Você está na página 1de 7

Penggabungan Badan Usaha atas dasar Pembelian (By Purchase)

apabila di dalam suatu kombinasi usaha dari dua atau lebih badan usaha, di mana bagian yang terpenting dari
pemilikan perusahaan atau perusahaan-perusahaan yang diperoleh itu dieliminasikan. Atau apabila penggabungan
badan usaha tersebut berakibat para pemilik perusahaan yang bergabung tidak lagi ikut berpartisipasi secara
substansil di dalam perusahaan tunggal yang dibentuk. Dengan lain perkataan sebagai akibat kombinasi usaha itu
terjadi (timbul) suatu pemilikan baru. Penggabungan demikian disebut sebagai penggabungan atas dasar
pembelian.
Ada beberapa faktor untuk menentukan sampai seberapa jauh adanya suatu pemilikan baru atau penerusan dari
pemilikan lama di dalam suatu kombinasi usaha:
a. Apabila saham-saham yang diterima oleh beberapa pemilik dari perusahaan yang terdahulu tidak secara
substansial sebanding dengan kepentingannya pada perusahaan terdahulu, maka dianggap adanya pemilikan baru
atau pembelian atas perusahaan lama.
b. Apabila bagian-bagian hak suara yang ada di antara perusahaan yang tergabung itu berubah secara material
melalui pengeluaran hak pemilikan yang lebih utama (senior equity) atau debt securities dibatasi (tidak ada) hak
suara, maka merupakan petunjuk adanya suatu pembelian.
c. Apabila ada suatu rencana (maksud) yang pasti untuk menarik bagian terpenting dari modal saham yang
dikeluarkan kepada para pemilik dari satu atau lebih perusahaan yang bergabung. Atau ada perubahan substansial
di dalam pemilikan yang terjadi segera sebelum atau akan terjadi segera sesudah kombinasi. Hal ini merupakan
kecenderungan adanya kombinasi dalam bentuk pembelian.
d. Apabila manajemen dari salah satu perusahaan yang bergabung itu dieliminasika, atau pengaruhnya terhadap
manajemen secara keseluruhan perusahaan-perusahaan sedemikian kecil, maka merupakan petunjuk adanya
pembelian.

Prosedur Akuntansi Penggabungan Badan Usaha atas dasar Pembelian (by Purchase)
Apabila suatu kombinasi usaha dianggap suatu pembelian maka harta kekayaan yang diperoleh dalam transaksi
penggabungan harus dicatat dalam buku-buku usaha yang memperolehnya atas dasar harga perolehannya (at cost)
yang diukur dengan uang. Atau dalam hal pembayaran tidak dilakukan secara tunai, harus diukur dengan
menilainya secara wajar sesuai dengan kejadiannya, atau dengan nilai yang wajar dari harta kekayaan yang
bersangkutan, mana yang paling jelas dapat dibuktikan.
Dengan kata lain perkataan apabila suatu kombinasi usaha dianggap sebagai pembelian, harus dipakai dasae
pencatatan terhadap aktiva yang diperoleh sebagaimana halnya pada prosedur pencatatan dalam pembelian
aktiva.

Contoh 5 :
Berikut ini adalah neraca PT Danny, PT Hanny dan PT Sanny pada tanggal 1 Juli 1997.
PT Danny PT Hanny PT Sanny
(Rp) (Rp) (Rp)
Aktiva lain-lain ……………….. 150.000.000,00 93.750.000,00 75.000.000,00
Jumlah aktiva……………... 150.000.000,00 93.750.000,00 75.000.000,00
Hutang ………………………… 56.250.000,00 30.000.000,00 26.250.000,00
Modal saham (nominal@ Rp 50.000,00) 75.000.000,00 - -
………………………
Modal saham (nominal@ Rp - 37.500.000,00 -
100.000,00)………………………
Modal saham (nominal@ Rp 50.000,00) - - 37.500.000,00
………………………
Agio saham ……………………. 26.250.000,00 11.250.000,00 7.500.000,00
Laba yang ditahan (Defisit)…… (7.500.000,00) 15.000.000,00 3.750.000,00
Jumlah hutang & modal….. 150.000.000,00 93.750.000,00 75.000.000,00
Pada saat posisi keuangan masing-masing seperti tersebut di atas para pemegang saham
bersepakat untuk mengadakan penggabungan badan usaha. Untuk maksud tersebut, PT Danny
yang akan tetap merumuskan usaha-usahanya bersedia membeli kekayaan bersih PT Hanny dan
PT Sanny. Sebagai alat pembayaran PT Danny akan mengeluarkan modal sahamnya yang pada
tanggal tersebut mempunyai harga pasar @ Rp 50.000,00/lembar. Penilaian kembali terhadap
harga kekayaan PT Hanny dan PT Sanny sesuai dengan persetujuan bersama mengakibatkan
kenaikan kekayaan bersih PT Hanny sebesar rp 11.250.000,00 kekayaan bersih PT Sanny sebesar
Rp 7.500.000,00.
Jumlah saham PT Danny yang akan dikeluarkan sesuai dengan kontribusi kekayaan bersih
setelah diadakan penilaian kembali, masing-masing untuk para pemegang saham PT Hanny dan
PT Sanny dihitung sebagai berikut:

PT Hanny PT Sanny Jumlah


(Rp) (Rp)
Jumlah aktiva (nilai buku) 93.750.000,00 75.000.000,00 168.000.000,00
Jumlah kenaikan nilai aktiva 11.250.000,00 7.500.000,00 18.750.000,00
jumlah aktiva (penilaian) 105.000.000,00 82.500.000,00 187.500.000,00
jumlah hutang (per buku) 30.000.000,00 26.250.000,00 56.250.000,00
Jumlah kekayaan bersih 75.000.000,00 56.250.000,00 131.250.000,00
Jumlah saham yang harus
dikeluarkan (kekayaan bersih dibagi 1500 lembar 1.125 lembar 2.625 lembar
Rp 50.000,00)

Sedang jurnal untuk mencatat pemilikan aktiva dan pengakuan hutang PT Hanny dan PT Sanny
serta pengeluaran 2.625 lembar saham oleh PT Danny, dan penerimaan modal saham PT Danny
serta pembagiannya kepada para pemenang saham PT Hanny dan PT Sanny, menurut konsep
penggabungan badan usaha yang dinyatakan sebagai by purchase masing-masing adalah sebagai
berikut :

Sedang jurnal untuk mencatat pemilikan aktiva dan pengakuan hutang PT Hanny dan PT Sanny serta pengeluaran
2.625 lembar saham oleh PT.Danny, dan penerimaan modal saham PT Danny serta pembagiannya kepada para
pemegang saham PT Hanny dan PT Sanny, menurut konsep penggabungan badan usaha yang dinyatakan sebagai
berikut:

Transaksi Buku-buku PT Danny Buku-buku PT Hanny Buku-buku


PT Sanny
Pemilikan Aktiva Rp 187.500.000 - -
aktiva, lain-lain
pengakuan (penilaian)
hutang-hutang
Hutang Rp 56.250.000
dan pengeluaran
Transaksi Buku-buku PT Danny Buku-buku PT Hanny Buku-buku
PT Sanny
Modal Saham
oleh PT Danny Modal Rp 131.250.000
Saham
Penyerahaan Saham- Rp 75.000.000 Saham- Rp 56.250.000
kekayaan bersih saham PT saham PT
dan penerimaan Danny Danny
saham-saham
dari PT Danny Hutang- Rp 30.000.00 Hutang- Rp 26.250.00
hutang hutang
oleh PT Hanny
dan PT Sanny Aktiva Aktiva
Rp 93.750.000 Rp 75.000.000
serta pencatatan
atas laba Laba Rp 11.250.000 Laba Yang Rp 7.500.000
kenaikan nilai Yang Ditahan
kekayaan Ditahan
(penilaian
kembali)
Pembagian Modal Rp 37.500.000 Modal Rp 37.500.000
saham-saham saham saham
PT Danny
kepada para Agio Agio
pemegang Modal Rp 11.250.00 Modal Rp 7.500.00
saham saham
saham PT
Hanny dan PT Laba Yang Laba Yang
Rp 26.250.000 Rp 11.250.000
Sanny dan Ditahan Ditahan
menutup
rekening- Saham- Saham-
rekening Hak- saham PT Rp 75.000.000 saham PT Rp 56.250.0
hak para Danny Danny
pemegang
saham.
PT Hanny: Tiap
pemegang 1 lbr .Terdiri .Terdiri
dengan 4 lbr dari: dari:
saham PT -Saldo -Saldo
sebelum sebelum
Danny
penilaian penilaian
PT Sanny: Tiap kembali
Rp 15.000.000
kembali
Rp 3.750.000
pemegang 1 lbr -Laba -Laba
dengan 1,50 lbr penilaian penilaian
saham PT kembali kembali
Danny Jumlah Rp 11.250.000 Jumlah Rp 7.500.000

Rp 26.250. 000 Rp 11.250.000

PT Danny
Neraca, per 1 Juli 1979
Aktiva
Aktiva lain – lain …………………………………………………… Rp 337.500.000,00
Jumlah Aktiva ………………………………………………. Rp 337.500.000,00
Hutang & Modal
Hutang ……………………………………………………………… Rp 112.500.000,00
Modal Saham ……………………………….......Rp 206.250.000,00
Agio Saham …………………………………….Rp 26.250.000,00
Laba Yang Ditahan (Defisit) …………………...(Rp 7.500.000,00
Rp 225.000.000,00
Jumlah Hutang & Modal ……………………………. Rp 337.500.000,00

