Você está na página 1de 7

KONSEP EVALUASI DAN PERHITUNGAN RASIO

PAPER

Itang Saipul Milak (5211151019)


Neng Madina Aghna (5211151030)
Rani Lustiana (5211151040)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2017
A. ALAT UKUR KUANTITATIF
Terdapat tiga macam ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja secara
kuantitatif yaitu :
1. Ukuran Kriteria Tunggal (Single Criterium).
Yaitu ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk menilai kinerja
manajernya. Jika kriteria tunggal digunakan untuk mengukur kinerjanya, orang akan
cenderung memusatkan usahanya kepada kriteria tersebut sebagai akibat diabaikannya
kriteria yang lain yang kemungkinan sama pentingnya dalam menentukan sukses atau
tidaknya perusahaan atau bagiannya.
Sebagai contoh manajer produksi diukur kinerjanya dari tercapainya target kuantitas
produk yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu kemungkinan akan mengabaikan
pertimbangan penting lainnya mengenai mutu, biaya, pemeliharaan equipment dan sumber
daya manusia.
2. Ukuran Kriteria Beragam (Multiple Criterium)
Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran dalam menilai kinerja
manajernya. Kriteria ini merupakan cara untuk mengatasi kelemahan kriteria tunggal dalam
pengukuran kinerja. Berbagai aspek kinerja manajer dicari ukuran kriterianya sehingga
seorang manajer diukur kinerjanya dengan berbagai kriteria. Tujuan penggunaan kriteria ini
adalah agar manajer yang diukur kinerjanya mengerahkan usahanya kepada berbagai kinerja.
Contohnya manajer divisi suatu perusahaan diukur kinerjanya dengan berbagai kriteria
antara lain profitabilitas, pangsa pasar, produktifitas, pengembangan karyawan, tanggung
jawab masyarakat, keseimbangan antara sasaran jangka pendek dan sasaran jangka
panjang. Karena dalam ukuran kriteria beragan tidak ditentukan bobot tiap-tiap kinerja untuk
menentukan kinerja keseluruhan manajer yang diukur kinerjanya, maka manajer akan
cenderung mengarahkan usahanya, perhatian, dan sumber daya perusahaannya kepada
kegiatan yang menurut persepsinya menjanjikan perbaikan yang terbesar kinerjanya secara
keseluruhan. Tanpa ada penentuan bobot resmi tiap aspek kinerja yang dinilai didalam
menilai kinerja menyeluruh manajer, akan mendorong manajer yang diukur kinerjanya
menggunakan pertimbangan dan persepsinya masing-masing didalam memberikan bobot
terhadap beragan kriteria yang digunakan untuk menilai kinerjanya.
3. Ukuran Kriteria Gabungan (Composite Criterium)
Yaitu ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran memperhitungkan
bobot masing-masing ukuran dan menghitung rata-ratanya sebagai ukuran menyeluruh
kinerja manajernya. Karena disadari bahwa beberapa tujuan lebih panting bagi perusahaan
secara keseluruhan dibandingkan dengan tujuan yang lain, beberapa perusahaan memberikan
bobot angka tertentu kepada beragan kriteria kinerja untuk mendapatkan ukuran tunggal
kinerja manajer, setelah memperhitungkan bobot beragam kriteria kinerja masing-masing.

