Você está na página 1de 22

1.

2 PERUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan Tema makalah ini “Isi Teknik Depresiasi Aktiva Tetap” maka penulis akan
memaparkan atau membatasi masalah yang dapat dirumuskan sebagai berikut
ü Pengertian Depresiasi
ü Metode Penyusutan
ü Alasan Kenapa Aktiva Tetap Disusutkan
ü Faktor – Factor Yang Mempengaruhi Biaya Depresiasi

1.3 TUJUAN PENULISAN


ü Dapat memahami apa yang dimaksud Deprsiasi.
ü Mengetahui metode Penyusutan dalam menentukan nilai Depresiassi
ü Mengetahui alasan kenapa aktiva tetap disusutkan
ü Mengetahui faktor – factor yang mempengaruhi biaya depresiasi

I.4 METODE PENULISAN


Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode kepustakaan. Pada
zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat
pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Penulis menggunakan metode ini
karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data –
data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Depresiasi


Depresiasi adalah mengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi beban ke dalam
periode akuntansi yang menikmati manfaat dari aktiva tetap tersebut. Depresiasi juga dapat
didifinisikan yaitu sebagian dari Harga perolehan suatu aktiva berwujud yang dialokasikan
atau diakui sebagai biaya baik setiap tahun atau setiap bulan setiap periode
akuntansi. Menurut Psak No. 17 depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat
disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan ke pendapatan
baik secara langsung maupun tidak langsung.

II.2 Metode Penyusutan

Dasar penyusutan aktiva tetap adalah harga perolehan dan nilai buku. Jika setelah masa pakai
dianggap masih memiliki nilai (nilai sisa), maka dasar penyusutan adalah harga perolehan
dikurangi nilai sisa. Nilai sisa adalah taksiran harga pasar aset tetap pada akhir masa manfaat.
Beban penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penyusutan.
Ada beberapa metode penetapan nilai penyusutan yaitu;

1. Metode Garis Lurus (Straight Line)


µ Berdasarkan berlalunya waktu
µ jumlah penyusutan sama sepanjang masa manfaat
µ Beban penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penyusutan
atau Depresiasi = Hrg. Perolehan – nilai sisa .
Taksiran umur ekonomis aktiva

µ Dasar penyusutan = Harga Perolehan –Nilai Sisa


µ Contoh : Taksiran masa manfaat 5 tahun, maka tarif penyusutan = 100% : 5 = 20% per
tahun. Jika ada nilai sisa 20%, maka tarif penyusutan = (100% ‐20%) : 5 = 16% per tahun

2. Metode jam jasa (servie hours method)


µ Metode ini biasanya digunakan untuk mesin produksi dan kendaraan.
µ Dengan asumsi bahwa aktiva tersebut akan cepat rusak bila digunakan dengan waktu
penuh.
m
µ Beban penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penyusutan
atau Depresiasi = Hrg. Perolehan – nilai sisa .
Taksiran jam pemakaian total

µ Dasar penyusutan = Harga Perolehan –Nilai Sisa


Contoh : mesin dengan harga perolehan Rp. 6,000, nilai sisa Rp. 400 dengan asumsi mesin
tersebut dapat digunakan selama 10,000jam depresiasi per-jam dapat dihitung dengan cara :
Tarif Depresiasi = (Rp. 6,000 - Rp. 400) : 10,000
= Rp. 0.56/jam
Apabila pada tahun pertama mesin dipakai selama 2,000 jam maka biaya depresiasinya
adalah = 2,000 x Rp. 0.56 = Rp. 1,120

3. Metode Saldo Menurun (Declining Balance)


µ Beban penyusutan menurun sejalan dengan berlalunya waktu (dari tahun ke tahun)
µ Makin tua aset, makin berkurang kemampuan memberikan manfaat juga menurun
µ Dasar penyusutan = Nilai Buku Awal Periode
µ Nilai Buku Awal Periode = Nilai Perolehan –Akumulasi Penyusutan
µ Umumnya tarif penyusutan = 2 x tarif metode garis lurus.
4. Metode Jumlah Angka‐Angka Tahun (Sum of Years Digit)
Dasar penyusutan adalah jumlah angka tahun masa manfaat
Contoh:
o Masa manfaat 5 tahun, maka dasar penyusutan adalah 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15
o Tarif penyusutan tahun I = 5/15; Tarif penyusutan tahun II = 4 /15, dst.
o Beban Penyusutan Tahun I = 5/15 x (Harga Perolehan –Nilai Sisa)

5. Metode Nilai Produksi (Unit of Production)


µ Dasar penyusutan adalah kapasitas produksi yang dihasilkan selama aset dapat
digunakan (selama masa manfaat)
µ Tarif Penyusutan = Produksi Aktual Tahun Berjalan / Kapasitas Produksi selama masa
manfaat
Contoh:
o Tarif Penyusutan =245,000/1,000,000 x 100% = 24.5%
o Beban Penyusutan = 24.5% x (Harga Perolehan –Nilai Sisa)

Tetapi secara umum biasanya perusahaan menggunakan salah 1 dari banyak metode yang
ada, biasanya yang digunakan adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun karena
dalam perpajakan, pajak penghasilan pasal 11, metode yang boleh dalam pelaporan pajak
adalah metode garis lurus dan saldo menurun. (untik lebih jelasnya lihat peraturan atau UU
pajak penghasilan pasal 11 dan penggolongan jenis – jenis harta dalam Kep. Men. Keu. No.
138/KMK.03/2002)

