Você está na página 1de 36

TUGAS

KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN


PADA LANJUT USIA (LANSIA) DI PANTI
SOSIAL
DAN
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN
PADA LANSIA DENGAN MASALAH
PENYAKIT PSIKOSOSIAL

OLEH:

NAMA : ARI WAHYUDI PUTRA


ABSEN : 02
KELAS : XII-E
TUGAS : TUMBANG

SMK NEGERI 8 MATARAM TAHUN


PELAJARAN 2014-2015
TUGAS
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT
USIA (LANSIA) DI PANTI SOSIAL
DAN
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA
DENGAN MASALAH PENYAKIT PSIKOSOSIAL

OLEH:

NAMA : BAYU SURYONING PROJO


ABSEN : 04
KELAS : XII-E
TUGAS : TUMBANG

SMK NEGERI 8 MATARAM TAHUN


PELAJARAN 2014-2015
TUGAS
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT
USIA (LANSIA) DI PANTI SOSIAL
DAN
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA
DENGAN MASALAH PENYAKIT PSIKOSOSIAL

OLEH:

NAMA : ABDUL HAFIS


ABSEN : 01
KELAS : XII-E
TUGAS : TUMBANG

SMK NEGERI 8 MATARAM TAHUN


PELAJARAN 2014-2015
TUGAS
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN
PADA LANJUT USIA (LANSIA) DI PANTI
SOSIAL
DAN
KONSEP PENGASUHAN KEPERAWATAN
PADA LANSIA DENGAN MASALAH
PENYAKIT PSIKOSOSIAL

OLEH:

NAMA : FATWA YASIN


ABSEN : 08
KELAS : XII-E
TUGAS : TUMBANG

SMK NEGERI 8 MATARAM TAHUN


PELAJARAN 2014-2015
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT
USIA (LANSIA) DI PANTI WERDA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati


bahwa keperawatan adalah “suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-
kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia”.
Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif,
ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit
yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa
bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan
aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan pada pasien
lanjut usia di tatanan klinik (clinical area), dimanan pendekatan yang digunakan adalah
proses keperawatan yang meliputi pengkajian (assessment), merumuskan diagnosa
keperawatan (Nursing diagnosis), merencanakan tindakan keperawatan (intervention),
melaksanakan tindakan keperawatan (Implementation) dan melakukan evaluasi
(Evaluation). Dibawah ini ada beberapa alasan timbulnya perhatian kepada lanjut usia,
yaitu :

1. Pensiunan dan masalah-masalahnya


2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke
3. Meningkatnya jumlah lanjut usia
4. Pencemaran pelayanan kesehatan
5. Kewajiban Pemerintahterhadap orang cacat dan jompo
6. perkembangan ilmu
7. Program PBB
8. Konfrensi Internasional di WINA tahun 1983
9. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit
10. Mahalnya obat-obatan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia di panti werda


Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes, dimaksudkan
untuk memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan
kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan
keluarga, Panti Werda maupun Puskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan
keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang
bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada
waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti.

Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut
usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:

1. Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan
tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu:
kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan
lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi
kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
2. Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang
perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada
dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota
keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi
dekubitus (lecet).

Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan kulit
berkaitan dengan bertambahnya usia, antara lain:

1. Berkurangnya jaringan lemak subkutan


2. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas
3. Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis
dan rapuh
4. Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya dekubitus.

B. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia di panti werda

1. Pendekatan fisik

Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-


kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ
tubuh, tingkat kesehatan yang masih bias di capai dan dikembangkan, dan penyakit
yang yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik secara umum
bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu:

a) Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak
tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu
melakukan sendiri.
b) Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya
mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan
klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan
keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.

Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya


peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang
mendapat perhatian. Adapun komponen pendekatan fisik yang lebuh mendasar adalah
memperhatikan atau membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar,
makan, minum, melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan,
tidur, menjaga sikap, tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran,
beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu
badan melindungi kulit dan kecelakaan.Toleransi terhadap kakurangan O2 sangat
menurun pada klien lanjut usia, untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus
disegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan melakukan gerak badan
yang berlebihan. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah
timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi bisa saja timbul bila kebersihan
kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, kebersihan badan, tempat tidur,
kebersihan rambut, kuku dan mulut atau gigi perlu mendapat perhatian perawatan
karena semua itu akan mempengaruhi kesehatan klien lanjut usia. Perawat perlu
mengadakan pemeriksaan kesehatan, hal ini harus dilakukan kepada klien lanjut usia
yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan
kelainan, misalnya: batuk, pilek, dsb. Perawat perlu memberikan penjelasan dan
penyuluhan kesehatan, jika ada keluhan insomnia, harus dicari penyebabnya,
kemudian mengkomunikasikan dengan mereka tentang cara pemecahannya. Perawat
harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan
ramah, sambil bertanya apa keluhan yang dirasakan, bagaimana tentang tidur, makan,
apakah obat sudah dimminum, apakah mereka bisa melaksanakan ibadah dsb.
Sentuhan (misalnya genggaman tangan) terkadang sangat berarti buat mereka.

2. Pendekatan psikis

Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan


edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter , interpreter
terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan
sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian
dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima
berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu
memegang prinsip ” Tripple”, yaitu sabar, simpatik dan service.

Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap
kesehatan, perawat bila melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap, perawat
harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh
pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di
masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia.

