Você está na página 1de 13

"Anak muda, aku tahu kau pemuda yang baik. Aku tidak keberatan putriku menikah denganmu.

Namun, kau harus menyediakan sembilan guci berisi emas."

Tan Bun Ann menyanggupi syarat yang diajukan Raja. la lalu menghubungi orangtuanya di negeri
Cina. Orangtua Tan Bun Ann memberikan restu kepada mereka. Namun sayang, orangtua Tan Bun
Ann tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya dengan Putri Siti Fatimah. Lalu, mereka mengirimkan
utusan kerajaan untuk mengantarkan sembilan guci berisi emas ke Kerajaan Sriwijaya.

Utusan Kerajaan Cina segera berangkat menuju Kerajaan Sriwijaya dengan membawa guci-guci berisi
emas di dalam kapal. Untuk melindungi emas-emas itu dari perompak, di bagian atas guci-guci itu
diletakkan sayur sawi, sehingga guci-guci itu terlihat berisi penuh dengan sayur sawi.

Sesampainya di Pelabuhan Sriwijaya, Tan Bun Ann menyambut utusan dari orangtuanya itu untuk
mengambil emas-emas yang rnereka bawa.

"Di mana kalian Ietakkan guci-guci berisi emas itu?" "Di dalam kamar di dalam kapal, Tuan"

Tan Bun Ann masuk ke dalam kapal, ia menemukan sembilan guci berisi penuh sayur sawi yang telah
membusuk.

"Oh, tidak! Mengapa isinya hanya sayur-sayur sawi yang sudah membusuk? Aku akan malu kepada
calon mertuaku!" pikir Tan Bun Ann panik. la lalu membuang guci-guci itu satu persatu ke Sungai
Musi. Ketika akan membuang guci terakhir kakinya tersandung. Guci yang dipegangnya pun tumpah,
keluarlah emas-emas dari dalam guci itu. Barulah Tan Bun Ann sadar bahwa ia telah salah sangka.

Lalu, pemuda itu melompat ke dalam sungai bersama beberapa pengawal untuk mencari kembali
guci-guci yang telah dibuangnya.

Siti Fatimah yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu berlari ke pinggir sungai dan menunggu colon
suaminya muncul dari dalam Sungai Musi. Namun, sampai menjelang sore Tan Bun Ann dan orang-
orangnya tak juga kembali.

Putri cantik itu dan beberapa dayangnya berniat mencari calon suaminya, mereka lalu loncat ke
Sungai Musi. Sebelum loncat, Putri berpesan kepada dayang-dayangnya yang tinggal.

"Jika nanti kalian melihat ada timbunan tanah muncul di permukaan sungai, itu adalah kuburanku,"
kata Putri Siti Fatimah lalu menceburkan diri ke dalam sungai.

Tidak ada seorang pun yang kembali ke permukaan. Beberapa hari kemudian, di tepi Sungai Musi
muncullah timbunan tanah menyerupai sebuah gundukan. Semakin hari, gundukan tanah tersebut
semakin lebar, hingga menjadi sebuah pulau.

Masyarakat setempat menamai pulau tersebut Pulau Kamaro yang artinya Kemarau. Nama itu dipilih,
karena kondisi pulau tersebut yang tidak pernah tergenang sedikit pun meskipun ketinggian air di
Sungai Musi sedang meningkat.

Di pulau tersebut terdapat sebuah gundukan tanah yang agak besar dan diyakini sebagai makam
Putri Siti Fatimah. Selain itu, ada dua gundukan tanah yang lebih kecil, masyarakat percaya bahwa
kedua gundukan itu adalah makam dayang-dayang Siti Fatimah yang ternyata ikut menyebur ke laut
menyusul sang Putri.

Kini, Pulau Kernaro menjadi salah satu objek wisata budaya di Palembang. Setiap perayaan cap
gomeh, banyak warga keturunan Cina, baik dari dalam maupun luar negeri berkunjung ke sana untuk
sembahyang dan berziarah.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Dari Sumatera Selatan Asal Pulau Kemaro adalah segala sesuatu harus
diteliti dulu, jangan terburu-buru menilai dan mengambil keputusan.

