Você está na página 1de 4

11.

1 Sifat Penggabungan Usaha

 Horizontal integration, adalah penggabungan perusahaan-perusahaan dalam lini usaha


atau pasar yang sama, misalnya perusahaan consumer product bergabung dengan
perusahaan consumer product juga.
 Vertical integration, adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan dengan operasi
yang berbeda, secara berturut-turut, tahapan produksi dan atau distribusi yang sama,
misalnya Merck & Co salah satu produsen obat terbesar, mengakuisisi Medco
Containment Services, Inc, distributor obat-obatan dokter. Penggabungan usaha secara
integrasi vertikal ini diharapkan dapat mengurangi biaya pengiriman obat-obatan ke
pasar
 Conglomeration, adalah penggabungan perusahaan-perusahaan dengan produk dan atau
jasa yang tidak saling berhubungan dan bermacam-macam. Suatu perusahaan melakukan
diversifikasi untuk mengurangi risiko yang ada pada lini usaha tertentu, atau untuk
mengimbangi perubahan penghasilan, seperti kegunaan akuisisi pada perusahaan
manufaktur.

11.2 Bentuk Penggabungan Usaha

Ada tiga bentuk utama penggabunan usaha secara legal.


1. Legel merger (merger) adalah penggabungan usaha dimana hanya aka nada satu
perusahaan yang bertahan dari berbagai perusahaan yang bergabung dan perusahaan
lainnya dibubarkan. Asset dan kewajiban perusahaan yang diambil alih ditransfer ke
perusahaan yang mengambil alih dan perusahaan yang diambil alih tersebut bubar atau
dilikuidasi. Operasional dari masing-masing perusahaan yang sebelumnya merupakan
perusahaan terpisah terpisah dilanjutkan ke dalam entitas tunggal yang tetap bertahan
setelah terjadinya merger.
2. Legal konsolidasi (konsolidasi) adalah penggabungan usaha dimana kedua perusahaan
yang melakukan penggabungan usaha langsung dibubarkan dan asset swrta kewajiban
dari kedua perusahaan ditransfer ke perusahaan yang baru dibentuk. Operasi dari masing-
masing perusahaan yang sebelumnya merupakan perusahaan terpisah dilanjutkan ke
dalam entitas tunggal yang baru dan tidak ada perusahaan yang bergabung bertahan
setelah konsolidasi. Namun, di banyak situasi, perusahaan yang dihasilkan tersebut

1
hanya bentuknya saja yang baru, sedangkan secara substansi sebenarnya merupakan
salah satu dari perusahaan yang bergabung namun berdiri kembali dengan nama baru.
3. Akuisisi saham terjadi ketika sebuah perusahaan mengakuisisi saham berhak suara
perusahaan lain dan perusahaan-perusahaan yang terlibat tersebut melanjutkan operasi
perusahaannya sebagai entitas legal terpisah, namun saling terkait. Karena tidak ada
perusahaan yang dilikuidasi, maka perusahaan yang mengakuisisi memperlihatkan hak
kepemilikan yang diperoleh sebagai investasi. Dalam saham, perusahaan yang mengambil
alih tidak perlu mendapatkan seluruh saham perusahaan lain untuk memperoleh
pengendalian. Hubungan yang terjadi dalam hal akuisisi saham disebut hubungan induk
anak perusahaan, induk perusahaan adalah perusahaan yang memiliki kendali atas
perusahaan lain yaitu anak perusahaan, biasanya melalui kepemilikan mayoritas saham
biasa. Untuk kepentingan pelaporan keuangan kepublik, induk dan anak perusahaan
menyajikan laporan kaeuangan konsilidasi seolah-olah merupakan satu perusahaan
tunggal.

11.3 Konsep Akuntansi Dari Penggabungan Usaha

 Menurut Accounting Principles Board Opinion No.16, penggabungan usaha terjadi


apabila suatu perusahaan digabungkan dengan satu atau lebih perusahaan lain dalam satu
entitas akuntansi. Entitas tunggal tersebut tetap melaporkan aktivitas perusahaan yang
sebelumnya terpisah secara independen.
 Konsep akuntansi untuk penggabungan usaha menekankan pada penciptaan entitas
tunggal dan independensi perusahaan-perusahaan yang terlibat sebelum terjadi
penggabungan.
 Penggabungan usaha, saat satu perusahaan mentransfer aset bersihnya keperusahaan lain,
dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Akan tetapi, dalam setiap kasus perusahaan
pengakuisisi harus memperoleh semua aset bersih. Dengan cara lain, setiap perusahaan
yang bergabung dapat mentransfer aset bersihnya ke perusahaan baru yang dibentuk.
Karena perusahaan baru tidak mempunyai aset bersih sendiri, perusahaan tersebut
mengeluarkan saham kepada perusahaan lain yang bergabung, kepada para pemegang
saham, atau pemiliknya.