3. Pendekatan sosial

Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya
perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama
dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan
social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya
adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Penyakit memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan
konunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, nonton film, atau hiburan lain.
Tidak sedikit klien tidak tidur terasa, stress memikirkan penyakitnya, biaya hidup,
keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau
kekhawatiran, dan rasa kecemasan. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian
diantara lanjut usia, hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak
dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan
komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung
berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Panti Werda.

4. Pendekatan spiritual

Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam


hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnua dalam kedaan sakit atau
mendeteksikematian. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia
yang menghadapi kematian, DR. Tony styobuhi mengemukakn bahwa maut sering
kali menggugah rasa takut. Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam factor,
seperti ketidak pastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan
kegelisahan kumpul lagi bengan keluatga dan lingkungan sekitarnya. Dalam
menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda,
tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Adapun
kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat harus dapat
meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun kelurga tadi di tinggalkan , masih ada orang
lain yang mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut
usia. Umumnya pada waktu kematian akan datang agama atau kepercayaan seseorang
merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman
sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. Dengan demikian pendekatan
perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat
lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.

C. Tujuan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia

Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari –hari secara mandiri dengan:

1. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut
dengan jalan perawatan dan pencegahan.
2. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup
klien lanjut usia (life support)
3. menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik
kronis maupun akut.
4. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa
yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu
5. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu
penyakit, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu
pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

D. Fokus Keperawatan Lanjut Usia


Keperawatan lanjut usia berfokus pada :
1. Peningkatan kesehatan (helth promotion)
2. Pencegahan penyakit (preventif)
3. Mengoptimalkan fungsi mental
4. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.

E. Diagnosa Keperawatan

1. Aspek fisik atau biologis

a. Dx : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu


dalam memasukkan, memasukan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena
factor biologi.

NOC I : Status nutrisi

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien diharapkan


mampu:

1. Asupan nutrisi tidak bermasalah


2. Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah
3. Energy tdak bermasalah
4. Berat badan ideal

NIC II: Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management)

1. Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk memuat perencanaan


perawatan jika sesuai.
2. Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat badann, jika
berat badan pasien tdak sesuia dengan usia dan bentuk tubuh.
3. Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari
supaya mencapai dan atau mempertahankan berat badan sesuai target.
4. Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien
5. Kembangkan hubungan suportif dengna pasien
6. Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan
kenaikan atau pemeliharaan berat badan
7. Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan
untuk menimimalkan berat badan.
8. Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang
mendukung peningkatan berat badan.

b. Dx. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,
terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi
yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam pasien


diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria :
1. Mengatur jumlah jam tidurnya
2. Tidur secara rutin
3. Miningkatkan pola tidur
4. Meningkatkan kualitas tidur
5. Tidak ada gangguan tidur

NIC : Peningkatan Tidur


1. Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien
2. Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
3. Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik
4. Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya

c. Dx. Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan


keterbatasan neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke
toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu
mengontrol pengosongan.

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3×24 jam diharapkan


pasien mampu :
1. Kontinensia Urin
2. Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).
3. Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu.
4. Mengosongkan bladde dengan lengkap.
5. Mampu memprediksi pengeluaran urin.
NIC : Perawatan Inkontinensia Urin
1. Monitor eliminasi urin
2. Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.
3. Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet.
4. Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari.

d. Dx. Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan


memori sekunder

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2×24 jam pasien


diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan criteria :
1. Mengingat dengan segera informasi yang tepat
2. Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan
3. Mengingat informasi yang sudah lalu
NIC : Latihan Daya Ingat
1. Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan
2. Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan cepat
3. Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien

e. Dx. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang


ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual.

TUJUAN
NOC : Fungsi Seksual
1. Mengekspresikan kenyamanan
2. Mengekspresikan kepercayaan diri
NIC : Konseling Seksual
1. Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk organ
seksual seiring dengan bertambahnya usia.
2. Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.

f. Dx. Kelemahan mobilitas fisik b.d kerusakan musculoskeletal dan neuromuscular

Yang ditandai dengan :


1. Perubahan gaya berjalan
2. Gerak lambat
3. Gerak menyebabkan tremor
4. Usaha yang kuat untuk perubahan gerak
NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien
dapat :
1. Memposisikan penampilan tubuh
2. Ambulasi : berjalan
3. Menggerakan otot
4. Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan
NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy Ambulation )
1. Kosultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang sesuai
dengan kebutuhan
2. Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman
3. Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk berdiri (mudah
goyah/tidak kokoh)

g. Dx. Kelelahan b.d kondisi fisik kurang

Yang ditandai dengan:


1. Peningkatan kebutuhan istirahat
2. Lelah
3. Penampilan menurun
NOC Activity Tolerance
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien
dapat:
1. Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas
2. Melaporkan aktivitas harian
3. Memonitor ECG dalam batas normal
4. Memonitor warna kulit
NIC Energy Management
1. Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat
2. Tentukan keterbatasan fisik pasien
3. Tentukan penyebab kelelahan
4. Bantu pasien untuk jadwal istirahat

h. Dx. Risiko kerusakan integritas kulit


NOC : Kontrol Risiko ( risk control )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien
dapat :
1. Kontrol perubahan status kesehatan
2. Gunakan support system pribadi untuk mengontrol risiko
3. Mengenal perubahan status kesehatan
4. Monitor factor risiko yang berasal dari lingkungan
NIC : penjagaan terhadap kulit ( skin surveillance )
1. Monitor area kulit yang terlihat kemerahan dan adanya kerusakan
2. Monitor kulit yang sering mendapat tekanan dan gesekan
3. Monitor warna kulit
4. Monitor suhu kulit
5. Periksa pakaian, jika pakaian terlihat terlalu ketat

i. Dx. Kerusakan Memori b.d gangguan neurologis

Yang ditandai dengan :


1. Tidak mampu mengingat informasi factual
2. Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau
3. Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman
4. Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau informasi baru
NOC : Orientasi Kognitif
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien
dapat :
1. Mengenal diri sendiri
2. Mengenal orang atau hal penting
3. Mengenal tempatnya sekarang
4. Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar
NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )
1. Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir
pertemuan dengan pasien.
2. Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.
3. Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali
4. Monitor perilaku pasien selama terapi

2. Aspek psikososial

1. Dx. Coping tidak efektif b.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan
koping, dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau
hubungan.

