Você está na página 1de 31

Makalah Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif

FRAUD DAN KORUPSI

Oleh KELOMPOK 7 :

Risty Martasari (02320150019)


Achmad Farid Asnawi (02320150304)
Annisa Hikrima Yulandari (02320150454)
Suriani (02320150137)
Ghailand Adam Bactiar (02320150155)

Kelas : C3

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
senantiasa memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulisan dengan
segenap kemampuan dan kesanggupan dapat menyelesaikan makalah ini. Dan
Allhamdulilah tepat pada waktunya.
Makalah yang berjudul “FRAUD dan KORUPSI” ini disusun untuk memunuhi
tugas Mata Kuliah Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Diharapkan makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam meningkatkan pengetahuan kita.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita Amin.

Makassar, Maret 2018

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

JUDUL

KATA PENGANTAR....................................................................................... 2

DAFTAR ISI...................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang............................................................................................. 4

B. Rumusan Masalah........................................................................................ 5

BAB II PEMBAHASAN

FRAUD

A. Fraud Dalam Perundangan Kita ………………………………………... 6


B. Fraud Dalam KUHP……………………………....................................... 6
C. Fraud Tree (Pohon Fraud).................................................................... 7
D. Akuntan Forensik Dan Jenis Fraud...................................................... 10
E. Manfaat Fraud Tree.............................................................................. 11
F. Pressure............................................................................................... 12
G. Perceived Opportunity.......................................................................... 15
H. Rationalization...................................................................................... 15

KORUPSI
A. Pendekatan Sosiologi .......................................................................... 16
B. Delapan pertanyaan tentang korupsi ................................................... 17
C. Korupsi – tinjauan Sosiologis ............................................................... 20
D. Korupsi – tinjauan Aditjonro ................................................................. 21

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………................... 22

B. Saran……………………………………………………………………….......... 23

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 24

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

BAB 6 : FRAUD
Fraud atau kecurangan merupakan hal yang sekarang banyak
dibicarakan di indonesia. Pengertian fraud itu sendiri merupakan penipuan
yang sengaja dilakukan, yang menimbulkan kerugian pihak lain dan
memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan dan atau kelompoknya.
Adapun menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), fraud
adalah perbuatan-perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja
untuk tujuan tertentu (manipulasi atau memberikan laporan keliru kepada
pihak lain) dilakukan oleh orang-orang dari dalam atau luar untuk
mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok secara langsung atau
tidak langsung merugikan orang lain.

BAB 7 : KORUPSI
Tindak perilaku korupsi akhir-akhir ramai di perbincangkan, baik di
media massa maupun maupun media cetak. Tindak korupsi ini mayoritas
dilakukan oleh para pejabat tinggi negara yang sesungguhnya dipercaya oleh
masyarakat luas untuk memajukan kesejahteraan rakyat sekarang malah
merugikan negara.
Korupsi merupakan budaya peninggalan masa lalu. Ini merupakan suatu
budaya yang sulit dirubah karena melekat pada diri manusia itu sendiri yang
merupakan moralitas atau akhlak.Untuk merubah itu semua perlu dicari
sebab-sebab dan bagaimana untuk mengatasinya. Penyebab utama adanya
korupsi adalah berasal dari masing-masing individu dan untuk mengatasinya
harus dimulai dari penyusunan akhlak yang baik dalam diri manusia itu sendiri
selain upaya-upaya lain yang bersifat eksternal berupa pencegahan-
pencegahan melalui penegakan hukum itu sendiri.

4
B. RUMUSAN MASALAH

BAB 6 : FRAUD
1. Mengindentifikasi Fraud dalam perundangan kita !
2. Apa saja Fraud dalam KUHP ?
3. Menjelaskan Fraud Tree?
4. Mengindentifikasi Akuntan Forensik dan Jenis Fraud !
5. Menjelaskan manfaat Fraud Tree ?
6. Menjelakan apa yang dimaksud dengan Pressure ?
7. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Perceived Opportunity ?
8. Apa yang dimaksud dengan Rationalization ?

BAB 7 : KORUPSI
1. Mengindentifikasi Pendekatan Sosiologi !
2. Menjelaskan apa saja delapan pertanyaan tentang Korupsi ?
3. Menjelaskan Korupsi – dari tinjauan Sosiologis !
4. Menjelaskan Korupsi – dari tinjauan Aditjonro !

5
BAB II
PEMBAHASAN

BAB 6 : FRAUD

A. FRAUD DALAM PERUNDANGAN KITA


Pengumpulan dan pelaporan statistik tentang kejahatan di suatu Negara
dapat dilakukan sesuai dengan klasifikasi kejahatan dan pelanggaran (tindak
pidana) menurut ketentuan perundang-undangan Negara tersebut. Dalam
Statistik Kejahatan Indonesia yang dilaporkan oleh BPS tidak selalu tersedia
dalam format yang sama, istilah kejahatan yang dipergunakan sering kali juga
tidak konsisten, dan tidak terlalu bermanfaat untuk pembahasan akuntansi
forensik.
Dalam membaca dan menggunakan statistik kejahatan di Indonesia, perlu
diingat bahwa masih rendahnya kesadaran untuk melaporkan kejahatan.
Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat enggan melaporkan kejahatan.
Di antaranya, tercermin dari ungkapan sehari-hari yang sederhana. Oleh
karena itu, beberapa kajian luar negeri tentang data kejahatan di Indonesia
memberi peringatan “crimes may be unreported”.

