Você está na página 1de 4

Asimilasi

Asimilasi merupakan perubahan morfofonemik tempat sebuah fonem yang cenderung


lebih banyak menyerupai fonem lingkungannya. Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah
bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga
bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang
mempengaruhinya. Misalnya, kata sabtu dalam bahasa indonesia sering diucapkan /saptu/,
dimana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/ sebagai akibat pengaruh /t/, bunyi /b/ adalah bunyi
hambat bersuara sedangkan bunyi /t/ adalah bunyi hambat tak bersuara. Oleh karena itu bunyi /b/
yang bersuara iru, karena pengaruh bunyi /t/ yang tak bersuara, berubah menjadi bunyi /p/ yang
juga tidak bersuara.
Kalau perubahan itu menyebabkan perubahan identitas sebuah fonem, maka perubahan
itu disebut asimilasi fonemis. Sedangkan, apabila perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya
identitas sebuah fonem, maka perubahan itu merupakan asimilasi fonetis atau asimilasi
alomorfemis.
Dalam bahasa belanda bentuk op de weg dilafalkan /obdeweg/, dimana bunyi /p/
dilafalkan menjadi bunyi /b/ sebagai akibat pengaruh bunyi /d/ pada kata de. Di sini terlihat /d/
bunyi hambat bersuara mempengaruhi bunyi /p/ yang tidak bersuara, sehingga menjadi bunyi
hambat bersuara /b/. Karena dalam bahasa belanda bunyi /b/ dan /p/ adalah fonem-fonem yang
berbeda, maka perubahan itu juga dinamakan asimilasi fonemis.
Sedangkan, pada kata Belanda zakdoek ‘sapu tangan’ yang dilafalkan /zagduk/, bunyi
/k/ dalam silabel zak yang tidak bersuara diubah menjadi bunyi /g/ yang bersuara sebagai akibat
dari pengaruh bunyi /d/ yang bersuara. Karena bunyi /g// hanyalah alofon dari fonem /k/ dalam
bahasa belanda, maka perubahan dari bunyi /k/ ke bunyi /g/ hanyalah bersifat alofonis, bukan
fonemis. Jadi, asimilasinya bukan asimilasi fonemis melainkan asimilasi alomorfemis atau
asimilasi fonetis.
Asimilasi dapat dibagi berdasarkan beberapa segi, yaitu berdasarkan tempat fonem yang
dihasilkan , dan sifat asimilasi itu sendiri (Keraf, 1982:37).

1) Penggolongan asimilasi berdasarkan tempat fonem yang diasimilasikan.


Berdasarkan tempat fonem yang diasimilasikan, asimilasi dapat dibedakan menjadi
asimilasi progresif dan asimilasi regresif. Berikut ini penjelasannya.
a. Asimilasi progresif
Suatu asimilasi dikatakan asimilasi progresif apabila bunyi yang diasimilasikan terletak
sesudah bunyi yang mengasimilasikan. Atau dengan kata lain, bunyi yang diubah itu terletak
dibelakang bunyi yang mempengaruhinya.

Misalnya, dalam bahasa Jerman bentuk mit der frau diucapkan /mit ter iraᵘ/. Bunyi /d/
dalam kata der berubah menjadi bunyi /t/ sebagai akibat dari pengaruh bunyi /t/ pada kata mit
yang ada di depannya.

Contoh lainnya: colnis (latin kuno) → collis (latin)

peN- + sabar → penyabar

meN- + pugar → memugar

b. Asimilasi regresif
Suatu asimilasi dikategorikan asimilasi regresif apabila bunyi yang diasimilasikan
mendahului bunyi yang mengasimilasikan. Dengan kata lain, bunyi yang diubah itu terletak
dimuka bunyi yang mempengaruhinya.

Misalnya, berubahnya bunyi /p/ menjadi bunyi /b/ pada pada kata Belanda op de weg
yang dilafalkan /obdeweg/, dimana bunyi /p/ dilafalkan menjadi bunyi /b/ sebagai akibat
pengaruh bunyi /d/ pada kata de.

Contohnya lainnya : in- + possible → impossible

en- + power → empower

peN- + bela → pembela

c. Asimilasi Resiprokal
suatu asimilasi dikatakan asimilasi resiprokal apabila perubahan itu terjadi pada kedua
kedua bunyi yang saling mempengaruhinya, sehingga menjadi fonem atau bunyi yang lain.

Misalnya, dalam bahasa Batak Toba, kata bereng ‘lihat’ dan hamu ‘kamu’ dalam
konstruksi gabungan bereng hamu ‘lihatlah oleh kamu’ baik bunyi /ng/ pada kata bereng
maupun bunyi /h/ pada kata hamu keduanya berubah menjadi bunyi /k/, sehingga konstruksi
bereng hamu itu diucapkan /berek kamu/.

2) Penggolongan asimilasi berdasarkan sifat asimilasi itu sendiri.


Berdasarkan sifat asimilasi itu sendiri, asimilasi dapat dibedakan menjadi asimilasi total
dan parsial.

a) Asimilasi Total
Yang dimaksud dengan asimilasi total yaitu penyamaan fonem yang diasimilasi benar-
benar serupa, atau dengan perkataan lain dua buah fonem yang disamakan tersebut, dijadikan
serupa betul.

Contohnya:

Dalam Bahasa
Proses Asimilasi Hasil Asimilasi
Indonesia

ad + salam (Arab) assalam asalam

in + moral (Ingg.) immoral imoral

ad + similatino (Lat) assimilasi asimilasi

meN- + periksa (Ind) memeriksa memeriksa

b) Asimilasi Parsial
Suatu asimilasi dikategorikan asimilasi parsial bila kedua fonem yang disarnakan itu
tidak persis melainkan hanya sejenis secara artikulatoris.

Contohnya: in- + possible → impossible

meN- + bawa → membawa

en + bitter → embitter
peN- + dengar → pendengar