Você está na página 1de 7

ANALISA YURIDIS PEMBENTUKAN HOLDING BUMN

(Studi kasus terbentuknya Holding BUMN Industri Pertambangan dengan PT. Inalum
sebagai Induk Holding)

I Latar Belakang
29 November 2017, Holding BUMN Industri Pertambangan resmi terbentuk.1
Holding BUMN tambang sebenarnya sudah resmi terbentuk saat ditandatanganinya akta
inbreng oleh Menteri BUMN Rini Soemarno pada Senin 27 November 2017. Namun secara
formalitas holding sah terbentuk ketika 3 BUMN tambang yang saham tercatat di pasar modal
menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam rapat tersebut, para
pemegang saham PT Timah (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) dan PT
Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) memberikan restu saham pemerintah dialihkan ke PT
Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum). Sekadar informasi saat ini pemerintah
memegang 65% saham Antam, 65,02% di PTBA dan 65% di Timah. Saham yang berupa seri B
itu itu telah dialihkan ke Inalum. Sementara pemerintah masih mengempit saham seri A atau dwi
warna di tiga BUMN tersebut. Berdasarkan hasil RUPSLB Antam, sebanyak 95% dari pemegang
saham yang hadir merestui, lalu untuk Timah 90% pemegang saham merestui dan PTBA
sebanyak 92%.
Pembentukan holding tambang tersebut setelah mendapatkan persetujuan dari hasil Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dari tiga perusahaan BUMN, yakni PT
Aneka Tambang TBK, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk. Adapun, PT Indonesia Asahan
Alumunium (Inalum) akan menjadi induk perusahaan (holding) BUMN pertambangan,
sementara 3 yang lainnya akan menjadi anak perusahaan atau anggota holding. Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan Modal
Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT.
Indonesia Asahan Aluminium. BUMN dibentuk sebagai perwujudan upaya pencapaian tujuan
pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya.2

1
Pramdia Arhano Julianto, 2017, RUPSLB 3 BUMN Setuju, Inalum Resmi Pimpin Holding BUMN Tambang,
dikutip dari http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/29/183300426/rupslb-3-bumn-setuju-inalum-resmi-
pimpin-holding-bumn-tambang pada tanggal 30 Agustus 2017
2
Gunarto Suhardi, Revitalisasi BUMN, hlm.1

1
II Rumusan Masalah

1. Kewenangan PT. Inalum sebagai Induk Holding Industri Pertambangan dalam


Pengelolaan Perusahaan anak.
2. Pengelolaan Keuangan Holding BUMN Industri Pertambangan.

III Pembahasan

3.1. Kewenangan PT. Inalum sebagai Induk Holding Industri Pertambangan dalam
Pengelolaan Perusahaan anak.

Kepemilikan melalui holding company, dalam struktur kepemilikan perseroan terbatas


dimungkinkan terjadinya pemilikan saham oleh satu induk perusahaan kedalam lebih dari satu
anak perusahaan dan selanjutnya, sehingga membentuk suatu kepemilikan bertingkat yang pada
akhirnya bermuara pada suatu “holding company” dengan anak perusahaan, cucu perusahaan
dan seterusnya.3 Di inggris misalnya, section 736 dan 736A, 1989 Act, mengatur dan
mendefinisilan ulang (redefinition) mengenai holding dan subsidiary. Pendefinisian kembali itu
merupakan konsep umum (general concept) mengenai group company sebagai langkah
mengakomodasi program European Community (EC).4

BUMN pada umumnya berbentuk badan hukum dimana permodalannya sebagian besar
dimiliki oleh pemerintah, yaitu permodalannya berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan.
Modal yang dimiliki oleh pemerintah kemudian diwujudkan dalam bentuk saham perusahaan,
dimana pada perusahaan BUMN pemerintah memiliki minimal 51% saham dari perusahaan
BUMN tersebut sehingga menjadikan pemerintah sebagai pemegang saham pengendali.5

Dalam Bukunya yang berjudul Company Law, Stephen W. Mayson, Derek French, dan
Christopher Ryan menyatakan bahwa suatu perusahaan dikatakan menjadi pemegang kendali
atas perusahaan lainnya apabila perusahaan tersebut memiliki lebih dari setengah dari
keseluruhan nilai nominal saham yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan lainnya, atau apabila

3
Gunawan Widjaja, Hak Individu & Kolektif Para Pemegang Saham, hlm. 41
4
Charlesworth and Morse, Company Law, EL BS, Fourteenth Edition, 1991, hlm. 52
5
Indonesia, Undang-Undang Badan Usaha Milik Negara, UU No. 19 tahun 2003, Ps. 1 butir 2

2
perusahaan memiliki kewenangan untuk menentukan komposisi Direksi suatu perusahaan
lainnya.6
Rather than a merger or acquisition, the acquiring company may choose to purchase
only a portion of the target’s stock and act like a holding company, which is a company
that owns sufficient stock to have to have controlling interest in the target.7
Pemegang saham yang bersifat dominan jika dalam bentuk perseroan maka disebut dengan
perusahaan induk (Holding Company). Prinsip badan hukum yang terpisah yang berlaku antara
Holding Company dengan anak perusahaan tidaklah mutlak.8 Dominasi pemegang saham
dianggap terjadi dalam suatu perbuatan hukum yang dilakukan perseroan, apabila perseroan itu
hanya “alat” (instrumentality) atau “wakil” (agent) perseroan lain atau Holding (parent company)
atau individu pemegang saham.9

