Você está na página 1de 18

ANALISIS PENGARUH PEMBERDAYAAN GURU TERHADAP

KINERJANYA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH


DASAR

KOTA SURABAYA

Oleh : Dr. Waspodo Tjipto Subroto, M.Pd

Universitas Negeri Surabaya

Email: waspodotjipto@yahoo.co.id

ABSTRACT

Teachers have importance posision for increase quality in learning procedural, so performance of
the teacher must be increase for learning activity. Impowering of teachers for improvement to the
performance of teachers is visible to increase quality at elementary school in Surabaya City.
Teachers empowering in educated qualification,training and briefing for the teacher's
performance to education quality at elementary school in Surabaya City. The influence of
qualification education, training and briefing for a teachers can be increase performance and
quality of learning and teaching. Also the influence of teachers performance to increase
education quality in elementary school.

This research is intended to study how does the implementation of empowering for teachers
(qualification education, training and briefing) conducted to increase education quality. The
research is conducted to sample of 174 cluster small by using stratified cluster sampling
technique.

Applying structural equation modelling analysis, the research findings that the intensive as
followed. Result of this reasearch, education qualification of teacher influenced to teachers
performance and also influenced to education quality at elementary school. And than, education
in service training influenced to teacher's performance and also influenced to education quality.
Next, teachers training profesional also influence to teachers performance, and influence to
education quality.

Conclution of this research, empowering of the teachers influence increase of performance with
indicator knowledge, attitude and skill influenced to increase education quality. Quality of
elementary school increase with indicator value quantity and quality of learning.
Key Words : Teacher Impowering, performance, education quality

PENDAHULUAN

Upaya Pemerintah terhadap pemerintah tenaga guru sebenarnya telah dilakukan oleh
Pemerintah Repulblik Indonesia, melalui berbagai bentuk kebijakan. Ditetapkannya Undang
Undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen merupakan dasar kebijakan untuk
memperkuat eksistensi tenaga kependidikan sebagai tenaga profesional, seperti profesi-profesi
yang lainnya. Kualitas profesi tenaga guru selalu diupayakan, baik melalui ketentuan kualifikasi
pendidikannya maupun kegiatan in-service training, dengan berbagai bentuknya, seperti:
pendidikan dan latihan (diklat), penataran dan pelibatan dalam berbagai seminar untuk meng-
update wawasannya dalam kompetensi pedagogi dan akademik. Pemerintah mulai
menyadari betapa strategisnya peran tenaga guru dalam mengantarkan generasi muda untuk
menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompetitif sehingga mampu
mewujudkan suatu kesejahteraan bersama. Sejarah peradaban dan kemajuan bangsa-bangsa di
dunia membelajarkan pada kita bahwa bukan sumber daya alam (SDA) melimpah yang dominan
mengantarkan bangsa tersebut menuju pada kemakmuran, tetapi ketangguhan daya saing dan
keunggulan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi (ipteks) bangsa tersebutlah yang
berperanan untuk meraup kesejahteraan. Bahkan SDM yang menguasai ipteks cenderung
memanfaatkan teknologinya untuk menguasai SDA bangsa lain.

Dinamika perkembangan masyarakat melaju sangat pesat seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga menuntut semua pihak untuk beradaptasi terhadap
perubahan yang terjadi dalam di masyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
memunculkan paradigma baru dalam mencapai keberhasilan, yaitu dengan persaingan.
Tantangan persaingan yang semakin tajam pada era globalisasi menuntut peningkatan kualitas
profesi dan efisiensi secara terus menerus, sehingga kemampuan daya saing profesional bisa
lebih kompetitif. Era globalisasi mengubah hakekat kerja dari amatiran menuju kepada
profesionalisasi di segala bidang dan aspek kehidupan. Termasuk di dalam perubahan global
adalah profesi guru. Sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat global, tugas guru juga
dituntut profesional dalam bidangnya(Education International, 1998 : 112). Guru yang
profesional bukan sekedar sebagai alat untuk transmisi kebudayaan akan tetapi
mentransformasikan kebudayaan itu ke arah budaya yang dinamis dan menuntut penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi, produktivitas yang tinggi dan kualitas karya yang mampu
meningkatkan daya saing.