Contoh 6 :
Apabila dalam penggabungan PT Danny, PT Hanny dan PT Sanny pada contoh no. 5 di
muka ditentukan sebagai berikut :
Penggabungan badan usaha, dilakukan dengan membentuk perusahaan yang sama sekali
baru, dengan nama PT Satria.
Penilaian kembali terhadap harta kekayaan PT Danny tidak mengakibatkan kenaikan
maupun penurunan kekayaan bersih serta posisi keuangannya. Sedang penilaian kembali
terhadap harta kekayaan PT Hanny dan PT Sanny tetap berlaku sebagaimana pada contoh
no. 5
Sebagai pembayarannya atas kekayaan bersih yang dikontribusikan oleh PT Danny, PT
Hanny, dan PT Sanny, akan dikeluarkan modal saham PT Satria dengan ketentuan satu
lembar saham untuk tiap – tiap kekayaan bersih yang diserahkan sebesar Rp 50.000,00

Dengan bertitik tolak dari ketentuan-ketentuan di atas, maka banyaknya saham yang harus
dikeluarkan oleh PT. Satria dalam transaksi penggabungan badan usaha tersebut, serta
alokasinya kepada masing-masing perusahaan yang terdahulu dapat dihitung sebagai berikut :
PT Danny PT Hanny PT Sanny Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Jumlah aktiva (menurut150.000.000,00 105.000.000,00 82.500.000,00 337.500.000,00
penilaian) ( 56.250.000,00) ( 30.000.000,00) (26.250.000,00) (112.500.000,00)
Jumlah Hutang
Jumlah kekayaan bersih yang93.750.000,00 75.000.000,00 56.250.000,00 225.000.000,00
diserahkan

Jumlah saham yang harus1.875 lbr 1.500 lbr 1.125 lbr 4.500 lbr
PT Danny PT Hanny PT Sanny Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
dikeluarkan (Kekayaan bersih
dibagi Rp. 50.000,00)

Menurut Konsep penggabungan badan usaha yang dinyatakan sebagai pembelian (by purchase),
transaksi tersebut di atas oleh PT Satria akan dicatat dalam jurnal seperti tersebut di bawah ini
(masing-masing jika dinyatakan) :
Nilai nominal saham PT Satria Rp. 45.000,00 per lembar
Nilai nominal saham PT Satria Rp. 35.000,00 per lembar
Nilai nominal saham PT Satria Rp. 25.000,00 per lembar

Transaksi (a) (b) (c)


Nominal Saham PT Nominal Saham PT Nominal Saham PT
Satria Satria Satria
Rp. 45.000,00 Rp. 35.000,00 Rp. 25.000,00
Pemilikan aktiva danAktiva lain-lainAktiva lain-lainAktiva lain-lain
pengakuan hutang-(Penilaian) Rp.(Penilaian) Rp.(Penilaian) Rp.
hutang PT Danny PT337.500.000,00 337.500.000,00 337.500.000,00
Hanny dan PT Sunny
serta pengeluaran sahamHutang-hutang Rp.Hutang-hutang Rp.Hutang-hutang Rp.
112.500.000,00 112.500.000,00 112.500.000,00
sebanyak 4500 lembar
Modal Saham RpModal Saham RpModal Saham Rp
202.500.000,00 157.500.000,00 112.500.000,00
Agio Saham RppAgio Saham RppAgio Saham Rpp
22.500.000,00 67.500.000,00 112.500.000,00

Dalam hal penggabungan badan usaha dinyatakan sebagai penggabungan by purchase,


tidak ada masalah khusus yang dihadapi oleh PT Satria di dalam mencatat aktiva yang
diperolehnya dalam transaksi tersebut. Sebagaimana biasanya dalam pemilikan aktiva
dengan cara pertukaean modal saham sendiri, maka nilai pasar aktiva tersebut atau nilai
kurs modal saham dipakai sebagai dasar pencatatan.
Bagi perusahaan-perusahaan terdahulu, pencatatan yang perlu dengan terjadinya
penggabungan perusahaan tersebut adalah yang bersangkutpaut dengan penerimaan
saham-saham dari perusahaan yang dibentuk atau perusahaan yang tetap melanjutkan
usahanya, serta membagikan saham-saham itu kepada para pemilik (pemegang saham).
Jika dasar pertukaran kekayaan bersih yang diserahkan oleh masing-masing perusahaan
seakain daripada nilai bukunya, maka laba (rugi) yang timbul dalam pertukaran harus
diakui dan dicatat untuk menentukan hak-hak para pemegang sahamnya.
Penggabungan Badan Usaha atas Dasar Penyatuan Kepentingan (by pooling of interest)
Dari segi akuntansi penggabungan bada usaha atas dasar penyatuan kepentingan (by
pooling of interest) terjadi apabila :
Pada suatu kombinasi usaha dari dua atau lebih badan usaha, di mana pemegang-
pemegang dari bagian penting atas pemilikan masing-masing dalam badan usaha itu
menjadi pemilik dari badan usaha yang kemudian memiliki harta kekayaan dan usaha-
usaha dari perusahaan-perusahaan yang bergabung, baik secara langsung atau melalui
satu atau lebih anak perusahaan.

