Você está na página 1de 37

BAB 1

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG PENULISAN JUDUL

Telah kita ketahui UUD 1945 merupakan konstitusi sah Negara Republik Indonesia UUD
1945 berisi tentang kekuasaan, tugas dan wewenang, hak dan kewajiban Lembaga Negara dan
Rakyat Indonesia. Salah satu Lembaga Negara adalah Lembaga Kepresidenan dimana
lembaga ini terdiri dari Presiden dan wakil presiden. Dengan berkembangnya zaman dari masa
ORBA dan masa ORLA, pada masa reformasi UUD 1945 terjadi perubahan. Sebanyak empat
kali amandemen dan salah satu perubahan itu terjadi pada Lembaga Kepresidenan.

Pada dasarnya tatanan struktur kenegaraan sangat diperlukan supaya pemerintah dapat
berjalandengan baik. Tatanan struktur kenegaraan dapat dilihat dari ranah hukum publik yang
akan dibahas dalam Hukum Tata Negara dimana didalam terdapat aturan, cara dan adat
istiadat yang berlaku. Suatu Organisasi kekuasaan yang biasa disebut Negara selalu ada organ
atau alat perlengkapan yang mempunyai kemampuan dan wewenang untuk melaksanakan
kehendaknya kepada siapapun yang ada di wilayahnya. Dalam Teori Fiksi Hukum (Legal
Fiction Theory) disebut bahwa suatu Negara dianggap telah memiliki konstitusi semenjak
Negara itu terbentuk. Oleh karena itu sumber utama Negara adalah konstitusi dimana salah
satu makna dari konstitusi itu adalah UUD.

Tatanan struktur kenegaraan berisi aturan, cara, dan adat istiadat yang berlaku Suatu
Negara dianggap telah memiliki konstitusi sejak Negara itu dibentuk. Di Indonesia UUD 1945
dijadikan sebagai landasan Konstitusional yang menjelaskan mengenai tugas dan wewenang
aparat pemerintah. Dan juga UUD 1945 sebagai konstitusi dan ciptaan manusia perlu diadakan
amandemen atau perubahan untuk pasal-pasal yang kurang sesuai dengan perkembangan
zaman.

2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam menyusun makalah ini,antara lain :


1. Agar supaya dapat mengetahui arti penting Amandemen UUD 1945.

2. Agar supaya dapat mengetahui alasan dan kesepakatan Amandemen UUD 1945.

~1~
3. Agar supaya dapat mengetahui sejarah Amandemen UUD 1945.

4. Agar supaya dapat mengetahui tujuan dibuatnya Amandemen UUD 1945.

5. Mengetahui tugas-tugas maupun wewenang Lembaga Kepresidenan sebelum dan


sesudah UUD 1945 diamandemen.

3. MANFAAT PENULISAN

1. Lebih dapat memahami arti penting amandemen UUD 1945.

2. Lebih dapat memahami alasan dan kesepakatan amandemen UUD 1945.

3. Lebih dapat memahami sejarah Amandemen

4. Lebih dapat memahami tujuan dibuatnya Amandemen UUD 1945

5. Lebih dapat memahami tugas-tugas maupun wewenang Lembaga Kepresidenan


sebelum dan sesudah UUD 1945 diamandemen.

4. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk mempermudah pemahaman atas materi-materi yang dibahas dalam makalah ini
maka berikut ini akan diuraikan secara garis bedar isi dari masing-masing bab berikut sebagai
berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang serta permasalahan yang akan
dibahas. Juga diuraikan tentang tujuan, manfaat penelitian dan sistematika penulisan yang
digunakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi teori-teori yang mendukung keadaan yang akan diteliti yaitu

BAB III KAJIAN ATAU TELAAHAN

Pada bab ini berisikan pengolahan dari data yang telah dikumpulkan dan melakukan
analisis serta evaluasi dari data yang telah diolah untuk menyelesaikan masalah

~2~
BAB IV KAJIAN EMPIRIS

Pada bab ini berisikan data sekunder dalam pembahasa Amandemen empiris diperoleh
dengan menggunakan studi kepustakaan atau literatur, penelusuran internet, klipping koran
serta penelusuran sejarah terjadinya UUD 1954 Amandemen dari berbagai sumber.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan, serta saran-saran
untuk pembahasan selanjutnya yang memiliki kaitan erat dengan pembahasan ini serta pihak-
pihak yang berkepentingan.

~3~
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ARTI PENTING AMANDEMEN UUD 1945


