Você está na página 1de 21

LAPORAN PENDAHULUAN CKD

A. PENGERTIAN
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus
filtration rate (GFR) (Nahas & Levin,2010). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK)
didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat,
progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Smeltzer, 2009)
B. ETIOLOGI
Diabetes dan hipertensi baru-baru ini telah menjadi etiologi tersering terhadap
proporsi GGK di US yakni sebesar 34% dan 21% . Sedangkan glomerulonefritis menjadi
yang ketiga dengan 17%. Infeksi nefritis tubulointerstitial (pielonefritis kronik atau
nefropati refluks) dan penyakit ginjal polikistik masing-masing 3,4%. Penyebab yang tidak
sering terjadi yakni uropati obstruktif , lupus eritomatosus dan lainnya sebesar 21 %. (US
Renal System, 2000 dalam Price & Wilson, 2006). Penyebab gagal ginjal kronis yang
menjalani hemodialisis di Indonesia tahun 2000 menunjukkan glomerulonefritis menjadi
etiologi dengan prosentase tertinggi dengan 46,39%, disusul dengan diabetes melitus
dengan 18,65%, obstruksi dan infeksi dengan 12,85%, hipertensi dengan 8,46%, dan sebab
lain dengan 13,65% (Sudoyo, 2006).
C. PATOFISIOLOGI
Berdasarkan proses perjalanan penyakit dari berbagai penyebab yaitu infeksi,
vaskuler, zat toksik, obstruksi saluran kemih yang pada akhirnya akan terjadi kerusakan
nefron sehingga menyebabkan penurunan GFR (Glomelular Filtration Rate) dan
menyebabkan CKD (cronic kidney disease), yang mana ginjal mengalami gangguan dalam
fungsi eksresi dan dan fungsi non-eksresi. Fungsi renal menurun, produk akhir
metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam
darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan
produk sampah maka gejala akan semakin berat (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448), dari
proses sindrom uremia terjadi pruritus, perubahan warna kulit. Sindrom uremia juga bisa

1
menyebabkan asidosis metabolik akibat ginjal tidak mampu menyekresi asam (H+) yang
berlebihan. Penurunan sekrsi asam akibat tubulus ginjal tidak mampu menyekresi
ammonia (NH3-) dan megapsorbsi natrium bikarbonat (HCO3-). Penurunan eksresi fosfat
dan asam organik yang terjadi, maka muntah dan muntah tidak dapat dihindarkan. Sekresi
kalsium mengalami penurunan sehingga hiperkalemia, penghantaran listrik dalam jantung
terganggu akibatnya terjadi penurunan COP (cardiac output), suplai O2 dalam otak dan
jaringan terganggu. Penurunan sekresi eritropoetin sebagai faktor penting dalam stimulasi
produksi sel darah merah oleh sumsum tulang menyebabkan produk hemoglobin berkurang
dan terjadi anemia sehingga peningkatan oksigen oleh hemoglobin (oksihemoglobin)
berkurang maka tubuh akan mengalami keadaan lemas dan tidak bertenaga.
Gangguan clerence renal terjadi akibat penurunan jumlah glomerulus yang
berfungsi. Penurunan laju filtrasi glomerulus di deteksi dengan memeriksa clerence
kretinin dalam darah yang menunjukkan penurunan clerence kreatinin dan peningkatan
kadar kreatinin serum. Retensi cairan dan natrium dapat megakibatkan edema.
Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat merupakan gangguan metabolisme. Kadar
kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan timbal balik. Jika salah satunya meningkat
maka fungsi yang lain akan menurun. Dengan menurunnya filtrasi melaui glomerulus
ginjal maka meningkatkan kadar fosfat serum, dan sebaliknya, kadar serum kalsium
menurun. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathhormon dari
kelenjar paratiroid, tetapi gagal ginjal tubuh tidak dapat merspons normal terhadap
peningkatan sekresi parathormon sehingga kalsium ditulang menurun, menyebabkan
terjadinya perubahan tulang dan penyakit tulang. (Nurlasam, 2007)