Investasi pembangunan pendidikan yang memadai akan mampu menggerakkan ekonomi


masyarakat dengan efek berganda yang besar melalui pembangunan sekolah, pengadaan dan
perawatan infrastruktur pendidikan, serta kualitas guru yang meningkat. Masyarakat yang
berkualitas, tidak saja sanggup meraih setiap peluang kerja yang tersedia melalui investasi,
tetapi juga sanggup menciptakan lapangan kerja yang baru. Apalagi masalah pendidikan
merupakan masalah lintas sektoral, sehingga harus ada komitmen dari semua pihak terutama
para penentu kebijakan pendidikan untuk mengambil kebijakan yang berorientasi pada mutu
pendidikan yang berkualitas. Sebab kebijakan peningkatan mutu pendidikan yang tinggi jika
disikapi secara konsisten, akan menghasilkan lulusan yang kompeten, yang akhirnya mampu
menghasilkan warga negara yang kompetitif dalan jumlah yang besar.
Program pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi sangat
penting karena banyak permasalahan yang terdapat dalam institusi pemerintahan, lembaga
kemasyarakatan dan berbagai kegiatan di masyarakat yang efektivitasnya tergantung kepada
kualitas sumber daya manusia, baik dalam kemampuan intelektual maupun integritas moral
dalam tanggung jawabnya pada kemasyarakatan.

Sumber daya manusia, menurut Damanhuri (2004) merupakan salah satu faktor kunci dalam
menuju kesejahteraan. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki
keterampilan serta berdaya saing tinggi, menjadi tuntutan pembangunan menuju kesejahteraan.
Globalisasi ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan yang
menyatukan kekuatan pasar semakin terintegrasi untuk efisiensi dan meningkatkan daya
saingnya.

Rendahnya indeks pembangunan manusia Indonesia telah berdampak pada merosotnya


kemampuan daya saing bangsa Indonesia. Kemerosotan daya saing ini bersumber dari kualitas
pendidikan di Indonesia yang masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan bangsa Indonesia
dipengaruhi oleh beberapa komponen penunjang proses pendidikan, antara lain: kualitas guru,
sarana pembelajaran seperti buku teks, media pembelajaran, sumber-sumber belajar serta
peralatan laboratorium pembelajaran yang belum memadai. Minimnya komponen penunjang
pendidikan tersebut dipengaruhi oleh minimnya alokasi dana penyelenggaraan pendidikan yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun sumbangan dana
pendidikan dari masyarakat (orang tua siswa).

Peranan guru yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia
sehingga Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 8 menegaskan
bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani
dan rokhani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk
meningkatkan mutu guru, Dinas Pendidikan Kota Surabaya bekerjasama dengan Perguruan
Tinggi (Unesa) telah menyelenggarakan kerjasama untuk meng-update kompetensi
guru melalui penyegaran pendidikan (Continuing Education). Menurut Sahudi (2009) program
ini dilaksanakan karena kompetensi guru di Surabaya belum optimal. Bahkan digambarkan oleh
Masruri (2009) kondisi sekolah-sekolah pada umumnya masih memprihatinkan. Padahal
perkembangan dunia pendidikan di Kota Surabaya sebagai kota metropolitan begitu pesat,
apabila kemampuan guru kurang memadai akan merugikan siswanya. Program lainnya untuk
peningkatan mutu guru yaitu dengan mendorong studi lanjut bagi guru yang belum sarjana (S1)
dengan biaya Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Surabaya, serta Pendidikan Latihan Profesi
Guru (PLPG) yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya terhadap guru-guru
Sekolah Dasar juga dalam upaya memberdayakan kinerja guru untuk meningkatkan kualitas
profesi yang muaranya adalah peningkatan kualitas pendidikan. Studi lanjut dan berbagai
training yang diberikan kepada guru-guru tersebut diharapkan membawa dampak pada
peningkatan kualitas layanan pembelajaran yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas
pendidikan.

Permasalahan-permasalahan di atas disarikan dalam rumusan permasalahan “Bagaimanakah


pengaruh pemberdayaan kinerja guru terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah
Dasar Kota Surabaya?” Dalam penelitian mempunyai tujuan untuk mengetahui efektivitas studi
lanjut dan berbagai training yang diberikan kepada guru dalam meningkatkan kualitas
pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya.

Tinjauan Pustaka

Pembangunan bangsa dan negara menuju kesejahteraan bersama merupakan isu-isu yang
terus berkembang. Ada beberapa terminologi paradigma yang sempat berkembang antara lain:
pembangunan berbasis kerakyatan, pembangunan bercirikan partisipatoris, pembangunan yang
manusiawi. Dewasa ini pembangunan yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi memang telah
berhasil mewujudkan kemakmuran, tetapi gagal dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata,
bahkan sebaliknya banyak menimbulkan masalah yang sulit dicari pemecahannya.

Pembangunan masyarakat pada dasarnya menekankan pentingnya pengentasan kemiskinan


melalui berbagai pemberdayaan kelompok-kelompok marjinal, yakni peningkatan taraf hidup
masyarakat yang kurang memiliki kemampuan ekonomi secara berkelanjutan. Pemerintah
dituntut untuk menciptakan dan mengoptimalkan sumber daya manusia dalam berbagai bidang
sesuai dengan kebutuhannya. Analisis penelitian ini mendasarkan pada teori pemberdayaan
SDM sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan menuju terciptanya
SDM yang unggul dan kompetitif dimulai dari peningkatan kualitas kinerja tenaga kependidikan
yang profesional.