Secara etimologis, amandemen berasal dari Bahasa Inggris : ” TO AMEND” diartikan
sebagai TO MAKE BETTER, TO REMOVE THE FAULTS. Selanjutnya amandement diartikan
sebagai A CHANGE FOR THE BETTER, A CORRECTION OF ERROR.
Sementara itu, dalam istilah pengertian ketatanegaraan (US Convention) amendment
adalah an addition to, or a change of a constitution or an organic act which is a pendent
to the document rather than intercalated in the text (Smith and Zurcher 1966:14).
Menurut Sujatmiko, amandemen yang pokok itu tidak serampangan dan merupakan hal
yang serius. Konstitusi itu merupakan aturan tertinggi bernegara. Beliau berpendapat bahwa
konstitusi di negara kita belum sepenuhnya sempurna. Jika ingin menyempurnakan konstitusi
satu-satunya pilihan ialah amandemen. Dari beberapa referensi di atas amandemen haruslah
dipahami sebagai penambahan, atau perubahan pada sebuah konstitusi yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari naskah aslinya, dan diletakkan pada dokumen yang
bersangkutan. Pemahaman lebih lanjut adalah amandemen bukan sekedar menyisipkan kata-
kata atau perihal baru dalam teks. Di sisi lain, amandemen bukan pula penggantian. Mengganti
berarti melakukan perubahan total dengan merumuskan konstitusi baru mencakup hal-hal
mendasar seperti mengganti bentuk negara, dasar negara, maupun bentuk pemerintahan.
Dalam amandemen UUD 1945 kiranya jelas bahwa tidak ada maksud-maksud mengganti dasar
negara Pancasila, bentuk negara kesatuan, maupun bentuk pemerintahan presidensiil. Salah
satu bentuk komitmen untuk tidak melakukan perubahan terhadap hal-hal mendasar diatas
adalah kesepakatan untuk tidak melakukan perubahan atas Pembukaan UUD 1945. Dari
penjelasan tersebut jelas bahwa yang harus mendasari Amandemen UUD 1945 adalah
semangat menyempurnakan, memperjelas, memperbaiki kesalahan, dan melakukan koreksi
terhadap pasal-pasal yang ada, tanpa harus melakukan perubahan terhadap hal-hal yang
mendasar dalam UUD 1945 itu sendiri.

B. ALASAM DAN KESEPAKATAN AMANDEMEN UUD 1945


Alasan dilakukan amandemen

1. Lemahnya checks and balances pada institusiinstitusi ketatanegaraan.

~4~
2. Executive heavy, kekuasaan terlalu dominan berada di tangan Presiden (hak prerogatif
dan kekuasaan legislatif)
3. Pengaturan terlalu fleksibel (vide:pasal 7 UUD 1945 sebelum amandemen)
4. Terbatasnya pengaturan jaminan akan HAM
5. Segi Sosiologis (Amanat dari rakyat untuk melakukan amandemen)
6. Segi Historis (Pembuatan UUD 1945 ditetapkan dalam suasana tergesa – gesa)
7. Segi Substansi dan isi UUD 1945 (UUD 1945 memiliki keterbatasan dan kelemahan)

Kesepakatan Amandemen UUD 1945 :


• Dilakukan antar fraksi MPR.
• terdiri dari pembukaan dan batang tubuh mempunyai kedudukan berlainan, namun terjalin
dalam hubungan bersifat kausal organis.
• kesepakatan antara fraksi MPR dalam amandemen UUD 1945, antara lain :
1. Tidak mengubah pembukaan UUD 1945.
2. Tetap mempertahankan NKRI.
3. Tetap mempertahankan system presidesiil.
4. Bagian penjelasan UUD 1945 yang normatif, dimasukan dalam batang tubuh.
5. Perubahan addendum : satu kesatuan antara perubahan yang diubah dengan yang
tidak diubah.

~5~
BAB III
KAJIAN ATAU TELAAHAN

1. Lembaga Kepresidenan pada saat sebelum UUD 1945 Diamandemen

Presiden dan wakil presiden (secara bersama-sama disebut Lembaga Kepresidenan),


mempunyai sejarah yang hampir sama tuanya dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Karena
pada saat memproklamasikan kemerdekaan, bangsa Indonesia belum mempunyai
pemerintahan. Barulah, setelah sehari proklamasi, Indonesia mensahkan konstitusi Undang-
undang yang menjadi dasar dalam mengatur pemerintahan dan lembaga kepresidenan untuk
memimpin seluruh bangsa.
Lembaga Kepresidenan sebagian besar diatur dalam konstitusi. Konstitusi di Indonesia
disebut dengan UUD 1945. UUD 1945 disyahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PKKI.

a. Pada Masa Orde Lama (1945-1959)


Presiden pertama yang menjabat ialah Ir. Soekarno dan didampingi oleh wakil presiden
bernama M.Hatta. pada masa orde lama ini UUD 1945 hanya digunakan pada periode antara
18 Agustus 1945-27 Desember 1949 (disebut juga dengan masa republik I), dimana pada saat
negara Indonesia berdiri sendiri.
Dengan berdasarkan UUD 1945, Lembaga Kepresidenan yang bersifat personal.
Lembaga ini dipilih oleh MPR dengan syarat tertentu dan memiliki masa jabatan selama 5
tahun. Sebelum menjalankan tugasnya lembaga ini bersumpah dihadapan MPR atau DPR.
Tugas dan wewenang Lembaga Kepresidenan, menurut UUD 1945:
1. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar
(pasal 4 (1)).
2. Presiden dibantu oleh satu orang wakil presiden (pasal 4 (2)).
3. Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-undang dengan persetujuan DPR
(pasal 5 (1)).
4. Presiden menetapkan peraturan pemerintah (pasal 5 (2)).
5. Wakil presiden menggantikan presiden jika presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat
melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya (pasal 8 (1)).
6. Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Tentara Nasional Indonesia (pasal 10).
7. Presiden menyatakan perang dan membuat serta perjanjian dengan negara-negara lain
atas persetujuan DPR (pasal 11 (1)).

