Você está na página 1de 145

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

LAPORAN MAGANG

IMPLEMENTASI HIPERKES DAN KESELAMATAN


KERJA SERTA LINGKUNGAN DI
PT. KRAKATAU STEEL
CILEGON

Anisa Dyah Kusumawardhani


R.0009014

PROGRAM DIPLOMA III HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
commit to user
2012
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat,
karunia, kesehatan, kekuatan dan kemudahan dalam pelaksanaan magang serta
penyusunan laporan magang dengan judul ”Implementasi Hiperkes dan
Keselamatan Kerja serta Lingkungan di PT. Krakatau Steel Cilegon”.
Laporan ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Program
D.III Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Di samping itu magang ini dilaksanakan untuk menambah
wawasan guna mengenal, mengetahui dan memahami mekanisme serta
problematika yang ada mengenai penerapan keselamatan dan kesehatan kerja serta
lingkungan hidup di perusahaan.
Dalam pelaksanaan magang dan penyusunan laporan ini penulis telah
dibantu dan dibimbing oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankan penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Zainal Arifin Adnan, dr. Sp.PD-KR-FINASIM, selaku
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Sumardiyono, SKM., M.Kes selaku Ketua Program Studi Diploma III
Hiperkes dan Keselamatan Kerja Universitas Sebelas Maret Surakarta
sekaligus pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam
penyusunan laporan ini.
3. Ibu Dra. Cr. Siti Utari, M.Kes selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan dan saran dalam penyusunan laporan ini.
4. Ibu Reni Wijayanti, dr. M.Sc. selaku penguji yang telah menguji dan
memberikan masukan demi perbaikan laporan ini.
5. Bapak Awang Yudha Irianto, Selaku Superintendent sekaligus Pembimbing
Utama yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan
laporan ini.
6. Bapak Kornelis selaku Training Koordinator Divisi HSE yang telah
memberikan ijin untuk pelaksanaan magang ini serta membantu Penulis dalam
memberikan gambaran tentang SMK3.
7. Bapak Nurkadi, Bapak Yohanes, dan Bapak Syarbini, Bapak Didi selaku
Supervisor dan Bapak Freddy Cahyo sebagai Pembimbing Lapangan yang
telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan laporan ini.
8. Bapak M. Ichsan dan Bapak Subiyarman yang telah memberikan banyak
pengetahuan dan pengalaman tentang boiler.
9. Bapak Sunardi, Ibu Esti, Mbak Esti, Mas Ade Rizal, Mas Rian, dan Mas Eko
yang telah banyak membantu dan memberikan pengetahuan serta pengalaman
tentang laboratorium lingkungan.
10. Bapak Nugroho atas ilmu yang diberikan kepada Penulis tentang radiasi.
11. Bapak Triyoso atas ilmu yang diberikan kepada Penulis tentang crane.
12. Bapak Yusuf atas ilmu yang diberikan kepada Penulis mengenai pengendalian
lingkungan.
commit to user

iv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

13. Mas Uus Syauqi, Bapak Prabowo, Bapak Hartono, Bapak Bachruddin yang
banyak memberikan bantuan kepada Penulis selama magang.
14. Bapak, Ibu, Adikku tercinta serta keluargaku semuanya, yang tidak henti-
hentinya memberikan curahan do’a dan kasih sayang kepada penulis sehingga
penulis mampu menyelesaikan semua masalah yang Penulis hadapi.
15. Sahabat-sahabatku Anindyah, Ritma, Syara, Novalia, Tina, Junita, Stevina,
Wuri, Adi, Yogi, Amin, Setyono, Lutfi, Adin dan Yudha yang selalu
memberikan dukungan dan semangat kepada Penulis.
16. Ajeng Ayu Vidyasari dan Setyaning Dwi Murwani sebagai tim prakerin
selama magang, terimakasih untuk kerjasamanya.
17. Teman-temanku seperjuangan Angkatan 2009, terima kasih atas dukungan dan
kerjasamanya. Semoga kekompakan kita terus terjaga.
18. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini yang
tidak bisa Penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih sangat jauh dari
sempurna sehingga Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca sehingga dapat dijadikan masukan di waktu mendatang.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat
bagi kita semua, khususnya mahasiswa Program D.III Hiperkes Dan Keselamatan
Kerja untuk menambah wawasan yang berkaitan dengan keselamatan dan
kesehatan kerja serta lingkungan hidup di perusahaan.

Cilegon, Mei 2012

Penulis,

Anisa Dyah K

commit to user

v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN ........................................ iii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iv
DAFTAR ISI .............................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ...................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Tujuan Magang ..................................................................... 4
C. Manfaat Magang .................................................................... 5
BAB II METODE PENGAMBILAN DATA ........................................ 7
A. Persiapan ............................................................................... 7
B. Lokasi .................................................................................... 8
C. Pelaksanaan ........................................................................... 8
BAB III HASIL MAGANG ..................................................................... 10
A. Gambaran Umum Perusahaan .............................................. 10
B. Proses Produksi ..................................................................... 16
C. Higiene Perusahaan ............................................................... 24
D. Kesehatan Kerja .................................................................... 32
E. Keselamatan Kerja ................................................................. 54
F. Ergonomi .............................................................................. 74
G. Manajemen K3 ...................................................................... 76
H. Lingkungan ........................................................................... 91
I. Laboratorium Lingkungan .................................................... 99
BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................ 105
A. Higiene Perusahaan ............................................................... 105
B. Kesehatan Kerja .................................................................... 115
C. Keselamatan Kerja ................................................................ 118
D. Ergonomi ............................................................................... 127
E. Manajemen K3 ...................................................................... 128
F. Lingkungan ........................................................................... 130
G. Laboratorium Lingkungan .................................................... 131
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 133
A. Simpulan ............................................................................... 133
B. Saran ...................................................................................... 136
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 137
LAMPIRAN

commit to user

vi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Distribusi Air Minum Dispenser di Setiap Unit Kerja ............... 52

commit to user

vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses Produksi Pabrik Besi Spons ............................................. 18

Gambar 2. Proses Produksi Pabrik Billet Baja ............................................. 19

Gambar 3. Proses Produksi Pabrik Slab Baja ............................................... 20

Gambar 4. Produksi Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Panas ................... 21

Gambar 5. Produksi Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Dingin .................. 22

Gambar 6. Proses Pabrik Batang Kawat ....................................................... 23

Gambar 7. Bagan Stuktur Organisasi HSE .................................................. 82

Gambar 8. Struktur P2K3 Pusat ................................................................... 84

Gambar 9. Struktur Sub P2K3 ..................................................................... 85

Gambar 10. Bagan Implementasi SMK3 & SML ISO 14001 ..................... 91

commit to user

viii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Magang di PT. Krakatau Steel

Lampiran 2. Pedoman Tanggap Darurat di PT. Krakatau Steel

Lampiran 3. Laporan Hasil Pengujian Laboratorium Lingkungan

Lampiran 4. Ijin Kerja Berbahaya

Lampiran 5. Kebijakan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Lampiran 6. Limbah B3 di PT. Krakatau Steel

Lampiran 7. Limbah Non B3 di PT. Krakatau Steel

Lampiran 8. Permit/Surat Izin Pelaksanaan Kerja

Lampiran 9. Peta Sistem Pemantauan & Pengendalian Lingkungan Sekitar

Kawasan KIEC

Lampiran 10. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat di PT. Krakatau Steel

Cilegon

Lampiran 11. Uraian Tugas Tim Tanggap Darurat

Lampiran 12. Bagan Struktur Organisasi PT. Krakatau Steel

Lampiran 13. ISO 14001:1996 Certification

commit to user

ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Tarwaka (2008), dalam era globalisasi dengan pesatnya

kemajuan di bidang teknologi telekomunikasi dan transportasi, dunia seakan

tanpa batas dan jarak. Dengan demikian pembangunan sumber daya manusia

menjadi sangat penting, terlebih lagi dengan diberlakukannya perdagangan

bebas yang berarti semua produk-produk yang dihasilkan oleh industri kita

harus memenuhi standar kualitas yang disepakati oleh dunia internasional.

Oleh karena itu dunia industri kita harus cerdas dan cepat mengambil

langkah-langkah untuk mengantisipasi perkembangan teknologi tersebut agar

semua produk yang dihasilkan mempunyai daya saing di pasar bebas.

Kemajuan teknologi telah banyak menyumbangkan berbagai hal positif

dalam pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial di dunia industri.

Perkembangan teknologi telah mengangkat standar hidup manusia dan

mengurangi sumber kecelakaan, cedera dan stress akibat kerja. Namun

demikian, di sisi lain kemajuan teknologi juga mengakibatkan berbagai

dampak yang merugikan yaitu berupa terjadinya peningkatan pencemaran

lingkungan, kecelakaan kerja dan timbulnya berbagai macam penyakit akibat

kerja. Kompleknya teknologi modern, perubahan bentuk kerja, organisasi

kerja, dan sistem produksi juga menempatkan suatu tuntutan yang tinggi pada

daya kerja. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka implementasi


commit to user

1
perpustakaan.uns.ac.id 2
digilib.uns.ac.id

peningkatan kinerja K3 adalah suatu keharusan. Sehingga, setiap

pengembangan dan penggunaan teknologi baru dapat diterima dan

menguntungkan semua pihak.

Bukan hanya K3, implementasi yang baik dan benar dari Higiene

Perusahaan dan Kesehatan Kerja juga merupakan suatu kebutuhan dan

keharusan. Menurut Suma’mur (1996), Higiene Perusahaan dan

Kesehatan Kerja sebagai suatu istilah yang memiliki satu kesatuan

pengertian, adalah terjemahan resmi dari “Occupational Health”, yang

cenderung diartikan sebagai lapangan kesehatan yang mengurusi

problematik kesehatan secara menyeluruh daripada tenaga kerja.

Menyeluruh berarti usaha-usaha kuratif, preventif, penyesuaian faktor

manusiawi terhadap pekerjaannya dan hygiene, dan lain-lain.

Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja mempunyai maksud dan

tujuan yang sangat mulia, yaitu menurut Suma’mur (1996) :

1. Untuk memelihara dan meninggikan kesehatan tenaga kerja sebagai

salah satu unsur sangat penting dari kesejahteraan, dan

2. Untuk meningkatkan kegairahan kerja, effisiensi, produktivitas, dan

moril kerja faktor manusia dalam setiap sektor kegiatan ekonomi.

Selaras dengan pasal 27 (2) UUD 1945 yang berbunyi “Tiap-tiap

warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi

kemanusiaan”, maka pemerintah mengeluarkan peraturan melalui UU

No.13 tahun 2003 tentang Ketentuan-ketentuan pokok tentang tenaga

kerja dimana disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 3
digilib.uns.ac.id

mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa

baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat, dan

UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Mahasiswa Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja

secara otomatis perlu mempersiapkan dirinya agar setelah terjun ke dunia

kerja nantinya mampu mengaplikasikan ilmu dan kemampuannya. Salah

satu mediator yang digunakan mahasiswa untuk mencapai tujuan diatas

adalah dengan dilaksanakannya magang.

Kebijakan program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja

Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, kegiatan

magang ini dilaksanakan pada semester VI dengan pertimbangan

mahasiswa telah mendapatkan bekal ilmu yang cukup dari 5 semester

sebelumnya. Kegiatan magang ini juga sekaligus merupakan tugas akhir

bagi mahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan Program Diploma III

Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

Pemilihan kawasan industri Cilegon sebagai lokasi magang

dikarenakan pada kawasan ini terdapat perusahaan-perusahaan yang

dinilai cukup baik bagi mahasiswa untuk menimba ilmu pengetahuan

serta pengalaman-pengalaman magang yang berkenaan dengan Higiene

Perusahaan dan Keselamatan Kerja.

PT. Krakatau Steel adalah salah satu industri baja terkemuka di

Indonesia bahkan di Asia Tenggara adalah alternatif yang dipilih untuk

melaksanakan magang. Sangatlah diyakini bahwa sebagai industri yang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 4
digilib.uns.ac.id

berskala besar pastilah sarat dengan teknologi. Selain itu, PT. Krakatau

Steel dipercaya sebagai perusahaan yang menaruh perhatian besar dalam

bidang Hiperkes dan Keselamatan Kerja serta Lingkungan. Hal yang

telah dilakukan adalah diterapkannya pelaksanaan Keselamatan,

Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) serta telah

menyediakan APD bagi tenaga kerja maupun orang lain yang berada di

tempat kerja, pengadaan pos P3K, training K3, sarana dan prasarana

pengolahan limbah hasil industri, dan masih banyak lagi. Sebuah nilai

penting yang dapat dipelajari dan dijadikan pengalaman selama magang.

B. Tujuan Magang

Tujuan dari pelaksanaan magang ini adalah :

1. Tujuan Umum

a. Untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dari jenjang

pendidikan yang Penulis tempuh yaitu Program D III Hiperkes dan

Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

b. Menciptakan lulusan D III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas

Kedokteran UNS Surakarta yang siap memasuki dunia kerja.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran umum PT. Krakatau Steel.

b. Mengetahui proses produksi di PT. Krakatau Steel.

c. Mengetahui pengelolaan hygiene perusahaan, keselamatan dan


commit to user
kesehatan kerja serta lingkungan di PT. Krakatau Steel.
perpustakaan.uns.ac.id 5
digilib.uns.ac.id

d. Mengetahui pelaksanaan laboratorium lingkungan di PT. Krakatau

Steel.

e. Mengetahui penerapan ergonomi di PT. Krakatau Steel.

f. Mengetahui sistem manajemen K3 di PT. Krakatau Steel.

g. Penulis mampu menerapkan, mengetahui dan juga membandingkan

aplikasi ilmu Hiperkes dan Keselamatan Kerja serta Lingkungan

yang dimiliki dengan ilmu terapan yang ada di tempat magang.

C. Manfaat Magang

Dari pelaksanaan magang yang telah Penulis lakukan diharapkan dapat

memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Mahasiswa

a. Sebagai sarana latihan kerja bagi Penulis dalam bidang Hiperkes

dan Keselamatan Kerja.

b. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang

Hiperkes dan Keselamatan Kerja sekaligus dapat mengaplikasikan

ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam dunia kerja nyata.

2. Perusahaan

Perusahaan memperoleh bantuan dari mahasiswa magang dalam

pengerjaan tugas kantor dan pengerjaan program Hiperkes dan

Keselamatan Kerja serta bisa dijalin kerjasama yang saling

menguntungkan antara perusahaan dengan pihak kampus.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 6
digilib.uns.ac.id

3. Program DIII Hiperkes dan Keselamatan Kerja

a. Meningkatkan kemampuan dan kualitas mahasiswa dalam penerapan

ilmu Hiperkes dan Keselamatan Kerja di dunia kerja.

b. Menambah kepustakaan untuk perkembangan ilmu pengetahuan

dalam bidang Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB II

METODE PENGAMBILAN DATA

A. Persiapan

Pada tahap persiapan ini dilakukan kegiatan administratif di Pusdiklat PT.

Krakatau Steel yang meliputi :

1. Mengajukan permohonan ijin magang ke PT. Krakatau Steel pada bulan

Oktober yang di tujukan ke Pusdiklat PT. Krakatau Steel.

2. Penerimaan surat balasan pernyataan persetujuan magang dari pihak

Pusdiklat PT. Krakatau Steel pada bulan Januari.

3. Pada tanggal 5 Maret 2012, mengurus surat ijin kegiatan magang di

Kantor Divisi Pusdiklat (Human Capital Development Centre) bagian

pengelola kegiatan magang dan PKL bagi mahasiswa. Kemudian

pemberian buku kegiatan magang yang ditandatangani oleh Koordinator

Prakerin dan Riset PT. Krakatau Steel.

4. Tanggal 5 Maret 2012, Pengarahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di

Pusdiklat PT. Krakatau Steel.

Tujuan training K3 :

a. Memberikan pengetahuan mengenai aspek K3 di lingkungan

industri.

b. Mencegah terjadinya kecelakaan akibat kecerobohan praktikan.

commit to user

7
perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

Manfaat training K3 :

a. Mendapatkan gambaran umum kondisi lingkungan kerja PT.

Krakatau Steel.

b. Mendapatkan pengarahan tentang bagaimana berperilaku aman,

nyaman dan selamat di lingkungan kerja.

5. Pada tanggal 6 Maret 2012, pemberian kartu tanda pengenal untuk izin

masuk ke kawasan praktek, beserta pembekalan materi tentang Hiperkes,

Keselamatan Kerja dan Lingkungan, selanjutnya mengikuti evaluasi dari

materi yang telah didapat.

6. Konsultasi Pembimbing Lapangan mengenai jadwal kegiatan selama

magang di PT. Krakatau Steel.

B. Lokasi

Magang ini dilaksanakan di PT. Krakatau Steel yang beralamat di Jl.

Industri No 5 PO. BOX. 14 Cilegon Banten 42435, PT. Krakatau Steel,

Krakatau Industrial Estate Cilegon.

C. Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan magang dilaksanakan dari tanggal 5 Maret 2012

sampai tanggal 1 Mei 2012 dengan kegiatan sebagai berikut :

1. Observasi

Kegiatan observasi dilaksanakan di lapangan kerja PT. Krakatau Steel.

Kegiatan observasi ini meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Pengenalan Lokasi commit to user


perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

1) Profil Perusahaan

2) Proses Produksi

b. Identifikasi dan Pengumpulan Data

1) Higiene Perusahaan

2) Kesehatan Kerja

3) Keselamatan Kerja

4) Ergonomi

5) Pengendalian Lingkungan

6) Laboratorium Lingkungan

7) Manajemen K3

2. Administratif

Kegiatan administratif yang dilaksanakan selama magang di PT.

Krakatau Steel meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Membantu pekerjaan administratif Dinas Hiperkes.

b. Pengambilan data baik primer maupun sekunder.

c. Pengolahan data dan pembuatan laporan sementara.

d. Presentasi.

e. Penyusunan laporan baik untuk PT. Krakatau Steel maupun untuk

Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja FK UNS.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB III

HASIL MAGANG

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Profil PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai Badan Usaha Milik Negara,

merupakan Industri baja terpadu yang didirikan 31 Agustus 1970

mempunyai kapasitas terpasang 2,5 juta ton produk baja lembaran panas,

baja lembaran dingin, dan kawat baja.

PT. Krakatau Steel merupakan industri baja yang berlokasi di

Kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon, Banten, Indonesia yang

menempati area seluas ± 270 Ha. PT. Krakatau Steel berada pada tempat

yang sangat strategis, yaitu berada dekat pelabuhan yang merupakan

sarana transportasi untuk mendapatkan bahan baku dan pendistribusian

produk baik ke dalam negeri maupun ke luar negeri.

PT. Krakatau Steel berada di Kota Cilegon, dimana sebelah utara

terdapat pelabuhan Merak, sebelah barat terdapat pelabuhan Cigading,

sebelah timur dan selatan terdapat Kabupaten Serang, yang semuanya

termasuk ke dalam Provinsi Banten.

PT. Krakatau Steel adalah satu-satunya industri baja terpadu di

Indonesia. Perkembangan Industri baja PT. Krakatau Steel berawal dari

ide seorang Perdana Menteri lr. H. Juanda akan kebutuhan industri besi

baja untuk menunjang pembangunan di negara berkembang seperti


commit to user

10
perpustakaan.uns.ac.id 11
digilib.uns.ac.id

Indonesia. Kemudian pada tahun 1957 dilakukan penelitian awal oleh

Biro Perencanaan Negara yang bekerjasama dengan konsultan asing dan

pada tahun 1960 ditandatangani kontrak pembangunan Pabrik Baja

Cilegon antara Republik Indonesia dengan All Union Export-Import

Corporation (tja-proexpert) of Moscow dengan kontrak No. 080 tanggal

7 juni 1960.

Peresmian pembangunan proyek besi baja Trikora Cilegon dilakukan

tanggal 20 Mei 1962. Direncanakan proyek tersebut selesai sebelum

tahun 1968, namun proyek ini terhenti pada tahun 1965 akibat

pergolakan politik dan revolusi nasional. Pada tahun 1970, pemerintah

Indonesia kembali mengadakan survei lapangan tentang kelanjutan

pembangunan Pabrik Baja Trikora. Dari hasil survei disimpulkan bahwa

Pembangunan Pabrik Baja Trikora akan dilanjutkan. Keputusan ini

diambil dengan pertimbangan kebutuhan akan besi baja di dalam negeri

setiap tahunnya yang semakin meningkat.

PT. Krakatau Steel secara resmi berdiri pada tanggal 31 Agustus

1970, bertepatan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia No. 35 Tahun 1970 tentang Penyertaan Modal Negara

Republik Indonesia Untuk Pendirian Perusahaan Perseroan (persero) PT.

Krakatau Steel. Pembangunan Industri Baja dimulai dengan

memanfaatkan proyek baja sebelumnya, yakni Pabrik Kawat Baja, Pabrik

Kawat Tulangan, dan Pabrik Baja Profil. Pabrik-pabrik ini diresmikan

oleh Presiden Republik Indonesia pada tahun 1970. Akte pendirian PT.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

Krakatau Steel disusun oleh Ibnu Suwoto dan Ir. Suhartoyo dan

ditandatangani dihadapan notaris Tan Thory Kie di Jakarta dengan SK-

47/MK/IX/1971.

Pada tahap awal pelaksanaan operasionalnya pemerintah memberikan

kepercayaan penuh pada PN Pertamina untuk mengelola dan menjadikan

PT. Krakatau Steel sebagai anak perusahaan, namun pada sekitar tahun

1973, PN Pertamina mengalami kesulitan keuangan yang secara otomatis

berakibat langsung pada pembangunan PT. Krakatau Steel. Sehubungan

dengan itu pemerintah mengambil suatu kebijakan yang dituangkan

dalam Kepres No. 13 tanggal 17 April 1975 yang dilanjutkan dengan

Kepres No. 50 tahun 1975 yang isinya adalah Keputusan Untuk

Melanjutkan Pembangunan PT. Krakatau Steel Dengan Rencana Induk

10 Tahun (1975-1985).

Pada tahun 1979, diresmikan penggunaan fasilitas-fasilitas Pabrik

Besi Spons (PBS), yaitu DRP I dan DRP II dengan kapasitas 2.3 juta ton

per tahun dan Pabrik Batang Kawat (PBK) dengan kapasitas 220.000 ton

per tahun, serta fasilitas infrastrukur berupa pusat Pembangkit Listrik

Tenaga Uap 400 MW, Pusat Penjernihan Air, Pelabuhan Cigading, serta

Sistem Telekomunikasi.

