Você está na página 1de 13

MAKALAH AGAMA MODUL 4

‘UNSUR POKOK AJARAN ISLAM’


KELOMPOK 4

oleh :
Aditya Prasta Yudha 4417215026
Devinda Yolanda Tiyodi 4417215004
Diki Kosasih 4417215005
Kharisma Wulandhari 4417215011
M. Rizal Fauzi 4417215012
Resti Febriani Putri 4417215015
Yogi Driantama 4417215019

FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI


UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Makalah agama modul 4 disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah agama di
Program Didik Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pancasila semester I tahun
ajaran 2017/2018.
Secara garis besar, makalah yang berjudul “makalah agama modul 4‘unsur pokok ajaran
islam’ Kelompok 4” ini terdiri atas pendahuluan, pengertian aqidah, tauhid, iman,
syari’ah dan akhlak serta kepustakaan. Isi laporan ini dititikberatkan pada hubungan
aqidah, syari’ah, dan akhlak serta contoh kasus yang biasa terjadi di kehidupan yang
berkaitan dengan judul dan tema makalah.
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga
penyusunan laporan Prakerin ini dapat diselesaikan dengan lancar dan tepat pada
waktunya.
Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, segala sesuatu pasti memiliki
kekurangan. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak
ketidaksempurnaannya. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca. Kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sangat penyusun harapkan
demi kemajuan di masa mendatang.
Usaha penyusun dalam membuat laporan ini semoga dapat membuahkan hasil.
Penyusun berharap laporan ini dapat bermanfaat dan digunakan dengan bijak bagi para
pembaca pada umumnya dan bagi penyusun pada khususnya.

Jakarta, Oktober 2017 Penyusun,


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI .........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

BAB III KESIMPULAN ........................................................................................ 9


BAB IV DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 10
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aqidah, syariah dan akhlak pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam
ajaran islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak bisa
dipisahkan. Aqidah sebagai sistem kepercayaan yang bermuatan elemen-
elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan
agama. Sementara syariah sebagai system nilai berisi peraturan yang
menggambarkan fungsi agama.
Sedangkan akhlak sebagai sistematika menggambarkan arah dan tujuan
yang hendak dicapai agama. Muslim yang baik adalah orang yang memiliki
aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syariah
yang hanya ditujukan pada Allah sehingga tergambar akhlak yang terpuji
pada dirinya. Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yang melakukan suatu
perbuatanbaik, tetapi tidak dilandasi oleh aqidah atau keimanan, maka orang
itu termasuk ke dalam kategori kafir. Seseorang yang mengaku beraqidah
atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah, maka orang itu disebut
fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syariah
tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus disebut munafik.
Aqidah, syariah dan akhlak dalam Al-Qur’an disebut iman dan amal saleh.
Iman menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan
pengertian syariah dan akhlak. Seseorang yang melakukan perbuatan baik,
tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai
perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai-
nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah.
Sedangkan perbuatan baik yang didorong oleh keimanan terhadap Allah
sebagai wujud pelaksanaan syariah disebut amal saleh. Kerena itu didalam
Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata iman.
5 2

B. Rumusan Makalah

1. Apa pengertian Aqidah?


2. Apa pengertian Syari’ah?
3. Apa Pengertian Akhlak?
4. Bagaimana hubungan Aqidah , Syariah dan Akhlak dalam Islam?

C. Tujuan Penulisan

Mengetahui lebih banyak hal mengenai Aqidah, Syariah dan Akhlak


bagi seorang muslim. Berbicara tentang ketiga hal tersebut sama saja dengan
berbicara tentang diri kita sendiri dan keyakinan asasi manusia sebagai
makhluk Tuhan.
3