B. RASIO RASIO KEUANGAN

Analisa rasio tidak hanya menggunakan rumus terhadap data keuangan, tetapi juga
mengintrepretasikan nilai rasio tersebut dengan menggunakan beberapa analisa, yaitu:
a. Analisa antar perusahaan
Rasio perbandingan antar perusahaan yang berbeda pada waktu yang sama yaitu
membandingkan kinerja perusahaan dengan perusahaan pembanding dimana nilai ratio
perusahaan dibandingkan dengan nilai rasio perusahaan pembanding dengan tujuan untuk
perbaikan. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi penyimpangan terhadap standar
industri.
b. Analisa berkala dari waktu ke waktu atau analisa deret berkala
Hal ini dilakuakan berdasarkan pada teori bahwa perusahaan harus dievaluasi keadaan masa
lalunya untuk mengetahui arah perkembangannya serta tindakan apa yang sesuai yang harus
dilakukan perusahaan untuk jangka menengah dan panjang.
c. Analisa gabungan
Pendekatan yang lebih informatif terhadap analisa rasio adalah gabungan dari analisa antar
perusahaan dan analisa deret berkala. Dalam analisa gabungan terdapat kaitan antara analisa
retio perusahaan dengan trend dari industri. Pada umumnya semakin rendah ratio
mencerminkan rata-rata penagihan perusahaan semakin baik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa ratio, diantaranya:
1. Sebuah ratio tunggal secara umum tidaklah dapat memberikan informasi yang
memadai untuk mengetahui seluruh kinerja perusahaan.
2. Laporan keuangan yang dibandingkan harus dalam periode yang sama. Jika tidak
maka penyimpangan yang disebabkan oleh dampak musiman dapat menghasilkan
kesimpulan yang salah karena pembuatan keputusan yang salah.
3. Sebaiknya menggunakan dasar laporan keuangan yang telah diaudit karena data
keuangan perusahaan dapat mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang
sebenarnya.
4. Data yang diperbandingkan disususn dengan cara yang sama dengan menggunakan
perlakuan akuntansi yang berbeda khususnya untuk penyusutan dan persediaan dapat
menyebabkan distorsi dalam hasil analisa ratio.
Jenis-Jenis Analisa Ratio
Pada umumnya analisis terhadap rasio merupakan langkah awal dalam analisis
keuangan guna menilai prestasi dan kondisi keuangan suatu perusahaan. Ukuran yang
digunakan adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara dua data keuangan. Beberapa
rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi 5 macam, yaitu diantaranya:
1. Rasio Likuiditas, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
financial jangka pendek. Rasio ini ditunjukkan pada besar kecilnya aktiva lancar.
a. Current Ratio (ratio lancar), merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan
hutang lancar. Dimana kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus
dipenuhi dengan aktiva lancar.
b. Cash ratio (ratio of immediate solvency), merupakan kemampuan untuk
membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam
perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.
c. Quick Ratio (ratio cepat), dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva
lancar, kemudian membagi sisanya dengan hutang lancar Dimana kemampuan
untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang
lebih likuid (quick assets).
2. Rasio aktivitas, mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber –
sumber daya sebagaimana digariskan oleh kebijaksanaan perusahaan menjadi
penjualan atau kas. Rasio ini menyangkut perbandingan antara penjualan dengan
aktiva pendukung terjadinya penjualan artinya rasio ini menganggap bahwa suatu
perbandingan yang “layak” harus ada antara penjualan dan berbagai aktiva misalnya :
persediaan, piutang, aktiva tetap, dan lain-lain. Rasio produksi meliputi :
a. Account receivable ratio, mengetahui jumlah waktu yang diperlukan untuk
mengumpulkan piutang selama satu tahun yang dapat dihitung dengan cara
membagi penjualan kredit dengan rata-rata piutang.
b. Inventaory ratio, menhitung kemampuan persediaan berputar selama satu tahun
yang diukur dengan menggunakan inventory turnover dan waktu rata-rata
persediaan tertahan di gudang. Semakin kecil angka, maka semakin baik karena
resiko yang semakin kecil.
c. Total asset turnover, kemampuan total aktiva untuk berputar selama satu tahun
untuk menghasilkan penjualan.
3. Rasio Leverage, menunjukkan penjaminan utang, baik dengan menggunakan total
aktiva maupun modal sendiri.
a. Total debt, mengukur presentase penggunaan dana dari kreditur yang dihitung
dengan cara membagi total hutang dengan total aktiva. Dimana beberapa bagian
dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibelanjai dengan utang atau berapa bagian
dari aktiva yang digunakan untuk menjamin utang.
b. Debt to equity ratio, merupakan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang
dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang. Secara sistematis dapat ditulis sebagai
perbandingan antara total utang dengan modal.
c. Long term debt to equity ratio, merupakan bagian dari setiap rupiah modal sendiri
yang dijadikan jaminan untuk utang jangka panjang.
Utang jangka panjang
Long term debt to equity ratio = -----------------------------
Modal sendiri
d. Tangible assets debt coverage, merupakan besarnya aktiva tetap tangible yang
digunakan untuk menjamin utang jangka panjang setiap rupiahnya.
Jumlah aktiva – Intangibles – utang lancar
Tangible assets debt coverage = ------------------------------------------------------------
Hutang jangka panjang
e. Time interest earned, dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak
(EBIT) dengan beban bunga. Rasio ini mengukur seberapa jauh laba bisa
berkurang tanpa menyulitkan perusahaan dalam memenuhi kewajiban membayar
bunga tahunan. Dimana besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga
utang jangka panjang.
4. Rasio profitabilitas, digunakan untuk mengukur seberapa efekif pengelolaan
perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan sebagai berikut:
a. Gross profit margin, menunjukkan kemampuan penjualan dalam menghasilkan
laba kotor.
b. Net profit margin, kemampuan setiap rupiah penjualan untuk menghasilkan laba
bersih (Earning After Tax, EAT)
c. Return on total assets, menunjukkan kemampuan total aktiva menghasilkan laba
sebelum dipotong bunga dan pajak (EBIT)
d. Rate of return on investment, kemampuan aktiva rata-rata dalam menghasilkan
laba setelah pajak.
e. Return on equity, Kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan
bagi pemegang saham preferen dan saham biasa.
5. Rasio pasar, diterapkan untuk perusahaan yang telah go public dan mengukur
kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai terutama pada pemegang saham dan
calon investor. Rasio pasar mencerminkan penilaian pemgang saham dari segala
aspek atas kinerja masa lalu perusahaan dan harapan kinerja di masa yang akan
datang.
a. Earning per share, menunjukkan jumlah pendapatan bersih yang tersedia untuk
pemegang saham biasa dibagi dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar.
b. Price earning ratio, rasio antara harga pasar saham dengan laba per lembar saham.
Jika rasio ini lebih rendah dari pada rasio industri sejenis, bisa merupakan indikasi
bahwa investasi pada saham perusahaan ini lebih beresiko daripada rata -rata
industri. Rasio harga pasar pada umumnya digunakan untuk melihat saham
perusahaan dan mengukur julah uang dimana investor bersedia membayar untuk
setiap rupiah pendapatan perusahaan. Besarnya rasio harga pasar menunjukkan
tingkat kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan di masa depan.
c. Market to book value, perbandingan antara nilai pasar saham dengan nilai buku
saham, juga merupakan indikasi bahwa para investor menghargai perusahaan.
Ratio harga pasar per nilai buku menunjukkan bagaimana penilaian investor
terhadap kinerja perusahaan. Ratio ini menghubungkan nilai pasar saham
perusahaan terhadap nilai buku atau nilai akutansi. Untuk menghitungnya pertama
harus dihitung nilai buku per lembar saham biasa.
Ekuitas saham biasa
Niali buku per lembar saham biasa = ------------------------------------------------------
Jumlah lembar saham biasa yang beredar
C. KINERJA SEBAGAI DASAR EVALUASI