~6~
8. Presiden menyatakan keadaan bahaya (pasal 12).
9. Presiden memberikan grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi (pasal 14).
10. Presiden memberikan gelar dan tanda kehormatan (pasal 15).
11. Presiden dapat meminta pertimbangan kepada DPR (pasal 16).
12. Presiden dibantu oleh menteri (pasal 17 (1)).
13. Presiden mengangkat dan menerima misi diplomatik (pasal 13)
14. Presiden berhak memveto RUU dari DPR (pasal 21)
15. Presiden berhak mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang dalam
keadaan mendesak.
Sedangkan pada periode antara 27 Desember 1949-15 Agustus 1950 (disebut masa
republik II) Republik Indonesia bergabung dalam negara federasi yaitu Republik Indonesia
Serikat dengan kedudukan sebagai negara bagian. Secara bersamaan diwilayah bagian RI,
diberlakukannya 2 Konstitusi yaitu UUD 1945 dengan konstitusi RIS.
Pada periode antara 15 Agustus 1950-5 Juli 1959 )disebut masa republik III), membuat
kesepakatan dengan mendirikan lagi Negara Kesatuan Republik Indonesia menggantikan RIS.
Konstitusi RIS diubah menjadi UUDS 1950.

b. Pada Masa Orde Baru (1959-1998)


Pada masa ini, jabatan presiden dipegang oleh Jend. Soeharto (republik ke-IV). Pada
masa ini diberlakukannya kembali Konstitusi yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus
1945 yaitu UUD 1945. dimana semua kekuasaan, susunan dan kedudukan, tugas dan
wewenang, serta hak dan kewajiban Lembaga Kepresidenan praktis sama dengan periode
republik I (18 Agustus 1945-27 Desember 1949). Dalam republik IV ini lembaga kepresidenan
tidak hanya diatur dalam pasal-pasal konstitusi tetapi dengan dihadirkannya lembaga MPR /
MPRS dalam ketatanegaraan mengundang konsekuensi dengan lahirnya konstitusi semu yang
disebut Ketetapan MPR / MPRS.

2. Implementasi perubahan amandemen UUD 1945 terhadap Lembaga Kepresidenan


UUD 1945 telah mengalami perubahan / amandemen sejak periode tahun 1999-2000,
UUD 1945 sudah 4 kali diamandemen. Dimana pada periode ini muncul sebagai akibat dari
people power atau yang dikenal dengan reformasi 1998. perubahan ini dilakukan secara
bertahap.

~7~
a. Tahun 1999, sebagaiu akibat perubahan I konstitusi, terdapat perubahan
kekuasaan, tugas dan wewenang, serta hak dan kewajiban pada lembaga konstitusi,
yaitu:
1) Jabatan lembaga kepresidenan dibatasi hanya untuk dua kali masa jabatan (pasal 7),
2) Presiden dan wakil presiden dapat bersumpah di depan pimpinan MPR dan Mahkamah
Agung jika parlemen tidak dapat bersidang (pasal 9 (2)),
3) Presiden tidak lagi memegang kekuasaan legislatif dengan membentuk UU, melainkan
hanya berwenang mengajukan RUU kepada parlemen dan ikut membahasnya (pasal 5 (1)
dan pasal 20 (1) – (3)),
4) Presiden harus mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama dengan parlemen
(pasal 20 (4)).
5) Presiden tidak dapat lagi memveto RUU dari parlemen, sebab klausal tersebut dihilangkan
(pasal 21).
6) Presiden harus mendengar pertimbangan DPR saat mengangkat dan menerima misi
diplomatik (pasal 13 (2) dan (3)).
7) Presiden harus mendengar pertimbangan Mahkamah saat memberi grasi dan rehabilitasi
serta DPR saat memberi amnesti dan abolisi (pasal 14),
8) Presiden harus tunduk pada UU saat memberi gelar dan tanda kehormatan (pasal 15).
b. Tahun 2000, sebagai akibat perubahan konstitusi, maka terdapat perubahan
kekuasaan, tugas dan wewenang, serta hak dan kewajiban lembaga kepresidenan,
yaitu:
1) Presiden hanya dapat menunda pengesahan RUU yang telah disetujui bersama dengan
parlemen paling lama tiga puluh hari (pasal 20 (5)).
c. Tahun 2001, akibat dari perubahan III Konstitusi terdapat perubahan terhadap
Lembaga Kepresidenan, yaitu:
1) Calon presiden dan wakil presiden harus memnuhi syarat-syarat tertentu untuk menjadi
presiden dan wakil presiden (pasal 6).
2) Presiden dan wakil presiden tidak lagi dipilih oleh MPR melainkan melalui pemilu dengan
ketentuan yang lebih rinci (pasal 6A (1)-(3) dan (5)).
3) Presiden dan wakil presiden terpilih, dilantik oleh MPR (pasal 3 (312)).
4) Presiden dan/atau wakil presiden dapat diberhentikan oleh MPR dalam masa jabatannya
dengan syarat-syarat pemberhentian tertentu (pasal 3 (413) dan pasal 7A) setelah melalui
proses tertentu (pasal 7B).
5) Presiden tidak dapat membekukan dan membubarkan parlemen (pasal 7C).

