Você está na página 1de 20

PEMBAHASAN

1.Unsur-unsur Agama

Agama adalah tanggapan manusia terhadap titik kritis di mana dia bersentuhan dengan
kekuatan tertinggi dan sakral.[1] Agama merupakan rasa takut yang selalu ada dan
kerendahan hati yang secara paradoks berubah menjadi dasar bagi rasa aman, sebab bila
rasa takut yang dikhayalkan ada dalam hati seseorang dan kerendahan hati selamanya
tetap diakui, maka terjaminlah keunggulan-keunggulan kesadaran manusia. Tidak akan
ada rasa takut atau tindakan yang merendahkan hakikat keagamaan yang terdalam,
sebab mereka secara intuisi mengalami kedua emosi tersebut mendahului rasa
permusuhan yang diungkapkan terhadap dunia yang begitu luas, sangat berarti bagi
keinginan manusia. Sadar atau tidak sadar, ia merupakan perburuan terhadap realitas
tertinggi yang mengikuti kekalahan total tetapi diperlukan, merupakan inti dari agama.

Agama, religi dan din pada umumnya merupakan suatu sistema credo ‘tata keimanan
atau ‘tata keyakinan’ atas adanyasesuatu yang mutlak di luar manusia. Selain itu ia juga
merupakan suatu sistema ritus ‘tata peribadahan’ manusia kepada sesuatu yang
dianggap yang Mutlak, juga sebagai sistema norma ‘tata kaidah’ yang mengatur
hubungan antara manusia dan manusia serta antara manusia dan alam lainnya sesuai
dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadahan itu. Sebuah agama atau aliran
kepercayaan menjadi benar atau dibenarkan keberaadaannya jika memiliki 3 unsur.
Ketiga unsur tersebut adalah :

a. Credo Yakni suatu agama pastilah memiliki sistem kepercayaan yang percaya akan
adanya Tuhan. Dalam konteks ini, sebuah agama tentu tidak akan dinamakan agama
jika tidak memiliki Tuhan. Ini sesuai dengan pengertian agama dalam pembahasan di
awal tentang agama yang berarti mengikat diri kembali kepada Tuhan.

b. Ritus Sebuah agama pasti memiliki suatu sistem ritual hubungan antara pemeluk
agama dengan Tuhan yang diyakini oleh masing-masing pemeluk agama.Ritus ini pasti
ada dan berbeda tiap-tiap agama. Dalam agama islam ritual ini bisa berupa sholat 5
waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, naik haji bagi yang mampu serta ritual-ritual
lainnya yang begitu banyak.
c. Norma (Hukum) Sistem norma ini mengatur hubungan-hubungan sosial antara
pemeluk agama dengan pemeluk agama lain. Sistem norma inilah yang menciptakan
kerukunan antar umat beragama. Tidak ada satupun agama di dunia ini yang
mempunyai sistem norma yang mengajarkan untuk bermusuhan dengan orang dari
pemeluk agama lain. Sistem norma ini selalu mengajarkan kebaikan kepada para
pemeluk masing-masing agama.

Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:

a. Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan
lagi. M. Natsir. Agama adalah kepercayaan dan cara hidup yang mengandung
faktor-faktor, antara lain 1) percaya dengan adanya Tuhan sebagai sumber dari
segala sumber hukum dan nilai hidup; 2) percaya dengan wahyu Tuhan kepada
Rasul-Nya; 3) percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dan manusia atau
perseorangan; 4) percaya d3engan hubungan ini dapat mempengaruhi hidupnya
sehari-hari; 5) percaya bahwa dengan matinya seorang, kehidupan rohnya tidak
berakhir; 6) percaya dengan ibadah sebagai cara mengadakan hubungan Tuhan; 7)
percaya dengan keridhaan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia. Sungguh pun
beberapa faktor lagi yang dapat kita sebut, tetapi sudah cukup untuk melukiskan
dengan jelas definisi agama, sehingga kita dapat melihat bedanya dengan yang lain
(“Islam dan Sekularisme”, pidato dalam sidang pleno kontituante, 12 November
1957).
Ahmad Mukti Ali menyatakan agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan
Yang Maha Esa dan hukumyang diwahyukan kepada utusan-utusan untuk
kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, ciri-ciri agama
adalah 1) mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa; 2) memiliki kitab suci dari
Tuhan Yang Maha Esa; 3) Memiliki Rasul ‘utusan ‘dari Tuhan Yang Maha Esa; 4)
memiliki hukum sendiri bagi kehidupan para penganutnya berupa perintah-perintah
larangaan-larangan dan petunjuk-petunjuk[7] K.H.E. Abdurrahman. Agama adalah
ketetapan ketuhanan karena kebaikan Allah kepada manusia dengan melalui lidah
(dengan menyambung) dari antara mereka. Untuk mencapai kerasulan itu tidak
dapat dengan usaha dan tidak pula di buat-buat, dan tidak akan mendapatkan
wahyu dengan cara belajar. In Huwwa ila wahuun yuha, yang demikian tidak lain
hanya semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.
a. Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
b. Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-
Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan
ajaran agama.
c. Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang
dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
d. Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama. Secara umum ruang
lingkup suatu agama meliputi unsur-unsurnya sebagai berikut:
a. Substansi yang disembah Dalam setiap agama, esensi dari keagamaan adalah
penyembahan pada sesuatu yang dianggap berkuasa.Substansi yang disembah
menjadi pembeda dalam kategorisasi agamanya, ada yang memusyrikan Allah dan
ada yang mentauhidkan Allah. b. Kitab Suci Kitab suci merupakan salah satu ciri
khas dari agama.Bila suatu agama tidak memiliki kitab suci, maka sulit dikatakan
sebagai suatu agama.
c. Pembawa Ajaran Pembawa ajaran suatu Agama Samawi disebut Nabi (Rasul)
yang menerima wahyu dari Allah SWT.untuk disampaikan kepada masyarakat
berdasarkan wahyu yang diterimanya. Dalam Agama Tabi’i, proses kenabian
kadang-kadang melalui proses evaluasi yang dihasilkan berdasarkan sebuah julukan
yang sengaja dikatakan untuk (sebagai) penghormatan tanpa adanya pengakuan
berdasarkan wahyu dari Allah SWT.
d. Pokok-pokok Ajaran Setiap Agama baik Samawi maupun Tabi’i mempunyai
pokok-pokok ajaran atau prinsip ajaran yang wajib diyakini bagi pemeluknya.Pokok
ajaran ini sering disebut dengan Dogma, yaitu setiap ajaran baik percaya atau tidak,
bagi pemeluknya wajib untuk mempercayainya.
e. Aliran-aliran Setiap agama yang ada di dunia ini baik Samawi maupun Tabi’i
memiliki aliran-aliran yang berkembang pada agama masing-masing yang
diakibatkan karena adanya perbedaan pendapat/pandangan baik perorangan
maupun kelompok yang mengakibatkan timbulnya suatu aliran yang masing-masing
kelompok memperkuat paham kelompoknya. Dalam Islam perbedaan merupakan
rahmat, sedangkan dalam agama selain Islam dapat berubah pada masalah-masalah
pokok, seperti berubahnya paham ketuhanan dalam agama tauhid menjadi agama
musyrik ( syirik kepada Allah SWT).
2.Pengertian Modernisasi Secara Etimologi dan Terminologi
a) Secara Etimologi Modernisasi berasal darikata modern yang berarti kreasi
baru, cara baru, secara baru, model baru, mutakhir.[9]Modernis adalah orang yang
berhaluan modern, pencetus ide-ide modern, orang modern. Modernisasi adalah
gerakan untuk merombak cara-cara kehidupan lama untuk menuju bentuk atau
model kehidupan yang baru, penerapan model-model baru, pemodernan. Sedangkan
modernisme adalah pembaharuan – pembaharuan corak atau model kehidupan gaya
hidup modern, adat hidup modern.
Dan yang selanjutnya yang memiliki hubungan dengan modernisasi adalah
modernitas yaitu kemodernan, yang modern, keadaan modern.[10] Istilah modern
mengacu kepada pengertian “sekarang ini”[11]. Istilah ini dianggap sebagai lawan
dari istilah ancient atau tradisonal. Dengan demikian, kedua istilah itu merupakan
tipe dari dua tatanan masyarakat yang berbeda. Pada umumnya, dalam pengertian
modern, tercakup ciri-ciri masyarakat tertentu yang ditemui sekarang ini. Dalam
pengertian ancient atau tradisional, mencakup “pengertian sisa” (residual sense) dari
ciri-ciri masyarakat modern.
Istilah modern kemudian berkembang menjadi salah satu istilah teknis akademis.
Perkembangan istilah tersebut tidak dapat dipisahkan dengan sejarah peradaban
eropa. Modernisasi adalah pemodern (sikap, gaya hidup, cara pandang, dan
sebagainya), Proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagaiwarga masyarakat untuk
bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini.
b) Secara Terminologi Modernisasi adalah gerakan untuk merombak cara-cara
kehidupan lama untuk menuju bentuk atau model kehidupan yang baru, penerapan
model-model baru, pemodernan. Modernisasi adalah Proses pergeseran sikap dan
mentalitas sebagai sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan
tuntutan masa kini.
Menurut Max Weber, modernisasi adalah rasionalisasi yaitu penerapan
pengetahuan saintifik ke semua matra kehidupan sehari-hari, pengikisan terhadap
keyakinan dan praktik magis dan irrasionalitas, pengembangan ekonomi uang
supaya kontribusi dan kebutuhan bisa diukur dengan cermat, sekularisasi nilai-nilai
agama, dan pengabaian terhadap realitas dalam menyetujui prinsip-prinsip rasional
tentang efisiensi dan kalkulasi.
Istilah modernisasi sering diasosiasikan dengan kemajuan atau evolusi.Dalam
pemikiran sejumlah peneliti sosial, konsep evolusionisme cenderung
disederhanakan.Evolusinisme berkaiatan dengan gagasan bahwa perkembangan dari
masyarakat miskin menuju masyarakat maju tidak terhindarkan.Sebagai
konsekuensinya, yang menyangkut struktur kebudayaan dapat diramalkan.Selain
itu, evolusi itu cenderung disederhanakan artinya dalam mempelajari problematic
perkembangan dari evolusi tersebut sering digunakan suatu pembagian menjadi dua,
seperti terlihat dari pasangan konsep kaya-miskin, barat-nonbarat, maju-terbelakang.
Pada dasarnya pengertian modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan
bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi
sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri-ciri negara barat
yang stabil. Modernisasi merupakan suatu bentuk perubahan sosial. Biasanya
merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada
perencanaan yang biasa dinamakan social planning. Modernisasi merupakan suatu
persoalan yang harus dihadapi masyarakat yang besangkutan karena prosesnya
meliputi bidang-bidang yang sangat luas, menyangkut proses disorganisasi,
problema-problema sosial, konflik antar kelompok, hambatan-hambatan terhadap
perubahan, dan sebagainya.
Light dan Keller, mengartikan modernisasi sebagai perubahan nilai-nilai, lembaga-
lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat tradisional kearah
industrialisasi dan urbanisasi.Atau seperti ditegaskan Zanden, modernisasi
merupakan suatu proses yang melaluinya, suatu masyarakat beralih dari pengaturan
sosial dan ekonomi tradisional atau pra-industrial ke masyarakat yang bercirikan
industrial. Industrialisasi sering digunakan dalam arti luas sebagai ekuivalen dengan
bentuk modernisasi ekonomi.
Definisi senada diungkap Nurcholish Madjid, yang mengatakan bahwa “zaman
modern”, adalah “zaman Teknik” (technical Age), bila dilihat dari hakikat intinya,
karena pada zaman ini peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk
kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme sangat kental, wujud keterkaitan
antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia
memasuki zaman sekarang ini, yaitu revolusi industri (teknologis) di Inggris dan
revolusi Perancis (social politik) di Perancis.
3.Hubungan Agama dengan Modernisasi
Ada dua pandangan mengenai modernisasi, pertama, pandangan yang menyatakan
bahwa modernisasi ditentukan oleh adanya sikap-sikap modern tertentu. Dengan
perkataan lain, sikap-sikap modern merupakan prasyarat bagi keberhasilan proses
modernisasi. Pandangan ini diwakili oleh David McClelland dan Max Weber.
Weber menyatakan bahwa Calvinisme mengandung etos kerja atau –menggunakan
istilah McCelland –“viirus mental”. Kedua, anggapan yang mencoba menentang
pandangan yang diuraikan pertama yang diwakili oleh Alexander Gerschenkron.
Beliau menyatakan bahwa Calvinisme melancarkan proses modernisasi. Keberatan
lain atas pandangan yang pertama dikemukakan oleh para antropolog. Mereka
mengingatkan agar tidak memandang masyarakat tradisional sebagai masyarakat
yang statis dan memiliki nilai yang seragam.
Agama dan modernisasi sering menjadi fokus kajian para sarjana sosiolog dan
antropolog sejak awal abad ke-18. Mereka tertarik membicarakan bagaimana nasib
agama ketika berhadapan dengan modernisasi yang sedang melanda semua
masyarakat di dunia ini. Hampir semua sarjana sosiologi dan antropologi
menganggap bahwa ketika agama berhadapan dengan modernisasi, ia akan
tersisihkan peranannya sebagai faktor legitimasi utama dalam masyrakat, digantikan
oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri
yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, modernisasi selalu
berakibat munculnya sekularisasi dalam keberagaman dan individualisasi dalam
hubungan sosial bagi masyarakat tersebut.
Cikal bakal modernisasi berasal dari munculnya gerakan pemikiran abad
pertengahan- yang disebut sebagai zaman pencerahan- yang membawa implikasi
perubahan mendasar hampir dalam semua kehidupan manusia. Sejak zaman
pencerahan itu, dunia ilmu pengetahuan bersifat positivistik dengan meletakkan
dominasi ilmu-ilmu empiris, eksak beserta metodologinya sebagai paradigma. Sejak
masa itu muncullah dikotomi antara kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan
dengan kebenaran berdasarkan agama yang pada zaman sebelumnya kebenaran
selalu dipegang oleh agama (gereja). Tata perekonomian dunia juga berubah; ia kini
diatur secara sistem kapitalistik yang menekankan pada mekanisme pasar bebas.
Keadaan itu merefleksi pada peri kehidupan manusia yang lain dengan ditandai oleh
sikap matrealistik yang terlalu duniawi dan lahiriah, yang hampir tidak hampir
memperhatikan dan memperdulikan kehidupan batiniah. Keputusan tindakan
manusia bersifat pragmatik praktis jangka pendek; baik buruknya diukur dari segi
menguntungkan atau tidak menurut nilai ekonomi (economic value), sehingga
tujuan pendidikan pun lebih diarahkan pada kemampuan pencapaian kemampuan
(skill).
Babak akhir abad ke-18 merupakan permulaan zaman baru, ketika masyarakat dunia
mulai mengadakan modernisasi, terutama dinegara-negara eropa barat, setelah
mengalami revolusi industri sebagai akibat ditemukannya mesin uap oleh James
Watt. Sebagai penerapan ilmu pengetahuan dalam setiap aspek kehidupan,
modernisasi berakar pada kesadaran abad sebelumnya (abad ke-14), yang disebut
“abad pencerahan” terhadap agama adalah kurang bersahabat.
Pada umumnya mereka, menganggap agama sesuatu yang patut dimusuhi atau
sekurang-kurangnya harus dicurigai, karena dipandang produk masa lalu yang
membelenggu kebebasan manusia. Salah satu alirannya adalah Deisme di Inggris,
yang menentang kepercayaan berdasarkan agama. Deisme mengakui adanya Tuhan
yang menciptakan alam, tetapi sesudah dunia tercipta. Tuhan membiarkan dunia
kepada nasibnya sendiri. Deisme memberikan kritik akal serta menyebarkan ilmu
pengetahuan yang bebas dari segala dominasi ajaran gereja.
Abad ke-19 merupakan abad yang sangat dipengaruhi oleh filsafat positivisme.
Terutama di bidang ilmu pengetahuan, yang ditandai oleh peran yang menentukan
dari cara berpikir ilmiah. Bahwa kebenaran itu adalah yang dapat diukur oleh
kebenaran ilmiah. Karena itu, agama –yang menawarkan kebenaran teologis-
dianggap sesuatu yang telah usang, produk masa lalu, yang telah digantikan oleh
kebenaran positivisme. Tokohnya yang dianggap sebagai bapak positivisme dan
sosiolog –mengeluarkan hukum tiga tahap dalam perkembangan pemikiran
manusia: pertama, manusia hidup dalam tahap teologis, yaitu pemikiran bahwa
setiap persoalan hidup dipecahkan melalui kepercayaan akan kekuasaan Tuhan,
mulai dari animisme, politeisme, dan monoteisme. Kedua, manusia hidup dalam
tahap metafisik. Tahapan ini sebenarnya masih sama dengan yang pertama, hanya
diganti dengan kekuatan abstrak, pengertian, dan kosep abstrak. Ketiga, manusia
hidup dalam tahapan positif yang bermakna nyata dan ilimiah.
Dalam pandangan Comte, agama adalah produk masa lalu yang posisinya akan
digantikan oleh positivisme. Dan menurutnya walaupun ada agama, namun hanya
merupakan agama humanitas, agama yang sudah disesuaikan dengan positivisme.
Pandangan Comte ini banyak memberikan inspirasi luar biasa bagi perkembangan
ilmu pengetahuan pada abad ke-19 dan 20.
Awal abad ke-20 berkembang aliran-aliran pragmatisme, aliran yang menyatakan
bahwa sesuatu itu benar apabila ada nilai guna praktisnya bagi kehidupan manusia.
Tokohnya yang terkenal diantaranya William James (1842-1910) dan John Dewey
(1859-1938). Juga muncul aliran filsafat eksistensialisme dengan tokohnya Soren
Kierkegard, Martin Heidgger, Jean Paul Sarte, Karl Jespers dan Gabriel Marcel.
Aliran ini menekankan pada eksistensi memanusia dengan seluruh otonominya yang
tak terbatas. Kedua aliran ini semakin memojokkan peranan dan legitimasi agama
dalam panggung kehidupan manusia modern.
Umat manusia telah terbentuk, sebagaimana produk industri itu sendiri. Tak ada
lagi keunikan, yang ada hanyalah kekakuan yang seragam sehingga sadar atau tidak
sadar, manusia berangsur-angsur kehilangan asas kemerdekaannya. Padahal itikad
dikembangkannya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pembebasan
keterbatasan manusia, justru menghadirkan kerumitan hidup dan kegelapan ruang
spiritual. Manusiatelah kehilangan kontak secara manusiawi dalam tata hubungan
antar manusia karena manusia telah menjadi egoistis. Manusia kehilangan kontak
dengan alam, dan oleh karena itu kerusakan lingkungan menjadi masalah utama
dalam kehidupan modern. Manusia telah kehilangan orientasi, tidak tahu kemana
arah hidup tertuju.
Tiga dasawarsa terakhir menjelang berakhirnya abad ke-20, terjadi perkembangan
pemikiran baru yang mulai menyadari bahwa selama ini manusia salah menjalani
kehidupannya. Manusia mulai merindukan dimensi spiritual yang hilang dalam
kehidupannya. Di dunia ilmu pengetahuan muncul berbagai pandangan yang
menggugat paradigma positivisme. Di era modern ini, menurut beberapa sarjana,
terdapat peningkatan perhatian yang signifikan terhadap agama.
Hal ini menurut Naisbitt dan Aburdene (1990), dikarenakan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern tidak memberikan makna tentang kehidupan, sehingga di zaman
ini muncul istilah Turning To The East, sebagai fenomena bahwa agama akan
mengalami kebangkitan. Islam yang diakui pemeluknya sebagai agama terakhir dan
penutup dari rangkaian petunjuk (wahyu) Tuhan untuk membimbing kehidupan
manusia.
Islam adalah agama yang diklaim sebagai agama yang sempurna bagi yang
meyakininya. Dan salah satu makna kesempurnaan itu ialah bahwa islam diyakini
bersifat universal yang meliputi berbagai dimensi ruang dan waktu. Jika ditafsirkan
secara kontekstual, maka ajaran islam cocok untuk diterapkan kapan dan dimana
saja, atau dalam bahasa Al-Qur’an disebut rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi
semesta alam).
Pada setiap zaman juga terjadi dan akan selalu terjadi reinterpretasi dan reaktulisasi
atas ajaran islam yang disesuaikan dengan tingkat pemikiran manusia pada zaman
itu. Hal ini merujuk pada sabda nabi Muhammad SAW: “ Sesuaikan pengajaran
agama islam dengan tingkat akal budi manusia”. Nasib agama islam di zaman
modern ini juga sangat ditentukan oleh sejauh mana kemampuan umat islam
merespons secara tepat tuntutan dan perubahan sejarah yang terjadi di era modern.
Nurcholis Madjid pernah mengomentari islam dan tantangan modernitas. Dalam
pandangannya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa risalah islam karena
universalitasnya dapat diadaptasikan dengan lingkungan kultural manapun termasuk
lingkungan masyarakat perkotaan modern. Kemampuan islam mengadaptasikan
dirinya dengan tuntutan kebudayaan modern diakui oleh sejumlah ilmuwan sosial.
Salah satunya adalah Ernest Gellne. Ia menegaskan bahwa islam dapat
dimodernisasi, dan upaya modernisasi itu dapat dilakukan serempak dengan upaya
pemurniannya. Modernisasi islam, yakni adaptasinya dengan lingkungan modern,
harus berlangsung tanpa merusak keaslian dan otensitasnya sebagai agama wahyu.
Peradaban barat –seperti yang telihat dinegara-negara eropa barat dan amerika utara
– telah mengalami kemajuan yang menakjubkan dan telah menemukan “kemajuan”
ilmu pengetahuan yang luar biasa sejak mereka menolak hegemoni ajaran agama
(gereja) pada abad pertengahan. Karena ketidakpercayaan mereka pada ajaran
gereja, ditanamkanlah dalam pandangan manusia bahwa agama merupakan
penghambat kemajuan dan pengekang otonomi manusia.
Mereka tidak menyadari atau tidak mengetahui bahwa tidak semua agama
menghambat kemajuan dan mengekang kemajuan ilmu pengetahuan; agama
tertentu bahkan sangat mendukung kemajuan dan otonomi manusia. Islam malahan
menyuruh umatnya untuk selalu mengali ilmu pengetahuan dan mengolah dunia
untuk kehidupan yang baik bagi manusia.Kesalahan penafsiran dan pemahaman
kalangan agamawan sendiri terhadap agamanya selama ini sejak awal abad
pertengahan di Eropa, yang sebenarnya menghalangi kemajuan.Atau, mungkin juga
agama yang selama ini mereka anut dan percayai di Eropa secara kembangaan
maupun ajarannya pada saat itu, tidak kondusif bagi kemajuan keilmuan dan
peradaban manusia.
Satu warisan kultural zaman pencerahan yang mencerminkan kelemahan manusia
modern adalah sikap mendewakan secara berlebihan rasionalitas manusia.
Kelemahan mengakibatkan adanya kecenderungan untuk menyisihkan seluruh
pengertian nilai dan norma moral berdasarkan agama dalam memandang kenyataan
kehidupan. Manusia modern yang mewarisi sikap positivistic ini, cenderung
menolak keterkaitan antara subtansi jasmani dan subtansi rohani manusia, serta
menolak pengertian ketersusunan alam dunia dan akhirat.
Setiap analisis tentang kaitan agama dan modernitas dilihat dari sudut pandang
agama, cenderung bersifat apologis. Sikap apologis itu dalam rumusan umum sering
menempatkan agama tidak ubahnya seperti suatu alat untuk membenarkan semua
perilaku kemodernan si satu pihak, atau bahkan agama merupakan “ palu godam ”
untuk mengutuk apa saja yang berbau modern di lain pihak. Kedua sikap ini sangat
merendahkan martabat agama serta sekaligus memantulkan kesan ketidakberdayaan
agama dalam menghadapi gelombang besar transformasi yang menyertai peradaban
modern.
Dilihat dari perspektif islam, terjadinya aliensi sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari modernitas tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Karena modernitas yang
kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari saat ini adalah diimpor dari dunia barat
yang memiliki system nilai dan logika perkembangan tersendiri, yang didalamnya
mungkin terdapat unsure yang sinkron dan saling melengkapi yang bersifatuniversal.
Para penulia kenamaan seperti Sayid Quthub, Al- Maududi, Ali Syariati dan m asih
banyak yang lainnya telah banyak mengajukan sikap apologisnya terhadap islam
ketika islam ketika islam bertekuk lutut kepada barat.
Salah satu tulisan yang bergaya apologistersebut terutama adalah menunjukkan
kebrengsekan dibalik kemilau peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
tersebut, sambil mengajukan klaim-klaim deduktif yang diambilkan dari berbagai
sumber nilai ajaran islam. Sikap apologis yang terkadang berlebihan itu diantara lain
disebabkan oleh pantulan emosi terhadap situasi yang dihadapi umat islam yang
sampai perang dunia kedua nyaris semuanya berada dibawah belenggu penjajahan
barat yang telah menyemaikan “ virus ” modernitas tersebut.
Dalam bentuknya yang positif tentu saja umat islam pun secara jujur mengakui “
hutang budi ” mereka kepada barat, terutama dalam mengikis kungkungan
tradisionalisme, untuk kemudian menerima tatanan baru yang mendorong untuk
melakukan berbagai inivasi guna menjawab tantangan jaman di lingkungannya
masing-masing. Virus modernitas telah mendorong umat islam untuk makin siap
menhadapi realita kehidupan, bahkan jika perlu bersikap pragmatis. Ini tidak berarti
bahwa umat islam “ membebek ” dan bahkan “ mengadaikan diri ” kepada barat
demi merangkul modernitas. Disinilah letak dilemanya: umat islam kehilangan jati
diri dalam melihat tatanan yang serba asing untuk kemudian menempatkannya
secara proporsional, baik sebagai “ kawan ” maupun sebagai “ lawan ”.
Dalam posisi seperti paparan diatas, maka kita telaah tentang agama dan modernitas
tidak membuat kita makin bijak bahkan bias sebaliknya. Tanpa bermaksud terlibat
dalam polemik panjang diatas, kita juga menyadari bahwa jika agama menjadi
makin marginal kedudukannya dalam kehidupan modern ini, maka bahaya besar
akan selalu mengitari peradaban. Cepat atau lambat ia akan mengalami kenagkrutan
total. Dengan pendirian semacam ini, maka posisi yang makin jelas bahwa umat
beragama harus berani menjadi benteng yang akan selalu siap menangkal setiap
kecenderungan destruktif yang muncul dalam masyarakat karena agama telah
dienyahkan dari pergaulan hidup dan manusia mengikuti naluri “ kebinatangannya
”. Dua tugas pokok umat islam yang paling mendesak untuk diaktualisasikan,
pertama, upaya mengetualisasikan ajaran islam dalam jabaran yang lebih konkret
dan dapat diterapkan di dalam realitas hidup keseharian. Islam harus bisa dipahami
dan dinyatalaksanakan dalam kehidupan nyata oleh segenap lapisan masyarakat.
Agama tidak cukup hanya menjadi bahan perbincangan dan pergunjingan, tetapi
juga harus siap dihadapkan secara proposional dengan semua kenyataan hidup.
Pada sisi kedua realitas hidup itu sendiri harus bisa menjadi sumber motivasi yang
menantang agar untuk makin “ memanusia”.
Diingatkan kembali bahwa menegakkan ajaran agama ditengah-tengah masyarakat
yang cenderung sekular memang bukan pekerjaan yang gampang. Agama yang
secara hakiki seyogyanya menjadi penunjuk arah, sumber motivasi dan sekaligus
sebagai alat control dan kritik terhadap segenap aspek pembangunan pada
kenyataannya sering tidak bisa fungsional. Subornasi agama pada tataran duniawi
pada giliran berikutnya akan sampai pada klimaksnya ketika manusia telah sampai
pada kesimpulan bahwa agama tidak lebih dari sekedar konvensi moral yang setiap
saat bisa berubah menurut selerah manusia. Pada tahap awal orang menganggap
bahwa semua agama adalah “ sama benarnya ”, karena itu bertukar agama juga
dipandang lumrah dan akhirnya muncul pula anggapan bahwa beragama pun
kehidupan manusia terus berlangsung.
Dengan kata lain sikap anogstik sampai ke ateistik, apalagi sekedar berpindah-
pindah agama dianggap lumrah. Dalam kaitan inilah umat islam Indonesia sebagai
suatu komunitas islam terbesar dalam satuan Negara bangsa di dunia seyogyanya
makin tertinggi untuk dapat memberikan “ sesuatu ” yang diperlukan masyarakat
modern untuk mengisi kekosongan hati nuraninya dari ajaran-ajaran transendental.
Pembentukan komunitas dalam segenap lapisan masyarakat islam merupakan suatu
keharusan untuk mampu mewujudkan sesuatu teladan bagi bangsa lain yang umat
islamnya adalah sangat minoritas. Entah dari mana kita harus membenahi islam
agar pembinaan masyarakat muslim dapat benar-benar menjadi kenyataan. Akan
tetapi, ke-islaman seseorang hendaknya tidak dipertentangkan dengan
kemodernannya.
Bagi masyarakat Indonesia mengidealisasikan peranan agama dalam pembentukan
budaya dan kepribadian bangsa adalah wajar, karena agama memang memiliki akar
yang kokoh di dalam, hamper segala untuk tidak menyebut seluruh subkultur yang
ada di Indonesia, konon sejak zaman dahulu kala. Dengan kata lain, bangsa
Indonesia, agama telah menjadi salah satu unsure yang paling dominan dalam
sejarah peradaban kita, termasuk didalamnya era modern ini, dan bahkan diduga
keras akan tetap berpengaruh di masa depan.
Memang aneh kedengarannya jika dipersepsikan di masa depan agama tetap
memegang peranan penting dalam suatu peradaban barat, terbukti agama
mengalami pasang-surut, tenggelam dibawah arus kedua kekuatan sejarah tersebut.
Di pihak lain perlu pula disadari tentang pengkajian agama di dalam dunia ilmu
sosial itu sendiri. Perubahan tentang organisasi dan gerakan-gerakan agama dilihat
dari perspektif teori sosiologis merupakan salah satu diantara tipe studi agama dua
bentuk lainnya adalah pengkajian agama sebagai suatu problem teoritis yang bersifat
sentral dalam memahami tindakan sosial, dan agama dilihat dari pertautannya
dengan kawasan kehidupan sosial lainnya, seperti ekonomi, politik, dan kelas sosial.
Di zaman modernisasi dan globalisasi sekarang ini, manusia di Barat sudah berhasil
mengembangkan kemampuan nalarnya (kecerdesan intelektualnya) untuk mencapai
kemajuan yang begitu pesat dari waktu kewaktu diberbagai bidang kehidupan
termasuk dalam bidang sains dan teknologi yang kemajuannya tidak dapat
dibendung lagi akan tetapi kemajuan tersebut jauh dari spirit agama sehingga yang
lahir adalah sains dan teknologi sekuler. Manusia saling berpacu meraih kesuksesan
dalam bidang material, soial, politik, ekonomi, pangkat, jabatan, kedudukan,
kekuasaan dan seterusnya, namun tatkala mereka sudah berada dipuncak
kesuksesan tersebut lalu jiwa mereka mengalami goncangan-goncangan mereka
bingung untuk apa semua ini. Kenapa bisa terjadi demikian, karena jiwa mereka
dalam kekosongan dari nilai-nilai spiritual, disebabkan tidak punya oreintasi yang
jelas dalam menapaki kehidupan di alam dunia ini. Sayyid Hussein Nasr menilai
bahwa keterasingan (alienasi) yang dialami oleh orang-orang Barat karena
peradaban moderen yang mereka bangun bermula dari penolakan (negation)
terhadap hakikat ruhaniyah secara gradual dalam kehidupan manusia.Akibatnya
manusia lupa terhadap eksistensi dirinya sebagai ‘abid (hamba) dihadapan Tuhan
karena telah terputus dari akar-akar spiritualitas.Hal ini merupakan fenomena
betapa manusia moderen memiliki spiritualitas yang akut.Pada gilirannya, mereka
cenderung tidak mampu menjawab berbagai persoalan hidupnya, dan kemudian
terperangkap dalam kehampaan dan ketidak bermaknaan hidup.
Keimanan atau kepercayaan pada agama (Tuhan) terutama Islam itu, secara
pragmatis merupakan kebutuhan untuk menenangkan jiwa, terlepas apakah objek
kualitas iman itu benar atau salah. Secara psikologis, ini menunjukkan bahwa Islam
selalu mengajarkan dan menyadarkan akan nasib keterasingan manusia dari
Tuhannya.
Manusia bagaimanapun juga tidak akan dapat melepaskan diri dari agama, karena
manusia selalu punya ketergantungan kepada kekuatan yang lebih tinggi diluar
dirinya (Tuhan) atau apapun bentuknya dan agama diturunkan oleh Allah untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual.[44]
Pandangan dunia sekuler, yang hanya mementingkan kehidupan duniawi, telah
secara signifikan menyingkirkan manusia moderendari segala aspek spiritual.
Akibatnya mereka hidup secara terisolir dari dunia-dunia lain yang bersifat nonfisik,
yang diyakini adanya oleh para Sufi. Mereka menolak segala dunia nonfisik seperti
dunia imajinal atau spiritual sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-
realitas yang lebih tinggi daripada sekedar entitas-entitas fisik. Sains moderen
menyingkirkan pengetahuan tentang kosmologi dari wacananya. Padahal kosmologi
adalah “ilmu sakral” yang menjelaskan kaitan dunia materi dengan wahyu dan
doktrin metafisis. Manusia sebenarnya menurut fitrahnya tidak dapat melepaskan
diri dari kehidupan spiritual karena memang diri manusia terdiri dari dua unsur
yaitu jasmani dan ruhani, manusia disamping makhluk fisik juga makhluk non fisik.
Dalam diri manusia tuntutan kebutuhan jasmani dan rohani harus dipenuhi secara
bersamaan dan seimbang, kebutuhan jasmani dapat terpenuhi dengan hal-hal yang
bersifat materi sedangkan kebutuhan ruhani harus dipenuhi dengan yang bersifat
spiritual seperti ibadah, dzikir, etika dan amal shaleh lainnya. Apabila kedua hal
tersbeut tidak dapat dipenuhi secara adil maka kehidupan manusia itu dapat
dipastikan akan mengalami kekeringan dan kehampaan bahkan tidak menutup
kemungkinan bisa mengalami setres. Salah satu kritik yang ditujukan kepada ilmu
pengetahuan dan teknologi moderen dari sudut pandang Islam ialah karena ilmu
pengetahuan dan teknologi moderen tersebut hanya absah secara metodologi, tetapi
miskin dari segi moral dan etika.Pandangan masyarakat moderen yang bertumpu
pada prestasi sains dan teknologi, telah meminggrikan dimensi transendental
Ilahiyah.Akibatnya, kehidupan masyarakat moderen menjadi kehilangan salah satu
aspeknya yang paling fundamental, yaitu aspek spiritual.
Setiap analisis tentang kaitan antara agama dan modernitas dilihat dari sudut
pandang agama, cenderung bersifat apologis. Sikap apologis itu dalam rumusan
umum sering menempatkan agama tidak ubahnya seperti suatu alat untuk
membenarkan semua perilaku kemodernan disatu pihak, atau bahkan agama
dijadikan alasan untuk mengutuk apa saja yang berbau moderen disatu lain pihak.
Kedua sikap ini sangat merendahkan martabat agama serta sekaligus memantulkan
kesan ketidakberdayaan agama dalam menghadapi gelombang besar transformasi
yang menyertai peradaban moderen.
Dilihat dari perspektif islam, terjadinya alienasi sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari modernitas tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Karena
modernitas yang kita hayati dalam kejidupan kita sehari-hari saat ini adalah diimpor
dari dunia barat yang memiliki sistem nilai dan logika perkembangan tersendiri,
yang didalamnya mungkin terdapat unsur yang sinkron dan saling melengkapi yang
bersifat universal.

2.ANALISIS
a.Analisis
Berdasarkan penjelasan di atas,bahwasannya Modernisasi adalahProses pergeseran
sikap dan mentalitas sebagai sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai
dengan tuntutan masa kini. Modernisasi tidak selamanya membawa pengaruh buruk
yang umum diyakini dan dipahami masyarakat yang memang belum tahu tentang
modernisasi itu seperti apa. Modernisasi juga membawa pengaruh positif bagi
masyarakat. Misalnya, perkembangan IPTEK yang akan merubah pola pemikiran
masyarakat menuju kemajuan.
Tapi dari perubahan pola pikir itu pula yang cenderung merubah pola perilaku
masyarakat yang awalnya tradisional menjadi meniru gaya-gaya orang barat pada
umumnya.Sehingga perlu adanya peran agama untuk tetap mampu
mempertahankan intensitas keyakinan dan budaya yang ada pada masyarakat
dengan tidak terpengaruh ke arah modernisasi yang tidak di harapkan. Sebagaimana
tujuan murni dari sebuah modernisasi itu sendiri adalah untuk memberikan prospek
kemajuan bagi masyarakat yang awalnya dulu lebih berada dalam kekuasaan gereja
yang membatasi ruang gerak ilmu pengetahuan dan perkembangan masyarakat.
Jadi modernisasi ini muncul untuk mengatasi dan memperjuangkan kehidupan
masyarakat agar lebih maju dan berkembang dengan catatan tidak merubah dasar-
dasar yang ada dalam masyarakat tersebut.
Analisis menurut kami,bahwa modernisasi adalah pergeseran sikap, gaya hidup,
cara pandang, dan sebagainya sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai
dengan perkembangan zaman. Namun pada kenyataannya modernisasi dapat
berdampak buruk pada perkembangan pemikiran atau pola pikir masyarakat itu
sendiri. Hal ini sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat yang mungkin
akhirnya akan terbawa arus sekularisasi,karena itu peran agama sangat dibutuhkan.
Bagaimanapun juga manusia selalu punya ketergantungan kepada kekuatan yang
lebih tinggi diluar dirinya (Tuhan) atau adanya agama untuk memenuhi kebutuhan
dasar manusia sebagai makhluk rasional dan spiritual.Sehingga meskipun ada
modernisasi, agama tetap mempunyai peran penting untuk mempertahankan
intensitas keyakinan dan budaya yang ada pada masyarakat dengan tidak
terpengaruh ke arah modernisasi yang tidak diharapkan atau berdampak buruk pada
kehidupan masyarakat.Dalam hal ini modernisasi dapat memberikan prospek
kemajuan bagi masyarakat yang awalnya bersifat tradisional menjadi masyarakat
yang lebih maju dan berkembang dengan tidak merubah aturan dan dasar-dasar
yang ada dalam masyarakat tersebut.

KESIMPULAN
1. Modernisasi berasal dari kata modern yang berarti cara baru, secara baru,
model baru, kreasi baru, mutakhir. Modernis adalah orang yang berhaluan
modern, pencetus ide-ide modern, orang modern. Modernisasi adalah proses,
cara atau perbuatan pergeseran atau peralihan sikap dan mentalis sebagai
warga masyarakat untuk menyesuaikan hidup dengan tuntutan hidup masa
kini. Light dan Keller, mengartikan modernisasi sebagai perubahan nilai-nilai,
lembaga-lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat tradisional
kearah industrialisasi dan urbanisasi.
Definisi senada diungkap Nurcholish Madjid, yang mengatakan bahwa
“zaman modern”, adalah “zaman Teknik” (technical Age), bila dilihat dari
hakikat intinya, karena pada zaman ini peran sentral teknikalisme serta bentuk-
bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme sangat kental, wujud
keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat
manusia memasuki zaman sekarang ini.
2. Letak peran penting pemimpin agama untuk dapat menginterpretasi agama
dari berbagai sudut pandang, rasional, universal yang sesuai dengan kebutuhan
umat manusia dan zaman hingga agama tidaklah dipandang sebagai momok
penghalang dari era modern ini. Agama yang secara hakiki seyogyanya
menjadi penunjuk arah, sumber motivasi dan sekaligus sebagai alat control dan
kritik terhadap segenap aspek pembangunan pada kenyataannya sering tidak
bisa fungsional. Manusia bagaimanapun juga tidak akan dapat melepaskan diri
dari agama, karena manusia selalu punya ketergantungan kepada kekuatan
yang lebih tinggi diluar dirinya (Tuhan) atau apapun bentuknya dan agama
diturunkan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai
makhluk rasional dan spiritual.

https://goo.gl/efW8Ef

Peran Agama Islam dalam Modernisasi

Setiap analisis tentang kaitan antara agama dan modernitas dilihat dari sudut agama,
cenderung bersifat apologis. Sikap apologis dalam rumusan umum sering menempatkan
agama tidak ubahnya seperti suatu alat untuk membenarkan semua perilaku
kemodernan di suatu pihak, atau bahkan agama merupakan “Palu Godam” untuk
mengutuk apa saja yang berbau modern di lain pihak. Kedua sikap ini sangat
merendahkan martabat agama sekaligus memantulkan kesan ketidakberdayaan agama
dalam menghadapi geombang besar transforemasi yang menyertai peradaban modern.

Dilihat dari spesifik islam, terjadinya alienasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
modernitas tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Karena modernitas yang kita hayati
dalam kehidupan sehari-hari saat ini adalah diimpor dari dunia barat yang memiliki
system nilai dan logika perkembangan tersendiri, yang di dalamnya mungkin terdapat
unsur yang sinkorn dan saling melengkapi yang bersifat universal.
Para penulis besar seperti Sayyid Quthb, Al Maududi, Ali Syari’ati dan sebagainya yang
telah banyak mengajukan sikap apologisnya terhadap islam ketika islam bertekuk lutut
kepada barat. Dua tugas utama umat islam yang paling mendesak untuk
diaktualisasikan:

1. Upaya untuk mengaktualisasikan ajaran islam dalam jabaran yang lebih konkret dan
dapat diterapkan di dalam realitas hidup keseharian. Agama tidak cukup hanya menjadi
bahan perbincangan saja tetapi juga harus siap dihadapkan secara proposional dengan
semua kenyataan hidup.

2. Realitas hidup itu sendiri harus bisa menjadi sumber motivasi yang menantang
agama untuk makin memiliki rasa kemanusiaan. Selain itu agama juga harus menjadi
pedoman dalam semua tingkah laku kita.

Kemoderenan selalu identik dengan kehidupan keserbadaan. Sedangkan modernisasi


merupakan salah satu ciri dari peradaban maju. Modernisasi selalu diartikan sebagai
suatu proses yang melaluinya manusia menjadi mampu menguasai alam dengan
memanfaatkan teknologi modern. Masih banyak lagi pengertian modernisasi, namun
intinya menurut Lerner, modernisai itu mencangkup :

1. Pertumbuhan ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.

2. Partisipasi politik.

3. Penyebaran norma-norma.

4. Tingginya tingkat mobilitas social dan geografis.

Transformasi kepribadian.modernitas tersebut menurut Hardgrave gejalanya dapat


dilihat dalam tiga dimensi: teknologis, organisasional dan sikap. Aspek teknologinya
bisa dilacak pada dominasi industrialisasi sehingga masyarakat dapat dibedakan menjadi
praindustri dan industry. Di pihak lain pihak segi sikap dalam kemeoderenan
mencangkup rasionalitas dan sekularisasi dan pertentangan cara pandang ilmiah lawan
magis religius. Dari pandangan terakhir diatas jelas betapa marginal kedudukan agama
dalam madyarakat industri modern.
Ada dua corak agama yang memiliki cara yang berbeda dalam merespon tuntutan
perkembangan masyarakat, yaitu agama-agama wahyu yang relative bisa bertahan
menghadapi arus gelombang modernisasi seperti Islam, Yahudi dan Kristen juga agama-
agama wahyu lain, yang begitu rentan terhadap amukan modernisasi sehingga tidak
mampu bertahan.Semua agama mempunyai klaim yang sama, untuk dapat berlaku
dalam semua situasi, dalam segala satuan social dan dalam rentangan waktu yang tidak
terbatas.

Setiap agama memiliki empat isi pokok, yaitu: doktrin, organisasi, ritual dan pemimpin.
Kecanggihan unsur-unsur tersebut sangat tergantung pada tingkat kemajuan yang
dialami oleh masyarakat pendukungnya. Karena itu agama yang mempunyai tingkat
kecanggihan abstraksi yang rendah biasanya sangat mudah terpengaruh oleh perubahan
yang dialami pemeluknya. Salah satu penyebab utama merosotnya peran agama dalam
peradaban industri modern adalah karena agama dianggap tidak memiliki kontribusi
langsung bagi upaya mengejar kehidupan fisik-material. Pada sisi lain, krisis peradaban
modern, meminjam istilah J.A Camilleri, juga menimbulkan keberantakan yang
gejalanya dapat dilihat dalam ketidak seimbangan psiko-sosial, structural, sistematis dan
ekologis. Dari dampak yang telah dikemukakan diatas, terlihat jelas peran agama
menjadi sangat marginal, karena agama dianggap tidak dapat memberi kontribusi
apapun dalam menghadapi tuntutan hidup yang begitu keras dan penuh persaingan.
Gejala kemerosotan agama tampak dalam melemahnya doktrin-doktrin yang ada,
organisasi agama tidak mampu mengikuti irama dan ritme perubahan social, ritual
agama makin sedikit peminatnya, dan pemimpin agama juga menampakkan diri seperti
kurang semangat karena tidak berdaya berpacu dengan arus tuntutan hidup budaya
materialistic-individualistik, bahkan sangat hedonistik, hal tersebut nampaknya juga
merupakan suatu gejala sosial pemimpin agama dewasa ini, dimana sebagian diantara
mereka memahami agama secara dangkal, hingga akhirnya “membodohkan umat”.
Agama di lain pihak, dipandang tidak mampu melerai konflik-konflik maupun dis-
organisasi sosial bahkan dituding sebagai bermasa bodoh “cuek” terhadap malapetaka
kemanusiaan universal. Namun sebaliknya harus dipahami pula bahwa satu sisi,
agamalah yang diharapkan bisa memainkan peranan positif aktifnya dalam mengerem
perilaku serakah, brutal, dan mengancam kelangsungan hidup serta mengabaikan sama
sekali spiritualitas dan transendentalisme untuk diarahkan kepada kehidupan yang
bertatanan ketuhanan, kemanusiaan dan transcendental dalam menuju dunia yang
damai dan berperadaban. Disinilah letak peran penting pemimpin agama, untuk dapat
menginterpretasi agama, dari berbagai sudut pandang, rasional, universal dan
mengejawantah “membumi” sesuai dengan kebutuhan umat dan zaman, hingga agama
tidaklah dipandang sebagai momok penghalang dari era modern ini.

Menurut beberapa ulama’ agama yang paling benar adalah agama islam sehingga kita
sebagai umat muslim hendaknya menjaga agar diri kita agar tidak terpengaruh oleh arus
medernisasi yang ada pada zaman sekarang. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah
dalam surat Al Imran ayat 19 yang berbunyi :

َ‫ت هللاِّ فَإِّ َّن هللا‬ َ ‫ف اللَّ ِّذيْنَ أ ُ ْوت ُ ْواال ِّكت‬
ِّ ‫َاب ِّإالَّ ِّم ْن بَ ْع ِّد َما َجا َء ُه ُم ال ِّع ْل ُم بَ ْغيًا َب ْي َن ُه ْم َو َم ْن يَ ْكفُ ُر ِّبأيَا‬ َ َ‫اختَل‬
ْ ‫اإل ْسالَ ِّم َو َما‬
ِّ ِّ‫الديْنَ ِّع ْندَ هللا‬
ِّ ‫إ َ َّن‬
﴾۱۹﴿ . ‫ب‬
ِّ ‫سا‬
َ ‫الح‬
ِّ ‫س ِّر ْب ُع‬
َ

“Sesungguhnnya agama di sisi Allah ialah islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang
telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara
mereka. Barang siapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat
cepat perhitunganNya .’’

http://hanimtsuroy.blogspot.co.id/2012/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html