Langkah‐Langkah Menghitung Penyusutan Aset Tetap


1.Susun daftar aset tetap dengan mengelompokkannya berdasarkan jenis;
2.Untuk masing‐masing jenis aset tetap tentukan masa manfaat;
3.Untuk masing‐masing aset tetap tentukan nilai sisa di akhir masa manfaat;
4.Untuk masing‐masing aset tetap hitung dasar penyusutan, yakni nilai perolehan dikurangi
prakiraan nilai sisa;
5.Susun suatu jadwal penyusutan untuk masing‐masing aset tetap;
6.Terapkan penyusutan secara berkala dengan metode garis lurus (straight line method)
CONTOH:
Sebuah notebook computer dibeli tanggal 1 Juli 2009. Harga perolehan Rp. 10 juta, nilai sisa
ditaksir 20% dari harga perolehan. Bagaimana menyusutkannya? (metode garis lurus)
Penyusutan Tahunan = (100% ‐20%) x Rp. 10 juta : 4 tahun
.= Rp. 2 juta per tahun
= Rp. 1 juta per enam bulan
II.3 Alasan Kenapa Aktiva Tetap Disusutkan
Alasan kenapa suatu perusahaan melakukan penyusutan terhadap aktiva tetapnya yaitu karena
suatu aktiva tetap yang dimiliki oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk memproduksi
barang atau jasa, memasok barang atau jasa, disewakan, atau untuk administrasi kantor di
taksir dapat digunakan lebih dari 1 periode akuntansi dan Memiliki masa manfaat yang
terbatas sehingga akan mengurangi nilai baik nilai guna, nilai pemanfaatan dan kualiatas dari
aktiva tersebut.
II.4 Faktor – Factor Yang Mempengaruhi Biaya Depresiasi
Ada beberapa Faktor – factor yang mempengaruhi biaya depresiasidiantaranya sebagai
berikut :
1. Harga perolehan (hp) adalah uang yang dikeluarkan atau hutang yang timbul dari semua
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu aktiva.
2. Nilai residu (sisa) adalah nilai suatu aktiva jika aktiva tersebut habis masa manfaatnya,
ditukar dengan aktiva lain, atau dijual. Nilai ini merupakan estimasi.
3. Taksiran umur ekonomis adalah umur kegunaan (masa manfaat) dari suatu aktiva. Nilai
ini merupakan taksiran berdasarkan cara-cara pemeliharaan dan kebijakan yang dianut oleh
perusahaan.
BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
Semua bentuk aset tetap dikenai penyusutan atau depresiasi Kecuali tanah atau lahan, aset
tetap merupakan subyek dari depresiasi atau penyusutan artinya nilai aktiva tetap selain
tanah, misalnya mobil, berkurang seiring dengan realisasi masa umur pemanfaatannya,
sampai ketika masa guna itu habis, nilai aktiva mobil yang bersangkutan adalah
nol. Depresiasijuga dapat didifinisikan yaitu sebagian dari Harga perolehan suatu aktiva
berwujud yang dialokasikan atau diakui sebagai biaya baik setiap tahun atau setiap bulan
setiap periode akuntansi.
Secara umum perusahaan dalam menentukan depresiasi biasanya menggunakan beberapa
metode penetapan nilai penyusutan yaitu; Metode Garis Lurus, Metode jam jasa, Metode
Saldo Menurun, Metode Jumlah Angka‐Angka Tahun dan Metode Nilai Produksi. Tetapi
secara umum biasanya perusahaan menggunakan salah 1 dari banyak metode yang ada,
biasanya yang digunakan adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun karena dalam
perpajakan, pajak penghasilan pasal 11, metode yang boleh dalam pelaporan pajak adalah
metode garis lurus dan saldo menurun. (untik lebih jelasnya lihat peraturan atau UU pajak
penghasilan pasal 11 dan penggolongan jenis – jenis harta dalam Kep. Men. Keu. No.
138/KMK.03/2002). Dalam menentukan suatu keputusan untuk menyusutkan aktiva tetapnya
tentu didasari dengan alasan kenapa aktiva tetap disusutkandan faktor – factor yang
mempengaruhi biaya depresiasi.

III.2 USUL DAN SARAN


Makalah ini tentunya jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu masukan serta saran dari para
pembaca sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan tersebut.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. http://id.blogspot.org/wiki/aktiva_tetap
2. www.idx akuntansi .co.id
3. www.wikipedia.com
4. www.akuntansi_keu.com
5. http://jurnal_depresiasi.blogspot
6. http://penyusutan_aktiva_tetap.blog.gunadarma.ac.id
7. http://blog.keuangandadiu.com
ihak depresiasi_aktiva_tetap
http://art-buleleng.blogspot.co.id/2013/12/makalah-depresiasipenyusutan.html

Makalah Penyusutan dan Amortisasi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang-Undang pajak penghasilan, penyusutan atau depresiasi merupakan konsep


alokasi harga perolehan harga tetap berwujud dan amortisasi merupakan konsep alokasi harga
perolehan harga tetap tidak berwujud dan harga perolehan harta sumber alam. Jadi, UU PPh
pengertian amortisasi mencakup juga pengertian depresi seperti yang dikenal dalam dunia
akuntansi keuangan. Masalah penyusutan menjadi penting karena secara langsung
menyangkut bidang investasi maupun sector industry manufacturing (manufaktur sektor
industri) yang sangat berpengaruh dalam penentuan laba perusahaan.

Suatu perusahaan tertentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan didirikannya
perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar tercapainya tujuan itu, setiap perusahaan
mempunyai aktiva (harta/asset) tertentu guna memperlancar kegiatan yang dilaksanakan
perusahaan.

Aktiva tetap merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untuk kegiatan
operasionalnya. Aktiva tetap tersebut merupakan salah satu komponen dalam
neraca, sehingga ketelitian dalam pengolahan aktiva tetap sangat berpengaruh terhadap
kewajaran penilaiannya dalam laporan keuangan.

Kewajaran penilaian aktiva tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (2009). Dalam PSAK ini dinyatakan bahwa
aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau tujuan administratif
dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Aset tetap biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun, sehingga diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam jangka waktu yang relatif lama. Namun,
manfaat yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin menurun manfaatnya
secara terus menerus, dan menyebabkan terjadi penyusutan (depreciation).

Seiring dengan berlalunya waktu, aktiva tetap akan mengalami penyusutan (kecuali tanah).
Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu aktiva tetap untuk memberikan
jasa/manfaaat yaitu : Secara fisik, disebabkan oleh pemakaian dan keausan karena
penggunaan yang berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan
kapasitas yang tersedia dengan yang diminta (misal kemajuan teknologi). Sehingga
penurunan kemampuan aktiva tetap tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya.

Masalah pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena mempengaruhi


laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Apabila menggunakan metode penyusutan yang
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi perusahaan tersebut, maka
akan mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap periode akuntansi. Selain itu juga
mempengaruhi nilai dari aktiva tetap tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1). Apa yang dimaksud dengan penyusutan dan Pajak ?

2). Bagaimana cara pengaplikasiannya dalam perusahaan ?

1.3 Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Management
Pemasaran dan ingin lebih mengetahui tentang Penyusutan dan Pajak (Amortisasi).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyusutan

Penyusutan dalam pengertian ekonomi merupakan penurunan nilai suatu benda (aset) yang
diakibatkan oleh ketuaan, kekunoan dan sebagainya yang timbul karena adanya penemuan -
penemuan baru maupun adanya keausan akibat pemakaian barang tersebut. Karena adanya
penyusutan maka benda (aset) tersebut kurang mampu melaksanakan tugasnya atau
memberikan pelayanan sebagaimana yang semula dimaksudkan. Penurunan nilai ini dikenal
dalam akuntansi praktis sebagai suatu pengeluaran operasional.

