Você está na página 1de 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomi (Rezki Yunitasari,
2011). Untuk mencapai kondisi sehat, maka kebersihan diri harus diperhatikan. Jika
kebiasaan bersih sudah ditanamkan sejak dini, maka ketika dewasa akan bertingkah laku
sesuai dengan norma kebersihan. Kebersihan sangat berperan dalam menjaga kesehatan,
salah satunya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kesehatan gigi dan mulut penting untuk
diperhatikan karena hal ini sengat berpengaruh pada kesehatan tubuh apalagi jika tidak
ditangani dengan segera. Factor kebersihan dapat meminimalisir atau mencegah terjadinya
penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Penyakit ini dapat menyebabkan
infeksi dalam tubuh sehingga system daya tahan tubuh mengalami penurunan. Infeksi dapat
disebabkan karena luka terbuka, salah satu penyebab infeksi adalah jamur Candida albicans
yang dikenal dengan penyakit kandidiasis.
Kandidiasis merupakan infeksi jamur yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran
gigi. Penyebabnya adalah jamur Candida dimana sekitar tujuh puluh persen spesies Candida
yang menginfeksi Candida albicans (Fryano Kandoli, dkk 2016). Candida albicans adalah
khamir yang termasuk kelas Ascomycotes. Khamir ini dapat menimbulkan keadaan
kandidiasis yaitu pada penyakit pada selaput lendir mulut, vagina dan saluran pencernaan
serta dapat menimbulkan serangkaian penyakit pada beberapa tempat, antara lain kulit
terutama pada bagian-bagian tubuh yang basah, hangat, seperti ketiak, lipatan paha, skrotum
atau lipatan-lipatan dibawah payudara (Adityas Elvian, dkk 2012).
Candida adalah flora normal penghuni rongga mulut yang bersifat oppurtunistik dan
dapat menjadi dominan dan menginfeksi apabila keseimbangan flora dan kebersihan mulut
terganggu atau daya tahan tubuh melemah (immunodeficiency) (Fryano Kandoli, dkk 2016).
Candida sebenarnya merupakan flora normal mulut, namun berbagai factor seperti adanya
gangguan imun maupun penggunaan obat-obatan, seperti antibiotic dan steroid dapat
menyebabkan flora normal tersebut menjadi pathogen.
Berbagai jenis obat antijamur telah diciptakan untuk mengobati infeksi candida
(kandidiasis) dalam rongga mulut, namun obat-obatan tersebut mempunyai efek samping
yang berat, spectrum antijamur yang sempit, penetrasi yang buruk, dan munculnya jamur
yang resisten (Fryano Kandoli, dkk 2016). Oleh karena itu, masyarakat mulai mencari obat
baru yang dirasakan lebih aman dan efektif. Pemanfaatan obat secara tradisional dengan
konsep back to nature semakin digemari oleh masyarakat. Salah satu tanaman yang secara
empiris telah digunakan sebagai obat yaitu rimpang temulawak dan buah mengkudu yang
dapat menghambat pertumbuhan jamur candida albicans.
Temulawak dengan nama latin Curcuma xanthorizza Roxb, merupakan tanaman obat
yang dimanfaatkan secara turun-temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia (Deasywaty,
2001).

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Ruang Lingkup Penelitian