Você está na página 1de 10

MAKALAH

SISTEM PENGANGGARAN

Kelompok 8
oleh:
Legita Zein Bledensye (15312034)
Vita Ridhaningtyas Saputri (15312489)
Sasqia Chaerunnisa (15312514)
Putri Shinta Larasati (15312517)

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
Tahun 2017/2018
SISTEM PENGANGGARAN PUSAT/DAERAH

SISTEM PENGANGGARAN PEMERINTAH


A. PRINSIP-PRINSIP PENGANGGARAN
Anggaran merupakan satu instrumen penting di dalam manajemen karena merupakan
bagian dari fungsi manajemen. Di dunia bisnis maupun di organisasi sektor publik, termasuk
pemerintah, anggaran merupakan bagian dari aktivitas penting yang dilakukan secara rutin.
Dalam rangka penyusunan anggaran terdapat beberapa prinsip penganggaran yang perlu
dicermati, yaitu:
1. Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran
APBD harus dapat menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran,
hasil, dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang
dianggarkan. Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama untuk
mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan kepentingan
masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup masyarakat.
Masyarakat juga berhak untuk menuntut pertanggungjawaban atas rencana ataupun
pelaksanaan anggaran tersebut.
2. Disiplin Anggaran
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional
yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang
dianggarkan pada setiap pos/pasal merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja.
Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya
penerimaan dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan
yang belum/tidak tersedia anggarannya dalam APBD/ APBD-Perubahan.
3. Keadilan Anggaran
Pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya secara adil
agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam
pemberian pelayanan karena pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui
peran serta masyarakat.
4. Efisiensi dan Efektivitas Anggaran
Penyusunan anggaran hendaknya dilakukan berlandaskan asas efisiensi, tepat
guna, tepat waktu pelaksanaan, dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan.
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat
menghasilkan peningkatan dan kesejahteraan maksimal untuk kepentingan
masyarakat.
5. Disusun dengan Pendekatan Kinerja
APBD disusun dengan pendekatan kinerja, yaitu mengutamakan terhadap upaya
pencapaian hasil kerja (output/outcome) dari perencanaan alokasi biaya atau input
yang telah ditetapkan. Hasil kerja dari APBN ataupun APBD haruslah sama atau
lebih besar daripada input yang telah ditetapkan sebelumnya. Selian itu, para
pegawai dituntut untuk melakukan pekerjaan dengan profesionalisme di setiap
organisasi yang terkait.

B. LANDASAN HUKUM
 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
 Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah
(RKP);
 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja
Anggaran KementerianNegara/Lembaga (RKA-KL) sebagai operasionalisasi
kebijakan penganggaran kinerja;
 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 136/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan
dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-
KL).

C. ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan rencana keuangan


tahunan pemerintah negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam
menyusun suatu anggaran harus berkaitan antara dana-dana yang akan dikeluarkan dan
tujuan yang akan dicapai. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berisikan daftar
sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara dalam
satu tahun anggaran (1 Januari-31Desember). Namun ada juga yang dimulai dari 1 April dan
berakhir pada 31 Maret tahun berikutnya.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki enam fungsi dalam
rangka membentuk struktur perekonomian negara antara lain:
1) Fungsi Otoritas: bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan
dan belanja pada tahun bersangkutan dan juga sebagai dasar pertanggungjawaban kepada
rakyat.
2) Fungsi Perencanaan : anggaran negara dapat menjadi pedoman bagi negara untuk
merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3) Fungsi Pengawasan : anggaran harus menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan
pemerintah telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dan dijadikan sebagai
penilai apakah tindakan pemerintah dalam menggunakan uang negara untuk keperluan
tertentu dapat dibenarkan atau tidak.
4) Fungsi Alokasi : anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan
pemborosan dalam penggunaan sumber daya dapat dikurangi serta meningkatkan efisiensi
dan efektivitas perekonomian.
5) Fungsi Distribusi: kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.
6) Fungsi Stabilitas: anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan
kesimbangan fundamental perekonomian.

