Você está na página 1de 11

Tugas Biofarmasetika Terapan

Nama : Anita Rahman


NIM : I404
Dosen : Andhi Fahrurroji, M.Sc., Apt

No. Parameter Uraian


1.
Kelas Terapi Infeksi

2.
Golongan Obat Aminoglikosida

3.
Obat generik/zat aktif Amikacin Sulfate

4. Amikin, amiosin, alostil, g;ybotic, mikaject, mikasin,


Nama Dagang
verdix
5. Sifat Fisikomia Struktur
Kimia

Amikacin mengandung setara tidak


kurang dari 674 µg dan tidak
lebih dari 786µg C22H43N5O13 per
mg, dihitung terhadap zat yang
Kandungan telah dikeringkan. Amikasin
sulfat dengan perbandingan
Amikacin
molar amikasin dan sulfat 1:1,8
mengandung setara tidak kurang
dari 691 µg dan tidak lebih dari
806 µg C22H43N5O13 per mg,
dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan.
O-3-Amino-3-deoksi-α-D-
glukopiranosil(1→4)-O-[6-amino-6-
deoksi-α-D- glukopiranosil(1→6)]-N3-
Nama Kimia
(4-amino- L-2-hidroksibutiril)-2-
deoksi-L-streptamina sulfat (1:2 atau
1:1,8)

Rumus 2H2SO4
Molekul
Berat C22H63N5O13.2H2SO4
Molekul

Pemerian Serbuk hablur putih.

Kelarutan Mudah larut dalam air.

<1071> antara 2,0 dan 4,0 (garam 1:2)


atau antara 6,0 dan 7,3 (garam 1:1,8);
pH
lakukan penetapan menggunakan
larutan 20 mg per ml.

Titik Lebur -

Wadah dan Dalam wadah tertutup rapat.


Penyimpanan

(Depkes RI, 1995).


Konsep dari floating tablet adalah didasarkan pada sistem
penghantaran obat tipe matriks sehingga obat tetap
berada dalam matriks yang setelah bersentuhan dengan
cairan lambung akan mengembang dan terjadi erosi
lambat pada obat, sehingga obat tidak terjadi disintegrasi
tablet. Saat tablet kontak dengan cairan lambung, akan
menghasilkan buih dengan melepaskan gas CO2, dan
kemudian gas CO2 yang terbentuk diperangkap dengan
6. Aspek Biofarmasetika
polimer sehingga akan mengapung di atas permukaan
Sediaan
cairan lambung dan melepaskan obat secara perlahan.
Berbagai jenis polimer dengan grade yang berbeda
memberikan sistem massa jenis yang rendah sehingga
memberikan efisiensi yang lebih baik pada cairan
lambung. Sistem ini dirancang untuk mengapung dan
untuk mempertahankan sehingga dapat meningkatkan
kepatuhan pasien dan mengurangi frekuensi dosis dan
efek samping obat (Akhlak, 2014).
7.
Bentuk Sediaan Efferfescent Floating Tablet Drug Delivery System

8. Desain Formula No Nama Bahan Fungsi Konsentrasi


1. Amikasin Zat aktif 250 mg/ml
2. Na Bisulfit Antioksidan 0,66 %
3. Na Sitrat Pendapar 2,5 %
4. Asam Sulfat Mengatur pH Qs
2N
5. NaOH 1N Qs
Alasannya adalah amikasin kurang diabsorpsi usus, harus
diberikan melalui suntikan untuk infeksi sistemik.
Spektrum terapeutiknya sempit, karenanya kadar
9.
Alasan Pemilihan Desain plasmanya harus dipantau, umumnya 1 jam setelah
penyuntikan (kadar puncak) dan sesaat sebelum dosis
berikutnya (kadar rendah), agar kadar terapeutik optimal
dapat dipertahankan dan terjamin efektivitasnya.
1. Amikasin sulfat sifat kelarutannya yang mudah larut
dalam air.
2. Natrium Bisulfit: Berfungsi sebagai antioksidan
karena anikasin sulfat dapat teroksidasi oleh udara
dimana menyebabkan perubahan warna menjadi
10. kuning pucat. Namun perubahan warna ini tidak
Alasan Pemilihan Bahan
mengakibatkan berkurangnya potensi dari amikasin
sulfat.
3. Na Sitrat : berfungsi sebagai pendapar, dan
digunakan asam sulfat untuk mengukur pH hingga
pH sediaan adalah 3,5 ± 5,5.
4.
11.
Cara Penggunaan Ampul amikasin digunakan secara intravena (i.v)