Beberapa factor lain yang merupakan petunjuk adanya penggabungan badan usaha yang
bersifat penyatuan kepentingan dapat dikemukakan sebagai berikut :
Badan usaha yang tunggal itu dapat berupa satu di antara perusahaan yang bergabung
atau badan usaha yang tunggal itu dapat berupa suatu badan usaha yang dibentuk sama
sekali baru.
Sesudah kombinasi usaha dilakukan, kekayaan bersih dadri semua badan usaha yang
bergabung (pada umumnya) akan dipegang oleh badan usaha tunggal tersebut)

Namun demikian kelangsunagan adanya satu atau lebih perusahaan dalam suatu hubungan anak terhadap
perusahan –perusahaan lainnya atau terhadap badan usaha yang baru tersebut. Tidak menghalangi bentuknya
kombinasi usaha sebagai penyatuan kepenringan (pooling of interest).
Hal ini dapat terjadi apabila didalam kombinasi usaha tersebut tidak ada lagi minority interest yang berarti dan
apabila pertimbangan yuridis,fiskal atau pertimbangan ekonomis tertentu merupakan alasan penting untuk
mempertahankan adanya subsidiary tersebut.
Di samping itu masih banyak faktor- faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk dapat mengambil kesimpulan
apakah suatu kombinasi usaha merupakan suatu “penyatuan kepentingan” ataukah merupakan suatu
“pembelian”sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
Prosedur akuntansi – penggabungan badan usaha atas dasar “penyatuan kepentingan” (pooling of interst )
Apabila kombinasi usaha dianggap sebagai suatu “pooling of interest” maka tidak diperlukan dasar dasar baru
tentang accountabilitynya.
Dalam hal ini kekayaan yang diperoleh dari badan- badan usaha yang bergabung jika tekah dinyatakan sesuai
dengan prinsip –prinsip akuntansi dan telah diadakan penyesuaian dengan tepat 9bila dianggap perlu )untuk
menempatkan suatu aktiva pada suatu dasar pencatatan akuntansi yang uniform harus diteruskan pada buku buku
badan usaha yang memperoleh aktiva tersebut.
Gabungan saldo laba yang tidak dibagi atau defisit jika ada dari badan usaha yang bergabung juga harus diteruskan,
kecuali apabila ditentukan sebaliknya oleh di undang undang atau pengaturan mengenai badan usaha. Didalam
konsep pooling of interest yang mencakup adanya penggabungan dari surplus dan defisit dari perusahaan
yangbergabung itu, tidak tepat dan bahkan akan menyesatkan apabila defisit dari salah satu perusahaan yang
bergabung dihapuskan dengan capital surplusnya dan membukukan terus saldo laba yang tidak dibagi dari badan
usaha lain nya yang bergabung.
Menurut konsep pooling of interest, badan usaha yang baru dianggap sebagai kelanjutan dari semua badan usaha
yang digabung,baik dalam bentuk suatu badan usaha yang tunggal maupun sebagai induk perusahaan dengan satu
atau beberapa anak perusahaan.
Oleh sebab itu apabila ada satu atau lebih dari badan usaha yang bergabung itu tetap melanjutkan eksistensinya
dalam suatu bentuk hubungan efiliasi dan terdapat persyaratan –persyaratan untuk adanya pooling of interest
maka gabungan atas saldo laba yang tidak dibagi di dalam neraca konsolidasi adalah merupakan keharusan .
Dalam hal pooling in interest bukan merupakan suatu perolehan (ecquisation ), maka laba yang ditahan dari
perusahaan anak yang ada sebelum terjadinya perolehan, tidak boleh merupakan bagian laba yang ditahan yang
konsolidasikan.
Demikian halnya apabila sebelum ada rencana mula mula untuk mengadakan kombinasi, satu kelompok yang
kemudian dikombinasikan itu diperoleh oleh kelompok lain sebagai subsidiary, yang dalam hal ini dianggap bukan
sebagai pooling of interest , maka bagian kepentingan dari perusahana induk atas laba yang ditahan dari subsidiary
sebelum terjadi nya pembelian tidak boleh dimasukan sebagai laba yang ditahan dari gabungan badan badan usaha
tersebut.
Oleh karena banyak macam faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pooling of interest maka tidak mungkin untuk
menguraikan bagaimana perlakuan akuntansinya secara detail.