Penyusutan bukanlah proses dimana perusahaan mengakumulasikan dana/kas untuk


mengganti aktiva tetapnya. Penyusutan adalah alokasi secara periodik dan sistematis dari
harga perolehan aktiva selama periode-periode berbeda yang memperoleh manfaat dari
penggunaan aktiva bersangkutan. Akumulasi penyusutan adalah bukan sebuah dana
pengganti aktiva, melainkan jumlah harga perolehan aktiva yang telah dibebankan (melalui
pemakaian) dalam periode-periode sebelumnya.

Penyusutan umumnya terjadi ketika aktiva tetap telah digunakan dan merupakan beban bagi
periode dimana aktiva dimanfaatkan. Penyusutan dilakukan karena masa manfaat dan potensi
aktiva yang dimiliki semakin berkurang. Akibat adanya pemakaian aktiva dalam aktivitas
perusahaan, aktiva tetap juga harus disusutkan seiring berlalunya waktu dimana terjadi
perubahan teknologi. Perubahan teknologi yang cenderung makin canggihakan
mengakibatkan suatu aktiva mudah menjadi usang dibandingkan aktiva sejenis yang
mengalami inovasi teknologi yang lebih canggih.

2.2 Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Beban Penyusutan

Untuk memperoleh besarnya beban penyusutan periodik secara tepat dari pemakaian suatu
aktiva, ada 4 faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu nilai perolehan aktiva (asset cost),
nilai residu atau nilai sisa (residual or salvage value), umur ekonomis (economic life), dan
pola pemakaian (pattern of use).

1) Nilai perolehan aktiva (asset cost)

Nilai perolehan suatu aktiva mencakup seluruh pengeluaran yang terkait dengan
perolehannya dan persiapannya sampai aktiva dapat digunakan. Disamping harga beli,
pengeluaran-pengeluaran lain yang diperlukan untuk mendapatkan dan mempersiapkan
aktiva harus disertakan sebagai harga perolehan. Nilai perolehan ini yang sifatnya obyektif,
dikurangi dengan estimasi nilai residu (jika ada), adalah merupakan dasar harga perolehan
aktiva yang dapat disusutkan. Dikatakan obyektif karena sifatnya dapat diuji oleh siapapun
dan menghasilkan nilai yang sama. Nilai yang sama ini dapat dibuktikan melalui dokumen
pengeluaran kas yang mendukungterjadinya transaksi perolehan aktiva tetap, termasuk
pengeluaran lainnya yang dibutuhkan sampai aktiva siap digunakan dan ini mencerminkan
nilai pasar pada saat aktiva diperoleh.

2) Nilai residu atau nilai sisa (residual or salvagevalue)

Merupakan nilai realisasi pada saat aktiva tidak dipakai lagi. Dengan kata lain, ini
mencerminkan nilai estimasi dimana aktiva dapat dijual kembali ketika aktiva tetap tersebut
dihentikan dari pemakaiaannya (pada saat estimasi masa manfaat aktiva berakhir). Besarnya
estimasi nilai residu ini sangat tergantung pada kebijakan management mengenai penghentian
aktiva tetap dan kondisi pasar serta faktor lainnya. Penentuan besarnya nilai residu bersifat
subyektif dimana sangat tergantung pada kebijakan manajemen dari masing-masing
perusahaan.

3) Umur ekonomis (economic life)

Suatu periode/umur fisik dimana perusahaan dapat memanfaatkan aktiva tetapnya (masa
manfaat) dan sebagai jumlah unit produksi (output) atau jumlah jam operasional (jasa) yang
diharapkan diperoleh dari aktiva. Karena faktor fisik maupun fungsional, aktiva tetap selain
tanah memiliki umur ekonomis yang terbatas. Faktor-faktor fisik yang membatasai umur
ekonomis suatu aktiva mencakup pemakaiaan, penurunan nilai (berhubungan dengan
berlalunya waktu, dimana suatu aktiva tetap baik digunakan atau tidak digunakan akan
mengalami penurunan nilai), dan kerusakan (berupa kebakaran, banjir, gempa bumi /
kecelakaan yang cenderung mengurangi atau mengakhiri usia manfaat suatu aktiva). Faktor
fungsional yang membatasi umur aktiva adalah keusangan (obsolescence). Manfaat aktiva
dapat hilang/berkurang sebagai akibat dari perubahan teknologi. Meskipun aktiva secara fisik
masih dapat digunakan namun perubahan teknologi yang kian cepat akan secara otomatis
memperpendek masa kegunaannya. Contohnya komputer, perubahan teknologi yang cepat
sering menyebabkan barang elektronik tersebut menjadi usang sebelum aktiva itu sendiri
rusak.

4) Pola pemakaian (pattern of use)

Jika aktiva yang digunakan (dalam proses) menciptakan besarnya pendapatan yang bervariasi
maka aktiva tersebut juga seharusnya disusutkan secara bervariasi mengikuti pola kontribusi
aktiva terhadap penciptaan pendapatan. Besarnya beban penyusutan akan bervariasi setiap
periodenya sesuai dengan jasa/kontribusi yang diberikan aktiva. Namun dalam prakteknya,
faktor pemakaiaan ini sering kali diabaikan dalam menghitungbesarnya beban penyusutan
periodik mengingat sulitnya dalam mengidentifikasi pola pemakaiaan dimaksud.

2.3 Harta Yang Disusutkan

Tidak semua harta dapat disusutkan. Berdasarkan ketentuan Standar Akuntansi keuangan,
untuk dapat disusutkan harta tersebut harus memenuhi kriteria tertentu. Kriteria tersebut
antara lain:

1) Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntasi


2) Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas

3) Ditahan oleh perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang
dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Sedangkan menurut Pasal 11 UU No.36 Tahun 2008, harta yang dapat disusutkan adalah
semua harta yang berwujud yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki
untuk memperoleh penghasilan, mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, kecuali
tanah. Dengan demikian menurut pajak harta yang dapat disusutkan harus memenuhi kriteria
sebagai berikut:

1) Harta berwujud yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan untuk


memperoleh penghasilan.

2) Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

Dalam penjelasan UU juga dinyatakan bahwa harta berwujud berupa tanah tidak boleh
disusutkan, kecuali apabila tanah yang digunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk
memperoleh penghasilan berkurang nilanya karena penggunaan, misalnya tanah digunakan
untuk membuat genteng, keramik atau batu bata.