Dalam literatur lain, sebuah PT dikatakan sebagai Perusahaan anak subsidiary jika ia
memiliki hubungan tertentu dengan perusahaan lain yang timbul karena:10

1. Lebih dari 50% saham yang dijual dimiliki oleh holding company
2. Lebih dari 50% hak suara pada RUPS dikuasai oleh holding company, dan/atau
3. Pengawasan jalannya perusahaan (dan) pengangkatan serta pemberhentian (anggota)
Direksi dan Dewan Komisaris pada pokoknya dipengaruhi oleh perusahaan induknya.

Rightsizing merupakan salah satu cara untuk mendapatkan jumlah dan skala BUMN yang lebih
ideal dengan mengadakan regrouping/konsolidasi BUMN secara sektoral untuk memetakan
kembali jumlah masing-masing BUMN/sektoral tersebut. Bertitik tolak dari berbagai motif
ekonomi dalam pembentukan atau pengembangan perusahaan grup, visi kementrian BUMN
adalah membentuk perusahaan holding induk atau super holding company BUMN yang
diarahkan untuk menjadi paying pengelola perusahaan-perusahaan BUMN agar dapat
menggerakan proses penciptaan nilai tambah atau value creation process bagi sebesar-besar

6
Stephen W. Mayson, Derek French, dan Christopher Ryan, Company Law, sixth edition (London: Blackstone
Press limited, 1989) hlm. 28
7
Patrick A. Gaughan, Mergers, Acquisitions, and Corporate Restructurings, (Canada: John Willey & Sons,
Inc, 2002), hlm.18
8
Munir Fuady (d), Doktrin-doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam Hukum
Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 13
9
M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, hlm. 78
10
K. Smith dan D.J. Keane, Company Law, hlm. 747

3
kepentingan masyarakat luas.11 Contoh pengelolaan perusahaan milik Negara semacam itu dapat
dilihat dalam pengelolaan perusahaan-perusahaan grup Temasek (Singapura) atau Khazanah
(Malaysia).12

Pembentukan konstruksi super holding BUMN diharapkan mampu memenuhi tujuan sebagai
berikut:13

1. Perusahaan BUMN dapat dikelola sepenuhnya berdasarkan prinsip pengelolaan


korporasi dan tidak lagi berbasis birokrasi dengan pendekatan penganggaran yang
dalam satu dan lain hal terkait dengan APBN seperti sekarang ini.
2. Konsolidasi ke dalam holding induk BUMN memungkinkan proses alokasi sumber daya
manusia secara lebih fleksibel dan dinamis dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.

Maka atas dasar Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan
Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT
Indonesia Asahan Aluminium, dibentuk Holding BUMN Industri Pertambangan dengan PT.
Inalum sebagai Induk Holding dan 3 BUMN lain yaitu PT. Bukit Asam, PT. Aneka Tambang
dan PT. Timah menjadi perusahaan anak dan melepaskan predikatnya sebagai BUMN menjadi
Perseroan Terbatas biasa.

3.2. Pengelolaan Keuangan Pasca Holding BUMN Industri Pertambangan

Modal secara keseluruhan atau sebagian adalah milik Negara dari kekayaan Negara
dipisahkan dan kemungkinan adanya joint atau mixed-enterprise dengan pihak swasta (nasional
atau asing), serta dimungkinkan adanya penjualan saham-saham perusahaan milik Negara.14
Berdasarkan prinsip ekonomi, limited liability menjadi sistem bisnis yang paling efisien dari
alokasi risiko dan biaya yang meliputi berbagai sudut pandang berikut:

1. Perspektif actor-aktor perseroan, limited liability menjadi dasar bagi optimalisasi peran
ekonomi pemegang saham perseroan.

11
Sulistiowati, Aspek Hukum dan Realitas Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia, hlm.70
12
Sofan A. Djalil, “Strategi Dan Kebijakan Pemberdayaan Badan Usaha Milik Negara”,
http://www.setneg.go.id/ index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=730, diakses 2 November 2011
13
Sulistiowati, Aspek Hukum dan Realitas Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia, hlm.71
14
I. G. Ray Widjaja, Hukum Perusahaan, hlm. 197

4
2. Dari persepktif perseroan, , limited liability dapat meningkatkan efisiensi perseroan, baik
melalui mekanisme penarikan modal ataupun risk taking.15

Pengendalian induk terhadap anak perusahaan dalam kontruksi perusahaan grup


menimbulkan dualitas pada anak perusahaan, yaitu sebagai badan hukum yang mandiri dan
badan usaha yang tunduk dibawah kendali perusahaan.16 Dalam jangka pendek, holding baru ini
akan segera melakukan aksi korporasi, di antaranya pembangunan pabrik smelter grade alumina
di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas 2 juta ton per tahun. Kemudian,
pembangunan pabrik feronikel di Buli, Halmahera Timur, dengan kapasitas 13.500 ton nikel per
tahun, dan pembangunan PLTU di lokasi pabrik hilirisasi bahan tambang sampai dengan 1.000
Mega Watt (MW).