B. FRAUD DALAM KUHP


Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan beberapa
pasalyang mencakup pengertian fraud seperti:
a. Pasal 362 tentang Pencurian (definisi KUHP: “mengambil barang
sesuatu,yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan
maksud untuk dimiliki secara melawan hukum”);
b. Pasal 368 tentang Pemerasan dan Pengancaman (definisi KUHP:
“denganmaksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara
melawanhukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau
mengancam kekerasanuntuk memberikan barang sesuatu, yang
seluruhnya atau sebagian adalahkepunyaan orang itu atau orang lain,
atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang”);
c. Pasal 372 tentang Penggelapan (definisi KUHP: dengan sengaja dan
melawanhukum dimiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian
6
adalahkepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya
bukan karena kejahatan”);
d. d.Pasal 378 tentang Perbuatan Curang (definisi KUHP: “dengan maksud
untukmenguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum,
denganmemakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat,
ataupunrangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk
menyerahkan barangsesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang
maupun menghapuskan piutang”);
e. Pasal 396 tentang Merugikan Pemberi Piutang dalam Keadaan Pailit;
f. Pasal 406 tentang Menghancurkan atau Merusakkan Barang (definisi
KUHP:” dengan sengaja atau melawan hukum menghancurkan,
merusakkan, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan barang
sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain”);

Di samping KUHP juga ada ketentuan perundang-undangan lain


yangmengatur perbuatan melawan hukum yang termasuk dalam kategori fraud,
sepertiundang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, berbagai
undang-undang perpajakan yang mengatur tindak pidana perpajakan, undang-
undangtentang pencucian uang, undang-undang perlindungan konsumen, dan
lain-lain.

C. FRAUD TREE (POHON FRAUD)


Secara skematis, Assosiation of Certified Fraud Examiners (ACFE)
menggambarkan occupational fraud dalam bentuk fraud tree. Pohon ini
menggambarkan cabang-cabang dari fraud dalam hubungan kerja, beserta
rantinf dan anak rantingnya.
Occupational fraud tree ini mempunyai tiga cabang utama,
yakni corruption, asset misappropriation, dan fraudulent statements.

7
1. Corruption
Istilah corruption disini serupa tetapi tidak sama dengan istilah korupsi
dalam ketentuan perundangan kita. Korupsi menurut UU No. 31 tahun 1999
meliputi 30 tindak pidana korupsi dan 4 bentuk dalam ranting-
ranting: conflicts of interest, bribery, illegal gratuities, economics
extortion.
Conflicts of interest atau benturan kepentingan diantaranya dapat
berupa bisnis plat merah atau bisnis pejabat dan keluarga serta kroni mereka
yang menjadi pemasok atau rekanan di lembaga-lembaga pemerintah dan di
dunia bisnis. Ciri-ciri mereka menjadi pemasok:
1. Selama bertahun-tahun. Bukan saja selama pejabat tersebut berkuasa.
Melalui kontrak jangka panjang, bisnis berjalan terus meskipun pejabat
tersebut sudah lengser.
2. Nilai kontrak relatif mahal ketimbang kontrak yang dibuat dalam arm’s
length. Dalam bahasa sehari-hari disebut juga dengan mark up atau
penggelembungan.
3. Para rekanan ini, meskipun hanya sefelintir, mengusai pangsa pembelian
yang relatif sangat besar dalam lembaga tersebut.
4. Kemenangan dalam proses tender dicapai dengan cara-cara tidak wajar.
5. Hubungan antara penual dan pembeli lebih dari hubungan bisnis. Pejabat
atau penguasa bisa menggunakan sanak saudaranya (nepotisme) sebgai
órang depan” atau ada persekongkolan (kolusi) yang melibatkan
penyuapan.
Bisnis yang mengandung benturan kepentingan sering disamarkan
dengan kegiatan sosial-keagamaan dan muncul dalam bentuk yayasan-
yayasan.

2. Aset Misappropriation
Aset misappropriation atau “pengambilan” aset secara ilegal dalam
bahasa sehari-hari disebut mencuri. Di dalam istilah hukum, “mengambil” aset
secara ilegal (tidak sah, atau melawan hukum) yang dilakukan oleh
seseorang yang diberi wewenang untuk mengelola atau mengawasi aset
tersebut, disebut menggelapkan. Istilah pencurian, dalam fraud tree disebut
larceny. Istilah penggelapan dalam bahasa Inggris nya adalah embezzlement.
8
Klasifikasi penjarahan kas dalam tiga bentuk disesuaikan dengan arus
uang masuk.

1. Skimming
Cara ini terlihat dalam fraud yang sangat dikenal para auditor, yakni
lapping. Kalau uang sudah masuk kedalam perusahaan dan kemudian
baru dijarah, maka fraud ini disebut larceny atau pencurian. Sekali arus
uang sudah terekam dalam sistem, maka penjarahan ini disebut
fraudulent disbursements yang lebih dikenal dengan istilah
penggelapan.
2. Larceny
Bentuk penjarahan yang paling kuno dan dikenal sejak awal
peradaban manusia. Peluang untuk terjadinya penjarahan jenis ini
berkaitan erat dengan lemahnya sistem pengendalian intern,
khususnya yang berkenaan dengan perlindungan keselamatan aset
(safeguarding of assets).
3. Fraudulent disbursements
Sebenarnya salah satu langkah lebih jauh dari pencurian. Sebelum
tahap pencurian, ada tahap perantara. Terdapat lima kolom (sub
ranting) pada fraudulent disbursements, yaitu :
a. Billing schemes
b. Payroll schemes
c. Expense reinbursement schemes
d. Check tampering
e. Dan register disbursements

3. Fraudulent Statement
Cabang dan ranting yang menggambarkan fraud yang diberi label
“Fraudulent Statements” dapat dilihat di sisi kanan dari fraud tree. Jenis fraud
ini sangat dikenal oleh auditor yang melakukan general audit (opinion audit).
Fraud yang berkenaan dengan penyajian laporan keuanga, sangat menjadi
perhatian auditor, masyarakat atau para LSM/NGO, namun tidak menjadi
perhatian akuntan forensik.

9
Ranting pertama menggambarkan fraud dalam menyusun laporan
keuangan. Fraud ini berupa salah saji (misstatements baik overstatements
maupun understatements). Cabang dari ranting ini ada dua. Pertama,
menyajikan aset atau pendapatan lebih tinggi dari yang sebenarnya
(aset/revenue understatements). Kedua, menyajikan aset atau pendapatan
lebih rendah dari yang sebenarnya (aset/revenue understatements).
Ranting kedua menggambarkan fraud dalam menyusun laporan non-
keuangan. Fraud ini berupa penyampaian laporan non-keuangan secara
menyesatkan, lebih bagus dari keadaan yang sebenarnya, dan sering kali
merupakan pemalsuan atau pemutarbalikan keadaan. Bisa tercantum dalam
dokumen yang dipakai untuk keperluan intern maupun eksteren. Contoh,
perusahaan minyak besar didunia yang mencantumkan cadangan minyak
nya lebih besar secara signifikan dari keadaan yang sebenarnya apabila
diukur dengan standar industrinya.

