Você está na página 1de 5

MITIGASI BENCANA BANJIR PADANG, SUMBAR

Pendekatan Non Struktural: sosialisasi


Oleh: Pusva Juwita

Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan pelaksanaan tindakan-

tindakan untuk mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang

dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan

pengurangan resiko jangka panjang.

Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dengan

memperkuat bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena bencana, seperti

membuat kode bangunan, desain rekayasa, dan konstruksi untuk menahan serta

memperkokoh struktur ataupun membangun struktur bangunan penahan longsor,

penahan dinding pantai, dan lain-lain. Selain itu upaya mitigasi juga dapat

dilakukan dalam bentuk non struktural, diantaranya seperti menghindari wilayah

bencana dengan cara membangun menjauhi lokasi bencana yang dapat diketahui

melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan memberdayakan

masyarakat dan pemerintah daerah.

Bencana banjir baru-baru ini telah terjadi di padang, sumatera barat dan

menewaskan satu korban jiwa. Selain itu ribuan rumah warga terendam dengan

ketinggian air 50-140centimeter. Kebiasaan menebang hutan masyarakat menjadi

salah satu faktor penyebab terjadinya luapan air. Karena hutan di padang sudah

tidak lagi berkualitas. Fakta menunjukan bahwa hutan di padang sudah jauh dari

kualitas standarnya, banyak sekali area hutan yang gundul dikarenakan

penebangan, alih fungsi lahan hutan menjadi perrtanian. Sehingga bencana banjir

tidak dapat dielakan.


Banjir adalah meluapnya air dari saluran dan menggenangi kawasan

sekitarnya. Sembilan puluh persen dari kejadian bencana alam berhubungan

dengan banjir. Ada dua jenis banjir, yaitu banjir bandang (kiriman) dan banjir

pasang surut.

Adapun beberapa penyebab terjadinya banjir, adalah :

1. Hujan dalam jangka waktu yang panjang atau besarnya curah hujan selama

berhari-hari.

2. Erosi tanah menyisakan batuan yang menyebabkan air hujan mengalir

deras di atas permukaan tanah tanpa terjadi resapan.

3. Buruknya penanganan sampah yang menyumbat saluran-saluran air

sehingga tubuh air meluap dan membanjiri daerah sekitarnya.

4. Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi

jalan atau tempat parkir yang menyebabkan hilangnya daya serap air

hujan. Pembangunan tempat permukiaman bisa menyebabkan

meningkatnya resiko banjir sampai 6 kali lipat dibandingkan tanah terbuka

yang biasanya mempunyai daya serap air tinggi. Masalah ini sering terjadi

di kota-kota besar yang pembangunannya tidak terencana dengan baik.

Peraturan pembuatan sumur resapan di daerah perkotaan kurang diawasi

pelaksanaannya.

5. Bendungan dan saluran air yang rusak, walaupun tidak sering terjadi,

namun bisa menyebabkan banjir terutama pada saat hujan deras yang

panjang.

6. Keadaan tanah dan tanaman, tanah yang ditumbuhi banyak tanaman

mempunyai daya serap air yang besar. Tanah yang tertutup semen, paving,
atau aspal sama sekali tidak menyerap air. Pembabatan hutan juga dapat

merupakan penyebab banjir.

7. Di daerah bebatuan, daya serap air sangat kurang sehingga bisa

menyebabkan banjr kiriman atau banjir bandang.

Dampak banjir adalah tersebarnya berbagai penyakit disebabkan oleh

penggunaan air yang digunakan masyarakat baik air minum maupun air sumur

yang telah tercemar oleh air banjir. Air banjir membawa banyak bakteri, virus,

parasit dan bibit penyakit lainnya, termasuk juga unsur-unsur kimia yang

berbahaya. Umumnya, penyakit yang sering terjadi adalah diare dan penyakit

yang disebabkan oleh nyamuk/serangga, seperti Demam Berdarah, Malaria, dll.

Sehingga dibutuhkan upaya untuk mengurangi resiko terjadinya banjir yaitu salah

satunya dengan cara pendekatan non struktural melalui pengupayaan kepada

kesadaran masyarakat untuk memahami bencana dan dampak yang akan terjadi.

Misalnya dengan upaya mengenalkan pada masyarakat tentang penyebab banjir

seperti curah hujan serta adanya sumbatan air sungai dll. Selain itu bisa mengajak

masyarakat untuk ikut serta membersihkan lingkungan sekitar terutama di saluran

air atau selokan, dari timbunan sampah, membangun koordinasi yang baik demi

kesiapsiagaan sebelum bencana datang. Yang sangat penting yaitu adanya ikatan-

ikatan sosial bersama (common ties) yang membentuk jejaring social (social

networking) yang dibangun oleh anggota komunitas. Dalam hal tertentu jejaring

social tersebut membantu individu tertentu untuk secara mudah menemukan cara

mempertahankan hidup. Setelah mengetahui bahaya-bahaya serta penyebab

terjadinya banjir maka mitigasi berbasis masyarakat bisa dijalankan untuk


mengurangi dampak yang diakibatkan oleh banjir. Terutama daerah rawan

bencana seperti di Padang, Sumatera Barat.

Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki tiga unsur utama, yaitu

penilaian bahaya, peringatan dan persiapan.

1. Penilaian bahaya (hazard assestment); diperlukan untuk mengidentifikasi

populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman. Penilaian ini

memerlukan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas

kejadian bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Tahapan ini

menghasilkan Peta Potensi Bencana yang sangat penting untuk merancang

kedua unsur mitigasi lainnya.

2. Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada

masyarakat tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya tsunami

yang diakibatkan oleh gempa bumi, aliran lahar akibat letusan gunung berapi,

dsb). Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai

peringatan dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk

memberikan pesan kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat.

Peringatan terhadap bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan

secara cepat, tepat dan dipercaya.

3. Persiapan (preparedness). Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur

mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan

pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan

pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus

melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman.
Tugas Disaster

Tentang Mitigasi Bencana Banjir Padang, Sumbar


Pendekatan Non Struktural: Sosialisasi

OLEH

Pusva juwita
Nim : 20151660017

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2016