Você está na página 1de 6

Identifikasi Sumber Bahaya

Identifikasi bahaya adalah dasar dari pengelolaan keselamatan kerja modern, yang
didalam perusahaan program pengelolaan ini disusun berdasarkan tingkat risiko yang ada di
lingkungan kerja. Dengan harapan dapat menghilangkan atau meminimalkan sampai batas
yang dapat diterima dan ditoleransi baik dari kaidah keilmuan maupun tuntuan hukum dari
setiap bahaya yang ada dengan kondisi bagaimanapun.

Penilaian Risiko adalah Proses mengevaluasi risiko yang muncul dari sebuah bahaya,
lalu menghitung kecukupan dari tindakan pengendalian yang ada dan memutuskan apakah
risiko yang ada dapat diterima atau tidak.

5. Komponen Pelengkap dalam Pelaksanaan Industri Minyak Goreng

Kriteria inklusi yaitu karyawan tetap bagian produksi pada stasiun pencacahan
(Digester) dan pengempaan (Presser), pemurnian (Clarifier), Nut dan Kernel yang bertugas di
pabrik pengolahan minyak goreng.

a. Stasiun Digester dan Presser


1. Pekerja pada Industri Minyak Goreng

Lama jam kerja (lembur) pada stasiun ini yaitu 9 jam kerja dimana >8 jam kerja
merupakan lama kerja yang berisiko yang mengakibatkan pada kelalaian karena
kelelahan dan mengakibatkan kecelakaan kerja (menurunnya konsentrasi kerja).

2. Lingkungan Kerja Industri Minyak Goreng

Kebisingan yang melebihi Nilai Ambang yaitu >85 dB untuk keterpaparan 8


jam/hari dapat mengakibatkan gangguan pendengaran pada pekerja jika tidak
dilakukan penanganan sedini mungkin.

Suhu iklim kerja (panas) berupa uap panas yang dikeluarkan oleh mesin Digester
serta pipa/peralatan yang panas sering kali menyebabkan luka bakar dan iritasi kulit
serius pada pekerja.
b. Stasiun Clarifier
1. Pekerja pada Industri Minyak Goreng

Lama jam kerja (lembur) pada stasiun ini adalah 12 jam kerja dimana >8 jam kerja
merupakan lama kerja yang akan menyebabkan kelelahan dan menurunnya
konsentrasi kerja.

2. Lingkungan Kerja Industri Minyak Goreng


a. Lantai dan tangga yang licin akibat tetesan minyak yang berasal dari pulp hasil
dari ekstraksi stasiun Digester dan Presser menyebabkan para pekerja dapat
terjatuh sewaktu-waktu;
b. Peralatan (mesin)/Pipa yang panas yang berpotensi menyebabkan luka bakar
pada saat bekerja;
c. Getaran mesin yang terpapar langsung pada pekerja

c. Stasiun Nut dan Kernel


Potensi bahaya kerja di Stasiun Nut dan Kernel yaitu :
1. Pekerja pada Industri Minyak Goreng
Selain lama kerja, sikap kerja yang tidak Ergonomis, pada saat menuangkan
Calsium Carbonate pada Claybath dengan cara memanjat dan salah satu tangan
memegang Claybath dan tangan satunya lagi bertumpu menahan beban berat badan.
2. Lingkungan Kerja Industri Minyak Goreng
Terkait lingkungan kerja yakni kebisingan dimana kebisingan yang sangat tinggi
terdapat pada Stasiun ini dikarenakan pengoprasian mesin Polishing Drum yang
beroprasi dan Suhu iklim kerja (panas) melebihi Nilai Ambang Batas yakni
kebisingan >85 dB untuk keterpaparan 8 jam/hari dan suhu >29°C/Hari. Berdasarkan
hasil pengukuran yang telah dilakukan kebisingan pada stasiun ini mencapai 100 dB
dan suhu iklim kerja (panas) 32°C pada keterpaparan > 8 jam kerja/hari.
Penumpukan bahan kimia dimana cara penyimpanannya di Area pengolahan
tanpa diberi dudukan sehingga bahan kimia tersebut kontak langsung dengan lantai
selain.

6. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan yang Dapat Dilakukan

6.1 Upaya Pencegahan


1. Mengetahui dan Memahami Timbulnya Penyebab Kecelakaan
Kecelakaan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan adanya sebab. Oleh
karena itu kecelakaan dapat dicegah asal kita cukup kemauan untuk mencegahnya.
Oleh karena itu pula sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk
seanjutnya dengan usaha-usaha koreksi yang ditujukan kepada penyebab kecelakaan,
maka kecelakaan dapat dicegah dan tidak terulang kembali ( Suma’mur, 1976 ).
Berdasarkan penjelasan penyebab kecelakaan kerja, maka kecelakaan terjadi
dikarenakan adanya ketimpangan dalam unsur 5M ( manusia, manajemen, material,
materi, mesin ). Maka, perlu dilakukan upaya pencegahan terhadap kemungkinan
munculnya ketimpangan dalam unsur-unsur tersebut.
2. Penerapan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perusahaan berusaha melaksanakan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
lingkungan kerja dengan tujuan untuk menetralisir bahayabahaya yang dapat
menyebabkan kecederaan, penyakit, kerusakan barang dan ledakan, serta gangguan
proses yang menghambat produksi dan hal-hal yang merusak lingkungan.
Adapun beberapa manajemen pencegahan yang dapat dilakukan adalah :
1. Kecelakaan kerja (kelelahan) : pengendalian yang digunakan adalah pengendalian
secara Administratif, berupa pengurangan jam kerja (lembur).
2. Luka bakar : pengendalian yang digunakan adalah pengendalian secara
Administratif, berupa pembuatan prosedur kerja secara aman terutama pada saat
mengoprasikan mesin dan APD, yaitu sarung tangan.
3. Luka melepuh : pengendalian yang digunakan adalah pengendalian secara
Administratif, berupa pembuatan prosedur kerja secara aman terutama pada saat
mengoprasikan alat dan APD, yaitu sarung tangan.
4. Heat exhausting : pengendalian yang digunakan adalah pengendalian secara
Administratif berupa penyediaan air galon/ cairan elektrolit setiap harinya pada
stasiun ini.
5. Kecelakaan kerja (kelelahan) : pengendalian yang digunakan adalah pengendalian
secara Administratif, berupa pengurangan jam kerja (lembur).
3. Komitmen dan Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Kerja
Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis jelas dan
mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh pekerja. Kebijakan Keselamatan dan
kesehatan kerja di perusahaan-perusahaan diwujudkan dalam bentuk wadah
Keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan dalam struktur organisasi perusahaan
seperti :
1. Advokasi sosialisasi program K3;
2. Menetapkan tujuan yang jelas;
3. Organisasi dan penugasan yang jelas;
4. Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 pada setiap unit kerja
dilingkungan perusahaan;
5. Sumberdaya yang harus didukung oleh manajemen puncak ;
6. Kajian risiko secara kualitatif dan kuantitatif;
7. Membuat program kerja K3 perusahaan yang mengutamakan upaya
peningkatan dan pencegahan;
4. Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala
Membuat, menerapkan, dan memelihara prosedur agar secara berkala dapat
dilakukan pengukuran, pemantauan, dan mengevaluasi kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan serta pengawasan dilakukan oleh intansi yang berhubungan
keselamatan dan kesehatan kerja supaya mendapatkan pengawasan yang terukur dan
tepat pada sasaran

6.2 Upaya Penanggulangan/Pengendalian

Penanggulangan kecelakaan kerja adalah intervensi terhadap injury yang dilakukan


kepada manusia, peralatan ( seperti mobil, mesin ), dan lingkungan fisik atau psikologi pada
tahap peristiwa sebelum kejadian, pada saat kejadian, dan setelah kejadian .

Control (pengendalian) adalah upaya pengendalian untuk menekan risiko menjadi


serendah mungkin. Pengendalian dilakukan secara sistematis mengikuti hirarki pengen dalian
yaitu: eliminasi, substitusi, rekayasa engineering, administrasi, dan penggunaan APD.

Program Penanggulangan Kecelakaan Industri meliputi :

a. Peraturan dan perundang-undangan


Perlunya kebijakan ataupun peraturan perundang-undangan yang dapat menjadi pedoman
bagi para pekerja untuk bekerja sesuai dengan prosedur yang ada.
b. Standarisasi
Standarisasi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian para
pekerja sehingga dapat mengurangi terjadinya resiko kecelakaan akibat human error.
c. Pengawasan
Pengawasan harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten dibidangnya, sehingga baik
kecelakaan yang disebabkan oleh human error maupun peralatan dapat diminimalisir
dengan baik.
d. Asuransi
Setiap pekerja diwajibkan untuk memiliki asuransi yang dikeluarkan dari pihak
perusahaan dimana ia bekerja. Tujuannya adalah agar para pekerja tersebut mendapatkan
jaminan kesehatan apabila terjadi kecelakaan kerja.
DAFTAR PUSTAKA

file:///C:/Users/A%20C%20E%20R/Downloads/32937-ID-analisis-manajemen-
keselamatan-dan-kesehatan-kerja-studi-evaluasi-penanggulangan.pdf

file:///C:/Users/A%20C%20E%20R/Downloads/1612-3257-1-SM.pdf

file:///C:/Users/A%20C%20E%20R/Downloads/222-53-659-1-10-20171108.pdf