D. AKUNTAN FORENSIK DAN JENIS FRAUD


Dari tiga cabang fraud tree, yakni corruption, misappropriation of asset,
dan fraudulent statements. Akuntan forensik memusatkan perhatian pada dua
cabang pertama. Cabang fraudulent statements menjadi pusat perhatian dalam
audit atas laporan keuangan (general audit atau opinion audit).
Akuntan forensik atau audit investigatif hampir tidak pernah menyentuh
fraud yang menyebabkan laporan keuangan menjadi menyesatkan, dengan
dua pengecualian.
Pertama, ketika “regulator” seperti Bapepam, Securities and Exchange
Commission, atau Financial Services Authority (OJK, Otoritas Jasa Keuangan)
mempunyai dugaan kuat bahwa laporan audit suatu kantor akuntan publik
mengandung kekeliruan yang serius (atau kantor akuntan publik yang
bersangkutan mengakui hal tersebut). Regulator dapat meminta kantor akuntan
lain melakukan pendalaman, atau mereka sendiri melakukan penyidikan.
Dalam hal ini akuntan forensik melakukan audit investigatif. Mengapa?
Kasusnya bisa dibawa ke pengadilan atau diselesaikan di luar pengadilan dan
auditnya harus lebih luas dan mendalam karena harus jelas siapa yang
bertanggung jawab untuk hal apa.

10
Kedua, ketika fraudulent statements dilakukan dengan pengolahan data
secara elektronis, terintegrasi, dan besar-besaran atau penggunaan komputer
yang dominan dalam penyiapan laporan. Selain pertimbangan penyelesaian
kasus di dalam atau diluar pengadilan, juga ada pertimbangan diperlukannya
keahlian khusus, yakni computer forensics.

E. MANFAAT FRAUD TREE


Fraud tree yang dibuat ACFE sangat bermanfaat. Fraud tree memetakan
fraud dalam lingkungan kerja. Peta ini membantu akuntan forensik mengenali
dan mendiagnosis fraud yang terjadi. Ada gejal-gejala “penyakit” fraud yang
dalam auditing dikenal sebagai red flags. Dengan memahami gejala-gejala ini
dan menguasai teknik-teknik audit investigatif, akuntan forensik dapat
mendeteksi fraud tersebut.
Kondisi kita yang berbeda dengan kondisi di Amerika Serikat dapat
menjadi alasan untuk tidak sepenuhnya mengikuti fraud tree diatas. Koruptor
atau pelaku fraud di Indonesia sering kali lebih kreatif. Juga iklim bisnis dan
pemerintahan yang koruptis mengharuskan akuntan forensik berpikir mengenai
dunia nyatanya. Akuntan forensik sebaiknyamembuat sendiri fraud tree atau
peta dari tindak pidana yang diperiksanya.

Fraud Triangle
Bermula dari penelitian Donald R. Cressey yang tertarik pada embezzlers
yang disebutnya “trust violators” atau pelanggra kepercayaan, yakni mereka
yang melanggar kepercayaan atau amanah yang dititipkan kepada mereka.
Penelitian nya diterbitkan dengan judul Other People’s Money : Study in the
Social Psychology of Embezzlement.

11
PERCEIVED
OPPORTUNITY

FRAUD

TRAIANGLE

PRESSURE RATIONALIZATION

Dalam perkembangan selanjutnya, hipotesis dari penelitian tersebut


dikenal sebagai fraud triangle atau segitiga fraud. Sudut pertama dari segitiga
itu diberi judul pressure yang merupakan perceived non-shareable financial
need. Sudut keduanya, perceived opportunity. Sudut
ketiga, rationalization.

F. PRESSURE
Penggelapan uang perusahaan oleh pelakunya bermula dari suatu
tekanan (pressure) yang menghimpitnya. Orang ini mempunyai kebutuhan
keuangan yang mendesak, yang tidak dapat diceritakan nya kepada orang lain.
Konsep yang penting di sini adalah, tekanan yang menghimpit hidupnya
(berupa kebutuhan akan uang), padahal ia tidak bisa berbagi (sharing) dengan
orang lain. Konsep ini di dalam bahasa inggris disebut perceived non-shareable
financial need.
Cressey menjelaskan, “ketika para pelanggar kepercayaan ini ditanya:
mengapa di waktu yang lalu anda tidak melanggar kepercayaan yang diberikan
terkait dengan kedudukan-kedudukan anda terdahulu, atau mengapa anda
tidak melangar kepercayaan (trust) lainnya yang terkait dengan kedudukan
anda sekarang? Umumnya jawaban mereka adalah salah satu diantara: (a)
ketika itu belum ada kebutuhan (yang mendesak) seperti sekarang, atau (b)
belum pernah terpikir untuk melakukan hal itu sebelumnya, atau (c) diwaktu

12
yang lalu saya mengganggap perbuatan itu tidak jujur, tapi kali ini tidak
demikian halnya.”
Bagi pelaku atau (embezzler), ia tidak bias berbagi masalah
(keuangannya) dengan orang lain, padahal sebenarnya “berbagi masalah
dengan orang lain” dapat membantunya mencari pemecahan. Apa yang bisa
diceritakan kepada orang lain tentunya tergantung pada orang tersebut. Ada
orang yang kehilangan uang dalam jumlah besar di meja judi dan ia menyadari
sebagai suatu masalah, tetapi bukan masalah yang tidak dapat diceritakannya
kepada orang lain. Orang lain dengan pengalaman yang sama menganggap
masalah itu harus dirahasiakan dengan bersifat pribadi. Juga masalah yang
dihadapi suatu bank, bagi bankir tertentu merupakan masalah yang
didiskusikannya dengan orang lain, sedangkan bagi bankir lain masalah itu
harus ditutup rapat-rapat, atau mencari masalah yang non shareable baginya.
Masalah tadi digambarkan sebagai masalah keuagan karena masalah ini
“dapat dipecahkan” dengan mencuri uang atau asset lainnya. Seorang penjudi
yang kalah habis-habisan, (merasa) harus menutup kekalahannya dengan
mencuri. Namun, Cressey mencatat bahwa ada masalah non keuangan
tertentu yang dapat diselesaikan dengan mencuri uang atau asset lainnya, jadi
dengan melanggar kepercayaan yang terkait dengan kedudukannya. Contoh:
kasir yang mencuri uang perusahaan sebagai balas dendam atas perlakuan
tidak adil yang dirasakannya.
Dari penelitiannya, Cressey menemukan bahwa non-shareable problem
timbul dari situasi yang dapat dibagi dalam enam kelompok:
1. violation of ascribed obligation
2. problems resulting from personal failure
3. business reversals
4. physical isolation
5. status gaining
6. employer-employee relation
Keenam kelompok situasi tersebut, pada dasarnya berkaitan dengan
upaya memperoleh status lebih tinggi atau mempertahankan status yang
sekarang dipunyai. Dengan lain perkataan, non shareable problems
mengancam status orang itu, atau merupakan ancaman baginya untuk

13
meningkatkan ke status yang lebih tinggi dari statusnya pada saat pelanggaran
terjadi.