Baca dongeng Sumatera selatan lainnya pada artikel kami berikut ini Cerita Rakyat dari Sumatera
Selatan : Legenda Pulau Kemaro dan Dongeng Cerita Rakyat Nusantara : Kisah Ratu Agung

Posted on Mei 15, 2013 by imanzuhdi Standar

https://imanzuhdi29.wordpress.com/2013/05/15/cerita-rakyat-palembang-putri-
kembang-dadar/

Kumpulan Kisah Legenda : Cerita Rakyat Bengkulu Bujang Awang Tabuang


Tersebutlah sebuah kerajaan besar bernama Peremban Panas. Sang pemangku takhta adalah
Raja Kramo Kratu Agung. Sang raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyat sangat
menghormati dan mencintai sang raja. Segenap titah dan perintah Raja Kramo Kratu Agung
mereka turuti karena titah dan perintah itu lebih banyak demi kepentingan dan kesejahteraan
mereka.

Raja Kramo Kratu Agung mempunyai permaisuri bernama Putri Rimas Bangesu. Keduanya
telah enam tahun menikah, namun belum juga mereka dikaruniai anak. Kerabat kerajaan
sangat takut jika Raja Kramo Kratu Agung tidak mempunyai keturunan yang akan menjadi
pewaris takhta Peremban Panas. Mereka pun bersidang untuk membahas masalah itu.
Keputusan dari sidang kerabat kerajaan itu sangat mengejutkan Putri Rimas Bangesu. Ia
harus dibuang ke tengah hutan!

Kumpulan Kisah Legenda Bujang Awang Tabuang

Sesungguhnya Putri Rimas Bangesu telah mengandung ketika ia harus melaksanakan basil
sidang kerabat kerajaan tersebut. Dengan ditemani seekor harimau dan sepasang kera, Putri
Rimas Bangesu tinggal di sebuah gubug kecil di tengah hutan. Sekitar sembilan bulan
kernudian Putri Rimas Bangesu melahirkan. Seorang bayi lelaki. Putri Rimas Bangesu
memberinya nama Bujang Awang Tabuang.

Putri Rimas Bangesu mengasuh anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Bujang Awang
Tabuang pun tumbuh membesar di dalam hutan itu. Ia tampak sehat, tubuhnya kuat, dan
wajahnya tampan. Waktu terus bergulir hingga tujuh belas tahun telah terlewati. Hingga
selama itu Bujang Awang Tabuang tetap berada di dalam hutan bersama ibunda, seekor
harimau, dan juga sepasang kera. Berkat didikan ibundanya, Bujang Awang Tabuang juga
berhasil mempunyai aneka kesaktian. Selain itu, harimau dan sepasang kera itu juga
mengajarkan aneka kesaktian untuk melengkapi kesaktian Bujang Awang Tabuang.

Selama itu Putri Rimas Bangesu senantiasa berdusta terhadap Bujang Awang Tabuang jika
anaknya itu bertanya perihal siapa ayahandanya. "Ayahmu adalah Dewata," begitu jawaban
Putri Rimas Bangesu. Namun, seiring dengan kian bertambahnya usia Bujang Awang
Tabuang, Putri Rimas Bangesu merasa tidak bisa lagi berdusta. Ia pun menceritakan kejadian
yang dialaminya sekaligus membuka tabir siapa sesungguhnya ayahanda Bujang Awang
Tabuang.

"Jadi, ayahandaku adalah raja Peremban Panas yang bernama Raja Kramo Kratu Agung?"
tanya Bujang Awang Tabuang.

"Benar, anakku."
Bujang Awang Tabuang kemudian meminta izin kepada Putri Rimas Bangesu untuk
berangkat menuju kerajaan Peremban Panas untuk mencari ayahandanya.