2
PATHWAY

3
D. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Brunner & Suddart (2002) setiap sistem tubuh pada gagal ginjal kronis
dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan menunjukkan sejumlah tanda dan
gejala. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal,
usia pasien dan kondisi yang mendasari. Tanda dan gejala pasien gagal ginjal kronis adalah
sebagai berikut :
a. Manifestasi kardiovaskuler
Mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin-
angiotensin-aldosteron), pitting edema (kaki,tangan,sakrum), edema periorbital,
Friction rub perikardial, pembesaran vena leher.
b. Manifestasi dermatologi
Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering, bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis
dan rapuh, rambut tipis dan kasar.
c. Manifestasi Pulmoner
Krekels, sputum kental dan liat, napas dangkal, pernapasan Kussmaul
d. Manifestasi Gastrointestinal
Napas berbau amonia, ulserasi dan pendarahan pada mulut, anoreksia, mual,muntah,
konstipasi dan diare, pendarahan saluran gastrointestinal
e. Manifestasi Neurologi
Kelemahan dan keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan tungkai, panas
pada telapak kaki, perubahan perilaku
f. Manifestasi Muskuloskeletal
Kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, foot drop
g. Manifestasi Reproduktif
Amenore dan atrofi testikuler
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi ginjal.
1. Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya
massa kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagianatas.

4
2. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk
diagnosis histologis.
3. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
4. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam
basa.
b. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta adakah batu atau obstruksi lain.
c. Pielografi Intravena
Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan faal ginjal pada
usia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
d. USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkin ginjal , anatomi sistem pelviokalises,
dan ureter proksimal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan
ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
e. Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri , lokasi gangguan (vaskuler, parenkhim) serta sisa
fungsi ginjal
f. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Mencari adanya kardiomegali, efusi perikarditis
g. Pemeriksaan radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi (terutama pada falangks /jari) kalsifikasi metatastik
h. Pemeriksaan radiologi Paru
Mencari uremik lung yang disebabkan karena bendungan.
i. Pemeriksaan Pielografi Retrograde
Dilakukan bila dicurigai adanya obstruksi yang reversible
j. EKG
Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalemia)
k. Biopsi Ginjal
dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostik gagal ginjal kronis atau perlu untuk
mengetahui etiologinya.

5
l. Pemeriksaan laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
1) Laju endap darah
2) Urin
Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine tidak ada (anuria).
Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus / nanah,
bakteri, lemak, partikel koloid,fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan
menunjukkan adanya darah, miglobin, dan porfirin.
Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan
ginjal berat).
Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, amrasio
urine / ureum sering 1:1.
3) Ureum dan Kreatinin
Ureum:
Kreatinin: Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL diduga
tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
4) Hiponatremia
5) Hiperkalemia
6) Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
7) Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia
8) Gula darah tinggi
9) Hipertrigliserida
10) Asidosis metabolik
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan utama penatalaksanaan pasien GGK adalah untuk mempertahankan fungsi
ginjal yang tersisa dan homeostasis tubuh selama mungkin serta mencegah atau mengobati
komplikasi (Smeltzer, 2001; Rubenstain dkk, 2007). Terapi konservatif tidak dapat
mengobati GGK namun dapat memperlambat progres dari penyakit ini karena yang
dibutuhkan adalah terapi penggantian ginjal baik dengan dialisis atau transplantasi ginjal.
Lima sasaran dalam manajemen medis GGK meliputi :
1. Untuk memelihara fungsi renal dan menunda dialisis dengan cara mengontrol proses
penyakit melalui kontrol tekanan darah (diet, kontrol berat badan dan obat-obatan) dan

6
mengurangi intake protein (pembatasan protein, menjaga intake protein sehari-hari
dengan nilai biologik tinggi < 50 gr), dan katabolisme (menyediakan kalori nonprotein
yang adekuat untuk mencegah atau mengurangi katabolisme)
2. Mengurangi manifestasi ekstra renal seperti pruritus , neurologik, perubahan
hematologi, penyakit kardiovaskuler;
3. Meningkatkan kimiawi tubuh melalui dialisis, obat-obatan dan diet;
4. Mempromosikan kualitas hidup pasien dan anggota keluarga (Black & Hawks, 2005)
Penatalaksanaan konservatif dihentikan bila pasien sudah memerlukan dialisi tetap atau
transplantasi. Pada tahap ini biasanya GFR sekitar 5-10 ml/mnt. Dialisis juga diiperlukan bila
:
 Asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Hiperkalemia yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan
 Overload cairan (edema paru)
 Ensefalopati uremic, penurunan kesadaran
 Efusi perikardial
 Sindrom uremia ( mual,muntah, anoreksia, neuropati) yang memburuk.