Saat ini PT. Krakatau Steel memiliki 7 pabrik yang dibangun dalam

jangka waktu yang berbeda-beda dan bervariasi dari yang paling tua

sampai yang paling modern (ditinjau dari penggunaan peralatan dan

perlengkapan pabriknya). PT. Krakatau Steel juga memiliki 10 anak


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

perusahaan antara lain : PT. Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT.

KIEC), PT. Krakatau Engineering (PT. KE), PT. Krakatau Bandar

Samudra (PT. KBS), PT. KHI Pipe Industries (PT. KHI), PT. Krakatau

Wajatama (PT. KWT), PT. Pelat Timah Nusantara (PT. Latinusa), PT.

Krakatau Information Technology (PT. KIT), PT. Krakatau Tirta Industri

(PT. KTI), PT. Krakatau Daya Listrik (PT. KDL), PT. Krakatau Medika

(PT. KM).

2. Organisasi dan Manajemen

a. Struktur dan Organisasi PT. Krakatau Steel

Manjemen PT. Krakatau Steel terdiri dari dewan direksi yang

bertanggung jawab menjalankan perusahaan sesuai dengan

Anggaran Dasar dan Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/ART).

Yang dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang memimpin

lima orang direktur dan satu deputi direktur yang bertugas membantu

Direktur Utama dalam rangka menjalankan tugasnya. Kelima

anggota direksi tersebut terdiri atas :

1) Direktorat Produksi

Direktorat produksi membawahi empat sub direktorat dan

dua puluh divisi dimana divisi HSE berada di bawah koordinasi

langsung dari Direktorat Produksi, tanpa melalui sub direktorat.

Keempat sub direktorat tersebut adalah Quality Assurance, Iron

& Steel Making, Rolling Mill dan Central Maintenance &

Facility.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

2) Direktorat Sumber Daya Manusia dan Umum

Bertugas merencanakan, merumuskan, dan mengembangkan

kebijakan bidang personalia, kesehatan, kesejahteraan,

pendidikan dan latihan kerja serta merencanakan pengembangan

organisasi perusahaan dalam jangka panjang dan hubungan

masyarakat, administrasi pengelolaan kawasan, keamanan dan

keselamatan kerja.

Direktorat Sumber Daya Manusia dan Umum membawahi

tiga sub direktorat dan delapan divisi dimana divisi Program

Kemitraan dan Bina Lingkungan berada di bawah koordinasi

langsung dari Direktorat Sumber Daya Manusia dan Umum,

tanpa melalui sub direktorat. Sub direktorat tersebut adalah

Human Capital Planning and Development, Human Capital

Maintenance and Administration dan Security and General

Affair.

3) Direktorat Logistik

Bertugas merencanakan, merumuskan, dan mengembangkan

kebijakan dan pembelian kebutuhan bahan baku atau barang-

barang yang digunakan pada perusahaan.

Direktorat Logistik membawahi dua sub direktorat dan

tujuh divisi. Sub direktorat tersebut adalah Logistic Planning

dan Procurement.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

4) Direktorat Keuangan

Bertugas merencanakan, merumuskan, dan mengembangkan

kebijakan perusahaan di bidang keuangan. Direktorat Keuangan

membawahi empat sub direktorat yang dipimpin oleh direktur

dan satu Head of Investor Relation. Direktorat Keuangan

membawahi tiga belas divisi.

Keempat sub direktorat tersebut adalah Akuntansi,

Corporate Finance, Subsidiaries Company dan Sistem

Informasi.

5) Direktorat Pemasaran

Bertugas merencanakan, merumuskan, dan mengembangkan

kebijakan perusahaan di bidang pemasaran hasil produksi baik

di dalam negeri maupun di luar negeri.

Direktorat Pemasaran membawahi dua sub direktorat dan

sebelas divisi dimana ada tiga divisi yang langsung berada di

bawah koordinasi Direktorat, yaitu Profitabilitas dan Produk,

Sistem Informasi Pemasaran dan Administrasi Penjualan dan

Penelitian dan Pengembangan Pasar.

b. Visi dan Misi Perusahaan

1) Visi

Perusahaan baja terpadu dengan keunggulan kompetitif,

untuk tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan

menjadi perusahaan terkemuka di dunia.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

2) Misi

Menyediakan produk baja bermutu dan jasa terkait bagi

kemakmuran bangsa.

B. Proses Produksi

PT. KS memiliki enam buah fasilitas produksi yang membuat perusahaan

ini menjadi satu-satunya industri baja terpadu di Indonesia. Keenam buah

pabrik tersebut menghasilkan berbagai jenis produk baja dari bahan mentah.

Produk ini banyak digunakan untuk aplikasi Konstruksi Kapal, IPAL,

Bangunan, Konstruksi umum, dan lain-lain. Baja lembaran Panas dapat

diolah lebih lanjut melalui proses pengerolan ulang dan proses kimiawi di

Pabrik Baja Lembaran Dingin menjadi produk akhir yang disebut baja

lembaran dingin. Produk ini umumnya digunakan untuk aplikasi bagian

dalam dan ruang kendaraan bermotor, kaleng, peralatan rumah tangga, dan

sebagainya. Sementara itu, baja billet mengalami proses pengerolan di Pabrik

Batang Kawat untuk menghasilkan batang kawat baja yang banyak digunakan

untuk aplikasi kawat, mur dan baut, kawat baja, pegas, dan lain-lain.

1. Pabrik Besi Spons (DRP)

Pabrik besi spons menerapkan teknologi berbasis gas alam dengan

proses Reduksi langsung menggunakan teknologi Hyl dari Meksiko.

Pabrik ini menghasilkan besi spons (Fe) dari bahan mentahnya berupa

biji besi pelet, dengan menggunakan gas alam.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

Pabrik Besi Spons memiliki dua buah unit produksi dan

menghasilkan 2,3 juta ton besi spons per tahun.

a. Hyl I (DRP I dan unit reformer DRP II) : Beroperasi sejak tahun

1979, proses tidak kontinyu (Discharge), masing-masing memiliki

kapasitas 1 juta besi spons per tahun. Tingkat metalisasi 88 - 89 %.

Unit ini beropersi dengan menggunakan empat modul batch proces

dimana setiap modulnya mempunyai dua buah reaktor.

b. Hyl III : Memulai operasinya pada tahun 1994 dengan menggunakan

2-shafts continuous process, memiliki kapasitas 1,3 juta ton besi

spons per tahun. Tingkat metalisasi 91 – 92 %.

Besi Spons yang dihasilkan oleh pabrik ini memiliki keunggulan

dibanding sumber lain terutama disebabkan karena rendahnya kandungan

residual. Sementara itu tingginya kandungan karbon menyebabkan proses

di dalam Electric Arc Furnace (EAF) menjadi lebih efisien dan proses

pembuatan baja menjadi lebih akurat. Sehingga hal tersebut menjamin

konsistensi kualitas produk baja.

Besi spons yang berbentuk butiran merupakan bahan baku utama

pembuatan baja, yang nantinya dikirim melalui unit Conveyor Feeding

System ke dapur listrik di SSP I, SSP II dan BSP. Urutan proses yang ada

di Pabrik Besi Spons yaitu :

a. Pengisian (Charging)

b. Pendinginan (Cooling)

c. Reduksi Primary (1000C)


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

d. Reduksi Secondary (1000C)

e. Pengeluaran (Discharging)

Gambar 1. Proses Produksi Pabrik Besi Spons


(Sumber : Data Sekunder)

2. Pabrik Billet Baja/Billet Steel Plant (BSP)

Pada pabrik billet ini memproduksi baja batangan dengan bahan baku

utamanya yaitu spons, scrap, kapur, alloys (Al, FeMs, FeHg, FeSi).

Kapasitas produksi mencapai 675.000 Ton/tahun. Proses produksi Billet

Steel Plant sebagai berikut :

a. Peleburan

b. Secondary Process

c. Proses pencetakan (Continues Casting)

d. Penanganan Billet

Hasil dari pabrik billet akan ditransfer ke WRM (Wire Rod Mill)

untuk diolah lagi serta dijual ke PT. Krakatau Waja Tama dan konsumen.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

Pabrik billet mempunyai ± 70 grade yang digolongkan menjadi beberapa

kelompok grade yaitu low carbon, medium carbon, SD40 dan special.

Billet ini merupakan bahan yang setengah jadi serta dapat diolah lagi

menjadi produk yang lebih spesifik lagi sesuai dengan keinginannya,

seperti besi beton, profil, kawat, paku, dan lain-lain.

Gambar 2. Proses Produksi Pabrik Billet Baja


(Sumber : Data Sekunder)

3. Pabrik Slab Baja/Slab Steel Plant (SSP)

Pabrik Slab Baja PT. Krakatau Steel mulai berproduksi tahun 1983.

Pabrik Slab Baja dibagi menjadi 2 divisi yaitu SSP I dan SSP II. Secara

prinsip aliran proses produksi pada kedua pabrik tersebut sama yaitu

peleburan (melting), secondary process, dan pengecoran (Casting).

Tetapi perbedaan pada secondary proses SSP II dilengkapi dengan unit

RH Vacum Dequshing. Pada awalnya pabrik slab baja ini terdiri dari 4

dapur yang masing-masing berkapasitas 250.000 ton/tahun pada SSP 1.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

Sejak tahun 1992 pabrik ini lebih dikembangkan dengan menambah 2

dapur dengan kapasitas 400.000 ton/tahun yaitu SSP 2.

Gambar 3. Proses Produksi Pabrik Slab Baja


(Sumber : Data Sekunder)

4. Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Panas/Hot Strip Mill (HSM)

HSM memproduksi baja lembaran dari baja slab dengan proses

panas. Poses produksi yang berlangsung ada 6 tahapan, yaitu :

a. Furnace

b. Sizing Press

c. Roughing mill yang memproduksi coil.

d. Finishing Mill

e. Down Coiler

f. Shearing Line I (SL I) dan SL II yang memproduksi plate.

Pabrik ini menghasilkan baja lembaran berupa sheet, plate, dan coil.

Dimana sebelum slab diroling maka dipanaskan terlebih dahulu di dapur


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

pada suhu ± 900 C. Dalam proses produksinya pabrik ini menggunakan

metode pengeluaran panas. Kapasitas produksinya 2.000.000 ton/tahun.

Gambar 4. Produksi Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Panas


(Sumber : Data Sekunder)

5. Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Dingin/Cold Rolling Mill (CRM)

Pabrik pengeloran baja lembaran dingin memproduksi baja lembaran

tipis dengan ketipisan hingga 0.18 mm. Bahan baku adalah lembaran

dengan ketebalan kurang lebih 3 mm yang dipasok dari pabrik HSM,

kemudian dilakukan pengeloran tanpa pemanasan, ketika mengalami

reduksi temperatur maksimum adalah 135 oC. Aliran Proses produksi

yang ada dalam pabrik sebagai berikut :

a. Coil Yard

b. Continues Pickling (CPL)

c. Tandem Cold Mill

d. Elektolic Cold Mill (ECL)

e. commit
Batch Annelling Furnace to user
(BAF)
perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

f. Continues Annelling line (CAL)

g. Dehumidity

h. Temper Mill

i. Cold Rolling Finssshing (CRF)

Gambar 5. Produksi Pabrik Pengerolan Baja Lembaran Dingin


(Sumber : Data Sekunder)

6. Pabrik Batang Kawat/Wire Rod Mill (WRM)

Pabrik batang kawat ini menggunakan bahan baku yang dipakai

adalah billet dengan kualifikasi yang ditentukan Pabrik Billet Baja.

Aliran proses produksi yang dilakukan dalam pabrik adalah sebagai

berikut :

a. Bahan baku (Billet baja) dipanaskan dalam furnace dengan

temperatur mencapai 1300 oC selama 2 – 3 jam.

b. Direduksi pada Roughing dan intermediate, roughing tram terdiri

dari 10 stand sedangkan intermediat


commit to user terdiri dari 12 stand. Pada setiap
perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

stand dilakukan penyemprotan air untuk mengurangi tingkat

keasaman pada roll di tiap stand.

c. Pada Finshing area billet baja direduksi menjadi batang kawat sesuai

ukuran yang diminta konsumen.

d. Batang kawat dalam bentuk bar diubah menjadi bentuk gulungan

melalui LHD. Setelah digulung setiap 1-10 gulungan diambil satu

sampel untuk digunakan sebagai bahan pengujian kualitas sesuai

dengan kualifikasi yang diinginkan.

e. Hasil dari pabrik batang kawat berupa coil batang kawat dengan

ukuran diameter 5,5 mm – 20 mm sedangkan kapasitas produksinya

adalah 600.000 ton per tahun.

Gambar 6. Proses Produksi Pabrik Batang Kawat


(Sumber : Data Sekunder)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

C. Higiene Perusahaan

Berdasarkan hasil identifikasi faktor dan potensi bahaya yang dilakukan

pada 7 pabrik yang ada di PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. diperoleh faktor

dan potensi bahaya sebagai berikut :

1. Faktor Bahaya

a. Pabrik Besi Spons

1) Faktor fisika : Panas dari proses pemanasan gas dan proses

reformasi gas, bising dari proses transportasi pellet dan proses

gas.

2) Faktor kimia : debu dari proses transportasi, debu dari kapur,

pellet, korosi pada peralatan, bahan-bahan kimia yang

digunakan dalam proses kimia.

3) Faktor biologi : penjamahan makanan serta tempatnya panas dan

lembab memudahkan berkeringat sehingga mempermudah

perkembangbiakan bakteri dan jamur.

4) Faktor fisiologis : karyawan yang berulang-ulang, dan peralatan

yang tidak sesuai antropometri tubuh.

5) Faktor mental-psikologis : shift kerja, monotoni kerja, takut

terkena ledakan.

b. Pabrik Billet Baja

Pabrik ini memiliki beberapa faktor bahaya diantanya :

1) Faktor fisika : Panas dari proses charging, melting (di dapur

peleburan), ladle furnace, concast, pemotongan dan di billet


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

yard; Bising dari proses pencampuran saat melting di dapur,

furnace, dan pemotongan; Radiasi dari radioaktif yang

digunakan untuk memotong Billet; Dan getaran dari mesin-

mesin produksi.

2) Faktor kimia : debu dari proses charging dan melting, debu dari

kapur, scale, korosi pada peralatan, bahan-bahan kimia yang

digunakan dalam proses ladle furnace.

3) Faktor biologi : penjamahan makanan serta tempatnya panas dan

lembab memudakan berkeringat sehingga mempermudah

perkembangbiakan bakteri dan jamur.

4) Faktor fisiologis : karyawan yang berulang-ulang, peralatan

injeksi oksigen yang berat.

5) Faktor mental-psikologis : shift kerja, monotoni kerja, takut

terkena pijaran.

c. Pabrik Slab Baja 1

Ada beberapa faktor yang terdapat dalam pabrik Slab Baja – 1

ini. Namun yang paling dominan adalah Panas dan debu. Akan tetapi

perlu diketahui juga faktor-faktor bahaya yang diantaranya :

1) Faktor fisika : Panas pada seluruh proses dari awal reparation

ladle ketika perbaikaan ladle yang aus karena proses melting,

pada proses charging, melting, refining, pouring, ladle furnace,

penuangan, membuang kotoran (slag), concast, pemotongan,

slab yard, dan scraping; Kebisingan pada proses charging,


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

melting, ladle furnace (menaikkan temperatur), pemotongan,

scraping, crane; Getaran pada crane, proeses melting, refining,

pouring, concast dan ladle furnace; Radiasi pada proses concast

untuk meratakan permukaan slab.

2) Faktor kimia : Debu dari kapur dan beberapa proses yaitu

melting, refining, pouring, concast; Slag dari buangan leburan

baja; Uap dari melting, refining, pouring, concast, air yang

mendidih pada saat pemotongan, dan bahan kimia yang

ditambahkan ketika komposisi baja kurang sesuai.

3) Faktor biologi : penjamahan makanan serta pada tempat yang

panas memudahkan bakteri dan jamur mudah berkembang.

4) Faktor fisiologis : pada saat memasukkan Mg ada karyawan

yang harus naik untuk memperbaiki peralatan dengan posisi

kepala menengadah ke atas, shift kerja.

5) Faktor mental psikologis : takut terkena panas, monotoni kerja.

d. Pabrik Slab Baja 2

Pabrik ini memiliki beberapa faktor bahaya diantanya :

1) Faktor fisika : Panas dari proses charging, melting (di dapur

peleburan), ladle furnace, concast, pemotongan dan di slab

handling; Bising dari proses pencampuran saat melting di dapur,

furnace, dan pemotongan; Radiasi sinar UV pada laser yang

digunakan untuk memotong Slab; Dan getaran dari mesin-mesin

produksi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

2) Faktor kimia : debu dari proses charging dan melting, debu dari

kapur, scale, korosi pada peralatan, bahan-bahan kimia yang

digunakan dalam proses ladle furnace.

3) Faktor biologi : penjamahan makanan serta tempatnya panas dan

lembab memudakan berkeringat sehingga mempermudah

perkembangbiakan bakteri dan jamur.

4) Faktor fisiologis : karyawanan yang berulang-ulang, peralatan

injeksi oksigen yang berat.

5) Faktor mental-psikologis : shift kerja, monotoni kerja, takut

terkena pijaran.

e. Pabrik Wire Rod Mill

Pabrik Wire Rod Mill memiliki faktor bahaya antara lain :

1) Faktor fisika : Tekanan panas pada furnace, intermediet,

preroughing, roughing, NTM, SMC, Mandiel, C Hook; Getaran

pada unit SMC, NTM, Preroughing, roughing, dan intermediet;

Kebisingan pada unit SMC.

2) Faktor kimia : bahan kimia di unit NTM.

3) Faktor biologi : mikroorganisme atau lalat pada penyajian

makanan.

f. Pabrik Hot Strip Mill

Pada pabrik Hot Strip Mill ini faktor yang dominan adalah faktor

fisika. Namun, selain faktor fisika ada pula faktor bahaya lain,

diantaranya:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 28
digilib.uns.ac.id

1) Faktor fisik : Tekanan panas pada proses furnace, sizing press,

preroughing, roughing, finishing, recoiler, pengelasan;

Kebisingan pada sizing press; Radiasi pada proses finishing dan

pengelasan.

2) Faktor kimia : scale sisa pembersihan hasil dari pabrik Hot Strip

Mill.

3) Faktor biologi : mikroorganisme atau lalat pada penyajian

makanan.

g. Pabrik Cold Rolling Mill

Analisa faktor bahaya pada proses Cold Rolling Mill antara lain :

1) Faktor fisika : Panas dari mesin furnace, Getaran dari mesin

produksi tempa, dan penerangan yang kurang.

2) Faktor kimia : Infeksi dari hasil coil yang korosif atau mesin

yang korosif, bekas pelumas yang menempel pada pegangan

tangga, bahan kimia yang dipakai pada waktu cleaning (HCl).

3) Faktor ergonomi : shift kerja malam.

4) Faktor biologi : mikroorganisme atau lalat pada penyajian

makanan.

5) Mental psikologis : monotoni kerja.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 29
digilib.uns.ac.id

2. Pengendalian yang Ada di PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada 7 pabrik yang ada di PT.

Krakatau Steel telah dilaksanakan pengendalian faktor dan potensi

bahaya :

a. Faktor Fisik

1) Kebisingan

PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. telah melakukan program

pengendalian dengan melakukan pengukuran berkala 1 bulan

sekali pada area kebisingan, menyediakan alat pelindung diri

(ear plug, ear muff, dan busa), penyediaan control room agar

karyawan tidak banyak terpapar bising, adanya administratif

control seperti adanya rotasi jam kerja (shift) antara karyawan,

pemasangan rambu-rambu keselamatan (intensitas kebisingan,

slogan K3, dan APD yang harus dipakai), dan tes audiometric

pada Medical Check Up (MCU).

2) Penerangan

Pengendalian pada penerangan antara lain : dengan menerapkan

standar penerangan sesuai dengan kebutuhan dilokasi.

3) Tekanan Panas

Dalam hal ini perusahaan telah melakukan program

pengendalian terhadap tekanan panas antara lain dengan

melakukan pengukuran berkala terhadap iklim kerja,

menyediakan alat pelindung diri (baju tahan api, sarung tangan,


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 30
digilib.uns.ac.id

sepatu safety, tameng muka, capucon dan helm khusus), adanya

rotasi kerja antara karyawan, penyediaan air minum dan

dispenser, extra fooding berupa susu pasteurisasi, control room

dengan fasilitas AC, ruang istirahat dan ruang crane yang

dilengkapi dengan fasilitas AC.

4) Vibrasi

Sebagai upaya pengendalian terhadap getaran ini perusahaan

telah melakukan beberapa langkah pengendalian antara lain :

desain tempat kerja seperti control room, ruang istirahat dan

crane telah dilengkapi dengan karet peredam, dan perawatan

dan pemeliharaan rutin untuk alat berat.

5) Radiasi

Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan yaitu

dengan adanya pemantauan pada area radiasi, pemasangan

rambu-rambu keselamatan tanda radiasi, dan safety line. Selain

itu karyawan telah dilengkapi dengan alat pelindung diri

(kacamata cobalt dan film badge), adanya rotasi kerja antara

karyawan dan MCU terhadap paparan radiasi.

b. Faktor Kimia

1) Debu

Pengendalian paparan debu beserta dampak debu terhadap

karyawan, perusahaan telah melakukan program yaitu dengan

melakukan pengukuran untuk memantau debu jatuh dan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 31
digilib.uns.ac.id

lingkungan, Dedusting Plant yaitu alat untuk menghisap dan

memadatkan debu ambient yang dipasang di Pabrik Billet Baja,

Pabrik Slab Baja 1 dan Pabrik Slab Baja 2, menyediakan alat

pelindung diri (masker, kacamata dan capucon), adanya rotasi

kerja antara karyawan, pemberian extra fooding berupa susu

pasteurisasi untuk menetralkan racun di dalam tubuh, control

room, memasang rambu-rambu keselamatan terutama jenis APD

yang harus dikenakan serta menyediakan compressor yang

merupakan udara bertekanan untuk membersihkan debu yang

menempel pada baju.

2) Gas

Pengendalian dilakukan dengan melakukan pengukuran gas

untuk melakukan pemantauan, pada gas-gas yang dapat

menimbulkan bahaya tertentu dilakukan pemasangan dipasang

rambu-rambu bahaya kebakaran dan peledakan, rambu dilarang

merokok dan tanda bahaya dilarang membuat api, untuk gas

yang beracun dipasang rambu-rambu pemakaian respirator,

tanda gas beracun dan korosi serta menyediakan APD berupa

masker dan respirator.

