Você está na página 1de 2

Asas legalitas dalam Pertanggung jawaban Pidana Dokter

Untuk menuntut pertanggung jawaban pidana seorang dokter harus mengacu pada dua asas
hukum pidana yaitu asas legalitas. Asas legalitas hukum pidana tertuang dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP
yang mengatakan bahwa " tiada suatu perbuatan dapat di pidana, kecuali berdasarkan aturan pidana
dalam perundang-undangan yang sebelum perbuatan itu dilakukan telah ada ". Bertolak dari rumusan
tersebut, maka untuk menuntut perbuatan pidana seorang dokter terhadap pasiennya dalam hubungan
medis, terlebih dahulu perbuatan tersebut telah dilegalkan sebagai sebuah perbuatan pidana yang
diatur dalam ketentuan-ketentuan atau perundang-undang yang berlaku, sebelum perbuatan pidana
tersebut dilakukan oleh dokter yang bersangkutan. Jika perbuatan tersebut belum diatur sebelumnya
(legalitas), maka kepada dokter yang melakukan suatu perbuatan atau tindakan medis tidak dapat
disangkakan sebagai perbuatan pidana. Secara sederhananya dapat dikatakan bahwa selama perbuatan
tersebut belum termasuk dalam kategori perbuatan pidana yang diatur oleh undang-undang tidak boleh
dianggap sebagai perbuatan pidana.

Selanjutnya dalam Pasal 6 ayat (1) UU No. 4/2004, tentang Pokok-pokok kekuasaan kehakiman
menegaskan bahwa " tiada seorangpun diperhadapkan di muka pengadilan selain daripada yang di
tentukan oleh undang-undang ". Menurut ketentuan aturan tersebut, maka untuk menuntut perbuatan
pidana seorang dokter haruslah kepadanya dapat dibuktikan perbuatan-perbuatan atau tindakan-
tindakan yang dilakukan oleh dokter tersebut yang memenuhi unsur-unsur pidana yang diatur dalam
ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku.

Unsur-unsur untuk menilai perbuatan pidana yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya
adalah :

1). Harus ada perbuatan atau tindakan dokter ( handeling )

Bahwa kerugian atau penderitaan yang dialami oleh pasien benar terjadi karena perbuatan dokter
dan bukan karena sebab yang lain. Selanjutnya kerugian atau penderitaan yang dialami oleh pasien
benar terjadi akibat perbuatan seorang dokter atau tim dokter yang secara nyata melakukan perbuatan
yang memenuhi unsur pidana yang kepada dokter atau tim dokter tersebut dapat di ancam pidana.
Menuntut pidana seorang atau tim dokter harus secara tepat sasaran dan bukan asal sekedar main
tunjuk saja tanpa bukti atau fakta bahwa dokter atau tim dokter tersebut terlibat dalam peristiwa
pidana yang dialami oleh pasien

2). Perbuatan dokter tersebut harus melawan hukum

Perbuatan pidana yang disangkakan pada seorang dokter haruslah haruslah oleh hukum dinyatakan
sebagai perbuatan melawan hukum. disini harus berlaku asas legalitas. Dalam melakukan penuntutan
pidana ini penyidik harus mampu membuktikan bahwa perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur
perbuatan melawan hukum dalam hubungan profesional dokter-pasien.( pasal 1320 KUHPerdata)

3). Perbuatan yang dilakukan seorang dokter diancam pidana oleh-undang-undang


Untuk menuntut pertanggung jawaban pidana seorang dokter terhadap pasiennya ,maka perbuatan
tersebut adalah perbuatan yang oleh hukum dianggap sebagai perbuatan pidana dan memiliki ancaman
pidana

4). Pebuatan tersebut dilakukan oleh seorang dokter yang mampu bertanggung jawab sebagai subjek
hukum. Seorang dokter yang karena satu dan lain sebab yang oleh hukum dianggap hilang haknya
sebagai subjek hukum, maka tindakan atau perbuatan atau tindakan yang dilakukannya tidak dapat
dimintai pertanggung jawaban hukum .

5). Perbuatan dokter tersebut terjadi karena kesalahan.

Terjadinya perbuatan pidana yang menimbulkan kerugian ataupun penderitaan bagi pasien harus
terjadi karena adanya unsur kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah adanya unsur kesengajaan
didalamnya atau karena kelalaiannya sebagai seorang profesional yang menimbulkan kerugian atau
penderitaan bagi pasien. Jika kerugia atau penderitaan tersebut dilakukan dalam upaya darurat atau
kritis untuk menolong menyelamatkan jiwa pasien yang bersangkutan , dokter tidak dapat dipersalahkan