~8~
6) Presiden mengusulkan dua calon wakil presiden untuk dipilih MPR jika terjadi kekosongan
jabatan (pasal 8 (2)).
7) Presiden dalam membuat perjanjian internasional yang menimbulkan akibat tertentu harus
dengan persetujuan parlemen (pasal 11 (2)).
8) Presiden harus tunduk pada UU dalam membentuk, mengubah, dan membubarkan
kementrian dalam (Kementrian Indonesia Kabinet)) (pasal 17 (4));
9) Presiden mengajukan RUU APBN kepada parlemen (pasal 23 (2) dan (3)),
10) Presiden meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih DPR
(pasal 23F (1)),
11) Presiden menetapkan Hakim Agung pada Mahkamah Agung yang diusulkan oleh Komisi
Yudisial dan telah disetujui DPR (pasal 24A (3)),
12) Presiden mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan
DPR (pasal 24B (3)),
13) Presiden menetapkan Hakim Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi yang diusulkan oleh
MA, DPR dan Presiden (pasal 24C (3)).
d. Tahun 2002, sebagai akibat perubahan IV Konstitusi Perubahan terhadap Lembaga
Kepresidenan, yaitu:
1) Proses pemilihan presiden dan wakil presiden dengan persyaratan tertentu (pasal 6A (4)),
2) Pelaksanaan tugas kepresidenan dan pemilihan serta pengakatan presiden dan wakil
presiden yang baru oleh MPR (pasal 8 (3)),
3) Presiden membentuk dewan pertimbangan dengan UU (pasal 16),
Republik ke V pada periode 1999-2001 pada masa kepresidenan KH. Abdurrahman
Wahid, dengan dimulainya perubahan pertama kali. Republik ke VI pada periode 2001-2004,
masa kepresidenan Hj. Megawati Soekarno Putri, dengan perubahan 1-IV Konstitusi selama
masa republik V maka terjadi perubahan yang sangat fundamental dari segi ketatanegaraan.
Dan dapat dikatakan lembaga-lembaga negara, termasuk lembaga kepresidenan, mendapat
kekuasaan, susunan dan kedudukan, tugas dan wewenang serta hak dan kewajiban yang baru
menurut “Konstitusi yang baru”.
Secara sistematika Lembaga Kepresidenan diatur secara terkonsentrasi pada bab III
dari konstitusi. Namun demikian terdapat pengaturan lembaga kepresidenan di Bab-bab yang
lain dari konstitusi.

~9~
Menurut konstitusi:
1. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan negara (kekuasaan eksekutif) (pasal 4 (1)
dan pasal 5 (2)),
2. Presiden dibantu oleh seorang Wakil Presiden dalam menjalankan kekuasaan
pemerintahan negara (kekuasaan eksekutif) (pasal 4 (2)),
3. Wakil Presiden menggantikan presiden jika presiden tidak dapat menjalankan apa yang
menjadi kewajibannya (pasal 8 (1)),
4. Presiden mengusulkan dua calon wakil presiden untuk dipilih MPR jika terjadi kekosongan
jabatan (pasal 8 (2)),
5. Pelaksana tugas kepresidenan dan pemilihan serta pengangkatan presiden dan wakil
Presiden yang baru oleh MPR (pasal 8 (3)),
6. Presiden dan/atau wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR dalam masa jabatannya
dengan syarat-syarat pemberhentian tertentu (pasal 3 (3/4) dan pasal 7 A) setelah melalui
proses-proses tertentu (pasal 7B),
7. Presiden menetapkan peraturan pemerintah (pasal 5 (2)),
8. Presiden membentuk kabinet yang bertanggung jawab kepadanya (pasal 17 (1) dan (2)),
dan harus tunduk pada UU dalam membentuk, mengubah dan membubarkan kementrian
dalam kabinet (pasal 17 (4)),
9. Presiden membentuk dewan pertimbangan dengan UU (pasal 16),
10. Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas militer (pasal 10),
11. Presiden menyatakan keadaan bahaya (pasal 12),
12. Presiden menyatakan perang dan membuat perdamaian serta perjanjian dengan negara
lain atas persetujuan DPR (pasal 11 (1)),
13. Presiden dalam membuat perjanjian internasional yang menimbulkan akibat tertentu harus
dengan persetujuan DPR (pasal 11 (2)).
14. Presuiden harus mendengarkan pertimbangan DPR saat mengangkat dan menerima misi
diplomatik (pasal 13 (2) dan (3)),
15. Presiden harus mendengar pertimbangan Mahkamah saat memberi grasi dan rehabilitasi
serta DPR saat memberi amnesti dan abolisi (pasal 14),
16. Presiden harus tunduk pada UU saat memberi gelar dan tanda kehormatan (pasal 15),
17. Presiden tidak dapat membekukan dan membubarkan parlemen (pasal 7C),
18. Presiden dapat mengajukan RUU kepada parlemen dan berwenang untuk ikut
membahasnya (pasal 5 (1) dan pasal 20 (2)),
19. Presiden mengajukan RUU APBN kepada parlemen (pasal 23 (2) dan (3)),

~ 10 ~
20. Presiden harus mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama dengan parlemen (pasal
20 (4) dan hanya dapat menunda pengesahan RUU yang telah disetujui bersama dengan
parlemen paling lama tiga puluh hari (pasal 20 (5)),
21. Presiden berhak mengeluarkan peraturan darurat dalam keadaan mendesak (pasal 22 (1)),
22. Presiden menetapkan Hakim Agung dan Mahkaman Agung yang diusulkan oleh Komisi
Yudisial dan telah disetujui DPR (pasal 24A (3)),
23. Presiden mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan
DPR (pasal 24B (3)),
24. Presiden menetapkan Hakim Kosntitusi pada Mahkamah Konstitusi yang diusulkan oleh
MA, DPR dan Presiden (pasal 24C (3)),
25. Presiden meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih DPR
(pasal 23F (1)).