D. JENIS-JENIS ANGGARAN
1. Line Item Budgetingadalah penyusunan anggaran yang didasarkan pada dan darimana
dana berasal (pos-pos penerimaan) dan untuk apa dana tersebut digunakan (pos-pos
pengeluaran). Jenis anggaran ini relatif dianggap paling tua dan banyak mengandung
kelemahan atau sering pula disebut “traditional budgeting”.
2. Incremental Budgetingadalah sistem anggaran belanja dan pendapatan yang
memungkinkan revisi selama tahun berjalan, sekaligus sebagai dasar penentuan usulan
anggaran periode tahun yang akan datang. Angka di pos pengeluaran merupakan
perubahan (kenaikan) dari angka periode sebelumnya. Permasalahan yang harus
diputuskan bersama adalah metode kenaikan/penurunan (incremental) dari angka
anggaran tahun sebelumnya. Logika sistem anggaran ini adalah bahwa seluruh kegiatan
yang dilaksanakan merupakan kelanjutan kegiatan dari tahun sebelumnya.
3. Planning Programming Budgeting Sistem adalah suatu proses perencanaan, pembuatan
program, dan penganggaran yang terkait dalam suatu sistem sebagai kesatuan yang bulat
dan tidak terpisah-pisah, dan didalamnya terkandung identifikasi tujuan organisasi atas
permasalahan yang mungkin timbul. Proses pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengawasan terhadap semua kegiatan sangat diperlukan selain pertimbangan atas
implikasi keputusan terhadap berbagai kegiatan di masa yang akan datang.
4. Zero Based Budgeting (ZBB) adalah sistem anggaran yang didasarkan pada perkiraan
kegiatan, bukan pada apa yang telah dilakukan di masa lalu. Setiap kegiatan akan
dievaluasi secara terpisah. Ini berarti berbagai program dikembangkan dalam visi tahun
yang bersangkutan. Tiga langkah penyusunan ZBB adalah:

1. Identifikasi unit keputusan


2. Membangun paket keputusan
3. Meriview peringkat paket keputusan

5. Performance Budgeting(anggaran yang berorientasi pada kinerja) adalah sistem


penganggaran yang berorientasi pada “output” organisasi yang berkaitan sangat erat
dengan visi, misi dan rencana strategis organisasi. Performance Budgeting
mengalokasikan sumber daya program, bukan pada unit organisasi semata dan memakai
laporan pengukuran sebagai indikator kinerja organisasi.
6. Medium Term Budgeting Framework (MTBF) adalah suatu kerangka strategi kebijakan
tentang anggaran belanja untuk departemen dan lembaga pemerintah non departemen.
Kerangka ini memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada departemen untuk
penetapan lokasi dan sumber dana pembangunan.
E. PROSES PENYUSUNAN APBD (ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
DAERAH)
1. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
Penyusunan terhadap program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu
yang bersangkutan. Jika dilihat dari waktunya, maka rencana kerja ini terbagi menjadi
Tiga :
 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), merupakan
perencanaan pemerintah untuk jangka waktu 20 tahun.
 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), merupakan
perencanaan pemerintah unutk jangka waktu 5 tahun.
 Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), merupakan rencana kerja
tahunan pemerintah daerah.Rencana Kerja Pemerintah Daerah ini memuat
tentang kerangka ekonomi daerah, prioritas, pembangunan, rencana program
yang terukur dengan pendanaannya, dan kewajiban daerah. Dalam
penyusunannya RKPD akan memacu pada hasil evaluasi pencapaian
pelaksanaan program dan kegiatan tahun-tahun sebelumnya.
2. Penyusunan Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA)

Kebijakan Umum APBD (KUA) adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang
pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk masa satu
tahun. Penyusunan Rancangan Kebijakan Umum APBD (RKUA) ini berpedoman pada
penyusunan APBD yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri Setiap Tahunnya.
3. Penetapan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)

Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) adalah rancangan program prioritas
dan batas maksimal anggaran yang diberikan terhadap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) yang menjalankan setiap program tersebut

4. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-
SKPD)
Penyusunan RKA-SPKD harus dapat menyajikan informasi yang jelas tentang tujuan,
targen, beban kerja, satuan harga, serta manfaat dan hasil yang ingin dicapai untuk sebuah
program. Anggaran berbasis kinerja ini disusun berdasarkan kepada :
 Indikator Kerja
 Capaian atau Target Kinerja
 Analisis Standar Belanja
 Standar Satuan Kerja
 Standar Pelayanan Minimal

