hemodinamik yang terjadi adalah peningkatan
resistensi perifer, volume intravascular yang menurun dengan curah
jantung yang meningkat pada awal hipertensi yang selanjutnya
kembali ke normal atau menurun pada hipertensi yang sudah
berlangsung lama. Pada subjek obesitas dengan hipertensi, profil
hemodinamiknya adalah kombinasi kedua karakteristik di atas berupa
peningkatan curah jantung, peningkatan volume intravaskular dan
peningkatan perifer yang pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit
jantung hipertensi. ( Arjatmo T, Hendra U. 2001).

3. Pengaruh Umur dan Jenis Kelamin Terhadap Penyakit Jantung


Hipertensi

Umur dan jenis kelamin merupakan faktor yang berpengaruh


terhadap terjadinya penyakit jantung hipertensi, yang jika terus
menerus dibiarkan akan mengakibatkan terganggunya kerja jantung.
Pada umumnya tekanan darah akan naik dengan bertambahnya umur
terutama setelah umur 40 tahun. Prevalensi hipertensi di Indonesia
pada golongan umur dibawah 40 tahun masih berada kurang dari 10%,
tetapi di atas 50 tahun angka tersebut terus meningkat mencapai 20-
30%, sehingga sudah menjadi masalah yang serius untuk diperhatikan.
Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar, seperti Jakarta, Padang,
Bandung, Yogya, dan Makasar terhadap umur lanjut didapatkan
prevalensi penyakit jantung hipertensi sebesar 52,5% (Kamso, 2000).
Dengan bertambahnya umur akan menurunkan kemampuan elastisitas
pembuluh darah yang penting dalam menjaga hemodinamik tekanan
darah dalam tubuh. (Kamso. 2000)
Pria lebih banyak yang menderita penyakit jantung hipertensi
dibandingkan dengan wanita dengan rasio sekitar 2,29 untuk
peningkatan tekanan darah sistolik dan 3,76 untuk kenaikan darah
diastolik. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat
meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun,
setelah memasuki menopause, prevalensi penyakit jantung hipertensi
pada wanita meningkat. Bahkan setelah umur 65 tahun terjadinya
penyakit jantung hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan
dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal. (Kamso. 2000)
II.2. Kerangka Teori
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan pada bab
sebelumnya, dapat dibuat kerangka teori sesuai dengan variabel yang akan
diamati dalam penelitian ini, seperti yang terlihat dalam skema berikut :

Degenerasi sel2
jantung
umur

Penurunan
elastisitas vaskular

Jenis kelamin
Hipertensi
Kerja jantung terus
meningkat
memompa darah,
menimbulkan
obesitas penyakit jantung
Beban kerja hipertensi
jantung meningkat

Faktor risiko lain :


DM, meroko,
genetik

Bagan.1. Kerangka teori


II.3. Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat

Umur

Jenis Kelamin Penyakit Jantung Hipertensi

Obesitas

Merokok

DM

Genetik

Riwayat
Hipertensi

Bagan.2. Kerangka konsep

Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti

II.4. Hipotesis Penelitian


1. Terdapat hubungan antara umur dan penyakit jantung hipertensi
2. Terdapat hubungan antara obesitas dan penyakit jantung hipertensi
3. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dan penyakit jantung
hipertensi
II.5. Penelitian Sebelumnya
Dadang Hendrawan, Asmika, Darwatik, 2004. Hubungan Antara Umur
dan Jenis Kelamin dengan Tekanan Darah, Indeks massa tubuh (IMT) dan
Kadar Kolesterol Total pada Penderita Penyakit Jantung Hipertensi Yang
Dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Jantung RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Periode Januari 2000-Desember 2003.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada penderita penyakit
jantung hipertensi didapatkan tekanan darah laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan dan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya umur. Indeks
massa tubuh (IMT) perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dan
mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur. Tidak
didapatkan perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kadar
kolesterol total dan antara umur dengan kadar kolesterol total.
Saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang faktor risiko penyakit jantung hipertensi pada sampel yang lebih
besar sehingga lebih sempurna.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Jenis Penelitian


Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif analitik dimana peneliti
akan mencari prevalensi setiap variabel kemudian mencari hubungan antar
variabel. Desain penelitian secara cross sectional atau uji potong lintang yakni
dengan cara melihat dan mencatat kembali data dari catatan rekam medik
untuk mengetahui hubungan antara umur, jenis kelamin, obesitas dengan
penyakit jantung hipertensi di poli jantung RSPAD Gatot Subroto periode 1
januari 2011 – 28 Februari 2011 (Sastroasmoro S, Ismael S. 2008)

III.2. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di poli jantung RSPAD Gatot Subroto, Jakarta
pada bulan November 2011 sampai bulan Januari 2012

III.3. Subjek Penelitian


Subjek penelitian ini adalah semua pasien poli jantung di RSPAD Gatot
Subroto Jakarta, yang memiliki rekam medis, dan yang memenuhi kriteria
inklusi.
1. Populasi penelitian
Populasi penelitian adalah pasien di poli jantung RSPAD Gatot Subroto
periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011 sebanyak 250
2. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini ditentukan dengan melihat tabel Krejcie, didapatkan
jumlah sampel 152. Dari jumlah sampel 152, yang menderita penyakit
jantung hipertensi sebanyak 38 orang, dan sisanya merupakan pasien poli
jantung yang bukan menderita penyakit jantung hipertensi