1. Violation of Ascribed Obligation


Suatu kedudukan atau jabatan dengan tanggung jawab keuangan,
membawa konsekuensi tertentu bagi yang bersangkutan dan juga menjadi
harapan atasan atau majikannya. Di samping harus jujur, ia dianggap perlu
memiliki perilaku tertentu.
2. Problems Resulting from Personal Failure
Kegagalan pribadi juga merupakan situasi yang dipersepsikan oleh orang
yang mempunyai kedudukan serta dipercaya dalam bidang keuangan,
sebagai kesalahan nya menggunakan akal sehatnya, dan karena itu menjadi
tanggungjawab pribadinya.
3. Business Reversals
Cressey menyimpulkan bahwa kegagalan bisnis merupakan kelompok
situasi yang juga mengarah kepada non-shareable problem. Masalah ini
berbeda dari kegagalan pribadi yang dijelaskan diatas, karena pelakunya
merasa bahwa kegagalan itu berasal dari luar dirinya atau luar kendalinya.
Dalam persepsinya, kegagalan itu karena inflasi yang tinggi, atau krisis
moneter, tingkat bunga yang tinggi, dan lain-lain.
4. Physical Isolation
Situasi ini dapat diterjemahkan sebagai keterpurukan dalam kesendirian.
Dalam situasi ini, orang itu bukan tidak mau berbagi keluhan dengan orang
lain. Ia tidak mempunyai orang lain tempat ia berkeluh dan mengungkapkan
masalahnya.
5. Status Gaining
Situasi ini tidak lain dari kebiasaan buruk untuk tidak mau kalah dengan
“tetangga”. Orang lain punya harta tertentu, ia juga harus seperti itu atau lebih
dari itu. Orang lain punya jabatan tertentu, ia juga harus punya jabatan seperti
itu atau bahkan lebih baik. Dalam situasi yang dibahas di atas, pelaku
berusaha mempertahankan status. Di sini, pelaku bersedia meningkatkan
statusnya.

14
6. Employer-Employee Relation
Situasi ini mencerminkan kekesalan (atau kebencian) seorang pegawai
yang menduduki jabatan yang dipegangnya sekarang, tetapi pada saat yang
sama ia merasa tidak ada pilihan baginya, yakni ia tetap harus menjalankan
apa yang dikerjakannya sekarang.

G. PERCEIVED OPPORTUNITY
Cressey berpendapat, ada dua komponen dari persepsi tentang peluang.
Pertama, general information, yang merupakan pengetahuan bahwa
kedudukan yang mengandung trust atau kepercayaan, dapat dilanggar tanpa
konsekuensi. Pengetahuan ini diperoleh dari apa yang dia dengar atau lihat,
misalnya dari pengalaman orang lain yang melakukan fraud dan ketidak tahuan
atau tidak dihukum atau terkena sanksi.
Kedua, technical sklill atau keahlian/ketrampilan yang dibutuhkan untuk
melaksanakan kejahatan tersebut. Ini biasanya keahlian atau keterampilan
yang dipunyai orang itu dan yang menyebabkan ia mendapat kedudukan
tersebut.General information dan technical skills yang dibahas Cressey bukan
semata-mata dipunyai oleh orang yang punya kedudukan, pegawai biasa juga
mempunyainya.
Namun, mereka yang mempunyai posisi dengan kepercayaan di bidang
keuangan, ketika menghadapi non-shareable financial problem, akan melihat
general information dan technical skills sebagai jalan keluar dari masalah itu.
Posisi mereka yangmendapat kepercayaan atau trust, khususnya di bidang
keuangan, memungkinkan mereka memanfaatkan general information dan
technical skills yang mereka miliki.

H. RATIONALIZATION
Rationalization (rasionalisasi), dapat dikatakan sebagai usaha untuk
mencari pembenaran sebelum melakukan kejahatan, bukan sesudahnya.
Biasanya secara naluri alamiah ketika kejahatan telah dilakukan, rationalization
ini ditinggalkan. karena tidak diperlukan lagi. Pertama kali manusia akan
berbuat kejahatan atau pelanggaran, ada perasaan tidak enak.
contohnya : ketika kita mengulanginya perbuatan itu menjadi mudah, dan
selanjutnya menjadi biasa. Ketika akan mencuri uang perusahaan untuk
15
pertama kalinya, pembenarannya adalah: "nanti kubayar, nanti kuganti". Sekah
si pelaku sukses, mencuri secara berulang kali, ia tidak memerlukan
rationalization semacam itu.

BAB 7 : KORUPSI

A. PENDEKATAN SOSIOLOGI
Dalam pendekatan sosiologi, definisi korupsi yang lazim dipergunakan
adalah “penyalahgunaan wewenang pejabat untuk keuntungan pribadi” (“the
abuse of public power for private gain”).
Korupsi merupakan masalah yang berkenaan dengan sistem
perekonomian dan kelembagaan. Sistem perekonomian dan kelembagaan
tertentu mendorong bahkan memberikan ganjaran (reward) untuk perbuatan
korupsi.
Lingkungan perekonomian dan kelembagaan menentukan lingkup korupsi
dan insentif untuk melakukan korupsi. Sistem perekonomian dan kelembagaan
yang meningkatkan manfaat atau “keuntungan” korupsi cenderung memiliki
empat ciri :
1. Individu pejabat mempunyai kekuasaan mutlak (substantial
monopoly power) atas pengambilan keputusan.
2. Pejabat yang bersangkutan mempunyai kelonggaran wewenang
(discretion) yang besar.
3. Mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan (tidak accountable
terhadap) tindakan mereka) mereka beroperasi dalam lingkungan
yang rendah tingkat keterbukaannya.