Pemberdayaan (empowerment) mengandung dua pengertian, yaitu: (1) to give power to


(memberi kekuasaan, mengalihkan kekuasaan, mendelegasikan otoritas pada pihak lain, (2) to
give ability to (usaha untuk memberi kemampuan) (Oxfort English Dictionary). Makna tersebut
mensyiratkan bahwa konsep peningkatan kualitas pendidikan belum mengoptimalkan pada
pemberdayaan kinerja guru, yang memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Pemberdayaan tenaga pendidik merupakan perwujudan capacity building yang bernuansa pada
pemberdayaan sumber daya manusia tenaga pendidik melalui pengembangan berbagai
kemampuan (kinerja) dan tanggungjawab serta suasana sinergis antara pemerintah (masyarakat)
dengan guru. Upaya optimalisasi kinerja guru yang berkelanjutan merupakan faktor yang penting
dibanding faktor lainnya dalam peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini telah disadari dan
dilakukan oleh pemerintah melalui penugasan studi lanjut, berbagai training dan penataran pada
guru.

Studi lanjut diperuntukkan bagi guru-guru Sekolah Dasar yang belum memiliki
kualifikasi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), bahkan yang sudah berijazah S1 bukan
PGSD sebagian disarankan untuk menempuh lagi pada S1 PGSD. Sedangkan berbagai training
atau pelatihan tentang pengembangan profesi seperti: penyusunan silabus, perencanaan
pelaksanaan pembelajaran (RPP), model-model pembelajaran, pengembangan evaluasi hasil
belajar, diberikan kepada guru. Selain itu juga diselenggarakan berbagai seminar tentang
optimalisasi kinerja guru untuk menunjang kompetensinya secara profesional.

Kinerja guru (Job Performance) merupakan sejumlah hasil kegiatan yang telah
dilaksanakan atau akan dilakukan oleh guru sesuai profesinya sebagai guru. Suman (2005)
mendefinisikan kinerja sebagai “sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau
diberikan oleh seseorang kepada sekelompok orang”. Rao (dalam Mulyasa,
2007) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil dari kemampuan serta usaha. Sedangkan
menurut Porter (2006) bahwa kinerja adalah succesfull role achievement yang diperoleh
seseorang dari perbuatannya. Kinerja merupakan perilaku yang ditampakkan oleh individu atau
kelompok.

Dalam mencapai sesuatu seseorang biasanya termotivasi oleh kinerja. Motivasi merupakan unsur
penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Sebab peranan motivasi bisa berfungsi sebagai
pendorong kinerja. Kinerja adalah kapasitas yang dimiliki seseorang untuk melakukan atau
menyelesaikan suatu pekerjaan. Usaha adalah waktu dan tenaga yang dikeluarkan seseorang
untuk mencapai motivasinya. Sedangkan motivasi adalah harapan, keinginan, dorongan hati,
desakan untuk mencapai sesuatu. Motivasi diartikan sebagai sikap (menerima/menolak) terkait
dengan minat, kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Dalam kaitannya dengan seseorang,
maka motivasi dimaksudkan sebagai kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan seseorang untuk
melakukan tugas yang menjadi tanggungjawabnya.

Kemampuan seseorang itu pada dasarnya merupakan hasil proses belajar, yang meliputi aspek-
aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menurut Gagne (1992) hasil belajar merupakan
perubahan yang meliputi cognitive, attitude dan psychomotor. Begitu juga pendapat Krathwohl
(1994) yang menyatakan bahwa hasil belajar (learning outcomes) yang meliputi tiga domain,
yaitu: (a) cognitive, (b) affective, dan (c) psychomotor, yang sering juga disebut dengan
taxonomy of education objectives. Kemampuan yang meliputi tiga aspek tersebut akan
mempengaruhi kinerja seseorang yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat keberhasilan
organisasi dalam hal ini kualitas pendidikan.

McClelland (2001) menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara motivasi kerja dan
kinerja seseorang. Artinya setiap pekerja yang memiliki motivasi kerja tinggi akan menghasilkan
prestasi kerja yang tinggi pula. Demikian juga bahwa pemberdayaan memiliki kaitan yang positif
terhadap motivasi seseorang. Teknik-teknik untuk memotivasi kinerja guru tersebut menurut
Prabu Mangkunegara (2005) antara lain: (1) teknik pemenuhan kebutuhan, (2) teknik komunikasi
persuasif. Pemenuhan kebutuhan guru merupakan fondamen yang mendasar bagi perilaku kerja.
Manajemen tidak mungkin dapat memotivasi guru tanpa memenuhi kebutuhan yang memadai.
Menurut Maslow (2005) hirarki kebutuhan guru meliputi: kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa
aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Kerangka Konseptual Dan Hipotesis Penelitian