3) Uap

Area-area yang terdapat faktor kimia berupa uap beracun,

dipasang rambu-rambu pemakaian respirator.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 32
digilib.uns.ac.id

c. Faktor Biologi

Pengendalian yang dilakukan oleh pihak perusahaan yaitu

dengan menyediakan tempat mencuci tangan, udara bertekanan,

control room dengan fasilitas AC dan sanitasi (toilet) serta menjamin

bahan makanan yang diolah berasal dari bahan yang bersih,

peralatan yang digunakan untuk memasak juga bersih, petugas

kantin diwajibkan menggunakan alat pelindung berupa celemek,

tutup kepala, sarung tangan juga masker wajah, penyajian makanan

di kantin juga harus di tutup dengan tutup saji. Hal ini dimaksudkan

untuk mengurangi penyebaran kuman dan penyakit pada makanan.

D. Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja di PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. berada pada Dinas

Hiperkes dan merupakan salah satu dinas yang berada di bawah divisi HSE.

1. Struktur Organisasi

Dinas Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) dipimpin

oleh Superintendent yang membawahi fungsional, yaitu :

a. Engineer Ergonomi

b. Spesialis Gizi Kerja

c. Spesialis Kesehatan Kerja

d. Engineer Higiene Industri

e. Paramedis Pos P3K

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 33
digilib.uns.ac.id

PT. Krakatau Steel belum mempunyai dokter perusahaan. Oleh

karena itu, yang biasanya dimintai konsultasi oleh karyawan/tenaga kerja

adalah spesialis kesehatan kerja dan spesialis gizi kerja.

2. Pemeriksaan Kesehatan

a. Pemeriksaan Kesehatan karyawan meliputi :

1) Pemeriksaan kesehatan calon karyawan.

2) Pemeriksaan kesehatan berkala (Medical Check Up atau MCU).

3) Pemeriksaan kesehatan khusus yaitu :

a) Audiometri untuk karyawan yang terpapar bising.

b) Spirometri untuk karyawan yang terpapar debu dan B3.

c) Pemeriksaan mata untuk karyawan yang terpapar sinar

menyilaukan.

d) Pemeriksaan karyawan radiasi radio aktif untuk

mengidentifikasi terjadinya penyakit kanker.

e) Mengidentifikasi karyawan wanita dengan papsmear yang

sudah berkeluarga dan berumur 40 tahun.

f) Rekomendasi kesehatan kerja.

4) Pemeriksaan khusus pada kelompok karyawan sesuai dengan

indikasi kasus (temuan penyakit akibat kerja), pemantauan

kesehatan meliputi :

a) Pemantauan penyakit degeneratif berdasarkan hasil MCU.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 34
digilib.uns.ac.id

b) Pemantauan trend dan pola penyakit akibat kerja dan

pemeriksaan kesehatan secara khusus serta penyakit

menular.

c) Pemantauan status gizi karyawan.

b. Pemeriksaan Kesehatan Berkala (PKB)

1) Pengertian dan Tujuan

Pengertian dari Pemeriksaan Kesehatan Berkala (PKB)

adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara periodik

terhadap karyawan organik PT. Krakatau Steel dengan

rekomendasi oleh dokter penguji kesehatan PT. Krakatau Steel.

Tujuan dilaksanakan Pemeriksaan Kesehatan Berkala adalah :

a) Mempertahankan derajat kesehatan dan produktivitas

karyawan.

b) Mengetahui adanya Penyakit Umum dan Penyakit Akibat

Kerja sedini mungkin akibat pengaruh karyawanan dan

lingkungan kerja atau proses usia.

c) Dasar perancangan tindakan pencegahan.

2) Dasar Hukum PKB di Perusahaan :

a) UU No. 1 tahun 1970 pasal 8 tentang norma-norma

mengenai pemeriksaan kesehatan berkala.

b) PERMENAKERTRANS No. 2 tahun 1980 tentang

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam

Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 35
digilib.uns.ac.id

c) PERMENAKERTRANS No. 1 tahun 1981 tentang

Kewajiban Melaporkan Penyakit Akibat Kerja.

d) PERMENAKERTRANS No. 3 tahun 1982 tentang

Pelayanan Kesehatan Kepada Tenaga Kerja.

e) KEP.333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan

Penyakit Akibat Keja.

f) UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

g) SK Direksi PT. Krakatau Steel No. 43/C/DD-KS/Kpts/1996

tentang Peraturan Perusahaan PT. Krakatau Steel (pasal 54,

77 dan 78).

h) SE Kasubdit SDM dan Umum tentang Pertanggungan Biaya

Pemeriksaan Kesehatan Berkala oleh Perusahaan.

3) Langkah Pelaksanaan PKB

a) Divisi Personalia memberikan daftar karyawan disusun

dengan menurut Tanggal Masuk Bekerja (TMB).

b) Dinas Hiperkes meneliti daftar karyawan untuk membuat

daftar calon peserta.

c) Daftar peseta PKB diserahkan Dinas Hiperkes untuk dibuat

surat pemberitahuan tentang hak karyawan mendapat PKB

dan menyusun jadwal panggilan.

d) Dinas Hiperkes membuat surat panggilan PKB dan

didistribusikan pada karyawan secara langsung atau

menggunakan jasa pos terpadu.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 36
digilib.uns.ac.id

e) Karyawan menerima panggilan dan melaksanakan PKB di

Rumah Sakit Krakatau Medika. Karyawan yang tidak dapat

memenuhi panggilan atau menunda pelaksanaan PKB

memberitahukan kepada Dinas Hiperkes untuk dijadwal

ulang atau diganti pada hari lain.

f) Peserta PKB melakukan regristasi di Rumah Sakit Krakatau

Medika.

g) Pesrta PKB mendapat pengarahan dari koordinator PKB.

h) Peserta PKB melaksanakan pemeriksaan PKB dengan

mekanime sebagai berikut :

(1) Pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium

yang meliputi pemeriksaan darah, urine dan feces.

(2) Peserta melakukan buka puasa setelah melaksanakan

puasa selama 10 jam, kemudian melanjutkan puasa

selama 2 jam untuk pemeriksaan gula darah.

(3) Selama waktu 2 jam ini peserta mengikuti kegiatan

pemeriksaan Rongent dan pemeriksaan jantung serta

pemeriksaan jasmani.

(4) Setelah puasa 2 jam maka peserta kembali diambil

darahnya untuk pemeriksaan gula darah setelah makan.

(5) Kemudian buku diserahkan pada Koordinator PKB dan

para peserta boleh pulang.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 37
digilib.uns.ac.id

(6) Koordinator PKB mengumpulkan dokumen hasil PKB

dan mencatatnya pada buku Medical Record (MR) dan

komputer.

(7) Buku MR yang sudah diisi oleh koordinator PKB

kemudian diserahkan pada dokter penanggung jawab

PKB Rumah Sakit Krakatau Medika untuk dibuat

kesimpulan dan saran.

(8) Buku MR kemudian diserahkan pada dokter PKB untuk

dibuat rekomendasi kesehatan. Jenis Rekomendasi PKB

adalah:

(a) Dapat bekerja seperti biasa (DBSB)

(b) Sementara DBSB dengan pengobatan atau tanpa

pengobatan

(c) Tidak DBSB perlu penyesuaian pekerjaan :

(1) Dengan Pengobatan

(2) Tanpa Pengobatan

(9) Buku Medical Record yang telah selesai

direkomendasikan oleh dokter penguji kesehatan Kerja

untuk dilakukan :

1) Administrasi PKB

2) Medical Record

(10) Inspektor kesehatan Kerja mengecek kehadiran peserta

dengan melihat buku yang telah selesai.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 38
digilib.uns.ac.id

(11) Distribusikan hasil PKB pada pesrta dilakukan secara

langsung atau pos terpadu.

(12) Karyawan yang mempunyai kelainan kesehatan

dilakukan pemeriksaan lanjut (rujukan/periksaan

khusus).

(13) Karyawan melaksanakan pemeriksaan rujukan dan

menyerahkan hasil pemeriksaan tersebut pada dokter

PKB untuk dilakukan rekomendasi pekerjaan.

(14) Inspektor Kesehatan Kerja melakukan pemantauan

terhadap karyawan dengan temuan kesehatan.

4) Parameter PKB

a) Pemeriksaan jasmani penyakit dalam.

b) Pemeriksaan gigi geligi meliputi gigi, extra oral dan intra

oral.

c) Pemeriksaan mata meliputi kelompok mata, bolamata,

kornea, iris, pupil, lensa.

d) Pemeriksaan THT meliputi telinga, hidung, dan

tenggorakan.

e) Pemeriksaan Kardiologi meliputi Elektro Kardio Gram

(EKG).

f) Periksaan Radiolagi meliputi jantung, diafragma, dan paru –

paru.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 39
digilib.uns.ac.id

g) Pemeriksaan kebidanan dan penyakit kandungan (untuk

karyawan tertentu).

h) Hasil pemeriksaan laboratorium meliputi :

(1) Pemeriksaan darah lengkap kecil yang meliputi Hb,

lekosit, Basofil, Eosinofil (batang dan segmen) Limfosit,

Monosit, Laju Endap Darah (LED).

(2) Pemeriksaan urine lengkap meliputi protein, reduksi,

keton, bilirubin, urobili sedimen (lekosit, eritrosit,

kristal, epitel, silinder)

(3) Pemeriksaan feces rutin meliputi konsistensi, darah,

lendir, amuba, kista, lekosit, telur – telur cacing

(Ascaris lumbicoides, Trichuris, Strongyoides dan

Oxyuris).

(4) Pemeriksaan kimia darah meliputi gula darah puasa

(nucher), gula darah 2 jam setelah makan, cholesterol,

triglicerida, ureum, kreatinin, asam urat, HDL.

3. Pembinaan dan Pengawasan Penyesuaian Pekerjaan terhadap Tenaga

Kerja

a. Pengawasan ergonomi fisik dan pembinaan tindak lanjut

ketidaksesuaian meliputi :

1) Pemantauan kinerja ergonomi unit produksi.

2) Pemantauan risiko WMSDs (Work Muscolosceletal Disolder).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 40
digilib.uns.ac.id

3) Pembinaan dan pengawasan Hygiene dan sanitasi tempat kerja

(House Keeping) dan tindak lanjut ketidaksesuaian.

4) Pengawasan dan pembinaan karyawan yang terpapar faktor

lingkungan kerja ekstrim.

b. Penyesuaian karyawanan akibat keterbatasan kemampuan fisik.

4. Pembinaan dan Pengawasan Lingkungan Kerja

Dilakukan pembinaan dan pengawasan lingkungan kerja, yaitu

berupa pengendalian lingkungan dan pengendalian faktor-faktor bahaya

di tempat kerja untuk mencegah karyawan terpapar faktor bahaya

sehingga tidak mengganggu kesehatannya.

5. Pembinaan dan Pengawasan Perlengkapan Sanitasi

Merupakan program preventif yaitu pembinaan dan pengawasan

Hygiene dan sanitasi tempat kerja (House Keeping) dan tindak lanjut

ketidaksesuaian.

6. Pembinaan dan Pengawasan Kesehatan untuk Tenaga Kerja

a. Promotif

Upaya promotif adalah upaya peningkatan derajat kesehatan

karyawan melalui peningkatan pengetahuan dan pelaksanaan pola

hidup sehat di tempat kerja dan perbaikan gizi kerja. Adapun ruang

lingkup kegiatan promotif, yaitu :

1) Induction Course untuk karyawan baru.

2) Sosialisasi Pola Hidup Sehat.

3) Sosialisasi Program Konservasi Pendengaran (HCP).


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 41
digilib.uns.ac.id

4) Sosialisai Ergonomi Kerja.

5) Konseling Kesehatan.

6) Edukasi Hasil PKB (Pemeriksaan Kesehatan Berkala) untuk

kelompok umum penyakit degeneratif dan kelompok penyakit

kronis.

7) Sosialisai profil Hiperkes unit kerja.

8) Pelatihan Satgas Medis (Tim TKTD Unit Kerja).

9) Pembinaan dan Pengawasan kantin.

10) Pembinaan dan Pengawasan air minum di perusahaan (air

minum kemasan kelas A).

11) Pembinaan dan pengawasan extra fooding.

12) Pembinaan dan pengawasan pola makan karyawan.

13) Vaksinasi Hepatitis sesuai indikasi (kasus).

14) Sosialisasi pengendalian risiko Diabetes Mellitus dan

Dislipedemia

b. Preventif

1) Sasaran kegiatan preventif adalah :

a) Pencegahan timbulnya kasus baru baik penyakit umum

maupun penyakit akibat kerja.

b) Mengendalikan risiko keparahan penyakit.

c) Mengendalikan risiko kecacatan (anatomi atau fisiologi

akibat kerja atau kecelakaan kerja).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 42
digilib.uns.ac.id

2) Ruang lingkup program preventif :

a) Pengawasan ergonomi fisik dan pembinaan tindak lanjut

ketidaksesuaian meliputi :

(1) Pemantauan kinerja ergonomi unit produksi.

(2) Pemantauan risiko WMSDs (Work Muscolosceletal

Disolder).

(3) Pembinaan dan pengawasan Hygiene dan sanitasi

tempat kerja (House Keeping) dan tindak lanjut

ketidaksesuaian.

(4) Pengawasan dan pembinaan karyawan yang terpapar

faktor lingkungan kerja ekstrim.

c. Kuratif dan Rehabilitatif

Pemantauan pada karyawan dengan indikasi sakit berdasarkan

evaluasi kunjungan karyawan pada poliklinik perusahaan atau rumah

sakit rujukan meliputi : rawat jalan, rawat inap, darurat medis dan

konsul/rujukan kesehatan.

Kegiatan-kegiatan kuratif dan rehabilitatif, sebagai berikut :

1) Pemantauan kunjungan poliklinik.

2) Pemantauan biaya perawatan kesehatan.

3) Pemantauan trend dan pola penyakit karyawan.

4) Pemantauan prevalensi kasus baru.

5) Pemantauan status penyembuhan penyakit.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 43
digilib.uns.ac.id

6) Pemantauan rehabilitasi medis pada rawat inap, kecelakaan

kerja dan kecacatan fisik.

7) Pemantauan sakit berkepanjangan.

8) Pemantauan dan pengendalian karyawan yang mangkir sakit.

9) Pelayanan pengobatan pemeriksaan medis dan penunjang serta

rujukan pada karyawan dan keluarga.

10) Pelayanan darurat medis (Pos P3K Pabrik, UGD RSKM, UGD

RS rujukan lainnya).

11) Penyesuaian karyawanan akibat keterbatasan kemampuan fisik

7. Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Umum dan Penyakit Akibat Kerja

(PAK)

Merupakan upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif seperti

pembinaan dan pengawasan kesehatan untuk tenaga kerja, sudah

termasuk di dalamnya seperti :

a. Edukasi Hasil PKB (Pemeriksaan Kesehatan Berkala) untuk

kelompok umum penyakit degeneratif dan kelompok penyakit

kronis.

b. Vaksinasi Hepatitis sesuai indikasi (kasus).

c. Sosialisasi pengendalian risiko Diabetes Mellitus dan Dislipedemia

d. Pemantauan risiko WMSDs (Work Muscolosceletal Disolder).

e. Pelayanan pengobatan pemeriksaan medis dan penunjang serta

rujukan pada karyawan dan keluarga

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 44
digilib.uns.ac.id

f. Pelayanan darurat medis (Pos P3K Pabrik, UGD RSKM, UGD RS

rujukan lainnya).

8. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Terjadinya kecelakaan yang tidak ketahui kapan waktu terjadinya dan

korban yang menderita perlu pertolongan, maka dibutuhkan

kesiapsiagaan dan penanganan korban secara cepat dan tepat dengan

tujuan korban dapat terselamatkan dan tidak terjadi keparahan cidera atau

sakit. Untuk mengantisipasi kecelakaan maka perlu adanya tim tenaga

medis dan kelompok yang dapat memfungsikan diri sebagai satgas

medis.

Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K) mempunyai fungsi

memberikan penanganan terhadap kecelakaan atau sakit agar dapat

sembuh atau mencegah terjadinya keparahan cidera atau sakit.

Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, PT. Krakatau Steel

mendirikan Pos P3K yang dibawah pengawasan Dinas Hiperkes. Dalam

melaksanakan fungsinya, Pos P3K siap siaga 24 jam dengan empat

tenaga medis yang bertugas. Pos P3K disiapkan sebuah mobil ambulance

untuk operasional yang siaga 24 jam. Pada setiap pabrik didirikan shelter

yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara korban

kecelakaan sebelum dibawa ke pos P3K atau ke rumah sakit rujukan.

Pada shelter dikelola oleh satgas medis dari tenaga kerja yang dibentuk

pada setiap shift yang secara rutin dilakukan pelatihan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 45
digilib.uns.ac.id

Pos P3K selain memberikan pertolongan pada kecelakaan juga

mempunyai fungsi pelayanan distribusi obat P3K pada setiap pabrik.

Prosedur Distribusi obat P3K yang dilaksanaan adalah sebagai berikut :

a. Divisi atau dinas yang memerlukan obat P3K mengajukan surat

permintaan yang ditujukan kepada Divisi HSE.

b. Spesialis/Engineering Dinas Hiperkes bersama–sama Plant Inspektor

atau petugas dinas/divisi pemohon, melakukan pengecekan

lapangan. Hasil rekomendasi Inspektor Kesehatan Kerja dijadikan

pedoman dalam menentukan jumlah obat P3K.

c. Dinas Hiperkes mengajukan surat permintaan pengadaan obat P3K

otonom Rumah Sakit Krakatau Medika.

d. Rumah Sakit Krakatau Medika menyediakan obat P3K sesuai

dengan permintaan dan mendistribusilkan pada Dinas Hiperkes.

e. Spesialis/Engineeing Dinas Hiperkes melakukan pengecekan

permintaan yang dikirim RS Krakatau Medika, kemudian

pengelompokan yang masing–masing paket terdiri 7 macam obat

P3K.

f. Inspektor Kesehatan Kerja menginformasikan pada Dinas/Divisi

permohonan untuk mengambil obat P3K tersebut.

g. Divisi atau Dinas permohonan mendistribusikan obat P3K pada

unit–unit kerja yang terkait sesuai dengan ketentuan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 46
digilib.uns.ac.id

Sedangkan Isi dan Fungsi paket obat P3K sebagai berikut :

a. Septadine (cair) berfungsi untuk membersihkan luka, mengompres

luka dan membunuh kuman.

b. Bioplacenton yang berfungsi untuk mengobati luka bakar.

c. Rivanol yang berfungsi untuk membersihkan luka dari segala

kotoran dan menutup luka yang sudah bersih.

d. Perban untuk menutup luka, pembersih luka dan pengikat bidai.

e. Kapas untuk membersihkan luka kecil.

f. Plaster untuk melekatkan perban sehingga luka tertutup.

Peralatan P3K yang didistribusikan di seluruh unit kerja pada titik-

titik yang ditentukan meliputi :

a. Tandu

b. Spalk

c. Mitella

d. Oksigen kit

e. Buku Saku P3K

Penempatan kotak Obat P3K di pabrik-pabrik dengan jumlah lokasi

sebagai berikut :

a. Divisi PBS terdiri 25 lokasi

b. Divisi HSM terdiri 30 lokasi

c. Divisi CRM terdiri 25 lokasi

d. Divisi WRM terdiri 13 lokasi

e. Divisi SSP I terdiri 44 lokasi


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 47
digilib.uns.ac.id

f. Divisi SSP II terdiri 23 lokasi

g. Divisi BSP terdiri 16 lokasi

h. Divisi Utility terdiri 15 lokasi

9. Pendidikan Kesehatan untuk Tenaga Kerja dan Pelatihan P3K

Program promosi kesehatan tahun 2012 ditujukan pada karyawan

yang mempunyai resiko terhadap penyakit jantung, hipertensi, dan

diabetes militus serta karyawan yang ijin sakit tinggi.

Jenis-jenis promosi kesehatan :

a. Konseling MCU Medical Check Up

b. Edukasi MCU

c. Sosialisasi pola hidup sehat

d. Infomasi kesehatan

e. Progam-progam khusus promosi kesehatan seperti senam.

f. Kecukupan gizi

g. Road show tim promkes

h. Seminar kesehatan

i. Induction Course karyawan baru

Materi yang digunakan untuk promosi pola hidup sehat adalah gizi

seimbang, pola makan, IMT, fungsi air minum, dan olahraga kesehatan

dengan berlokasi di Human Capital Training Education Center.

Telah dilakukan pelatihan P3K yaitu pelatihan terhadap satgas medis

pos P3K.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 48
digilib.uns.ac.id

10. Pemberian Nasihat tentang Tempat Kerja, APD, Gizi dan

Penyelenggaraan Makanan di Tempat Kerja

Telah dilakukan pembinaan dan pengawasan kantin, pembinaan dan

pengawasan air minum di perusahaan (air minum kemasan kelas A). serta

pembinaan dan pengawasan extra fooding yang merupakan upaya

promotif.

Selain itu, salah satu upaya pemenuhan kesehatan karyawan yang

baik dan menyehatkan adalah dengan pengadaan kantin. Dalam

penyajian makanan bahan makanan yang diolah berasal dari bahan yang

bersih, peralatan yang digunakan untuk memasak juga bersih bebas dari

debu dan lalat, ada ventilasi (exhauster atau AC) untuk sirkulasi udara,

petugas kantin diwajibkan menggunakan alat pelindung berupa celemek,

tutup kepala, sarung tangan juga masker wajah, serta penyajian makanan

di kantin juga harus di tutup dengan tutup saji untuk menghindarkan dari

hewan pembawa penyakit. Selain itu, ruangan kantin juga harus dalam

keadaan bersih yaitu : lantai, meja, kursi dan peralatan makan serta

menyediakan peralatan mencuci tangan, wastafel, tissue pada setiap meja

makan untuk karyawan yang masuk ke kantin.

11. Membantu Rehabilitasi Penyakit Akibat Kerja

Termasuk upaya kuratif fan rehabilitatif. Diantaranya adalah

pemantauan rehabilitasi medis pada rawat inap, kecelakaan kerja dan

kecacatan fisik; pemantauan dan pengendalian karyawan yang mangkir

sakit; pelayanan pengobatan pemeriksaan medis dan penunjang serta


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 49
digilib.uns.ac.id

rujukan pada karyawan dan keluarga; dan pelayanan darurat medis (Pos

P3K Pabrik, UGD RSKM, UGD RS rujukan lainnya).