Dengan berat hati Putri Rimas Bangesu mengijinkan. "Berhati-hatilah engkau selama dalam
perjalanan. Sebisa mungkin hindarkanlah pertengkaran atau perkelahian dalam perjalananmu
nanti. Semoga Dewata memberikan berkah dan pertolongan kepadamu."

Keesokan harinya Bujang Awang Tabuang berangkat menuju Peremban Panas. Berhari- hari
ia menempuh perjalanannya seorang diri. Setelah berulang-ulang bertanya pada orang yang
ditemuinya dalam perjalanan, akhirnya Bujang Awang Tabuang tiba di gerbang kerajaan
Peremban Panas.

Bujang Awang Tabuang langsung saja masuk melewati pintu gerbang kerajaan. Para prajurit
bergegas menghentikan langkahnya. Meski Bujang Awang Tabuang telah menyatakan
kehendaknya untuk bertemu Raja Kramo Kratu Agung, namun para prajurit tidak
mengizinkannya.

"Yang Mulia Raja Kramo Kratu Agung tidak bisa diganggu karena beliau hendak
melangsungkan pernikahan dengan Putri Rambut Perak dari Kerajaan Pinang Jarang," kata
kepala prajurit penjaga pintu gerbang.

Bujang Awang Tabuang tetap saja memaksa. Maka, para prajurit Iangsung menyerangnya
untuk mengusirnya menjauh dari pintu gerbang. Pertarungan antara Bujang Awang Tabuang
melawan para prajurit itu pun terjadi. Bujang Awang Tabuang mampu mengalahkan para
prajurit yang mengeroyoknya itu. Bahkan ketika para prajurit lainnya datang membantu dan
mengeroyoknya beramai-ramai, Bujang Awang Tabuang tetap mampu mengalahkan mereka
semua. Para prajurit pun akhirnya berlarian menjauhi pintu gerbang kerajaan.

Karena kelelahan bertarung, Bujang Awang Tabuang lantas tertidur di bawah pohon beringin
di dalam alun-alun kerajaan. Begitu pulasnya ia tertidur hingga ia mendengkur.

Dengkuran Bujang Awang Tabuang membuat tiang-tiang istana bergetar. Seluruh penghuni
istana kerajaan terkejut dan berhamburan keluar istana kerajaan karena menyangka ada
gempa bumi. Persiapan pernikahan Raja Kramo Kratu Agung dengan Putri Rambut Perak
yang sedianya akan dilangsungkan pada hari itu menjadi terganggu.

Mereka kian terperanjat dan keheranan karena getaran yang berlangsung itu terjadi secara
teratur dan berulang-ulang.
Patih kerajaan Peremban Panas yang bernama Raden Tumenggung berusaha mencari sumber
getaran tersebut. Ia pun akhirnya mengetahui jika sumber getaran itu berasal dari suara
dengkuran seorang pemuda yang tengah tertidur di bawah pohon beringin di alun-alun
kerajaan.

Raden Tumenggung segera membangunkan Bujang Awang Tabuang dengan sikap kasar. "Hei
pemuda gembel! Siapa dirimu itu dan apa keperluanmu datang ke kerajaan Peremban Panas
ini?"

Bujang Awang Tabuang bangun. Setelah menggosok-gosok kedua kelopak matanya, ia segera
bangkit dan berjalan tenang menuju istana kerajaan tanpa menghiraukan Raden Tumenggung.
Raden Tumenggung berusaha mencegah, namun Bujang Awang Tabuang tetap juga berjalan.
Maka, Raden Tumenggung pun menyerang Bujang Awang Tabuang.

Pertarungan antara Bujang Awang Tabuang melawan Raden Tumenggung tidak terelakkan.
Namun, pertarungan itu tidak berjalan lama. Bujang Awang Tabuang mampu mengalahkan
Patih Kerajaan Peremban Panas itu.

Bujang Awang Tabuang lantas mengamuk di dalam istana kerajaan. Para prajurit kerajaan
yang mencoba menghadangnya dibuatnya berlarian karena tak mampu melawan kesaktian
Bujang Awang Tabuang. Raja Kramo Kratu Agung akhirnya turun tangan sendiri. Segera
dihadangnya Bujang Awang Tabuang. Pertarungan antara anak dan bapak yang sama-sama
tidak mengetahui siapa sesungguhnya lawannya itu pun terjadi.