Penelitian ini berusaha mengungkap peran pemberdayaan guru dalam mendorong


peningkatan kualitas kinerjanya dengan harapan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di
sekolah dasar Kota Surabaya. Kerangka pemikiran yang telah dirancang dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Gambar: Kerangka konseptual Penelitian
Hipotesis

Berdasarkan latar belakang permasalahan dan kerangka dasar teoritik dalam penelitian ini
dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Hipotesis Pertama

Peningkatan kualifikasi pendidikan guru, akan membawa pengaruh yang signifikan bagi
peningkatan kinerja guru antara lain dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk
melaksanakan pembelajaran

2. Hipotesis Kedua

Kinerja guru dalam menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),
melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi hasil belajar siswa berpengaruh terhadap
peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar, seperti: Kualitas nilai ujian nasional dan ujian
akhir sekolah.

3. Hipotesis Ketiga

Peningkatan pemberdayaan terhadap kinerja guru seperti: kualifikasi pendidikan, pelatihan dan
penataran, akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di
Sekolah Dasar yang meliputi: Kualitas nilai Ujian Nasional dan nilai Ujian Akhir Sekolah.

METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh
pemberdayaan kinerja guru terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Kota
Surabaya ini sebagai upaya untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran
pengaruh pemberdayaan kinerja guru terhadap produktifitas kinerjanya dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar. Sesuai dengan tujuannya, penelitian ini
dirancang sebagai model penelitian eksplanatori, yaitu untuk menjelaskan bagaimana peran
pemberdayaan kinerja guru dalam meningkatkan kualitas kinerjanya agar meningkatkan
produktifitas kinerjanya, sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar.

Lingkup Penelitian
Untuk memfokuskan kajian, penelitian ini dibatasi pada pemberdayaan guru dalam
meningkatkan produktivitas kinerjanya dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah
Dasar Kota Surabaya. Fokus penelitian ini adalah peningkatan pemberdayaan guru melalui
peningkatan kualifikasi pendidikan dan berbagai pelatihan serta penataran. Sedangkan
produktivitas kinerja guru meliputi kemampuan menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajaran dan keterampilan membimbing siswa dalam
belajar intensif di sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan diwujudkan pada kriteria
meningkatnya nilai Ujian Nasional (UNAS) dan nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru-guru Sekolah Dasar yang bertugas di
wilayah Kota Surabaya, baik Sekolah Dasar Negeri maupun Sekolah Dasar Swasta yang
jumlahnya mencapai 11.650 orang tersebar pada 569 Sekolah Dasar Negeri dan 415 Sekolah
Dasar Swasta (Diknas, 2009).

Sampel Penelitian

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik klaster (cluster sampling)
berdasarkan area, yaitu populasi guru sekolah dasar dibagi menurut kecamatan-kecamatan yang
ada di Surabaya. Kecamatan yang dijadikan lokasi penelitian terdiri dari 29 kecamatan yang
berada di wilayah kerja Pemerintah Kota Surabaya. Masing-masing klaster ditentukan 6
responden yang terdiri dari 3 responden guru kelas 6 Sekolah Dasar Negeri dan 3 responden guru
kelas 6 Sekolah Dasar Swasta. Dengan demikian setiap klaster kecamatan akan diambil 6 guru
sekolah dasar sebagai sampel yang akan mewakili populasi kecamatan, sehingga jumlah sampel
secara keseluruhan sebesar 29 x 6 = 174 sampel.

Analisis Data

Pemilihan jenis analisis data yang tepat merupakan faktor penting di dalam menjawab
permasalahan penelitian. Untuk itu setelah mempertimbangan permasalahan tujuan dan hepotesis
yang diajukan serta data yang tersedia, maka dalam penelitian ini digunakan 2 macam analisis,
yaitu: 1) Analisis deskriptif, dan 2) Analisis regresi multivariat dengan model SEM (Structural
Equation Modelling) versi 4.0.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Variabel Penelitian:

Kualifikasi Pendidikan

Tabel 1: Distribusi Frekuensi Kualifikasi Pendidikan Responden

Kualifikasi Frekuensi
No. Kriteria
Pendidikan f % % Kumulatif
1 SMTA Sangat Jelek 6 3 3%
2 D1 Jelek 45 26 29%
3 D2 Cukup 65 37 66%
4 D3 Baik 24 14 80%
5 >S1 Sangat Baik 34 20 100%
Jumlah 174 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial
terkait dengan : (1) kualifikasi sarjana S1, (2) diploma 3, (3) diploma 2, (4) diploma 1, (5)
SMTA. Data tersebut menunjukkan bahwa kualifikasi pendidikan yang berkategori tinggi akan
berdampak pada kemampuan guru yang memadai dalam mengembangkan kinerjanya. Dengan
kinerja yang baik akan mendukung tercapainya hasil kerja yang baik.