12. Pembinaan dan Pengawasan Tenaga Kerja yang Memiliki Kelainan

Tertentu

Dilakukan Pemeriksaan Kesehatan Berkala (PKB), yaitu pemeriksaan

kesehatan yang dilakukan secara periodik terhadap karyawan organik PT.

Krakatau Steel dengan rekomendasi oleh dokter penguji kesehatan PT.

Krakatau Steel.

Apabila ditemukan karyawan dengan kelainan kesehatan, dilakukan

pemeriksaan lanjut (rujukan/pemeriksaan khusus). Karyawan

melaksanakan pemeriksaan rujukan dan menyerahkan hasil pemeriksaan

tersebut pada dokter PKB untuk dilakukan rekomendasi pekerjaan.

13. Pelaporan secara Berkala

Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala, dilakukan

pelaporan hasil pemeriksaan yaitu sebagai berikut :

a. Koordinator PKB mengumpulkan dokumen hasil PKB dan

mencatatnya pada buku Medical Record (MR) dan komputer.

b. Buku MR yang sudah diisi oleh koordinator PKB kemudian

diserahkan pada dokter penanggung jawab PKB Rumah Sakit

Krakatau Medika untuk dibuat kesimpulan dan saran.

c. Buku MR kemudian diserahkan pada dokter PKB untuk dibuat

rekomendasi kesehatan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 50
digilib.uns.ac.id

d. Buku Medical Record yang telah selesai direkomendasikan oleh

dokter penguji kesehatan Kerja untuk dilakukan :

1) Administrasi PKB

2) Medical Record

e. Inspektor kesehatan Kerja mengecek kehadiran peserta dengan

melihat buku yang telah selesai.

f. Distribusikan hasil PKB pada peserta dilakukan secara langsung atau

pos terpadu.

14. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kerja

a. Rumah Sakit Perusahaan dan Rujukan

PT Krakatau Steel adalah perusahaan yang memperhatikan

kesehatan tenaga kerja. Hal ini dibuktikan dengan adanya

pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Hasil dari

pemeriksaan tersebut, diuji lebih lanjut ke Rumah Sakit Krakatau

Medika (RSKM), yang bertempat di Cilegon. RSKM merupakan

bagian dari PT Krakatau Steel, yang berfungsi memberikan

pelayanan kesehatan tenaga kerja khususnya dan pada masyarakat

umumnya.

Selain RSKM, PT Krakatau Steel juga bekerjasama dengan

beberapa rumah sakit rujukan tersebut diantaranya: Rumah Sakit

kanker Darmais, Rumah Sakit Pertamina, Rumah Sakit Jantung

Harapan Kita, Rumah Sakit Paru Cipto Mangunkusumo, Rumah

Sakit Siloam dan Rumah Sakit Darmawangsa. Rumah sakit rujukan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 51
digilib.uns.ac.id

tersebut difungsikan sebagai tempat pengobatan bagi tenaga kerja

yang mengalami gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan

lebih lanjut.

Pemeriksaan berkala dilakukan secara periodik setahun sekali

dan pemeriksaan khusus secara periodik sesuai dengan tingkat resiko

penyakit akibat kerja.

b. Sarana Olah Raga

Sarana olahraga perusahaan terdiri dari lapangan sepak bola

standar international, kolam renang standar international, lapangan

golf, lapangan bola volley yang tersebar di seluruh unit kerja,

lapangan tenis, lapangan bola basket, GOR bulu tangkis dan area

unit kerja untuk kegiatan senam massal dilakukan setiap hari jumat.

15. Gizi Kerja

Pada awalnya kebijakan pelayanan gizi kerja di PT. Krakatau Steel

adalah dengan memberikan makan dan extra fooding, dimana extra

fooding yang diberikan dalam bentuk susu pasteurisasi dan UHT secara

rutin. Pelayanan extra fooding ini ditujukan pada seluruh Direktorat

Produksi maupun Direktorat Non Produksi.

Pada bulan Juli 1998 Divisi Personalia mengeluarkan Surat Edaran

yang intinya meminta Dinas Hiperkes untuk melakukan evaluasi

penelitian guna menetapkan karyawan yang berhak untuk mendapatkan

extra fooding berdasarkan kriteria :

1) Karyawan dengan waktu kerja shift.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 52
digilib.uns.ac.id

2) Karyawan yang bekerja pada faktor lingkungan berbahaya.

3) Karyawan yang bekerja dengan beban fisik berat/karyawan yang

kerjanya 70 % di pabrik/di bengkel dan di lapangan.

Untuk air minum, perusahaan menyediakan fasilitas dispenser dan

gallon air minum dalam jumlah cukup. Pemeriksaan kualitas diteliti

secara rutin oleh PT. Quelle dan secara periodik dilakukan pemeriksaan

pada lab independent.

Tabel 1. Distribusi air minum dispenser di setiap unit kerja

NO TEMPAT KERJA JUMLAH DISPENSER

1. Pabrik Besi Spons 29

2. PRWT Pabrik Besi Spons 30

3. Pabrik Billet Baja 34

4. SSP I dan PPSB 46

5. SSP II dan PPSB 26

6. PPBLD dan PP III 21

7. PPBLD 19

8. PRWT PPBLD 31

9. WRM 31

10. PHP 12

11. Utility 16

12. PL dan P 26

13. Pengendalian Kualiatas 22

TOTAL 343
commit to user
(Sumber : Data Sekunder)
perpustakaan.uns.ac.id 53
digilib.uns.ac.id

Selain itu, salah satu upaya pemenuhan kesehatan karyawan yang

baik dan menyehatkan adalah dengan pengadaan kantin. Di PT. Krakatau

Steel terdapat 13 kantin yang beroperasi secara aktif guna memenuhi

kebutuhan makan dan gizi yang menunjang. Adapun nama-nama kantin

tersebut adalah kantin ADB, kantin Logistik, kantin Pusdiklat, kantin

Pabrik Besi Spons (PBS), kantin Gedung Produksi, kantin P2P, kantin

Billet Steel Plan (BSP), kantin Slab Steel Plan (SSP), kantin Wire Rod

Mill (WRM), kantin Hot Strip Mill (HSM), kantin Keamanan, kantin

PPC, dan kantin Cold Rolling Mill (CRM).

Dalam penyajian makanan bahan makanan yang diolah berasal dari

bahan yang bersih, peralatan yang digunakan untuk memasak juga bersih

bebas dari debu dan lalat, ada ventilasi (exhauster atau AC) untuk

sirkulasi udara, petugas kantin diwajibkan menggunakan alat pelindung

berupa celemek, tutup kepala, sarung tangan juga masker wajah, serta

penyajian makanan di kantin juga harus di tutup dengan tutup saji untuk

menghindarkan dari hewan pembawa penyakit. Selain itu, ruangan kantin

juga harus dalam keadaan bersih yaitu : lantai, meja, kursi dan peralatan

makan serta menyediakan peralatan mencuci tangan, wastafel, tissue

pada setiap meja makan untuk karyawan yang masuk ke kantin. Akan

tetapi, tidak dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap penjamah

makanan.

Perusahaan tidak memberikan makan siang kepada pekerja,

melainkan memberikan jatah uang makan sebagai pengganti makan siang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 54
digilib.uns.ac.id

tersebut. Pekerja di PT. Krakatau Steel rata-rata bekerja dengan kategori

beban kerja yang sedang, dimana kebutuhan kalori untuk pekerja sedang

adalah 1200 kalori untuk makan siang. Diperkirakan uang yang diberikan

pada pekerja untuk menu makan siang yang sesuai dengan gizi sudah

mencukupi kalori yang dibutuhkan.

E. Keselamatan Kerja

1. Struktur Organisasi

Dinas Keselamatan Kerja, dipimpin oleh seorang Superintendent

yang membawahi beberapa fungsional yaitu :

a. Engineer Pembinaan dan Pengawasan Keselamatan Kerja

b. Engineer Safety Pesawat Uap dan Bejana Tekan

c. Engineer Peraturan dan Standar Keselamatan Kerja

d. Engineer Pesawat Angkat & Angkut

e. Engineer Safety Radiasi

2. Potensi Bahaya

a. Pabrik Besi Spons

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada proses pemanasan gas di area gas

heater, steam dan area reformer.

2) Kebakaran

Potensi kebakaran dapat terjadi pada proses reformasi gas di

area gas heater, steam dan area reformer.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 55
digilib.uns.ac.id

3) Tertimpa

Kejatuhan benda bijih besi atau pellet dapat terjadi pada saat

proses conveyor sedang beroperasi menyalurkan bijih besi atau

pellet ke reactor. Selain itu Kejatuhan benda bawaan dari crane

dan bawaan dari truk yang membawa peralatan atau besi yang

aus keluar dari pabrik besi spons.

4) Terpeleset

Terpeleset oleh bijih besi atau pellet dapat terjadi pada saat

karyawan berjalan di area DRP I dan HYL III, terpeleset oleh

genangan air yang membuat becek, dan beberapa sampah plastik

yang tidak pada tempatnya.

5) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, mobil, crane, buldozer,

tractor, ladle car, truck, dan lain-lain) dapat terjadi pada saat

karyawan berada di area transportasi.

6) Terjatuh

Pada saat menaiki tangga, terpeleset sisa spons yang ada di atas,

terjatuh dari ketinggian, terjatuh pada tempat lift naik-turun.

7) Terjepit

Terjepit pintu lift.

8) Tersandung

Tersandung barang-barang/besi-besi bekas perbaikkan, besi

bekas yang tidak bisa diperbaiki dan bebatuan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 56
digilib.uns.ac.id

9) Terbentur

Terbentur besi ketika melewati penyimpanan gas.

b. Pabrik Billet Baja

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada proses peleburan di dalam furnace

yaitu pada proses peleburan terdapat bahan baku yang

mengandung air (sponge iron dan scrap basah) dan adanya

elektroda di dalam furnace.

2) Percikan Baja Cair

Percikan baja cair dapat terjadi pada proses peleburan di

furnace, proses sekunder di ladle furnace, proses pencetakan di

concast, pengambilan sampel, pengecekan temperatur, injeksi

oksigen, injeksi grafit dan pada saat melempar split.

3) Kejatuhan benda

Kejatuhan benda dapat terjadi pada saat pengangkutan material

oleh crane scrap, crane charging, crane ladle, crane tundish

dan crane billet handling (scrap, sponge iron, kapur, grafit,

elektroda, ladle, tundish dan billet).

4) Kebakaran

Pada saat melting membuang slag, ladle menumpahkan kotoran

dari melting yang belum sepenuhnya terbuang, percikan baja

cair pada proses peleburan di furnace, proses sekunder di ladle

furnace, proses pencetakan di concast, pengambilan sampel,


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 57
digilib.uns.ac.id

pengecekan temperatur, injeksi oksigen, injeksi grafit dan pada

saat melempar split.

5) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, mobil charging, crane dan

truck) dapat terjadi pada saat karyawan berada di area

transportasi dan berjalan di lintasannya.

6) Tersandung

Tersandung material dapat terjadi pada saat penempatan alat–

alat peleburan, material–material produksi dan sampah karung

plastik sisa kapur, grafit, material, elekroda, sisa sampel,

temperatur dan selang air yang tidak pada tempatnya.

7) Tersentuh Benda Panas (tersengat)

Tersentuh benda panas dapat terjadi pada saat proses finishing

billet, di billet yard, pengambilan sampel, cek temperatur,

injeksi oksigen dan injeksi grafit.

c. Pabrik Slab Baja

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada proses peleburan di dalam furnace

yaitu pada proses peleburan terdapat bahan baku yang

mengandung air (sponge iron dan scrap basah) dan adanya

tabung di dalam furnace.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 58
digilib.uns.ac.id

2) Percikan Baja Cair

Percikan baja cair dapat terjadi pada proses peleburan di

furnace, proses sekunder di ladle furnace, proses pencetakan di

concast, pengambilan sampel, pengecekan temperatur, injeksi

oksigen, injeksi grafit dan pada saat melempar split.

3) Kejatuhan benda

Kejatuhan benda dapat terjadi pada saat pengangkutan material

oleh crane scrap, crane charging, crane ladle, crane tundish

dan crane billet handling (scrap, sponge iron, kapur, grafit,

elektroda, ladle, tundish dan slab).

4) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, mobil charging, dan truck)

dapat terjadi pada saat karyawan berada di area transportasi.

5) Tersandung

Tersandung material dapat terjadi pada saat penempatan alat–

alat peleburan, material–material produksi dan sampah karung

plastik sisa kapur, grafit, material, elekroda, sisa sampel,

temperatur dan ganum tidak pada tempatnya.

6) Tersentuh Benda Panas

Tersentuh benda panas dapat terjadi pada saat proses finishing

slab, pengambilan sampel, cek temperatur, injeksi oksigen,

injeksi grafit, pemanasan tundish, area peleburan, area ladle

furnace, area pencetakan dan pemotongan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 59
digilib.uns.ac.id

d. Pabrik Baja Lembaran Panas

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada saat pemanasan slab di furnace

dengan menggunakan gas.

2) Kejatuhan benda

Kejatuhan benda dapat terjadi pada saat pengangkutan material

oleh crane slab yard, crane coil yard, dan crane plat yard (slab,

coil dan plat).

3) Tergores

Tergores dapat terjadi pada saat pengikatan coil dan plat dengan

sabuk coil dan plat.

4) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, truck dan mobil) dapat

terjadi pada saat karyawan berada di area transportasi.

5) Terpeleset

Terpeleset dapat terjadi pada saat karyawan melewati area

proses produksi karena adanya ceceran oli di lantai.

6) Tersentuh Benda Panas

Tersentuh benda panas dapat terjadi pada saat proses pemanasan

di furnace, hot rolled coil dan pada saat pengikatan coil dan plat

dengan sabuk coil dan plat.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 60
digilib.uns.ac.id

e. Pabrik Cold Rolling Mill

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada proses pemanasan di area batch

annealing furnace dan area continous annealing line.

2) Kejatuhan benda

Kejatuhan benda dapat terjadi pada saat pengangkutan material

oleh crane coil yard dan crane plat yard (coil dan plat).

3) Tergores

Tergores dapat terjadi pada saat pengikatan coil dan plat dengan

sabuk coil dan plat.

4) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, truck dan mobil) dapat

terjadi pada saat karyawan berada di area transportasi.

5) Terpeleset

Terpeleset dapat terjadi pada saat karyawan melewati area

proses produksi karena adanya ceceran oli dilantai.

6) Tersentuh Benda Panas

Tersentuh benda panas dapat terjadi pada saat proses batch

annealing furnace dan continous annealing line.

f. Pabrik Batang Kawat (Wire Rod)

1) Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada saat pemanasan bilet di WB

reheating furnace dengan menggunakan gas.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 61
digilib.uns.ac.id

2) Kejatuhan benda

Kejatuhan benda dapat terjadi pada saat pengangkutan material

oleh crane billet yard, crane coil batang kawat (billet dan coil

batang kawat).

3) Tergores

Tergores dapat terjadi pada saat pengikatan coil batang kawat

dengan sabuk coil, pengambilan sampel dan pemotongan kepala

ekor wire rod.

4) Tertabrak

Tertabrak alat transportasi (forklift, truck dan mobil) dapat

terjadi pada saat karyawan berada di area transportasi.

5) Terpeleset

Terpeleset dapat terjadi pada saat karyawan melewati area

proses produksi karena adanya ceceran oli dilantai.

6) Tersentuh Benda Panas

Tersentuh benda panas dapat terjadi pada saat proses pemanasan

di WB reheating.

3. Pengendalian Potensi Bahaya

a. Kebakaran

Berdasarkan potensi bahaya yang ada telah dilakukan langkah

pengendalian bahaya kebakaran sebagai upaya pengurangi dampak

kebakaran. Hal ini dilakukan dengan upaya pencegahan terjadi

ledakan dalam proses peleburan bahan baku yang digunakan harus


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 62
digilib.uns.ac.id

bebas dari air, karena air akan bereaksi membentuk gas H2 yang

kemudian dapat menyebabkan ledakan, pemasangan rambu-rambu

(dilarang merokok dan menyalakan api) pada lokasi bahaya

kebakaran, menyediakan alat pemadam api ringan jenis dry chemical

dan CO2, alarm kebakaran, sistem hidran, pintu darurat, kotak P3K,

perawatan dan perbaikan mesin, penyimpanan dan penempatan yang

baik untuk bahan B3 serta memberikan pelatihan pemadam

kebakaran, penyediaan shelter dan assembly point.

b. Ledakan

Sebagai upaya pengendalian bahaya peledakan ini perusahaan

mengupayakan program pemasangan rambu-rambu (dilarang

merokok dan menyalakan api) pada lokasi bahaya ledakan,

perawatan dan pemeliharaan sarana, inspeksi rutin, menyediakan alat

pemadam api ringan, fasilitas hidran, alarm kebakaran, kotak P3K,

shelter, assembly point dan menyediakan alat pelindung diri.

c. Tersentuh Benda Panas

Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaaan adalah

dengan memasang rambu-rambu keselamatan bahaya panas, rambu-

rambu pemakaian APD (sarung tangan, safety helmet, safety shoes,

dan baju tahan panas), safety line guna mencegah terjadinya

kecelakaan, menyediakan alat pelindung diri (sarung tangan, safety

helmet, safety shoes, dan baju tahan panas), kotak P3K serta serta

desain tempat kerja yang aman.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 63
digilib.uns.ac.id

d. Kejatuhan Benda

Untuk mengurangi dampak potensi bahaya ini, perusahaan telah

menyediakan alat pelindung diri (safety helmet dan safety shoes),

memberikan penghalang pada lokasi yang berbahaya, menyediakan

safety line, dan pemasangan rambu-rambu keselamatan.

e. Tertabrak

Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah

membuat jalur aman bagi karyawan di area pabrik (Safety Line).

f. Tergores

Pengendalian dilakukan dengan menyediakan baju lengan

panjang, sarung tangan, dan safety line sebagai isolasi karyawan

dengan mesin.

g. Terpeleset

Pengendalian potensi bahaya terpeleset dilakukan dengan

membersihkan lantai dari bekas oli, pelumas, dan air serta

menempatkan barang sesuai lokasinya (5R).

4. Alat Pelindung Diri

a. Prosedur distribusi APD dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

1) Karyawan Baru

a) Karyawan yang belum memiliki APD melaporkan pada

bagian administrasi pabrik untuk didata, APD apa saja yang

diperlukan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 64
digilib.uns.ac.id

b) Bagian administrasi meminta persetujuan pada pimpinan

pabrik dengan membuat reservasi SAP R3.

c) Setelah memperoleh persetujuan pimpinan pabrik, maka

salah satu wakil dari karyawan menyerahkan nomor

reservasi ke Dinas Keselamatan Kerja.

d) Kemudian nomor reservasi direlease, setelah mengecek

secara keseluruhan data karyawan.

e) Selanjutnya bila sudah direlease APD yang diminta dapat

diambil pada bagian gudang pelayanan.

2) Karyawan Lama

a) Jika APD telah rusak maka prosedur distribusi APD juga

sama seperti karyawan baru tetapi perwakilan karyawan

tersebut harus membawa APD yang telah rusak untuk

diidentifikasi oleh Dinas Keselamatan Kerja.

b) Jika APD (Helm dan Sepatu) hilang maka prosedur sama

seperti diatas dengan menunjukan laporan kehilangan yang

ditandatangani pimpinan pabrik dan yang bersangkutan

dipotong gaji sebagai pertanggungjawaban.

b. Pengawasan APD

Pengawasan APD secara rutin dilaksanakan oleh pengawas

keselamatan di pabrik masing-masing. Pengawas keselamatan

sekaligus bertindak sebagai wakil dari pimpinan pabrik untuk

memantau kondisi dan tindakan yang tidak aman sedangkan Dinas


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 65
digilib.uns.ac.id

Keselamatan Kerja mengontrol dan menginspeksi pemakaian APD

secara berkala. Pada saat inspeksi Dinas Keselamatan Kerja

bekerjasama dengan pengawas keselamatan pabrik untuk

mengadakan tilang bagi pelanggar pemakai APD.

c. Pelanggaran Alat Pelindung Diri (APD)

1) Non Organik (outsourching)

Jika terjadi pelanggaran APD bagi karyawan outsourching

langsung dikenakan sanksi berupa pemotongan gaji sebesar 100

ribu rupiah setiap satu pelanggaran bagi kontraktor karyawan

tersebut.

2) Karyawan Organik

a) Pelanggaran pertama diberikan teguran lisan.

b) Pelanggaran kedua diberi peringatan tertulis pertama

dengan pemotongan insentif sebesar 25%.

c) Pelanggaran ketiga diberi peringatan tertulis kedua dengan

pemotongan insentif sebesar 75%.

d) Pelanggaran ketiga diberi peringatan tertulis kedua dengan

pemotongan insentif sebesar 100%.

e) Jika karyawan tidak dapat memenuhi peraturan yang

berlaku di perusahaan maka terpaksa karyawan tersebut

diberhentikan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 66
digilib.uns.ac.id

d. Macam Alat Pelindung Diri

Penyediaan APD tanpa pungutan biaya pada semua karyawan

yang terpajan faktor lingkungan kerja dan potensi bahaya sesuai

registrasi K3.

Adapun jenis APD adalah:

1) Pelindung kepala (Safety helmet, capucon, topi khusus work

shop).

2) Pelindung mata (Googles untuk karyawanan debu, percikan

logam, sinar menyilaukan).

3) Pelindung Telinga (ear muff, ear plug ultrafit).

4) Pelindung tangan (sarung tangan kulit, listrik, aliminize,

laboratorium, katun, mantenance, las)

5) Pelindung badan (Apron, baju tahan panas, overal, baju tahan

radiasi, baju tahan kimia)

6) Pelindung pernapasan (Masker debu, gas, bahan beracun,

breathing apparatus)

7) Pelindung karyawanan ketinggian (Safety belt).

8) Pelindung kaki (Safety shoes long dan shot untuk listrik, juru

las, scarfing, karet).

5. Kinerja Keselamatan Kerja

Tolak ukur penilaian kondisi keselamatan kerja digunakan parameter :

a. Injury Frequency Rate (IFR) dan Injury Saferety Rate (ISR).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 67
digilib.uns.ac.id

b. Kinerja manajemen berdasarkan evaluasi penyelesaian temuan

inspeksi K3, Audit K3 dan perbaikan K3.

c. Pemenuhan peraturan perundang-undangan bidang keselamatan

kerja.

