Você está na página 1de 7

Arti kata khusyu’ dalam bahasa Arab adalah al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull

(tunduk), dan as-sukuun (tenang). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan


matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara
terminology khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan
kehadiran Allah SWT yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya
merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh.
Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Allah SWT. Segala
gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga
shalatnya berakhir. Sedangkan salah satu jalan utama untuk meraih kekhusyu'an
dalam shalat adalah dengan memahami bacaan dalam shalat dan
merenungkannya. Ketika seseorang memahami arti dan maksud ayat yang
dibacanya memungkinkan dia untuk mengulang-ulang ayat tersebut agar lebih
meresapinya dan memperkuat perasaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan,
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdiri melaksanakan qiyamul lail
semalaman hanya membaca satu ayat yang diulang-ulangnya hingga pagi.
Seseorang yang memahami makna ayat yang dibaca, akan mampu untuk
berinteraksi langsung dengan ayat tersebut. Yaitu dengan berdo'a ketika melewati
ayat yang mengandung permintaan, bertasbih ketika melewati ayat tasbih, dan
berta'awwudz (meminta perlindungan) ketika melewati ayat yang mengandung
perlindungan, juga memohon surga ketika melewati ayat surga, dan juga
berlindung dari neraka ketika melewati ayat yang membicarakan tentang neraka
dan kedahsyatan siksanya.
Namun, kenyataan yng terjadi sampai saat ini adalah banyak orang muslim
non-Arab tidak mengerti arti dari bacaan atau doa yang mereka baca, kebanyakan
dari mereka hanya membaca saja tanpa merenungkan arti dan maksudnya. Oleh
karena itu, dalam tulisan ini penulis membahas tentang adanya hubungan antara
kemampuan berbahasa Arab terhadap kekhusyu'an shalat. Dan hasil dari
pembahasan ini adalah benar adanya pengaruh atau hubungan yang erat antara
kemampuan berbahasa Arab terhadap kekhusyu'an shalat. Hal inin dibuktikan
dengan hasil penelitian pada siswa MTs at-Tanwir Sumberrejo Bojonegoro yang
nota bene kemampuan berbahasa Arabnya sudah bagus.

Hubungan

Rasanya orang yang jahil terhadap makna-makna yang dibacanya dari


Al-Qur'an dan dzikir-dzikir dalam shalat sangat sulit sekali untuk
mendapatkan kekhusyu'an. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh
Muhammad Shalih al-Munajid dalam 33 Sababab Lil Khusyu' Fish Shalah,
pada urutan ke empat.

Dalam bagian ini, Syaikh Al-Munajid menganjurkan bagi orang yang


melaksanakan shalat untuk memahami bacaan Al-Qur'an yang
dilantunkan dalam shalat. Lalu beliau menunjukkan cara untuk
memahami Al-Qur'an, yaitu dengan memperhatikan tafsir Al-Qur'an
sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullah,

"Sesungguhnya aku heran dengan orang-orang yang membaca Al-Qur'an,


sedangkan ia tidak memahami takwil (tafsir)nya, mana mungkin dia
dapat menikmati bacaannya." (Pendahuluan Tafsir al-Thabari, Mahmud
Syakir: I/10)

Karenanya, sangat dianjurkan bagi orang yang membaca Al-Qur'an


untuk membaca juga kitab-kitab tafsir. Jika tidak sempat, maka
dianjurkan untuk membaca ringkasannya. Kalau masih juga berat,
dianjurkan membaca kitab-kitab yang menerangkan kalimat-kalimat
yang sulitnya. Dan bagi kita, orang Ajam yang tidak berbicara dengan
bahasa Arab, dianjurkan untuk membaca tarjamahnya. Semua ini agar
kita bisa memahami bacaan Al-Qur'an yang dilantunkan dalam shalat
sehingga kita mampu merenunginya, lalu tumbuh kekhusyu'an dalam
diri kita.