Program penurunan biaya (CRP) yang mendapat perhatian dan dilakukan secara terus-
menerus oleh segenap jajaran perseroan di bidang produksi, pemasaran dan distribusi, keuangan,
pengadaan barang dan jasa. CRP dilakukan pula melalui sinergi peningkatan penggunaan asset-
aset Perseroan di antara anggota holding yang meliputi antara lain gedung perkantoran,
perumahan, unit perlengkapan serta pergudangan. Disamping itu, para anggota holding juga
berkesempatan saling pinjam meminjam peralatan dalam proses bisnis perusahaan. Karena
terdapat hubungan saling pinjam antara anak perusahaan untuk mewujudkan program penurunan
biaya maka telah terjadi penyatuan harta kekayaan perseroan diantara anak perusahaan sehingga
hal ini menyebabkan seharusnya PT.Inalum sebagai holding company tidak lagi dilihat sebagai
separate legal entity dengan anak perusahaannya melainkan dapat dilihat sebagai single entity
atas dasar adanya hubungan anatara harta perusahaan.17 Atas dasar tersebutlah maka, ekspansi
bisnis BUMN Industri Pertambangan dapat lebih besar karena disertai modal yang jauh lebih
besar akibat adanya Holding ini. Maka rencana pemerintah hendak mencaplok 51% saham PT.
Freeport melalui Holding BUMN Industri Pertambangan ini dapat terwujud.

DAFTAR PUSTAKA

15
José Engrácia Antunes, Liability of Corporate Groups, (Deventer: Kluwer Law and Taxation Publishers,
1994), hlm. 14
16
Sulistiowati, hlm 19
17
KUHPerdata Pasal 1754 dan Pasal 1755

5
-
Charlesworth and Morse, Company Law, EL BS, Fourteenth Edition, 1991
-
Chase, Samuel B., Jr., “The Bank Holding Company as Device for Sheltering Banks from
Risk” Proceedings of a conference on bank structure and competition. Chicago: Federal
Reserve Bank of Chicago, 1971.
-
Fred, Weston J., Takeovers, Restructuring & Corporate Governance. New York: Prentice
Hall, 2001
- Gunawan Widjaja, Hak Individu & Kolektif Para Pemegang Saham, Cet. 1, Forum
Sahabat, 2008
- Harahap, M. Yahya. Hukum Perseroan Terbatas. Ed. 1. Cet.3. Jakarta: Sinar Grafika
2011
-
I. G. Ray Widjaja, Hukum Perusahaan, Kesaint Blanc, 2006
-
José Engrácia Antunes, Liability of Corporate Groups, (Deventer: Kluwer Law and
Taxation Publishers, 1994)
-
K. Smith dan D.J. Keane, Company Law. Ed.3. London: McGraw Hill Inc.,1980
-
Lanning Bryer, Matthew Asbell, Combining Trademarks In A Jointly Owned Ip Holding
Company, The Law Journal of the International Trademark Association, 2008
- Maria, Titi. Liability Aspects of Corporate Group Structures (A Primer for Indonesian
Legal Practitioners). Jakarta: PT Tatanusa, 2004
-
Munir Fuady (d), Doktrin-doktrin Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya
dalam Hukum Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002)
-
Pringle, J.J., dan Harris, R.S., Esentials of Managerial Finance , second edition, Illinois
London, 1987
- Prasetya, Rudhi. Perseroan Terbatas (Teori dan Praktik).Cet.1. Jakarta: Sinar Grafika,
2011
- Pramdia Arhano Julianto, 2017, RUPSLB 3 BUMN Setuju, Inalum Resmi Pimpin
Holding BUMN Tambang, tanggal 30 Agustus 2017
-
Patrick A. Gaughan, Mergers, Acquisitions, and Corporate Restructurings, (Canada:
John Willey & Sons, Inc, 2002)
-
Sandra K. Miller, “Piercing the Corporate Veil Among Affiliated Companies in The
European Community an in the U.S. : a Comparative Analysis of U.S.”, American
Business Law Journal, 1998
-
Sofan A. Djalil, “Strategi Dan Kebijakan Pemberdayaan Badan Usaha Milik Negara”,
http://www.setneg.go.id/ index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=730,

6
-
Stephen W. Mayson, Derek French, dan Christopher Ryan, Company Law, sixth edition
(London: Blackstone Press limited, 1989)
-
Sulistiowati, Aspek Hukum dan Realitas Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia,
-
Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis: Perseroan Terbatas. Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada, 2006

Peraturan-Peraturan

- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


- Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
- Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN
- Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2016 Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor
44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pernyertaan dan Penatausahaan Modal Negara (PMN)
pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perusahaan Terbatas (PT)
- Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan Modal
Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) Pt
Indonesia Asahan Aluminium