12. Simpan pada suhu kamar, terlindungi dari cahaya dan


Penyimpanan kelembaban (Schull, 2009)

13. Aspek farmakodinamik 1. Nyeri ringan hingga sedang


a. Indikasi Dewasa: 15 sampai 60 mg secara per oral, subkutan,
intramuscular tiap 4 atau 6 jam jika perlu. Dosis harian
biasa adalah 30 mg; maksimum dosis harian 360 mg
(Schull, 2009).
2. Antitusif dalam Pengendalian Batuk Non-Produktif
7,5 sampai 20 mg secara per oral tiap 4 sampai 6 jam
jika perlu. Tidak melebihi 120 mg per hari (Schull,
2009).
3. Pertimbangan Dosis
Pasien dengan paparan opioid sebelumnya mungkin
memerlukan dosis awal yang lebih tinggi (Schull, 2009).
4. Penyesuaian Dosis
a. Kurangi dosis yang sesuai pada lansia atau pasien
lemah; pertimbangkan efek dosis awal dalam
menentukan dosis selanjutnya.
b. Saat pemberian dengan analgesik opioid lainnya,
sedatif-hipnotik, atau SSP lainnya depresan, kurangi
dosis satu atau kedua obat itu.
c. Kurangi dosis pada penyakit ginjal. Klirens kreatinin
10 sampai 50 mL / menit, beri 75% dosis; dibawah 10
mL / menit, berikan 50% dosis (Schull, 2009).

THT: Gangguan pendengaran; tuli; kehilangan


keseimbangan. GU: Oliguria; proteinuria; peningkatan
b. Efek Samping kreatinin serum; gips kemih; sel darah merah dan putih
dalam urin; azotemia. LAIN: Penurunan magnesium
serum.
c. Perhatian
Hipersensitivitas terhadap sulfat amikasin atau
d. Kontraindikasi komponen lain dalam formulasi; sensitivitas silang
mungkin ada dengan aminoglikosida lainnya.
Berikan udara yang baik dan jalan nafas. Pertahankan
tanda vital, elektrolit serum, dan nilai gas darah.
Memberikan nalokson secara intravena karena dapat
membantu dengan cepat. Pemberian dalam bentuk