Keempat ciri di atas melahirkan rumus atau persamaan di mana:


C = corruption (korupsi)
MP = monopoly power (kekuasaan mutlak)
D = discretion (kelonggaran wewenang)
A = accountability (akuntabilitas)
Tdm = transparency of decision – making (keterbukaan dalam
pengambilan keputusan)

16
B. DELAPAN PERTANYAAN TENTANG KORUPSI
Bagian ini disarikan dari tulisan Jakob Svensson, seorang senior
economist pada Development Research Group, Word Bank. Sevensson
mengajukan dan membahas delapan pertanyaan mengenai korupsi sebagai
berikut:
1. What is Corruption? ( Apa sesungguhnya korupsi itu?)
2. Which countries are the most corrupt? (Negara – negara mana yang
paling korup?)
3. What are the common characteristics of countries with high
corruption? (Apa ciri-ciri umum negara yang mempunyai tingkat
korupsi yang tinggi?)
4. What is the magnitude of corruption? (Berapa besarnya korupsi?)
5. Do higher wages of bureaucrats reduce corruption? (Apakah gaji
lebih tinggi untuk para birokrat akan menekan korupsi?)
6. Can competition reduce corruption? ( Apakah persaingan dapat
menekan korupsi?)
7. Why have there been so few (recent) succesful attempts to fight
corruption? (mengapa (akhir-akhir ini) begitu sedikit upaya yang
berhasil memerangi korupsi?)
8. Does corruption adversely affect growth? (Apakah korupsi
berdampak negatif terhadap pertumbuhan?)

Pertanyaan Pertama
What is corruption? Korupsi umumnya didefinisi adalah penyalahgunaan
jabatan di sektor pemerintahan (misuse of public office) untuk keuntungan
pribadi. Korupsi yang didefinisikan seperti itu meliputi, misanya, penjualan
kekayaan negara secara tidak sah oleh pejabat, kickbacks dalam pengadaan di
sektor pemerintahan, penyuapan, dan “pencurian” (embezzlement) dana-dana
pemerintah.
Korupsi adalah outcome, cerminan dari lembaga-lembaga hukum,
ekonomi, budaya dan politik suatu negara. Korupsi dapat berupa tanggapan
atas peraturan yang berguna atau peraturan yang merugikan. Peraturan lalu
lintas, misalnya, adalah peraturan yang berguna untuk mengatur ketertiban di

17
jalan. Pelanggaran aturan ini menyogok polisi lalu lintas untuk menghindari
sanksi.

Pertanyaan Kedua
Which countries are the most corrupt? Bagaimana kita mengukur korupsi
sedemikian rupa sehingga kita memperoleh gambaran antar-negara. Kajian
mengenai pengukuran korupsi antar-negara oleh Knack dan Keefer (1995) dan
Mauro (1995) didasarkan atas indikator korupsi yang dihimpun oleh
perusahaan-perusahaan yang berkecimpung dalam usaha mengukur risiko
(private risk-assesment firms). Di antaranya, International Country Risk Guide
(ICRG) adalah yang paling populer, karena ia meliputi lebih banyak kurun
waktu dan negara.
Bentuk yang kedua adalah indeks yang menunjukkan rata-rata dari
berbagai peringkat oleh sumber – sumber yang menghimpun data mengenai
persepsi adanya korupsi. Diantaranya, yang paling populer adalah Corruption
Perception Index (CPI).
Kaufmann, Kraay da Mastruzzi (2003) menghasilkan ukuran yang
melengkapi pengukuran tersebut di atas, yakni Control of Corruption (CoC)

Pertanyaan Ketiga
What are the common characteristics of countries with high
corruption? Ada teori – teori yang melihat ciri-ciri umum negara korup dari
peranan lembaga-lembaga (institutional theories). Teori – teori ini dapat dipilah
dalam dua kelompok besar.
Kelompok toeri pertama memandang mutu lembaga dan karenanya juga
korupsi dibentuk oleh faktor – faktor ekonomi. Secara singkat, perkembangan
lembaga-lembaga merupakan respons terhadap tingkat pendapatan negara.
(Lipset, 1960; Demsetz, 1967). Pandangan yang terkait diberikan oleh human
capital theory, yang melihat perkembangan dalam human capital dan
penghasilan menyebabkan perkembangan dalam kelembagaan (Lipset, 1960;
Glaeser, La Porta, Lopez-de Silanes dan Shleifer, 2004).
Kelompok institusional theories kedua menekankan peran lembaga –
lembaga secara lebih langsung. Teori – teori ini sering kali memandang

18
lembaga-lembaga sebagai pantang menyerah (persistent) dan bawaan
(inherited).

Pertanyaan Keempat
What is the magnitude of corruption? Peringkat negara-negara
berdasarkan persepsi tingkat korupsi bersifat subjektif. Kesimpulan diambil
bukan dari penelitian yang mendalam melainkan atas dasar kesan, dan
pengamatan sekilas (anecdotal).

Pertanyaan Kelima
Do higher wages of bureaucrats reduce corruption? Bukti sistematis yang
menunjukkan hubungan antara kenaikan gaji dan tingkat korupsi memang
meragukan. Rauch dan Evans (2000) menemukan tidak ada bukti kuat
mengenai hubungan antara kenaikan gaji dan turunnya tingkat korupsi.
Sebaliknya, Van Rijckeghem dan Weder (2001) menunjukkan sebaliknya.
Memang sulit untuk mengukur korupsi dengan menggunakan data persepsi
korupsi lintas negara. Sulit untuk memastikan bahwa gaji yang tinggi
merupakan fungsi dari rendahnya korupsi, atau sebaliknya. Hal yang
menambah kesulitan untuk menarik kesimpulan adalah data gaji yang agregat.
Kenaikan gaji dari suatu kelompok penerima gaji mungkin tidak berkaitan
dengan korupsi oleh kelompok yang lain.

