Você está na página 1de 7

1.

PENDAHULUAN

Alinea tanggungjawab auditor dalam laporan auditor independen berisi dua frasa (dicetak miring di bawah ini) yang berkaitan langsung
dengan materialitas dan risiko.

a. Tanggungjawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan
audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Standar tersebut mengharuskan kami untuk mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.

Frasa memperoleh keyakinan memadai dimaksudkan untuk member informasi kepada pengguna laporan audit bahwa auditor tidak
menjamin kelayakan penyajian laporan keuangan. Ada sejumlah risiko bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara layak, walaupun auditor
member pendapat wajar tanpa pengecualian.

Frasa bebas dari kesalahan penyajian material dimaksudkan untuk memberi informasi kepada pengguna laporan audit bahwa
tanggungjawab auditor terbatas pada informasi keuangan yang material saja. Materialitas penting karena tidaklah praktis bagi auditor untuk
memberikan jaminan atas jumlah-jumlah yang tidak material. Materialitas dan risiko adalah dua hal yang fundamental dalam perencanaan audit
dan merancang suatu strategi audit.

2. MATERIALITAS
1) Materialitas dalam Konteks Audit
Walaupun kerangka pelaporan keuangan mungkin membahas materialitas dengan menggunakan istilah yang berbeda-beda, kerangka
tersebut secara umum menjelaskan bahwa:
a. Kesalahan penyajian, termasuk penghilangan, dianggap material bila kesalahan penyajian tersebut, secara individual atau agregat,
diperkirakan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi yang diambil berdasarkan laporan keuangan oleh pengguna laporan keuangan
tersebut.
b. Pertimbangan tentang materialitas dibuat dengan memperhitungkan berbagai kondisi yang melingkupinya dan dipengaruhi oleh ukuran
atau sifat kesalahan penyajian, atau kombinasi keduanya.
c. Pertimbangan tentang hal-hal yang material bagi pengguna laporan keuangan didasarkan pertimbangan kebutuhan informasi keuangan
yang umum diperlukan oleh pengguna laporan keuangan sebagai suatu grup. Kemungkinan dampak kesalahan penyajian terhadap
pengguna laporan keuangan individual tertentu yang kebutuhannya beragam, tidak dipertimbangkan.

Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perencanaan dan pelaksanaan audit, serta pada saat mengevaluasi dampak
kesalahan penyajian yang teridentifikasi dalam audit dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, terhadap laporan keuangan dan
pada saat merumuskan opini dalam laporan auditor.

Penentuan materialitas oleh auditor membutuhkan pertimbangan profesional, dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang informasi
keuangan oleh para pengguna laporan keuangan. Dalam konteks ini, adalah masuk akal bagi auditor untuk mengasumsikan bahwa pengguna
laporan keuangan:

a. Memiliki suatu pengetahuan memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi serta akuntansi dan kemauan untuk mempelajari informasi
yang ada dalam laporan keuangan dengan cermat;
b. Memahami bahwa laporan keuangan disusun; disajikan dan diaudit berdasarkan tingkat materialitas tertentu;
c. Mengakui adanya ketidakpastian bawaan dalam pengukuran suatu jumlah yang ditentukan berdasarkan penggunaan estimasi;
pertimbangan dan pertimbangan masa depan; dan
d. Membuat keputusan ekonomi yang masuk akal berdasarkan informasi dalam laporan keuangan.
2) Tahapan dalam Penerapan Materialitas
Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perecanaan dan pelaksanaan audit, serta pada saat mengevaluasi dampak
kesalahan penyajian yang teridentifikasi dalam audit dan kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi; jika ada terhadap laporan keuangan dan
pada saat merumuskan opini dalam laporan auditor. Sebagaimana ditetapkan dalam standar audit (SA 320 A1), khususnya pada saat:
a. Mengidentifikasi dan menilai kesalahan penyajian material;
b. Menentukan sifat, saat; dan luas prosedur audit selanjutnya; dan
c. Mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi; jika ada; terhadap laporan keuangan dan dalam merumuskan opini
dalam laporan auditor.
3. MATERIALITAS UNTUK LAPORAN KEUANGAN SECARA KESELURUHAN
Standar auditing (SA 320. 10) menyatakan bahwa “pada saat menetapkan strategi audit secara keseluruhan”. Hal ini disebut
pertimbangan awal materialitas. Disebut demikian karena meskipun opini ditetapkan secara profesional, namun hal itu bisa berubah ketika
pengauditan sedang berlangsung. Kebijakan awal ini harus didokumentasikan dalam file audit.
1) Menetapkan materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan
2) Menentukan materialitas pelaksanaan
3) Memperkirakan total kesalahan penyajian dalam segmen
4) Memperkirakan keseluruhan kesalahan penyajian
5) Membandingkan taksiran keseluruhan dengan kebajikan awal materialitas

Pertimbangan awal materialitas untuk laporan keuangan secara keseluruhan adalah jumlah maksimum yang di atas jumlah tersebut
diyakini oleh auditor akan membuat laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian dan masih tidak mempengaruhi pengambilan
keputusan yang dilakukan pengguna laporan (secara konseptual ini adalah suatu jumlah yang Rp1,- lebih kecil daripada materialitas
sebagaimana dirumuskan dalam SA 320.2 yang telah disebutkan di atas).