Menurut Sunarya, penatalaksanaan dari CKD berdasarkan derajat LFG nya, yaitu:

7
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian fokus yang disusun berdasarkan pada Gordon dan mengacu pada Doenges
(2001), serta Carpenito (2006) sebagai berikut :
1. Demografi.
Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang
mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal seperti
proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya. CKD dapat terjadi pada
siapapun, pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan penting sebagai pemicu
kejadian CKD. Karena kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan
lingkungan yang tidak menyediakan cukup air minum / mengandung banyak senyawa/
zat logam dan pola makan yang tidak sehat.
2. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM, glomerulo nefritis,
hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi saluran kemih, dan traktus urinarius
bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya CKD.
3. Pola nutrisi dan metabolik.
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6
bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan air naik atau
turun.
4. Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. Tandanya adalah
penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah
atau tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu.
5. Pengkajian fisik
a. Penampilan / keadaan umum.
Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri. Kesadaran pasien dari
compos mentis sampai coma.
b. Tanda-tanda vital.
Tekanan darah naik, respirasi riet naik, dan terjadi dispnea, nadi meningkat dan
reguler.

8
c. Antropometri.
Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi, atau terjadi
peningkatan berat badan karena kelebihan cairan.
d. Kepala.
Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat kotoran telinga, hidung
kotor dan terdapat kotoran hidung, mulut bau ureum, bibir kering dan pecah-pecah,
mukosa mulut pucat dan lidah kotor.
e. Leher dan tenggorok.
Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher.
f. Dada
Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar. Terdapat otot bantu
napas, pergerakan dada tidak simetris, terdengar suara tambahan pada paru (rongkhi
basah), terdapat pembesaran jantung, terdapat suara tambahan pada jantung.
g. Abdomen.
Terjadi peningkatan nyeri, penurunan pristaltik, turgor jelek, perut buncit.
h. Genital.
Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi, terdapat ulkus.
i. Ekstremitas.
Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema, pengeroposan tulang, dan
Capillary Refill lebih dari 1 detik.
j. Kulit.
Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan mengkilat / uremia, dan
terjadi perikarditis.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada CKD adalah sebagai berikut:
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan
2. Nyeri akut berhubungan dengan
3. Perubahan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi paru.
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia mual
muntah.
5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan nutrisi ke
jaringan sekunder.

9
C. INTERVENSI
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan
Intervensi :
1. Kaji status cairan ; timbang berat badan,keseimbangan masukan dan haluaran,
turgor kulit dan adanya edema
2. Batasi masukan cairan
3. Identifikasi sumber potensial cairan
4. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan cairan
5. Kolaborasi pemberian cairan sesuai terapi.
6. Ambil sampel darah dan meninjau kimia darah (misalnya BUN, kreatinin,
natrium, pottasium, tingkat phospor) sebelum perawatan untuk mengevaluasi
respon terhadap terapi.
7. Rekam tanda vital: berat badan, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah untuk
mengevaluasi respon terhadap terapi.
8. Sesuaikan tekanan filtrasi untuk menghilangkan jumlah yang tepat dari cairan
berlebih di tubuh klien.
9. Bekerja secara kolaboratif dengan pasien untuk menyesuaikan panjang dialisis,
peraturan diet, keterbatasan cairan dan obat-obatan untuk mengatur cairan dan
elektrolit pergeseran antara pengobatan
b. Perubahan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi paru
Intervensi :
1. Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
2. Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
3. Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes
4. Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara
tambahan
5. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
6. Ajarkan pasien nafas dalam
7. Atur posisi senyaman mungkin
8. Batasi untuk beraktivitas