~ 11 ~
BAB IV
KAJIAN EMPIRIS

1. SEJARAH AWAL AMANDEMEN


Sejarah Amandemen UUD 1945 di Indonesia, yaitu :

Amandemen I
Amandemen yang pertama kali ini disahkan pada tanggal 19 Oktober 1999 atas dasar
SU MPR 14-21 Oktober 1999. Amandemen yang dilakukan terdiri dari 9 pasal, yakni:
Pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13, pasal 14, pasal 15, pasal 17, pasal 20, pasal 21.
Inti dari amandemen pertama ini adalah pergeseran kekuasaan Presiden yang
dipandang terlalu kuat (executive heavy).

Amandemen II
Amandemen yang kedua disahkan pada tanggal 18 Agustus 2000 dan disahkan melalui
sidang umum MPR 7-8 Agustus 2000. Amandemen dilakukan pada 5 Bab dan 25 pasal. Berikut
ini rincian perubahan yang dilakukan pada amandemen kedua.
Pasal 18, pasal 18A, pasal 18B, pasal 19, pasal 20, pasal 20A, pasal 22A, pasal 22B,
pasal 25E, pasal 26, pasal 27, pasal 28A, pasal 28B, pasal 28C, pasal 28D, pasal 28E, pasal
28F, pasal 28G, pasal 28H, pasal 28I, pasal 28J, pasal 30, pasal 36B, pasal 36C.
Bab IXA, Bab X, Bab XA, Bab XII, Bab XV, Ps. 36A ;
Inti dari amandemen kedua ini adalah Pemerintah Daerah, DPR dan Kewenangannya,
Hak Asasi Manusia, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan.

Amandemen III
Amandemen ketiga disahkan pada tanggal 10 November 2001 dan disahkan melalui ST
MPR 1-9 November 2001. Perubahan yang terjadi dalam amandemen ketiga ini terdiri dari 3
Bab dan 22 Pasal. Berikut ini detil dari amandemen ketiga.
Pasal 1, pasal 3, pasal 6, pasal 6A, pasal 7A, pasal 7B, pasal 7C, pasal 8, pasal 11,
pasal 17, pasal 22C, pasal 22D, pasal 22E, pasal 23, pasal 23A, pasal23C, pasal 23E, pasal
23F, pasal 23G, pasal 24, pasal 24A, pasal24B, pasal24C.
Bab VIIA, Bab VIIB, Bab VIIIA.

~ 12 ~
Inti perubahan yang dilakukan pada amandemen ketiga ini adalah Bentuk dan
Kedaulatan Negara, Kewenangan MPR, Kepresidenan, Impeachment, Keuangan Negara,
Kekuasaan Kehakiman.

Amandemen IV
Sejarah amandemen UUD 1945 yang terakhir ini disahkan pada tanggal 10 Agustus
2002 melalui ST MPR 1-11 Agustus 2002. Perubahan yang terjadi pada amandemen ke-4 ini
terdiri dari 2 Bab dan 13 Pasal.
Pasal 2, pasal 6A, pasal 8, pasal 11, pasal16, pasal 23B, pasal 23D, pasal 24, pasal 31,
pasal 32, pasal 33, pasal 34, pasal 37.
BAB XIII, Bab XIV.
Inti Perubahan: DPD sebagai bagian MPR, Penggantian Presiden, pernyataan perang,
perdamaian dan perjanjian, mata uang, bank sentral, pendidikan dan kebudayaan,
perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial, perubahan UUD.

2. ISI DARI PERUBAHAN AMANDEMEN PERTAMA SAMPAI KEEMPAT

a. PERUBAHAN PERTAMA UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Setelah mempelajari, melaah, dan mempertimbangkan dengan saksama dan


sungguhsungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat, bangsa dan
negara, serta dengan menggunakan kewenangannya berdasarkan Pasal 37 Undang-Undang
Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia mengubah Pasal 5 Ayat (1), Pasal 7, Pasal 9, Pasal 13 Ayat (2), Pasal 14, Pasal 15,
Pasal 17 Ayat (2) dan (3), Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 sehingga selengkapnya menjadi berbunyi sebagai berikut:

Pasal 5
(1) Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan
Rakyat.

Pasal 7

~ 13 ~
Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya
dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

Pasal 9
(1) Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama,
atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau
Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut:
Sumpah Presiden (Wakil Presiden):
"Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia
(Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadiladilnya, memegang
teguh Undang-undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya
dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa".
Janji Presiden (Wakil Presiden):
"Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik
Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,
memegang teguh Undang-undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan
peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa".
(2) Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat tidak dapat
mengadakan sidang, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah di hadapan Pimpinan
Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan disaksikan oleh Pimpinan Mahkamah Agung.

Pasal 13
(2) Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan
Rakyat.
(3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan
Dewan Perwakilan Rakyat.

Pasal 14
(1) Presiden memberi grasi dan rahabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah
Agung.
(2) Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Pasal 15

~ 14 ~
Presiden memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan
undang-undang.

Pasal 17
(2) Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(3) Setiap menteri membidangi urusan tertentu dan pemerintahan.

Pasal 20
(1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.
(2) Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden
untuk mendapat persetujuan bersama.
(3) Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan
undang-undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat
masa itu.
(4) Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk
menjadi undang-undang.