Pertarungan itu berlangsung sangat seru. Keduanya sama-sama sakti. Meski telah
mengerahkan segenap kesaktiannya, masing- masing tidak dapat segera memenangkan
pertarungan itu. Hingga waktu terus bergulir selama sehari semalam, pertarungan antara
Bujang Awang Tabuang dan Raja Kramo Kratu Agung terus berlangsung.

Setelah merasakan kemampuannya seimbang dan bisa jadi akan terus berlarut-larut
berlangsung, Raja Kramo Kratu Agung meminta pertarungan mereka dihentikan. Tanyanya
kemudian setelah pertarungan berhenti, "Siapa engkau ini sesungguhnya, wahai anak muda?"

"Nama hamba Bujang Awang Tabuang. Ibunda hamba bernama Putri Rimas Bangesu dan
ayahanda hamba adalah Raja Kramo Kratu Agung," jawab Bujang Awang Tabuang.

Raja Kramo Kratu Agung terperanjat mendengar jawaban Bujang Awang Tabuang. "Engkau
ini anakku, wahai anak muda?"
"Benar, ayahanda," jawab Bujang Awang Tabuang.

Bujang Awang Tabuang lantas menceritakan kejadian yang dialami ibu dan dirinya selama
dalam pembuangan di tengah hutan. Selesai bercerita, Bujang Awang Tabuang lantas
bersujud di kaki Raja Kramo Kratu Agung.

Raja Kramo Kratu Agung meminta anaknya itu untuk berdiri. Dipeluknya dengan penuh
kasih sayang. Ia meminta maaf karena tidak menyangka jika istri tercintanya dahulu tengah
mengandung ketika dibuang ke tengah hutan. Ia lantas mengumumkan untuk membatalkan
rencana pernikahannya dengan Putri Rambut Perak.

Keesokan harinya Raja Kramo Kratu Agung beserta para prajurit bersenjata lantas menuju ke
hutan tempat pembuangan Putri Rimas Bangesu. Sebuah kereta indah yang ditarik empat
ekor kuda gagah tampak dalam rombongan Raja Kramo Kratu Agung itu. Kereta indah itu
dipersiapkan untuk kendaraan Putri Rimas Bangesu. Sementara Bujang Awang Tabuang
memimpin di barisan depan rombongan sebagai penunjuk jalan.

Bertemulah kembali Raja Kramo Kratu Agung dengan istri tercintanya. Keduanya saling
menangis. Putri Rimas Bangesu kemudian diajak kembali ke istana kerajaan dengan menaiki
kereta indah.

Bujang Awang Tabuang hidup berbahagia di istana kerajaan bersama ayahanda dan ibunda
tercintanya. Ia pun tidak melupakan harimau dan juga sepasang kera yang tetap memilih
berada di tengah hutan. Kerap Bujang Awang Tabuang mengunjungi sahabat-sahabatnya itu.
Mereka pun bermain dan bercengkrama seperti yang dahulu biasa mereka lakukan ketika
Bujang Awang Tabuang dan ibundanya masih tinggal di tengah hutan itu.

Cerita Rakyat Unang Batin


Unang Batin adalah seorang anak yang tinggal di kampung Putih Doh pada masa lampau.
Sejak kecil Unang Batin telah mendapat didikan agama dan bela diri langsung dari ayahnya.
Berkat didikan ayahnya, Unang Batin menguasai ilmu agama dan juga ilmu bela diri yang
cukup. Ayahnya berharap Unang Batin akan dapat menjadi hulubalang kerajaan yang
terampil, cakap, dan berani membela kebenaran. Pesan yang senantiasa berulang-ulang
disampaikan ayahnya untuk Unang Batin adalah, "Jadilah seorang yang rendah hati. Gunakan
ilmu padi, semakin merunduk jika engkau semakin berisi. Senantiasalah bersikap jujur,
karena kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana pun juga engkau berada. Janganlah
engkau sombong, karena kesombongan itu akan meruntuhkanmu di kemudian hari."