10
9. Kolaborasi pemberian oksigen
c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia mual muntah.
Intervensi :
1. Monitor adanya mual dan muntah
2. Monitor adanya kehilangan berat badan dan perubahan status nutrisi.
3. Monitor albumin, total protein, hemoglobin, dan hematocrit level yang
menindikasikan status nutrisi dan untuk perencanaan treatment selanjutnya.
4. Monitor intake nutrisi dan kalori klien.
5. Berikan makanan sedikit tapi sering
6. Berikan perawatan mulut sering
7. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet sesuai terapi
d. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan nutrisi ke
jaringan sekunder.
Intervensi :
1. Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. (cek nadi
priper,oedema, kapiler refil, temperatur ekstremitas).
2. Kaji nyeri
3. Inspeksi kulit dan Palpasi anggota badan
4. Atur posisi pasien, ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi.
5. Monitor status cairan intake dan output
6. Evaluasi nadi, oedema
7. Berikan therapi antikoagulan.

11
ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI MASALAH
DS :
- Klien mengatakan nyeri ulu
hati
- Skala nyeri 3
Agens Cedera Biologis Nyeri Akut
DO :
- Klien tampak meringis saat
ulu hatinya ditekan
- TD : 140/80 mmHg
- N : 110x / menit

DS :
- Klien sering bertanya
kenapa keringat dingin

DO : Kelebihan Asupan Cairan Kelebihan Volume


- Kedua kaki dan tangan Cairan
klien tampak bengkak
- Hb : 8,5 gr/dL
- TD : 140/80 mmHg

DS :
- Klien sering bertanya
kenapa keringat dingin
- Klien mengatakan tidak bisa
mencari nafkah selama sakit Perubahan Besar Fungsi Ansietas
Peran
DO :
- Klien tampak cemas
- TD : 140/80
- N : 110x / menit

DS :
- Klien mengatakan tidak
tahu penyebab kaki dan
tangannya bengkak
- Klien tidak menjaga diet
dirumah Kurang Sumber Defisiensi Pengetahuan
DO : Pengetahuan
- Klien tampak lemah
- Ureum : 109,0
- Kreatinin : 5,73
- Hb : 8,5 gr/dL
- TD : 140/80

12
DS :
- Klien mengatakan mandi
dibantu oleh istrinya
- Klien mengatakan
kepalanya pusing
Kelemahan Defisit Perawatan Diri :
DO : Mandi
- Klien tampak lemas
- GDS : 51
- TD : 140/80 mmHg

DS :
- Klien mengatakan tidak bisa
mencari nafkah selama sakit

DO :
- Klien tampak lemah Penyakit Fisik Ketidakefektifan
- Selama dirawat klien Performa Peran
ditunggu oleh istri
- GDS : 51
- TD : 140/80 mmHg

PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN :

1. Kelebihan Volume Cairan Berhubungan Dengan Kelebihan Asupan Cairan


2. Nyeri Akut Berhubungan Dengan Agens Cedera Biologis
3. Defisit Perawatan Diri : Mandi Berhubungan Dengan Kelemahan
4. Ansietas Berhubungan Dengan Perubahan Besar Fungsi Peran
5. Kurang pengetahuan Berhubungan Dengan Kurang Sumber Pengetahuan
6. Ketidakefektifan Performa Peran Berhubungan Dengan Penyakit Fisik

13
NO HARI/TGL DIAGNOSA NOC NIC TTD &
KEPERAWATAN RENCANA KEPERAWATAN NAMA NS
1. Senin,3 juli Kelebihan Volume Setekah dilakukan tindakan Manajemen Cairan :
2017 Cairan berhubungan keperawatan selama 2 x 24 jam.
dengan kelebihan Label NOC : keseimbangan cairan 1. Kaji status cairan ; timbang
asupan cairan berat badan,keseimbangan
Indikator :
Indikator Skala keterangan masukan dan haluaran, turgor
Tekanan 3-5 Cukup kulit dan adanya edema
darah terganggu
s/d tidak 2. Batasi masukan cairan
terganggu 3. Identifikasi sumber potensial
Denyut nadi 3-5 Cukup
radial terganggu cairan
s/d tidak 4. Jelaskan pada pasien dan
terganggu
Keseimbangan 3-5 Cukup keluarga rasional pembatasan
intake dan terganggu cairan
output dalam s/d tidak
24 jam terganggu 5. Kolaborasi pemberian cairan
Edema perifer 3-5 Cukup sesuai terapi.
terganggu
s/d tidak
terganggu Terapi Hemodialisa :
1. Ambil sampel darah dan
meninjau kimia darah
(misalnya BUN, kreatinin,
natrium, pottasium, tingkat
phospor) sebelum perawatan