BAB II PEMBAHASAN

A. AQIDAH

Kata akidah atau i’tiqod secara bahasa berasal dari kata al ‘aqdu yang artinya
berputar sekitar makna kokoh, kuat, dan erat. Adapun secara istilah umum, kata akidah
bermakna keyakinan yang kokoh akan sesuatu, tanpa ada keraguan. Jika keyakinan
tersebut sesuai dengan realitas yang ada maka akidah tersebut benar, namun jika tidak
sesuai maka akidah tersebut bathil. Setiap pemeluk suatu agama memiliki suatu akidah
tertentu. Namun kebenaran akidah hanya ada dalam islam. Karena dia bersumber dari
Dzat yang Maha Mengetahui, yaitu Allah ta’ala. Sehingga karenanya tidak ada perbedaan
antara akidah yang dibawa oleh para Nabi dari masa ke masa.
Adapun akidah yang bathil, mencakup semua akidah yang bertentangan dengan
wahyu. Yaitu akidah yang hanya bersumber dari akal manusia, atau berasal dari wahyu
namun dirubah dan diselewengkan. Seperti akidahnya orang yahudi bahwa Uzair adalah
anak Allah, atau akidahnya orang Nashroni bahwa al masih adalah anak Allah, atau
akidah syiah yang berkeyakinan bahwa Allah menyesal setelah berkehendak, yang
dinamakan akidah bada’.
Dalam definisi syar’i, akidah dalam agama islam bermakna masalah masalah
ilmiyah yang berasal dari Allah dan Rosulnya, yang wajib bagi setiap muslim untuk
meyakininya sebagai pembenaran terhadap Allah dan Rosul Nya.Diantara para ulama
yang menggunakan istilah ini adalah Imam Al Laalakaai (418 H) dalam kitabnya Syarhul
ushul I’tiqod ahlu sunnah wal jama’ah, kemudian Imam As Shobuni (449 H) dalam
kitabnya Aqidas Salaf Ashaabul Hadits.Kemudian ada beberapa istilah yang semakna
dengan akidah yang juga digunakan oleh para ulama, diantaranya :
• Al – Fiqhul Akbar
• At Tauhid
• Al Iman
• Ushulud Din

B. TAUHID

Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata benda dari kata kerja, ed) dari
kata wahhada. Jika dikatakan wahhada syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu.
Sedangkan menurut syariat berarti mengesakan Allah dalam sesuatu yang merupakan
7 4

kekhususan bagi-Nya berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat ( Al-Qaulul


Mufiiid Syarah Kitabi At-Tauhid I/7).
Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu
tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman
Allah dalam Al Qur’an:

َّ ‫طب فَا أعبُ أدهُ بَ أينَ ُه َما َو َما َو أاْل َ أرض ال‬
‫س َم َاوات َرب‬ َ ‫ص‬ َ ‫سمي لَهُ ت َ أعلَ ُم ه أَل لعبَادَته أر‬
‫ِوا أ‬ َ ِ‫ا‬
Artinya:
“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara
keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”
(Maryam: 65).

Perhatikan ayat di atas:


َّ ‫)و أاْل َ أرض ال‬
1. Dalam firman-Nya (‫س َم َاوات َرب‬ َ (Rabb (yang menguasai) langit dan
bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.
َ ‫ص‬
2. Dalam firman-Nya (ُ‫طب أر فَا أعبُ أده‬ ‫( )لعبَادَته َوا أ‬maka sembahlah Dia dan berteguh
hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.
3. Dan dalam firman-Nya (‫سميا لَهُ ت َ أعلَ ُم ه أَل‬
َ ) (Apakah kamu mengetahui ada seorang
yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.
Berikut penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut:
1. Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan,
kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah
firman Allah:
ُ‫اركَ َواأْل َ أم ُر أالخ أَل ُق أَالَلَه‬
َ َ‫أال َعا َلمينَ ب َِر للاُ تَب‬
“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).

2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya
kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk
(hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni
bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala
berfirman:
َ‫أالبَاط ُل دُونه من َِ َمايَ أدعُون َوأ َ َّن أال َحق ه َُو للاَ بأ َ َّن ذَلك‬
”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang
mereka seru selain Allah adalah batil” (QS : Luqman: 30).
5

3. Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla


dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup
dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh
nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam
kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal
dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-
Nya:
َ ‫ش أيء كَمثأله لَي‬
‫أس‬ َ ‫ير السَّمي ُع َوه َُو‬
ُ ‫ال َبص‬
”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.” (QS : Asy-Syuura: 11)

Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja yaitu tauhid dalam ma’rifat
wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal qasd (tauhid dalam tujuan
ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa
shifat termasuk golongan yang pertama sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang
kedua (Kitab Fathul Majid 18). Pembagian tauhid dengan pembagian seperti di atas
merupakan hasil penelitian para ulama terhadap seluruh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-
Sunnah. Sehingga pembagian tersebut bukan termasuk bid’ah karena memiliki landasan
dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

C. IMAN

Para ulama mendefinisikan iman yaitu ucapan dengan lisan, keyakinan hati, serta
pengamalan dengan anggota badan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang
dengan kemaksiatan. Inilah makna iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mayoritas
Ahlus Sunnah mengartikan iman mencakup i’tiqad (keyakinan), perkataan, dan
perbuatan. Perbuatan juga mencakup dua hal yati perbuatan hati, yaitu niat dan ikhlas,
serta perbuatan anggota badan. Sehingga tidak ada perbedaan makna dari ucapan para
ulama di atas, yang ada hanya sebatas perbedaan istilah saja.