Ketika seseorang memahami arti dan maksud ayat yang dibacanya


memungkinkan dia untuk mengulang-ulang ayat tersebut guna lebih
meresapinya dan memperkuat perasaannya. Dalam sebuah hadits
disebutkan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdiri
melaksanakan qiyamul lail semalaman hanya membaca satu ayat yang
diulang-ulangnya hingga pagi, yaitu firman Allah,

‫إكلن متحعذذلبمهلم حفإكننمهلم كعحبامدحك حوإكلن حتلغفكلر لحمهلم حفإكننحك أحلن ح‬


‫ت اللحعكزيمز اللححككيمم‬
Yang maknanya kurang lebih, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka
sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau
mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Maidah: 118)

Seseorang yang memahami makna ayat yang dibaca, tentunya akan


mungkin untuk berinteraksi langsung dengan ayat tersebut. Yaitu
dengan bertasbih ketika melewati ayat tasbih, dan berdoa ketika
melewati ayat yang mengandung permintaan, berta'awwudz (meminta
perlindungan) ketika melewati ayat yang mengandung perlindungan,
memohon surga ketika melewati ayat surga, dan berlindung dari neraka
ketika melewati ayat yang membicarakan tentang neraka dan
kedahsyatan siksanya.

Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Hudzaifah radliyallah


'anhu, berkata,
‫ حفحقحرأححها حيلقحرأ م‬. . . ‫ت لحليحلةة‬
‫سلنحم حذا ح‬ ‫صنلى ن‬
‫ام حعلحليكه حو ح‬ ‫ت حمحع الننكبذي ح‬ ‫صلنلي م‬
‫ح‬
‫سأ حل ح حوإكحذا حمنر‬‫سحؤاةل ح‬‫سنبحح حوإكحذا حمنر كب م‬‫سلل إكحذا حمنر كبآحيةة كفيحها حتلسكبيحح ح‬ ‫ممحتحر ذ‬
‫كبحتحعووةذ حتحعنوحذ‬
"Suatu malam aku shalat bermakmum kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam. Beliau membaca Al-Qur'an dalam shalatnya dengan berlahan
(tidak tergesa-gesa). Apabila beliau sampai pada ayat yang mengandung
tasbih, beliau bertasbih. Apabila sampai pada ayat yang mengandung
permintaan, beliau meminta (berdoa). Dan apabila sampai pada ayat
yang mengandung perlindungan, beliau berta'awwudz (memohon
perlindungan)." (HR. Muslim, no. 772)

‫سلنحم لحليلحلة حفحكاحن إكحذا حمنر كبآحيكة حرلححمةة‬


‫ام حعلحليكه حو ح‬‫صنلى ن‬ ‫الننكبذي ح‬ ‫ت حمحع‬ ‫صلنلي م‬
‫ح‬
‫ حوإكحذا حمنر كبآحيةة فكليحها حتلنكزليحه كنلك ح‬،‫ب حتحعنوحذ‬
‫سنبحح‬ ‫حمنر كبآحيكة حعحذا ة‬ ‫ حوإكحذا‬،‫سأ ححل‬ ‫ح‬
"Suatu malam aku shalat bermakmum kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam. Maka apabila sampai pada ayat rahmat, beliau meminta
rahmat. Apabila sampai pada ayat adzab, beliau berlindung darinya. Dan
apabila sampai pada ayat yang di dalamnya mengandung makna
menyucikan Allah, beliau membaca tasbih." (HR. Imam al-Marwazi
dalam Ta'dzim Qadris Shalah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Shahih al-Jami', no. 4782)

Sebagian ulama salaf juga membaca ayat dengan diulang-ulang karena


terkesan dengan makna dan kandungannya. Hal ini tidak lain karena
mereka memahami apa yang mereka baca. Qatadah bin al-Nu'man,
seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, melakukan
qiyamullailnya tanpa membaca surat apapun, kecuali surat Al-Ikhlash
yang dibacanya berulang-ulang. (Atsar riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul
Baari 9/59 dan Ahmad dalam Musnadnya III/43)