14
untuk mengevaluasi respon
thdp terapi.
2. Rekam tanda vital: berat badan,
denyut nadi, pernapasan, dan
tekanan darah untuk
mengevaluasi respon terhadap
terapi.
3. Sesuaikan tekanan filtrasi untuk
menghilangkan jumlah yang
tepat dari cairan berlebih di
tubuh klien.
4. Bekerja secara kolaboratif
dengan pasien untuk
menyesuaikan panjang dialisis,
peraturan diet, keterbatasan
cairan dan obat-obatan untuk
mengatur cairan dan elektrolit
pergeseran antara pengobatan

15
NO HARI/TGL DIAGNOSA NOC NIC TTD &
KEPERAWATAN RENCANA KEPERAWATAN NAMA NS
2. Senin,3 Nyeri Akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen nyeri :
juli 2017 berhubungan selama 2 x 24 jam.
dengan agens Label NOC : kontrol nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif
cedera biologis yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
Indikator :
Indikator Skala keterangan frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya
Mengenali kapan 3-5 Kadang- nyeri dan faktor pencetus.
nyeri terjadi kadang
menunjukkan 2. Pastikan perawatan analgesik bagi pasien
s/d secara dilakukan dengan pemantauan yang ketat
konsisten
menunjukkan 3. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti
Menggunakan 3-5 Kadang- penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
tindakan kadang
pengurangan menunjukkan dirasakan, dan antisipasi dari
nyeri tanpa s/d secara ketidaknyamanan akibat prosedur.
analagesik konsisten
menunjukkan
Menggunakan 3-5 Kadang- Pemberian analgesik :
analgesik yang kadang
direkomendasikan menunjukkan 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
s/d secara
keparahan nyeri sebelum mengobati pasien.
konsisten
menunjukkan 2. Cek adanya riwayat alergi obat
3. Tentukan pilihan obat analgesik
(narkotik,non narkotik, atau NSAID),
berdasarkan tipe dan keparahan nyeri.

16
NO HARI/TGL DIAGNOSA NOC NIC TTD &
KEPERAWATAN RENCANA KEPERAWATAN NAMA NS
3. Senin,3 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengajaran : peresepan diet
juli 2017 Pengetahuan selama 2 x 24 jam.
Label NOC : pengetahuan : manajemen 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien mengenai
penyakit ginjal diet yang disarankan.

Indikator : 2. Kaji pola makan pasien saat ini dan


Indikator Skala Keterangan sebelumnya, termasuk makanan yang
Tanda dan 2-4 Pengetahuan
gejala terbatas s/d
disukai dan pola makan saat ini
penyakit pengetahuan 3. Jelaskan kepada pasien mengenai tujuan
ginjal banyak
Tanda dan 2-4 Pengetahuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan
gejala terbatas s/d terkait dengan kesehatan secara umum.
kelebihan pengetahuan
volume banyak 4. Libatkan pasien dan keluarga.
cairan
Pembatasan 2-4 Pengetahuan
cairan terbatas s/d
pengetahuan
banyak
Pentingnya 2-4 Pengetahuan
pemantauan terbatas s/d
intake dan pengetahuan
output banyak

17
Tanggal Dx. Keperawatan Tindakan Keperawatan Paraf
03/07/2017 Nyeri Akut 12.30 mengkaji penyebab nyeri,
kualitas nyeri yang dirasakan, berapa
lama durasi nyeri, lokasi nyeri, dan
skala nyeri yang dirasakan

Hasil :
- Nyeri ulu hati
- Nyeri pada saat ditekan
- Nyeri dibagian epigastrium
- Skala nyeri 3
- Nyeri berlangsung selama 10
menit

S : klien mengatakan nyeri ulu hati,


nyeri dirasakan saat ditekan, skala
nyeri “nyeri ringan” (3) “

O : klien tampak meringis ketika ulu


hatinya ditekan.