Pasal 21
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan undangundang.
Naskah perubahan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari naskah Undangundang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat
Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke 12 tanggal 19 Oktober 1999
Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 19 Oktober 1999
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA
KETUA
ttd.
Prof. Dr. H.M. Amien Rais, M.A.

~ 15 ~
b. PERUBAHAN KEDUA UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Setelah mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan dengan saksama dan


sungguhsungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat, bangsa, dan
negara, serta dengan menggunakan kewenangannya berdasarkan Pasal 37 Undang-Undang
Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
mengubah dan/atau menambah Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 19, Pasal 20 Ayat (5),
Pasal 20A, Pasal 22A, Pasal 22B, Bab IXA, pasal 25E, Bab X, pasal 26 Ayat (2) dan Ayat (3),
Pasal 27 Ayat (3), Bab XA, pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28E, Pasal 28F,
Pasal 28G, pasal 28H, Pasal 28I, Pasal 28J, Bab XII, Pasal 30, Bab XV, Pasal 36A, Pasal 36B,
dan Pasal 36C Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sehingga selengkapnya


berbunyi sebagai berikut :
Pasal 18
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah
provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota
mempunyai pemerintah daerah, yang diatur dengan undang-undang.
(2) Pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.
(4) Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi,
kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.
(5) Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan
yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
(6) Pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain
untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-
undang.

Pasal 18A

~ 16 ~
(1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten,
dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang
dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.
(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara
adil dan selaras berdasarkan undang-undang.

Pasal 18B
(1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat
khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.
(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta
hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-
undang.

Pasal 19
(1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.
(2) Susunan Dewan Perwakilan Rakyat diatur dengan undang-undang.
(3) Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.

Pasal 20
(5) Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan
oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang tersebut
disetujui, rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang dan wajib
diundangkan.

Pasal 20A
(1) Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi
pengawasan.
(2) Dalam melaksanakan fungsinya, selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain
Undangundang Dasar ini, Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak interpelasi, hak
angket dan hak menyatakan pendapat.

~ 17 ~
(3) Selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain Undang-undang Dasar ini, setiap anggota
Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul
dan pendapat, serta hak imunitas.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang hak Dewan Perwakilan Rakyat dan hak anggota Dewan
Perwakilan Rakyat diatur dalam undang-undang.

Pasal 22A
Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undang-undang diatur dengan
undangundang.

Pasal 22 B
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dapat diberhentikan dari jabatannya, yang syarat-
syarat dan tata caranya diatur dalam undang-undang.

Bab IXA
WILAYAH NEGARA

Pasal 25E
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah kepulauan yang berciri Nusantara
dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.

Bab X
WARGA NEGARA DAN PENDUDUK

Pasal 26
(2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia.
(3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.

Bab XA
HAK ASASI MANUSIA

Pasal 28A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.

~ 18 ~
Pasal 28B
(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah
(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 28C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dengan memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pasal 28D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang
adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja.
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraannya.

Pasal 28E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan
dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di
wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap,
sesuai dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 28F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala
jenis saluran yang tersedia.

~ 19 ~
Pasal 28G
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan
harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan
dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak
asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan
derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

Pasal 28H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara
utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.

Pasal 28I
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
(2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan
berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara, terutama pemerintah.
(5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan dengan prinsip
negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 28J

~ 20 ~
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
(2) Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk
menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk
memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama,
keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

BAB XII
PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA

Pasal 30
(1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara.
(2) Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
Republik Indonesia sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung.
(3) Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan
Udara, sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara
keutuhan dan kedaulatan negara.
(4) Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai sebagai alat negara yang menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani
masyarakat serta menegakkan hukum
(5) Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik
Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisia n Negara
Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga
negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara, serta hal-hal yang terkait dengan pertahanan dan keamanan diatur
dengan undang-undang.

Bab XV.
BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA,
SERTA LAGU KEBANGSAAN

~ 21 ~
Pasal 36A
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Pasall 36B
Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya

Pasal 36C
Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu
Kebangsaan diatur dengan undang-undang.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 18 Agustus 2000

c. PERUBAHAN KETIGA UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Setelah mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan dengan saksama dan


sungguh-sungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat, bangsa, dan
negara, serta dengan menggunakan kewenangannya berdasarkan Pasal 37 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia mengubah dan/atau menambah Pasal 1 Ayat (2) dan (3); Pasal 3 Ayat (1), (3), dan
(4); Pasal 6 Ayat (1), dan (2); Pasal6A Ayat (1), (2), (3), dan (5); Pasal 7A; Pasal 7B Ayat (1),
(2), (3), (4), (5), (6), dan (7); Pasal 7C; Pasal 8 Ayat (1) dan (2); Pasal 11 ayat (2) dan (3); Pasal
17 Ayat (4); Bab VIIA, Pasal 22C Ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 22D Ayat (1), (2), (3), dan (4);
Bab VIIb, Pasal 22E Ayat (1), (2), (3), (4), (5), dan (6); Pasal 23 Ayat (1), (2), (3); Pasal 23A;
Pasal 23C; Bab VIIIA, Pasal 23E Ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 23F Ayat (1) dan (2); Pasal
23G Ayat (1) dan (2); Pasal 24 Ayat (1) dan (2); Pasal 24A Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal
24B Ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 24C Ayat (1), (2), (3), (4), (5), dan (6) Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sehingga selengkapnya berbunyi


sebagai berikut:
Pasal 1
(2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
(3) Negara Indonesia adalah negara hukum.
Pasal 3

~ 22 ~
(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang
Dasar.
(3) Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden.
(4) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil
Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar.

