Você está na página 1de 5

ANALISA INVESTASI ASET

1. Pengertian Investasi

Defenisi investasi menurut PSAK adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk
pertumbuhan kekayaan (accreation of wealth) melalui distribusi hasil investasi seperti bunga,
royalti, dividen dan uang sewa, untuk apreasiasi nilai investasi atau untuk manfaat lain bagi
perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan
perdagangan. Investasi dapat juga dianggap sebagai pemanfaatan surplus kas untuk
memperoleh pendapatan dalam jangka panjang dan memanfaatkan dana yang belum
digunakan untuk investasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas. Perlakuan akuntansi
untuk investasi dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya diatur dalam PSAK 13.

2. Klasifikasi Investasi

Investasi dibagi menjadi dua yaitu investasi jangka panjang dan investasi jangka pendek.
Investasi jangka panjang merupakan kelompok aset nonlancar dan investasi jangka pendek
merupakan kelompok investasi lancar.

1. karakteristik Investasi jangka sebagai berikut:

a. Dapat segera diperjualbelikan/dicairkan.


b. Investasi tersebut ditujukan dalam rangka manajemen kas, artinya pemerintah dapat
menjual investasi tersebut tanpa timbul kebutuhan kas.
c. Berisiko rendah.

2. Pengertian Investasi Jangka Panjang

Investasi jangka panjang adalah penanaman dana untuk jangka waktu lebih dari satu tahun,
pada umumnya jauh lebih lama dari itu, dengan tujuan untuk memberikan penghasilan tetap
atau menguasai perusahaan lain. Perusahaan melakukan investasi dengan alasan yang
berbeda-beda. Bagi beberapa perusahaan, aktivitas investasi merupakan unsur penting dari
operasi perusahaan, dan penilaian kinerja perusahaan mungkin sebagian besar, atau
seluruhnya bergantung pada hasil yang dilaporkan mengenai aktivitas ini. Beberapa
perusahaan melakukan investasi sebagai cara untuk menempatkan kelebihan dana dan
beberapa perusahaan lain melakukan perdagangan investasi untuk mempererat hubungan
bisnis atau memperoleh suatu keuntungan perdagangan

3. Jenis-jenis Investasi Jangka Panjang

a. Aset Riil

Aset riil merupakan aset yang memiliki wujud. Misalnya yaitu tanah, emas, rumah, dan
logam mulia yang lain. Berinvestasi di aset riil merupakan hal yang umum dilakukan.
Misalnya Banu membeli rumah, dan kemudian menyewakannya kepada pihak lain sehingga
memperoleh pendapatan setiap bulan. Belum lagi ketika rumah itu selesai disewa dan
harganya naik, Banu bisa menjualnya dan memperoleh keuntungan. Banu akan memperoleh
banyak keuntungan dari hasil investasi di aset riil ini. Meskipun harganya bisa naik-turun,
tetapi dalam jangka panjang nilainya cenderung akan semakin meningkat.
b. Aset Finansial

Aset finansial yaitu aset yang wujudnya tidak terlihat, tetapi tetap memiliki nilai yang cukup
tinggi. Pada umumnya aset finansial ini terdapat di dunia perbankan dan juga di pasar modal.
Di Indonesia dikenal dengan Bursa Efek Indonesia. Beberapa contoh dari aset finansial
misalnya instrumen pasar uang, saham, reksa dana dan obligasi

4. Menurut sifat penanaman investasinya, investasi jangka panjang dibagi menjadi dua,
yaitu:

a. Investasi Permanen

Merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan,
tidak untuk diperjualbelikan, tetapi untuk mendapatkan dividen atau pengaruh yang
signifikan dalam jangka panjang. Investasi permanen terkadang juga dilakukan untuk
menjaga hubungan kelembagaan. Investasi permanen ini dapat berupa:

1. Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/daerah, badan internasional,


dan badan usaha lainnya yang bukan milik negara. Penyertaan modal dapat berupa
surat berharga (saham) pada suatu perseroan terbatas (PT) dan nonsurat berharga,
yaitu kepemilikan modal bukan dalam bentuk saham pada perusahaan yang bukan
perseroan.
2. Investasi permanen lainnya untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat.

b. Investasi Nonpermanen

Merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak
berkelanjutan. Investasi nonpermanen yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain dapat
berupa:

1. Pembelian obligasi atau surat kewajiban jangka panjang yang dimaksudkan untuk
dimiliki sampai dengan tanggal jatuh temponya oleh pemerintah.
2. Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada pihak
ketiga.
3. Dana yang disisihkan pemerintah dalam rangka pelayanan masyarakat, seperti
bantuan modal kerja secara bergulir kepada kelompok masyarakat.
4. Investasi nonpermanen lainnya, yang sifatnya tidak dimaksudkan untuk dimiliki
pemerintah secara berkelanjutan, seperti penyertaan modal yang dimaksudkan untuk
penyehatan/penyelamatan perekonomian6.