Tanda Tanda Orang Yang Beriman:


1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar; (QS: 8, Al Anfal: 2);
2. Senantiasa tawakal serta bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah diiringi
dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah SWT dan
Sunnah Rasul (QS: 3, Ali Imran: 120);
9 6

3. Tertib dalam menjalankan ibadah shalat.


4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (QS al-Anfal: 3 dan al-Mukminun: 4);
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (QS al-
Mukminun: 3 - 5);
6. Memelihara amanah dan menempati janji (QS al-Mukminun: 6);
7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (QS al-Anfal: 74).

D. SYARI’AH

Kata syari`ah berasal dari bahasa Arab yang berarti peraturan atau undang-
undang, yaitu peraturan-peraturan mengenai tingkah laku yang mengikat, harus dipatuhi
dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Syari`ah itu sendiri secara bahasa (etimologi)
mempunyai beberapa pengertian. Dalam kitabnya -Lisân al`Arabi- Ibn al-Mansyur
mengumpulkan beberapa pengertian syari`ah, diantaranya adalah masyra`ah al-mâ
(sumber air). Mereka menyebut sumber air dengan ungkapan syari`ah jika airnya sangat
berlimpah dan tidak habis-habis (kering). Menurut al-Jurjani, syari`ah bisa juga diartikan
dengan madzhab dan tharîqah mustaqîmah (jalan yang lurus). Dalam kitabnya Mukhtâr
ash-Shahih, ar-Razi mendefinisikannya dengan nahaja (menempuh), awdhaha
(menjelaskan) dan bayyan al-masâlik (menunjukan jalan). Jadi secara bahasa kata
syari’ah mempunyai banyak pengertian, namun yang dikehendaki dari syari`ah dalam hal
ini adalah pengertian secara istilah.
Menurut istilah (terminologi), kata syari`ah dapat diterangkan dengan dua
pengertian yaitu pengertian syari`ah yang bersifat umum (luas) dan yang bersifat khusus.
Menurut pengertian yang besifat umum (luas), Syari`ah Islam berarti ketentuan ajaran
agama Islam yang bersumber pada al-Qurân dan sunnah Rasulullah saw. dari pengertian
ini menunjukan bahwa Syari`ah mencakup seluruh ajaran agama Islam yang meliputi
bidang aqidah, akhlaq dan `amaliyyah (perbuatan nyata). Hal ini sebagaimana
dimaksudkan dalam al-Qurân surat asy-Syura ayat 13:
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-
Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” ( QS Asy-
Syura : 13)
7

E. AKHLAK

Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat,
perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang
tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang
dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi
pekerti atau kelakuan. Bagi umat Islam diseluruh alam, mereka berpedoman pada akhlak
nabi Muhammad S.A.W.

F. HUBUNGAN AQIDAH, SYARI’AH, DAN AKHLAK

Al-Quran menetapkan bahwa akhlak itu tidak terlepas dari aqidah dan syariah,
ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat dari
Qur’an surat al-Baqarah: 177

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian,
akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan
pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-
orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Allah Swt. adalah merupakan dasar
dari kebajikan. Kenyataan ini tidak akan pernah terbukti, kecuali jika iman tersebut telah
meresap di dalam jiwa yang disertai dengan sikap khusyuʾ, tenang, taat, patuh, dan
hatinya tidak akan meledak-ledak lantaran mendapatkan kenikmatan, dan tidak putus asa
ketika ditimpa musibah. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah hanya akan
tunduk dan taat kepada Allah Swt. dan syariat-syariat-Nya. Islam mengatur tolok ukur
berakhlak adalah berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang
dipandang baik oleh Allah dan Rasul-Nya, pasti baik dalam esensinya. Begitu pula
sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kepalsuan sebagai kelakuan baik, karena
kepalsuan esensinya pasti buruk. Selain itu Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan
8
11

Dia memiliki sifat yang terpuji, seperti al-Quran surat Thaha (20): 8 menjelaskan:
“(Dialah) Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai sifat-sifat yang terpuji (al-Asmȃˋ
al-Husnȃ).” Demikian juga Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad
meriwayatkan Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw., beliau menjawab:
“Akhlak Nabi Shallahu alaihi wassalam adalah al-Quran.”