III.4. Teknik Sampling

Teknik sampling dalam penelitian ini dilakukan dilakukan dengan cara


pengambilan Purposive Sampling. Artinya sampel diambil berdasarkan
pertimbangan tertentu oleh peneliti. (Sopiyudin M. 2008)
1. Kriteria Inklusi
Semua pasien di poli jantung RSPAD Gatot Soebroto yang didiagnosis
penyakit jantung hipertensi dan memiliki catatan rekam medik lengkap
periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011, yang didalamnya mencakup
variabel penelitian, yaitu :
1. Umur pasien
2. Jenis kelamin
3. Status gizi
4. Hasil pengukuran tekanan darah yang menunjukan hipertensi
5. Hasil pemeriksaan EKG yang menunjukan pembesaran ventrikel kiri

2. Kriteria Eksklusi
Pasien poli jantung RSPAD periode 1 Januari 2011 - 28 Februari 2011
yang tidak memiliki catatan rekam medik lengkap yang sesuai dengan
kriteria inklusi dan hasil pemeriksaan EKG, serta pasien poli jantung yang
menderita penyakit lain selain penyakit jantung hipertensi.
III.5. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, yaitu mencari
hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel terikat
(Sastroasmoro S, Ismael S. 2008)
III.6. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas adalah variabel yang bila berubah akan mengakibatkan
perubahan variabel lain. Variabel terikat adalah variabel yang berubah akibat
perubahan variabel bebas. (Sastroasmoro S, Ismael S. 2008)

umur
jenis kelamin Penyakit Jantung
obesitas Hipertensi

Variabel bebas Variabel terikat


Bagan.3. Identifikasi variabel penelitian
III.7. Definisi Operasional
Berdasarkan kerangka konsep yang telah dikemukakan, dapat disusun
definisi operasional. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :

variabel Cara ukur Alat ukur Hasil ukur skala


1 2 3 4 5
Variabel Bebas (independen)
Umur Melihat Rekam medis 1. 15 – 49 tahun Ordinal
status pasien 2. ≥50 tahun
pasien (WHO)
Jenis Melihat Rekam medis 1. laki-laki Nominal
kelamin status pasien 2. perempuan
pasien
Obesitas Melihat Rekam medis 1. Obesitas (IMT Ordinal
status pasien. >25,0)
pasien Setelah 2. Tidak obesitas
mengetahui (IMT≤25,0) (WHO)
BB dan TB
melalui rekam
medis pasien
maka diukur
menggunakan
rumus IMT =
( ( BB dlm Kg
) / (Tb dlm
Meter) )²
(WHO)
Variabel Terikat (dependen)
Penyakit Melihat Rekam medis 1.Penyakit Ordinal
jantung status pasien. jantung
hipertensi pasien Dengan hipertensi
melihat
tekanan darah
yang
tercantum,
dan hasil 2.Bukan penyakit
EKG rekam jantung
medis.( hipertensi
Arjatmo T,
Hendra U.
2001). Hasil
EKG pada
pasien jantung
hipertensi
akan
menunjukan
adanya
pembesaran
ventrikel kiri
dengan
kriteria :
tinggi
gelombang R
di aVL
>11mm atau
tinggi
gelombang R
di V5 atau V6
>27 mm atau
dalamnya
gelombang S
di V1 + tinggi
gelombang R
di V5 atau V6
>35 mm. (
Dharma.S.
2010 ).
III.8. Instrumen Penelitian
Instrumen data untuk penelitian ini merupakan data sekunder yang
dikumpulkan atau didapatkan dengan cara mengajukan surat permohonon ke
pihak kampus yang kemudian dilanjutkan ke BALITBANG RSPAD Gatot
Subroto untuk mendapatkan izin pengambilan data sekunder berupa rekam
medis yang telah terdiagnosa penyakit jantung hipertensi. Seluruh data yang
dibutuhkan ada dalam rekam medis berupa BB, TB, umur, dan jenis kelamin.
Pengambilan data sekunder dilakukan secara langsung oleh peneliti.
III.9. Protokol Penelitian

Identifikasi + Perumusan Masalah

Perumusan Hipotesis

Identifikasi Variabel Penelitian

Penetapan Subjek dan Rancangan penelitian (Instrumentasi)

Pengambilan data

Hasil (Kesimpulan)

Bagan.4. Protokol penelitian


III.10. Analisis data

Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan program


pengolahan data statistik. Analisis data adalah tahapan untuk mengolah data
menjadi bentuk yang dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti
dengan menggunakan metode statistik. Setelah dapat memberikan informasi
baru kita dapat membandingkan dengan teori yang ada.