2.4 Dasar Penyusutan


Dasar penyusutan antara akuntansi komersial dan akuntansi pajak adalah sama. Dasar
penyusutan antara SAK adalah harga perolehan aktiva tetap, ditambah dengan beban yang
dapat dikapitalisasi pada perolehan tersebut.
Menurut Pasal 10 dan 11 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, dasar penyusutan adalahharga
perolehan yakni pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan atau
perubahan harta berwujud kecuali tanah, yang dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Sedangkan yang termasuk dalam harga perolehan adalah harga beli dan biaya yang
dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut seperti: bea masuk, biaya
pengangkutan, dan biaya pemasangan.

2.5 Penggolongan Harta Tetap Yang Dapat Disusutkan


Harta tetap berwujud yang dapat disusutkan digolongkan menjadi dua golongan, yaitu
(1) golongan harta bukan bangunan dan (2) harta golongan bangunan. Golongan harta
berwujud bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu :
1).Kelompok 1: Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 4
tahun.
2).Kelompok 2: Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat 8
tahun.
3).Kelompok 3: Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat
16 tahun.
4).Kelompok 4: Kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa manfaat
20 tahun.
Sedangkan golongan harta berwujud berupa bangunan terdiri dari 2 (dua) kelompok,
yaitu :
1).Kelompok bangunan permanen yang mempunyai masa manfaat 20 (dua puluh) tahun.
2).Kelompok bangunan tidak permanen yang mempunyai masa manfaat 10 (sepuluh) tahun.

2.6 Jenis-jenis Penyusutan


Penurunan nilai dari benda modal ini berlangsung bersamaan dengan berlalunya waktu dan
dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.Penyusutan fisik adalah penyusutan yang disebabkan oleh berkurangnya kemampuan fisik
dari benda modal untuk menghasilkan produksi. Umumnya dikarenakan keausan (dalam
penggunaan) yang menyebabkan biaya operasional dan pemeliharaan meningkat sedang
produksi menurun. Penyusutan ini terutama tergantung pada waktu dan penggunaan. Nilai
yang hilang yang disebabkan oleh karena penggunaan bangunan dan pengaruh dari alam.
b.Penyusutan fungsional adalah penurunan nilai yang disebabkan oleh berkurangnya fungsi
dari benda modal, keusangan / kekunoan. Penurunan fungsi kegunaan bangunan dengan
kriteria tingkat efisiensi kepuasan keinginan, dan kebutuhan pasar.
c.Penyusutan Eksternal (Ekonomi) adalah nilai yang hilang yang disebabkan oleh pengaruh
dari luar properti. Ada dua kategori sumber, yaitu:
1). Kemunduran lokasi : Disebabkan oleh lingkunan disekitar properti subjek, contoh polusi
dan kebisingan.
2). Kemunduran ekonomi : Disebabkan kondisi ekonomi, contoh kenaikan tingkat bunga,
kelebihan penawaran jenis property tertentu.

2.7 Metode Dan Tarif Penyusutan


Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi penyusutan, yaitu:
1).Metode langsung
a).Metode umur hidup rasio perbandingan antara umur efektif properti subjek dengan total
umur ekonomis properti pembanding terhadap total biaya pembuatan/penggantian baru.
b).Metode umur ekonomis dengan modifikasi. Dilakukan dengan memisahkan antara
penyusutan yang dapat diperbaiki (curable) dan yang tidak dapat diperbaiki (incurable).
c).Metode terinci (Breakdown Method). Metode perhitungan yang menyeluruh & detail
dengan melakukan kalkulasi terhadap komponen-komponen bangunan secara terinci .
2).Metode tidak langsung
a).Metode Ekstrasi Pasar Berbasis selisih antara nilai transaksi penjualan properti sejenis
dikurangi nilai tanahnya dengan biaya pembuatan/penggantian kembali properti pada tanggal
penilaian.
b).Metode Kapitalisasi Pendapatan Menghitung nilai properti dengan
mengkapltalisasi pendapatan bersih dari subjek properti lalu dikurangi dengan nilai tanah
diperoleh nilai bangunan. Hasil ini dibandingkan dengan biaya membangun baru.

Ada beberapa perbedaan metode penyusutan menurut Standar Akuntansi Keuangan dan
menurut Undang-undang pajak. Menurut SAK metode penyusutan yang diperbolehkan pada
dasarnya dibagi kedalam 3 kelompok, yaitu :

1) Berdasarkan waktu.

2) Berdasarkan penggunan.

Pemilihan metode yang digunakan untuk menyusutkan harta harus dilakukan secara
konsisten.

Gambar dibawah ini adalah sebagai metode penyusutan aktiva tetap kecuali tanah seperti
yang dinyatakan dalam Persyaratan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 17:

1. Berdasarkan waktu:
1) Metode garis lurus (straight-line)
2) Metode saldo menurun/saldo menurun ganda (declining/double
declining balance)
2. Berdasarkan penggunaan:
· Metode jam-jasa (service-hours)
· Metode jumlah unit produksi (productive-output)

Sedangkan metode penyusutan yang boleh digunakan menurut Undang-undang pajak adalah
metode garis lurus dan metode saldo menurun. Berikut penjelasan kedua metode yang boleh
digunakan dan tarif penyusutan yang ditetapkan.

2.7.1 Metode Garis Lurus


Penyusutan dengan metode ini dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar
selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tetap yang bersangkutan. Sebagaimana,
bahwa harta tetap berwujud menurut pajak digolongkan menjadi dua, yaitu :
1).Harta golongan bukan bangunan.
2). Harta golongan bangunan.
Masing-masing golongan masih dibagi menjadi bebarapa kelompok, setiap kelompok
mempunyai manfaat yang berbeda-beda.
Setiap kelompok ditetapkan tarif pajaknya sesuai dengan manfaat ekonomis harta yang
bersangkutan. Untuk harta golongan bukan bangunan, tarif penyusutannya adalah 25% untuk
kelompok 1 (satu), 12,5% harta kelompok 2 (dua), 6,25% harta kelompok 3 (tiga), dan 5%
untuk harta kelompok 4 (empat). Sedanngkan tarif untuk harta golongan bangunan permanen
5% dan bangunan tidak permanen tarifnya 10% dari harga perolehan.
Contoh :
Pada awal bulan Januari 2008 dibeli aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp
100.000.000.
Berdasarkan estimasi manejemen, aktiva ini diperkirakan memiliki umur ekonomis selama 5
tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 5.000.000 pada akhir tahun kelima. Berapa beban
penyusutan periodiknya ?
Jawab :
Rumus = Harga perolehan – Estimasi nilai residu
Estimasi masa manfaat
= 100.000.000 – 5.000.000
5 tahun
= Rp 19.000.000 /tahun