G. CONTOH KASUS

Seiring dengan perkembangan zaman, tindakan kekerasan terasa semakin sering


terjadi, tindakan amoral yang terjadi antar sesama anggota masyarakat atau bahkan
sesama anggota keluarga. Hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita tentang
pembunuhan, perampokan, pergaulan bebas, pencabulan, aborsi, penggunaan obat-obatan
terlarang dan lain sebagainya. Karena terlalu sering hal ini kita dengar sampai-sampai kita
terbiasa dan kita seakan menganggapnya legal dan sesuai dengan norma kesusilaan.
Padahal kita hidup dalam negara yang diklaim sebagai negara yang berpenduduk muslim
terbesar sedunia. Juga diklaim sebagai negara hukum, negara bermoral, negara dengan
masyarakatnya yang religius, beradab dan klaim-klaim indah lainnya yang apabila
didengar sangat menyejukkan hati. Banyaknya kerusakan akhlak yang terjadi
sesungguhnya bukan karena kegagalan agama dalam membangun masyarakat bermoral,
melainkan kegagalan umat memahami pesan moral agama dan kegagalan
mentransformasikannya dalam kehidupan sosial.
Agama hanya dipahami sebagai aturan-aturan legal formal yang menyediakan
pahala dan dosa, ganjaran dan hukuman, surga dan neraka, yang wujudnya bersifat
abstrak. Padahal, selain mengandung aturan legal formal (yang jumlahnya amat sedikit),
agama mempunyai ajaran moral yang merupakan inti, sebagai perangkat untuk
menciptakan masyarakat yang ideal, aman, tentram, tertib, dan membawa kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Dari sini juga dapat dipahami bahwa pada dasarnya syariat agama
hanya untuk kebaikan dan kepentingan manusia. Tuhan sama sekali tidak mempunyai
kepentingan sedikitpun akan syariat-NYA.
9

BAB III KESIMPULAN

 Akidah bermakna keyakinan yang kokoh akan sesuatu, tanpa ada keraguan.
Jika keyakinan tersebut sesuai dengan realitas yang ada maka akidah tersebut
benar, namun jika tidak sesuai maka akidah tersebut bathil.
 Syari`ah Islam berarti ketentuan ajaran agama Islam yang bersumber pada al-
Qurân dan sunnah Rasulullah saw. dari pengertian ini menunjukan bahwa
Syari`ah mencakup seluruh ajaran agama Islam yang meliputi bidang aqidah,
akhlaq dan `amaliyyah (perbuatan nyata).
 akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa
mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu
pemikiran dan paksaan.
 Akhlak seorang muslim tidak akan pernah terlepas dari Aqidah dan Syariat
dari Allah dan Rasulnya, karena Sebaik baik akhlak manusia adalah akhlak
rasullulah shallalahu alaihi wassalam. Maka sepatutnya kita sebagai seorang
muslim selalu meneladani sifat rasullulah dengan mengamal sunnah dan taat
apa yang telah diperintahkan dan apa yang telah dilarang.
13 10

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Yunahar Ilyas. Kuliah Aqidah Islam. (Yogyakarta: 1992). h. 1

Al-Banna, Majmu’atu ar-Rasail. Muassasah ar-Risalah Beirut: tanpa tahun. h.165

Al-Jazairy, Aqidah al-Mukmin. (Cairo: 1978). h. 21

Drs. Edi Suresman. A.Md. Aqidah Islam. Malang. IKIP. 1993.

Drs. Edu Suresman. Aqidah Islam. (Malang: 1993). h. 1

Azra, Azyumardi, dkk. (2002). Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum.

Jakarta: Departemen Agama. Cet. III.

Marzuki.(2012). Pendidikan Karakter Mahasiswa Melalui Pendidikan Agama Islam di

Perguruan Tinggi Umum. Yogyakarta: Ombak

Syamsuri.(2007). Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas X. Jakarta:

Erlangga.(2004). Pendidikan Agama Islam SMA. Jakarta: Erlangga