1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat penyajian distribusi frekuensi
dari analisis distribusi variabel dependen dan variabel independen.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dengan variabel dependen. Dalam penelitian ini dilakukan
analisis data menggunakan uji Chi-square.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

IV.1. Gambaran Umum RSPAD Gatot Soebroto

Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto


beralamat di Jln. Dr. Abdul Rahman Saleh No. 24, Jakarta Pusat.
Dahulu RSPAD Gatot Soebroto DITKESAD merupakan rumah
sakit tentara belanda, dikenal dengan groot militare hospital welterveden.
Kemudian pada tanggal 8 maret 1942 pernah menjadi rumah sakit militer
angkatan darat Jepang dengan nama rikugun byoin. Sejak kemerdekaan 17
ahustus 1945 dikuasai oleh tentara KNIL dan namanya diubah menjadi
militaire geneeskundige diesnt.
Pada tanggal 26 juli 1950 diserahkan kepada Djawatan Kesehatan
Angkatan Darat menjadi rumah sakit tentara pusat. Momentum bersejarah
ini selanjutnya diperingati sebagai hari jadi RSPAD Gatot Soebroto.
Mengingat jasa-jasa Letnan Jendral Gatot Soebroto yang memberikan
segala-galanya bagi RSPAD agar menjadi kebanggaan prajurit dan upaya
meningkatkan kesejahtraan prajuritangkatan darat maka dipakailah nama
Gatot Soebroto dibelakang rumah sakit ini.
Keberadaan pemeriksaan diagnostik mutakir serta keasrian
bangunan dan pelayanan terhadap kesehatan begitu tinggi maka sejak
1977. RSPAD Gatot Soebroto DITKESAD ditunjuk menjadi salah satu
tempat pemeriksaan dan perawatan pejabat tinggi sampai sekarang.
Mengingat peran serta rumah sakit terhadap pelayanan kesehatan
masyarakat maka sejak tahun 1989, RSPAD Gatot Soebroto mulai
membuka diri untuk pelayanan swasta sampai sekarang, dikenal sebagai
pavilion Dr. R. Darmawan untuk rawat inap swasta. Kemudian tahun
1991 didirikan bangunan 6 lantai di pavilion kartika untuk rawat jalan dan
rawat inap. Selanjutnya diresmikan pavilion dr. Imam Sudjudi melayani
kesehatan ibu dan bayi, pavilion anak untuk perawatan anak serta non
pavilion untuk perawatan kelas tiga.
Saat ini, pelayanan kesehatan dilayani dokter spesialis dan sub
spesialis dengan di dukung pelayanan unggulan serta alat yang canggih
dalam menunjang tindakan diagnostik dan medis.

A. Visi
RSPAD Gatot Soebroto menjadi rumah sakit kebanggaan prajurit dan
kebanggaan masyarakat.
B. Misi
Umum :
Ikut serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, menyeluruh dan
terjangkau bagi masyarakat umum.
Khusus :
mendukung tugas pokok TNI AD dengan menyelenggarakan dan
melaksanakan pelayanan kesehatan bagi prajurit dan PNS TNI AD serta
keluarganya dan memberikan dukungan kesehatan, serta
menyelenggarakan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan di
bidang kesehatan.

IV.2. Hasil Penelitian

1. Gambaran umum Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah pasien penyakit jantung hipertensi yang


berobat di RSPAD Gatot Soebroto periode 1 Januari 2011 – 28 Februari
2011. Data diperoleh dari rekam medik dimana sebelumnya dilakukan
pencocokan nomor rekam medik pasien yang tercatat di bagian jantung
RSPAD Gatot Soebroto kemudian dilakukan pencarian nomor rekam
medik sesuai dengan nomor rekam medik yang telah didapatkan
sebelumnya.
Setelah dilakukan pencarian nomor rekam medik ditemukan jumlah
sampel berdasarkan kriteria pembatas atau kriteria eklusi yang digunakan
dalam penelitian ini. Setelah dihitung jumlah sampel didapat sesuai
dengan periode berobat pasien maka jumlah sampel penelitian ini
berjumlah 38 orang yang menderita penyakit jantung hipertensi dan 114
orang yang berobat di poli jantung tapi tidak menderita penyakit jantung
hipertensi, dimana jumlah tersebut merupakan akumulasi jumlah sampel
dari periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011. Sampel didapatkan
melalui pemilihan secara Purposive sampling artinya, sampel diambil
berdasarkan pertimbangan tertentu peneliti.

Tabel 2. Distribusi kejadian penyakit jantung hipertensi


Periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011

Penyakit Jantung Hipertensi n %


ya 38 25,0
Tidak 114 75,0
TOTAL 152 100,0

2. Hasil Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Subyek Penelitian


karakteristik umur, jenis kelamin, dan obesitas
A. Umur

Tabel.3. Distribusi umur pasien poli jantung RSPAD


Periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011

Umur n %

15 – 49 tahun 29 19,1%
>50 tahun 123 80,9%
TOTAL 152 100,0

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa dari jumlah 152 orang dalam
penelitian ini, pada kelompok umur 15 – 49 tahun terdapat 29
orang ( 19,1% ), >50 tahun sebanyak 123 orang (80,9%)
B. Jenis Kelamin

Tabel.4. Distribusi jenis kelamin pasien poli jantung RSPAD


Periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011

Jenis Kelamin n %
Laki-laki 62 40,8%
Perempuan 90 59,2%
TOTAL 152 100,0

Pada Tabel 5 dapat dilihat kelompok jenis kelamin laki-laki


berjumlah 62 orang ( 40,8% ) dan pada kelompok berjenis kelamin
perempuan berjumlah 90 orang ( 59,2% ).