Ketika Unang Batin menginjak usia remaja, ia pun mulai berkelana untuk menambah ilmu,
terutarna ilmu bela diri dan kesaktian. Berbagai daerah telah disinggahinya. Ia mulai
pengembaraannya di daerah Palembang. Berturut- turut kemudian ia menuju Bengkulu,
Pariaman, Aceh, dan bahkan meneruskan pengembaraannya hingga ke Kelantan Melaka'.
Selama mengembara di daerah-daerah itu Unang Batin berguru berbagai ilmu kesaktian dan
juga pengetahuan. Ia belajar ilmu silat, berbagai ilmu kesaktian, seperti ilmu kebal, ilmu
pukulan jarak jauh, tenaga dalam, ilmu penangkal racun dan teluh, serta ilmu-ilmu Iainnya.
Unang Batin juga mempelajari ilmu perbintangan. Dengan kecerdasan dan tekad kuatnya,
semua ilmu-ilmu itu dikuasai Unang Batin dan menjadikan dirinya selaku pendekar yang
tangguh sekaligus tinggi pengetahuannya.

Unang Batin senantiasa mengingat dan menerapkan pesan ayahandanya dengan baik. Di
mana pun juga ia berada, ia senantiasa merendah. Tidak pernah ia menunjukkan ketinggian
ilmunya. Ia bahkan Iebih suka menghindar jika mendapat tantangan. Ia baru akan
mengeluarkan ilmunya jika jalan perdamaian tidak lagi bisa ditempuhnya. Selain itu, Unang
Batin juga dikenal selaku sosok yang sangat jujur. Ia pandai memegang amanat dan berani
membela kebenaran dan kebaikan. Unang Batin adalah musuh bagi kejahatan.

Setelah menguasai berbagai macam ilmu kesaktian dan pengetahuan, Unang Batin lantas
kembali ke daerahnya. Ayahnya begitu bangga mendapati anaknya pulang dengan
mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan pengetahuan serta tetap menunjukkan sifat dan
sikap seperti yang dipesankan.

Ayah Unang Batin lantas menyerahkan tugas dan jabatan serta penguasaan harta benda yang
selama itu dipegangnya kepada Unang Batin. Unang Batin menjalankan kepercayaan itu
dengan sebaik-baiknya. Dikerjakannya semampu yang bisa dilakukannya. Ayahnya sangat
puas mendapati hasil pekerjaan anaknya itu.
Kisah Dongeng Anak Cerita Rakyat Unang Batin

Syandan, ketua adat kampung Putih Doh, Cukuhbalah, berencana menunjuk seseorang yang
akan mewakili kampung Putih Doh dalam pertandingan silat antar kampung. Musyawarah
pun diadakan. Cukuhbalah dan segenap warga kampung Putih Doh sepakat menunjuk Unang
Batin sebagai wakil mereka. Selaku ujang baru atau wakil kampung Putih Doh, Unang Batin
diberi gelar Mas Motokh. Pertandingan silat itu akan dilakukan pada hari kedua Lebaran.

Waktu pertandingan pun tiba. Halaman rumah Lamban balak-balak yang dijadikan arena
pertandingan telah dipenuhi para pesilat yang menjadi wakil daerah masing-masing. Dalam
pertandingan silat itu Unang Batin akan menghadapi pesilat yang telah tenar ketangguhannya
yang bernama Marga Pertiwi.

Meski menghadapi pesilat ternama, Unang Batin tidak menunjukkan kegentarannya. Ia siap
meladeni jurus jurus silat Marga Pertiwi. Ia tetap bersikap merendah. Berbeda dibandingkan
Marga Pertiwi yang congkak. Ia memandang rendah pesilat wakil dari kampung Putih Doh
itu. Menurut anggapannya, dua atau tiga jurus saja ia akan dapat menjatuhkan Unang Batin!