Menurut Fisher, Schoenfeldt, dan Shaw Evaluasi Kinerja merupakan suatu proses
dimana kontribusi karyawan terhadap organisasi dinilai dalam suatu periode tertentu.
Sedangkan GT. Milkovich dan Bourdreau mengungkapkan bahwa evaluasi kinerja adalah
suatu proses yang dilakukan dalam rangka menilai kinerja karyawan. Kinerja karyawan
diartikan sebagai suatu tingkatan dimana karyawan memenuhi atau mencapai persyaratan
kerja yang ditentukan.

Penilaian kinerja mencakup tiga faktor penting, yaitu :

1. Pengamatan. Kegiatan penilaian ini merupakan proses menilai dan menilik perilaku
yang telah ditentukan oleh tim kerja.
2. Ukuran. Alat ukur dan indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja seorang
personal dibandingkan dengan uraian pekerjaan yang telah diterapkan bagi personal
tersebut.
3. Pengembangan. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi personal agar mengatasi
kekurangannya dan mendorongnya mengembangkan kemampuan dan potensi yang
ada pada dirinya.

Terkadang evaluasi kinerja menjadi suatu hal yang menakutkan bagi para karyawan.
Banyak karyawan menganggap sesi ini sebagai ancaman karena takut akan adanya kesalahan-
kesalahan yang terbukti setelah adanya evaluasi ini. Maka dari itu, diperlukan kemampuan
yang baik dari para assessor (penilai) yang dalam hal ini adalah seorang Manajer langsung
dalam melakukan penilaian dan evaluasi.

Pada intinya evaluasi kinerja dianggap sebagai alat untuk memverifikasi apakah
individu-individu telah memenuhi standar-standar kinerja yang telah ditetapkan. Penilaian
kinerja dapat pula menjadi cara untuk membantu individu-individu mengelola kinerja
mereka. Dalam praktik, manajer departemen-departemen di perusahaan harus memahami
pentingnya penilaian kinerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan personalia
dan memberikan umpan balik perusahaan kepada karyawan tentang pelaksanaan kerja