e. Pencegahan Terhadap intravena naloxone HCl (Narcan, Nokoba) yang dimulai

Keracunan/Penanganan dengan dosis 0,4 mg/dl, dapat memperbaiki keadaan

Keracunan gangguan pernapasan. Setelah diberikan, diperhatikan


keadaan pernapasannya. Jika belum membaik, setelah
diobservasi dalam 3–5 menit dapat diulangi lagi ditambah
satu ampul lagi sampai efeknya tercapai dengan respon
perbaikan kesadaran, hilangnya depresi pernapasan, dan
dilatasi pupil (Schull , 2009).
14. Farmakokinetika Pada injeksi intramuskular, plasma puncak-amikasin
konsentrasi sekitar 20 mikrogram / mL yang dicapai 1 jam
setelah dosis 500 mg, mengurangi sekitar 2 mikrogram / mL
10 jam setelah injeksi. Konsentrasi plasma 38 mikrogram /
mL telah dilaporkan setelah infus intravena 500 mg lebih
dari 30 menit, mengurangi sampai 18 mikrogram / mL 1 jam
kemudian. Amikasin telah terdeteksi di jaringan dan cairan
tubuh setelah injeksi; melintasi plasenta tetapi tidak mudah
menembus ke CSF, meskipun penetrasi substansial darah-
otak penghalang telah dilaporkan pada anak-anak dengan
meningitis.
Sebuah paruh plasma sekitar 2 sampai 3 jam telah
dilaporkan pada pasien dengan fungsi ginjal normal.
Kebanyakan dosis diekskresikan oleh filtrasi glomerulus
dalam urin dalam 24 jam.
Amikasin aktif terhadap berbagai sejenis organisme
meskipun juga dilaporkan memiliki beberapa aktivitas
terhadap asteroides Nocardia,
Mycobacterium tuberculosis, dan beberapa atipikal strain
mikobakteri. Amikasin tidak terdegradasi oleh banyak enzim
umum sering bertanggung jawab untuk diakuisisi
perlawanan aminoglikosida. Karena itu, resistansi silang
dengan gentamisin dan aminoglikosida lainnya jarang terjadi
15.
Mekanisme Terapi dan amikasin mungkin efektif terhadap strain yang resisten
terhadap aminoglikosida lainnya. Namun, strain resisten dari
bakteri Gram-negatif dan staphylococci telah dilaporkan,
dan umumnya dicadangkan untuk infeksi resisten terhadap
aminoglikosida lainnya.

Menghambat sintesis protein pada bakteri rentan dengan


mengikat 30S subunit ribosom

16.
Interaksi Obat-Makanan Makanan Interaksi
Asupan serat dan air Menghindari konstipasi
(Schull, 2009).
17. Interaksi Obat-Obat
Obat Interaksi
Monoamine Resiko eksitasi atau
Oksidase Inhibitor depresi, hindari penggunaan
bersamaan dan selama 14 hari
setelah penghentian MAOI.
Peningkatan toksisitas Sistem
Saraf Pusat (SSP)
Hipnotik dan Peningkatan sedasi. Peningkatan
Anxiolitik depresi resiko pernapasan
Resiko konstipasi yang berat yang
Antikolinergik bisa menyebabkan ileus paralitik
dan retensi urinari
Metoklopramida dan Efek antagonis terhadap aktivitas
Domperidon Gastrointestinal
Peningkatan resiko konstipasi
Anti diar
yang berat
Peningkatan efek sedasi.
Antidepresan
Peningkatan toksisitas Sistem
Trisiklik
Saraf Pusat (SSP)
Anastetik Peningkatan sedasi dan hipotensi
Antipsikotik Peningkatan sedasi dan hipotensi
Dapat memicu Withdrawal
Antagonis Opioid
Symptoms
Mengurangi efek analgesik.
Kuinidine
Menurunkan efek kodein
Anti hipertensi Meningkatkan efek hipotensi
Hindari pre medikasi dengan
Ciprofloxacin opioid karena mengurangi
konsentrasi ciprofloxacin
Peningkatan kadar analgesik
Ritonavir opioid dalam plasma. Menurunkan
efek kodein
Mexiletine Menghambat absorpsi mexiletine
Menghambat metabolisme
analgesik opioid yang
Simetidin
menyebabkan peningkatan
konsentrasi kodein dalam plasma
Menurunkan efek kodein dengan
Isoniazids mempengaruhi metabolisme hati
CYP2D6
(Schull, 2009).
18. Interaksi obat- bahan lain
Bahan Lain Interaksi

Alkohol Peningkatan efek sedasi


dan hipotensi. Peningkatan
depresi resiko pernapasan.
Peningkatan depresi pada
Sistem Saraf Pusat (SSP)
(Schull, 2009).
19. Penyerahan Hanya dapat diperoleh di apotek dengan menggunakan
a. Dapatkan resep dokter karena merupakan golongan obat narkotika.
Gunakan sesuai dengan petunjuk dokter.
1. Nyeri ringan hingga sedang
Dewasa: 15 sampai 60 mg secara per oral, subkutan,
intramuskular tiap 4 atau 6 jam jika perlu. Dosis
harian biasa adalah 30 mg; maksimum dosis harian
20.
b. Gunakan 360 mg (Schull, 2009).
2. Antitusif dalam Pengendalian Batuk Non-
Produktif
7,5 sampai 20 mg secara per oral tiap 4 sampai 6 jam
jika perlu. Tidak melebihi 120 mg per hari (Schull,
2009).