Pelatihan Perangkat Pembelajaran

Tabel 2: Distribusi Frekuensi Pelatihan Perangkat Pembelajaran

Responden

Pelatihan Frekuensi
No. Kriteria %
F %
PP Kumulatif
1 0 Tidak Pernah 16 9 9%
2 1–3 Jarang 43 25 34%
3 4–6 Cukup 54 31 65%
4 7–9 Sering 38 22 87%
5 10 – lebih Sangat Sering 21 12 100%
Jumlah : 174 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial
terkait dengan : (1) aktifitas dalam mengikuti pelatihan yang memadai, (2) sumber bahan
pelatihan yang memadai, (3) instruktur pelatihan yang memadai., (4) fasilitas yang mendukung,
(5) rekan sekerja yang mendukung. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya pelatihan
penyusunan silabus dan RPP dengan kategori tinggi akan berdampak pada pelaksanaan
pembelajaran.

Penataran Profesi (Karya ilmiah dan pembelajaran inovatif)

Tabel 3: Distribusi Frekuensi Penataran Profesi yang diikuti Responden

Frekuensi
No. Penataran Kriteria
F % % Kumulatif
1 0 Tidak Pernah 6 4 4%
2 1–3 Jarang 49 28 32%
3 4–6 Cukup 72 41 73%
4 7–9 Sering 35 20 93%
5 10 – lebih Sangat Sering 12 7 100%
Jumlah : 174 100%

Data penataran tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya penataran dengan kategori sering
akan berdampak pada penyelesaian tugas dengan baik pula. Penataran ini seperti: (1) pelatihan
penulisan karya ilmiah, (2) Pelatiahan pengembangan media pembelajaran (3) pelatihan model
pembelajaran inovatif. Dengan hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya
kinerja yang tinggi.

Kinerja Guru

Tabel 4: Distribusi Frekuensi Tingkat Kinerja Responden

Kriteria Frekuensi
Kinerja
No.
Guru (membuat %
PP) f % Kumulatif
Sangat
1 Rendah 60 – 65 13 7,47 7,47%
2 Rendah 66- 70 31 17,81 25,20%
3 Cukup 71 – 75 43 24,71 49,91 %
4 Tinggi 76 – 80 74 42,52 92,43%
Sangat
5 Tinggi 81 – 100 13 7,47 100%
Jumlah : 174 100%

Sumber : Hasil Pengolahan

Data di atas menunjukkan bahwa dengan adanya kinerja yang berkategori tinggi akan berdampak
pada budaya kerja yang baik pula. Dengan budaya kerja yang baik akan mendukung tercapainya
hasil kerja yang baik, maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.
KualitasPendidikan

Tabel 5: Distribusi Frekuensi Kualitas Pendidikan (nilai UNAS)

Kualitas Frekuensi
Pendidikan
No. Kriteria
(rata-rata
UNAS) F % % Kumulatif
1 3-5 Sangat Rendah 4 2,29 2,29%
2 5–6 Rendah 35 20,15 22,44%
3 6-7 Cukup 59 33,90 56,34%
4 7–8 Tinggi 62 35,63 91,97%
5 8 - 10 Sangat Tinggi 14 8,04 100%
Jumlah : 174 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan indikator-indikator yang diteliti, nampak bahwa pada beberapa hal yang esensial
terkait dengan : (1) kemampuan intelektual, (2) penguasaan akan pengetahuan dan keterampilan
kerja yang dimiliki. Hal ini menunjukkan bahwa dengan banyaknya guru yang memiliki
kemampuan kerja dengan kategori tinggi akan berdampak pada penyelesaian tugas dengan baik
pula. Dengan hasil kerja yang baik maka akan berdampak pada tercapainya kinerja yang tinggi.

Hasil Pengujian SEM

Tabel 6: Hasil pengujian analisis pemberdayaan guru yang meliputi kualifikasi pendidikan,
pelatihan dan penataran Guru serta Kualitas Pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya

NO Variabel Ko- S.E C.R Probabi lity Keterangan


efisi en
Ja lur Syarat > Syarat
1,96
< 0,05
1 KG ß Pendk 2.36 0.254 2.815 0.004 Signifikan
2 KG ß Plth 1.24 0.09 2.326 0.013 Signifikan
3 KG ß Pntr 0.68 0.502 1.98 0.06 Signifikan
4 KP ß Pendk 0.89 0.392 1.97 0.06 Signifikan
5 KP ß Plth 2.56 0.56 2.812 0.007 Signifikan
6 KP ß Pntr 0.03 1.341 1.036 0.002 Tdk Signifikan
7 KP ß Kin-G 3.05 1.341 1.981 0.046 Signifikan