5. Penyusunan Rancangan Perda APBD


Setelah RKA-SKPD selesai disusun, dibahas, dan disepakati oleh Kepala Satuan Kerja
Pemerintah Daerah (SKPD) dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) digunakan sebagai
dasar untuk penyiapan Rancangan Perda (Raperda) APBD. Raperda ini disusun oleh pejabat
yang mengelola keuangan daerah untuk selanjutnya disampaikan kepada kepala daerah. Raperda
berisi ringkasan APBD, rincian APBD, rekapitulasi belanja, dll. Sebelum dibahas dengan DPRD,
raperda tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat. Penyebarluasan
Raperda ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah selaku koordinator keuangan daerah.
6. Penetapan APBD

Penetapan APBD mencakup :


a. Penyampaian dan Pembahasan Raperda tentang APBD

Pengambilan keputusan bersama terkait APBD ini harus sudah tercapai paling lambat satu
bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan. Dengan adanya persetujuan ini, kemudian
kepala daerah menyiapkan peraturan tentang APBD yang disertai dengan nota keuangan.
b. Evaluasi tentang Raperda APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah

Evaluasi bertujuan untuk tercapainya kecocokan antara kebijakan daerah dengan


kebijakan nasional, kepentingan publik serta kepentingan aparatur. Hasil evaluasi harus
sudah dituangkan dalam keputusan gubernur dan disampaikan keada bupati/walikota
paling lama 15 hari kerja sejak diterimanya Raperda APBD tersebut.
c. Penetapan Perda tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran
APBD
Merupakan tahap akhir sebelum dimulainya tahun anggaran yang bersangkutan
dan paling lambat sudah harus terlaksana sebelum tanggal 31 Desember tahun anggaran
sebelumnya.

F. SUMBER – SUMBER ANGGARAN


 Sumber Penerimaan Daerah
A. Pendapatan asli daerahyaitu penerimaan-penerimaan yang diperoleh dari pungutan-
pungutan daerah, seperti: pajak daerah, restribusi daerah, hasil pengolahan
kekayaan daerah, keuntungan dari perusahaan-perusahaan milik daerah, dan lain-
lain.
B. Dana perimbangan adalah dana yang dialokasikan dalam APBN untuk daerah.
Dana perimbangan meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan alokasi
khusus.
1) Dana bagi hasil, yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada
daerah sebagai bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam di daerah oleh
negara.
2) Dana alokasi umum, yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan
kepada daerah dengan tujuan sebagai wujud dari pemerataan kemampuan
keuangan antara daerah.
3) Dana alokasi khusus, yaitu dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan
kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus daerah
yang disesuaikan dengan prioritas nasional.
C. Pinjaman daerah.
D. Penerimaan lain-lain yang sah.

 Penerimaan Pembiayaan
Semua penerimaan Rekening Kas Umum Daerah antara lain berasal dari penerimaan
pinjaman, penjualan obligasi pemerintah, hasil privatisasi perusahaan daerah, penerimaan
kembali pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga, penjualan investasi permanen
lainnya dan pencairan dana cadangan.
Penerimaan pembiayaan mencakup :
a. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA)
b. pencairan dana cadangan
c. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
d. penerimaan pinjaman daerah
e. penerimaan kembali pemberian pinjaman
f. penerimaan piutang daerah.

 Pengeluaran Pembiayaan
Semua pengeluaran Rekening Kas Umum Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada
pihak ketiga, penyertaan modal pemerintah, pembayaran kembali pokok pinjaman dalam
periode tahun anggaran tertentu dan pembentukan dana cadangan. Pengeluaran
pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Daerah.
Pengeluaran pembiayaan mencakup:
a. pembentukan dana cadangan
b. penerimaan modal (investasi) pemerintah daerah
c. pembayaran pokok utang
d. pemberian pinjaman daerah.

 Pembelanjaan Daerah
Adanya otonomi daerah (sistem desentralisasi) maka jenis jenis pembelanjaan tiap-tiap
daerah akan berbeda-beda yang diwarnai dan disesuaikan dengan kondisi dan keunikan
yang dimiliki oleh setiap daerah. Secara umum jenis-jenis pembelanjaan daerah dapat
dijelaskan sebagai berikut.

a. Belanja rutinyaitu pengeluaran yang secara rutin dibelanjakan oleh pemerintah daerah,
antara lain, untuk
1) belanja gaji,
2) belanja barang,
3) belanja pemeliharaan, dan
4) belanja perjalanan dinas.
b. Belanja pembangunan yaitu semua jenis pengeluaran untuk kegiatan pembangunan di
daerah, yang meliputi pelaksanaan proyek fisik dan nonfisik.