Akhir Beban Akumulasi


Nilai Buku Akhir
Tahun Penyusutan Penyusutan
2008 19.000.000 19.000.000 100.000.000
2009 19.000.000 38.000.000 81.000.000
2010 19.000.000 57.000.000 62.000.000
2011 19.000.000 76.000.000 43.000.000
2012 19.000.000 95.000.000 5.000.000

2.7.2 Metode Saldo Menurun


Penyusutan harta tetap berwujud dengan metode saldo menurun dilakukan dalam bagian-
bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas dasar nilai buku harta.
Metode penyusutan ini hanya boleh diterapkan untuk harta berwujud golongan bukan
bangunan. Tarif penyusutan harta tetap juga didasarkan pada masa manfaat harta yang
bersangkutan. Untuk harta bukan bangunan kelompok 1 (satu) tarif penyusutannya adalah
50%, kelompok 2 (dua) 25%, kelompok 3 (tiga) 12,5% dan kelompok 4 (empat) 10%. Nilai
sisa buku pada akhir masa manfaat harta tetap berwujud harus disusutkan sekaligus.
Gambar dibawah adalah metode penyusutan dan tarif penyusutan harta tetap berwujud, secara
ringkas.
TARIF PENYUSUTAN
KELOMPOK MASA
GARIS SALDO
HARTA BERWUJUD MANFAAT
LURUS MENURUN
I.BUKAN BANGUNAN
* KELOMPOK 1 4 TAHUN 25% 50%
* KELOMPOK 2 8 TAHUN 12,5% 25%
* KELOMPOK 3 16 TAHUN 6,25% 12,5%
* KELOMPOK 4 20 TAHUN 5% 10%
II. BANGUNAN
* PERMANEN 20 TAHUN 5%
*TIDAK PERMANEN 10 TAHUN 10%

2.7.3 Metode Saldo Menurun Ganda


Metode ini menghasilkan suatu beban penyusutan periodik yang menurun selama estimasi
umur ekonomis aktiva. Jadi, metode ini pada hakekatnya sama dengan metode jumlah angka
tahun dimana besarnya beban penyusutan akan menurun setiap tahunnya. Beban penyusutan
periodik dihitung dengan cara mengalihkan suatu tarif prosentase (konstan) ke nilai buku
aktiva yang kian menurun. Besarnya tarif penyusutan yang umum dipakai adalah dua kali
tarif penyusutan garis lurus, sehingga dinamakan sebagai metode saldo menurun ganda.
Aktiva tetap dengan estimasi masa manfaat 5 tahun akan memiliki tarif penyusutan saldo
menurun ganda 40%, sedangkan aktiva tetap dengan estimasi masa manfaat 10 tahun akan
memiliki tarif penyusutan garis lurus 10% dan tarif penyusutan saldo menurun ganda 20%
dan seterusnya.
Contoh :
Sebuah peralatan dengan harga perolehan Rp 410.000.000 disusutkan selama 5 tahun. Nilai
sisa peralatan ini setelah akhir masa manfaat diperkirakan adalah Rp 10.000.000. Buatlah
tabel penyusutan lengkap jika digunakan metode penyusutan saldo menurun ganda
Jawab :
Tarif penyusutan = 2 x 1 x 100% = 40%
5

Beban Akumulasi
Akhir Tahun Nilai Buku Akhir
Penyusutan Penyusutan
- - 410.000.000
1 164.000.000 164.000.000 246.000.000
2 98.400.000 262.400.000 147.600.000
3 59.040.000 321.440.000 88.560.000
4 35.424.000 356.864.000 53.136.000
5 43.136.000 400.000.000 10.000.000

2.7.4 Metode Jam-jasa


Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva (terutama mesin-mesin) akan lebih cepat
rusak bila digunakan sepenuhnya (full time). Dalam cara ini beban penyusutan dihitung
dengan dasar satuan jam jasa. Beban penyusutan periodik besarnya akan sangat tergantung
pada jam jasa yang terpakai (digunakan).
Contoh :
Mesin dengan harga perolehan Rp 600.000 nilai sisa Rp 40.000 ditaksir dapat digunakan
selama 8.000 jam. Depresiasi per jam dapat dihitung sebagai berikut :
Jawab :
Rumus = Harga perolehan – Estimasi nilai residu
Taksiran jam-jasa
= 600.000 – 40.000 = Rp 70
8.000 jam
Apabila dalam tahun pertama mesin tersebut digunakan selama 3.000 jam, maka
beban depresiasinya = 3.000 x Rp 70 = Rp 210.000

Tahun Jam Kerja Debet Kredit Total Nilai


Mesin Depresiasi Akumulasi Akumulasi Buku
Depresiasi Depresiasi
0 600.000
1 3.000 210.000 210.000 210.000 390.000

2 2.500 175.000 175.000 385.000 215.000

3 1.500 105.000 105.000 490.000 110.000

4 1.000 70.000 70.000 560.000 40.000

8.000 560.000 560.000

2.7.5 Metode Jumlah Unit Produksi


Dalam metode ini umur kegunaan aktiva ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil produksi.
Beban penyusutan dihitung dengan dasar satuan hasil produksi, sehingga penyusutan tiap
periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi hasil produksi.
Contoh :
Mesin dengan harga perolehan Rp 600.000 nlai sisa Rp 40.000 ditaksir dapat digunakan
selama umur penggunaan akan menghasilkan 56.000 unit produk. Depresiasi per unit dapat
dihitung sebagai berikut :
Jawab :Rumus = Harga perolehan – Estimasi nilai residu
Hasil produksi /unit
= 600.000 – 40.000 = Rp 10
56.000
Apabila dalam tahun pertama mesin tersebut menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban
depresiasinya = 18.000 x Rp 10 = Rp 180.000

Tahun Jam Debet Kredit Total Nilai


Kerja Depresiasi Akumulasi Akumulasi Buku
Mesin Depresiasi Depresiasi

600.000

1 18.000 180.000 180.000 180.000 420.000

2 16.000 160.000 160.000 340.000 260.000


3 12.000 120.000 120.000 460.000 140.000

4 10.000 100.000 100.000 560.000 40.000

56.000 560.000 560.000


2.8 Saat Dimulainya Penyusutan
Menurut akuntani sebagaimana disebutkan pada PSAK No. 17, penyusutan dimulai pada
bulan takwin dimana aktiva tetap yang bersangkutan mulai digunakan. Pembebanan
akuntansi berdasarkan bulan penuh. Jika dalam bulan bersangkutan jumlah hari kurang dari
15 hari dibulatkan ke bawah (diabaikan) dan jika lebih dari 15 hari dibulatkan menjadi satu
bulan penuh.
Sedangkan menurut peraturan perpajakan, pada dasarnya penyusutan dimulai pada bulan
dilakukan pengeluaran, kecuali harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutan
dimulai pada tahun selesainya pengerjaan harta tersebut (Pasal 11 ayat (3) UU No.36/2008).
Namun berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal pajak, saat mulai penyusutan dapat
dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan atau pada tahun harta tersebut mulai menghasilkan (Pasal 11 ayat (4) UU
No.36/2008). Sesuai dengan Undang-undang, saat mulai menghasilkan dikaitkan dengan saat
mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.
Misalnya, PT X membangun sebuah gedung pada pertengahan tahun 2008 dan selesai pada
tanggal 1 Agustus 2009, maka penyusutan dilakukan mulai bulan Agustus 2009.