Auditor menetapkan pertimbangan awal materialitas untuk membantu dalam perencanaan pengumpulan bukti yang tepat. Semakin
rendah jumlah rupiah pertimbangan awal, semakin banyak bukti banyak bukti yang diperlukan. Pengalaman auditor akan sangat
berpengaruh pada penentuan jumlah yang dipandang material sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Selama audit berlangsung, auditor
sering mengubah kebijakan awal materialitas. Hal ini kita sebut kebijakan tentang materialitas revisian. Auditor perlu melakukan revisi
karena adanya perubahan dalam salah satu factor yang digunakan dalam menetapkan kebijakan awal dan hal itu berpengaruh terhadap
kebijakan awal yang diputuskan auditor yang bisa menjadi terlalu besar atau terlalu kecil. Kebijakan yang telah dibuat auditor perlu
dievaluasi kembali setelah laporan keuangan selesai disusun oleh klien.

1) Faktor-faktor yang berpengaruh pada Kebijakan Awal Materialitas


Ada sejumlah factor yang berpengaruh pada kebijakan awal materialitas yang ditetapkan auditor untuk laporan keuangan yang akan
diauditnya. Beberapa faktor terpenting adalah:
a. Konsep Materialitas adalah Relatif, Bukan Absolut
Sejumlah kesalahan penyajian bisa material bagi sebuah perusahaan kecil, tetapi jumlah sekian tidak material bagi perusahaan lain yang
lebih besar. Oleh karena itu, tidaklah mungkin untuk membuat suatu pedoman jumlah rupiah untuk menetapkan kebijakan awal
materialitas yang akan berlaku umum bagi semua klien audit.
b. Diperlukan Dasar Tertentu untuk Mengevaluasi Materialitas
Mengingat bahwa materialitas bersifat relatif, maka diperlukan suatu dasar untuk menetapkan apakah kesalahan penyajian dipandang
material. Laba bersih sebelum pajak sering digunakan sebagai dasar utama untuk menentukan apa yang material bagi perusahaan yang
berorientasi laba, karena laba bersih sebelum pajak merupakan hal yang penting bagi para pengguna laporan.
c. Faktor Kualitatif juga Mempengaruhi Materialitas
Jenis-jenis kesalahan penyajian tertentu seringkali lebih berpengaruh terhadap pengguna laporan keuangan daripada lainnya, walaupun
jumlah rupiahnya sama. Sebagai contoh:
a. Kesalahan penyajian yang menyangkut kecurangan (fraud) dipandang lebih serius daripada kekeliruan tidak disengaja walaupun
jumlah rupiahnya sama, karena kecurangan mencerminkan ketidakjujuran dan keandalan manajemen atau orang-orang lain yang
terlibat.
b. Kesalahan penyajian yang jumlah rupiahnya kecil bisa menjadi material apabila terkait dengan kewajiban kontraktual.
c. Kesalahan penyajian yang kelihatannya tidak material, bisa menjadi material apabila kesalahan penyajian tersebut memengaruhi tren
laba.
2) Penggunaan Tolok Ukur dalam Menentukan Materialitas untuk Laporan Keuangan Secara Keseluruhan
Penentuan materialitas membutuhkan penggunaan pertimbangan profesional sebagai langkah awal dalam menentukan materialitas untuk
laporan keuangan secara keseluruhan, persentase tertentu seringkali diterapkan pada suatu tolok ukur yang telah dipilih. Faktor-faktor yang
dapat memengaruhi proses identifikasi suatu tolok ukur yang tepat mencakup:
a. Unsur-unsur laporan keuangan (sebagai contoh, asset, lialibitas, akuitas, pendapatan, beban);
b. Apakah terdapat unsur-unsur yang menjadi perhatian khusus para pengguna laporan keuangan suatu entitas tertentu (sebagai contoh,
untuk tujuan pengevaluasian kinerja keuangan, pengguna laporan keuangan cenderung akan fokus pada laba, pendapatan maupun asset
bersih);
c. Sifat entitas, posisi entitas dalam siklus hidupnya, dan industri serta lingkungan ekonomi yang di dalamnya entitas tersebut beroperasi;
d. Struktur kepemilikan dan pendanaan entitas;
e. Fluktuasi realitf tolok ukur tersebut.

