Você está na página 1de 2

Sumber:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/03/iptek/406794.htm

Autis adalah gangguan tumbuh-kembang pada sistem saraf otak yang berhubungan
dengan interaksi sosial dan kemampuan berkomunikasi.

Dalam sesi pertama Konferensi Nasional Autisme I, Rabu (2/7), Shattock


menguraikan metodenya yang terdiri dari tiga tahap.

"Ibarat proses perdamaian di Irlandia Utara," ujar Shattock.

Tahap pertama adalah gencatan senjata. "Senjata" yang harus dilucuti adalah
kasein (protein susu) dan gluten (protein gandum/tepung terigu). Pasalnya,
hasil pemeriksaan menunjukkan 95 persen anak autis alergi terhadap kasein
dan gluten. Pengurangan dilakukan bertahap untuk mencegah efek samping yang
berat. Kasein dalam tiga minggu, gluten dalam tiga bulan.

Selanjutnya, tahap perundingan awal berupa pembuatan catatan harian untuk


melihat makanan apa saja yang mempengaruhi perilaku anak selain kasein dan
gluten. Misalnya telur, kacang tanah, kedelai, jagung.

Melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar vitamin, mineral,


asam amino serta jenis alergi anak. Biasanya anak autis mengalami kekurangan
vitamin B1, seng, magnesium, kalsium dan selenium. Jika ada kekurangan
diberi suplemen.

Selain itu diperiksa ada tidaknya mikroorganisme dalam usus, seperti jamur,
bakteri aerob maupun anaerob. Jika ada dibasmi dengan antijamur dan
antibiotik.

Langkah ketiga, membangun kembali secara aktif. Antara lain memperbaiki


kekurangan sulfat. Kekurangan sulfat menyebabkan perlindungan dinding usus
kurang sempurna, permeabilitasnya tinggi sehingga racun mudah masuk ke
aliran darah serta mengganggu fungsi tubuh. Cara memperbaiki, anak berendam
di garam sulfat (Epsom salt) atau diberi methylsulfonylmethane (MSM).

Selain itu pengaktifan enzim dengan betain hydrochloride (TMG), pemberian


asam lemak tak jenuh seperti evening primrose oil, minyak ikan, minyak hati
ikan serta minyak biji rami. Juga pemberian asam amino glutamin untuk
memperkuat kekebalan tubuh, memperbaiki dinding usus yang kurang sehat,
meningkatkan fungsi mental serta memperbaiki otot-otot kerangka. Anak yang
diterapi menunjukkan perbaikan signifikan.
Dalam sesi kedua, dr Melly Budhiman SpKJ memaparkan hasil pemeriksaan tahun
2001-2002 terhadap 120 anak Indonesia berusia 1-10 tahun yang menderita
autis.

Hasilnya, 120 anak mengalami alergi pelbagai makanan (multiple food


allergy), 118 anak alergi susu sapi dan makanan lain, 112 anak alergi gluten
dan makanan lain. Makanan lain yang sering menimbulkan alergi adalah telur,
kacang tanah, kedelai dan ikan laut.

Pemeriksaan urin dan tinja menunjukkan kadar metabolit jamur dan bakteri
yang tinggi. Kadar peptida dari kasein dan gluten dalam urin sebagian besar
anak juga sangat tinggi.

Rambut anak-anak autis mengandung logam berat seperti antimoni (Sb), arsen
(As), kadmium (Cd), merkuri (Hg) dan timbal hitam (Pb) dalam kadar tinggi.
Logam berat itu berasal dari bahan kimia dalam kain, karpet, pestisida, asap
rokok, limbah cair industri, asap buangan kendaraan bermotor.

Konferensi yang berlangsung 2-4 Juli diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter


Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi)
menghadirkan narasumber dalam dan luar negeri. (ATK)

----- Original Message -----


From: "Davy Prakoso" <davy.prakoso@...>
To: <dokter_umum@yahoogroups.com>
Sent: Saturday, December 06, 2003 2:41 PM
Subject: [Dokter Umum] Apa itu autis?