Você está na página 1de 5

Acute Coronary Syndrome (ACS) / STEMI

*STEMI : ST Elevation Myocard Infarction


*NSTEMI : Non ST Elevation Myocard Infarction
*UA : Unstable Angina

STEMI adalah bentuk penyakit jantung koroner paling parah dimana kasus ini harus
mendapat terapi reperfusi secepatnya. Ciri khas dari STEMI adalah adanya elevasi pada
segmen ST di lead yang sesuai dengan tempat infark di miokardium.

*Elevasi ST berada di minimal 2 lead yang berdekatan dengan kenaikan sebesar 0.2mV pada
pria atau 1.5mV pada wanita.

*Perbedaan STEMI dengan NSTEMI dan UA adalah pada STEMI thrombus yang
menyumbat koroner bersifat total

Etiologi
Reduksi suplai oksigen dan/atau peningkatan kebutuhan oksigen pada myocardium. Cth : Plak
atherosklerosis

Faktor risiko
Faktor risiko mayor :
a. Merokok -> Zat2 berbahaya pada rokok menciptakan disfungsi endotel kronis yang akan
memicu pembentukan atherosklerosis
b. Hypertensi -> Pembuluh darah pada orang hipertensi (vasokontriksi) memicu pembentukan
plak atherosklerosis
c. DM -> Kadar gula darah yang tinggi memicu proses radikal bebas pada endotel pembuluh
darah
d. Dyslipidemia -> LDL adalah komponen utama pembentukan plak atherosklerosis
e. Riwayat Keluarga derajat 1 (Saudara, ayah, ibu) penyakit jantung koroner premature (Pria
<55 tahun , wanita <65tahun)
Patologi dan patogenesis
Adanya sumbatan oleh plak2 atherosklerosis pada pembuluh darah. Plak2 tersebut
mempersempit aliran darah koroner sehingga suplai darah ke jantung berkurang.

Besarnya plak sangat menentukan aliran darah koroner ke jantung, semakin besar plak
semakin rendah aliran darah ke jantung. Pada kasus plak menutupi 50-70% lumen pasien akan
mengalami gejala khas nyeri dada terutama pada saat kebutuhan oksigen pada miokard
meningkat (olahraga atau aktivitas berat)

Beberapa hal yang dapat menyebabkan hal serupa (Penurunan aliran darah ke koroner)
b. Obstruksi dinamik (Spasme koroner) cth : Prinzmetal angina
d. Anemia berat dan kronis

Tanda dan gejala


a. Nyeri dada / retrosternal (Seperti diremas, ditekan, atau diinjak gajah besar) yang menjalar
ke leher, bahu, rahang, perut atas dan pasien tidak dapat melokalisir tempat nyeri (Biasa
pasien menggenggam tangan erat di jantungnya nya, ini disebut Levine’s Sign) -> Nyeri
timbul dari ransangan asam laktat (efek dari pernafasan anaerobik miokardium yang
kekurangan oksigen) terhadap syaraf nyeri di jatung
c. Dyspnea baik pada saat beraktivitas maupun istirahat -> Kurangnya perfusi
d. Diaphoresis (berkeringat)
e. Takikardi : Pasien bisa mengalami arrhythmia yang disebabkan oleh iskemia pada
miokardium
f. Keluhan2 penyerta : (Sesak, Pasien merasa panik, Mual, Muntah, Pingsan)

*Nyeri dada yang timbul pada pasien wanita / berusia >80 tahun / pasien dengan diabetes
mellitus terkadang bersifat atipikal
*Beberapa tipe nyeri yang dapat menyingkirkan diagnosis UA dan NSTEMI dan penyakit
jantung koroner lainnya :
a. Nyeri pleuritik (Nyeri bersifat tajam dan berubah dengan respirasi)
b. Nyeri di abdomen tengah atau bwah
c. Pasien dapat melokalisir nyeri
d. Nyeri berubah dengan perubahan posisi tubuh
e. Nyeri dengan durasi beberapa detik
f. Nyeri yang menjalar ke ekstremitas bawah