Pertarungan silat antara Unang Batin dan Marga Pertiwi pun dimulai. Sorak sorai kedua kubu
terdengar membahana ketika memberi semangat pesilat masing-masing. Meski semula
memandang enteng Unang Batin, Marga Pertiwi mulai kerepotan setelah pertarungan silat
berlangsung beberapa waktu. Jurus-jurus andalannya mampu ditandingi Unang Batin. Tenaga
dalam yang dikerahkannya pun tetap tidak mampu menjatuhkan pesilat wakil kampung Putih
Doh itu. Bahkan, kekuatan batin yang kerahkannya pun tetap dapat diimbangi Unang Batin.
Hingga dalam sebuah kesempatan Unang Batin mamu mendaratkan pukulan dan tendangan
kerasnya yang telak mengenai tubuh Marga Pertiwi. Pesilat yang ternama ketangguhannya itu
jatuh terjerembap ke atas tanah dan tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan.
Unang Batin dinyatakan sebagai pemenang. Kekalahan Marga Pertiwi berbuntut panjang.
Kubu Marga Pertiwi serasa tidak bisa menerima kekalahan itu. Mereka pun mendendam dan
ingin mencelakai Unang Batin dan warga kampung Putih Doh. Pada malam harinya mereka
mengirim teluh ke kampung Putih Doh. Cahaya putih yang menakutkan terlihat nyata di
kampung Putih Doh. Sasaran teluh itu tak lain Unang Batin adanya.

Unang Batin tidak bisa tinggal diam menghadapi ulah jahat kubu Marga Pertiwi. Segera
dikeluarkannya ilmu penolak teluh yang dikuasainya. Dari rumah Unang Batin keluar cahaya
kuning yang kuat. Pertarungan antara cahaya putih dan kuning segera terjadi. Hanya
berlangsung beberapa saat pertarungan itu setelah cahaya kuning mampu mengalahkan dan
mengusir cahaya putih dari desa Putih Doh. Seandainya Unang Batin berkehendak, ia bisa
mengirim batik teluh kubu Marga Pertiwi tersebut. Namun, Unang Batin tidak
melakukannya. Ia tidak ingin mencelakai orang lain, sekali pun orang lain berniatjahat
kepadanya. Semua itu kian menunjukkan ketinggian budi pekertinya. Namanya pun kian
dikagumi banyak orang. Meski demikian, Unang Batin tidak juga merasa sombong. Ia tetap
merunduk laksana padi yang telah berisi.

Dendam mereka yang benci pada Unang Batin tidak juga padam. Malah kian meninggi.
Secara sembunyi-sembunyi mereka menuju kampung Putih Dot untuk mencari cara guna
melumpuhkan Unang Batin. Ketika mereka mendapati Unang Batin sedang tidak berada di
rumahnya, mereka pun merusak tangga dan mengganjal tiang rumah Unang Batin dengan
batu. Mereka lantas bersiaga dengan senjata tajam di tangan.

Sepulang dari pesta yang dihadirinya, Unang Batin pun kembali ke rumah. Ia jatuh
terjerembap ketika menginjak anak tangga rumahnya yang telah dirusak. Seketika ia terjatuh,
musuh-musuhnya segera mengepungnya dengan mengarahkan senjata tajam mereka ke tubuh
Unang Batin.

Dalam keadaan sangat terdesak dan tidak bisa lagi memberikan perlawanan, Unang Batin pun
berujar, "Ingatlah baik-baik. Jika kalian membunuhku, maka, empat puluh hari setelah
kematianku, kalian semua akan juga menemui kematian kalian sendiri. Kalian semua! Tidak
itu saja, anak keturunan kalian juga tidak akan ada yang selamat!"