C. Obesitas

Tabel.5. Distribusi obesitas pasien poli jantung RSPAD


Periode 1 Januari 2011 – 28 Februari 2011

Obesitas n %
Ya 79 52,0%
Tidak 73 48,0%

TOTAL 152 100,0

Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa pasien dengan obesitas


lebih dominan dengan jumlah 79 orang (52%), sedangkan yang tidak
obesitas berjumlah 73 orang (48,%).

3. Hasil Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua


variabel untuk membuktikan hipotesis penelitian. Analisis bivariat digunakan
untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Untuk
itu dilakukan analisis bivariat dengan uji statistik chi-square dengan tingkat
kemaknaan 5% (α=0,05)

A. Hubungan antara umur dengan penyakit jantung hipertensi

Berikut ini adalah hasil analisis bivariat antara umur dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi. Disini dibagi menjadi dua kelompok antara
umur 15-49 tahun dengan umur >50 tahun.

Tabel 6. Hubungan Umur dan penyakit jantung hipertensi

Kategori umur Penyakit jantung hipertensi total p


Value
YA TIDAK
n % n % n % 0,006
15-49 tahun 13 44,8 16 55,2 29 100
>50 tahun 25 20,3 98 79,7 123 100
Total 38 114 152 100

Hasil pengolahan data dengan menggunakan chi square dengan p value


0,006 dimana p<0,05 menunjukan bahwa Ho ditolak, artinya terdapat
hubungan yang bermakna antara umur dengan penyakit jantung hipertensi.

B. Hubungan jenis kelamin dengan penyakit jantung hipertensi

Jenis kelamin laki-laki didapatkan jumlah 13 orang (21,0%) yang


menderita penyakit jantung hipertensi, 49 orang (79,0%) tidak menderita
penyakit jantung hipertensi. Untuk jenis kelamin perempuan didapatkan
jumlah 25 orang (27,8%) yang menderita penyakit jantung hipertensi, 65
orang (72,2%) tidak menderita penyakit jantung hipertensi.
Tabel 7. Hubungan jenis kelamin dan penyakit jantung hipertensi

Jenis kelamin Penyakit jantung hipertensi total p


Value
YA TIDAK
n % n % n % 0,341
laki-laki 13 21,0 49 79,0 62 100
perempuan 25 27,8 65 72,2 90 100
Total 38 114 152 100
Hasil pengolahan dengan menggunakan uji chi-square didapatkan nilai
p value 0,341 dimana p<0,05 menunjukan bahwa Ho diterima, artinya tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi.

C. Hubungan antara obesitas dengan penyakit jantung hipertensi

Didapatkan 19 orang (24,1%) obesitas menderita penyakit jantung


hipertensi, 19 orang (26,0%) tidak mengalami obesitas tapi menderita
penyakit jantung hipertensi. 60 orang (75,9%) obesitas tetapi tidak menderita
penyakit jantung hipertensi, 54 orang (74,0%) tidak obesitas dan tidak
menderita penyakit jantung hipertensi.

Tabel 8. Hubungan obesitas dengan penyakit jantung hipertensi

Obesitas Penyakit jantung hipertensi total P


Value
YA TIDAK
n % n % n % 0,779
ya 19 24,1 60 75,9 79 100
tidak 19 26,0 54 74,0 73 100
total 38 114 152 100

Hasil pengolahan dengan menggunakan uji chi-square memenuhi


syarat, maka digunakan uji chi square dengan p value 0,779 dimana p>0,05
menunjukan bahwa Ho diterima, artinya tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara obesitas dengan kejadian penyakit jantung hipertensi.

IV.3. Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil dari penelitian hubungan


antara umur, jenis kelamin, obesitas dengan kejadian penyakit jantung
hipertensi di poli Jantung RSPAD Gatot Soebroto selama periode 1 januari
2011 – 28 Februari 2011.

1. Hubungan antara umur dengan kejadian penyakit jantung hipertensi

Pada kelompok usia 15 – 49 tahun didapatkan 13 orang (44,8%)