Pertanyaan Keenam
Can competetion reduce corruption? Pertanyaannya mengenai apakah
persaingan dapat menekan korupsi, berkaitan dengan pendekatan untuk
menekan korupsi melalui peningkatan persaingan. Jalan pikirannya adalah,
ketika persaingan yang kuat, peserta tender akan berusaha menekan harga
jual mereka sekuat mungkin. Sehingga tidak tersedia dana untuk menyogok
pejabat. Dalam kenyataannya, hubungan antara laba perusahaan dan korupsi
sangatlah kompleks, dan secara analitis tidaklah selalu jelas.

Pertanyaan Ketujuh
Why have there been o few (recent) succesful attempts to fight
corruption? Di banyak negara, termasuk indonesia, pemberantasan korupsi

19
dilakukan melalui gebrakan-gebrakan oleh lembaga atau aparat (penegak)
hukum dan keuangan (para pemeriksa, seperti auditor dan investigator).

Pertanyaan Kedelapan
Does corruption adversely affect growth ? Di era order baru, ada
pakar dan pengamat yang berargumentasi bahwa korupsi justru mendorong
pertumbuhan ekonomi. Menurut mereka, dengan penyuapan perusahaan bisa
melicinkan usaha mereka yang tersendat oleh birokrasi yang tidak efisien.
Argumen ini didokumentasikan oleh Leff,1964 dan Huntington,1968).
Dalam kebanyakan teori yang menghubungkan korupsi dengan
pertumbuhan ekonomi yang lambat, tindakan korup itu sendiri bukanlah biaya
sosial terbesar. Kerugian terbesar dari korupsi adalah bahwa korupsi
melahirkan perusahaan yang tidak efisien dan alokasi talenta (SDM), teknologi,
dan modal justru menjauhi penggunaannya yang paling produktif bagi
masyarakat.

C. KORUPSI – TINJAUAN SOSIOLOGI


Prof. Syed Hussein Alatas, guru besar pada jurusan Kajian Melayu,
Universitas Nasional Singapura merupakan penulis perintis mengenai masalah
korupsi di kawasan ini. Beberapa bukunya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa indonesia oleh LP3ES.
Dari kasus – kasus korupsi sekitaran tahun 1970 – 1980-an yang
dilaporkan Prof. Alatas, dapat disimpulkan antara lain berikut ini:
1. Tipologi korupsinya tidak banyak berubah. Beberapa di antaranya
merupakan penyakit kekanak – kanakan alias mencuri terang –
terangan.
2. Bahkan “pemain”-nya masih yang itu-itu juga (meskipun sudah berganti
nama) seperti bank – bank BUMN yang menjadi Bank Mandiri atau Bank
BNI, Pertamina, distributor pupuk, ABRI (sekarang TNI), dan lain-lain.
3. Gebrakan membawa sukses “sesaat” seperti terlihat dalam hasil kerja
Komisi Empat, Opstib, Opstibpus, dan lain-lain.

20
D. KORUPSI – TIJAUAN SOSIOLOGI ADITJONDRO
Geogre Junus Aditjondro adalah pengajar dan peneliti mengenai sosiologi
korupsi di Universitas New Castle, Jurusan Sosiologi dan Antropologi. Ia
pernah menerima penghargaan lingkungan hidup, Kalpataru, dari (pada waktu
itu Presiden) Soeharto. Sepuluh tahun kemudian penghargaan itu
dikembalikannya sebagai protes atas pelanggaran HAM dan lingkungan oleh
rezim soeharto. Tulisan – tulisannya tercecer mengenai korupsi oleh para
mantan presiden, keluarga dan kroninya dibukukan dengan judul “Korupsi
Kepresidenan”.
Ada beberap kesimpulan yang dibuat Aditjoro mengenai korupsi
kepresidenan di Indonesia, yang perlu diketahui akuntan forensik:
1. Bentuk oligarki berkaki tiga (Istana, Tangsi, dan Partai penguasa) yang
melanggengkan dan mewariskan korupsi kepada pemerintahan penerus.
2. Oligarki yang dipimpin oleh istri (Nyonya Tien Soeharto) atau suami
(Taufiq Kiemas) presiden atau spouse-led oligarchi. Aditjoro
menambahkan bahwa itulah sebabnya sejumlah penulis mengingatkan
Taufiq Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri, untuk menarik pelajaran
dari kasus Mike Arroyo (suami Gloria Macapagal Arroyo) dan dari Asif
Zardari (suami Benazir Bhutto).
3. Oligarki dan jejaring bisnis dan politik yang membentengi keperntingan
mantan penguasa dengan segala cara “pemindahan kekayaan?”

21
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

BAB 6 : Kata kecurangan dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang sering
didengar berkonotasi negatif. Secara awam kecurangan adalah tindakan
tidak jujur dengan bentuk tipu muslihat termaksuk dalam penyajian suatu
fakta yang sengaja disalahkan.

Kecurangan merupakan kumpulan tindakan ketidakberesan dan tindakan


melawan hukum, bentuk-bentuk kecurangan yang memiliki konsekuensi
hukum antara lain : penggelapan, penyuapan, pencurian dengan cara
menipu, korupsi, kolusi, nepotisme, menyalahgunakan wewenang dan
jabatan, kecurangan dalam laporan keuangan.

Secara Skematis, Association of Certifed Fraud Examiners (ACFE)


menggambarkan Occupational fraud dalam bentuk fraud tree. Dimana
Occupational fraud ini mempunyai 3 cabang utama, yakni :

1. Corupption
2. Asset Misappropriation
3. Fraudulent Statements

BAB 7 : Korupsi adalah suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara
langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam
perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri
dengan menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang
Negara untuk kepentingannya.

Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan dan kelemahan


pemimpin,kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme, penjajahan
rendahnya pendidikan, kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras,
kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku korupsi, rendahnya
sumber daya manusia, serta struktur ekonomi.Korupsi dapat
diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu bentuk, sifat,dan tujuan.Dampak
korupsi dapat terjadi di berbagai bidang diantaranya, bidang demokrasi,
ekonomi, dan kesejahteraan negara.

22
SARAN
BAB 6 : Saran dari kelompok kami, untuk profesi auditor eksternal harus
meningkatkan kualitas audit dengan cara memasukan fungsi audit
investigatif kedalam audit keuangan. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan
audit pada masa sekarang memang telah mencapai tingkatan yang
membutuhkan pendeteksian fraud. Terutama bagi auditor pemerintah, BPK
dalam hal ini, sangat penting melibatkan fungsi audit investigatif dalam
pemeriksaan laporan keuangan lembaga pemerintah.