2.9 Menghitung Penyusutan

Dalam menghitung penyusutan, rumus umum yang digunakan adalah:

Tarif Penyusutan x Harga Perolehan atau Nilai Sisa Buku

Beberapa hal yang menentukan besarnya tarif penyusutan adalah :

1) Jenis harta

2) Kelompok harta

3) Masa manfaat

4) Metode penyusutan
Perhitungan penyusutan dengan metode saldo menurun pada saat pertama kali disusutkan,
dasar pengenaan tarif penyusutan adalah dari Harga Perolehan, sedangkan dasar untuk tahun-
tahun berikutnya adalah dari Nilai Sisa Buku.

2.10 Penarikan Harta Tetap Berwujud Dari Pemakaian

Harta tetap yang digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan ada kalanya
dihentikan walaupun masa manfaat harta yang bersangkutan belum habis. Penghentian harta
tetap dapat disebabkan karena masa manfaatnya sudah habis, karena rusak, ataupun alasan
lain, misalnya perusahaan ingin mengganti harta yang lebih modern, atau perusahaan
mengalihkan hartanya kepada pihak lain.

Berikut ini ketentuan-ketentuan penting dalam hal ada penghentian harta tetap dari
pemakaian, maupun pengalihan harta tetap kepada pihak lain.Penarikan atau pengalihan harta
tetap berwujud dari pemakaian diakibatkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

a. Harta tetap dialihkan kepada pihak lain sebagai pengganti penyertaan modal,
misalnya perseroan, persekutuan, dan badan lainnya.

b. Harta tetap dialihkan kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota oleh sebuah
perusahaan perseroan, persekutuan dan badan lainnya.

c. Harta tetap dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan, peleburan,


pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha.

d. Harta tetap dialihkan karena hibah, bantuan atau sumbangan kepada pihak yang
mempunyai hubungan istimewa (karena keturunan) atau dialihkan kepada badan keagamaan
atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk koperasi sepanjang tidak mempunyai
hubungan dengan usaha, pekerjaaan, kepemilikan atau penguasaan anatar pihak-pihak yang
bersangkutan.

e. Properti dialihkan karena alasan lain, seperti properti yang dijual atau dibakar.

Pada dasarnya keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenakan pajak
dalam tahun dilakukannya pengalihan harta. Apabila harta dijual atau terbakar, maka
penerimaan neto dari penjualan, yaitu selisih antara harga penjualan dengan biaya yang
dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau penggantian asuransinya
dilakukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau tahun diterimanya
penggantian asuransi, dan nilai sisa buku dari harta tersebut dibebankan sebagai kerugian
dalam tahun pajak yang bersangkutan. Dalam hal penggantian asuransi yang diterima
jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian, Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian
tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi. Secara ringkas perlakukan
pajak karena pengalihan harta adalah sebagai berikut:
a. Nilai buku harta yang ditarik dari pemakaian diperlukan sebagai kerugian pada saat
penarikan.

b. Jumlah penerimaan bersih dari hasil penjualan harta tetap atau ganti rugi yang
diterima dari perusahaan asuransi diakui sebagai penghasilan tahun terjadinya atau tahun
diterimanya penggantian asuransi.

Dikecualikan dari ketentuan di atas, jika aset dipindahkan dalam bentuk bantuan,
hibah atau sumbangan ke pihak terkait lainnya karena keturunan (semenda dalam silsilah
keluarga langsung), dan badan keagamaan, atau lembaga pendidikan atau entitas sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi Dengan tidak adanya hubungan apapun dengan bisnis,
pekerjaan, kepemilikan atau kontrol dari pihak-pihak yang terkait, jumlah buku harta benda
yang disumbangkan tidak akan dikenakan biaya sebagai bagian yang hilang dari pemindahan.

2.11 Ketentuan Lain Berkaitan Dengan Penyusutan Aktiva Tetap

Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan penyusutan menurut fiskal
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor:KEP-220/PJ./2002 yang mulai
berlaku 18 April adalah :

1. Telepon Seluler (Hand Phone) yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk
pegawai tertentu karena jabatannya atau pekerjaan.

a. Harga perolehan, termasuk kelompok I dapat dibebankan sebesar 50%-nya melalui


penyusutan.

b. 50% dari jumlah biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan
dalam tahun yang bersangkutan dapat dikurangkan.

2. Kendaraan bus, mini bus, atau yang sejenisnya yang dimiliki dan dipergunakan
perusahaan untuk antar jemput pegawai.

a. Harga perolehan atau biaya perbaikan besar, dapat dibebankan seluruhnya melalui
penyusutan fiskal kelompok II.

b. Biaya pemeliharaan, perbaikan rutin, bahan bakar dan sebagainya dapat dibebankan
seluruhnya.

3. Kendaraan sedan dan sejenisnya yang dimiliki dan dipergunakan oleh perusahaaan
untuk pegawai tertentu karena jabatannya atau pekerjaannya.

a. Harga perolehan/pembelian atau perbaikan besar, dapat dibebankan sebesar 50%


melalui penyusutan kelompok II.

b. 50% jumlah biaya pemeliharaan, perbaikan rutin, bahan bakar dapat dibebankan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat
yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan dari aset tersebut
semakin berkurang. Pengurangan nilai aset dibebankan secara bertahap.

Semua bentuk aset tetap dikenai penyusutan atau depresiasi Kecuali tanah atau lahan, aset
tetap merupakan subyek dari depresiasi atau penyusutan artinya nilai aktiva tetap selain
tanah, misalnya mobil, berkurang seiring dengan realisasi masa umur pemanfaatannya,
sampai ketika masa guna itu habis, nilai aktiva mobil yang bersangkutan adalah nol.
Depresiasi juga dapat didifinisikan yaitu sebagian dari Harga perolehan suatu aktiva
berwujud yang dialokasikan atau diakui sebagai biaya baik setiap tahun atau setiap bulan
setiap periode akuntansi.