03/07/2017 Nyeri Akut 13.10 mengajarkan klien teknik napas


dalam

Hasil :
- Skala nyeri menjadi 2
- TD : 130/70 mmHg

S : “klien mengatakan nyerinya


berkurang setelah melakukan teknik
relaksasi yaitu teknik napas dalam”

O : klien mampu mengikuti instruksi


yang diajarkan, ekspresi nyeri klien
berkurang, klien tampak rileks.

03/07/2017 Kelebihan Volume 12.45 memberitahu klien dan keluarga


Cairan tentang pembatasan asupan cairan

Hasil :
- Edema tampak mengempis
- Balance cairan :

S : “klien mengatakan mulai sekarang


mengurangi asupan cairan yang

18
awalnya 2,5 liter sehari menjadi 1,5
liter sehari”

O : edema klien tampak mengempis,


frekuensi BAK klien berkurang

03/07/2017 Defisiensi 12.50 memberitahu manfaat


Pengetahuan pembatasan asupan cairan dan
penyebab terjadinya edema pada kaki
dan tangan klien

Hasil :
- Klien mengurangi jumlah
asupan cairan
- Klien mengetahui penyakit
yang ia derita yaitu gagal
ginjal kronis yang
menyebabkan kakinya
bengkak

S : “klien mengatakan sudah tahu


penyebab kaki dan tangannya bengkak
adalah penyakit gagal ginjal kronis
yang ia derita saat ini sehingga asupan
cairan yang terlalu banyak dapat
menyebabkan terjadinya
pembengkakan pada kaki dan
tangannya”

O : klien tampak tenang setelah


mendengar penjelasan tentang
penyakitnya

Tanggal Dx. Keperawatan Tindakan Keperawatan Paraf


04/07/2017 Nyeri Akut 08.00 Memberikan Injeksi
Metilprednisolon 2 x 125 mg IV
untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan pasien

Hasil :
- Skala nyeri menjadi 1
- Nadi : 80x/ menit

19
S : “klien mengatakan nyerinya
berkurang setelah diberi obat”

O : klien tampak tenang dan rileks

04/07/2017 Kelebihan Volume 08.00 Memberikan Injeksi


Cairan Furosemide 1 x 1 ampul IV untuk
mengurangi edema pada kaki dan
tangan pasien

Hasil :
- Edema mengempis
- Sesak nafas berkurang

S : “klien mengatakan bengkak dikaki


dan tangannya berkurang dan sesak
nafasny sudah tidak ada lagi”

O : klien tampak rileks

20
Dx. Keperawatan Hari/tanggal Evaluasi
Nyeri Akut Senin, 3 Juli
2017 Indikator Skala keterangan
Mengenali kapan nyeri 5 Secara konsisten
terjadi menunjukkan
Menggunakan 5 Secara konsisten
tindakan pengurangan menunjukkan
nyeri tanpa analagesik
Menggunakan 5 Secara konsisten
analgesik yang menunjukkan
direkomendasikan

A : Tujuan Tercapai
P : Intervensi Dipertahankan

Kelebihan Volume Senin, 3 Juli


Cairan 2017 Indikator Skala keterangan
Tekanan darah 5 Tidak terganggu
Denyut nadi radial 5 Tidak terganggu
Keseimbangan 5 Tidak terganggu
intake dan output
dalam 24 jam
Edema perifer 5 Tidak terganggu

A : Tujuan Tercapai
P : Intervensi Dipertahankan

Defisiensi Senin, 3 Juli


Pengetahuan 2017 Indikator Skala Keterangan
Tanda dan gejala 4 Pengetahuan banyak
penyakit ginjal
Tanda dan gejala 4 Pengetahuan banyak
kelebihan volume
cairan
Pembatasan cairan 4 Pengetahuan banyak
Pentingnya 4 Pengetahuan banyak
pemantauan intake dan
output

A : Tujuan Tercapai
P : Intervensi Dipertahankan

21