NOC I : koping (coping)


Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara
konsisten diharapkan mampu:

1. Mengidentifikasi pola koping efektif


2. Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif
3. Melaporkan penurunan stress
4. Memverbalkan control perasaan
5. Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan
6. Beradaptasi dengan perubahan perkembangan
7. Menggunakan dukungan social yang tersedia
8. Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis

NIC I : coping enhancement

1. Dorong aktifitas social dan komunitas


2. Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan
3. Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang
sama
4. Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan yang sesuai.
5. Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang
sama.
6. Dx. Isolasi social b.d perubhaan penampilan fisik, peubahan keadaan sejahtera,
perubahan status mental.

NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara konsisten
diharapkan mampu:

1. Berpatisipasi dalam aktifitas bersama


2. Berpatisipasi dala tradisi keluarga
3. Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar
4. Memberikan dukungan satu sama lain
5. Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain.
6. Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan
7. Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas
8. Memecahkan masalah

NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement)

1. Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan


pasien.
2. Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan kesehatan
yang utama.
3. Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien
4. Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap keluarganya yang sesuai dengan
umur atau penyakitnya.
5. Dx. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran,
perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.

NOC :

Setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan selama 2×24 jam pasien diharapkan
akan bisa memperbaiki konsep diri dengan criteria :

1. Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin
lagi digunakan akibat penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan;
penggunaan tenaga yang berlebihan)
2. Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya
terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan
3. Mencari konseling profesional, jika perlu, untuk menghadapi perubahan akibat
pnyakitnya
4. Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual

NIC : Peningkatan harga diri

1. Kuatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien mengndalikan situasi


2. Menguatkan tenaga pribadi dalam mengenal dirinya
3. Bantu pasien untuk memeriksa kembali persepsi negative tentang dirinya
4. Dx. Cemas b.d perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola interaksi , fungsi
peran, lingkungan, status ekonomi

Yang ditandai dengan:

1. Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup


2. Mudah tersinggung
3. Gangguan tidur

NOC Anxiety Control

1. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat:
2. Memonitor intensitas cemas
3. Melaporkan tidur yang adekuat
4. Mengontrol respon cemas
5. Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress

NIC Anxiety Reduction

1. Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas


2. Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi ketakutan
3. Identifikasi ketika perubahan level cemas
4. Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi
5. Dx. Resiko Kesendirian

NOC Family Coping

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat:

1. Mendemontrasikan fleksibelitas peran


2. Mengatur masalah
3. Menggunakan strategi penguranagn stress
4. Menghadapi masalah

NIC Family Support

1. Bantu pekembangan harapan yang realistis


2. Identifikasi alami dukungan spiritual bagi keluarga
3. Berikan kepercayaan dalam hubungan dengan keluarga
4. Dengarkan untuk berhubungan dengan keluarga, perasan dan pertanyaan
5. Dx. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik
(ketidakseimbangan mobilitas) serta psikologis yang disebabkan penyakit atau terapi

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24jam pasien diharapkan


meningkatkan citra tubuhnya dengan criteria :

1. Merasa puas dengan penampilan tubuhnya


2. Merasa puas dengan fungsi anggota badannya
3. Mendiskripsikan bagian tubuh tambahan

NIC : Peningkatan Citra Tubuh

1. Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan karena penyakit atau pembedahan


2. Memutuskan apakah perubahan fisik yang baru saja diterima dapat masuk dalam citra
tubuh pasien
3. Memudahkan hubungan dengan individu lain yang mempunyai penyakit yang sama
4. Aspek spiritual

Dx : Distress spiritual b.d peubahan hidup, kematian atau sekarat diri atau orang lain,
cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan social, kurang sosiokultural.

NOC I : pengaharapan (hope)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara luas diharapkan
mampu:

1. Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif


2. Mengekspresikan arti kehidupan
3. Mengekspresikan rasa optimis
4. Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri
5. Mengekspresikan kepercayaan
6. Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain

NIC I : penanaman harapan (hope instillation)

1. Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup
2. Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri
3. Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan
4. Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group.
5. Mengembangkan mekanisme paran koping pasien
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. http://askep- askeb.cz.cc/ diakses tanggal 10 maret 2010.

Jhonson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise, Missouri :
Mosby, Inc.

McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louise, Missouri
: Mosby, Inc.
KONSEF PENGASUHAN KEPERAWATAN PADA
LANSIA DENGAN MASALAH PENYAKIT
PSIKOSOSIAL

I. LATAR BELAKANG

A. LATAR BELAKANG PENULISAN

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan
kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum
maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Masalah kesehatan jiwa lansia
termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri
dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang
mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis,
sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain. Menurut Setiawan (1973), timbulnya
perhatian pada orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-sifat atau faktor-
faktor khusus yang mempengaruhi kehidupan pada usia lanjut.
Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang
berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi juga psikologis
dan sosial. Menurut Laksamana (1983:77), perubahan yang terjadi pada lansia dapat
disebut sebagai perubahan `senesens` dan perubahan 'senilitas'. Perubahan `senesens'
adalah perubahan-perubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut. Perubalian
'senilitas' adalah perubahan-perubahan patologik permanent dan disertai dengan
makin memburuknya kondisi badan pada usia lanjut. Sementara itu, perubahan yang
dihadapi lansia pada amumnya adalah pada bidang klinik, kesehatan jiwa dan
problema bidang sosio ekonomi. Oleh karma itu lansia adalah kelompok dengan
resiko tinggi terhadap problema fisik dan mental.
Usia lansia bukan hanya dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah
saja, tapi juga permasalahan gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Lansia
sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering diwarnai dengan kondisi
hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Banyak faktor yang menyebabkan seorang
mengalami gangguan mental seperti depresi.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.
Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat
menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi
para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai
berikut:
1. Penurunan kondisi fisik
2. Penurunan fungsi dan potensi seksual
3. Perubahan aspek psikososial
4. Perubahan yang berkaitan dengan pekcrjaan
5. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
B. TUJUAN PENULISAN

1. TUJUAN PENULISAN UMUM

Tujuan penulisan umum dari makalah ini adalah untuk mengetahui konsep dan
asuhan keperawatan pada lansia dengan masalah psikososial.

2. TUJUAN PENULISAN KHUSUS


Tujuan penulisan khusus dari makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada lansia.
b. Untuk mengetahui masalah yang sering muncul pada lansia.
c. Untuk mengetahui penanganan masalah yang sering muncul pada lansia secara
umum.
d. Untuk mengetahui fokus pengkajian masalah yang sering muncul pada lansia.
e. Untuk mengetahui diagnosa keperawatwi yang muncul pada lansia.
f. Untuk mengetahui intervensi keperawatan dalam menangani masalah yang sering
muncul pada lansia.

II. KONSEP

A. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANJUT USIA TERKAIT SISTEM


PSIKOSOSIAL

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan


fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami


perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.
Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan lima tipe kepribadian
lansia sebagai berikut:
1. Tipe kepribadian konstruktif (construction personality), biasanya tipe ini tidak
banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.

2. Tipe kepribadian mandiri (independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan
mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan
kegiatan yang, dapat inernberikan otonomi pada dirinya.

3. Tipe kepribadian tergantung (dependent personality), pada tipe ini biasanya sangat
dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis
maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal
maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera
bangkit dari kedukaannya.

4. Tipe kepribadian bermusuhan (hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki
lansia tetap merasa tidak puns dengan kchiclupannya, banyak keingimin ywig
kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan
kondisi ekonominya meniadi morat-marit.

5. Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality), pada lansia tipe ini umumnya
terlihat sengsarv, karena perilakunya sendiri sulit dibantu ormig lain atau
cenderung membuat susah dirinya.

Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila:

1. Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain).

2. Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai
sebab, diantaranya setelah menjalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat
dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
B. MASALAH YANG SERING MUNCUL

1. Depresi

a. Pengertian

Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen
psikologis seperti rasa sedih, susah, merasa tidak berguna, gagal, putus asa dan
penyesalan atau berbentuk penarikan diri, kegelisahan atau agitasi (Afda
Wahywlingsih dan Sukamto).

b. Penyebab depresi pada lansia:


1) Penyakit fisik
2) Penuaan
3) Kurangnya perhatian dari pihak keluarga
4) Gangguan pada otak (penyakit cerebrovaskular)
5) Faktor psikologis, berupa penyimpangan perilaku oleh karena cukup banyak
lansia yang mengalami peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau
cukup berat.
6) Serotonin dan norepinephrine
7) Zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang. Neurotransmitter
sendiri adalah zat kimia yang membantu komunikasi antar sel-sel otak.
c. Factor pencetus depresi pada lansia:
1) Faktor biologic, misalnya faktor genetik, perubahan struktural otak, faktor risiko
vaskular, kelemahan fisik.
2) Faktor psikologik yaitu tipe kepribadian, relasi interpersonal, peristiwa
kehidupan seperti berduka, kehilangan orang dicintai, kesulitan ekonomi dan
perubahan situasi, stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu.
d. Gejala depresi pada lansia:

1) Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada,
proyek, hobi, atau rekreasi tidak rnemberikan kesenangan.

2) Keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik seperti:


a) Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat
sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika.
kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
b) Nyeri (nyeri otot dan nyeri kepala)
c) Merasa putus asa dan tidak berarti. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai
hidup yang tidak berguna, tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa
percaya diri. Pemikiran seperti, "saya menyia-nyiakan hidup saya" atau
“saya tidak bisa rncncapai banyak kemajuan", seringkali terjadi.
d) Berat badan berubah drastis
e) Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor
penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak
banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
f) Sulit berkonsentrasi. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan
untuk mernecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi
merasa kesulitan untuk memfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah
untuk jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi adalah,
"saya tidak bisa berkonsentrasi".
g) Keluarnya keringat yang berlebihan
h) Sesak napas
i) Kejang usus atau kolik
j) Muntah
k) Diare
l) Berdebar-debar
m) Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami
depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya
dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Dilain pihak,
seseorang lainnya yang mengalami depresi mungkin akan gampang letih
dan lemah.
n) Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan
atau merasa, "saya selalu merasah lelah" atau "saya capai".

3) Secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter, penyakit sistemik


dan penyakit degeneratif.

4) Secara psikologik geplanya:

a) Kelilhuigan harga diri/ martabat


b) Kehilangan secara fisik prang dan benda yang disayangi
c) Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan alkohol/
narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya, makan berlebihan, terutama kalau
seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk,
diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai salah
satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.
d) Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri

5) Gejala social ditandai oleh kesulitan ekonomi seperti tak punya tempat tinggal.

2. Demensia

Demensia adalah gangguan progresif kronik yang dicirikan dengan kerusakan


berat pada proses kognitif dan disfungsi kepribadian serta perilaku (Isaac,
2004).
a. Pengertian
Demensia ialah kemunduran fungi mental umum, terutama intelegensi,
disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang tidak dapat kembali lagi
(irreversible) (Maramis, 1995).
b. Jenis demensia:
1) Demensia jenis alzheimer
Patofisiologi:
a) Otopsi menunjukkan adanya plak amiloid (plak senil atau neuritik) di
jaringan otak atau adanya kekusutan neurofibriler (akumulasi simpul
filamen saran pada neuron.
b) Adanya plak dan kekusutan tersebut berkaitan dengan sel saraf, hilangnya
sambungan antar neuron dan akhimya atrofi serebral.
Genetika:

Adanya gen abnormal saja tidak cukup untuk memprediksi demensia


jenis alzheimer.
a) Penyakit alzheimer familial memiliki awitan sangat dini (usia 30-40 th)
dan bertanggung jawab atas 20% dari semua kasus demensia jenis ini.
Penyakit ini berkaitan denga gengen abnormal dikromosom 1, 14 dan 21
b) Adanya apolipoprotein E 4 (apo, E 4) dikromosom 19 terjadi 2 kali lebih
banyak pada penderita demensia jenis alzheimer dibanding populasi
umum.
Modal toksin:
Sebagian peneliti meyakini bahwa akumulasi alumunium pada otak
akibat pajanan alat-alat dan produk alumunium dapat menyebabkan
demensia jenis alzheimer. Bukti untuk teori ini masih sedikit.
Abnormalitas neurotransmiter atau reseptor :
Kehilangan asetil kolin (neurotransmiter kolinergik mayor) berkaitan
dengan gejala-gejala gangguan kognitif (demensia). (peningkatan kadar
asetin kolin merupakan dasar untuk terapi obat yang disetujui FDA
untuk demensia).
Perubahan
Tahap Perilaku Afek
Kognitif
Ringan Sulit menyelesaikan tugas Cemas Kehilangan ingatan tentang

Penurunan aktivitas yang mengarah Depresi peristiwa yang baru saja


pada tujuan terjadi (lupa akan janji
Frustasi
Kurang memperhatikan penampilan temu dan percakapan)
Curiga
pribadi dan
Disorientasi waktu
Ketakutan
aktivitas sehari-hari
Berkurangnya kemampuan
Menarik diri dari aktivitas social konsentrasi
yang biasa
Sulit mengambil keputusan
Sering mencari benda-benda
Kemampuan penilaian
karena lupa meletakannya; buruk

dapat menuduh orang lain telah


mencurinya
Sedang Perilakunya tidak pantas secara Mood labil Datar Kehilangan ingatan tentang
sosial hal-hal yang baru atau lama
Apatis
(amnesia)

Agitasi
Kurang perawatan diri (misal mandi, Katas tropi Konfabulasi
toileting, berpakaian, berdandan) Paranoia
Disprientasi waktu, tempat
Berkeluyuran atau mondar-mandir dan orang

Senang menimbun barang-barang Sedikit agnosia, apraksia


dan afasia
Hiperoralitas

Mengalami

gangguan siklus tidur-bangun


Berat Penurunan kemampuan ambulasi Datar, apatis Semua perubahan kognitif
dan aktivitas motorik lainnya Reaksi Katastropik berlanjut sejalan dengan
occasional dapat meningkatnya amnesia,
Penurunan kemampuan menelan
berlanjut agnosia, aprasia dan afasia

Sama sekali tidak bisa mengurus diri


(misalnya membutuhkan perawatan
yang konstan)

Tidak mengenali

lagi keberadaan pemberi asuhan

2) Demensia vaskular (multi-infark) ditandai dengan gejala-gejala demensia pada tahun


pertama terjadinya gejala neurologik fokal. Klien diketahui mengalami faktor
resiko penyakit vaskuler (misalnya hipertensi, fibrilasi atrium, diabetes).

3) Jenis demensia yang lain berkaitan dengan kondisi medis umum, seperti penyakit
parkinson, penyakit pick, koreahuntingtown dan penyakit Creutzfeldt-jakob.
Demensia yang disebabkan kondisi-kondisi tersebut dicatat sesuai penyakitnya
yang spesifik.

c. Gejala demensia:

1) Afasia: kehilangan kemampuan berbahasa; kemampuan berbicara memburuk dan


klien sulit "menemukan" kata-kata.
2) Apraksia: rusaknya kemampuan melakukan aktivitas motorik sekalipun fungsi
sensoriknya tidak mengalami kerusakan.
3) Agnosia: kegagalan mengenali atau mengidentifikasi objek atau benda urnurn
walaupun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan.
4) Konfabulasi: mengisi celah-celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh
individu yang terkena.
5) Sundown sindrom: memburuknya disorientasi di malam hari.
6) Reaksi katastrofik: respon takut atau panik dengan potensi kuat inenyakiti diri
sendiri atau orang lain.
7) Perseveration phenomenon: perilaku berulang, meliputi mengulangi kata-kata
orang lain.
8) Hiperoralitas: kebutuhan untuk mencicipi dan mengunyah benda-benda yang
cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut.
9) Kehilangan memori: awalnya hanya kehilangan memori tentang hal-hal yang baru
terjadi, dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu.
10) Disorientasi waktu, tempat dan orang.
11) Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru.
12) Sulit mengambil keputusan
13) Penilaian buruk: individu ini mungkin tidak mempunyai kewaspadaan
lingkungan tentang keamanan dan keselamatan.

d. Epidemiologi demensia:

Dimensia jenis a1zheimer menyebabkan 50%-75% kasus demensia yang


didiagnosis. Demensia jenis ini merupakan penyebab, kematian tertinggi keempat
pada individu berusia lebih dari 65 tahun. Insidensinya sebagai berikut:

1) 65-75 tahun 5%-8%

2) 75-85 tahun 15%-20%

3) 85 tahun atau lebih 25%-55%

e. Etiologi demensia:

Faktor-faktor yang berkaitan dengan demensia adalah:


1) Kondisi akut yang tidak diobati atau tidak dapat disembuhkan. Bila kondisi akut
yang menyebabkan delirium tidak atau tidak dapat diobati, terdapat
kemungkinan bahwa kondisi ini akan menjadi kronik dan karenanya dapat
dianggap sebagai demensia.
2) Penyakit vaskuler, seperti hipertensi, arteriosklerosis, dan aterosklerosis dapat
menyebabkan stroke.
3) Penyakit parkinson: demensia menyerang 40% dari pasien-pasien ini.
4) Gangguan genetika: koreahuntington atau penyakit pick.
5) Penyakit prior (protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-
jakob).
6) lnfeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV) dapat menyerang Sistem saraf pusat
(SSP), menyebabkan ensefalopati HIV atau kompleks demensia AIDS.
7) Gangguan struktur jaringan otak, seperti tekanan normal, hidrocephalus dan cidera
akibat trauma kepala.

C. PENANGANAN SECARA UMUM

1. Diagnosis:

Diagnosis medis gangguan kognitif ditetapkan dengan melakukan skrining yang


cermat untuk mengesampingkan penyebab lain gejala-gejala tersebut. Skrining-
skrining tersebut meliputi:
a. Pemeriksaan status kesehatan jiwa dan pemeriksaan neuropsikologik.
b. pemeriksaan darah komprehensif, meliputi HDL, (Hitung Darah Lengkap),
kimia darah, vitamin B12, dan kadar folat, tiroid dan tes fungsi hati serta
ginjal.
c. Studi pencitraan otak, meliputi Computed Tomography (CT), Positron
Emission Tomography (PET) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI).
d. Gangguan depresi pada klien lansia dapat dimanifestasikan dengan gejala-
gejala yang serupa dengan gejala gangguan kognitif'. Oleh karena itu,
gangguan depresi harus dikesampingkan.
2. Depresi

Depresi yang merupakan masalah mental paling banyak ditemui pada lansia
membutuhkan penatalaksanaan holistik dan seimbang pada aspek fisik, mental
dan sosial. Di samping itu, depresi pada lansia harus diwaspadai dan dideteksi
sedini mungkin karena dapat mempengaruhi perjalanan penyakit fisik dan
kualitas hidup pasien.

Penanganan depresi lebih dini akan lebih baik serta menghasilkan gejala
perbaikan yang lebih cepat. Depresi yang lambat ditangani akan menjadi lebih
parch, menetap serta meminbulkan resiko kekambuhan. Depresi yang dapat
ditangani dengan baik juga dapat menghilangkan kcitigiiian pasien untuk melukai
dirinya sendiri termasuk upaya bunuh diri.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia


a. Perubahan faal oleh proses menua
b. Status medik atau komorbiditas penyakit fisik
c. Status tLiiigsioiial
d. Interaksi antar obat
e. Efektivitas dan efek camping obat
f. Dukungan social
Penatalaksanaan depresi pada lansia:
a. Terapi biologik:
1) Pemberian obat antidepresan
Terdapat beberapa pilihan obat anti depresi yaitu jenis Selective Serotonin
Reuptake Inhibitors (SSRIs): Prozac (fluoxetine); Zoloft (setraine),
Cipram (citalopram) dan Paxil (paroxetine). Jenis NASSA: Remeron
(mirtazapine). Jenis Tricylic antidepresan: Tofranil (imipramine) dan
Norpramin (desipramine). Reversible Inhibitor Mono Amine Oxidase
(RIMA) Inhibitors: Aurorix. Stablon. (Tianeptine).
2) Terapi kejang listrik (ECT), shock theraphy
Penggunaan Electroconvulsive Therapy (ECT) dengan cara shock therapy
untuk pasien yang tidak memberi respon positif terhadap, obat
antidepresan dan psikoterapi. ECT bekerja untuk menyeimbangkan unsur
kimia pada otak, dirasa. cukup aman dan efektif serta dapat diulang 3 kali
seminggu sampai pasien menunjukan perbaikan. Efek samping ECT
adalah kehilangan kesadaran sementara.pada pasien namun cukup efektif
untuk mengurangi resiko bunuh diri pada pasien tertentu.
3) Terapi sulih hormon
4) Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)
b. Terapi psikososial (psikoterapi) bertujuan mengatasi masalah
psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola
berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi
interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah
sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari keluarga, kendala terkait
faktor kultural, perubahan peran sosial.
1) Mata dengan pandangan yang penuh perhatian, mimik muka dan ekspresi
wajah simpati, sikap yang tepat merupakan alat perawat untuk membantu
klien untuk mengembalikan rasa percaya diri serta perasaan diperhatikan
dan dihargai sebagai manusia yang bermartabat
2) Dengan telinga perawat bisa mendengarkan segala keluh kesah pada klien
yang mengalami depresi. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa
depresi timbul akibat adanya dorongan negatif dari super-ego yang
diresepsi dan lambat laun akan tertimbun dialam bawah sadar. Sehingga
depresi adalah sebentuk penderitaan emosional. Kekecewaan ataupun
ketidakpuasan secara emosional yang direpresi tidak secara otomatis akan
hilang, melainkan sewaktu-waktu akan muncul (return of the repressed).
Dalam tehnik percakapan ini perawat lebih banyak menjadi pendengar yang
efektif.
Tugas perawat adalah mernbantu klien memahami realitas apa yang
sesungguhnya dialami, sehingga klien bisa keluar dari kondisi yang
membuatnya depresi.