Pasal 6
(1) Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus warga negara Indonesia sejak kelahirannya
dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak
pernah mengkhianati negara, serta mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
(2) Syarat-syarat untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut dengan undang-
undang.

Pasal 6A
(1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat.
(2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan
partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.
(3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih lama dari lima
puluh presiden dari jumlah suara dalam pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan
umum.
(5) Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut diatur dalam
undang-undang.

Pasal 7A
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti
telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak
lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Pasal 7B

~ 23 ~
(1) Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih dahulu
mengajukan permintaan kepada Mahkamah Agung untuk memeriksa, mengadili, dan
memutuskan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil
Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghiatan terhadap negara,
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau
pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden.
(2) Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah
melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai
Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan
Dewan Perwakilan Rakyat.
(3) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi hanya
dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan
Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh
sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
(4) Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mengadili, dan memutuskan dengan seadil-adilnya
terhadap pendapat Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lama sembilan puluh hari
setelah permintaan Dewan Perwakilan Rakyat itu diterima oleh Mahkamah Konstitusi.
(5) Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden
terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi,
penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau terbukti bahwa
Presiden dan/atau Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang
paripurna untu merumuskan usul perberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada
Majelis Permusyawaratan Rakyat.
(6) Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul
Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lama tiga puluh hari sejak Majelis
Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut.
(7) Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden dan/atau
Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat yang
dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh
sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil
Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis
Permusyawaratan Rakyat.

~ 24 ~
Pasal 7C
Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat.

Pasal 8
(1) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya
dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai masa jabatannya.
(2) Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya dalam waktu enam
puluh hari, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih
Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden.

Pasal 11
(2). Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang
luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara,
dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang-undang.

Pasal 17
(4) Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementrian negara diatur dalam undang-
undang

BAB VIIA
DEWAN PERWAKILAN DAERAH

Pasal 22C
(1) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum.
(2) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah Seluruh
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota
Dewan Perwakilan Daerah.
(3) Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.
(4) Susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan undang-undang.
Pasal 22D
(1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Rancangan Undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan

~ 25 ~
daerah, pembentukan dan pemakaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah.
(2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas Rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan pemekaran, dan
penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada
Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan
belanja negara dan Rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan,
dan agama.
(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-
undang mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah,
hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan
agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat
sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
(4) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diberhentikan dari jabatannya, yang syarat-syarat
dan tata caranya diatur dalam undang-undang.

BAB VIIB
PEMILIHAN UMUM

Pasal 22E
(1) Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil
setiap lima tahun sekali.
(2) Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
(3) Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.
(4) Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah
perseorangan.
(5) Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional,
tetap dan mandiri
(6) Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang.

~ 26 ~
Pasal 23
(1) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan
negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka
dan bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(2) Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh
Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
(3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui Rancangan anggaran pendapatan dan
belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.

Pasal 23A
Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan
undangundang.

Pasal 23C
Hal-hal lain mengenai keuangan negara diatur dengan undang-undnag.

BAB VIIIA
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Pasal 23E
(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu
badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
(2) Hasil pemeriksa keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,sesuai dengan kewenangnnya.
(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai
dengan undang-undang.

Pasal 23F
(1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.

~ 27 ~
(2) Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.

Pasal 23G
(1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di Ibukota negara, dan memiliki perwakilan di
setiap provinsi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan undang-
undang.

Pasal 24
(1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
(2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi.

Pasal 24A
(1) Mahkamah Agung berwenang menjadi pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai
wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
(2) Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, professional,
dan berpengalaman di bidang hukum.
(3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk
mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden.
(4) Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung.
(5) Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan
peradilan dibawahnya diatur dengan undang-undang.

Pasal 24B

~ 28 ~
(1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung
dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
(2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman dibidang hukum
serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.
(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat.
(4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.

Pasal 24C
(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,
memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan
perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-
Undang Dasar.
(3) Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan
oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang
oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden.
(4) Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim konstitusi.
(5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai
pejabat negara.
(6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan lainnya
tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.

Naskah perubahan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari naskah Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat
Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-7 (lanjutan 2) tanggal 9
November 2001 Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan
mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta

~ 29 ~
pada tanggal 9 November 2001
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA,
KETUA
ttd
Prof. Dr. H.M. AMIEN RAIS

d. PERUBAHAN KEEMPAT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Setelah mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan dengan saksema dan


sungguh-sungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat, bangsa, dan
negara serta dengan menggunakan kewenangannya berdasarkan Pasal 3 dan Pasal 37
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia menetapkan:

(a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah
dengan perubahan pertama, kedua, ketiga dan perubahan keempat ini adalah Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18
Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959
serta dikukuhkan secara aklamasi pada tanggal 22 Juli 1959 oleh Dewan Perwakilan
Rakyat;

(b) Penambahan bagian akhir pada Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dengan kalimat, "Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat
Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Ke-9 tanggal 18 Agustus
2000 Sidang Tahunan Mejelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dan mulai
berlaku pada tanggal ditetapkan,";

(c) Mengubah penomeran pasal 3 ayat (3) dan ayat (4) Perubahan Ketiga Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi Pasal 3 ayat (2) dan ayat (3); Pasal
25E Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menajdi Pasal 25A;
(d) Penghapusan judul Bab IV tentang Dewan Pertimbangan Agund dan pengubahan substansi
Pasal 16 serta penempatannya ke dalam Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara;

~ 30 ~
(e) Pengubahan dan/atau penambahan Pasal 2 ayat (1); Pasal 6A ayat (4); Pasal 8 ayat (3);
Pasal 11 ayat (1); Pasal 16; Pasal 23B; Pasal 23D; Pasal 24 ayat (3); Bab XIII, Pasal 31
ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5); Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2); Bab XIV,
Pasal 33 ayat (4) dan ayat (5); Pasal 34 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4); Pasal 37
ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5); Aturan Peralihan Pasal I, II, dan III; Aturan
Tambahan Pasal I dan II Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

Pasal 2
(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih
lanjut dengan undang-undang.