21. Simpan pada suhu kamar, terlindungi dari cahaya dan


1. Simpan
kelembaban (Schull, 2009).
Obat dibuka dari kemasannya dan isinya dihancurkan
22.
terlebih dahulu kemudian dibakar atau dengan
2. Buang
melarutkannya dengan air dan kemudian dibuang
melalui proses pengolahan limbah
23. Terapi Non-Farmakologi 1. Memperbanyak minum air putih untuk membantu
mengurangi iritasi dan rasa gatal.

2. Menghindari paparan debu, minuman atau makanan


yang merangsang tenggorokan seperti makanan yang
berminyak dan minuman dingin.

3. Menghindari paparan udara dingin.

4. Menghindari merokok dan asap rokok karena dapat


mengiritasi tenggorokan sehingga dapat
memperparah batuk.

5. Menggunakan zat – zat Emoliensia seperti kembang


gula, madu, atau permen hisap pelega tenggorokan.
Ini berfungsi untuk melunakkan rangsangan batuk,
dan mengurangi iritasi pada tenggorokan (BPOM,
2002).
24. Monitoring rasa sakit, status pernapasan dan mental,
Monev
tekanan darah, denyut jantung (Charles, 2009).
Tidak digunakan untuk neonatus. Penggunaan teratur
selama kehamilan dapat menyebabkan ketergantungan

25.
fisik pada janin, yang menyebabkan gejala kejang,
Resipien Neonatus tremor, refleks hiperaktif, demam, muntah, diare, dan
bersin pada neonatus. Penggunaan kodein dosis tinggi
yang berkepanjangan dapat menghasilkan gejala tersebut
pada neonatus (Schull, 2009).
1. Nyeri ringan hingga sedang
Dewasa: 15 sampai 60 mg secara per oral, subkutan,
intramuscular tiap 4 atau 6 jam jika perlu. Dosis
harian biasa adalah 30 mg; maksimum dosis harian
26. 360 mg (Schull, 2009).
Resipien Dewasa 2. Antitusif dalam Pengendalian Batuk Non-
Produktif
7,5 sampai 20 mg secara per oral tiap 4 sampai 6 jam
jika perlu. Tidak melebihi 120 mg per hari (Schull,
2009).