Sumber : data primer yang di olah

Dilihat dari data di atas, nilai CR dan probabilitas signifikansinya pada taraf signifikansi (a) =
0,05. Dapat ditemukan bahwa Pengaruh pemberdayaan yang meliputi kualifikasi pendidikan,
pelatihan, penataran terhadap guru mempengaruhi Kinerja Guru serta kualitas Pendidikan di
Sekolah Dasar Kota Surabaya, sebagai berikut:

1. Kualifikasi pendidikan guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru, berarti hipotesis
diterima.
2. Pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran berpengaruh positif terhadap kinerja guru,
berarti hipotesis diterima
3. Penataran menulis karya ilmiah terhadap guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru,
berarti hipotesis diterima
4. Kualifikasi pendidikan guru berpengaruh positif terhadap kualitas pendidikan di Sekolah
Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis diterima
5. Pelatihan perangkat pembelajaran berpengaruh positif terhadap kualitas pendidikan di
Sekolah Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis diterima.
6. Penataran menulis karya ilmiah terhadap guru tidak berpengaruh terhadap kualitas
pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya, berarti hipotesis ditolak.
7. Pemberdayaan guru berpengaruh positif terhadap kualitas pendidikan di Sekolah Dasar
Kota Surabaya berarti hipotesis diterima.
8. Variabel yang paling dominan mempengaruh pemberdayaan guru adalah kualifikasi pendidikan
dan pelatihan, sedangkan yang paling dominan mempengaruhi kualitas pendidikan adalah
pemberdayaan.

Analisis Hasil Penelitian

Analisis terhadap paparan data di lakukan berdasarkan pada temuan empiris maupun teori dan
penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang dilakukan. Pembahasan ini
dimaksudkan untuk menjelaskan kesesuaian dan keterkaitan masing-masing variabel dependen
dan variabel independen.

Dari pengujian yang menggunakan program AMOS 4.0 melalui analisis SEM (Structural
Equation ModelIing), hasil uji terhadap model baik melalui uji overall dan uji pengukuran dapat
digambarkan bahwa model multilevel mampu menjelaskan fenomena mutu pendidikan di
Sekolah Dasar Kota Surabaya dalam beberapa aspek penting.

Hasil penelitian ini memberi jawaban bahwa model multilevel sangat baik untuk menjelaskan
model pemberdayaan guru dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar
Kota Surabaya atau menerima hipotesis.

Dengan menganalisis pengaruh pemberdayaan yang meliputi kualifikasi pendidikan, pelatihan


pernagkat pembelajaran dan penataran penulisan karya ilmiah terhadap Kinerja Guru serta
kualitas Pendidikan di Sekolah Dasar Kota Surabaya diharapkan kita mampu mendapat
pemahaman bahwa pemberdayaan yang dikembangkan kepada guru akan berpengaruh terhadap
kinerja guru yang pada akhirya dapat mempengaruhi kualitas pendidikan di Sekolah Dasar
Kota Surabaya.

Dalam penelitian ini menemukan sebuah model yang menghubungkan lima variabel yang
diajukan dalam model konseptual. Lima variabel tersebut meliputi: Kualifikasi Pendidikan,
Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran, Penataran penulisan karya ilmiah, Kinerja Guru
serta Kualitas Pendidikan. Indikator dari kelima variabel yang teridentifikasi tersebut, peneliti
mengeliminasi satu indikator karena tidak memenuhi syarat loading factor, indikator dari
variabel kualitas pendidikan yaitu nilai ulangan semester.

Sehingga indikator yang mampu digunakan sebagai pengukur variabel adalah sebagai berikut:

1. Variabel pendidikan diukur melalui indikator: SMTA, D1, D2, D3, S1, Kedua indikator
tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel. Dari kedua indikator
tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah pendidikan formal (S1).
2. Variabel pelatihan diukur dengan indikator: Pengembangan Silabus, RPP, Perangkat
Pembelajaran. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan
variabel dan dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel
adalah pelatihan penyusunan Silabus kemudian penyusunan RPP dan yang paling akhir
adalah perangkat pembelajaran.
3. Variabel penataran terhadap guru diukur melalui indikator: kegiatan penataran penelitian
tindakan kelas (PTK) dan pembelajaran inovatif. Indikator tersebut secara bersama-sama
mampu menjelaskan variabel dari indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan
variabel adalah variabel adalah kegiatan pengembangan model pembelajaran inovatif.
4. Variabel kinerja guru diukur melalui indikator: pengetahuan, sikap dan keterampilan
guru. Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan
dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah
pengetahuan kemudian sikap dan keterampilan.
5. Variabel kualitas pendidikan diukur melalui indikator: Kualitas nilai dan kuantitas
belajar. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan
dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel kualitas nilai dan
kemudian kuantitas belajar.