Secara umum perusahaan dalam menentukan depresiasi biasanya menggunakan beberapa


metode penetapan nilai penyusutan yaitu; Metode Garis Lurus, Metode jam jasa, Metode
Saldo Menurun, Metode Jumlah Angka‐Angka Tahun dan Metode Nilai Produksi. Tetapi
secara umum biasanya perusahaan menggunakan salah 1 dari banyak metode yang ada,
biasanya yang digunakan adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun karena dalam
perpajakan, pajak penghasilan pasal 11, metode yang boleh dalam pelaporan pajak adalah
metode garis lurus dan saldo menurun. (untik lebih jelasnya lihat peraturan atau UU pajak
penghasilan pasal 11 dan penggolongan jenis – jenis harta dalam Kep. Men. Keu. No.
138/KMK.03/2002). Dalam menentukan suatu keputusan untuk menyusutkan aktiva tetapnya
tentu didasari dengan alasan kenapa aktiva tetap disusutkan dan faktor – factor yang
mempengaruhi biaya depresiasi.

3.2 Saran

Masalah pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena mempengaruhi


laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Apabila menggunakan metode penyusutan yang
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi perusahaan tersebut, maka akan
mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap periode akuntansi. Yang perlu diingat
bahwa manajemen dapat memilih satu atau lebih metode yang dianggap paling sesuai. Dan
bila sudah menetapkan satu metode, harus ditetapkan secara konsisten, sepanjang masa
penggunaan aktiva yang bersangkutan, sehingga laporan keuangan dari periode ke periode
dapat diperbandingkan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hery, S.E., M.Si. 2011. Akuntansi Aktiva, Utang, dan Modal. Jakarta: Penerbit
Gava Media.

2. Ahmad Syafi’i Syakur. April 2015. Intermediate Accounting Dalam Perspektif Lebih
Luas Edisi Revisi. Jakarta: Pembuka Cakrawala.

3. Trihastuti. 2009. Metode Penyusutan Aktiva


Tetap.https://trihastutie.wordpress.com/2009/07/20/metode-penyusutan-aktiva-tetap/. 20 Juli
2009.

4. Dae Uchu. 2016. Makalah Perencanaan Pajak Untuk Penyusutan Aset


Tetap.http://daeuchu.blogspot.co.id/2016/03/makalah-perencanaan-pajak-untuk.html. 25
Maret 2016.

http://rizal-fathoni-pemasaran.blogspot.co.id/2016/04/makalah-penyusutan-dan-
amortisasi.html

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Aset Tetap atau Aktiva Tetap dalam akuntansi adalah aset berwujud yang dimiliki
untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada
pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari
satu periode. Jenis aset tidak lancar ini biasanya dibeli untuk digunakan untuk operasi dan
tidak dimaksudkan untuk dijual kembali. Contoh aset tetap antara lain adalah properti,
bangunan, pabrik, alat-alat produksi, mesin, kendaraan bermotor, furnitur, perlengkapan
kantor, komputer, dan lain-lain.
Beban –beban selama masa penggunaan aktiva tetap seperti Reparasi dan
pemeliharaan, Penggantian, Penambahan , Depresiasi aktiva tetap. Aset tetap biasanya
memperoleh keringanan dalam perlakuan pajak. Semua bentuk aset tetap dikenai penyusutan
atau depresiasi Kecuali tanah atau lahan, aset tetap merupakan subyek dari depresiasi atau
penyusutan artinya nilai aktiva tetap selain tanah, misalnya mobil, berkurang seiring dengan
realisasi masa umur pemanfaatannya, sampai ketika masa guna itu habis, nilai aktiva mobil
yang bersangkutan adalah nol. Secara umum perusahaan dalam menentukan depresiasi
biasanya menggunakan metode penetapan nilai penyusutan yang dapat digunakan untuk
menghitung nilai penyusutan dari suatu aktiva tetap.

B. RUMUSAN MASALAH
Apa Pengertian Depresiasi
Apa saja Metode Penyusutan
Faktor – Factor Yang Mempengaruhi Depresiasi

C. TUJUAN MAKALAH
Dapat memahami apa yang dimaksud Deprsiasi.
Mengetahui metode Penyusutan dalam menentukan nilai Depresiassi
Mengetahui alasan kenapa aktiva tetap disusutkan
Mengetahui faktor – factor yang mempengaruhi biaya depresiasi

1.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DEPRESIASI

Depresiasi adalah mengalokasian harga perolehan aktiva tetap menjadi beban ke


dalam periode akuntansi yang menikmati manfaat dari aktiva tetap tersebut. Depresiasi juga
dapat didifinisikan yaitu sebagian dari Harga perolehan suatu aktiva berwujud yang
dialokasikan atau diakui sebagai biaya baik setiap tahun atau setiap bulan setiap periode
akuntansi. Menurut Psak No. 17 depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat
disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan ke pendapatan
baik secara langsung maupun tidak langsung.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN DEPRESIASI

Harga pokok / perolehan (HP) Adalah jumlah uang atau yang dapat disetarakan dengan
uang yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu aktiva yang diperlukan.
Nilai residu /sisa (NR) Adalah jumlah yang dapat diterima jika kativa tetap tersebut dijual,
ditukar atau cara lain ketika aktiva tetap tersebut sudah tidak digunakan dikurangi biaya yang
terjadi saat menjual atau menukar.
Umur Ekonomis (UE) atau manfaat Adalah umur kegunaan (masa manfaat) dari suatu
aktiva. Nilai ini merupakan taksiran jangka waktu/periode berdasarkan cara-cara
pemeliharaan dan kebijakan yang dianut oleh perusahaan.
Masa manfaat aktiva tetap dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor
fungsional. Faktor fisik adalah faktor yang mengurangi fungsi dari aktiva tetap. Sedangkan
faktor fungsional yaitu faktor yang membatasi umur dari aktiva tetap.