yang menderita penyakit jantung hipertensi, dan sebanyak 16 orang
(55,2%) yang tidak menderita penyakit jantung hipertensi. Pada
kelompok umur >50 tahun didapatkan 25 orang (20,3%) menderita
penyakit jantung hipertensi, dan sebanyak 98 orang (78,7%) yang tidak
menderita penyakit jantung hipertensi.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan chi square dengan p
value 0,006 dimana p<0,05 menunjukan bahwa Ho ditolak, artinya
terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan penyakit jantung
hipertensi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Herke J.O. Sigarlaki
(2006) didapatkan hasil usia >50 tahun paling banyak menderita penyakit
jantung hipertensi dan didapatkan hubungan antara umur dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi Hal ini menunjukan bahwa hasil penelitian ini
sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Herke J.O.Sigarlaki.
Faktor umur sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit
jantung hipertensi, yang jika terus - menerus dibiarkan akan
mengakibatkan terganggunya kerja jantung. Pada umumnya tekanan
darah akan naik dengan bertambahnya umur terutama setelah umur 40
tahun. Prevalensi penyakit jantung hipertensi di Indonesia pada golongan
umur dibawah 40 tahun masih kurang dari 10%, tetapi di atas 50 tahun
angka tersebut terus meningkat mencapai 20-30%, hal ini menyebabkan
penyakit ini menjadi masalah yang serius untuk diperhatikan. (Kamso.
2000).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
dengan semakin bertambahnya umur maka akan terjadi perubahan pada
elastisitas pembuluh darah yang berakibat terjadinya peningkatan
resistensi perifer. Dengan meningkatnya resistensi perifer maka akan
berpengaruh terhadap tekanan darah yang semakin tinggi dan diikuti
dengan beban kerja jantung yang meningkat yang pada akhirnya akan
menimbulkan penyakit jantung hipertensi. ( Arjatmo T, Hendra U. 2001)
2. Hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian penyakit jantung
hipertensi
Jenis kelamin laki-laki didapatkan jumlah 13 orang (21,0%) yang
menderita penyakit jantung hipertensi dan 49 orang (79,0%) tidak
menderita penyakit jantung hipertensi. Untuk jenis kelamin perempuan
didapatkan jumlah 25 orang (27,8%) yang menderita penyakit jantung
hipertensi dan 65 orang (72,2%) tidak menderita penyakit jantung
hipertensi.
Hasil pengolahan dengan menggunakan uji chi-square didapatkan
nilai P value 0,341 dimana P>0,05 menunjukan bahwa Ho diterima,
yang artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin
dengan kejadian penyakit jantung hipertensi. Hasil penelitian diatas
sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yasmina (2009), yang
mendapatkan hasil jumlah perempuan lebih banyak yang menderita
penyakit jantung hipertensi dibandingkan jumlah laki-laki. Penelitian
lainya dari Dadang Hendrawan, DKK (2004) mendapatkan hasil tidak
ada perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi.
Teori terjadinya penyakit jantung hipertensi dilihat dari jenis
kelamin lebih besar risiko pada laki-laki dibandingkan pada perempuan.
Pada laki-laki gaya hidup yang tidak baik seperti merokok dan tingkat
stress yang tinggi akan mengakibatkan tekanan darah meningkat
sehingga beban kerja jantung juga meningkat. Hal ini akan
menyebabkan pembesaran ventrikel kiri. Pada perempuan yang masih
dalam masa subur insiden penyakit jantung hipertensi jarang ditemukan
karena hormon pada wanita masa subur mencegah terhadap peningkatan
tekanan darah. ( Gray H. Dawkins KD, Morgan JM. 2005 ).

3. Hubungan antara obesitas dengan kejadian penyakit jantung hipertensi


Didapatkan 19 orang (24,1%) obesitas menderita penyakit jantung
hipertensi dan 19 orang (26,0%) tidak mengalami obesitas tanpa
menderita penyakit jantung hipertensi. Sebanyak 60 orang (75,9%)
obesitas tetapi tidak menderita penyakit jantung hipertensi dan 54 orang
(74,0%) tidak obesitas dengan penyakit jantung hipertensi.
Hasil pengolahan dengan menggunakan uji chi-square memenuhi
syarat, maka digunakan uji chi square dengan P value 0,779 dimana
p>0,05 menunjukan bahwa Ho diterima, artinya tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara obesitas dengan kejadian penyakit jantung
hipertensi.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yusida (2001) didapatkan
hasil tidak ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan
penyakit jantung hipertensi. Hasil yang sama juga didapatkan oleh
khania (2000) yang menyatakan tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara obesitas dengan penyakit jantung hipertensi. jika
dihubungkan dengan teori, hubungan antara obesitas dengan kejadian
penyakit jantung hipertensi disebabkan pada obesitas yang
berkepanjangan terdapat kerusakan glomerular dan gangguan tekanan
natriuesis ginjal akibat peningkatan tekanan arteri, vasodilatasi ginjal,
hiperfiltrasi glomerular, dan aktivasi neurohormonal. Akibatnya kerja
jantung akan semakin bertambah berat untuk memasok aliran darah
keseluruh tubuh, yang akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung
hipertensi. (Arjatmo T, Hendra U. 2004).

IV.4. Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan mengingat
adanya keterbatasan dalam hal desain penelitian yakni cross sectional.
Kelemahan dari penelitin Cross sectional ini karena meneliti variabel –
variabel baik bebas maupun terikat secara bersamaan sehingga kurang
kuat untuk mencari hubungan sebab akibat.
Banyak penyebab yang dapat menyebabkan penyakit jantung
hipertensi tetapi peneliti hanya terbatas meneliti variabel umur, jenis
kelamin, dan obesitas. Hal ini karena adanya keterbatasan waktu dan
tenaga dalam pengambilan data. Peneliti juga tidak meneliti apakah
terdapat hubungan antara setiap variabel penelitian bebas seperti dengan
variabel penelitian bebas lainnya yang berhubungan dengan variabel
terikat.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap hasil penelitian yang


diperoleh dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan penyakit jantung


hipertensi

2. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan


penyakit jantung hipertensi

3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan penyakit


jantung hipertensi

V.2. Saran

1. Pada orang yang lebih berisiko dapat mulai sedini mungkin untuk
menjaga kondisi kesehatan baik dari kebiasaan makan, olahraga dan pola
hidup.

2. Pengontrolan hipertensi secara dini, untuk mengenali tanda-tanda


hipertensi dan segera melakukan pengobatan, diharapkan tekanan
darahnya dapat terkontrol dan risiko terkena penyakit jantung hipertensi
dapat ditekan.