Mereka tidak gentar dengan ancaman Unang Batin. Mereka membunuh Unang Batin
beramai¬ramai dan membuang mayat Unang Batin ke laut.
Meski peristiwa pembunuhan Unang Batin itu tidak diketahui warga Putih Dot dan juga
keluarga Unang Batin, namun para pembunuh itu akhirnya mengakuinya. Sangat
mengherankan, mereka memilih untuk bunuh diri kemudian. Semua pembunuh Unang Batin
mengakhiri hidup mereka masing-masing. Lebih mengherankan lagi, anak keturunan mereka
benar-benar tidak ada yang selamat!

Kutukan Unang Batin telah mewujud dalam kenyataan.

Para prajurit Majapahit akhirnya mundur karena tidak sanggup menghadapi amukan Adipati
Menakjingga dan juga keperkasaan para prajurit Blambangan. Ratu Ayu Kencana Wungu
sangat bersedih mendapati kekalahan para prajuritnya. Ia pun lantas bersemedi, memohon
petunjuk dari Dewa untuk mengatasi masalah besar yang tengah dihadapinya tersebut.
Petunjuk itu pun didapatkan sang ratu. `Menakjingga akan binasa jika berhadapan dengan
pemuda bernama Damar Wulan!"

Ratu Ayu Kencana Wungu lantas memerinhkan Patih Logender untuk mencari pemuda
bernama Damar Wulan. Sosok pemuda yang dimaksud akhirnya diketemukan. la tinggal jauh
di luar kotaraja Majapahit. Dia segera diiringkan untuk menghadap Ratu Ayu Kencana
Wungu di istana kerajaan Majapahit.

"Damar Wulan," kata Ratu Ayu Kencana wungu setelah Damar Wulan duduk bersimpuh di
hadapannya, "kuperintahkan engkau untuk melenyapkan Adipati Menakjingga yang telah
merusuh dan menyebabkan kerusakan di Majapahit. Bawa kepala Menakjingga di hadapanku
sebagai wujud rasa baktimu pada Majapahit dan juga diriku!"

"Hamba, Gusti Prabu."

Setelah menghaturkan sembahnya, Damar Wulan segera menuju Blambangan seorang diri.
Seketika tiba di alun-alun Kadipaten Blambangan, Damar Wulan lalu menantang bertarung
Adipati Menakjingga. Tak terkirakan kemarahan Adipati Menakjingga. Segera dilayaninya
tantangan Damar Wulan. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Adipati Menakjingga
mampu mengalahkan Damar Wulan. Damar Wulan pingsan terkena hantaman Gada Wesi
Kuning. Para prajurit Blambangan lantas menangkap dan memenjarakan Damar Wutan di
penjara Kadipaten Blambangan. Pertolongan akhirnya tiba bagi Damar Wulan. Tanpa
diduganya, dua selir Adipati Menakjingga memberikan bantuannya. Dewi Wahita dan Dewi
Puyengan nama kedua selir tersebut. Keduanya sesungguhnya sangat membenci Adipati
Menakjingga. Mereka sangat berharap Damar Wulan mampu membunuh Adipati
Menakjingga agar diri mereka terbebas dari penguasa Kadipaten Blambangan yang kejam
lagi sewenang-wenang itu.

Dewi Wahita dan Dewi Puyengan membuka rahasia kesaktian Adipati Menakjingga. "Rahasia
kesaktian Adipati Menakjingga berada pada Gada Wesi Kuningnya," kata mereka. "Tanpa
senjata sakti andalannya itu, niscaya engkau akan dapat mengalahkannya."

Damar Wulan meminta tolong kepada Dewi Wahita dan Dewi Puyengan untuk mengambil
senjata andalan Adipati Menakjingga tersebut. Dengan diam-diam, Gada Wesi Kuning itu
akhirnya berhasil diambil dua selir Adipati Menakjingga tersebut. Gada Wesi Kuning lantas
diserahkan kepada Damar Wulan. Dengan bersenjatakan Gada Wesi Kuning, Damar Wulan
pun kembali menantang Adipati Menakjingga.