6. Sertifikasi Instalasi Berbahaya

Sertifikasi alat ditujukan pada peralatan produksi yang berproduksi

yang menimbulkan kecelakaan kerja atau kondisi darurat sesuai dengan

Peraturan-undangan Depnaker. Peralatan instalasi berbahaya yang

disertifikasi antara lain :

a. Boiler

1) Pada operator harus menggunakan SIO (Surat Ijin Operator).

2) Pengujian uap atau steam test adalah cara kerja untuk menguji

kemampuan safety valve pada tangki atau ketel uap tersebut.

3) Pengujian dengan menggunakan media air dingin atau uji padat,

untuk menguji kemampuan tangki atau bejana 1,5 kali tekanan

kerja maksimal yang diijinkan.

4) Untuk melihat kemampuan tangki atau bejana dari perubahan

bentuk, kebocoran dan keringat.

5) Teknisnya, tekanan diatur secara perlahan-lahan dari tekanan 0,5

kg/cm2 sampai mencapai tekanan uji terhadap kemampuan

tangki atau bejana tersebut.

b. Bejana Bertekanan

c. Tanki-tangki bertekanan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 68
digilib.uns.ac.id

d. Instalasi Crane

Pada operator harus menggunakan SIO (Surat Ijin Operator)

diperiksa masih berlaku atau tidak. Pengujian pada crane dengan

cara pembebanan yaitu pengujian visual (diinspeksi secara langsung

menggunakan magnet), pengujian NTD (Non Destructive Test)

untuk melihat ada konstruksi yang retak atau tidak, dan pengujian

loadtest/uji beban.

e. Forklift

f. Alat transport (trailer, conveyor) dilakukan dengan cara kalibrasi

setiap tahun.

g. Botol-botol bertekanan (gas, udara/O2, N2N dan Argon)

h. Instalasi Radioaktif

1) Pengukuran dari dosis PPR (Pekerja Proteksi Radiasi) dengan

film badge yang dilakukan setiap bulan sekali.

2) Pengukuran pancaran radiasi.

3) Memindahkan radioaktif/melimbahkan.

i. Instalasi listrik dan petir

Pengujian terhadap kabel dengan tahan sambaran 5 ohm.

j. Instalasi produksi

1) Pengawasan umum/visual (perlengkapan)

2) Pengawasan khusus dengan cara pengujian terhadap alat

keselamatan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 69
digilib.uns.ac.id

7. Inspeksi

a. Inspeksi Umum

Inspeksi umum diadakan secara rutin setiap seminggu sekali

oleh Tim Inspeksi Gabungan yang terdiri dari perwakilan dari Divisi

HSE, perwakilan unit terkait seperti plant inspector di area tersebut,

perwakilan dari kontraktor yang memilki work order di area

tersebut, keamanan dan perwakilan dari Damkar. Acuan utama

pelaksanaan inspeksi K3 adalah Undang-undang No.1 Tahun 1970

serta Peraturan Menteri 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Materi Inspeksi meliputi kondisi keselamatan umum yaitu

instalasi listrik, pelindung mesin/peralatan, permukaan jalan dan

tempat kerja, pergerakan mekanik, tabung gas bertekanan, bahan

mudah terbakar, rambu K3, emergency shower, tangga dan alat

memanjat, peralatan, alat handling, jalan dan gang, penempatan dan

penumpukan barang.

Materi inspeksi yang meliputi pencegahan dan pengendalian

kebakaran/keadaan darurat seperti fire detection dan alarm system,

springkle system, APAR, instalasi pemadam kebakaran, evakuasi,

prosedur komunikasi, fire doors, dan peralatan P3K.

Materi inspeksi yang meliputi kondisi kesehatan dan lingkungan

kerja seperti B3, ventilasi, kebisingan, radiasi, tekanan panas,

penerangan, ergonomi, APD, kebersihan dan sanitasi.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 70
digilib.uns.ac.id

b. Inspeksi Khusus

Inspeksi khusus yaitu inspeksi yang dilakukan pada instalasi

berbahaya secara rutin, akan tetapi pada waktu tertentu dan item-

item tertentu. Pelaksanaan inspeksi khusus banyak ragamnya seperti

pemeriksaan dan pengujian pada ketel uap dan bejana bertekanan,

botol baja bertekanan, pemantauan dan pengawasan radioaktif,

inspeksi crane, dan inspeksi penangkal petir.

8. Pembinaan Keselamatan Kerja

Sasaran pembinaan Keselamatan Kerja adalah :

a. Karyawan Baru

Karyawan baru sebelum menempati jobnya wajib mendapatkan

training K3, lingkungan dan pelatihan yang berbasis kompetensi.

b. Karyawan Lama

Karyawan diprogramkan pelatihan K3 seperti pelatihan Panitia

Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), Supervisi K3,

Tim Koordinasi Tanggap Darurat (TKTD)/Tim Tanggap Darurat

(TTD), Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), ISO

14001, P3K, Promosi Kesehatan dan Pemadam Kebakaran.

9. Sertifikasi Keahlian Bidang K3

Karyawan dengan posisi tertentu yang bertanggung jawab

melaksanakan pengawasan dan pengelolaan K3 di unit kerja dilakukan

pelatihan sertifikasi K3 meliputi :

a. Ahli K3 Umum
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 71
digilib.uns.ac.id

b. Ahli K3 Kimia

c. Ahli K3 Pesawat Angkat & Angkut

d. Ahli K3 Pesawat Uap dan Bajana Tekan

e. Ahli K3 Radiasi

f. Ahli K3 Petir

g. Ahli K3 Damkar

10. Sistem Tanggap Darurat

Dalam penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) dan Sistem

Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 maka dibentuk organisasi

Tim Tanggap Darurat (TTD) di setiap unit kerja yang memiliki potensi

bahaya. Organisasi TTD di bawah komando Tim Koordinasi Tanggap

Darurat (TKTD) pusat.

Fungsi TTD adalah penanggulangan kemungkinan keadaan darurat di

unit kerja akibat bencana alam ataupun kecelakaan properti yang

berdampak luas serta penyelamatan manusia dan aset perusahaan, pada

saat pengamanan risiko pada kondisi normal tidak berjalan. Adapun

pengamanan risiko dalam kondisi normal adalah :

a. Safety Factor

b. System Operation Procedure

c. Manintenance periodik atau tahunan

d. Prediktif maintenance

e. Pengamanan dari aspek Sumber Daya Manusia (SDM) :

1) Job Discription.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 72
digilib.uns.ac.id

2) Job Spesification.

f. Alat pengendali polusi:

1) Dedusting plan: pengendali debu.

2) Water Treatment Plan (WTP) : untuk menjamin air yang

digunakan untuk produksi sesuai yang dipersyaratkan.

3) Waste Water Treatment Plan (WWTP) : untuk mengolah limbah.

g. Control room

Ketua TTD adalah seorang Manager yang membawahi 8 satuan

tugas yaitu :

1) Satuan Tugas Pemadam Kebakaran (Damkar)

2) Satuan Tugas Pengamanan

3) Satuan Tugas Evaluasi

4) Satuan Tugas Inventarisasi

5) Satuan Tugas Perbaikan atau Pemulihan

6) Satuan Tugas Medis

7) Satuan Tugas Darurat

8) Satuan Tugas Komunikasi

11. Fire Protection

Upaya pencegahan dan pengendalian potensi bahaya kebakaran,

peledakan dilakukan oleh Tim Fire Protection.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 73
digilib.uns.ac.id

Adapun perlengkapan fire protection adalah :

a. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berbagai jenis, antara lain :

APAR CO2 dan APAR Dry Powder sesuai dengan klasifikasi

kebakaran (standart USA atau Eropa)

b. Hidrant pada semua area kerja

c. Sprinkler automatic pada unit dengan potensi kebakaran tinggi

d. Pemadam kebakaran khusus pada Gedung Direksi

e. Fire Alarm System pada unit vital perusahaan

f. Mobil pemadam kebakaran

g. Perlengkapan evakuasi korban

12. Sosialisasi K3

Dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, PT.

Krakatau Steel mempunyai program sosialisasi K3. Program

sosialisasi K3 ini dilaksanakan oleh Divisi HSE dengan sasaran semua

karyawan, semua orang yang keluar masuk wilayah Krakatau Steel

dan masyarakat sekitar. Sosialisasi K3 ini dilaksanakan dengan

berbagai macam metode seperti penyuluhan, penggairahan dan

pelatihan. Teknik yang digunakan untuk menjalankan metode tersebut

antara lain dengan:

a. Rapat P2K3 pusat tingkat manajemen diadakan 3 bulan sekali,

dipimpin oleh Direktur Produksi, serta rapat P2K3 tingkat

sekretaris yang diadakan 1 bulan sekali. Misalnya: Kinerja HSE

unit kerja (Rona lingkungan, Injury Frequency Rate (IFR) dan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 74
digilib.uns.ac.id

injury Saferety Rate (ISR), kinerja manajemen dan kinerja

lingkungan (debu, tekanan panas, kebisingan, kondisi

pembuangan air limbah dan kondisi air laut) serta kinerja

manajemen (Progres kinerja K3), progres closing CAR (Corecting

Action Report), Progres NCR (Non Conformance Report).

Sosialisasi HSE di Pusdiklat maupun unit kerja.

b. Sidak gabungan HSE dan monitoring progress temuan.

c. Media pembinaan langsung atau tidak langsung pada karyawan.

Media pembinaan tidak langsung yang digunakan di perusahaan

yaitu : papan info K3, data kecelakaan, billboard, spanduk-

spanduk untuk pabrik/lingkungan, bulletin Krakatau Steel, leaflet

lapangan (Buku Saku K3).

F. Ergonomi

Ergonomi adalah pengetahuan ilmu-ilmu biologis tentang manusia

bersama-sama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi di dalamnya terdapat

ergonomi. Sasaran program ergonomi jangka pendek dan menengah ditujukan

pada perbaikan kondisi tempat kerja (Work Station), perbaikan standar

ergonomi, pengendalian risiko Work Musculosceletal Disorders (WMSDs).

Kegiatan yang berhubungan dengan ergonomi antara lain :

1. Pengukuran anthropometri karyawan untuk desain stasiun kerja.

2. Pengawasan ergonomi guna meningkatkan kesadaran karyawan dalam

penerapan sikap kerja ergonomi.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 75
digilib.uns.ac.id

3. Pengadaan meja kerja baru di perusahaan melalui Juklak (petunjuk

pelaksanaan) pengadaan kursi dan meja ergonomi.

4. Program perbaikan ergonomi crane dan control room

5. Monitoring risiko WMSDs.

6. Sosialisasi ergonomi

7. Evaluasi dan pelaporan kinerja ergonomi unit kerja yang dihasilkan

dengan insentive produksi.

Dalam perkembangannya pengertian penerapan ergonomi di PT. Krakatau

Steel menjadi luas yaitu pemahaman keterbatasan manusia dalam proses, cara

kerja serta lingkungan kerja yang menitikberatkan pengawasan terhadap

sistem atau cara kerja serta tenaga kerja mengadakan kontak langsung dengan

faktor dan potensi bahaya. Hal ini akan berakibat menurunnya produktivitas

dan efisiensi karena banyak tenaga kerja cepat megalami kelelahan akibat

ketidaknyamanan saat bekerja.

Waktu kerja PT. Krakatau Steel adalah 8 jam sehari dan 40 jam

seminggu.

Shift kerja terdiri dari 3 group :

1. Shift I : 22.00-06.00 WIB

2. Shift II : 06.00-14.00 WIB

3. Shift III : 14.00-22.00 WIB

Sedangkan untuk sistem kerja non shift masuk setiap hari Senin- Kamis

pukul 08.00-16.30 WIB. Sedangkan pada hari Jum’at jam kerja dari pukul

08.00-17. 00 WIB yang di dahului olah raga dari jam 08.00- 09.00 WIB.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 76
digilib.uns.ac.id

G. Manajemen K3

1. Struktur Organisasi Divisi HSE

Divisi HSE PT. Kraktatau Steel dipimpin oleh seorang manager yang

membawahi :

a. Fungsional :

1) Senior Engineer SMK3

2) Senior Engineer SML

b. Struktural :

1) Dinas Hiperkes

Superintendent Hiperkes, membawahi struktural :

1) Engineer Ergonomi

2) Spesialis Gizi Kerja

3) Spesialis Kesehatan Kerja

4) Engineer Industrial Higiene

2) Dinas Keselamatan Kerja

Superintendent Keselamatan Kerja membawahi struktural :

a) Engineer Safety Pesawat Angkat & Angkut

b) Engineer Safety Pesawat Tenaga dan Produksi

c) Engineer Pembinaan & Pengawasan Keselamatan Kerja

d) Engineer Safety Peraturan & Standar Keselamatan Kerja

e) Engineer Safety Boiler & Bejana Tekan

f) Engineer Safety Radiasi

g) Engineer Pengawasan Umum


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 77
digilib.uns.ac.id

3) Dinas Laboratorium Lingkungan

Superintendent Laboratorium Lingkungan, membawahi

struktural :

a) Supervisor Laboratorium Kimia yang membawahi Analis

Laboratorium Kimia

b) Supervisor Prasarana dan Laboratorium Lingkungan yang

membawahi Teknisi Prasarana dan Laboratorium

Lingkungan

4) Dinas Pengendalian Lingkungan

Superintendent Pengendalian Lingkungan, membawahi

struktural :

a) Engineer Pengendalian Lingkungan Pengolahan Besi

b) Engineer Pengendalian Lingkungan Pengolahan Baja

c) Engineer Pengendalian Lingkungan Pengerolan Baja

d) Engineer Pengendalian Lingkungan Penunjang Pabrik

e) Engineer Pengendalian Lingkungan Umum dan Kawasan

f) Engineer Pengawasan Limbah

g) Teknisi Pengawasan Limbah

Masing-masing dinas dipimpin oleh Superintendent dan

membawahi secara struktural para Engineer dan Junior

Engineer.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 78
digilib.uns.ac.id

2. Pembagian Tugas Divisi HSE

a. Manager HSE

Bertugas dalam mengorganisasikan, mengkoordinasikan, dan

menyelenggarakan kegiatan pengelolaan keselamatan, kesehatan

kerja, dan lingkungan industri dengan menerapkan Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta menjalin

kerjasama dengan instansi dan institusi terkait.

b. Superintendent Hiperkes

Bertugas dalam menyelenggarakan dan melaksanakan program

pelayanan kesehatan kerja dalam rangka perlindungan kesehatan

karyawan serta mengembangkan sistem kesehatan kerja yang efektif

dalam pengendalian resiko.

Tanggung jawab utamanya dalam melaksanakan upaya

perlindungan kesehatan, pembinaan kompetensi staf kesehatan kerja,

memberikan informasi kinerja kesehatan pada manajemen.

Tugas dan tanggung jawab lainnya adalah dalam merencanakan

program promotif dan preventif pelayanan kesehatan, mengkoordinir

dan mengawasi kegiatan pendidikan kesehatan, pelayanan gizi kerja,

pemantauan kesehatan, pengawasan kesehatan, pelayanan P3K, riset

medis, dan program perlindungan kesehatan khusus, melaksanakan

sistem informasi kesehatan, mengevaluasi kinerja kesehatan dan

mengembangkan sistem perlindungan kesehatan yang terintegrasi

dalam sistem perusahaan, sinergi dan ekonomis. Membina


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 79
digilib.uns.ac.id

kompetensi staf kesehatan kerja, membina hubungan kerja internal

maupun eksternal perusahaan.

c. Superintendent Keselamatan Kerja

Bertugas dalam menyelenggarakan dan mengatur kegiatan upaya

keselamatan kerja di perusahaan melalui kegiatan pembinaan,

pengawasan dan pengujian sesuai dengan norma-norma keselamatan

kerja, Sistem Manajemen K3 dan peraturan perundangan yang

berlaku. Tanggung jawab utamanya adalah dalam penyelenggaraan

kegiatan keselamatan kerja di perusahaan.

Tugas dan tanggung jawab lain adalah :

1) Menyelenggarakan pengawasan operasional keselamatan kerja

di pabrik dan lingkungan pabrik.

2) Menetapkan Standart Operating Prosedure (SOP), kode dan

rambu-rambu keselamatan kerja untuk mencegah kecelakaan

kerja di pabrik dan lingkungan pabrik.

3) Menetapkan daerah atau lokasi-lokasi tidak aman dan tindakan

tidak aman sebagai usaha pencegahan kecelakaan kerja

karyawan dan perusahaan di pabrik maupun lingkungan pabrik.

4) Mengatur kegiatan pengawasan pengujian terhadap alat-alat

bertekanan dan alat-alat angkat sebagai usaha pencegahan

kecelakaan kerja di pabrik dan lingkungan pabrik.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 80
digilib.uns.ac.id

5) Mengatur kegiatan pengawasan pengujian terhadap alat-alat,

mesin chemical, dan alat keselamatan kerja di pabrik dan

lingkungan pabrik.

6) Melakukan evaluasi pelaksanaan dan pengawasan kegiatan

keselamatan kerja karyawan dan pabrik.

7) Melakukan usaha-usaha peningkatan keselamatan kerja

karyawan dan pabrik melalui upaya pembinaan dan promosi

keselamatan kerja internal dan eksternal.

8) Melakukan koordinasi dengan instansi atau lembaga terkait

sebagai upaya peningkatan, pembinaan, konsultasi, dan

akreditasi bidang keselamatan kerja.

d. Superintendent Pengendalian Lingkungan

Tugas pokok Superintendent Pengendalian Lingkungan

menyelenggarakan dan mengawasi pengelolaan limbah, dan

pelaksanaan pengelolaan lingkungan di areal pabrik dan kawasan

industri.

Bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan laboratorium

dan pengelolaan lingkungan dan akibat-akibat yang ditimbulkan.

Tugas dan tanggung jawab:

1) Menyelenggarakan dan mengendalikan kegiatan pengelolaan

lingkungan.

2) Melakukan evaluasi pelaksanaan rencana pengelolaan

lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 81
digilib.uns.ac.id

3) Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan pengujian dan

pengawasan dampak lingkungan.

4) Menyelenggarakan dan mengendalikan penelitian dan kajian

teknis, laboratorium untuk aplikasi pemanfaatan, daur ulang dan

penanganan limbah industri.

5) Mempelajari dan mempertimbangkan penerapan teknologi

analisa dampak lingkungan dari sumber.

6) Mengendalikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan di areal

pabrik dan kawasan industri.

e. Superintendent Laboratorium Lingkungan

Tugas dan Tanggung Jawabnya adalah :

1) Menyiapkan dan memelihara prasarana pemantauan lingkungan.

2) Pengujian analisa hasil pemantauan lingkungan (air limbah,

limbah padat, udara, kebisingan, tekanan panas, dan sebagainya)

yang mencakup PT. Krakatau Steel itu sendiri dan kawasan di

sekitar industri.

3) Melakukan kerjasama pengujian hasil pemantauan lingkungan

dengan pihak ketiga (pemerintah, badan pengujian/lab,

laboratorium lingkungan).

4) Penerapan sertifikasi laboratorium lingkungan (ISO 17025).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 82
digilib.uns.ac.id

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI HSE PT. KRAKATAU STEEL

Manager HSE

Sr. Engineer
Sistem Manajemen
Lingkungan

Sr. Engineer SMK3

Superintendent Superintendent Superintendent Superintendent


Hyperkes Keselamatan Laboratorium Pengendalian
Kerja Lingkungan Lingkungan

Gambar 7. Bagan Struktur Organisasi HSE


(Sumber : Data Sekunder, 2011)

3. Kebijakan SMK3

PT. Krakatau Steel memproduksi besi spons, slab, dan billet baja

yang kemudian dibentuk menjadi produk plat, rolled, strip, dan kawat

baja PT. Krakatau Steel secara aktif menggalakkan perlindungan

lingkungan, keselamatan, dan kesehatan kerja dengan menerapkan sistem

manajemen lingkungan, keselamatan, dan kesehatan kerja dengan tujuan

: commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 83
digilib.uns.ac.id

a. Berupaya untuk menekan serendah mungkin dampak negatif

terhadap lingkungan dengan meminimalisasi limbah dan emisi serta

penghematan energi dan sumber daya.

b. Berupaya mengembangkan semaksimal mungkin dampak positif

terhadap lingkungan dengan meningkatkan pemanfaatan dan daur

ulang limbah.

c. Berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman

dengan meminimalkan kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat

kerja.

d. Berupaya untuk meningkatkan kepedulian, pengetahuan, dan

kemampuan karyawan dalam bidang lingkungan, keselamatan, dan

kesehatan kerja melalui pelatihan intern dan ekstern.

4. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)

P2K3 di PT. Krakatau Steel dibentuk berdasarkan UU No. 1 Tahun

1970, tentang keselamatan kerja. Secara yuridis K3 dibagi menjadi dua

yaitu dalam bentuk struktural (Divisi HSE) dan non struktural (P2K3).

K3 secara struktural memiliki fungsi untuk membina agar K3 berjalan

dengan baik. P2K3 ini memiliki sasaran yaitu agar tidak terjadi insiden,

penyakit akibat kerja (PAK), dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.

Program P2K3 di PT. Krakatau Steel yaitu :

a. Terlaksananya implementasi K3.

b. Dalam satu bulan sekali diadakan rapat P2K3.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 84
digilib.uns.ac.id

c. Dilaksanakan kegiatan pembinaan K3, inspeksi K3, promosi dan

sosialisasi K3 (poster, rambu-rambu, dan buletin), dan

penyelenggaraan perlombaan K3 (contoh : cepat tepat HSE, lomba

pembuatan poster, lomba tanggap darurat, 5R (ringkas, rapi, resik,

rawat, rajin) dan kebersihan.

d. Pembuatan laporan kegiatan P2K3 ke instansi pemerintah

(DEPNAKER).

Struktur P2K3 terdiri dari dua struktur yaitu :

a. Struktur P2K3

1) P2K3 Pusat

KETUA

WAKIL KETUA

SEKRETARIS

KETUA SUB KADIV WAKIL


P2K3 PENUNJANG KARYAWAN

Gambar 8. Struktur P2K3 Pusat


Sumber : Data Sekunder, 2012

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 85
digilib.uns.ac.id

2) Sub P2K3

KETUA

WAKIL KETUA

SEKERTARIS

KEPALA PERWAKILAN UNIT WAKIL KONTRAKTOR


DINAS/SEKSI KERJA PENUNJANG KARYAWAN

Gambar 9. Struktur Sub P2K3


Sumber : Data Sekunder, 2012

b. Fungsi P2K3 Pusat

1) Sebagai badan pertimbangan di tempat kerja dalam memberikan

saran, pertimbangan dan konsultasi baik diminta maupun tidak

kepada pengusaha/pengurus dan karyawan di tempat kerja yang

bersangkutan mengenai masalah HSE.