Dalam penelitian ini selain menemukan sebuah model baru seperti yang tersebut di atas, juga
menemukan adanya pengaruh antara variabel pengaruh pemberdayaan yang meliputi kualifikasi
pendidikan, pelatihan dan penataran guru mempengaruhi kinerja guru serta kualitas pendidikan
di Sekolah Dasar Kota Surabaya sebagaimana hasil uji hipotesis.

Penjelasan tentang pengaruh antara variabel pemberdayaan yang meliputi kualifikasi pendidikan,
pelatihan dan penataran guru terhadap kinerja guru serta kualitas pendidikan di Sekolah Dasar
Kota Surabaya adalah sebagai berikut:

Pengaruh pemberdayaan yang meliputi: kualifikasi pendidikan, pelatihan dan penataran


pada guru terhadap kinerja guru

Dari hasil analisis deskriptif ditemukan para guru Sekolah Dasar di Kota Surabaya, pada
umumnya memiliki kinerja dalam kriteria yang tinggi. Tingginya kinerja guru ini didukung
oleh pemberdayaan guru yang meliputi kualifikasi pendidikan , pelatihan dan penataran sebagai
atributnya. Melalui analisis SEM (Structural Equation Modelling) ditemukan bahwa, kinerja
guru tersebut dipengaruhi oleh pemberdayaan terhadap potensi guru.
Dari hasil uji di atas didapat bahwa ketiga indikator yang dapat di gunakan sebagai pengukur
dalam menjelaskan variabel pemberdayaan yaitu: kualifikasi pendidikan, pelatihan, dan
penataran, Ketiga indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan
variabel pemberdayaan, dari ketiga indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah
kualifikasi pendidikan, diikuti pelatihan Perangkat Pembelajaran kemudian penataran terhadap
guru.

Dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian dengan analisis SEM (Structural Equation Modelling)
melalui program AMOS 4.0 menunjukkan bahwa pemberdayaan secara bersama-
sama berpengaruh positif terhadap kinerja guru.

Analisis ini, khususnya pemberdayaan memiliki tiga indikator, yaitu: kualifikasi pendididikan,
pelatihan Perangkat Pembelajaran, penataran terhadap guru. Ketiga indikator tersebut secara
bersama-sama mampu menjelaskan variabel pemberdayaan, dari ketiga indikator tersebut yang
paling mampu menjelaskan adalah kualifikasi pendidikan, diikuti pelatihan Perangkat
Pembelajaran, kemudian yang paling akhir adalah penataran karya ilmiah terhadap guru. Hal ini
berarti untuk meningkatkan pemberdayaan para guru di sekolah dasar Kota Surabaya perlu
peningkatan kualifikasi pendidikan, diikuti dengan pelatihan-pelatihan yang memadai,
kemudian penataran-penataran harus sesuai dengan kegiatannya.

Pengaruh pemberdayaan yang meliputi; kualifikasi pendidikan, pelatihan,


penataran guru Terhadap kualitas pendidikan

Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa kualitas pendidikan di sekolah dasar Kota
Surabaya pada umumnya menyatakan kualitas pendidikan dalam kategori tinggi sedangkan
sisanya rendah dengan indikator terdiri dari kualitas dan kuantitas.

Dari hasil analisis SEM indikator yang mampu menjelaskan variabel kualitas pendidikan adalah:
nilai ujian nasional dan nilai ujian akhir sekolah. Kedua indikator tersebut secara bersama-sama
mampu menjelaskan dan kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan adalah
kualitas nilai dan kemudian kuantitas belajar. Sedangkan pemberdayaan diukur melalui
indikator: peningkatan kualifikasi pendidikan, pelatihan, dan penataran terhadap guru. Ketiga
indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel pemberdayaan dan dari
kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah pengetahuan, dan
keterampilan kemudian sikap.

Dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian dengan analisis SEM (Structural Equation Modelling)
melalui program AMOS 4.0 menunjukkan bahwa tidak semua indikator dari
pemberdayaan berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di sekolah dasar Kota Surabaya.
Hanya dua dari indikator pemberdayaan yang berpengaruh terhadap kualitas pendidikan yaitu
kualifikasi pendidikan dan pelatihan terhadap guru sedangkan penataran tidak berpengaruh
terhadap kualitas pendidikan. Dilihat dari kebanyakan jawaban yang diberikan oleh responden
pemberdayaan yang berupa penataran penulisan karya ilmiah tidak memberikan pengaruh
terhadap kualitas pendidikan, ini menjadikan guru menganggap penataran penulisan karya ilmiah
hanyalah sesuatu kegiatan yang tidak menunjang kecerdasan siswa sehingga tidak berpengaruh
secara nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
Pengaruh Kinerja guru Terhadap Kualitas pendidikan

Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa kualitas pendidikan di sekolah dasar Kota
Surabaya pada umumnya menyatakan kualitas pendidikan dalam kategori tinggi sedangkan
sisanya rendah dengan indikator terdiri dari kualitas nilai dan kuantitas belajar. Melalui analisis
SEM (Structural Equation Modelling) ditemukan bahwa, kualitas pendidikan dipengaruhi oleh
kinerja guru.