Pasien geriatri mungkin lebih rentan terhadap efeknya,


terutama efek depresan pernafasan dari obat ini. Pasien
geriatri juga lebih mungkin mengalami hipertrofi prostat
atau obstruksi, penurunan fungsi ginjal, dan oleh karena
27.
Resipien Lanjut Usia itu lebih mungkin terkena dampak negatif retensi urin
akibat opioid. Resiko konstipasi dan impaksi feses juga
lebih besar pada orang tua. Pasien geriatri dapat
memetabolisme atau mengeliminasi analgesik opioid
lebih lambat dari pada orang dewasa (Schull, 2009).
28. Resipien Ibu 1. Ibu Hamil
Hamil/Menyusui Termasuk kedalam kategori C/D pada keamanan
untuk obat ibu hamil. Keseimbangan manfaat dan
risiko harus dipertimbangkan dengan seksama
karena analgesik opioid melewati plasenta.
Penggunaan teratur selama kehamilan dapat
menyebabkan ketergantungan fisik pada janin, yang
menyebabkan gejala kejang, tremor, refleks
hiperaktif, demam, muntah, diare, dan bersin pada
neonatus. Penggunaan kodein dosis tinggi yang
berkepanjangan dapat menghasilkan gejala tersebut
pada neonatus (Schull, 2009).
Meski efek teratogenik pada manusia belum pernah
dilakukan, penelitian pada hewan kodein tidak
menyebabkan efek buruk pada perkembangan janin.
Studi pada hewan telah menunjukkan kodein (dosis
tunggal 100 mg per kg) untuk menyebabkan
pengerasan yang tertunda pada tikus dan (dalam
dosis 120 mg per kg) meningkatkan resorpsi pada
tikus (Schull, 2009).
2. Meyusui
Kodein diekskresikan ke dalam air susu ibu. Namun
dengan dosis analgesik biasa, umumnya
konsentrasinya rendah. Namun, bayi dari ibu
menyusui yang menggunakan kodein mungkin
memiliki peningkatan resiko overdosis morfin. Ibu
menyusui yang menngunakan kodein, mungkin
memiliki tingkat morfin yang lebih tinggi dalam ASI,
yang dapat menyebabkan efek samping yang
mengancam jiwa atau fatal pada bayi yang disusui.
Tanda-tanda tingkat morfin tinggi pada seorang ibu
adalah kantuk yang ekstrem dan kesulitan merawat
bayinya. Bayi biasanya menyusu setiap dua sampai
tiga jam dan sebaiknya tidak tidur lebih dari empat
jam setiap kalinya. Jika bayi menunjukkan tanda-
tanda kantuk yang meningkat (lebih dari biasanya),
sulitnya menyusu, sulit bernapas, ibu harus segera ke
dokter (Schull, 2009).
Kurangi dosis pada penyakit ginjal. Klirens kreatinin 10
29.
Resipien Gagal Ginjal sampai 50 mL / menit, beri 75% dosis; dibawah 10 mL /
menit, berikan 50% dosis (Schull, 2009).
30.

Resipien Malnutrisi -

31.
Resipien Masyarakat -

32.
Off Label Drug -

33. Tidak lebih dari 25% dari waktu kadaluarsa masing-


Beyond Used Date
masing bahan atau tidak lebih dari 6 bulan (USP, 795).
Kodein harus digunakan dengan hati-hati pada pasien
dengan yang berikut ini kondisi (Schull, 2009):
1. Hipotiroidisme
2. Insufisiensi adrenokortika misalnya penyakit
Addison
3. Gangguan ginjal
4. Hipertrofi Prostat
5. Hipotensi
6. Myasthenia Gravis
34.
Precaution 7. Kejang
8. Penyakit kandung empedu atau batu empedu
9. Saluran kemih
10. Penyakit usus obstruktif dan inflamasi : kodein
mengurangi peristasis,
meningkatkan nada dan segmentasi di usus dan bisa
meningkatkan tekanan kolon.
11. Pasien yang memakai inhibitor monoamine oxidase
atau dalam waktu 14 hari setelah berhenti
pengobatan.
35. Pustaka Akhlak A, Narendra Kr, Pramod Kr. Effervescent Drug
Delivery System: A Review. Global Journal of
Pharmacology. 2014; 8(4): 478-485.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Infeksi saluran nafas dan penanganannya.InfoPOM.
2002; 3(2): 1-4.
Bhandari M, Ani B, Aakanksha B. Recent updates on
Codeine. Pharmaceutical Methods. 2011; 2(1): 3-8.
Charles F, Larcy RPh. Drug Information Handbook. 17th
Edition. Amerika: American Pharmacists Association;
2009.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope
Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia; 1995.
Hafid FA, Sugiyartono, Dwi S. Pengaruh Penambahan
Manitol Terhadap Pelepasan Ranitidin HCl dari Tablet
Floating Dengan HPMC K100M Sebagai Matriks.
PharmaScientia. 2012; 1(1): 1-16.
Martindale. The Complete Drug Reference. 36th Edition.
London: Pharmaceutical Press; 2009.
Schull PD. Drug Handbook. New York: McGraw-Hill
Companies; 2009.
Team Medical Mini Notes. Basic Pharmacology and Drug
Notes. Makassar: MMN Publishing; 2017.
USP 795.