2) Menghimpun dan mengevaluasi segala data dan permasalahan

K3 di tempat kerja yang bersangkutan, serta mendorong

ditingkatkannya penyuluhan, pengawasan, latihan dan penelitian

K3.

c. Tugas P2K3 Pusat

1) Menjamin terlaksananya SMK3 di PT. Krakatau Steel.

2) Menyelenggarakan rapat P2K3 secara periodik.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 86
digilib.uns.ac.id

3) Mengakomodasi permasalahan dan usulan dari sub P2K3 serta

memberikan rekomendasi terhadap permasalahan yang timbul.

4) Memberikan saran kepada perusahaan menyangkut kebijakan

K3.

5) Membuat laporan kepada Depnaker sesuai dengan Perpu yang

berlaku.

6) Membuat evaluasi kegiatan P2K3 pada forum tinjauan SMK3.

5. Sistem Manajemen Krakatau Steel (SMKS)

Sistem manajemen Krakatau Steel merupakan integrasi dari berbagai

sistem manajemen yang bersifat mendatori maupun voluntary seperti :

ISO 9001-2000, ISO 14001, SMK3 dan Sistem Manajemen Energi

(MMT), Total Preventif Maintenance (TPM) dan sertifikasi produk (JIS,

Lyoid Standart, SNI, dan lain-lain).

Sertifikat-sertifikat PT. Krakatau Steel tersebut antara lain :

a. Tahun 2012 : Re Sertifikasi OHSAS 18001:2007, ISO

14001:2004, ISO 9001:2008, SMP (System

Manajemen Pengamanan)

b. Tahun 2011 : Re Sertifikasi OHSAS 18001:2007, ISO

14001:2004, ISO 9001:2008, SMP (System

Manajemen Pengamanan)

c. Tahun 2005 : ISO 17025 (Tentang Labiratorium Lingkungan)

d. Tahun 2003 : ISO 9001-2000 (tentang K3LH)

e. Tahun 2002 : Lyoid/British Standart (Kualitas)


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 87
digilib.uns.ac.id

f. Tahun 2001 : SMK3

g. Tahun 1996 : ISO 14001 (System Manajemen Lingkungan)

h. Tahun 1995 : SNI (Standart Nasional Indonesia)

i. Tahun 1994 : JIS (Japan Industrial Standart)

j. Tahun 1993 : ISO 9001

Serta system manajemen lain, seperti :

a. System Konservasi Energi

b. System Manajemen Mutu Terpadu

c. Total Preventif Maintenance

d. Tata Graha (5R)

e. GKM/SGA (Small Group Activity)

Seluruh system tersebut di atas diintegrasikan dan disinergikan dalam

sebuah system perncanaan, yaitu Sistem Manajemen Krakatau Steel

(SMKS). SMKS menganut system manajemen internasional, seperti :

a. Kebijakan (Police)

b. Perencanaan (Planning)

c. Pelaksanaan (Do)

d. Evaluasi (Check)

e. Peningkatan (Improvement)

Dokumentasi ada 4 level, yaitu :

a. Kebijakan perusahaan

b. Prosedur

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 88
digilib.uns.ac.id

c. SOP, WI (Work Instruction) dan TSE (Technical Standart

Engineering)

d. Record data

Penyelenggaraan ISO 14001 dan SMK3 pelaksanaannya dikelola

oleh Divisi K3LH, System Audit ISO 14001 dan SMK3 dikelola oleh

Divisi P2M, koordinator-koordinator SMKS memiliki ketua manajemen

Review yang ditunjuk langsung oleh pengelola perusahaan setingkat

General Manager (Kasubdit Perncanaan Produksi) dan untuk organisasi

TTD dikoordinir oleh Manager Keamanan dan DAMKAR.

Pelaksanaan SMKS di unit kerja antara lain struktur dan tanggung

jawab unit produksi diketuai oleh Manager terkait, pelaksanaan harinya

dilakukan oleh PIC SMKS unit kerja terkait yang dibantu oleh plant

Inspektor/Safety Plant/Sekertaris P2K3, untuk unit lain diketahui oleh

pejabat setingkat General Manager pada lokasi yang bersangkutan

(logistic, ADB, pusdiklat, perncanaan dan teknologi dan wisma baja).

Tahap perncanaan pengendalian risiko K3 dan lingkungan mengacu

pada prosedur level 2 SMKS (TLC 01-04) Total Lost Control dan WI

tentang pelaksanaan K3 dan lingkungan ± 28 WI. Identifikasi potensi

bahaya, analisa, pengendalian risiko didokumentasikan pada regristrasi

K3 dan lingkungan yang diupdate setiap tahunnya. Unit-unit kerja yang

memiliki potensi bahaya sesuai dengan regristasi K3 wajib membuat

program perbaikan K3 dan lingkungan yang setiap tahun untuk

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 89
digilib.uns.ac.id

menurunkan skor/nilai bahaya yang terdapat pada regristasi lingkungan

(K3LH).

Audit Internal dilakukan setiap 6 bulan yang dilakukan oleh Manager

Divisi Quality Promotor dan Management System Sedangkan

penyelenggaraan tinjauan manajemen dipimpin oleh Management

Representatif (MR) dengan tugas dan tanggung jawab diatur dalam

Manual SMKS dan level jabatan ketua MR adalah General Manager atau

satu tingkat dibawah direktur, sedangkan audit eksternal (SMKS)

dilakukan setiap tahun, kecuali Audit SMK3 dilakukan setiap 3 tahun

sekali oleh auditor dari lembaga independent pemegang otoritas Sistem

Manajemen K3 di Indonesia, hasil dari audit dan progress kinerja K3LH

perusahaan disimpulkan dalam pertemuan review yang dihadiri level

middle dan top management (Direktur Utama) MR yang ke 2

dilaksanakan akhir tahun yang membahas tentang persetujuan perusahaan

terhadap rencana perbaikan K3 & Lingkungan (Anggaran, Policy, dan

Prosedure).

Planning berdasarkan K3 dan Lingkungan, pelaksanaan (Do)

berdasarkan program perbaikan K3 dan evaluasi (Check) berdasarkan

mekanisme audit, action berdasarkan vorels terhadap program-program

penyimpangan dan Program perbaikan K3 dan lingkungan off schedule,

keluar dari jalur, peningkatan atau improvement berdasarkan MR 2.

Tujuan pembentukan SMKS agar tujuan perusahaan dapat dicapai

secara efektif dan efisien dalam dokumentasi, audit internal, tinjauan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 90
digilib.uns.ac.id

menajemen serta penyediaan alokasi sumber daya sekaligus menjadi

pedoman bagi manajemen dalam menjabarkan dan melaksanakan

kebijakan perusahaan.

Sasaran meningkatkan kepuasan penggan dan stake holder, kinerja

proses, nihil kecelakaan dan meminimalkan dampak lingkungan san

kesehatan kerja.

Prosedur SMKS dalam penyelenggaraan K3:LH antara lain :

a. TLC-01 : Identifikasi Aspek Lingkungan Dan Bahaya

b. TLC-02 : Identifikasi Peraturan Dan Perundangan

c. TLC-03 : Program Pengendalian Dampak Industri

d. TLC-04 : Tanggap Darurat

e. MRI-02 : Audit Internal

f. MRI-03 : Tindakan Perbaikan Dan Pencegahan

g. MRI-04 : Tinjauan Manajemen

h. SDM-04 : Pemeliharaan Dan Perlindungan Karyawan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 91
digilib.uns.ac.id

1. Kebijakan Lingkungan

2. Perncanaan
5. Tinjauan Manajemen
a. Aspek Lingkungan
b. Ketentuan Peraturan
c. Tinjauan Dan Target
d. Program Lingkungan

4. Pemantauan 3. Pelaksanaan

a. Pemantauan dan pengukuran a. Struktur dan tanggung


b. Catatan dokumen jawab
c. Audit EMS b. Pelatihan
c. Komunikasi

Gambar 10. Bagan Implementasi Sistem Manajemen K3 & SML ISO 14001
Sumber : Data Sekunder, 2012

H. Lingkungan

Sistem pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan di PT. Krakatau Steel

adalah dengan kegiatan pemantauan, penelitian, pendekatan dan

pengendalian.

1. Pemantauan

a. Pemantauan dan Penelitian Komponen Udara

1) Sistem Pemantauan Debu


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 92
digilib.uns.ac.id

a) Debu Jatuh

Pemantauan dilakukan sebulan sekali dengan 3 zona

yaitu industri, perkampungan dan perkantoran. Debu jatuh

ditangkap dengan alat berupa gelas yang mempunyai mulut

gelas bulat dengan ukuran diameter tertentu dan yang

didalamnya diberi cupri sulfat untuk mencegah timbulnya

jamur. Sedangkan titik lokasi pemasangannya berada di

daerah industri dan pemukiman penduduk sekitar wilayah

pabrik sampai pada radius 3 Km dari titik sumber. Metode

pemasangannya dengan cara : sudut atas dari penangkap

debu adalah sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah.

b) Debu Ambient

Untuk memonitor debu yang melayang-layang di udara

(ambient) digunakan alat Hi Volume Air Sampler, lamanya

pengukuran setiap titik 1 jam. Debu yang tertangkap pada

filter dianalisa grafimetri dan hasilnya memakai satuan

microgram/m3 udara. Standart debu ambient di udara adalah

260 µg/m3 udara.

2) Sistem Pemantauan Gas

Pada dasarnya gas yang berbahaya dapat dibagi menjadi 2

bagian besar yaitu :

a) Gas Beracun

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 93
digilib.uns.ac.id

Untuk gas beracun secara rutin dilakukan pemantauan

baik di dalam tempat kerja, di luar tempat kerja, sekitar

pabrik dan di cerobong-cerobong asap.

b) Gas Mudah Terbakar dan Meledak

Untuk gas mudah terbakar atau meledak secara rutin

dilakukan pemantauan, baik yang ada di lokasi kerja

ataupun pada instalasi – instalasi pipanya. Peralatan yang

digunakan adalah gas detector, Orsat Apparatus, Ex-Ox

meter, Explosive meter dan Gas serta Dust Sampler In

Stream.

3) Sistem Pemantauan Suara

Sistem pemantauan suara dilakukan selain di dalam dan di

luar lokasi kerja, di sekitar pabrik dan di daerah pemukiman

penduduk. Pengukuran dipemukiman penduduk dilaksanakan

pada pagi, siang dan malam hari dengan menggunakan Sound

Level Meter yang dilakukan sebulan sekali.

4) Sistem Pemantauan Iklim

Dalam pemantauan kondisi iklim di area PT. Krakatau Steel

dengan alat meteorologi tentang kecepatan dan arah mata angin,

kelembapan udara, temperatur udara dan pengatur curah hujan

dimana alat - alat tersebut terpasang secara tetap. Evaluasi hasil

pengukuran dilaksanakan setiap akhir bulan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 94
digilib.uns.ac.id

b. Pemantauan dan Penelitian Komponen Air

1). Air Limbah

Pemantauan dan penelitian dilakukan di tempat – tempat

pembuangan air limbah dengan cara mengambil sampel setiap

hari untuk dilakukan analisa laboratorium. Hasil analisa

dibandingkan dengan standar yang dikeluarkan oleh Kantor

Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk ditindaklanjuti.

2) Air Sumur

Pemantauan dan penelitian dilakukan pada sumur - sumur di

pemukiman penduduk sekitar kawasan industri PT. Krakatau

Steel dengan mengambil sampel setiap satu bulan sekali untuk

dianalisa kondisi kelayakan airnya.

3) Air Permukaan Sungai

Pemantauan dan penelitian dilakukan terhadap saluran air

sungai yang teraliri limbah industri dengan cara pengambilan

sampel air setiap harinya dan dianalisa di laboratorium. Hasil

analisa digunakan sebagai kontrol terhadap perubahan kualitas

air setiap harinya.

c. Pemantauan dan Penelitian Limbah Padat

1) Limbah Padat Non B3

Pemantauan dan penelitian dilakukan di lokasi pembuangan

limbah padat non B3 dengan cara melakukan analisa

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 95
digilib.uns.ac.id

laboratorium limbah padat, sampel air dan tanah di sekitarnya

setiap 3 bulan sekali.

2) Limbah Padat B3

Pemantauan dan penelitian dilakukan di lokasi pembuangan

limbah B3 dengan cara pengambilan sampel air tanah di

sekitarnya untuk dianalisa di laboratorium. Dilakukan setiap 3

bulan sekali.

2. Pendekatan

a. Pendekatan Teknologi

1) Penanggulangan limbah berbahaya dan beracun

a) Membatasi / isolasi limbah

b) Netralisasi

c) Mengurangi volume limbah

d) Daur ulang

e) Substitusi/ penggantian

b. Pendekatan ekonomi

Pendekatan ekonomi dilakukan dengan pembiayaan pelaksanaan

pengelolaan lingkungan hidup dan kemudahan dari pemerintah, serta

dengan penanggulangan masalah ekonomi dan budaya.

c. Pendekatan institusi

Pendekatan institusi dilakukan dengan menjalin kerja sama

dengan instansi terkait dalam penanggulangan dan pengawasan

lingkungan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 96
digilib.uns.ac.id

3. Pengendalian

a. Pengendalian Pencemaran Air

1) Air Limbah

Air limbah sisa proses produksi PT. Krakatau Steel masih

mengandung bahan-bahan polutan dan untuk mencegah serta

menanggulangi timbulnya pencemaran maka dilakukan upaya

menetralisir dan menghilangkan bahan-bahan pencemar yang

terkandung dalam air limbah sebelum dibuang ke saluran air,

untuk itu diperlukan alat.

a) Waste Water Treatment Plant yang berfungsi untuk

menetralisir dan menghilangkan bahan pencemar sebelum

dibuang ke saluran air.

b) Oil Separator yang dipasang pada ujung saluran air

sebelum keluar kesaluran umum berfungsi untuk

memisahkan minyak yang terkandung dalam air limbah

yang ikut terbuang ke saluran air.

2) Air Laut

Pencegahan dan penanggulangan pencemaran air laut

dilakukan dengan pengawasan pada tempat-tempat yang

memungkinkan menjadi sumber pencemaran seperti pelabuhan,

instalasi pipa-pipa minyak di dasar laut dan lain - lain.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 97
digilib.uns.ac.id

b. Pengendalian Pencemaran Udara

1) Debu

Debu yang dihasilkan dari kegiatan proses produksi

ditidaklanjuti secara teknis dengan menggunakan alat : Wet

Scrubber dan Bag House Filter.

2) Gas

Gas yang dihasilkan dari proses produksi dilakukan

pencegahan dan penanggulangan dengan menggunakan alat

penetralisir gas yang dilengkapi dengan karbon aktif untuk

mengarbsorbsi gas - gas tersebut atau dapat dikurangi dengan

cara membuat cerobong yang tinggi dengan maksud agar dapat

ternetralisir oleh udara dan dengan cara penggunaaan spray.

3) Suara

Kebisingan yang ditimbulkan dari proses produksi dilakukan

pencegahan melalui :

a) Menutup sumber bising dengan bahan kedap suara.

b) Memodifikasi mesin untuk menurunkan tingkat

kebisingannya.

c) Memilih mesin dengan tingkat kebisingan yang rendah.

d) Subtitusi bahan yang dapat menurunkan tingkat kebisingan

tinggi.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 98
digilib.uns.ac.id

4) Penghijauan

Penghijauan dapat berfungsi sebagai pelindung dari

pencemaran debu, gas dan pelindung dari kebisingan. Di PT.

Krakatau Steel telah dilaksanakan program penghutanan

kawasan industri.

c. Pengendalian Limbah Padat

Masalah utama dari penanggulangan limbah padat adalah volume

limbah yang harus ditangani atau dibuang dan kandungan bahan

kimia pencemar yang sangat komlpeks bervariasi.

Limbah padat sisa proses produksi yang berupa sludge/lumpur

dan bahan padat lainnya yang tidak berbahaya maupun yang

berbahaya. Pembuangan limbah padat yang tidak berbahaya

dilakukan di tempat tak terbuka seperti ditimbun/sanitary landfill,

sedangakan limbah padat yang berbahaya harus melalui tahap

tertentu serta dibuang di tempat khusus. Dan dikirim ke PPLI sesuai

dengan peraturan dan sesuai persyaratan yang berlaku. Limbah atau

hasil sisa poduksi yang ada di HSM dapat dimanfaatkan atau dijual

ke pihak ketiga untuk pembuatan magnet.

d. Unit-Unit Pengelolaan Limbah Industri

a) Dedusting Plant yaitu alat untuk menghisap dan memadatkan

debu ambient yang dipasang di Pabrik Billet Baja, Pabrik Slab

Baja I dan Pabrik Slab Baja II.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 99
digilib.uns.ac.id

b) Waste Water Treatment Plant yang merupakan unit pengolahahn

limbah cair dan lumpur secara mekanik dan kimia di Pabrik

Pengerolan Baja Lembaran Dingin (CRM) dengan teknologi

Perancis.

c) Water Treatment Plant yang berfungsi sebagai pengolahahn air

untuk pendinginan mesin, feed water instrument dan boiler serta

untuk keperluan industri lainnya dengan cara recycle. Pabrik

yang dilengkapi dengan WTP adalah PBS, SSP 1, SSP 2, HSM

dan CRM. Prinsip dari WTP ini adalah memisahkan air dengan

oli, skill, grase dan lumpur (Fisika dan Kimia). Limbah padat

yang dihasilkan di treatment kembali sesuai peruntukannya.

d) Oli Trap adalah unit yang berfungsi untuk memisahkan air

industri yang mengandung oli, grease dan minyak yang akan

disalurkan ke lingkungan umum.

I. Laboratorium Lingkungan

Laboratorium lingkungan di sini bertugas sebagai seksi pemantauan.

Dimana kegiatannya adalah membuat jadwal pemantauan atas dasar

permintaan user. User adalah pihak yang ingin melakukan penelitian. Dia

mengirimkan sampel yang ingin diteliti kepada pihak laboratorium, kemudian

pihak laboratorium melakukan pemantauan sampel.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 100
digilib.uns.ac.id

1. Sampling

Tujuan pemantauan adalah untuk mengetahui, mengidentifikasi atau

menemukan sedini mungkin setiap penyimpangan atau perubahan

kondisi yang terjadi dengan melihat perubahan volum/kadar/konsentrasi

faktor pencemar.

Pada bulan Maret 2012 ini, unit kerja dimana dilakukan pemantauan

adalah SSP1 dan SSP2. Sedangkan pada bulan April 2012 mendatang,

akan dilakukan pemantauan di HSM dan Pengendalian Kualitas.

Yang dipantau adalah sebagai berikut :

a. Udara ambient untuk lingkungan kerja

Interval pengukuran untuk debu ambient adalah 6 bulan sekali.

Metode sampling yang digunakan adalah menurut SNI 19-0232-

2005 tentang NAB Zat Kimia di Udara Tempat Kerja. Udara

ambient yang dimaksud meliputi debu pabrik, debu lingkungan,

debu jatuh atau debu emisi, gas tempat kerja, gas lingkungan dan gas

emisi.

1) Pemantauan debu pabrik

Pemantauan dilakukan di area pabrik, dimana pekerja

melaksanakan pekerjaannya. Hal ini dimaksud untuk mengukur

kadar debu di area tersebut apakah sesuai dengan nilai ambang

batas berdasarkan Permenakertrans No.13 tahun 2011 tentang

NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 101
digilib.uns.ac.id

2) Pemantauan debu lingkungan

Sedang untuk pemantauan debu lingkungan dilakukan di

area luar pabrik. Contoh pada lokasi MHDR, perempatan WS 2-

Billet, Wire Rod, timbangan sekitar perempatan, pertigaan SSP

2-Hyperkes dan terakhir lokasi lapangan masjid WRM.

3) Pemantauan debu jatuh

Untuk mengukur kadar debu yang diizinkan berdasarkan

baku mutu udara ambient untuk dust fall (debu jatuh) adalah 20

ton/km2/bulan, dengan waktu pengukuran kurang lebih 30 hari.

Peraturan yang mengaturnya PP No. 41 tahun 1999 tentang

Baku Mutu Udara Nasional.

4) Pemantauan debu emisi

Metode yang digunakan dalam pengukuran adalah

gravimetri. Yakni intinya mencari selisih berat akhir-berat awal

itulah kandungan debu emisi. Adapun peraturan tentang hal ini

mengacu Keputusan MENLH No : 13 tahun 1995 tentang Baku

Mutu Emisi untuk industri besi dan baja. Kandungan debu yang

diijinkan adalah 150 µg/m3.

5) Pemantauan gas tempat kerja

Pemantauan gas tempat kerja dilakukan pada lokasi yang

diindikasikan adanya kebocoran gas dari proses kegiatan

industri. Adapun gas-gas yang dipantau adalah SO2 dan NO2

yang pelaksanaannya mengacu pada PP No : 41 tahun 1999


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 102
digilib.uns.ac.id

tentang Baku Mutu Udara Nasional dan gas NH3 dan H2S

mengacu KepmenLH No : 50 tahun 1996 tentang Baku Tingkat

Kebauan. Metode yang digunakan adalah impinger.

6) Pemantauan gas lingkungan

Pemantauan ini untuk mengukur gas bocor dari proses

produksi pabrik dan gas buang dari kendaraan. Metode yang

dipakai sama dengan pemantauan gas untuk tempat kerja begitu

peraturannya dan analisanya sama seperti analisa gas tempat

kerja dan alat ang digunakan adalah dengan multi gas detektor.

7) Pemantauan gas emisi

Gas emisi adalah gas buang cerobong yang dihasilkan dari

proses produksi. Pada cerobong tersebut mempunyai lubang

sampling yang berfungsi untuk menempatkan peralatan sampel.