B. Metode Penilaian Investasi

Menentukan investasi jangka panjang, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Karena
dalam investasi jangka panjang penentuan guna melakukan sebuah investsi merupakan hal
yang perlu dipertimbangkan lebih dahulu. Adapun metode-metode analisis yang digunakan
untuk menentukan layak tidaknya suatu investasi adalah sebagai berikut :
a. Payback Period

Payback Period merupakan salah satu metode perhitungan capital budgeting yang relatif
sederhana. Menurut arifin dan Fauzi (1999;12) bahwa: metode ini merupakan penentuan
jangka waktu yang dibutuhkan unutk menutup initial invesmen dari suatu proyek dengan
menggunakan cash inflow yang dihasilkan dari proyek tersebut. Sedangkan menurut Usnan
(1994:208) bahwa: Payback Period metode yang mengukur seberapa cepat investasi bisa
kembali dalam satuan tahun.

Dari kedua pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Payback Period ialah waktu yang
diperlukan (dalam satuan tahun) untuk mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh
penanam modal berdasarkan cash inflow yang dihasilkan suatu proyek.

Cara untuk mengambil keputusan dengan metode ini ialah dengan membandingkan Payback
Period investasi yang diusulkan dengan umur ekonomis aktiva, apabila payback period lebih
pendek dari umur ekonomisnya maka rencana investasi dapat diterima, serta sebaliknya7.
Rumus yang digunakan : Payback Period : Nilai InvestasiKas Masuk Bersih X 1 Tahun8.

b. Metode Internal Rate Of Return (IRR)

Metode ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari
arus kas yang diharapkan dimasa akan datang, atau penerimaan kas, dengan pengeluaran
investasi awal. IRR dapat didefinisikan sebagai tingkat bunga yang akan menyamakan
present value cash inflow dengan jumlah initial invesmen dari proyek yang sedang dinilai.
Dengan kata lain, IRR adalah tingkat bunga yang akan menyebabkan NPV sama dengan nol,
karena present value cash inflow pada tingkat bunga tersebut akan sama dengan initial
invesmen. Suatu usulan proyek investasi akan diterima jika IRR lebih besar cost of capital
dan akan ditolak jika IRR lebih kecil cost of capital10.

c. Metode Net Present Velue (NPV)

Merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan
menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor, atau dengan kata lain
merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskontokan pada
saat ini. Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya
operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan.
Jadi perhitungan NPV mengandalkan pada teknik arus kas yang didiskontokan.

Menurut kasmir (2003:157) Net Present Value merupakan perbandingan antara PV kas bersih
dengan PV Investasi selama umur investasi. Sedang menurut Ibrahim (2003:142) Net Present
VaLlue (NPV) merupakan net benefit yang telah didiskon dengan menggunakan social
opportunity cost of capital (SOCC) sebagai discount factor11. Dan untuk menghitung nilai
sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan.

d. Metode Profitability Index (PI)

Pemakaian metode Profitability Index ini caranya adalah dengan menghitung melalui
perbandingan antara nilai sekarang (Present Value) dari rencana penerimaan-penerimaan kas
bersih dimasa yang akan datang dengan nilai sekarag (Present Value) dari ivestasi yang telah
dilaksanakan. Jadi, profitability index dapat dihitung dengan membandingkan antara PV kas
masuk dengan PV kas keluar.

D. Biaya Investasi

Biaya perolehan suatu investasi mencakup biaya perolehan lain disamping harga beli, seperti
komisi broker, jasa bank, dan pungutan oleh bursa efek. Jika suatu atau sebagian investasi
diperoleh dengan penerbitan saham atau surat berharga lain, maka biaya perolehannya adalah
nilai wajar dari surat berharga yang diterbitkan dan bukan nilai nominal atau value. Jika suatu
atau sebagian investasi diperoleh dengan pertukaran dengan aktiva lain, biaya perolehan
investasi tersebut ditentukan dengan mengacu pada nilai wajar dari aktiva yang diserahkan
atau dapat juga menggunakan nilai wajar dari aktiva yang diperoleh apabila dianggap lebih
andal berdasarkan data/bukti yang tersedia.

Piutang, bunga, royalti, dividen dan sewa sehubungan dengan suatu investasi secara umum
dianggap sebagai penghasilan (return) investasi tersebut. Tetapi dalam keadaan tertentu arus
masuk seperti dapat merupakan suatu pemulihan biaya dan tidak merupakan penghasilan.
Misalnya jika bunga yang dibayar telah diakrual sebelum pembelian investasi yang berbunga
dan oleh karena itu dimasukkan dalam biaya perolehan yang dibayar untuk investasi tersebut,
penerimaan berikutnya dari bunga dialokasikan antara periode sebelum dan sesudah
pembelian, bagian sebelum pembelian dikurangi dari biaya perolehan. Jika deviden
dideklarasikan dari laba praakuisisi, maka dividen praakuisisi tersebut dikurangkan dari biaya
perolehan.