CONTOH PEDOMAN PENENTUAN MATERIALITAS

Penerapan Materialitas pada PT ABC

Kebijakan Awal Tentang Materialitas (Dibulatkan)


Minimum Maksimum
Persentase Jumlah Rupiah Persentase Jumlah Rupiah
1. Laba dari operasi 3 Rp 221.000 6 Rp 442.000
2. Aset lancar 3 1.531.000 6 3.062.000
3. Total asset 1 614.000 3 1.841.000
4. Kewajiban 3 396.000 6 793.000
Apabila auditor yang mengaudit PT ABC berpendapat bahwa pedoman masuk akal, maka tahap pertama yang harus dilakukannya adalah
menilai apakah terdapat factor kualitatif yang signifikan mempengaruhi kebijakan materialitas. Seandainya tidak terdapat factor kualitatif,
apabila pada akhir audit, auditor berkesimpulan bahwa total kesalahan penyajian laba operasi sebelum pajak lebih kecil daripada
Rp221.000,00 maka laporan akan dipandang wajar. Apabila total kesalahan penyajian melebihi Rp442.000,00, maka laporan tidak akan
dipandang wajar. Apabila kesalahan penyajian berada di antara Rp221.000,00 dan Rp442.000,00 diperlukan kebijakan lebih cermat atas
semua fakta yang ada. Selanjutnya auditor menerapkan proses yang sama untuk ketiga dasar yang lain.

4. MENENTUKAN MATERIALITAS PELAKSANAAN


Materialitas pelaksanaan terdapat dalam Standar auditing (SA 320.9). Materialitas pelaksanaan bisa berbeda-beda untuk golongan
transaksinya, saldo akun, atau pengungkapan yang berbeda terutama bila terdapat fokus pada suatu bidang tertentu.
1) Mengalokasikan Pertimbangan Materialitas Awal Ke Setiap Bagian (Salah Saji Yang Dapat Diterima)

Pengalokasian pertimbangan material awal kesetiap bagian merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan
bukti audit perbagian dibandingkan dengan laporan keuangan secara keseluruhan. Jika para auditor memiliki penilaian materialitas awal
untuk setiap bagian, hal itu akan membantu mereka dalam memutuskan bukti audit yang tepat untuk dikumpulkan.

Ketika auditor mengalokasikan pertimabngan materialitas awal pada saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan kesetiap saldo akun
yang dimaksudkan dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima.

Auditor menghadapi tiga kesulitan utama berikut dalam menalokasikan materialitas kedalam akun-akun neraca.

1. Auditor memperkirakanakun-akun tertentu memilki salah saji yang lebih banyak dibandingkan dengan akun-akun lainnya.
2. Baik lebih saji maupun kurang saji harus dipertimbangkan.
3. Biaya audit relatif memengaruhi alokasi tersebut.
Ilustrasi Alokasi
Pendekatan dalam pengalokasikan yang dilakukan oleh senior, Mira Abadi, untuk PT Perkakas Prima. Pendekatan ini mengikhtisarkan
neraca,gabungan beberapa akun, menunjukkan alokasi total materialitas yang dilakukan oleh Mira, menggunakan penilaian dalam
pengalokasian, yang menggunakan dua ketentuan subjektif yang ditentukan oleh Budiman, Jumadi & Rekan.
a. Salah saji yang dapat diterima untuk setiap akun tidak boleh melebihi 60 persen dari penilaian awal (60 persen dari Rp 442.000.000 =
Rp 265.000.000- dibulatkan )
b. Jumlah dari semua salah saji yang dapat diterima tidak boleh lebih dari dua kali pertimbangan materialitas awal (2 x Rp. 442.000.000
= Rp884.000.000).
Ketentuan pertama digunakan untuk memastikan agar auditor tidak mengalokasikan semua materialitas total kedalam satu akun. Jika,
misalnya semua penilaian awal sebesar Rp442.000.000 dialokasikan pada akun piutang dagang sa;lah saji sebesar Rp442.000.000 dalam
akuntersebut dapat diterima. Namun , salah saji yang sangat besar dalam satu akun tersebut mungkin tidak dapat diterima, dan meskipun
diterima, hal ini menyebabkan tidak diperbolehkan adanya salah saji di akun-akun lain.
Terdapat dua alasan untuk ketentuan kedua, yang mengizinkan jumlah total salah saji yang dapat diterima untuk melebihi materialitas
keseluruhan.
a. Tidak mungkin semua akun akan salah saji sebesar jumlah total salah saji yang dapat diterima.
b. Beberapa akun kemungkinan mengalami lebih saji, sedangkan lainnya kemungkinan menagalami kurang saji, yang mengakibatkan
jumlah bersihyang mungkin lebih kecil daripada yang diperkirakan dalam penilaian awal.