11.4 Akuntansi Penggabungan Badan Usaha Metode Pembelian

2
Ide utama yang mendasari akuntansi penggabungan usaha metode pembelian adalah
ide yang sama dengan yang mendasari pembelian aset atau kelompok aset dalam pertukaran
kepemilikan. Dalam akuntansi, perubahan kepemilikan merupakan suatu kejadian yang
memerlukan perubahan dalam dasar akuntansi. Sebagaimana transaksi pembelian lain dalam
akuntansi, pembelian suatu usaha yang berjalan mengakibatkan perubahan kepemilikan dari
penjual ke pembeli, dan akuntansi si pembeli didasarkan pada nilai wajar dari aset dan
kewajiban yang diakuisisi, bukan didasarkan nilai buku si penjual.
Pembelian suatu perusahaan pada dasarnya sama dengan pembelian aset atau
kelompok lain. Ketika suatu aset dibeli, “konsiderasi” diberikan sebagai ganti untuk hak
kepemilikan atau aset yang dibeli. Sama juga, ketika suatu perusahaan dibeli, “konsiderasi”
diberikan sebagai ganti untuk hak kepemilikan yang diserahkan oleh pemilik perusahaan
yang diakuisisi. Pada saat aset dibeli, pembeli mencatat aset sebesar biaya perolehan yang
timbul untuk mengakuisisi aset tersebut. Biaya perolehan biasanya ditentukan berdasarkan
nilai wajar aset yang diakuisisi atau nilai wajar “konsiderasi” yang diberikan. Jika
sekelompok aset dibeli untuk satu harga beli, total biaya perolehan harus dialokasikan ke
masing-masing aset yang diakuisisi berdasarkan nilai wajarnya. Prinsip yang sama diterapkan
untuk pembelian perusahaan sama seperti pembelian aset secara individual atau kelompok
aset.
PSAK 22 tentang “Akuntansi untuk penggabungan Usaha” menjelaskan prosedur
akuntansi yang saat ini diterapkan untuk transaksi penggabungan usaha di Indonesia.
Semua penggabungan usaha yang dimulai setelah 30 Juni 2001 harus dicatat dengan
metode pembelian berdasarkan FASB Statement No. 141. Standar baru menggantikan APB
Opinion No. 16, “Business Combination”, dan menggantikan atau mengubah berbagai
penafsiran standar sebelumnya. Namun, FASB dengan jelas mempertahankan semua APB
Opinion No. 16 kecuali metode penyatuan kepemilikan untuk penggabungan usaha.
Secara umum, metode pembelian mengikuti prinsip akuntansi yang sama dalam
pencatatan penggabungan usaha seperti yang diikuti dalam akuntansi untuk aktiva-aktiva dan
kewajiban-kewajiban berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Biaya
perolehan bagi entitas pembeli untuk memperoleh perusahaan lain dalam suatu
penggabungan usaha diukur dengan jumlah kas yang dikeluarkan atau nilai wajar aktiva lain
yang didistribusikan atau surat berharga yang diterbitkan. Biaya per-olehan jugameliputi
biaya langsung penggabungan selain dari biaya-biaya untuk pendaftaran atau penerbitansurat
berharga ekuitas. Biaya-biaya pendaftaran dan penerbitan surat berharga ekuitas
yangditerbitkan dalam suatu penggabungan se-cara pembelian dibebankan sebesar nilai wajar
3
surat-surat berharga yang diterbit-kan, biasanya sebagai pengurangan tambahan modal
disetor. Biaya-biaya tidak langsung seperti gaji manajemen, penyusutan, dan sewa tidak
diakui sebagai biayaperolehan tetapi dibebankan pada saat terjadinya baik berdasarkan
metode penyatuan maupunpembelian. Biaya-biaya yang terjadi untuk menutup fasilitas-
fasilitas duplikasi ada-lah biayatidak langsung dan harus dibebankan

11.5 Akuntansi Penggabungan Badan Usaha Metode Penyatuan Kepemilikan

Ide utama yang mendasari penyatuan pemilikan adalah kebalikan dari pembelian-
adanya kepemilikan yang berlanjut. Metode ini mengasumsikan bahwa pemilk dari
perusahaan yang bergabung menjadi pemilikan dari perusahaa hasil gabunga. Adanya
keberlanjutan kepemilikan mengharuskan penyatuan kepemilikan hanya dilakukan oleh satu
perusahaan dalam dasar akuntansi yang diharuskan.
Dengan demikian, nilai buku dari kedua perusahaan akan dibawa. Walaupun akuntansi
pembelian mengakui adanya muhibah (goodwill) ketika harga beli melebihi nilai wajar dari
asset bersih, penyatuan kepemiikan tidak mengakui adanya goodwill karena tidak harga beli,
hanya nilai buku terbawa yang diakui. Selain itu, penyatuan kepemilikan mengakibatkan
terbawanya saldo laba semua semua perusahaan yang bergabung sedangkan dalam metode
pembelian berhubungan dengan pembelian asset dan kewajiban tetapi mengakui saldo laba
tidak dapat dibeli.
Metode penyatuan kepemilikan didasakan pada premis kelanjutan kepemilikan, dalam
penyajian laporan keuangan komparatif yang disajikan setelah penyatuan kepemilikan, untuk
periode sebelum penggabungan perusahaan-perusahaan yang digabungkan seolah-olah sudah
bergabung. Walaupun metode penyatuan kepemilikan tidak lagi diperbolehkan digunakan,
pengguna metode ini pada tahun-tahun sebelumnya sebelum metode tersebut dihapuskan
membuat pengaruh dari metode ini masih terlihat di tahun-tahun mendatang.
Manajemen lebih menyukai metode penyatuan kepemilikan karena tidak mencatat
nilai asset tetap pada nilai wajar yang lebih besar sehingga beban penyusutan menjadi lebih
rendah pada metode penyatuan kepemilikan dan mengakibatkan laba menjadi lebih besar.