Perbedaan antara biaya perolehan dan nilai penebusan (redemption value) suatu investasi
dalam sekuritas hutang (diskonto atau premi pada pembelian) biasanya diamortisasi oleh
investor selama periode dari pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga hasil yang konstan
(constant yield) diperoleh dari investasi tersebut. Diskonto atau premi yang diamortisasi
tersebut dikreditkan atau dibebankan pada penghasilan bunga, dan sehingga merupakan
penambahan atau pengurangan dari nilai tercatat sekuritas (carrying value) tersebut. Nilai
tercatat yang dihasilkan, selanjutnya dianggap sebagai harga perolehan14.

E. Nilai Tercatat Investasi

1. Investasi jangka pendek (investasi lancar)

Terdapat pendapat berbeda mengenai nilai tercatat yang tepat untuk investasi lancar. Ada
yang menekankan bahwa untuk laporan keuangan yang dipersiapkan menurut biaya
perolehan aturan umum tentang biaya dan nilai bersih yang direalisasi yang mana yang lebih
rendah dapat diterapkan pada investasi, dan karena kebanyakan investasi lancar dapat
dipasarkan, nilai tercatatnya adalah biaya atau nilai pasar mana yang lebih rendah. Dengan
kata lain metode ini memberikan nilai neraca yang wajar (prudent) dan tidak menyebabkan
pengakuan keuntungan yang tidak direalisasi dalam penghasilan.

Pendapat lain mengenai investasi lancar yang merupakan subtitusi kas adalah menilainya
dengan nilai wajar, yakni dengan nilai pasar. Perusahaan tidak memperhatikan unsur harga
perolehan melainkan kas yang dapat diperoleh dengan menjualnya kembali. Persediaan
dengan investasi lancar merupakan hal yang berbeda. Investasi lancar dapat dengan mudah
dijual sedangkan laba tidak dapat diakui sebelum penjualan persediaan dipastikan.
Perhatian perusahaan biasanya langsung pada nilai keseluruhan dari portofolio investasi
lancar, dan bukan pada investasi individual, karena investasi tersebut dimiliki secara kolektif
sebagai tempat penyimpanan kekayaan. Maka sejalan dengan pandangan ini, investasi dicatat
pada biaya atau nilai pasar yang mana yang lebih rendah dinilai pada suatu portofolio
agregat, dalam total atau dengan kategori investasi, dan tidak pada basis investasi individual.
Namun, ada juga yang berpendapat bahwa penggunaan dasar portofolio menghasilkan
kerugian yang dikompensasi dengan keuntungan yang tidak direalisasi15.

2. Investasi Jangka Panjang

Investasi jangka panjang biasanya dicatat pada biaya perolehan. Tetapi jika terjadi penurunan
yang tidak bersifat sementara dalam penilaian investasi jangka panjang tersebut, nilai tercatat
dikurangi untuk mengakui penurunan tersebut. Indikator nilai suatu investasi dapat diperoleh
dengan mengacu pada nilai pasarnya, aktiva dan kinerja investasi serta arus kas yang
diharapkan dari aktivitas tersebut. Resiko dan jenis serta penyertaan (stake) investor pada
investasi juga diperhitungkan. Pembatasan distribusi oleh investasi tersebut atau pelepasan
investasi oleh investor mungkin mempengaruhi investasi. Contoh : pembayaran dividen atau
pembayaran kembali investasi.

Banyak investasi jangka panjang yang secara individual penting bagi perusahaan yang
melakukan investasi. Nilai tercatat dari investasi jangka panjang karenanya, biasanya
ditentukan secara individual. Namun, dari beberapa negara, sekuritas ekuitas mudah
dipasarkan yang diklasifikasikan sebagai investasi jangka panjang dapat dinilai menurut yang
terendah antara biaya dan nilai pasar yang ditentukan pada basis portofolio. Dalam hal ini,
penurunan sementara dan pemulihan atas penurunan tersebut dimasukkan dalam ekuitas.

Penurunan selain penurunan sementara dalam nilai tercatat investasi jangka panjang
dibebankan pada laporan laba rugi. Penurunan nilai tercatat dapat dipulihkan jika selanjutnya
terdapat kenaikan dalam nilai invetasi tersebut, atau jika alasan penurunan tersebut tidak
relevan lagi. Pemulihan tersebut tidak boleh menyebabkan nilai investasi melebihi biaya
perolehannya semula (original cost).

Investasi properti lazim dicatat sebagai investasi jangka panjang kecuali apabila dimaksudkan
untuk dimiliki dalam waktu satu tahun atau kurang. Investasi properti tidak boleh disajikan
sebagai bagian dari aktiva tetap dan tidak boleh disusutkan