c. Perubahan gaya hidup

Aktivitas fisik terutama olah-raga. Pasien dibiasakan berjalan kaki setup pagi
atau sore sehingga energi dapat ditingkatkan serta mengurangi stress karena
kadar norepinefrin meningkat. Selain itu, pasien juga dapat diperkenalkan
pada kebiasaan meditasi serta yoga untuk menenangkan pikirannya:
Setidaknya ada dua alasan penting mengapa olah raga perlu untuk penderita
depresi.

1) Pertama, olah raga meningkatkan kesadaran sistem syaraf sentral. Denyut


nadi meningkat dan membangkitkan semua sistem. Hal ini berlawanan
dengan penurunan kesadaran syaraf sentral akibat adanya depresi.

2) Kedua, olah raga bisa memacu sistem syaraf sentral. Endorphin adalah
molekul organik yang seperti halnya norepinephrine dan serotonin,
berfungsi sebagai kurir kimiawi. Kadang endorphin dianggap, sebagai
candu (opium) alami yang berfungsi untuk meningkatkan proses
biologic untuk mengatasi depresi. Karenanya perawat diharapkan bisa
mengidentifikasi olah-raga yang disenangi oleh klien yang terindikasi
depresi dan mendesainnya menjadi sebuah program yang kontinyu dan
rutin.

d. Diet sehat untuk mengurangi asupan gizi yang menambah kadar stress juga
perlu dilakukan. Memperhatikan jenis makanan yang akan disajikan kepada
lanjut usia yang mengalami depresi. Depresi berhubungan dengan tingkat
kesadaran yang rendah. Kesadaran mengacu pada proses psikologis yang
meliputi hal-hal seperti misalnya kemampuan untuk memusatkan perhatian
seseorang dan kemampuan untuk bekerja secara efektif.

3. Demensia

Pengobatan diarahkan pada tujuan jangka panjang yaitu mempertahankan


kualitas hidup penderita gangguan degeneratif dan progresif ini.

a. Pendekatan tim multidisipliner meliputi upaya kolaboratif dari profesional


keperawatan, kedokteran, nutrisi, psikiatri, psikologi, pekerjaam sosial,
farmasi, dan rehabilitasi (misalnya ahli terapi okupasi, fisik, dan aktivitas).
b. Fokus keluarga. Statistik menunjukan bahwa 7 dari 10 orang dengan dernensia
jenis alzheimer tinggal di rumah dan 75% diantara mereka diurus oleh
keluarga dan teman-teman. Jadi, fokus keluarga pada pengobatan dan
penatalaksanaan merupakan hal yang sangat penting.
c. Penatalaksanaan berfokus komunitas
1) Kunjungan rumah dilakukan oleh perawat komunitas.
2) Adult day care service memberikan layanan aktivitas terapetik, layanan
rehabilitas, rekreasi, dan respite service bagi pemberi asuhan keluarga.
3) Fasilitas perawatan residensial (perawatan pribadi) memberikan bantuan
bagi klien.
4) Skilled nursing facilities. 50% dari klien rumah perawatan adalah
penderita demensia jenis alzheimer.
5) Alzheimer asosiation menyediakan kelompok pendukung, penyuluhan
masyarakat dan keluarga, pengumpulan dana dan aktivitas melobi untuk
penelitian dan tindakan legislatif.

d. Intervensi farmakologik

1) Tujuan intervensi farmakologik adalah memperlambat laju penurunan


kondisi klien dengan obat yang meningkatkan kadar asetilkolin dan
membantu mempertahankan fungsi neuronal serta menatalaksanakan
perilaku dan gejala yang menimbulkan stress.
2) Terapi eksperimen.
3) Gangguan amnestik.
Pengobatannya sama dengan delirium bila gangguan amnestik tersebut
merupakan masalah yang akut dan sama dengan demensia bila
gangguannya bersifat kronis.

III. ASUHAN KEPERAWATAN

A. FOKUS PENGKAJIAN

1. Riwayat

Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fislk untuk adanya tanda dan gejala
karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.

2. Kaji adanya demensia. Dengan alat-alat yang sudah distandardisasi, meliputi


a. Mini Mental Status Exam (MMSE)

b. Short portable mental status quetionnaire

3. Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat, seperti


geriatric depresion scale.

4. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan

5. Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga. Lakukan observasi langsung


terhadap :

a. Perilaku. Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan melakukan


aktivitas hidup sehari-hari? Apakah klien menunjukkan perilaku yang tidak
dapat diterima secara sosial? Apakah klien sering mengluyur dan
mondar¬mandir? Apakah ia menunjukkan sundown sindrom atau
perseveration phenomena?

b. Afek. Apakah kilen menunjukkan ansietas? Labilitas emosi? Depresi atau


apatis? lritabilitas? Curiga? Tidak berdaya? Frustasi?

c. Respon kognitif. Bagaimana tingakat orientasi klien? Apakah klien mengalami


kehilangan ingatan tentang hal¬hal yang baru saja atau yang sudah lama
terjadi? Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau mengabstrakan?
Kurang mampu membuat penilaian? Terbukti mengalami afasia, agnosia,
atau, apraksia?

6. Luangkan waktu bersama pemberi asuhan atau keluarga

a. Identifikasi pemberian asuhan primer dan tentukan berapa lama ia sudah


menjadi pemberi asuhan dikeluarga tersebut. (demensia jenis alzheimer tahap
akhir dapat sangat menyulitkan karena sumber daya keluarga mungkin sudah
habis).

b. ldentifikasi sistem pendukung yang ada bagi pemberi asuhan dan anggota
keluarga yang lain.
c. Identifikasi pengetahuan dasar tentang perawatan klien dan sumber daya
komunitas (catat hal-hal yang perlu diajarkan).

d. Identifikasi sistem pendukung spiritual bagi keluarga.

e. Identilikasi kekhawatiran tertentu tentang klien dan kekhawatiran pemberi


asuhan tentang dirinya sendiri.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN TERKAIT

1. DEPRESI

a. Mobilitas fisik, hambatan b.d gangguan konsep diri, depresi, ansietas berat.

b. Gangguan pola tidur b.d ansietas

c. Membahayakan diri, resiko b.d perasaan tidak berharga dan putus asa.

2. DEMENSIA

a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori, degenerasi


neuron ireversible .

b. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi fisiologis daan kognitif.

c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi


dan atau integrasi sensori ( defisit neurologist)

d. Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi, dan atau toileting berhubungan dengan
ketergantungan fisiologis dan atau psikologis.

e. Potensial terhadap ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan


pengaruh penyimpangan jangka panjang dari proses penyakit

C. INTERVENSI KEPERAWATAN TERKAIT

1. DEPRESI

a. Mobilitas fisik, hambatan b.d gangguan konsep diri, depresi, ansietas berat.
Intervensi

1) Bicara secara langsung dengan klien; hargai individu dan ruang pribadinya
jika tepat

2) Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan perawatan

3) Susun sasaran aktivitas progresif dengan klien

4) Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat


ini

b. Gangguan pola tidur b.d ansietas

Intervensi

1) Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola yang
biasanya

2) Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur

3) Kurangi asupan kafein pada sore dan malam hari

4) Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang untuk


memfasilitasi agar pasien dapat tidur.

c. Membahayakan diri, resiko b.d perasaan tidak berharga dan putus asa.

Intervensi

1) Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri

2) Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri

3) Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki klien


dalam menyelesaikan masalah

2. DIMENSIA
a. Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori, degenerasi
neuron ireversible

1) Kaji derajat gangguan derajat kognitif, orientasi orang, tempat dan waktu

2) Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang

b. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi fisiologis dan kognitif

1) Pertahankan tindakan kewaspadaan

2) Hadir dekat pasien selama prosedur atau pengobatan dilakukan

c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi, transmisi


dan atau integrasi sensori ( defisit neurologis )

1) Kaji derajat sensori/ gangguan persepsi

2) Mempertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan

d. Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi, dan atau toileting berhubungan dengan
ketergantungan fisiologis dan atau psikologis

1) Identifikasi kesulitan dalam berpakaian/ perawatan diri

2) Identifikasi kebutuhan akan kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai


kebutuhan

e. Potensial terhadap ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan


pengaruh penyimpngan jangka panjang dari proses penyakit

1) Berikan dukungan emosional

2) Rujuk keluarga ke kelompok pendukung


D. EVALUASI

1. DEPRESI

Klien mampu:

a. Berpartisipasi dalam menentukan perawatan diri

b. Melakukan kegiatan positif dalam menyelesaikan masalah

c. Klien mampu mengungkapkan penyebab gangguan tidur

d. Klien mampu menetapkan cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tidur

e. Mampu mengungkapkan ide bunuh diri

f. Mengenali cara - cara untuk mencegah bunuh diri

g. Mendemonstrasikan cara menyelesaikan masalah yang konstruktif

2. DEMENSIA

Berikan informasi yang berkaitan dengan demensia jenis Alzheimer (demensia


secara umum)

a. Apa itu demensia jenis Alzheimer?

b. Masalah-masalah ingatan yang berkaitan dengan penyakit?

c. Koping
DAFTAR PUSTAKA

- www.scibd.com/askep-klien-dengan-depresi.html

- www.scibd.com/askep-klien-dengan-demensia.html

- http://deasbatamisland.blogspot.com/2007/11/askep-lansia-dengan-gangguan.html

- Carpenito, L. “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”, Edisi ke-6, EGC,
Jakarta, 2000

- Nugroho, Wahjudi. “Keperawatan Gerontik”, Edisi ke-2, EGC, Jakarta 2000

-Watson, Roger. “Perawatan Lansia”, Edisi ke-3, EGC, Jakarta 2003