Você está na página 1de 8

ANGKA PENTING

METROLOGI

DOSEN PENGAMPU : Noni Febriani, S.T.

DISUSUN OLEH:

WINDI NILA SARI


NIM. 150203031

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU

2018
1. Mengukur

Mengukur adalah mebandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang


ditetapkan sebagai satuan. Contoh: Mengukur panjang pensil dengan
menggunakan penggaris. Pensil adalah sesuatu yang diukur panjangnya.
Sedangakan Penggaris adalah sebagai acuan yang ditetapkan sebagai satuan.

2. Besaran

Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur yang memiliki nilai dan
satuan. Besaran ini dinyatakan dalam angka melalui hasil pengukuran. Oleh
karena suatu besaran berbeda dengan besaran lainnya, maka ditetapkanlah
satuannya untuk tiap besaran. Contoh : Besaran panjang satuannya meter.
Besaran waktu satuannya detik atau sekon, dan seterusnya. Jadi Satuan
adalah sesuatu atau ukuran yang digunakan untuk menyatakan suatu
besaran. Dalam Fisika dikenal dua jenis besaran, yaitu besaran pokok dan
besaran turunan.

a. Besaran Pokok

Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih


dahulu dan tidak diturunkan dari besaran lain. Didalam System Internasional
terdapat 7(tujuh) besaran pokok yang memiliki dimensi dan 2(dua) besaran
tambahan yang tidak memiliki dimensi. Tabel dibawah menunujukkan 7(tujuh)
besaran pokok dalam System Internasional, yang memiliki dimensi dengan
satuannya.

Tabel 1. Besaran pokok dalam Sistem Internasional (SI)

No Besaran Satuan Lambang Dimensi


1 Panjang meter m L
kilogram
Massa kg M
2
3 Waktu sekon s T
4 Kuat Arus Listrik ampere A θ
5 Suhu kelvin K I
6 Jumlah Zat mole mol J
7 Intensitas Cahaya candela cd N
Mengapa besaran pokok hanya tujuh? Mengapa yang ada di tabel diatas yang
ditetapkan sebagai besaran pokok? Penetapan ini berdasarkan atas diskusi dan
perdebatan yang lama antar ahli fisika terkenal diseluruh dunia. Beberapa alasan
pemilihan tersebut diantaranya:

1. Tujuh besaran tersebut merupakan jumlah paling sedikit yang masih


memungkinkan besaran-besaran lain dapat diturunkan. Jika kurang dari
tujuh maka ada besaran lain yang tidak dapat diperoleh dari besaran
pokok.
2. Tujuh besaran yang ada dalam tabel di atas dapat diukur dengan ketelitian
yang sangat tinggi. Karena besaran pokok akan menurunkan besaran lain
maka besaran-besaran tersebut harus dapat ditentukan dengan sangat teliti.
3. Besaran massa, panjang, dan waktu telah memiliki sejarah penggunaan
yang sangta lama dalam mekanika. Maka dalam penentauan besaran
pokok, ketiga besaran tersebut dimasukkan.
b. Besaran turunan

Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari satu atau lebih
besarn pokok. Contoh: Besaran Pokok Panjang mempunyai turunan Luas dan
Volume. Beberapa besaran Fisika yang termasuk besaran turunan adalah,
Massa jenis, Kecepatan, Percepatan, Berat, gaya, Momentum, Impuls, Momen
gaya, Medan Listrik, Usaha, Energi, daya dan masih banyak lagi. Besaran turunan
adalah besaran yang satuannya tersusun dari satuan besaran pokok. Susunan
satuan besaran turunan tergantung pada cara merumuskan besaran turunan,
misalnya:

masa Kg
1. Masa jenis= = 3
volume m
2
2. Gaya=masa x percepatan=Kg m/s
2
3. Luas= panjang x lebar=m
4. Kecepatan= jarak /waktu=m/s
2
5. Tekanan=gaya/luas penampang=N /m
6. Usaha=gaya x jarak=Nm
3. Satuan
Satuan adalah sesuatu atau ukuran yang digunakan untuk menyatakan
suatu besaran. Ada 2(dua) macam sistem satuan yang banyak digunakan untuk
pengukuran besaran , yaitu sistem Inggris dan sistem Metrik. Sistem Metrik lebih
banyak dipakai oleh sebagian besar negara di Eropa dan lainnya, sedangkan
sistem Inggris hanya dipakai oleh Negara-negara Inggris, Amerika dan bekas
jajahannya. Dalam sidangnya pada tahun 1960, CGPM (Conference Generale des
Poldes et Mesures) telah meresmikan suatu sistem satuan yang dikenal
dengan System Internationale d’Unites, disingkat SI .

4. Angka penting

Dalam kegiatan mengukur dengan menggunakan alat ukur seperti jangka


sorong misalnya, anda tentu akan memperoleh hasil pengukuran berupa angka-
angka. Sebagai contoh, saat anda mengukur diameter tabung, anda mempeoleh
angka 3,24 cm. Maka angka 3 dan 2 merupakan angka pasti dan angka 4
merupakan angka taksiran sesuai ketelitian alat ukur. Angka pasti atau eksak
merupakan angka hasil pengukuran yang tidak diragukan nilainya. Angka taksiran
merupakan angka hasil pengukuran yang masih diragukan nilainya. Semua angka
hasil pengukuran merupakan Angka Penting. Jadi Angka penting terdiri dari
angka pasti yang terbaca pada skala alat ukur dan angka taksiran ( perkiraan)
yang sesuai dengan tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan. Oleh karena itu,
jumlah angka penting hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan
Mistar, jangka Sorong dan Mikrometer Sekrup tentunya akan berbeda, sesuai
dengan tingkat ketelitian masing-masing alat ukur tersebut.

a. Aturan menentukan jumlah Angka Penting


1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.
Contoh: hasil pengukuran panjang pensil adalah 21,4 cm. Maka jumlah angka
pentingnya memiliki 3 angka penting
2. Semua angka nol yang terletak diantara bukan angka nol, adalah angka
penting.
Contoh :Hasil menimbang sebuah mangga, adalah 507,09 gram.
Jumlah angka pentingnya adalah 5 angka penting.

Contoh soal:
Sebuah kubus memiliki panjang rusuk 10 cm. Dengan menggunakan aturan angka
penting dan notasi ilmiah, volume kubus tersebut adalah ....

Penyelesaian:

Rusuk = 10 cm, mempunyai 2 angka penting sehingga hasil akhir juga


mempunyai 2 angka penting V =r 3=10 ×10 ×10=1000 atau103 cm 3 .

b. Aturan pembulatan
1. Jika angka pertama setelah angka yang hendak dipertahankan adalah 4 atau
lebih kecil, maka angka itu dan seluruh angka disebelah kanannya ditiadakan.
Contoh (1) : 75,494 = 75,49 (angka 4 yang dicetak tebal ditiadakan).
Contoh (2) : 1,00839 = 1,008 (kedua angka yang dicetak tebal ditiadakan)
2. Jika angka pertama setelah angka yang akan anda pertahankan adalah 5 atau
lebih besar, maka angka tersebut dan seluruh angka di bagian kanannya
ditiadakan. Angka terakhir yang dipertahankan bertambah satu.
c. Aturan penjumlahan dan pengurangan

Apabila anda melakukan operasi penjumlahan atau pengurangan, maka


hasilnya hanya boleh mengandung satu angka taksiran (catatan : angka tafsiran
adalah angka terakhir dari suatu angka penting).

Contoh :

jumlahkan 273,219 g; 15,5 g; dan 8,43 g (jumlahkan seperti biasa, selanjutnya


bulatkan hasilnya hingga hanya terdapat satu angka taksiran). Angka 4 dan 9
ditiadakan. Hasilnya = 297,1

d. Aturan perkalian dan pembagian


1. Pada operasi perkalian atau pembagian, hasil yang diperoleh hanya boleh
memiliki jumlah angka penting sebanyak bilangan yang angka pentingnya
paling sedikit.

Contoh :

Hitunglah operasi perkalian berikut ini : 0,6283 x 2,2 cm


(petunjuk : lakukanlah prosedur perkalian atau pembagian dengan cara biasa.
Kemudian bulatkan hasilnya hinga memiliki angka penting sebanyak salah satu
bilangan yang memiliki angka penting paling sedikit)

Hasilnya dibulatkan menjadi 1,4 cm2 (dua angka penting)

2. Hasil perkalian atau pembagian antara bilangan penting dengan bilangan


eksak/pasti hanya boleh memiliki angka penting sebanyak jumlah angka
penting pada bilangan penting.

Contoh : hitunglah operasi perkalian berikut ini : 25 x 8,95

Hasilnya dibulatkan menjadi 224 cm (tiga angka penting) agar sama


dengan banyak angka penting pada bilangan penting 8,95

Referensi

Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penerbit


Erlangga.

Halliday dan Resnick, 1991, Fisika Jilid I, Terjemahan, Jakarta : Penerbit


Erlangga.
Tipler, P.A.,1998, Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I
(terjemahan), Jakarta: Penebit Erlangga.