3. Dapat lebih mengenali tanda atau gejala penyakit jantung hipertensi


sehingga penderita dapat ke rumah sakit dengan drajat yang lebih ringan

4. Pada penelitian selanjutnya dapat dihubungkan antar variabel yakni


hubungan DM dan Genetik dengan angka kejadian penyakit jantung
hipertensi, atau menghubungkan berbagai macam variabel lagi, agar
mendapatkan hasil penelitian yang baru agar dapat dapat bermanfaat untuk
pencegahan dan penanggulangan penyakit jantung hipertensi.

5. Perlu dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih besar untuk dapat
mengetahui hubungan antar variabel dengan tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, W. 1996. Penyakit Jantung, Hipertensi, Dan Nutrisi. Jakarta : Bumi


Aksara

Arjatmo T, Hendra U. (2001). Ilmu penyakit dalam. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia : 453-483

Arjatmo T, Hendra U. (2004). Buku ajar kardiologi. Fakultas kedokteran


Universitas Indonesia : 209-212

Braverman, E.R., Braverman, D. 2009. Dua Penyebab Penyakit Jantung


Tekanan Darah Tinggi dan Kenaikan Kadar Kolesterol,
http://www.jantunghipertensi.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=
1& id=340 (Maret 2012)

Bustan MN. (2007). Epidemilogi penyakit tidak menular. Jakarta: Rineke


Cipta

Carol T. Brown. (2006) Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses penyakit,


edisi 6, volume 1. Jakarta: Buku Penerbit Kedokteran EGC

Dadang Hendrawan, Asmika, Darwatik, (2004). Hubungan Antara Umur dan


Jenis Kelamin dengan Tekanan Darah, Indeks massa tubuh (IMT) dan Kadar
Kolesterol Total pada Penderita Penyakit Jantung Hipertensi Yang Dirawat
di Bagian Ilmu Penyakit Jantung RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode
Januari 2000 - Desember 2003
http://elibrary.ub.ac.id/bitstream/123456789/18142/1/ (desember 2011)

Depkes. (2000). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas


Kesehatan

Depkes. (2004). Profil Kesehatan Indonesia. Cited: 26 juni 2011. Available


fromhttp://bankdata.depkes.go.id/data%20intranet/ProfilKes/2004/BAB%20II
I-Final.pdf

Diamond JA, PhillipsRA. (2005) Hypertensive Heart Disease. Hypertens Res


Vol. 28, No. 3 . On International journal of obesity. Hypertension research
available at http://www.nature.com/hr/journal/v28/n3/abs/hr200525a.html
last update 29 mei 2011

Djohan T.B.A, 2004. Penyakit Jantung Koroner Dan Hipertensi, Ahli Penyakit
Jantung Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara : 1-7 from
http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi-bahri10.pdf [Accessed 18
March 2012]

Dharma.S. (2010). Sistematika Interpretasi EKG. Jakarta: Buku Kedokteran


EGC : 26
Gray,H. Huon, Dawkins, D. Keith, Morgan, M. John, Simpson, A. lain.
(2003). Gagal jantung. Lecture Notes Kardiologi. Edisi 4. Jakarta: Erlangga ;
57-60

Gustaviani Reno, 2007. Naskah Lengkap Penyakit Dalam. (2007). Jakarta :


Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 108

Horrower A. Mc Farlane G. 1998. Left Ventricular Hyperthrophy in


Hypertension In : AM J. Med. ; (suppl.1 B). 89 – 91.

Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. (2007). Buku ajar patologi robbins, edisi 7,
volume 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC ; 379-382

Kamso. (2000). Nutrional Aspects of Hypertension in the Indinesian Elderly


Disertasi Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Peter L,2004. Vascular Disease In: Harrison’s Principles of Internal


Medicine.16 th Edition :1468-1660

Riaz K, Ahmed A. Hypertensive Heart Disease. [Online]. 2010 Apr 29 [cited


2010 May 11]; Available from: URL
http://emedicine.medscape.com/article/162449-overview

Sastroasmoro S, Ismael S. (2008). Dasar-dasar Metodologi penelitian klinis,


edisi 3. Jakarta: Sagung Seto

Sopiyudin M. . (2009). Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam


penelitian kedokteran dan kesehatan, edisi 2. Jakarta : Salemba Medika ; 34,
125

Yogiantoro,M., 2007. Hipertensi Esensial. In: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B.,


Alwi, I., Simadibrata, M.K., dan Setiati, S., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid 1. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI, 599 – 600.
LAMPIRAN 1