Sa'id bin 'Ubaid al-Thaiy telah meriwayatkan sebuah atsar, ia pernah


mendengar Sa'id bin Jubair mengimami pada bulan Ramadlan. Pada
shalat tersebut, Sa'id hanya membaca ayat berikut ini secara berulang
ulang,

‫ف حيلعلحمموحن إككذ اللحلغحلل م كفي أحلعحناقككهلم حوال ن‬


‫سحلكسل م ميلسححمبوحن كفي‬ ‫سلو ح‬‫حف ح‬
‫اللححكميكم مثنم كفي النناكر ميلسحجمروحن‬
"Kelak mereka akan mengetahui,ketika belenggu dan rantai dipasang di
leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas,
kemudian mereka dibakar dalam api." (QS. Al-Mukmin: 70-72)
Al-Qasim telah meriwayatkan bahwa dia pernah melihat Sa'id bin Jubair
melakukan qiyamullail dengan hanya membaca ayat,

‫سحبلت حومهلم حل‬


‫س حما حك ح‬ ‫حوانتمقوا حيلولما متلرحجمعوحن كفيكه إكحلى ن ك‬
‫ا مثنم متحونفى مكل و حنلف ة‬
‫ميلظلحمموحن‬
"Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada
waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-
masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah
dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya
(dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 281) dan beliau mengulang-ulang bacaan
ayat ini sampai 20 kali lebih.

Seorang laki-laki dari Bani Qais yang dikenal dengan Abu Abdullah telah
meriwayatkan, "Pada suatu malam kami menginap di rumah Al-Hasan
(al-Bashri), maka di tengah malam ia bangun dan shalat. Dan ternyata
yang dibacanya hanyalah ayat berikut secara berulang-ulang hingga
waktu sahur, yaitu firman Allah,

‫سأ حللمتمموهم حوإكلن حتمعودوا كنلعحمحة ن ك‬


‫ا حل متلح م‬
‫صوحها إكنن‬ ‫حوآححتامكلم كملن مكل ذ حما ح‬
‫ساحن لححظملوحم حكنفاحر‬
‫اللكلن ح‬
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa
yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat
Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu,
sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Qs. Ibrahim: 34)

Pada pagi harinya kami bertanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa engkau
tidak melampaui ayat ini dalam bacaan sepanjang malam?" Al-Hasan
menjawab, "Aku memandang ayat ini mengandung pelajaran yang
mendalam. Karena tidaklah aku menengadahkan pandangan mataku
dan tidak pula menundukkannya, melainkan pasti melihat nikmat.
Sedangkan nikmat-nikmat Allah yang belum diketahui, masih sangat
banyak." (Al-Tadzkirah, karya Imam al-Qurthubi, hal. 125)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid juga menjelaskan bahwa


meragamkan bacaan surat, ayat, dzikir, dan do'a dalam shalat bisa
membantu menghadirkan kekhusyu'an. Namun, kekhusyu'an ini tidak
akan diperoleh kecuali oleh orang yang mengetahui maknanya dan
memahami kandungannya, sehingga ketika ia membacanya seolah dia
sendiri yang bermunajat dan meminta kepada Allah secara langsung.

Berikut ini kekhusyu'

Shalat adalah hubungan makhluk dengan khaliqnya, shalat adalah penenang


jiwa dan pembersih hati, shlat merupakan bentuk hubungan yang sebenarnya
antara yang lemah dengan yang maha kuat. Untuk itu, kita perlu memahami
bagaimana cara untuk berhubungan dengan Allah S.W.T dengan Keridhaannya.
Dalam Al-Qur’an Allah S.W.T berfirman:

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-


orang yang khusyu' dalam shalatnya, (Q.S Al-Mu’minun 23:1-2)

Disini kita dapat memahami, bahwa orang-orang yang beruntung didalam


shalatnya ialah yang memahami akan maksud pelaksanaan shalat tersebut
yakninya Khusyu’, untuk itu kita perlu mengetahui metodenya.

