Você está na página 1de 3

Siti Herdianty,Putri Pertiwi,Prinastiti Setiawati

MEROKOK DAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomer satu di dunia,


termasuk Indonesia. Menurut World Health Organization, 60% penyebab kematian
pada penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner. Pada tahun 2007, Riset
Kesehatan Dasar Indonesia Nasional menunjukkan bahwa penyakit jantung
merupakan penyebab kematian terbesar ke 9 dan ke 11 dengan 5,1% dari semua
kematian yang diakibatkan penyakit jantung iskemia (penyumbatan parsial aliran
darah ke jantung) dan 9,7% disebabkan penyakit jantung koroner(1). Penyakit jantung
koroner dapat menyerang di usia pertengahan (middle-aged) dan menyebabkan henti
jantung secara tiba-tiba dan kematian(2). Batasan usia menurut World Health
Organization dibagi menjadi 4, yaitu usia pertengahan dimulai pada umur 45 sampai
59 tahun, lanjut usia dimulai pada umur 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua dimulai
pada umur 75 sampai 90 tahun, dan usia sangat tua dimulai pada usia diatas 90 tahun.
Menurut Badan Pusat Statistik , pada tahun 2014 persentase dewasa usia pertengahan
di Indonesia untuk wanita adalah 40,23% dan untuk laki-laki adalah 40,63%. Penyakit
jantung koroner timbul karena adanya sumbatan di dalam arteri koroner yang
menyebabkan fungsi jantung terganggu. Sumbatan dapat dibentuk oleh kolesterol,
lemak, kalsium dan substansi lain dalam darah. Sumbatan yang terbentuk dalam
jangka waktu yang lama dapat mengeras dan menyebabkan menyempitnya pembuluh
darah sehingga aliran darah menuju otot jantung berkurang(3).

Pada saat ini terdapat beberapa penelitian yang mengemukakan bahwa penyakit
jantung koroner dapat disebabkan oleh beberapa faktor resiko yaitu : merokok, usia,
hipertensi, diabetes mellitus, jenis kelamin dan stress(2)(4). Merokok adalah salah satu
faktor resiko terpenting untuk terjadinya masalah kesehatan dan terjadinya kematian.
Prevalensi perokok tertingggi adalah 28.6% yaitu orang yang tidak memiliki asuransi
kesehatan, 28.4% yaitu orang dengan pendidikan terakhir SMA(5). Menurut WHO,
prevalensi merokok di dunia pada tahun 2015 adalah 1,1 miliar dan semakin
meningkat setiap tahunnya. Terdapat beberapa bukti yang menyatakan bahwa orang
yang merokok sebanyak 40 batang rokok perhari memiliki sembilan kali resiko
menderita penyakit jantung dibandingkan dengan orang yang tidak merokok (6).
Berhenti merokok adalah priroritas untuk semua perook, terutama perokok yang
menderita penyakit jantung koroner. Resiko kardiovaskular dari merokok sangat besar
tetapi dapat dikurangi dengan berhenti merokok.
Saat ini merokok dianggap sebagai penyakit kronik. Perokok yang menderita
penyakit jantung koroner biasanya memiliki ketergantungan nikotin dan memerlukan
perawatan dan dukungan yang intensif. Farmakoterapi memiliki peran penting dalam
ketergantungan nikotin.(6).
DAFTAR PUSTAKA

1. Susilo A, Syam AF, Gayatri A, Utama AJ, Hafil AF, Mansjoer A et al. Kapita
Selekta Kedokteran. Ed 4. Jakarta: Media Aesculapius, 2014. 748-55
2. Sudayasa IP, Subijakto S, Sahrul WOA. Analisis Faktor Resiko Merokok,
Stress dan Riwayat Keluarga yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit
Jantung Koroner tahun 2014. Sulawesi Tenggara : Program Studi Ilmu
Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo. 2014
3. National Heart, Lung, and Blood Institute. At a Glance: Coronary Heart
Disease. 2009 August:1-2
4. Zahrawardani D, Herlambang KS, Anggraheny HD. Analisis Faktor Resiko
Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RSUD Kariadi Semarang tahun 2011.
Semarang : Program Studi Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah. 2014
5. Syamlal G, Mazurek JM, Malarcher AM. Centers for Disease Control and
Prevention. MMWR. 2011 September: 60 (38)
6. Mendelsohn C. Smoking and cardiovascular disease. 2013:3(4)