Você está na página 1de 5

2.

4 Cacat Akibat Perlakuan Panas


Proses perlakuan panas dapat menyebabkan berbagai macam cacat. Cacat
yang terjadi akibat proses perlakuan panas antara lain:
1. Segregasi
Segregasi adalah ketidakhomogenan komposisi akibat laju
pendinginan yang sangat cepat. Ada 3 macam segregasi yaitu:
a. Coring
Coring terjadi akibat komposisi di bagian tepi tidak sama dengan
komposisi di bagian tengah. Segregasi ini dapat diatasi dengan proses
homogenisasi sehingga komponen yang berlebih dapat berdifusi dan
merata di seluruh bagian benda kerja.
b. Block
Block terjadi akibat perbedaan densitas. Komponen yang
memiliki densitas yang lebih besar akan cenderung mengendap di
bawah dan komponen yang memiliki densitas lebih tinggi akan berada
di atasnya. Segregasi ini dapat diatasi dengan melakukan jolting pada
benda kerja sehingga densitasnya bisa merata di seluruh bagian.
c. Pita
Segregasi pita biasanya terjadi pada material hasil pengerolan.
Segregasi ini ditandai dengan adanya layer seperti kue lapis pada
material yang dirol.
2. Hot Shortness atau Hot Tears
Cacat ini terjadi akibat terbentuknya senyawa FeS akibat kadar Sulfur
yang berlebih pada logam. Senyawa FeS mempunyai titik leleh yang
rendah. Akibatnya saat diterapkan pengerjaan panas logam, senyawa FeS
akan mencair dan menimbulkan retakan.
3. Distorsi
Distorsi adalah perubahan bentuk atau perubahan dimensi yang terjadi
pada suatu material. Ketika material dipanaskan sampai temperatur
austenisasi dan di-quenching akan menghasilkan residual stress. Material
yang memiliki kandungan karbon yang lebih tinggi dan memiliki
perbedaan ketebalan akan menimbulkan fenomena distorsi. Semakin cepat
laju pendinginan yang diberikan dan semakin besar perbedaan ketebalan
lapisan suatu komponen akan sangat berpengaruh terhadap timbulnya
distorsi.[1]
4. Dekarburasi
Dekarburasi adalah proses keluarnya atom karbon (C) dari benda kerja
ke atmosfer. Akibat dari fenomena ini adalah kandungan karbon di dalam
benda kerja menurun sehingga kekerasan yang dihasilkan saat logam
diberi perlakuan panas dan di-quenching juga akan menurun.
5. Oksidasi
Oksidasi adalah adalah peristiwa pelepasan oksigen. Reaksi oksidasi
yang terjadi pada logam akan menyebabkan korosi. Salah satu tanda
terjadinya korosi pada logam adalah terbentuknya lapisan oksida berupa
karat (Fe2O3.xH2O) di permukaan logam.
6. Retak Rambut (Fissure)
Material yang mengalami proses martensite hardening mempunyai
resiko terjadi fissure. Struktur mikro martensit yang tampak seperti
segitiga dengan ujung-ujung yang tajam dapat mengakibatkan terjadinya
fissure. Sehingga semakin banyak fasa martensit yang terbentuk pada
suatu logam, akan semakin besar kemungkinan timbulnya fissure.
Fenomena fissure dapat diatasi dengan 3 cara yaitu:
a. Austemper
b. Inter Critical Annealing
c. Stress Relieving dengan pemanasan pada temperatur 50˚C
7. Sensitisasi
Sensitisasi adalah cacat khas yang terjadi pada Austenitic dan Nickel
alloy. Ketika paduan dipanaskan pada temperatur 900 - 1400 ºF (482 - 760
ºC) akan terbentuk chromium carbides Cr23C6 sepanjang butiran austenit.
Hal ini terjadi karena hilangnya chromium (Cr) dari butiran austenitic
sehingga menurunkan ketahanan korosi dari lapisan pasif (protective
passive film). Batas butir akan menjadi anodik dan butirnya sendiri akan
menjadi lebih katodik, sehingga batas butir akan lebih mudah terkorosi.[2]
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah sensitisasi antara lain:[2]
a. Solution heat treatment (perlakuan panas dengan menggunakan
larutan)
b. Mengurangi konsentrasi karbon atau karbon ekivalen
c. Penambahan elemen pembentuk karbida
2.5 Severity of Quench
Severity of quench adalah kemampuan quenchant untuk menyerap panas.
Semakin tinggi nilai severity of quench suatu medium pendingin, maka
kemampuannya untuk menyerap panas dari logam juga semakin tinggi, sehingga
logam akan cenderung mengalami laju pendinginan yang cepat. Laju pendinginan
yang cepat pada logam dapat menimbulkan terbentuknya fasa martensit yang
keras sehingga dapat meningkatkan nilai kekerasan suatu logam. Nilai severity of
quench dari beberapa medium pendingin adalah sebagai berikut:

Gambar 2.4 Nilai Severity of Quench dari Quenchant [3]

2.6 Diagram CCT (Continuos Cooling Transformation)


Diagram CCT berfungsi untuk mengukur tingkat transformasi fasa sebagai
fungsi waktu untuk laju pendinginan kontinu. Diagram CCT untuk baja karbon
adalah sebagai berikut:
Gambar 2.5 Diagram CCT untuk baja Hypotectoid (Kiri) Eutectoid
(Tengah) dan Hypertectoid (Kanan) [4]
Diagram CCT di atas dapat disempurnakan dengan memberikan luas daerah di
depan hidung kurva yang berbeda. Pada baja hypotectoid, daerah di depan hidung
kurva sempit dan hampir menyentuh sumbu tegak yang menunjukkan sulit
terbentuk martensit walaupun dengan menerapkan laju pendinginan yang relatif
cepat. Sedangkan pada baja hypertectoid, daerah di depan hidung kurva lebar
yang menunjukkan mudah terbentuk martensit walaupun dengan laju pendinginan
yang tidak terlalu cepat. Selain itu letak Ms semakin turun bahkan sampai Mf
berada di bawah temperatur kamar. Hal ini menunjukkan bahwa akan terbentuk
austenit sisa saat laju pendinginan selesai pada temperatur kamar.
Sitasi
[1] http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-
inyomanpri-32230
[2] http://bangkitwidayat.blogspot.co.id/2010/02/sensitisasi-korosi-batas-
butir-pada_2544.html
[3] https://www.slideshare.net/RakeshSingh125/f46b-hardenability
[4] http://slideplayer.com/slide/1716679/