1. Cara mendapatkan khusyu’ dalam shalat.

Hendaklah kita merasa diri sedang berdiri di hadapan yang maha berkuasa, yang
mengetahui segala rahasia. Dengan (Allahu Akbar yang maha besar) kekuasaan-
Nya orang yang shalat bermunajat.

2. Hendaklah kita memahamkan makna apa yang di baca. Sebagaimana yang


diperinthakan Allah S.W.T dalam Al-Quar’an dengan firmannya:
َ‫ب أهققهفاَللهها‬
‫أههفلَ هيهتهدببلروُهن اقلقلقرآْهن أهقم هعهلىَ قلللوُ ب‬
Afala Yatadabbaruunal Qur’ana Am’ala Quluubin Aqfaluha.
Artinya: Maka apakah mereka tidak memahamkan Al-Qur’an? Ataukah hati-hati
mereka terkunci? (Q.S 47:Muhammad Ayat 24)

3. Hendaklah kita memahamkan zikir-zikir yang dibaca, yakni memperhatikan


maknanya dan tujuan maksudnya. Kata Imam Al-Ghazaly dalam Al-Arba’ien:

Hendaklah kamu membaca “Allahu Akbar” dengan mengingat bahwasanya tak


ada yang besar dari pada Allah S.W.T dalam segala hal. Untuk itulah kita
tundukkan hawa nafsu kita sesuai dengan kehendak Allah S.W.T.

“Hendaklah kamu membaca “Wajahtu Wajhiya” dengan perasaan, bahwa kamu


benar-benar menghadapkan jiwamu kepada Allah S.W.T dan berpaling dari
selain-Nya” (dengan segala yang kita punyai kita hadapkan kepada-Nya).

Baik jabatan, kekayaan, ketampanan, aktifitas apapun yang kita lakukan, kita
persembahkan hanya kepada Rabbul Alamin.

Hendaklah kamu membaca “Alhamdulillah” dengan penuh rasa syukur kepada


Allah S.W.T terhadap segala nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan, ilmu
pengetahuan kesemuanya tidak dapat dihitung satu persatu.

Hendaklah kamu membaca “Iyyaka na’budu wa iyya ka nasta’in” dengan


perasaan bahwa kamu sangat lemah dan bahwa segala urusan itu hanya dalam
Qudrat-Nya.

Dan hendaklah ditiap-tiap membaca zikir, kamu memahami maknanya, dan


segala yang membimbangkan kamu dari memahami maknanya Qira’at (apa yang
kamu baca) dipandang waswas.
4. Hendaklah kita memanjangkan rukuk dan sujud.
Muhammad Al-Bakry berkata: Bahwasanya di antara pekerjaan yang
menghasilkan khusu’ ialah memanjangkan rukuk dan sujud.

5. Janganlah mempermai-mainkan anggota badan dengan gerakan tangan


sebentar-sebentar menggaruk kepala dan sebentar-sebentar menggaruk yang
lain dan janganlah berpaling-paling.

6. Hendaklah tetap memandang ketempat sujud, walaupun bermata buta, atau


bershalat disisi Ka’bah sekalipun.

Kata Al-Ustadz Al-Imam Muhammad Abduh:

a. Hendaklah ketika mereka menyebut sesuatu lafadh, mengingat maknanya.


Umpamanya, dikala membaca “Alhamdulillah” hendaklah mereka menghadirkan
makna puji dan sebab-sebab segala rupa puji itu, kepunyaan Allah S.W.T. ;dikala
membaca “Malikiyaumiddin” hendaklah mereka kenangkan hari pembalasan.

b. Hendaklah mereka berlaku sedemikian terus-menerus sehingga selesai shalat.


Apabila seorang tetap memahami makna dari lafadh yang di ucapkan, barulah
berarti ia mendirikan shalat.