Pertarungan antara Adipati Menakjingga dan Damar Wulan kembali terjadi. Sangat seru
pertarungan mereka. Akhirnya Adipati Blambangan yang terkenal sombong, kejam, lagi
sewenang-wenang itu menemui kematiannya setelah tubuhnya terkena hantaman Gada Wesi
Kuning. Kepalanya dipenggal. Damar Wulan lantas membawa potongan kepala Adipati
Menakjingga kembali ke Majapahit.

Sesungguhnya perjalanan Damar Wulan ke Blambangan itu diikuti oleh dua anak Patih
Logender yang bernama Layang Seta dan Layang Kumitir. Keduanya mengetahui
keberhasilan Damar Wulan menjalankan titah Ratu Ayu Kencana Wungu. Keduanya lantas
merencanakan siasat licik untuk merebut potongan kepala Adipati Menakjingga dan
mengakui sebagai pembunuh Adipati Menakjingga di hadapan Ratu Ayu Kencana Wungu.
Dengan demikian mereka berharap akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dari
penguasa takhta Majapahit itu.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Majapahit, Damar Wulan dicegat Layang Seta dan
Layang Kumitir. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Damar Wulan dikeroyok dua
saudara kandung anak Patih Logender tersebut. Pada suatu kesempatan, mereka berhasil
merebut kepala Adipati Menakjingga dan bergegas meninggalkan Damar Wulan. Setibanya di
istana Majapahit, Layang Seta dan Layang Kumitir segera menghadap Ratu Ayu Kencana
Wungu. Mereka menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengalahkan Adipati
Menakjingga. Mereka lantas menyerahkan potongan kepala Adipati Menakjingga kepada
Ratu Ayu Kencana Wungu.

Sebelum Ratu Ayu Kencana Wungu berujar; datanglah Damar Wulan. Damar Wulan
menyatakan keberhasilannya mengalahkan Adipati Menakjingga dan memenggal kepalanya.
"Ampun Gusti Prabu, di tengah jalan hamba dihadang dua orang dan potongan kepala Adipati
Menakjingga itu berhasil mereka rebut."

Ucapan Damar Wulan segera disanggah Layang Seta dan Layang Kumitir yang menyatakan
jika mereka itulah yang berhasil mengalahkan Adipati Menakjingga. Damar Wulan akhirnya
mengetahui jika dua orang itulah yang menghadangnya dan merebut potongan kepala Adipati
Menakjingga.

Perselisihan antara Damar Wulan dan dua anak Patih Logender itu purl kian memanas. Ratu
Ayu Kencana Wungu menengahi perselisihan itu. Katanya, "Untuk membuktikan pengakuan
siapakah di antara kalian yang benar, maka selesaikan secara jantan. Bertarunglah kalian.
Siapa yang menang di antara kalian, maka dialah yang benar."
Pertarungan antara Damar Wulan melawan Layang Seta dan Layang Kumitir kembali terjadi.
Kebenaran itu akhirnya terbuka setelah Damar Wulan berhasil mengalahkan kakak beradik
anak Patih Logender tersebut. Layang Seta dan Layang Kumitir akhirnya mengaku bahwa
yang mengalahkan Adipati Menakjingga sesungguhnya Damar Wulan. Meski mereka telah
mengakui, namun tak lepas pula mereka dari hukuman. Ratu Ayu Kencana Wungu
memerintahkan prajurit untuk memenjarakan Layang Seta dan Layang Kumitir karena telah
berani berdusta kepadanya.

Ratu Ayu Kencana Wungu kemudian memberikan hadiah yang luar biasa bagi Damar Wulan.
Damar Wulan diperkenankan Ratu Ayu Kencana Wungu untuk menikahinya. Pesta
pernikahan antara Ratu Ayu Kencana Wungu dan Damar Wulan pun dilangsungkan secara
besar-besaran. Segenap rakyat Majapahit bergembira karena ratu mereka akhirnya bersuami.
Suami sang ratu adalah sosok yang terbukti besar rasa baktinya kepada Majapahit karena
berhasil mengalahkan Adipati Menakjingga yang telah memporak-porandakan kedamaian
dan ketenteraman Majapahit.

Pe