BAB 7 : Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap terpidana korupsi. Undang-


undang yang adapun dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Agar
korupsi tidak lagi menjadi budaya di negara ini.

BAB IV

23
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M. ,2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi. Jakarta :


Salemba empat

https://www.scribd.com/doc/249483056/Forensik-Fraud-Bab-6

24
PERTANYAAN DAN JAWABAN

Pertanyaan KELOMPOK 1 (Andhika Febrianto)

Sejauh mana tanggung jawab auditor mengungkap adanya fraud ?

Jawab :

Menurut kelompok kami, tanggung jawab auditor terkait dengan kecurangan


dalam suatu audit atas laporan keuangan telah diatur dalam standar audit 240:
“Tanggung jawab auditor terkait dengan kecurangan dalam suatu audit atas
laporan keuangan”. Pada standar audit tersebut telah diatur bahwa tanggung
jawab auditor adalah untuk memperoleh keyakinan memadai apakah laporan
keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, yang
disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan. Karena keterbatasan bawaan
suatu audit, maka selalu ada risko yang tidak terhindarkan bahwa beberapa
kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan mungkin tidak akan
terdeteksi, walaupun audit telah direncanakan dan dilaksanakan dengan baik.

Pertanyaan KELOMPOK 2 (Ahmad Muhammad)

Hal hal apa saja yang harus kita lakukan agar tidak ketahuan dalam melakukan
fraud ataupun korupsi ?

Jawab :

Menurut kelompok kami, yang pertama kali adalah memperbaiki niat terlebih
dahulu, kalua ingin melakukan fraud jangan sampai ragu-ragu agar tidak
menimbulkan kecurigaan, kemudian membangun jarinag yang luas agar
kecurangan terstruktur dengan baik. Jangan ragu dalam memodali segala hal
anggap saja itu investasi.

25
Pertanyaan KELOMPOK 3 (Laili qurota)

Menurut anda, apakah auditor bertanggung jawab untuk mendeteksi fraud ? kalua
iya, jelaskan sejauh mana auditor bertanggung jawab dalam mendeteksi fraud ?

Jawab :

Iya. Auditor yang melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit


bertanggung jawab untuk memperoleh keyakinan memadai apakah laporan
keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, yang di
sebabkan oleh kecuranagan atau kesalahan. Setelah memperoleh bukti-bukti dan
temuan, auditor mengkomunikasikan ke pihak manager/pemilik perusahaan agar
di tindak lanjuti, serta dapat pula mengkomunikasikan hasil temuannya kepada
badan pengatur dan penegak hokum.

Pertanyaan KELOMPOK 4(Rostina)

Bagaimana peran pengawas internal dan eksternal suatu perusahaan dalam


mencegah terjadinya fraud?

Jawab :

 Membangun struktur pengendalian intern yang baik Dengan semakin


berkembangnya suatu perusahaan, maka tugas manajemen untuk
mengendalikan jalannya perusahaan menjadi semakin berat. Agar
tujuan yang telah ditetapkan top manajemen dapat dicapai, keamanan
harta perusahaan terjamin dan kegiatan operasi bisa dijalankan secara
efektif dan efisien, manajemen perlu mengadakan struktur
pengendalian intern yang baik dan efektif mencegah kecurangan.

 Mengefektifkan aktivitas pengendalian


 Review Kinerja
Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja
sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran, prakiraan, atau
kinerja priode sebelumnya, menghubungkan satu rangkaian data
yang berbeda operasi atau keuangan satu sama lain, bersama

26
dengan analisis atas hubungan dan tindakan penyelidikan dan
perbaikan; dan review atas kinerja fungsional atau aktivitas
seseorang manajer kredit atas laporan cabang perusahaan tentang
persetujuan dan penagihan pinjaman.
 Pengolahan informasi
Berbagai pengendalian dilaksanakan untuk mengecek ketepatan,
kelengkapan, dan otorisasi transaksi. Dua pengelompokan luas
aktivitas pengendalian sistem informasi adalah pengendalian umum
( general control ) dan pengendalian aplikasi ( application control).
 Pengendalian fisik
Aktivitas pengendalian fisik mencakup keamanan fisik aktiva,
penjagaan yang memadai terhadap fasilitas yang terlindungi dari
akses terhadap aktiva dan catatan; otorisasi untuk akses ke program
komputer dan data files; dan perhitungan secara periodic dan
pembandingan dengan jumlah yang tercantum dalam catatan
pengendali.
 Meningkatkan kultur perusahaan
Meningkatkan kultur perusahaan dapat dilakukan dengan
mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance (GCG) yang saling terkait satu sama lain agar dapat
mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien,
menghasikan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan
bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara
keseluruhan.
 Mengefektifkan fungsi internal audit
Walaupun internal auditor tidak dapat menjamin bahwa kecurangan
tidak akan terjadi, namun ia harus menggunakan kemahiran
jabatannya dengan saksama sehingga diharapkan mampu mendeteksi
terjadinya kecurangan dan dapat memberikan saran-saran yang
bermafaat kepada manajemen untuk mencegah terjadinya
kecurangan.resiko yang dihadapi perusahaan.

27
Pertanyaan KELOMPOK 5

Jelaskan cara terbaik untuk meminimalisisr terjadinya fraud dan korupsidalam


suatu perusahaan/organisasi ?

Jawab :

Menurut kelompok kami, dengan adanya akuntansi forensic dan audit


investigasi yang mempunyai keahlian dalam menginvestigasi indikasi adanya
korupsi atau tindak penyelewengan lainnya di sebuah perusahaan. Akuntansi
forensic menggunakan pengetahuannya tentang akuntansi, study hukum,
investigasi, dan kriminologi untuk mengungkap fraud, menemukan bukti dan
selanjutnya bukti di bawa ke pengadilan. Sedangkan audit investigasi meliputi
prosedur-prosedur tertentu yang dilakukan dengan maksud untuk menghasilkan
bukti dengan menggunakan teknik-teknik untuk mengindentifikasi dan
menggabungkan bukti-bukti. Dengan adanya akuntansi forensic dan audit
investigasi dapat membuat ketakutan bagi pelaku fraud dan korupsi dan akhirnya
akan terminimalisir

Pertanyaan KELOMPOK 6( Muh. Faraq al araf ilyas)

Bagaimana tindakan atau tanggung jawab auditor internal dalam pencegahan,


pendeteksian, dan penginvestigasian kecurangan serta jelaskan kecurangan itu
sendiri ?