Berfirman Allah S.W.T:


‫ﻴﺄﻴهاَالﺫ ينﺀاﻤﻧﻮاﻻ ﭠقرﺒﻮاآْلﺼلﻮﺓ ﻮأﻧﭠﻢ ﺴﮏرﺤﭠﻲﭡﻐلﻤﻮاﻤاﭠقﻮلﻮن‬
Pengertian Khusyu’
Arti khusyu’ dalam bahasa Arab ialah al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull
(tunduk), dan as-sukuun (tenang). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan
matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara
terminology khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan
kehadiran Allah SWT yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya
merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak
menoleh. Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Allah SWT.
Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat
hingga shalatnya berakhir.
Sedangkan menurut para ulama khusyu’ adalah kelunakan hati, ketenangan
pikiran, dan tunduknya kemauan yang renadah yang disebabkan oleh hawa
nafsu dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah sehingga hilang
segala kesombongan yang ada di dalam hati tersebut. jadi, pada saat itu hamba
hanya bergerak sesuai yang diperintahkan oleh Tuhannya.[1]
Dalam Al-Qur’an kata khusyu’ disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata
yang berbeda. Meskipun mayoritas ditujukan kepada manusia namun ada juga
sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu’ berlaku juga untuk benda-benda
yang lain seperti gunung dan bumi.

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan perbedaan antara khusyu’ iman dengan
khusyu’ nifaq berkata : “Khusyu’ iman adalah: “khusyu’nya hati kepada Allah
dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu.
Hatinya terbuka untuk Allah dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena
khawatir, malu bercampur cinta. Menyaksikan nikmat-nikmat Allah dan
kejahatan dirinya sendiri. Dengan begitu secara otomatis hati menjadi khusyu’
yang kemudian khusyu’nya anggota badan. Adapun khusyu’ nifaq adalah : ia
tampak pada permukaan badan dalam sifatnya yang dipaksakan dan dibuat-
buat, sementara hatinya tidak khusyu’. Sebagian sahabat ada yang berkata:
“Saya berlindung kepada Allah dari khusyu’ nifaq. Dikatakan kepadanya apa,
“Apakah khusyu’ nifaq?” Ia menjelaskan “Jika badan kelihatan khusyu’
sementara hatinya tidak”.

Adapun pengertian hamba yang khusyu’ kepada Allah adalah : seorang hamba
yang nafsu syahwatnya padam dan perasaan syahwatnya dalam hatinya tenang.
Dengan begitu, dadanya menjadi terang dan di dalamnya terpancar cahaya
agung. Maka kemudian matilah syahwat jiwanya, karena rasa takut dan adanya
ketenangan yang memenuhi hatinya. Dengan begitu padamlah seluruh anggota
badannya, hatinya tenang dan tuma’ninah kepada Allah . Ia berdzikir kepada-Nya
dengan perasaan tenteram yang diberikan Rabb kepadaNya, dengan begitu, ia
tunduk dan berserah diri kepada Allah . Sedangkan orang yang tunduk adalah
orang yang tenang. Sebab yang disebut dengan tanah yang tenang adalah tanah
yang tidak bergerak dan karenanya air bisa menggenang. Begitu pula hati yang
tunduk, ia merasakan ketenangan dan kekhusyu’an, seperti belahan bumi yang
tenang yang di atasnya air bisa mengalir kemudian menggenang di atasnya.

Ayat-ayat tentang Khusyu’


1) Surah Al Baqarah ayat 45

‫صحلكة حوإكننحها حلحككبيحرةح إكنل حعحلى اللحخاكشكعيحن‬ ‫حوالسحتكعيمنوا كبال ن‬


‫صلبكر حوال ن‬

4. Karena termasuk kesempurnaan ibadah shalat adalah dengan khusyuk dan memahami
apa yang dibacanya, namun hal ini menjadi sulit untuk direalisasikan seseorang,
kecuali dengan adanya kemampuan berbahasa Arab. Ketika seseorang memahami arti dan
maksud ayat yang dibacanya memungkinkan ia untuk mengulang-ulang ayat tersebut guna lebih
meresapinya dan memperkuat perasaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- pernah berdiri shalat malam semalaman hanya membaca satu ayat yang diulang-
ulangnya hingga pagi menjelang, yaitu firman Allah: