Você está na página 1de 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peranan perawat kesehatan kerja sudah berubah secara cepat


beberapa tahun terakhir ini. Dahulu, perawat diperkerjakan untuk mengobati
dan memberikan pertolongan pertama, menangani kecelakaan, dan penyakit.
Profesi keperawatan sudah berkembang sampai meliputi seluruh bidang upaya
kesehatan pencegahan.

Tidak ada persyaratan hukum bagi sebuah perusahaan untuk menggaji


seorang perawat kesehatan kerja, meskipun dengan dikeluarkannya peraturan
mengenai kesehatan dan keselamatan baru yang mengacu kepada seseorang
yang kompeten (misalnya peraturan COSHH), semakin banyak perusahaan
yang menggaji perawat dan mengharapkan mereka agar kompeten dalam
melaksanakan tugas pencegahan. Jika di rumah sakit mungkin system
penggajian terkait pelaksanaan kesehatan dkeselamatan kerja ini sudah
termasuk dalam gaji setiap bulan yang diterima oleh perawat.

Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan
pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien
secara komprehensif. Perawat menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan
berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika,
pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator
dan pendidik.

1.2 RumusanMasalah
1. Bagaimana konsep kesehatan dan keselamatan kerja dalam bidang
keperawatan?
2. Bagaimana pengaplikasian kesehatan dan keselamatan kerja pada bidang
keperawatan?
3. Bagaimana peran perawat dalam meningkatkan kesehatan dan keselamatan
kerja di tempat kerja?

1
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaplikasian kesehatan dan keselamatan kerja dalam bidang
keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui dan memahami konsep kesehatan dan keselamatan kerja
dalam bidang keperawatan.
b. Mengetahui dan memahami peran perawat dalam meningkatkan
kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja.
1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan pembaca mengenai aplikasi kesehatan dan
keselamatan kerja dalam keperawatan.
2. Sebagai sarana pendamping belajar selain buku induk dan literatur lain
yang telah ada.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Kesehatan dan Keselamatan Kerja Dalam Keperawatan


Semua pihak perlu memahami peran perawat kesehatan kerja di tempat
kerja termasuk rumah sakit. Peranan itu harus meliputi semua faktor yang
mempengaruhi kesehatan seseorang di tempat kerja. Perawat harus bersikap
pro-aktif dan luwes untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja di
tempat kerja. Konsep kesehatan dan keselamatan kerja dalam keperawatan
mungkin mempengaruhi praktik keperawatan dan harus sesuai dengan
kebutuhan perawat itu sendiri dan klien dalam rangka memperbaiki dan
meningkatkan kesehatan dan keselamatan kedua belah pihak tersebut.
Perawat yang bermutu adalah praktisi mandiri yang mampu
melaksanakan banyak tugas secara sendirian atau menjadi bagian tim yang
besar yang terdiri atas dokter, higienis, petugas keselamatan, dan lain-lainnya.
Dia akan melakukan berbagai fungsi, seperti mengenal dan mengendalikan
bahaya, memberikan konseling, promosi kesehatan, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini,perawat memegang peranan yang cukup besar dalam upaya
pelaksanaan dan peningkatan K3. Sedangkan dalam pelaksanaannya, perawat
tidak dapat bekerja secara individual. Perawat perlu untuk berkolaborasi
dengan pihak-pihak lintas program maupun lintas sektor.
Utamanya, konsep K3 dalam pemberian asuhan keperawatan adalah
usaha mencegah (sarana utama) terjadinya kecelakaan (kecacatan) dan
penyakit akibat memberikan asuhan keperawatan kepada klien agar perawat
dan klien selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar setiap sumber
asuhan keperawatan dapat digunakan secara aman dan efisien.
Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan tentu seorang perawat dank
lien berpotensi untuk mengalami risiko dan hazard akibat dari asuhan
keperawatan. Risiko merupakan sebagai suatu kombinasi dari kemungkinan
terjadinya peristiwa yang berhubungan dengan cedera parah atau sakit akibat
sesuatu (kerja) dan terpaparnya seseorang atau alat pada suatu bahaya menurut
OHSAS 18001:2007. Risiko juga dapat

3
diartikan bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat
sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.
Selain risiko, seorang perawat dank lien juga dihadapkan pada bahaya
atau hazard akibat asuhan keperawatan. Hazard merupakan semua sumber,
situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan
kerja) atau penyakit akibat kerja berdasarkan OHSAS 18001:2007. Hazard
juga dapat di definisikan sebagai keadaan yang dapat menimbulkan atau
meningkatkan terjadinya kerugian (chance of loss) dari suatu bencana yang
terjadi. Hal-hal seperti pemeliharaan rumah-tangga yang buruk, jalan raya
yang rusak berlobang, mesin yang tidak terawat, dan pekerjaan yang
berbahaya adalah hazards, karena itu semua merupakan keadaan yang dapat
meningkatkan terjadinya kerugian. Macam hazard yang dapat dialami oleh
perawat antara lain:
1) Hazard bilogis : Terpapar dengan penyakit menular, missal TBC, HIV
AIDS, Hepatitis B dan C, Clostridium Difficile, dan lain-lain.
2) Hazard kimia : Antineoplastic agents. ethylene oxide, anesthetic gases,
formaldehyde, glutaraldehye, elemental mercury.
3) Hazard fisik: Suhu, tekanan, getaran, pencahayaan, dan radiasi.
4) Hazard ergonomic : Mengangkat beban berat, melakukan gerakan yang
sama berulang-ulang, posisi canggung (meraih di atas ketinggian bahu,
berlutut, jongkok, membungkuk di samping tempat tidur, memutar badan
sambil mengangkat).
5) Hazard psikologi : Ketidakstabilan emosi, gangguan tidur, perawat
mungkin merasa terisolasi, letih, marah, dan tidak berdaya karena rasa
depersonalisasi yang diciptakan oleh sistem birokrasi yang besar.

4
2.2 Aplikasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam Keperawatan
Dalam pengaplikasian kesehatan dan keselamatan kerja dalam keperawatan ini
focus utamanya adalah bagaimana mengendalikan atau meminimalkan risiko
dan hazard yang dapat membahayakan klien dan perawat. Berikut uraiannya.
1. Hazard biologis
Dalam meminimalkan terjadinya hazard biologis, focus utamanya adalah
memutus rantai infeksi yang mencakup beberapa hal berikut:
a) Good Hand Hygiene

Dalam meminimalkan penyebaran infeksi, seorang tenaga


kesehatan utamanya perawat diharapkan mencuci tangan dengan
langkah yang ditentukan menggunakan air mengalir selama 60 detik
atau menggunakan alcoholbased hand rubs (ABHR) sebagai mode
utama kebersihan tangan (disarankan) kegiatan melawan spektrum
yang luas yang membutuhkan lebih sedikit waktu daripada mencuci
tangan menggunakan air mengalir. Untuk penggunaan alhoholbased
hands rub ini bisa diletakkan di samping tempat tidur klien dan
mengusahakan mencuci tangan dengan sabun dan air ketika tangan
terlihat kotor (misalnya kotoran, darah, cairan tubuh). Cucilah tangan
dengan menggunakan sabun dan air mengalir setelah melepas dan
membuang APD.

b) Personal Protective Equipment (PPE)


a. Sarung tangan, gaun, masker wajah, topi, kacamata googles.
b. Gunakan APD ini sesuai dengan sifat interaksi klien dan potensi
paparan darah, cairan tubuh atau agen infeksi.
c. Buang APD sebelum meninggalkan kamar atau area klien dalam
situasi yang kemungkinan kontak dengan: darah, cairan tubuh lain,
membrane mukosa, kulit yang tidak utuh atau bahan yang
berpotensi menular.
d. Tidak memakai sarung tangan yang sama untuk perawatan lebih
dari satu klien mencuci sarung tangan untuk tujuan penggunaan
kembali.

5
e. Untuk melindungi kulit dan pakaian selama prosedur atau kegiatan
dimana kontak dengan darah atau cairan tubuh di antisipasi.
f. Jangan memakai gaun yang sama untuk perawatan lebih dari satu
klien gunakan perlindungan mulut, hidung dan mata selama
prosedur yang cenderung menghasilkan percikan atau semprotan
darah atau cairan tubuh lainnya.
c) Injection Safety
Penggunaan jarum suntik tunggal, baik jarum maupun spuitnya
digunakan 1 klien 1 obat. Kemudian persiapan obat sebisa mungkin
dekat dengan persediaan atau peralatan yang digunakan untuk
mengoplos. Berikut langkah praktek injeksi yang aman:
a. Gunakan teknik aseptik (menyiapkan obat)
b. Jangan pernah berikan obat dari jarum suntik yang sama ke
beberapa klien (bahkan jika suntikan diberikan melalui selang
intravena panjang)
c. Jangan menggunakan kembali syringe untuk memasukkan botol
atau larutan obat
d. Jangan berikan obat dari botol tunggal, ampul, atau kantong atau
botol larutan intravena ke lebih dari satu klien
e. Tutup jarum dengan satu jari
f. Buang jarum suntik bekas

d) Environmental Cleaning
Berbicara mengenai kebersihan lingkungan, baik lingkungan yang
ditempati klien selama berada di rumah sakit maupun peralatan klien
harus bersih, misalnya linen yang digunakan klien. Fokus utamanya
pada permukaan yang dekat dengan klien dan yang sering disentuh.
Kebersihan lingkungan juga berhubungan dengan desinfeksi dan
sterilisasi.
Desinfeksi umumnya merupakan proses yang kurang mematikan dari
inaktivasi mikroba dibandingkan dengan sterilisasi yang
menghilangkan hampir semua mikroorganisme patogen.

6
Desinfeksi maupun sterilisasi melibatkan tindakan fisik scrubbing
dengan surfaktan atau deterjen dan air, atau proses berbasis energi
(misalnya, pembersih ultrasonik) dengan bahan kimia yang tepat.

e) Medical Equipment
a. Peralatan medis diberi label oleh produsen sebagai alat yang hanya
dapat digunakan kembali atau sekali pakai, sehingga siapapun yang
menggunakannya harus teliti membacanya.
b. Semua peralatan medis yang dapat digunakan kembali harus
dibersihkan dan dipelihara sesuai dengan instruksi pabrik untuk
mencegah penularan agen infeksi klien-ke-klien

f) Respiratory Hygiene/Cough Etiquette


a. Tutup mulut / hidung saat batuk atau bersin
b. Gunakan tissue atau saputangan saat batuk atau bersin
c. Cuci tangan setelah tangan telah bersentuhan dengan sekresi
pernapasan
d. Menyediakan wadah tanpa sentuhan untuk membuang tissue
e. Menawarkan masker

2. Hazard kimia
Hal yang perlu dilakukan untuk mecegah bahaya ini sampai pada klien dan
perawat adalah
a. Pendidikan pada petugas
b. Memakai gaun non-permeabel dan sarung tangan ganda
c. Kontrol lingkungan
d. Penanganan tumpahan yang tepat

3. Hazard fisik
Hal yang perlu dilakukan untuk meminimalkan atau bahkan meniadakan
dampak dari hazard fisik ini adalah sebagai berikut:

7
a. Melengkapi pakaian kerja/perlindungan dari radiasi
dengan kacamata timah dan baju apron dan pelindung leher dari
apron
b. Klien diberi pembatas leher dan sudut hamburan serta pemilihan
tegangan tabung.
c. Substitusi
d. Kontrol lingkungan

4. Hazard ergonomic
Yang dapat dilakukan untuk meminimalkan bahaya ini adalah dengan
menggunakan posisi yang efektif dan efisien. Misalnya dalam
memindahkan klien, yang harus kita perhatikan adalah:
a. Tidak memindahkan/mengangkat klien pada saat kehilangan
keseimbangan.
b. Mengangkat klien dengan mendekatkan ke tubuh
c. Tidak mengangkat sendiri
d. Hindari mengangkat klien dengan tulang belakang diputar.
e. Pelatihan kapan dan bagaimana menggunakan peralatan mekanik.

5. Hazard psikologi
Untuk mengurangi terjadinya hazard ini, yang dapat dilakukan adalah:
a. Rapat staf yang dijadwalkan secara berkala
b. Pengembangan program manajemen stres dan mekanisme koping
yang memadai
c. Tersedianya program bantuan karyawan
d. Fleksibilitas dan partisipasi pekerja dalam pengembangan jadwal
kerja
e. Pelatihan dan sesi pendidikan yang tepat
f. Penciptaan lingkungan kerja yang terorganisir dan efisien
g. Pengakuan dan tindakan yang tepat atas keluhan yang sah
h. Grup terapi / kelompok dukungan untuk staf yang menangani
masalah profesional yang sulit.

8
2.3 Peran Perawat dalam Meningkatkan Kesehatan Keselamatan Kerja di
Tempat Kerja

Perawat tidak hanya bekerja di rumah sakit. Suatu saat perawat juga dapat
bekerja sebagai perawat kesehatan kerja di sebuah perusahaan. Sehingga
dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam meningkatkan kesehatan
keselamatan kerja (K3), dapat dijabarkan sebagai berikut

Fungsi dan Tugas Perawat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (


Nasrul Effendi, 1998)

1. Fungsi Perawat
a. Mengkaji masalah kesehatan
b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan tehadap pekerja
d. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah
dilakukan
2. Tugas Perawat
a. Mengawasi lingkungan pekerja
b. Memelihara fasilitas kesehatan rumah sakit
c. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
d. Membantu melakukan penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja
e. Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawat di
rumah kepada pekerja dan keluarga pekerja yang mempunyai masalah
kesehatan
f. Ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan keselamatan dan
kesehatan kerja (k3) terhadap pekeja
g. Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja
h. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja
dan keluarganya
i. Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja
j. Mengoordinasi dan mengawasi pelaksaan keselamatan dan kesehatan
kerja (k3)

9
Menurut American Association of Occupational Health Nurses, ruang
lingkup pekerjaan perawat hiperkes adalah :

1. Health promotion / Protection

Meningkatkan derajat kesehatan, kesadaran dan pengetahuan tenaga


kerja akan paparan zat toksik di lingkungan kerja. Merubah perilaku yang
berhubungan dengan resiko bahaya kesehatan.

2. Worker Health / Hazard Assessment and Surveillance

Mengidentifikasi masalah kesehatan tenaga kerja dan menilai jenis


pekerjaannya .

3. Workplace Surveillance and Hazard Detection

Mengidentifikasi potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan


keselamatan tenaga kerja. Bekerjasama dengan tenaga profesional lain
dalam penilaian dan pengawasan terhadap bahaya.

4. Primary Care

Merupakan pelayanan kesehatan langsung terhadap penyakit dan


kecelakaan pada tenaga kerja, termasuk diagnosis keperawatan,
pengobatan, rujukan dan perawatan emergensi.

5. Counseling

Membantu tenaga kerja dalam memahami permasalahan kesehatannya


dan membantu untuk mengatasi dan keluar dari situasi krisis.

6. Management and Administration

Acap kali sebagai manejer pelayanan kesehatan dengan tanggung-jawab


pada progran perencanaan dan pengembangan, program pembiayaan dan
manajemen.

10
7. Research

Mengenali pelayanan yang berhubungan dengan masalah kesehatan,


mengenali faktor – faktor yang berperanan untuk mengadakan perbaikan.

8. Legal-Ethical Monitoring

Paramedis hiperkes harus sepenuhnya memahami ruang lingkup


pelayanan kesehatan pada tenaga kerja sesuai perundang-undangan,
mampu menjaga kerahasiaan dokumen kesehatan tenaga kerja.

9. Community Organization

Mengembangkan jaringan untuk meningkatkan pelayanan kepada tenaga


kerja. Perawat hiperkes yang bertanggung-jawab dalam memberikan
perawatan tenaga kerja haruslah mendapatkan petunjuk-petunjuk dari
dokter perusahaan atau dokter yang ditunjuk oleh perusahaan.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Utamanya, konsep K3 dalam pemberian asuhan keperawatan
adalah usaha mencegah (sarana utama) terjadinya kecelakaan (kecacatan)
dan penyakit akibat memberikan asuhan keperawatan kepada klien agar
perawat dan klien selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar
setiap sumber asuhan keperawatan dapat digunakan secara aman dan
efisien.
Konsep aplikasi K3 dalam keperawatan berfokus pada perawat dan
klien yang sehat dan selamat dari beberapa hazard dan risiko yang
mungkin terjadi pada saat, sebelum, maupun sesudah dilakukan asuhan
keperawatan, sehingga berikut ini adalah contoh pengaplikasian K3 dalam
keperawatan.
Dalam meminimalkan terjadinya hazard biologis, focus utamanya adalah
memutus rantai infeksi yang mencakup beberapa hal berikut:
a) Good Hand Hygiene
b) Personal Protective Equipment (PPE)
c) Injection Safety
d) Environmental Cleaning
e) Medical Equipment
f) Respiratory Hygiene/Cough Etiquette

Perawat tidak hanya bekerja di rumah sakit. Suatu saat perawat juga
dapat bekerja sebagai perawat kesehatan kerja di sebuah perusahaan.
Sehingga dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam meningkatkan
kesehatan keselamatan kerja (K3), dapat dijabarkan sebagai berikut:

3. Fungsi Perawat
a. Mengkaji masalah kesehatan
b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan tehadap pekerja

12
d. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah
dilakukan
4. Tugas Perawat
a. Mengawasi lingkungan pekerja
b. Memelihara fasilitas kesehatan rumah sakit
c. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
3.2 Saran
Dalam melakukan asuhan keperawatan, diharapkan perawat
memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja yang baik, efektif, dan
efisien baik bagi dirinya sendiri maupun klien agar kedua belah pihak sehat
dan selamat baik sebelum, saat, maupun sesudah dilakukan asuhan
keperawatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Murwani Anita, Skep. 2003. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Yogyakarta:


Fitramaya.
Diunduh pada tanggal 08 April 2018

Rachman, Abdul, et al. 1990. Pedoman Studi Hiperkes pada Institusi Pendidikan
Tenaga Sanitasi. Jakarta: Depkes RI, Pusdiknakes.
Diunduh pada tanggal 08 April 2018

Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang. 1985. Manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja. Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo.

Diunduh pada tanggal 08 April 2018

14