Você está na página 1de 2

Pendahuluan:

Sebagaimana yang telah kita ketahui fenomena pada zaman ini, banyak dari peserta didik
yang berbasiskan agama Islam sangatlah bertolak belakang dengan apa-apa yang telah mereka
pelajari di dalam kelas, hal itu dapat dilihat dalam tingkah laku keseharian mereka yang tidak
mencerminkan dengan apa yang telah mereka pelajari didalam sekolahan yang menimbulkan
ketidak percayaan orang tua murid terhadap guru pengajar pelajaran agama di sekolahan
tersebut. Dikarenakan anak-anak mereka masih kurang perhatian dalam pelajaran di sekolah, hal
ini lah yang sering dieluhkan para guru terhadap peserta didik seperti penggunaan gejed yang
berlebihan hingga tidak tahu waktu dalam kedaan belajar dan mengajar. Sudah banyak sekali
guru yang memperingatkan muridnya tentang penggunaan gejed yang tidak pada waktunya..
Dari sinilah penegasan disiplin terhadap murid- murid agar ditimbulkan, akan tetapi hal
yang bersifat disiplin sangat ditakutkan oleh orang tua murid, karena banyaknya contoh penegak
disiplin di sekolah yang selalu dipojokkan dengan kasus-kasus pemukulan, pencubitan,dll.
Sehingga disiplin yang seharusnya diterapkan di sekolahan menjadi tidak terlaksana karena
adanya bayang-bayang orantua murid yang takut terhadap disiplin yang menimbulkan kontak
fisik antara guru dan murid. Dari beberapa kasus yang terjadi banyak yang berpendapat
bahwasannya disiplin bersifat keras dan tidak mendidik bagi para peserta didik saat ini.
Akan tetapi bukan hanya murid saja yang dapat mengagalkan proses Pendidikan agama
melainkan guru merupakan salah satu factor penyebabnya. Hal ini dapat kita lihat dalam cara
mendidik seorang guru di sekolahan, kebanyakan dari mereka hanya mengajarkan teori saja dan
tidak memikirkan tingkahlaku muridnya di luar sekolah. Maka dari itu diperlukannya kerja sama
antara guru dengan orang tua murid agar terlaksananya proses Pendidikan agama secara baik dan
benar.
Adapun kerja sama antara guru dengan orang tua murid merupakan kebijakan yang
kurang efektif dikarenakan banyak dari orang tua murid yang tidak sepemikiran guru di
sekolahan. Secara tidak langsung guru dituntut untuk memiliki kreatifitas dalam memdidik
sehingga peserta didik dapat menerima pembelajaran Pendidikan agama, maupun penerapan
dalam lingkungan di luar sekolah. Guru yang memiliki kretifitas dapatlah memberikan
bimbingan belajar kepada peseta didiknya agar dapat menerima kegitan belajaran dengan
sungguh-sungguh yang akhirnya memberikan manfaat kepadanya.
Adapun hal-hal yang harus di miliki guru kreatif adalah memberikan kesenangan dalam
belajar, kenyamanan, dan dapat mengembangkan ketrampilan peserata didik yang sulit untuk
ditumbuhkan, maka dari itulah guru kreatif menjadi pengembang keterampilan yang dimiliki
peserta didik
Maka dari itu peran guru kreatif sangat dibutuhkan untuk mensukseskan Pendidikan
agama khususnya di Indonesia, di karenakan mayoritas penduduk Indonesia menganut agama
Islam yang kebanyakan dari mereka hanya menganut agama islam tapi tidak memahami dengan
sebenar-benarnya agama islam tersebut, dan disinilah peranan guru kreatif dalam mengajari
peserta didiknya dengan berbgai hal ataupun cara, agar peserta didiknya dapat memahami
pelajaran dengan sungguh-sungguh serta mengimplementasikannya dalam keseharian.
PERBANDINGAN PESERTA DIDIK