SURAT PEMBERITAHUAN IZIN PENELITIAN


LAMPIRAN 2

DATA SAMPEL PENELITIAN

NO Umur Jenis kelamin Obesitas Penyakit Jantung Hipertensi

1 56 Laki-laki Ya Tidak
2 65 Laki-laki Ya Tidak
3 72 Laki-laki Tidak Tidak
4 49 Perempuan Ya Ya
5 55 Laki-laki Ya Tidak
6 58 Laki-laki Ya Tidak
7 78 Laki-laki ya Tidak
8 52 Laki-laki tidak Tidak
9 56 Perempuan Tidak Ya
10 78 Laki-laki Ya Tidak
11 71 Perempuan Ya Tidak
12 76 Perempuan Ya Tidak
13 45 Perempuan Tidak Tidak
14 67 Laki-laki Ya Tidak
15 84 Perempuan Ya Tidak
16 79 Perempuan Tidak Tidak
17 78 Laki-laki Ya Ya
18 56 Laki-laki Ya Tidak
19 73 Perempuan Tidak Ya
20 65 Laki-laki Ya Tidak
21 68 Perempuan Tidak Tidak
22 74 Perempuan Ya Ya
23 49 Perempuan Ya Tidak
24 47 perempuan Tidak Ya
25 58 Laki-laki Ya Tidak
26 56 Perempuan Tidak Tidak
27 71 Laki-laki Ya Tidak
28 56 Laki-laki Tidak Tidak
29 58 Perempuan Tidak Ya
30 66 Perempuan Ya Tidak
31 68 Laki-laki Ya Tidak
32 67 Perempuan Ya Tidak
33 78 Laki-laki Ya Tidak
34 75 Perempuan Ya Tidak
35 67 Laki-laki Tidak Ya
36 69 Perempuan Ya Tidak
37 52 Laki-laki Ya Tidak
38 55 Perempuan Tidak Tidak
39 54 Laki-laki Ya Tidak
40 57 Laki-laki Ya Ya
41 42 Laki-laki Ya Tidak
42 49 Perempuan Ya Tidak
43 51 Perempuan Tidak Tidak
44 58 Laki-laki Ya Tidak
45 79 Perempuan Ya Ya
46 76 Perempuan Tidak Ya
47 41 Laki-laki Ya Tidak
48 54 Perempuan Ya Ya
49 49 Perempuan Ya Tidak
50 58 Laki-laki Tidak Tidak
51 67 Perempuan Ya Ya
52 69 Laki-laki Ya Tidak
53 76 Perempuan tidak Ya
54 78 Perempuan Ya Tidak
55 53 Laki-laki Tidak Tidak
56 48 Perempuan Ya Tidak
57 56 Laki-laki Ya Tidak
58 59 Laki-laki Ya Ya
59 60 Perempuan Ya Tidak
60 66 Laki-laki Tidak Tidak
61 64 Perempuan Ya Tidak
62 49 Laki-laki Ya Tidak
63 51 Perempuan Ya Ya
64 58 Perempuan Ya Tidak
65 59 Laki-laki Ya Tidak
66 43 Perempuan Tidak Tidak
67 46 Laki-laki Ya Ya
68 67 Laki-laki Ya Tidak
69 81 Perempuan Tidak Tidak
70 59 Perempuan Ya Tidak
71 86 Laki-laki Tidak Tidak
72 66 Laki-laki Ya Tidak
73 75 Perempuan Tidak Tidak
74 74 Laki-laki Tidak Tidak
75 71 Perempuan Ya Tidak
76 59 Laki-laki Ya Tidak
77 65 Perempuan Ya Tidak
78 73 Perempuan Ya Ya
79 59 Laki-laki Ya Tidak
80 65 Perempuan Ya Tidak
81 66 Perempuan Ya Tidak
82 69 Perempuan Ya Ya
83 78 Laki-laki Ya Tidak
84 70 Perempuan Ya Tidak
85 45 Laki-laki Ya Tidak
86 56 Perempuan Ya Tidak
87 78 Perempuan Tidak Ya
88 56 Perempuan Ya Tidak
89 76 Laki-laki Ya Tidak
90 56 Perempuan Ya Ya
91 44 Perempuan Ya Tidak
92 66 Laki-laki Ya Tidak
93 68 Perempuan Tidak Tidak
94 79 Laki-laki Tidak Tidak
95 55 Perempuan Tidak Tidak
96 58 Perempuan Tidak Ya
97 69 Laki-laki Tidak Tidak
98 86 Perempuan Tidak Tidak
99 45 Laki-laki Tidak Tidak
100 57 Perempuan Tidak Ya
101 68 Perempuan Tidak Tidak
102 61 Perempuan Tidak Tidak
103 52 Perempuan Tidak Tidak
104 41 Laki-laki Tidak Ya
105 49 Perempuan Tidak Tidak
106 57 Laki-laki Tidak Tidak
107 59 Perempuan Tidak Tidak
108 60 Laki-laki Tidak Ya
109 58 Perempuan Ya Tidak
110 59 Perempuan Ya Tidak
111 40 Laki-laki Ya Tidak
112 41 Perempuan Tidak Tidak
113 45 Laki-laki Ya Ya
114 55 Perempuan Tidak Tidak
115 51 Perempuan Tidak Tidak
116 57 Laki-laki Tidak Ya
117 76 Perempuan Tidak Tidak
118 54 Perempuan Tidak Tidak
119 39 Perempuan Tidak Ya
120 51 Perempuan Tidak Tidak
121 55 Laki-laki Tidak Tidak
122 56 Laki-laki Tidak Tidak
123 45 Perempuan Tidak Tidak
124 43 Perempuan Ya Ya
125 58 Laki-laki Tidak Tidak
126 59 Perempuan Tidak Tidak
127 56 Perempuan Ya Tidak
128 60 Perempuan Tidak Tidak
129 48 Laki-laki Ya Ya
130 56 Perempuan Tidak Tidak
131 54 Laki-laki Tidak Tidak
132 48 Perempuan Ya Ya
133 49 Perempuan Tidak Tidak
134 51 Laki-laki Tidak Tidak
135 56 Perempuan Tidak Tidak
136 53 Laki-laki Tidak Ya
137 57 Perempuan Tidak Ya
138 55 Laki-laki Tidak Tidak
139 45 Perempuan Ya Tidak
140 70 Perempuan Tidak Tidak
141 58 Laki-laki Ya Ya
142 59 Perempuan Tidak Tidak
143 60 Perempuan Tidak Tidak
144 42 Perempuan Tidak Tidak
145 78 Perempuan Tidak Ya
146 70 Laki-laki Tidak Tidak
147 80 Perempuan Tidak Tidak
148 86 Perempuan Tidak Ya
149 46 Perempuan Tidak Tidak
150 65 Laki-laki Ya Tidak
151 50 Perempuan Tidak Ya
152 51 Perempuan Ya Tidak
LAMPIRAN 3

