Você está na página 1de 1

Vaksinasi.

Salah satu strategi dalam mencegah OMA adalah vaksinasi, tidak hanya terhadap
bakteri yang paling sering menyebabkan OMA namun juga terhadap infeksi viral yang sering
mendahului OMA.
Vaksin polisakarida untuk melawan S. pneumoniae telah ada selama beberapa dekade; akan
tetapi, vaksin tersebut tidak imunogenik pada anak berusia muda. Berdasarkan kesuksesan dari
vaksin konjugat terhadap H. influenzae tipe B, vaksin konjugat terhadap pneumokokus dibuat
pada titik balik millennium dan ditemukan efektif pada anak usia muda. Vaksin heptavalen
(PCV7) merupakan vaksin pertama dari jenis ini, dan dikonjugasi dengan toksoid difteri
kemudian diikuti 10 tahun berikutnya oleh vaksin 13-valen dengan konjugat yang sama dan 10-
valen yang dikonjugasikan dengan protein D dari H. influenzae.
Tujuan utama dari vaksin ini adalah untuk melindungi dari penyakit-penyakit pneumokokal yang
invasif, namun timbul pertanyaan apakah vaksin-vaksin ini akan memberikan proteksi tersebut,
dan khusus untuk vaksin dengan konjugat protein D, apakah juga akan memberikan proteksi dari
OMA karena H. influenzae. Review dari Cochrane menganalisis efek dari konjugat pneumokokal
pada OMA. Kebanyakan dari percobaan yang terinklusi menggunakan PCV7, beberapa
menginklusi bayi, beberapa menginklusi anak yang lebih tua, dan beberapa fokus pada anak
dengan risiko tinggi OMA. Ditunjukkan bahwa PCV7 memiliki manfaat pada anak dengan risiko
rendah OMA; sehingga tidak diperlukan rekomendasi vaksinasi dengan tujuan utama untuk
mencegah OMA.
Pada anak yang berusia lebih tua dengan riwayat OMA, tidak ditemukan adanya manfaat melalui
vaksinasi; akan tetapi, bayi dengan risiko terjadinya OMA rekuren belum dipelajari cukup
dalam, karena tidak adanya vaksin terbaru. Vaksin 10-valen dengan konjugat protein D telah
diajukan agar memberikan proteksi tidak hanya terhadap OMA pneumokokal namun juga
terhadap OMA karena H. influenzae. Penelitian terandomisasi pertama dari vaksin konjugat
protein D menunjukkan tidak hanya penurunan sebanyak sepertiga penyebab OMA lain namun
juga penurunan OMA H. influenzae. Penelitian cluster terandomisasi terbaru di Finlandia juga
menunjukkan penurunan rasio OMA yang substansial pada anak-anak yang divaksinasi. RR
penurunannya dinilai cukup, namun karena OMA memiliki insidensi yang tinggi, diestimasikan
bahwa sebanyak 12000 episode OMA dapat dicegah setiap harinya pada anak-anak berusia di
bawah 2 tahun.
Beberapa penelitian observasional, khususnya di Amerika Serikat, telah mendemonstrasikan
penurunan episode OMA yang lebih banyak daripada yang telah diobservasi pada penelitian
klinis; walaupun begitu, pengenalan PCV7 disertai dengan publikasi guideline baru, menawarkan
kemungkinan untuk tidak menggunakan antibiotik awal sehingga kunjungan ke dokter untuk
kasus OMA menjadi lebih sedikit. Tantangan untuk masa depan adalah bahwa penggantian
stereotype dapat menurunkan efikasi jangka panjang dari vaksinasi.