C. METODE PENYUSUTAN/ DEPRESIASI

Metode berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang
terdiri dari : metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo
menurun ganda.
Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode metode jam jasa dan metode
jumlah unit produksi.
Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis
kelompok, metode analisis, metode system persediaan.
Namun kebanyakan diindonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan
dalam prakteknya berikut adalah 3 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karna
mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi. Berikut diantaranya adalah :
2.
1. Metode Garis Lurus (Straight Line)
Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang
penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang
sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi.
Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh
perusahaan perusahaan di indonesia. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode
penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak
terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya, semisal bangunan, peralatan
kantor dll
Rumus Garis Lurus = Harga Perolehan –
Nilai Residu .
Umur Ekonomis
CONTOH : Sebuah mesin pabrik mempunyai harga beli sebesar Rp. 55.000.000,00.
Diperkirakan mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp
5.000.000,-. Maka penyusutan per tahunnya adalah ?
Jawab : Dik : HP = Rp 55.000.000 NR = Rp. 5.000.000 UE = 5 tahun
Penyusutan = (Rp. 55.000.000,00 – Rp.
5.000.000,00)
5
= Rp. 10.000.000,00
2. Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ]
Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat
terbesarnya pada periode awal masa penggunaan, dan akan mengalami penurunan fungsi
yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aset tetap yang
berkurang. jadi semakin lama penggunaan aset tetap maka kontribusinya akan menurun
dalam operasional perusahaan. Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap
dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan, contohnya
mesin produksi.
Rumus Saldo Menurun = [(100%/umur ekonomis) x 2] x Nilai Perolehan atau Nilai
Buku
Contoh : Sebuah mesin dibeli tanggal 2 Januari 2010 dengan harga Rp 16.000.000 dan
ditaksir dapat digunakan selama 5 tahun. Penyusutan tahun 2010, 2011, dan 2012 dapat
dihitung :
Jawab : Dik : Nilai Buku = Rp. 16.000.000 UE : 5 tahun
Tarif/prosentase penyusutan = 2 x (100% : 5) = 40%
Penyusutan tahun 2012 = 40% x Nilai Buku
= 40% x Rp 16.000.000
= Rp 6.400.000
3.
Penyusutan tahun 2013 = 40% x Nilai buku awal tahun 2012
= 40% x (Rp 16.000.000 – Rp 6.400.000)
= Rp 3.840.000
Penyusutan tahun 2014 = 40% x Nilai buku awal tahun 2003
= 40% x (16.000.000 -6.400.000 - 3.840.000)
= Rp 2.304.000
Note : Nilai buku pada tahun 2014 dikurangi penyusutan asset tahun sebelum-sebelumnya ,
untuk tahun setelahnya cara pengerjaannya sama , hingga 5 tahun masa pengoprasian mesin
tersebut. Dan saat pencatatan, jurnal nya adalah sama dengan metode garis lurus, cuma
beda di angka saja.
Catatan Tambahan : Dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ini, jumlah
angka penyusutan tiap tahunnya, ini menunjukkan dan memperlakukan asset tetap bahwa
asset tetap (khususnya mesin) memperlihatkan kinerja terbaiknya, dalam hal sumbangsih
manfaat asset tetap terhadap perusahaan berada pada saat awal awal asset tetap tersebut
digunakan, semakin lama semakin menurun kinerja asset tetap tersebut.
3. Metode Jumlah Angka Tahun | Sum of The Years Digit Method
Pada dasarnya, Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun
mempunyai dasar konsep yang mirip dengan konsep metode penyusutan saldo menurun.
Metode jumlah angka tahun merupakan penyusutan dipercepat berdasar pada pertimbangan
biaya maintenance (perawatan) serta perbaikan aktiva tetap semakin lama cenderung
bertambah seiring pertambahan usia aktiva tetap itu sendiri.
Dalam menentukan tarif penyusutan aset tetap dalam bentuk pecahan yang diitung
dengan cara: Pembilang (numerator) menggunakan angka tahun dimulai tahun yang terbesar
ke tahun terkecil. Penyebut (denumerator) adalah jumlah angka tahun.
Contoh : jika umur ekonomis aset adalah selama 4 tahun maka penyebut bilangan (angka)
pecahannya adalah jumlah angka tahun yaitu 1 + 2 + 3 + 4 = 10. Angka pembilang tahun ke-1
hingga tahun ke-4 masing-masing adalah 4,3,2, dan 1. Tarif penyusutan tahun ke-1 adalah
4/10, tahun ke-2 adalah 3/10, tahun ketiga 2/10 serta terakhir tahun keempat 1/10.
Contoh soal penyusutan metode jumlah angka tahun :
Pada tanggal 2 Januari 2016, PT Flora membeli sebuah mesin untuk meningkatkan
produksinya, Harga perolehan Mesin Sebesar Rp 135.000.000,00 dengan taksiran
nilai residu/sisa (salvage value) sebesar Rp 15.000.000,00, dan ditaksir, mesin tersebut hanya
mampu berproduksi sampai dengan 4 tahun?

4.
Jawab : Dik Hp : Rp. 135.000.000 NR: Rp. 15.000.000
Dasar Penyusutan : Harga Perolehan – Nilai Residu
JAT: 1 + 2 + 3 + 4 = 10
Dasar Penyusutan : Rp 135.000.000,00 - Rp 15.000.000,00 = Rp 120.000.000,00
Tahun Tarif Dasar Penyusutan Penyusutan
1. 4/10 Rp. 120.000.000,00 Rp. 48,000,000.00
2 3/10 Rp. 120.000.000,00 Rp. 36,000,000.00
3 2/10 Rp. 120.000.000,00 Rp. 24,000,000.00
4 1/10 Rp. 120.000.000,00 Rp. 12,000,000.00

Pencatatan: Jurnalnya sama saja dengan metode garis lurus ataupun saldo menurun.
31 Desember 2014
Debit | Depreciation Rp48.000.000
Kredit | Akumulated
Depreciation Rp48.000.000
Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya
31 Desember 2015
Debit | Depreciation Rp36.000.000
Kredit | Akumulated
Depreciation Rp36.000.000
5.
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Depresiasi : penurunan dalam nilai fisik property seiring dengan waktu dan penggunaannya.
Dalam konsep akuntansi depresiasi : pemotongan tahunann terhadap pendapatan sebelum
pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai asset dapat terwakili dalam laporan
keuangan suatu perusahaan
Terdapat beberapa metode metode dalam perhitungan depresiasi sebagai berikut :
1. Metode garis Lurus
2. Metode Declining Balance (DB)
3. Metode Sum-Of-the-years-digit (SYD)
4. Metode Declining Balance dengan Peralihan ke Garis Lurus
5. Metode Unit Produksi
Tetapi dalan ke 5 metode perhitungan depresiasi yang sering digunakan adalah metode garis
lurus karna metode ini paling mudah di aplikasikan .
https://didiwdiana.blogspot.co.id/2016/04/makalah-depresiasi.html