DISTRIBUSI PENYAKIT JANTUNG HIPERTENSI

penyakit_jantung_hipertensi

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid ya 38 25.0 25.0 25.0

tidak 114 75.0 75.0 100.0

Total 152 100.0 100.0

LAMPIRAN 4

DISTRIBUSI UMUR

umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 15-49 tahun 29 19.1 19.1 19.1

>50 tahun 123 80.9 80.9 100.0

Total 152 100.0 100.0

LAMPIRAN 5

DISTRIBUSI JENIS KELAMIN

jenis_kelamin

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid laki-laki 62 40.8 40.8 40.8

perempuan 90 59.2 59.2 100.0

Total 152 100.0 100.0


LAMPIRAN 6

DISTRIBUSI OBESITAS

obesitas

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid ya 79 52.0 52.0 52.0

tidak 73 48.0 48.0 100.0

Total 152 100.0 100.0

LAMPIRAN 7

umur * penyakit_jantung_hipertensi
Crosstab

penyakit_jantung_hipertensi

ya tidak Total

umur 15-49 tahun Count 13 16 29

Expected Count 7.3 21.8 29.0

% within umur 44.8% 55.2% 100.0%

>50 tahun Count 25 98 123

Expected Count 30.8 92.3 123.0

% within umur 20.3% 79.7% 100.0%

Total Count 38 114 152

Expected Count 38.0 114.0 152.0

% within umur 25.0% 75.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df (2-sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.514 1 .006
b
Continuity Correction 6.264 1 .012

Likelihood Ratio 6.858 1 .009

Fisher's Exact Test .009 .008

Linear-by-Linear 7.465 1 .006


Association

N of Valid Cases 152


a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.25.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for umur (15-49 3.185 1.357 7.478


tahun / >50 tahun)

For cohort 2.206 1.293 3.763


penyakit_jantung_hipertensi
= ya

For cohort .692 .493 .973


penyakit_jantung_hipertensi
= tidak

N of Valid Cases 152

LAMPIRAN 8

jenis_kelamin * penyakit_jantung_hipertensi
Crosstab

penyakit_jantung_hipertensi

ya tidak Total

jenis_kelamin laki-laki Count 13 49 62

Expected Count 15.5 46.5 62.0

% within jenis_kelamin 21.0% 79.0% 100.0%

perempuan Count 25 65 90

Expected Count 22.5 67.5 90.0

% within jenis_kelamin 27.8% 72.2% 100.0%

Total Count 38 114 152

Expected Count 38.0 114.0 152.0

% within jenis_kelamin 25.0% 75.0% 100.0%


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .908 1 .341
b
Continuity Correction .581 1 .446

Likelihood Ratio .921 1 .337

Fisher's Exact Test .446 .224

Linear-by-Linear .902 1 .342


Association

N of Valid Cases 152

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.50.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for jenis_kelamin .690 .321 1.484


(laki-laki / perempuan)

For cohort .755 .420 1.358


penyakit_jantung_hipertensi
= ya

For cohort 1.094 .913 1.312


penyakit_jantung_hipertensi
= tidak

N of Valid Cases 152


LAMPIRAN 9

obesitas * penyakit_jantung_hipertensi
Crosstab

penyakit_jantung_hipertensi

ya tidak Total

obesitas ya Count 19 60 79

Expected Count 19.8 59.3 79.0

% within obesitas 24.1% 75.9% 100.0%

tidak Count 19 54 73

Expected Count 18.3 54.8 73.0

% within obesitas 26.0% 74.0% 100.0%

Total Count 38 114 152

Expected Count 38.0 114.0 152.0

% within obesitas 25.0% 75.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df (2-sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .079 1 .779
b
Continuity Correction .009 1 .925

Likelihood Ratio .079 1 .779

Fisher's Exact Test .852 .462

Linear-by-Linear .079 1 .779


Association

N of Valid Cases 152

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18.25.

b. Computed only for a 2x2 table


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for obesitas (ya / .900 .432 1.876


tidak)

For cohort .924 .533 1.603


penyakit_jantung_hipertensi
= ya

For cohort 1.027 .854 1.234


penyakit_jantung_hipertensi
= tidak

N of Valid Cases 152