Diagnosis
a. Gejala ischemic (chest pain yang menyebar ke leher, bahu kiri, dan/atau lengan kiri > 20
menit, Gejala tidak membaik dengan pemberi Nitroglyserin)
b. Perubahan pada ECG (Elevasi segmen ST pada 2 lead yang berdekatan
c. Peningkatan serum cardiac marker (CK-MB dan troponin)

Coronary angiography, special x ray ke jantung dengan masukin pewarna agar bisa kelihatan
pembuluh darah , dilakukan setelah dipasang cardiac catheterization

Dengan melihat lead yang memiliki kelainan pada segmen ST (Elevasi) kita dapat
menentukan lokasi infark (Tidak 100% akurat karena setiap manusia memiliki variasi
anatomi) :

Treatment and management


STEMI adalah kasus emergensi. Jika sudah menegakkan diagnosis STEMI :
a. Pasien harus segera dirujuk pada layanan yang dapat melakukan terapi reperfusi dan dapat
menginisiasi PCI (Percutaneous Coronary Intervention) dalam waktu 90 menit
b. Jika pasien tidak bisa mendapat PCI , pasien diberikan fibrinolitik (Alteplase,
Streptokinase) dan pasien tidak memiliki kontraindikasi menggunakan fibrinolitik
c. Setelah tindakan pasien diberi obat2 anti koagulan :

 Jika PCI : beri Aspirin dan Clopidogrel


 Jika Fibrinolisis : LMWH (Low Molecular Weight Heparin), cth : Enoxaparin

*PCI lebih baik dibandingkan terapi fibrinolysis

Prognosis
Untuk mengetahui persentasi mortalitas pasien setelah mengalami STEMI dalam waktu 1
bulan (30-day s mortality)
Keterangan :
(Jumlah faktor risiko = Persentase mortalitas dalam 30 hari)
a. 0 = 0.8%
b. 1 = 1.6%
c. 2 = 2.2%
d. 3 = 4.4%
e. 4 = 7.3%
f. 5 = 12.4%
g. 6 = 16.1%
h. 7 = 23.4%
i. 8 = 26.8%
j. 9-16 = 35.9%

Sumber
a. Avogaro A. Albiero M. Menegazoo L. Kreutzenberg SD. Fadini GP. Endothelial
Dysfunction in Diabetes: The role of reparatory mechanisms. Diabetes care Vol 34 no
Supplement 2 s285-s290.
b. Loscalzo J. 2012. Harrison’s Cardiovascular medicine 2nd edition. New York : McGraw-
Hill
c. Fischer C. 2013. Master the boards USMLE ® Step 2 CK TARGETTED REVIEW IN
FULL
COLLOR. New York : Kaplan
d. Irmalita. Juzar DA. Andrianto. Setianto BY. Tobling DPL. Firman D. Firdaus I. 2015.
Pedoman tatalaksana sindrom koroner akut. 2015. Perhimpunan dokter spesialis
kardiovaskular Indonesia
e. Amsterdam EA, Wenger NK, Brindis RG, Casey Jr DE, Ganiats TG, Holmes Jr DR, Jaffe
AS, Jneid H, Kelly RF, Kontos MC, Levine GN, Liebson PR, Mukherjee D, Peterson ED,
Sabatine MS, Smalling RW, Zieman SJ, 2014 AHA/ACC Guideline for the Management of
Patients With Non–ST-Elevation Acute Coronary Syndromes, Journal of the American
College of Cardiology(2014), doi: 10.1016/j.jacc.2014.09.017
f. O’Gara PT. Kushner FG/ Ascheim DD. Casey DE. Chung MK. Lemos JAD. ACCF/AHA
Guideline for the Management of ST-Elevation Myocardial nfarction. 2013. J Am Coll
Cardiol ; 61(4)e78-e140.
g. Morrow DA. [Online] [Diakses 30 November 2015] dari : http://www.mdcalc.com/timi-
risk-score-for-stemi