Dari hasil analisis SEM indikator yang mampu menjelaskan Variabel kualitas
pendidikan adalah: kualitas nilai dan kuantitas belajar. Kedua indikator tersebut secara bersama-
sama mampu menjelaskan dan dari kedua indikator tersebut yang paling mampu menjelaskan
adalah indikator kualitas nilai dan kemudian kuantitas belajar.

Sedangkan kinerja guru diukur melalui indikator: pengetahuan, sikap dan keterampilan. Ketiga
indikator tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dan dari kedua indikator
tersebut yang paling mampu menjelaskan variabel adalah sikap kemudian keterampilan
diikuti pengetahuan .

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di lakukan di atas, dapat disimpulkan
sebagai berikut:

1. Pemberdayaan kemampuan guru yang meliputi peningkatan kualifikasi pendidikan, pelatihan


penyusunan silabus dan RPP, serta penataran penulisan karya ilmiah terhadap guru berpengaruh
positif terhadap kinerja guru.

2. Pemberdayaan terhadap kemampuan guru yang meliputi peningkatan kualifikasi pendidikan,


pelatihan penyusunan silabus dan RPP, serta penataran penulisan karya ilmiah berpengaruhi
positif terhadap kualitas pendidikan.

3. Kinerja guru (melalui indikator pengetahuan, sikap, keterampilan) berpengaruh positif


terhadap kualitas pendidikan (kualitas nilai dan kuantitas belajar). Kinerja guru memiliki peranan
yang penting di dalam mempengaruhi peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Kota
Surabaya.

Saran-saran

Beberapa saran yang dikemukakan dalam penelitian ini, antara lain:

Pertama, kualifikasi pendidikan semua guru Sekolah Dasar di Kota Surabaya perlu disetarakan
menjadi Strata 1. Peningkatan kualifikasi pendidikan guru perlu diupayakan karena kinerja guru
dipengaruhi oleh pemberdayaan guru termasuk kualifikasi pendidikannya.
Kedua, perlu ada pelatihan yang periodik untuk meningkatkan kemampuan guru dalam
menyusun silabus dan RPP serta perangkat pembelajaran, karena pelatihan tersebut mampu
meningkatkan kinerja guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

Ketiga, penataran tentang penulisan karya ilmiah dan pembelajaran inovatif perlu diberikan
kepada guru, karena secara tidak langsung dapat meningkatkan kemampuan kinerjanya dalam
melaksanakan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Coombs, PH. 2005. The World Crisis in Education. New York: Oxford University Press.

Deckey & Adam. 1995. Basic Principles of Student Teaching. New Jersey: Pren-tice-Hall, Inc.

Depdiknas. 2006. Tiga Pilar Utama Renstra Pembangunan Pendidikan.


Jakarta:Depdiknas.

Diknas Kota Surabaya, 2009. Buku Panduan Pendidikan tahun 2009. Surabaya: Humas Diknas
Kota Surabaya.

Eaglen Andrew dkk, 2000. Modelling the benefits of training to business performance in leisure
retailing. Strategic Change. Aug 2000. Vol. 9, Iss. 5;

Ferdinand, Augusty. 2000. Structural Equation Modelling. AMOS 4.0. Semarang:


Universitas Diponegoro.

Furtwengler, D. 2002. Penilaian Kinerja. Yogyakarta: Andi

Haris, Richard. 2002. Personnel Administration in Education (3rd). Boston: Ally and
Bacon Inc.

International Education, 2000. Highlights from the Second World Congress of Education
International. Washington DC: Juli 2000

Jerome S. Arcaro. 2005. Quality in Education: An Implementation Handbook. New york: St.
Lucie , Press.

Langbein, Laura Irwin. 2002. Discovering Whether Programs Work: A Guide to Stastis
tical Methods For Program Evaluation. Santa Monica: Goodyear Pub. Company

Leap, T.L, and Crino, M.D, 2002. Personnel/Human Resources Management. New York:
Macmillan Publishing Company.

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Yang Profesional; Menciptakan Pembelajaran Yang Kreatif
dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Prabu Mangkunegoro. 2005. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM). Bandung:
Refika Aditama.

Sahudi. 2009. Program Penyegaran dan Studi Lanjut bagi Guru-guru