Pengukuran itu mengacu pada baku mutu emisi untuk industri

besi dan baja, Kep MENLH No. 13 Tahun 1995, adapun metode

yang digunakan untuk pengukuran ini menggunakan metoda

electrochemical dimana hasil pengukuran dapat langsung dibaca

pada alat tersebut (gas analizer).

b. Kebisingan

Dasar hukum kebisingan di tempat kerja mengacu pada

Permenakertrans No. 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Faktor

Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Peralatan yang digunakan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 103
digilib.uns.ac.id

untuk pengukuran adalah Sound Level Meter. Metode sampling yang

digunakan mengacu pada SOP. Interval pengukuan adalah 6 bulan.

c. Iklim kerja

Pelaksanaan pemantauan iklim kerja/tekanan panas dilakukan di

tempat kerja yang berhubungan dengan panas menggunakan alat

Heat Stress Monitor untuk diketahui indeks suhu bola basah. Dalam

pemantauan ini mengacu pada Permenakertrans No. 13 Tahun 2011

tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Metode sampling yang digunakan mengacu pada SOP. Pengukuan

dilakukan setiap 6 bulan sekali.

d. Intensitas Cahaya (Penerangan)

Penerangan diukur menggunakan Lux Meter. Dalam pemantauan

penerangan mengacu pada Kepmenkes No.

1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan

Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Metode sampling yang

digunakan mengacu pada SNI 16-7062-2004 tentang Pengukuran

Intensitas Penerangan di Tempat Kerja.

e. Limbah cair

PT. Krakatau Steel melakukan pengukuran limbah cair delapan

kali dalam satu bulan. Lalu hasilnya diserahkan ke Badan

Lingkungan Hidup (BLH), kemudian diteruskan di Kementerian

untuk mendapatkan sertifikat kelayakan. Bilamana limbah baik yang

keluar dari effluent maupun yang dari steam melebihi baku mutu,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 104
digilib.uns.ac.id

maka harus segera diadakan perbaikan pada IPAL (Instalasi

Pengolahan Limbah Air). Pemantauan ini mengacu pada Kep

51/MENLH/10/1996 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan

Industri.

f. Limbah padat

Limbah pada yang dihasilkan berbeda tergantung dari proses

produksinya dan pengolahannya. Pemantauan ini untuk diketahui

karakteristik dan komposisinya dan dilakukan satu tahun sekali.

2. Uji/Analisa

Setelah dilakukan pengukuran, untuk selanjutnya sampel-sampel

tersebut akan dianalisa/diteliti oleh analis di laboratorium tersebut.

Hasilnya kemudian ditandatangani oleh dinas laboratorium untuk

pembuatan sertifikat. Setelah dibuat sertifikat, hasil pengujian

didistribusikan ke user. Jadi, tugas analis hanyalah memberikan data

hasil pengujian.

Tetapi apabila saat dilakukan pemantauan sample hasilnya langsung

terbaca, sebagai contoh adalah pemantauan kebisingan, dan hasilnya

langsung muncul pada Sound Level Meter, maka tidak perlu lagi

dilakukan uji analisa laboratorium.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Higiene Perusahaan

1. Faktor Fisik

a. Kebisingan

Kebisingan yang timbul akibat mesin-mesin produksi yang

sedang beroperasi seperti pada EAF, ScrapYard, Ladle Furnace,

Concast dan Slab Handling. Pengukuran yang dilakukan 1 bulan

sekali berdasarkan Permenakertrans No. 13 Tahun 2011 tentang

NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Pada lokasi dengan faktor fisika kebisingan, perusahaan

memasang rambu-rambu alat pelindung diri sesuai himbauan

pemasangan rambu-rambu dalam peraturan Permenakertrans RI No.

Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri Pasal 5

“Pengusaha atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan

memasang rambu-rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di

tempat kerja.”

Untuk mencegah risiko gangguan pendengaran pada karyawan,

PT. Krakatau Steel telah menyediakan APD berupa sumbat telinga,

ear plug dan ear muff secara cuma-cuma. Pada penerapannya di

lapangan lebih banyak digunakan sumbat telinga dan ear plug karena

commit to user

105
perpustakaan.uns.ac.id 106
digilib.uns.ac.id

sudah cukup mengurangi kebisingan yang ada. Selain itu

perlindungan kebisingan juga dilakukan dengan pembangunan

control room di lokasi yang memiliki faktor bahaya kebisingan

sehingga karyawan tidak secara langsung terpapar oleh bising. Hal

ini sesuai dengan Permenakertrans No. 01/MEN/1981 tentang

Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja Pasal 4 ayat 3 yang

berbunyi ”Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua

alat pelindung diri yang diwajibkan penggunaanya oleh karyawan

yang berada dibawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit

akibat kerja. Serta sesuai dengan Permenaker No.05/MEN/1996

tentang SMK3 klausul 6.4.3 menjelaskan Tentang fasilitas-fasilitas

dan layanan yang ada di tempat kerja sesuai dengan standar dan

pedoman teknis.

Namun pada kenyataannya, masih banyak dijumpai karyawan

yang tidak mengenakan alat pelindung telinga karena alat tersebut

dirasa mengganggu kinerja karyawan, hal tersebut mencerminkan

kurangnya kesadaran tentang pentingnya alat pelindung diri untuk

kesehatan karyawan. Bertentangan dengan Permenakertrans RI No.

Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri Pasal 6 ayat (1)

Pekerja/buruh dan orang lain yang memasuki tempat kerja wajib

memakai atau menggunakan APD sesuai dengan potensi bahaya dan

risiko.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 107
digilib.uns.ac.id

Dalam pemasangan rambu intensitas kebisingan dan slogan K3

berdasarkan pada Permenaker No. 05/MEN/1996 klausul 6.4.4

Tentang rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu

darurat harus dipasang sesuai dengan standar dan pedoman teknis.

b. Penerangan

Pengendalian pada penerangan dengan menerapkan Kepmenkes

RI No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Intensitas

Cahaya Di Ruang Kerja dan Undang-undang No. 1 tahun 1970

tentang Keselamatan Kerja Bab III pasal 3 (1) i. “memperoleh

penerangan yang cukup dan sesuai.”

c. Tekanan Panas

Tekanan panas ini dapat mengganggu kesehatan karyawan

terutama dapat mengakibatkan dehidrasi atau kehilangan cairan yang

apabila dalam waktu yang lama akan berdampak lebih buruk. Usaha

pencegahan atau pengendalian yang dilakukan PT. Krakatau Steel

dengan melakukan pemantauan iklim kerja dilakukan sebulan sekali

di setiap pabrik sesuai dengan jadwal yang ada. Pengukuran tekanan

panas berdasarkan Permenakertrans No. 13 Tahun 2011 tentang

NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Perusahaan menyediakan APD berupa : baju tahan api, sarung

tangan, sepatu safety, tameng muka, capucon dan helm khusus.

Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan telah sesuai dengan

Permenakertrans No. 01/MEN/1981 Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 108
digilib.uns.ac.id

”Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat

pelindung diri yang diwajibkan penggunaanya oleh karyawan yang

berada dibawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat

kerja. Selain peraturan tersebut juga Permenakertrans RI No. Per.

08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri Pasal 5 “Pengusaha

atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan memasang

rambu-rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat

kerja.”

Untuk pemasangan fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja

seperti blower untuk mengatur kecepatan angin, penyedian air

minum serta control room yang dilengkapi AC guna menjalankan

pekerjaan, pada sumber panas dipasang isolasi/pelindung untuk

mengurangi kontak langsung dengan pekerja sesuai dengan

Permenaker No. 05/MEN/1996 klausul 6.4.3 menjelaskan tentang

fasilitas-fasilitas dan layanan yang ada di tempat kerja sesuai dengan

standar dan pedoman teknis.

Dari hasil pengamatan, karyawan telah mengenakan alat

pelindung diri berupa baju tahan api pada saat melakukan pekerjaan,

pendistribusian air minum juga telah berjalan dengan lancar sesuai

Undang-undang No. 1 tahun 1970 Bab VIII Kewajiban dan Hak

Tenaga Kerja Pasal 12 b. Memakai alat perlindungan diri yang

diwajibkan, Pasal 13 “Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat

kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 109
digilib.uns.ac.id

memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.” dan

Permenakertrans RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat

Pelindung Diri Pasal 6 ayat (1) Pekerja/buruh dan orang lain yang

memasuki tempat kerja wajib memakai atau menggunakan APD

sesuai dengan potensi bahaya dan risiko.

Selain menjalankan peraturan tersebut di atas PT. Krakatau Steel

(Persero) Tbk. menerapkan Undang-undang No. 1 tahun 1970 Bab

III pasal 3 (1) “g. mencegah dan mengendalikan timbul atau

menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas,

hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran; j.

menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;”

d. Vibrasi

Dari hasil observasi di lapangan, karyawan tidak terpapar vibrasi

selama 8 jam per hari karena desain tempat kerja seperti control

room, ruang istirahat dan Crane telah dilengkapi dengan karet

peredam, karyawan telah dilengkapi dengan sepatu safety dan

adanya rotasi kerja antara karyawan. Sebagian karyawan masih

kurang disiplin dalam mengenakan alat pelindung diri dalam

melakukan pekerjaan, padahal hal ini akan menyebabkan risiko

terhadap kesehatan karyawan di masa mendatang. Pengendalian ini

sesuai dengan Permenaker No.05/MEN/1996 klausul 6.4.3

menjelaskan Tentang fasilitas-fasilitas dan layanan yang ada di

tempat kerja sesuai dengan standar dan pedoman teknis. Klausul


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 110
digilib.uns.ac.id

6.4.4 Tentang rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu

darurat harus dipasang sesuai dengan standar dan pedoman teknis.

e. Radiasi

Untuk menanggulangi pengaruh dari radiasi dilakukan

pemantauan dengan pengukuran yang dilakukan 1 bulan sekali

berdasarkan Permenakertrans No. 13 Tahun 2011 tentang NAB

Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Untuk radiasi sinar merah ini telah disediakan kacamata Furnace

(Cobalt) yang diharapkan dapat mengurangi kesilauan yang diterima

karyawan. Dari hasil pemantauan, banyak karyawan yang telah

mengenakan alat pelindung pada saat melakukan pekerjaan yang

berhubungan dengan sinar infra merah, karyawan selalu

menggunakan kaca mata Furnace pada saat melakukan pekerjaan

dan film badge untuk radiasi radioaktif. Pengendalian yang

dilakukan oleh perusahaan telah sesuai dengan Permenakertrans No.

01/MEN/1981 Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi ”Pengurus wajib

menyediakan secara cuma-cuma semua alat pelindung diri yang

diwajibkan penggunaanya oleh karyawan yang berada dibawah

pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja. Undang-

undang No. 1 tahun 1970 Bab VIII Kewajiban dan Hak Tenaga

Kerja Pasal 12 b. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan,

Pasal 13 “Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja,

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 111
digilib.uns.ac.id

diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai

alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.”

2. Faktor Kimia

a. Debu

NAB debu pabrik berdasarkan Permenakertrans No. 13 Tahun

2011 batas kadar debu yang diizinkan 10 µg/m3. Pemantauan

dilakukan 1 bulan sekali. Bilamana melebihi NAB area tersebut

dipasang rambu wajib memakai masker. Pada area-area tertentu

seperti di EAF, area pengisian Sponge Iron dan kapur melalui

Continuous Feeding System (conveyor), area proses sekunder di

Ladle Furnace (LF), area refactory ladle dan tundish serta pada area

pembuangan sludge dipasang alat penyedot debu (Dedusting Sistem).

Pengendalian tersebut sesuai dengan Permenaker No.05/MEN/1996

klausul 6.4.3 menjelaskan Tentang fasilitas-fasilitas dan layanan

yang ada di tempat kerja sesuai dengan standar dan pedoman teknis

dan Permenakertrans RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat

Pelindung Diri Pasal 5 “Pengusaha atau Pengurus wajib

mengumumkan secara tertulis dan memasang rambu-rambu

mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja.”

Selain itu karyawan juga dilengkapi dengan masker. Dari hasil

observasi yang dilakukan, karyawan telah disiplin mengenakan alat

pelindung karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan

dengan debu. Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan telah


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 112
digilib.uns.ac.id

sesuai dengan Permenakertrans No. 01/MEN/1981 Pasal 4 ayat 3

yang berbunyi ”Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma

semua alat pelindung diri yang diwajibkan penggunaanya oleh

karyawan yang berada dibawah pimpinannya untuk pencegahan

penyakit akibat kerja. Serta telah mengacu pada Undang-undang No.

1 tahun 1970 Bab VIII Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Pasal 12 b.

Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan, Pasal 13 “Barang

siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati

semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat

perlindungan diri yang diwajibkan.”

b. Gas

Gas Ambient yang dipantau adalah SO2 dan NO2 yang

pelaksanaannya mengacu pada PP No. 41 tahun 1999 tentang

Pengendalian Pencemaran Udara serta gas NH3 dan H2S mengacu

pada KEPMENLH No. 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat

Kebauan. Pemantauan ini untuk mengukur gas bocor dari proses

produksi pabrik dan gas buang dari kendaraan. Sedangkan untuk gas

emisi adalah cerobong (dedusting) antara lain gas CO, CO2, SO2,

NO2, NOx, H2S dengan periode 3 bulan sekali. Pengukuran gas

emisi berdasarkan Kepmen LH No. 13 tahun 1995 tentang Baku

Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.

Pada area-area yang terdapat bahaya gas dipasangi rambu-rambu

tanda bahaya gas dan tanda wajib memakai APD seperti masker,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 113
digilib.uns.ac.id

respirator yang sesuai dengan jenis gas tersebut. Untuk karyawan

yang terpapar gas telah mengenakan APD sesuai dengan ketentuan

yang berlaku untuk mencegah penyakit akibat kerja. Pengendalian

yang dilakukan oleh perusahaan telah sesuai dengan

Permenakertrans No. 01/MEN/1981 Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi

”Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat

pelindung diri yang diwajibkan penggunaanya oleh karyawan yang

berada dibawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat

kerja. Serta mengacu pada Undang-undang No. 1 tahun 1970 Bab

VIII Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Pasal 12 b. Memakai alat

perlindungan diri yang diwajibkan, Pasal 13 “Barang siapa akan

memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk

keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang

diwajibkan.”

c. Uap

Pada area-area yang terdapat bahaya uap logam dipasangi

rambu-rambu tanda bahaya dan tanda wajib memakai APD seperti

masker, respirator yang sesuai dengan jenis gas tersebut. Karyawan

telah memakai APD dengan benar pada saat melakukan pekerjaan.

Dalam kaitannya dengan pencegahan penyakit akibat kerja, PT.

Krakatau Steel telah menyediakan alat pelindung diri. Hal ini sesuai

dengan Peraturan Menteri Karyawan dan Transmigrasi No.

01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 114
digilib.uns.ac.id

Dalam hal ini diatur di dalam Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi

”Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat

pelindung diri yang diwajibkan penggunaanya oleh karyawan yang

berada dibawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat

kerja.

3. Faktor Biologi

Pengendalian yang dilakukan oleh pihak perusahaan yaitu dengan

bahan makanan yang di olah berasal dari bahan yang bersih, peralatan

yang digunakan untuk memasak juga bersih bebas dari debu dan lalat,

ada ventilasi (exhauster atau AC) untuk sirkulasi udara. Petugas kantin

diwajibkan menggunakan alat pelindung berupa celemek, tutup kepala,

sarung tangan juga masker wajah, serta penyajian makanan di kantin juga

harus di tutup dengan tutup saji untuk menghindarkan dari hewan

pembawa penyakit. Selain itu, ruangan kantin juga harus dalam keadaan

bersih yaitu : lantai, meja, kursi dan peralatan makan serta menyediakan

peralatan mencuci tangan, wastafel, tissue pada setiap meja makan untuk

karyawan yang masuk ke kantin.

Disediakan pula toilet, shower, dan selang udara bertekanan untuk

membersihkan diri di lingkungan pabrik.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 115
digilib.uns.ac.id

B. Kesehatan Kerja

1. Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas

Menurut Permenakertrans No. 03/MEN/1982 tentang pelayanan

kesehatan pasal 1, yaitu pelayanan kesehatan dilaksanakan bertujuan :

a. Memberikan bantuan kepada karyawan dalam menyesuaikan diri

baik fisik maupun mental, terutama dalam penyesuaian pekerjaan

dengan karyawan

b. Melindungi karyawan terhadap setiap gangguan kesehatan yang

timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja

c. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan

fisik karyawan

d. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi

karyawan yang menderita sakit

Mengenai 12 tugas pokok pelayanan kesehatan, yang belum

dilaksanakan oleh Dinas Hiperkes adalah pemberian nasihat tentang

tempat kerja dan APD. Selain itu, semuanya sudah dilakukan.

2. Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Salah satu dasar pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berkala adalah

UU Keselamatan Kerja No. 1 tahun 1970 pasal 8 menyatakan bahwa :

a. Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental

dan dipindah sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan

kepadanya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 116
digilib.uns.ac.id

b. Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada

dibawah pimpinannya secara berkala pada dokter yang ditunjuk oleh

pengusaha dan dibenarkan oleh direktur.

c. Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan

peraturan perundangan.

Selain sebagai pemenuhan Peraturan Perundangan (UU No. 1 tahun

1970) melalaui pemeriksaan kesehatan berkala agar dapat mendeteksi

adanya gangguan kesehatan tenaga kerja, sehingga pihak perusahaan

terutama Dinas Kesehatan Kerja dapat melakukan tindakan pencegahan

atau pengendalian sehingga mencapai derajat kesehatan kerja yang

optimal.

3. Gizi Kerja

Setiap divisi di PT. Krakatau Steel juga telah menyediakan menu

berimbang 4 sehat 5 sempurna, serta tempat yang bersih pada lantai,

langit-langit, peralatan memasak dan makan maupun dapur yang sesuai

dengan Permenkes RI No. 712/MEN.KES./PER/X/1986 bagian A

tentang persyaratan umum lokasi, bangunan dan fasilitas. Kantin dikelola

oleh petugas kantin yang memenuhi syarat kesehatan seperti tersurat

dalam Permenkes RI No. 712/MEN.KES./PER/X/1976 bagian B pasal 3

sub c ”Untuk melindungi pencemaran terhadap makan digunakan

celemek/apron, tutup rambut dan mulut serta sepatu dapur”. Petugas

kantin sudah menggunakan celemek dan sepatu (alas kaki).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 117
digilib.uns.ac.id

Dinas Hiperkes melakukan pengawasan kantin-kantin pabrik sebagai

fungsi kontrol pengelolaan kesehatan kantin dan evaluasi serta masukan

untuk direkomendasikan kepada pengelola kantin dalam perbaikan

kesehatan kantin. Jika terdapat kantin yang tidak memenuhi syarat

kesehatan setelah direkomendasikan Dinas Hiperkes, maka pengelola

diberhentikan dan digantikan petugas lain yang ditunjuk.

Akan tetapi, belum dilaksanakan pemeriksaan kesehatan terhadap

petugas kantin. Hal itu belum sesuai dengan UU Keselamatan Kerja No.

1 tahun 1970 pasal 8 yang intinya adalah kewajiban pengurus dalam

memeriksakan kesehatan semua tenaga kerja di bawah pimpinannya.

Pada awalnya kebijakan pelayanan gizi kerja di PT. Krakatau Steel

adalah dengan memberikan makan dan extra fooding, dimana extra

fooding yang diberikan dalam 2 bentuk yaitu :

a. Secara rutin yang berupa susu pasteurisasi dan UHT.

b. Secara non rutin yang diberikan setiap hari Jumat setelah kegiatan

olahraga yang berupa kacang hijau, telur atau snack secara

bergantian.

Pelayanan extra fooding ini ditujukan pada seluruh Direktorat

Produksi maupun Direktorat Non Produksi.

Pada bulan Juli 1998 Dinas Keselamatan Kerja mengeluarkan Surat

Edaran yang intinya meminta Dinas Hiperkes untuk melalui evaluasi

penelitian guna menetapkan karyawan yang berhak untuk mendapatkan

extra fooding berdasarkan kriteria :


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 118
digilib.uns.ac.id

a. Karyawan dengan waktu kerja shift.

b. Karyawan yang bekerja pada faktor lingkungan berbahaya.

c. Karyawan yang bekerja dengan beban fisik berat/karyawan yang

kerjanya 70 % dipabrik/dibengkel dan dilapangan.

C. Keselamatan Kerja

1. Potensi Bahaya

a. Kebakaran

Sumber potensi bahaya kebakaran ini berasal dari penggunaan

energi mesin bertekanan tinggi yang menghasilkan panas untuk

proses pemanasan gas dan proses reformasi gas. Upaya pencegahan

dan penanggulangan bahaya kebakaran, PT. Krakatau Steel dimulai

sejak perencanaan dan pengaturan proses produksi. Hal ini

didasarkan pada Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja pasal 9 ayat 3 yang berbunyi pengurus

diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua karyawan

yang dibawah pimpinannya, dalam pencegahan kebakaran dan

pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan

kesehatan kerja, pula di dalam pemberian pertolongan pertama

dalam kecelakaan.

Selain hal tersebut di atas dilakukan pemasangan rambu-rambu

(dilarang merokok dan menyalakan api) pada lokasi bahaya

kebakaran terutama pada bahan kimia. Hal ini sesuai dengan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 119
digilib.uns.ac.id

Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. Nomor : Kep. 187/Men/1999

tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja Bab

II Penyediaan Dan Penyampaian Lembar Data Keselamatan Bahan

Dan Label Pasal 4, Pasal 5 : Label sebagaimana dimaksud dalam

pasal 3 huruf a meliputi keterangan mengenai :

1) nama produk;

2) identifikasi bahaya;

3) tanda bahaya dan artinya;

4) uraian risiko dan penanggulangannya;

5) tindakan pencegahan;

6) instruksi dalam hal terkena atau terpapar;

7) instruksi kebakaran;

8) instruksi tumpahan atau bocoran

9) instruksi pengisian dan penyimpanan;

Pasal 6 : Lembar Data Keselamatan Bahan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 4 dan Label sebagaimana dimaksud dalam

pasal 5 diletakkan di tempat yang mudah diketahui oleh tenaga kerja

dan Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan.

Namun, dari hasil pengamatan, saya menjumpai ada satu tenaga

kerja yang merokok sewaktu memindah-mindah karung di tempat

kerja terbuka. Meskipun dilakukan di tempat kerja terbuka,

semestinya jangan merokok karena percikan api bisa menimbulkan

kebakaran
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 120
digilib.uns.ac.id

Menyediakan alat pemadam api ringan jenis dry chemical dan

CO2, alarm kebakaran, sistem hidran, pintu darurat, kotak P3K,

perawatan dan perbaikan mesin, penyimpanan dan penempatan yang

baik untuk bahan B3 serta memberikan pelatihan pemadam

kebakaran (tim tanggap darurat), penyediaan shelter dan assembly

point. Sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-

186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat

Kerja, Pasal 2 (2). Kewajiban mencegah, mengurangi dan

memadamkan kebakaran ditempat kerja sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) meliputi : Pengendalian setiap bentuk energi; Penyediaan

sarana deteksi, alarm pemadam kebakaran dan sarana evakuasi;

Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas; Pembentukan unit

penanggulangan kebakaran di tempat kerja; Penyelenggaraan latihan

dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala; Memiliki buku

rencana penanggulangan keadaaan darurat kebakaran, bagi tempat

kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga

kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran

sedang dan berat.

b. Ledakan

Ledakan dapat terjadi pada saat proses peleburan. Proses

peleburan menggunakan elektroda yang dialiri listrik. Upaya

pencegahan terjadi ledakan dalam proses peleburan bahan baku yang

digunakan harus bebas dari air, karena air akan bereaksi membentuk
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 121
digilib.uns.ac.id

gas H2 yang kemudian dapat menyebabkan ledakan. Upaya yang

dilakukan PT. Krakatau Steel ini sudah mencerminkan UU No.1

tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja Pasal 3 dan 4 (ayat 1 sub c, d,

e, f) tentang mencegah dan mengurangi ledakan, memberi

kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran

atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya, memberi pertolongan

pada kecelakaan, dan memberi alat-alat perlindungan diri pada para

pekerja.

Sebagai upaya pengendalian bahaya peledakan ini perusahaan

mengupayakan program pemasangan rambu-rambu (dilarang

merokok dan menyalakan api) pada lokasi bahaya ledakan,

perawatan dan pemeliharaan sarana, inspeksi rutin, menyediakan alat

pemadam api ringan, fasilitas hidran, alarm kebakaran, kotak P3K,

shelter, dan assembly point. Undang Undang Republik Indonesia No.

1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, pasal 3 ayat 1 berbunyi “

Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan

kerja untuk: a). mencegah dan mengurangi kecelakaan, b).

mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, c). mencegah

dan mengurangi bahaya peledakan”. Peraturan tersebut menjadi

salah satu dasar diwajibkannya upaya pengendalian risiko terhadap

bahaya kebakaran dan ledakan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 122
digilib.uns.ac.id

c. Tersentuh Benda Panas

Untuk mencegah terjadinya bahaya tersentuh benda panas, pada

area-area tertentu dipasang rambu-rambu ”Area Berbahaya”

dimaksud agar karyawan berhati-hati dalam menjaga jarak karena

disekitar tempat tersebut terdapat baja panas. Rambu-rambu banyak

dijumpai pada area pendinginan terbuka pabrik slab baja dan billet

baja. Upaya yang dilakukan PT. Krakatau Steel dalam pengamanan

karyawan terhadap bahaya tersentuh benda panas sudah

mencerminkan Undang-undang No.1 tahun 1970 Tentang

Keselamatan Kerja pasal 3 dan 4 (ayat 1 sub a dan n) tentang

mencegah dan mengurangi kecelakaan (Suma’mur, 1996).

Permenakertrans RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat

Pelindung Diri Pasal 5 “Pengusaha atau Pengurus wajib

mengumumkan secara tertulis dan memasang rambu-rambu

mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja.”

d. Kejatuhan Benda

Kejatuhan benda merupakan potensi bahaya yang sering terjadi.

Penyediaan helm bagi karyawan merupakan salah satu upaya untuk

mengurangi bahaya tertimpa benda jatuh. Selain itu disetiap area

pabrik juga dibuat jalur hijau yang merupakan jalur aman bagi

karyawan atau orang lain yang berada di tempat kerja. Upaya yang

dilakukan PT. Krakatau Steel dalam pengamanan karyawan terhadap

bahaya tertimpa ini sudah mencerminkan UU No.1 tahun 1970


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 123
digilib.uns.ac.id

tentang Keselamatan Kerja pasal 3 dan 4 (ayat 1 sub a dan n) tentang

mencegah dan mengurangi kecelakaan dan mengamankan serta

memperlancar pengangkutan barang.

Permenakertrans RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat

Pelindung Diri Pasal 5 “Pengusaha atau Pengurus wajib

mengumumkan secara tertulis dan memasang rambu-rambu

mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja.”

e. Tertabrak

Di PT. Krakatau Steel, lalu lintas barang cukup padat terjadi

seperti truk trailer, forklift, mobil crane, buldoser, tractor, ladle car,

dan bus sehingga dapat berpotensi terjadinya kecelakaan. Untuk itu

PT. Krakatau Steel telah membuat jalur aman bagi karyawan di area

pabrik. Hal ini sesuai dengan UU No.1 tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja pasal 3 dan 4 (ayat 1 sub a dan n) tentang

mencegah dan mengurangi kecelakaan dan mengamankan serta

memperlancar pengangkutan barang (Suma’mur, 1996).

2. Pengawasan, pengujian dan perijinan peralatan berbahaya

a. Crane, lift dan conveyor

Pengawasan dilakukan berdasarkan peraturan perundangan yang

terkait. Pemeriksaan dan pengujian crane serta tahap sertifikasi

pesawat angkat-angkut dilaksanakan sesuai Permenaker No.5 tahun

1985 tentang Pesawat Angkat-Angkut, pada pasal 135 tentang

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 124
digilib.uns.ac.id

pengesahan atau serifikasi pesawat angkat-angkut serta pasal 138

tentang pemeriksaan dan pengujian pesawat angkat-angkut.

b. Boiler

Pengawasan dilakukan berdasarkan Peraturan Uap tahun 1930

dan Undang-Undang Uap tahun 1930. Didalam Peraturan Uap tahun

1930 disebutkan bahwa pemeriksaan dan pengujian sekurang-

kurangnya 2 tahun sekali, sedangkan pemeriksaan boiler di PT

Krakatau Steel dilakukan setahun sekali. Hal ini dilakukan agar

perubahan-perubahan pada bagian ketel uap (pipa) serta adanya zat-

zat di dalam ketel uap dapat diketahui secara lebih dini.

c. Bejana Tekan

Pengawasan dilakukan berdasarkan Permenaker No. 1 tahun

1982 tentang Bejana Tekan. Di dalam peraturan tersebut disebutkan

bahwa pemeriksaan bejana tekan sekurang-kurangnya dilakukan 5

tahun sekali, sedangkan di PT Krakatau Steel pemeriksaan bejana

tekan dilakukan 3 tahun sekali sebagai tindakan preventif serta

bertujuan untuk mengetahui adanya perubahan struktur bejana tekan.

d. Pemanfaatan zat radioaktif

Pengawasan dan pemantauan pemanfaatan zat radioaktif

dilaksanakan sesuai Undang-Undang No. 10 tahun 1997 tentang

Ketenaganukliran. Sedangkan perijinan pemanfaatan zat radioaktif

dilaksanakan berdasarkan Peraturan pemerintah Nomor 64 tahun

2000 tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 125
digilib.uns.ac.id

3. Pembinaan dan penyuluhan keselamatan kerja

Pembinaan dan penyuluhan keselamatan kerja dilaksanakan sebagai

perwujudan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan

Kerja, pasal 9 ayat 3 bahwa pengurus diwajibkan menyelenggarakan

pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya,

dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta

peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian

pertolongan pertama pada kecelakaan.

4. Pengadaan APD

Pengadaan APD bagi tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan SK

Direksi No. 64/Ci/DU-KS/Kpts/2003 tentang Pemberian dan Penggunaan

Alat dan Keselamatan Kerja. Pengadaan alat pelindung diri bagi tenaga

kerja PT. Krakatau steel juga berdasarkan pada pelaksanaan UU No. 1

tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Pada pasal 9 ayat 1 sub b

dinyatakan bahwa pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan pada

tiap tenaga kerja baru tentang semua pengaman dan alat perlindungan

yang diharuskan di tempat kerja. Sedangkan pada pasal 9 ayat 1 sub c

menyatakan bahwa pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan

tentang alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.

Untuk memenuhi pelaksanaan dari pasal 15 sub c UU No. 1 tahun

1970 yang menyatakan bahwa pengurus diwajibkan menyediakan secara

cuma-cuma semua alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja

yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 126
digilib.uns.ac.id

lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-

petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pengawas atau ahli

Keselamatan Kerja.

Penyediaan APD adalah alat pengamanan untuk melindungi tubuh

dari potensi-potensi bahaya yang ada di tempat kerja. Fungsi dari

penyediaan APD bagi tenaga kerja untuk :

a. Melindungi sebagian tubuh (misalnya : mata, telinga, kepala, dan

lain-lain)

b. Melindungi dari pekerjaan yang bahaya

c. Melindungi dari situasi dan kondisi lingkungan kerja (misalnya :

ketinggian)

d. Melindungi dari bahaya kecelakaan yang lebih serius.

Dalam penggunaan APD harus dapat digunakan dan berfungsi

sebagaimana mestinya dan dalam ketaatan penggunaannya perlu

pengawasan.

5. Penanggulangan Kebakaran

Upaya untuk mengantisipasi tindakan darurat kebakaran, sudah di

bentuk Dinas Damkar yang sesuai dengan Kepmenaker No. Kep-

186/MEN/1999 pasal 2 ayat 2 sub d tentang pembentukan unit

penanggulangan kebakaran ditempat kerja.

Dinas Damkar telah menempatkan Fire Inspector di tiap–tiap unit

pabrik dalam usaha preventif terhadap bahaya kebakaran serta

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 127
digilib.uns.ac.id

memberikan pembinaan terhadap karyawan tentang tindakan pertama

harus dilakukan jika terjadi kebakaran.

D. Ergonomi

Pengawasan dan penerapan prinsip ergonomi di PT. Krakatau Steel sudah

cukup baik. Program kerja jangka pendek dan menengah yang di tujukan

untuk perbaikan kondisi tempat kerja, perbaikan standar ergonomi,

pengendalian risiko Work Muscolousceletal Disorder (WMsDs) telah berjalan

secara bertahap. Kegiatan yang berhubungan dengan ergonomi telah berjalan

sesuai dengan program kerja, Pengukuran antropometri karyawan untuk

menciptakan stasiun kerja yang nyaman bagi pekerja juga telah terlaksana.

Sosialisasi ergonomi dilakukan pada karyawan dengan memasang poster-

poster tentang ergonomi kerja serta pemberian Induction Course pada

karyawan baru. Hal ini sesuai dengan Permenaker No 5/MEN/1996 klausul

6.4.3 yang menjelaskan tentang fasilitas- fasilitas dan layanan yang ada di

tempat kerja sesuai dengan standar dan pedoman yang teknis.

Untuk operator alat angkat-angkut sudah memiliki Surat Izin Operasi

(SIO) sesuai dengan Permenaker No. 09/MEN/VII/2010 tentang SIO.

Waktu kerja PT. Krakatau Steel sudah sesuai dengan UU No. 13 tahun

2003 pasal 77 ayat 2 butir b, yaitu “Tenaga kerja bekerja 8 jam sehari dan 40

jam seminggu”. Pemberlakuan shift kerja juga telah sesuai dengan Undang-

undang No 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 128
digilib.uns.ac.id

Penyesuaian kapasitas personal sesuai dengan Undang-undang No 13

tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 (9, 10,

11, 12) tentang pelatihan kerja, kompetensi kerja, pemagangan, dan

pelayanan penempatan tenaga kerja.

Berdasarkan hasil pengamatan, masih ada barang-barang yang terletak

tidak pada tempatnya. seperti adanya tumpukan material sisa atau sudah tidak

terpakai di area kerja.

E. Manajemen K3

1. Divisi HSE

PT. Krakatau Steel menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja melalui penetapan kebijakan dari manajemen puncak

perusahaan dan kemudian dijabarkan dalam tujuan dan sasaran.

Sedangkan program kerja dibuat sebagai penjabaran dari sasaran untuk

mencapai tujuan.

Untuk mencapai pemenuhan tujuan sistem ini maka strategi yang

dilaksanakan Divisi Health Safety and Environment (HSE) adalah:

a. Pemantauan rutin dan evaluasi terhadap kondisi lingkungan kerja,

keselamatan dan kesehatan kerja.

b. Pencegahan dan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan,

kecelakaan, dan penyakit akibat kerja.

c. Melaksanakan kegiatan penelitian sebagai upaya pengendalian dan

minimalisasi limbah.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 129
digilib.uns.ac.id

d. Meningkatkan dan memelihara SMK3.

e. Melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan uji ulang peralatan dan

instalasi berbahaya di lingkungan pabrik.

f. Pembinaan dan penyuluhan dalam bidang keselamatan kerja,

kesehatan kerja, dan lingkungan kerja.

Adapun keberhasilan penerapan sistem ini didukung oleh semua

pihak, baik manajemen maupun karyawan secara keseluruhan.

Peningkatan partisipasi atau kontribusi karyawan dalam pengembangan

di tingkat Divisi dan perusahaan adalah dengan:

a. Pembentukan tim kerja yang bersifat lintas fungsional atau

struktural.

b. Pembentukan tim kerja tingkat perusahaan.

c. Kegiatan P2K3/sub P2K3.

d. Partisipasi dalam penyusunan Quality Objective Divisi dan Dinas.

e. Melalui sistem sumbang saran.

Wujud keterlibatan karyawan di tempat kerja dapat dicapai melalui

perwakilan karyawan untuk K3 dan pembentukan organisasi keselamatan

dan kesehatan kerja. Dalam hal ini, sesuai dengan Permenaker No. PER-

04/MEN/1987 tentang P2K3 serta Tata Cara Penunjukan Ahli

Keselamatan Kerja, PT. Krakatau Steel telah membentuk Panitia

Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang anggotanya merupakan

perwakilan seluruh komponen yang ada di tempat kerja.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 130
digilib.uns.ac.id

2. Sistem Manajemen Krakatau Steel (SMKS)

PT. Krakatau Steel telah menerapkan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sesuai dengan Peraturan

Menteri Karyawan Nomor 5/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan kerja merupakan bagian dari sistem manajemen secara

keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung

jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan

bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan

pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka

pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna

terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut

diintegrasikan dan disinergikan dengan sistem manajemen lainnya

(sistem manajemen kualitas dan sistem manajemen lingkungan), yang

kemudian disebut dengan Sistem Manajemen Krakatau Steel.

F. Lingkungan

Pengendalian dan pengelolaan lingkungan diatur dalam Undang-Undang

No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup,

yang di dalamnya tercakup kebijakan pemerintah yang meliputi:

1. Usaha penanggulangan.

2. Usaha Konvervasi sumber daya alam.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 131
digilib.uns.ac.id

3. Usaha pencegahan atau pemberantasan melalui penerapan baku mutu

lingkungan dalam keputusan Menteri KLH No. 02 / MENKLH / 1988,

tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.

4. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

5. Undang-undang No. 32 tahun 2009, tentang AMDAL.

Pengelolaan lingkungan hidup dalam Undang-Undang No. 4 tahun 1982

pasal 1 ayat 2 adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, peraturan,

pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan

lingkungan hidup. Pada ayat tersebut mengandung tujuan pokok pengelolaan

yaitu terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya

pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana serta berkesinambungan

untuk menjamin kebutuhan generasi masa kini dan masa yang akan datang.

G. Laboratorium Lingkungan

Laboratorium lingkungan bertugas sebagai seksi pemantauan. Dimana

kegiatannya adalah membuat jadwal pemantauan atas dasar permintaan user.

User adalah pihak yang ingin melakukan penelitian. Dia mengirimkan sampel

yang ingin diteliti kepada pihak laboratorium, kemudian pihak laboratorium

melakukan pemantauan sampel. Sampel yang diukur dan diteliti adalah udara

ambient seperti debu dan gas, kebisingan, radiasi, iklim kerja, pencahayaan,

limbah padat dan limbah cair.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 132
digilib.uns.ac.id

Setelah dilakukan pengukuran, untuk selanjutnya sampel-sampel tersebut

akan dianalisa/diteliti oleh analis di laboratorium tersebut. Hasilnya kemudian

ditandatangani oleh dinas laboratorium untuk pembuatan sertifikat.

Hal tersebut sudah sesuai dengan Permenakertrans No. 13 tahun 2011

tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja Pasal 15 yang

berbunyi “Pengurus dan/atau pengusaha berkewajiban melakukan

pengukuran faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja sesuai dengan

Peraturan Menteri ini dilakukan berdasarkan penilaian risiko dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.” Dan Pasal 16 yang berbunyi “Pengurus

dan/atau pengusaha harus melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam

Peraturan Menteri ini dan menyampaikan hasil pengukuran pada kantor yang

bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.”

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di PT Krakatau Steel

(Persero), Tbk maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Higiene Perusahaan, Kesehatan Kerja, Keselamatan Kerja dan

Lingkungan

a. PT. Krakatau Steel telah menjalankan program-program Higiene

Perusahaan. Faktor-faktor bahaya fisika dan kimia telah

dikendalikan sesuai dengan Permenakertrans No. 13 Tahun 201,

Permenakertrans No. 01/MEN/1981, Permenakertrans RI No. Per.

08/MEN/VII/2010, Permenaker No. 05/MEN/1996. Namun, masih

ada sebagian karyawan yang tidak taat memakai APD karena dirasa

mengganggu kenyamanannya.

b. Dalam penerapan Kesehatan Kerja, Dinas Hiperkes telah

mengadakan pemeriksaan kesehatan berkala sesuai dengan UU

Keselamatan Kerja No. 1 tahun 1970 pasal 8, melakukan

pengawasan kantin-kantin pabrik sesuai dengan Permenkes RI No.

712/MEN.KES./PER/X/1986 bagian A dan Permenkes RI No.

712/MEN.KES./PER/X/1976 bagian B pasal 3 sub c, melakukan

pembinaan dan penyuluhan kesehatan yang ditujukan kepada

karyawan sesuai dengan Permenakertrans No. 03/MEN/1982 tentang


commit to user
pelayanan kesehatan pasal 1. Namun, tidak dilakukan pemeriksaan

133
perpustakaan.uns.ac.id 134
digilib.uns.ac.id

kesehatan terhadap penjamah makanan di kantin. Hal tersebut belum

sesuai dengan UU Keselamatan Kerja No. 1 tahun 1970 pasal 8.

c. Perusahaan telah menerapkan Keselamatan Kerja. Dinas

Keselamatan Kerja melakukan pengawasan, pengujian dan perijinan

peralatan-peralatan berbahaya sesuai dengan peraturan perundangan

yang berlaku. Telah dilakukan juga pembinaan dan penyuluhan

keselamatan kerja sebagai perwujudan Undang-Undang No. 1 tahun

1970 pasal 9 ayat 3. Pengadaan alat pelindung diri bagi tenaga kerja

PT. Krakatau steel juga berdasarkan pada pelaksanaan UU No. 1

tahun 1970 pada pasal 9 ayat 1 sub b, 9 ayat 1 sub c dan pasal 15 sub

c. Sedangkan untuk penanggulangan kebakaran, sudah di bentuk

Dinas Damkar yang sesuai dengan Kepmenaker No. Kep-

186/MEN/1999 pasal 2 ayat 2 sub d. Namun, dari hasil pengamatan

masih ada satu tenaga kerja yang sedang merokok ketika bekerja di

tempat kerja terbuka.

d. Sistem pengendalian lingkungan di PT. Krakatau Steel pada

prinsipnya dilakukan dengan tahap pendekatan dan penanggulangan

pencemaran yang diatur dalam Undang-undang No. 32 tahun 2009.

2. Laboratorium Lingkungan pada perusahaan telah melakukan tugasnya,

yaitu rutin melakukan pengukuran dengan jadwal yang sudah dibuat. Hal

tersebut sudah sesuai dengan Permenakertrans No. 13 tahun 2011 tentang

NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja Pasal 15 yang

berbunyi “Pengurus dan/atau pengusaha berkewajiban melakukan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 135
digilib.uns.ac.id

pengukuran faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja sesuai dengan

Peraturan Menteri ini dilakukan berdasarkan penilaian risiko dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

3. Kegiatan yang berhubungan dengan ergonomi telah berjalan sesuai

dengan program kerja, Pengukuran antropometri karyawan untuk

menciptakan stasiun kerja yang nyaman bagi pekerja juga telah

terlaksana. Hal ini sesuai dengan Permenaker No 5/MEN/1996 klausul

6.4.3. Untuk operator alat angkat-angkut sudah memiliki Surat Izin

Operasi (SIO) sesuai dengan Permenaker No. 09/MEN/VII/2010 tentang

SIO. Waktu kerja PT. Krakatau Steel sudah sesuai dengan UU No. 13

tahun 2003 pasal 77 ayat 2 butir b. Penyesuaian kapasitas personal juga

sudah sesuai dengan Undang-undang No 13 tahun 2003. Akan tetapi,

berdasarkan pengamatan masih ada benda-benda yang terletak tidak pada

tempatnya, seperti adanya tumpukan material sisa atau sudah tidak

terpakai di area kerja.

4. PT. Krakatau Steel menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja yang sesuai dengan Peraturan Menteri Karyawan

Nomor 5/MEN/1996. PT. Krakatau Steel mempunyai sistem manajemen

sendiri yaitu Sistem Manajemen Krakatau Steel (SMKS). SMK3

diintegrasikan dan disinergikan dengan sistem manajemen lainnya

(sistem manajemen kualitas dan sistem manajemen lingkungan),

kemudian disebut dengan Sistem Manajemen Krakatau Steel (SMKS).

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 136
digilib.uns.ac.id

PT. Krakatau Steel juga telah membentuk Panitia Pembina Keselamatan

dan Kesehatan Kerja sesuai dengan Permenaker No. PER-04/MEN/1987.

B. Saran

1. Perlu adanya peningkatan pembinaan, penyuluhan dan pengawasan

dalam hal pemakaian alat pelindung diri yang sesuai dengan

pekerjaannya, sehingga karyawan selalu termotivasi untuk menggunakan

alat pelindung diri dengan benar.

2. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap penjamah

makanan di kantin supaya mengetahui apabila ada gejala penyakit

sehingga tidak mengkontaminasi makanan kantin yang dijamah.

3. Sebaiknya dibuat smoking area di setiap tempat kerja baik di pabrik

maupun di kantor untuk memperkecil timbulnya bahaya besar yang

disebabkan oleh rokok dari segi kesehatan

4. Perlu adanya peningkatan kinerja housekeeping di area kerja karena

berdasarkan pengamatan di lapangan masih ditemukan benda-benda yang

tidak pada tempatnya, seperti adanya tumpukan material sisa atau sudah

tidak terpakai di area kerja.

5. Sistem Manajemen Krakatau Steel yang merupakan integrasi dari Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan sistem manajemen

lainnya hendaknya dipertahankan.

commit to user