Pasal 6A
(4). Dalam hal tidak adanya pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua
pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan
umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat
terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden

Pasal 8
(3) Jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat
melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, pelaksana tugas
kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertahanan
secara bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, Majelis
Permusyawatan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil
Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai
politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya
meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan sebelumnya, sampai berakhir
masa jabatannya.

Pasal 11
(1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan membuat perdamaian
dan perjanjian dengan negara lain

~ 31 ~
Pasal 16
Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan
pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang-undang.

BAB IV
DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG

Dihapus
Pasal 23B
Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang

Pasal 23D
Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan,
tanggungjawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang.

Pasal 24
(3) Badan-badang lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam
undang-undang.

BAB XIII
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran
pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk
memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan serta kesejahteraan umat
manusia

~ 32 ~
Pasal 32
(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai
budayanya.
(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

BAB XIV
PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,
serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Pasal 34
(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara
(2) Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Pasal 37
(1) Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang
Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat.
(2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan
ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya.
(3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan
Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan
Rakyat.

~ 33 ~
(4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan
sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
(5) Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan
perubahan.

ATURAN PERALIHAN
Pasal I
Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum
diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.

Pasal II
Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan
ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang
Dasar ini.

Pasal III
Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum
dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.

ATURAN TAMBAHAN
Pasal I
Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap materi dan
status hokum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada sidang
Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 2003.

Pasal II
Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal.
Perubahan tersebut diputuskan dalam Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia ke-6 (lanjutan) pada tanggal 10 Agustus 2002 Sidang Tahunan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

~ 34 ~
pada tanggal 10 Agustus 2002
MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYA
REPUBLIK INDONESIA,
Ketua
ttd
Prof. Dr. H.M. Amien Rais

~ 35 ~
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

- UUD 1945 merupakan Kontitusi Undang-Undang Negara Republik Indonesia yang

disahkan oleh PPKI setelah sehari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yaitu tanggal 18

Agustus 1945 sebagai dasar ketentuan sistem pemerintahan, berisi tentnag kekuasaan,

hak dan kewajiban serta tugas dan wewenang lembaga-lembaga negara, khususnya

terhadap lembaga kepresidenan dan rakyat Indonesia.

- Lembaga Kepresidenan terdiri atas presiden dan wakil presiden sebagian besar tugas dan

wewenangnya di atur oleh konstitusi.

- UUD 1945 terjadi empat kali perubahan secara bertahap, dari perubahan itu ada beberapa

tugas dan wewenang lembaga kepresidenan yang berubah dari periode sebelum

diamandemennya UUD 1945.

a) Perubahan pertama disahkan 19 Oktober 1999

b) Perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000

c) Perubahan ketiga disahkan 10 November 2001

d) Perubahan keempat disahkan 10 Agustus 2002

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyempurnakan UUD yang sudah ada agar

tetap sesuai dengan perkembangan zaman dan untuk membawa bangsa ini menuju perubahan

yang lebih baik lagi di berbagai bidang dengan senantiasa selalu memperhatikan kepentingan

rakyat.

Saran
Proses pembuatan UUD 1945 harus lebih memperhatikan hal-hal dari segi teknis dan
substansinya serta lebih teliti dalam menyikapi perkembangan masyarakat Indonesia yang
dinamis serta agar makalah ini sebagai acuan dalam menambah wawasan serta pengetahuan
tentang amandemen UUD 1945 dan juga menumbuhkan rasa nasionalisme terhadap bangsa
dan negara Indonesia.

~ 36 ~
DAFTAR PUSTAKA

 Budiyanto.2005.Kewarganegaraan.Jakarta:Erlangga.
 http:// id.wikipwdia. org/ wiki/ sejarah_lembaga_kepresidenan-indonesia
 http://indonesia.ahrchk.net/news/mainfile.php/Constitution/34/
 Huda, Ni’matul. 2005. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta : Raja Grafindo
 Husada.Amandemen/Sejarah Amandemen UUD 1945 _ siPutro.htm
 Lubis, M. Solly. 2000. Perkembangan Garis Politik dan Perundang-Undangan
Pemerintah Daerah.Bandung:Alumni.
 Miss Sujana's notes………… » Blog Archive » Pengertian dan Tujuan Amandemen.html
 Sejarah Amandemen UUD 1945 Ino Putro.html
 Toto pribadi et. al. (2009) Sistem Politik Indonesia 1. Cetakan 3. Jakarta: Universitas
Terbuka.
 Undang-undang Dasar 1945 dan Amandemennya. Sendang Solo.
 www.geofacts.co.cc/.../undang-undang-dasar-1945-sebagai-hukum.html

~ 37 ~