Jawab :

Auditor internal berfungsi membantu manajemen dalam pencegahan,


pendeteksian dan penginvestigasian fraud yang terjadi di suatu organisasi
(perusahaan). Sesuai Interpretasi Standar Profesional Audit Internal (SPAI) –
standar 120.2 tahun 2004, tentang pengetahuan mengenai kecurangan,
dinyatakan bahwa auditor internal harus memiliki pengetahuan yang memadai
untuk dapat mengenali, meneliti dan menguji adanya indikasi kecurangan. Selain
itu, Statement on Internal Auditing Standards (SIAS) No. 3, tentang Deterrence,

28
Detection, Investigation, and Reporting of Fraud (1985), memberikan pedoman
bagi auditor internal tentang bagaimana auditor internal melakukan pencegahan,
pendeteksian dan penginvestigasian terhadap fraud. SIAS No. 3 tersebut juga
menegaskan tanggung jawab auditor internal untuk membuat laporan audit
tentang fraud.

Pencegahan Fraud
Menurut Amrizal (2004), beberapa cara untuk pencegahan kecurangan antara
lain:
 Membangun struktur pengendalian intern yang baik.
 Mengefektifkan aktivitas pengendalian.
 Meningkatkan kultur organisasi.
 Mengefektifkan fungsi internal audit.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah timbulnya fraud adalah
melalui peningkatan sistem pengendalian intern (internal control system) selain
melalui struktur / mekanisme pengendalian intern. Dalam hal ini, yang paling
bertanggung jawab atas pengendalian intern adalah pihak manajemen suatu
organisasi. Dalam rangka pencegahan fraud, maka berbagai upaya harus
dikerahkan untuk membuat para pelaku fraud tidak berani melakukan fraud.
Apabila fraud terjadi, maka dampak (effect) yang timbul diharapkan dapat
diminimalisir. Auditor internal bertanggungjawab untuk membantu pencegahan
fraud dengan jalan melakukan pengujian (test) atas kecukupan dan kefektivan
sistem pengendalian intern, dengan mengevaluasi seberapa jauh risiko yang
potensial (potential risk) telah diidentifikasi.
Dalam pelaksanaan audit kinerja (performance audit), audit keuangan
(financial audit) maupun audit operasional (operational audit), auditor internal
harus mengidentifikasi adanya gejala kecurangan (fraud symptom) berupa red
flag atau fraud indicator. Hal ini menjadi penting, agar apabila terjadi fraud, maka
auditor internal lebih mudah melakukan investigasi atas fraud tersebut.

29
Pendeteksian fraud
Deteksi fraud mencakup identifikasi indikator-indikator
kecurangan (fraud indicators) yang memerlukan tindaklanjut auditor internal
untuk melakukan investigasi. Beberapa hal yang harus dimiliki oleh auditor
internal agar pendeteksian fraud lebih lancar antara lain :
 Memiliki keahlian (skill) dan pengetahuan (knowledge) yang memadai dalam
mengidentifikasi indikator terjadinya fraud. Dalam hal ini auditor internal harus
mengetahui secara mendalam mengapa seseorang melakukan fraud
termasuk penyebab fraud, jenis-jenis fraud, karakterisitik fraud, modus
operandi (teknik-teknik) fraud yang biasa terjadi.
 Memiliki sikap kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan kelemahan
pengendalian intern dengan melakukan serangkaian pengujian (test) untuk
menemukan indikator terjadinya fraud. Apabila diperlukan dapat
menggunakan alat bantu (tool) berupa ilmu akuntansi forensik (forensic
accounting) untuk memperoleh bukti audit (audit evidence) yang kuat dan
valid. Forensic accounting merupakan suatu integrasi dari akuntansi
(accounting), teknologi informasi (information technology) dan keahlian
investigasi ( investigation skill).
 Memiliki keakuratan & kecermatan (accuracy) dalam mengevaluasi indikator-
indikator fraud tersebut.
Ketiga hal tersebut, dapat dimiliki oleh auditor internal setelah pengalaman
bertahun-tahun melakukan audit berbagai fungsi / unit kerja di suatu organisasi
(perusahaan).

Penginvestigasian Fraud
Investigasi merupakan pelaksanaan prosedur lebih lanjut bagi auditor
internal untuk mendapatkan keyakinan yang memadai (reasonable assurance)
apakah fraud yang telah dapat diidentifikasi tersebut memang benar-benar
terjadi. Menurut Standar Profesi Audit Internal (2004 : 66-67) , dalam melakukan
investigasi, auditor internal diwajibkan :
a) Melakukan asesmen / penelitian yang seksama atas kemungkinan terjadinya
fraud.

30
b) Meyakini bahwa pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi yang diperlukan
untuk menangani investigasi ini secara kelompok memang dimiliki oleh
auditor internal.
c) Membuat suatu alur prosedur untuk mengidentifikasi : siapa yang terlibat
(pelaku fraud), sejauhmana luasnya fraud, kapan dan dimana dilakukan serta
bagaimana teknik fraud yang dipakai dan tentunya juga berapa potensi
kerugian yang diderita akibat perbuatan fraud tadi.
d) Dalam melakukan investigasi diharapkan auditor internal selalu berkoordinasi
dengan pihak-pihak terkait, misalnya bagian Personalia, Hukum, Security dan
lain sebagainya.
e) Untuk menjaga reputasi organisasi, pelaksanaan investigasi agar menjunjung
tinggi harkat dan martabat personil yang diinvestigasi.

Kesimpulan :
Auditor internal bertanggung jawab membantu manajemen dalam
pencegahan, pendeteksian dan penginvestigasian fraud yang terjadi di suatu
organisasi. Agar dapat menjalankan tugas yang diemban tersebut auditor
internal perlu meningkatkan pengetahuan (knowledge) & keahlian (skill) melalui
pendidikan profesi berkelanjutan (continuing professional education).

31